
Nindy POV
Hari ini aku dan Arya akan pergi kerumah mas Ardan untuk berkenalan dengan kedua orang tuanya. Mas Ardan berjanji akan menjemput ku dan Arya setelah pulang kerja. Setelah dari kemarin sibuk mengurus ku dan arya, mas Ardan sudah mulai bekerja kembali.
Jujur aku belum tahu apa pekerjaan dari mas Ardan, dan aku memang tidak berniat untuk mencari tahu. Yang aku tahu mas ardan adalah orang yang cukup berpengaruh di kantor nya.
Ting tong
Aku menggendong Arya ke dalam dekapanku dan membawanya untuk melihat siapa orang yang memencet bel rumah ku. Ketika aku membuka pintu rumah , terpampanglah wajah tampan mas Ardan yang kini sedang tersenyum menyambut kedatangan ku.
"Assalamualaikum Arya." Ucap mas Ardan Sambil menyambut uluran tangan Arya yang meminta gendong padanya, mas ardan membawa arya kedalam gendongan nya.
"Wa'alaikumsalam mas. silahkan masuk mas." Aku hanya tersenyum menyambut kedatangan mas Ardan dan menyuruhnya masuk ke dalam rumah.
"Kamu sudah siap Dy? Atau masih ada sesuatu yang ketinggalan..?" Tanya mas Ardan padaku ketika aku pergi dari hadapannya. Aku membalikkan badanku untuk menghadap padanya.
"Aku hanya mau mengambil tas dan keperluan arya yang ada di kamar mas. Mas Ardan tunggu disini bentar yah." Nindy berjalan kearah kamar dan ikut tersenyum melihat kedekatan mas Ardan dan juga anaknya. Semoga aku tidak slaah memilih lelaki lagi sebagai calon pendamping hidupku.
"Oke. Baiklah sekarang waktunya Om mencium Arya sampai Om puas, baru sehari nggak ketemu sama kamu, Om udah kangen baanget sama kamu. Hemmmm, rasain ini serangan ciuman maut cup cup cup..."
Aku ikut tersenyum melihat arya yang kini sedang tertawa cekikikan karena mas Ardan yang sedang menciumi wajahnya bertubi-tubi. Mas Ardan yang menyadari kedatangan ku di depannya langsung menghentikan kegiatan nya dan tersenyum lebar padaku.
Dengan menenteng tas berisi baju dan celana buat Arya ganti, aku mendekati mas Ardan yang kini sedang menatapku dengan lembut.
"Aku sudah siap mas. Mau berangkat kapan? Takutnya nanti kemalaman pulangnya, kasihan Arya mas.!"
"Ayo, kita berangkat sekarang. Aku juga kasihan kalau memulangkan kamu kemalaman, kamu kan habis sakit. Atau kita tunda saja hari Minggu kerumah orang tuaku nya..?"
"Nggak usah mas. Sekarang saja, aku tidak enak sama orang tua mas Ardan yang sudah menunggu kedatangan ku dan arya."
"Cieeee...yang udah nggak sabar ketemu sama calon mertua. cie cie...." wajahku langsung merona malu karena mendengar godaan dari Mas ardan.
__ADS_1
"Apa sih mas,,,, Nindykan hanya merasa tidak enak karena sudah berjanji akan berkunjung hari ini ke rumah orang tua mas Ardan."
"Kkkkk... iya iya. Nggak usah ngambek gitu dong, nanti cantiknya hilang loh. Ayo kita berangkat bertemu nenek dan kakek baru kamu sayang, Arya pasti nggak sabar yah ketemu dengan mereka iya kan...?" Mas Ardan berbicara dengan Arya sambil berjalan ke arah mobilnya berada.
sementara itu aku berjalan di belakangnya dan berhenti untuk mengunci pintu rumah ku. Saat sudah sampai di depan rumah aku mengunci pagar tiba-tiba Bu Ani datang menghampiriku.
"Mbak Nindy...?" Aku menoleh ke arah Bu Ani yang sudah berdiri di hadapanku. Aku juga menoleh kearah mas Ardan dan Arya yang kini sedang menungguku di samping pintu mobil.
"Iya ada apa yah Bu..?" besok hari Minggu ada acara ulang tahun anaknya Bu Winda, dan ini undangannya. Kalau ada waktu tolong hadir yah mbak. Kalau bisa ajak calon suaminya nanti ,biar jadi kenal juga sama tetangga yang lainnya." Aku menatap bu ani yang seperti mencoba mengorek siapa mas Ardan sebenarnya.
"Insya Allah yah Bu, saya akan hadir di acara ulang tahun anak Bu Winda. Kalau untuk mengajak calon suami...saya tidak bisa janji yah Bu. Kalau begitu saya permisi dulu yah Bu. Assalamualaikum." Setelah berpamitan dengan bu Ani, Aku menghampiri mas Ardan dan juga arya. Aku tersenyum manis kepada mas Ardan. Dia juga membalas senyuman ku dan memberikan Arya di atas pangkuanku.
Aku melihat mas Ardan yang sedang berputar ke arah pintu pengemudi. Aku tersenyum menyambut mas Ardan yang kini sedang memasang seatbelt nya.
" Bismillahirrahmanirrahim." Aku berdoa ketika mobil mas Ardan mulai meninggalkan rumahku menuju jalan raya.
"Tadi kenapa Dy?" sambil menyetir Mas Ardan menanyakan tentang kejadian tadi saat aku dan Bu Ani mengobrol.
"Itu tadi..Bu ani nganterin undangan ulang tahun anak nya Bu Winda tetanggaku mas , acara nya hari Minggu."
"Ahh iya mas. Tadi Bu Ani nyuruh aku buat ngajak mas Ardan ke acara ulang tahun anaknya Bu Winda." Terangku sambil melihat Arya yang kini sedang minum susu formula di atas pangkuan ku.
"Kamu jawab apa dy?"
"Aku hanya bilang insya Allah mas. Nggak enak juga sama mas Ardan, Lagian mas Ardan kan juga pasti sibuk. Jadi mas Ardan nggak usah pikirkan masalah itu."
"Sejujurnya aku juga belum tahu jadwal ku besok Dy, Jadi jika memungkinkan untuk aku hadir , mungkin aku hanya akan menunggu kamu dan arya dirumah kamu saja. Gimana. boleh nggak?" Aku melihat kearah depan jalan raya yang cukup ramai ,karena ini sudah jam nya orang pulang kerja. Aku juga memandang wajah mas Ardan yang kini sedang fokus dengan jalanan di depannya.
"Mas bolehkan aku bertanya sesuatu padamu?"
"Silahkan Dy..?"
__ADS_1
"Apa yang membuatmu mencintaiku..?" Aku memandang lurus ke arah mas Ardan yang kini langsung menoleh ke arah ku, dia tersenyum manis kepadaku. Aku melihat ketulusan cinta dari mas Ardan untukku. Setiap menatap ku mas Ardan akan menampakkan wajahnya yang ramah dan juga dia selalu memperlakukan spesial.
Sejak pertama kali bertemu dengannya, dia tidak pernah memperlakukan tidak sopan. Dia tidak pernah mengambil kesempatan untuk menyentuh ku duluan. Dan dia juga selalu menghargai setiap keputusan ku.
"Karena kau adalah Nindy." Ku mengerutkan kening bingung dengan jawaban dari mas Ardan. Aku bahkan sampai memiringkan kepala ku.
"Maksudnya...?"
"Aku menyukaimu karena kamu juga memperlakukan diri kamu dengan baik. Kamu selalu bisa membuatku kagum dengan sifatmu. Aku tidak tahu kehidupan mu dahulu seperti apa, tapi,,, aku bisa tahu kalau kamu adalah sosok wanita yang tegar dan juga sangat menghormati orang tua. Kamu tahu Dy? banyak orang di luar sana jika sudah bercerai dengan pasangannya. Mereka akan pergi menjauh dari kehidupan mantan pasangannya. Tapi kamu tidak Dy. Kamu masih menghormati mereka, dan aku salut dengan mu. Disaat anaknya menyakiti hatimu sedalam itu, kamu masih mau berurusan dengan mereka."
Aku menundukkan kepalaku mendengar mas ardan bercerita tentang ku. Aku tidak menyangka mas Ardan bisa merasakan ketulusan hatiku untuk orang tua mas Bagas. Karena bagiku mereka sudah ku anggap sebagai orang tuaku juga. Mereka yang menemaniku ketika aku sedang butuh dukungan. Aku mengusap mataku yang tiba-tiba mengeluarkan air mata. Aku mendongak ke atas untuk meredakan aliran air mataku agar tidak tumpah.
Sreettt
Aku melihat sebuah sapu tangan berwarna putih di samping wajahku. Aku segera mengambil nya dan menghapus air mataku.
"Maaf jika membuatmu menangis Dy? I'm so sorry Dy. " Aku tersenyum menatap mas Ardan yang kini sedang khawatir menatapku.
"Aku hanya tidak menyangka mas Ardan bisa menilai ku seperti itu mas. Selama ini aku selalu diam karena aku tidak tahu harus berbuat apa mas. Di saat aku sedang terpuruk, aku tidak pernah menceritakan masalahmu kepada siapapun. Aku takut...itu akan membuat masalah."
"Tapi sepertinya diamku malah membawa dampak buruk pada diriku sendiri. Aku juga ingin egois, dan melakukan apapun yang aku mau. Tapi balik lagi, aku sudah biasa di Didik oleh orang tuaku untuk tidak bertindak gegabah. Dan setiap melakukan sesuatu harus di pikirkan terlebih dahulu. Dan jadi seperti ini lah aku saat ini. Sering memikirkan perasaan orang lain, dan mengabaikan perasaanku sendiri." Aku melihat mobil mas Ardan berhenti di sebuah pagar rumah seseorang. Aku melihat pintu gerbang terbuka secara otomatis setelah melihat mobil masa Ardan.
Setelah terbuka,mobil mas Ardan.memasuki sebuah jalanan dan di sampingnya banyak pohon cara yang sangat rindang dan tertata rapih. Ketika mataku meliaht ke arah depan, aku langsung menutup mulutku yang menganga lebar. Bahkan aku sudah lupa dengan ceritaku tadi.
"Mas ..ini rumah siapa? Perasaan rumah presiden kuta bukan seper ini? " Tanpa bisa di cegah mulutku berbicara sendiri. Aku melihat amsa Ardan sudah keluar dari mobil, dan mengitari mobil untuk membuka pintu samping kemudi untukku.
Aku yang masih tidak percaya dengan penglihatan ku. Ini buka rumah tapi Sebuah mansion, baru aku sadari ternyata mas Ardan adalah anak orang tajir. Aku jadi merasa insecure. Apa aku harus membatalkan niatku untuk menerima mas Ardan sebagai pasangan hidupku.
Aku merasa trauma dengan orang kaya, dulu sjaa mas Bagas juga tega menyakiti hatiku apalagi mas Ardan yang kaya nya berkali-kali lipat dari mas Bagas.
**TUHAN tolong beri aku petunjukmu.
__ADS_1
Tbc
jangan lupa mampir di ceritaku yang satunya yah. terima kasih**