Penantian Cinta

Penantian Cinta
chapter 70


__ADS_3

Sebuah mobil berwarna putih baru saja datang dan parkir di samping rumah Nindy. Sementara nindy dan juga Ardan masih saling bercengkrama ringan di tersenyum depan rumah Nindy.


Nindy yang menyadari kehadiran sang mantan suami hanya bisa menghela nafas, Ardan yang menyadari perubahan mimik wajah Nindy menjadi heran.


Ardan melihat ke arah mata Nindy yang fokus melihat kearah depan, jadi penasaran dan ikut melihat arah pandangan Nindy. Ardan mencebikkan bibirnya melihat siapa gerangan orang yang sudah mengganggu pendekatan nya dengan Nindy.


Sementara Bagas sendiri masih belum menyadari keberadaan Ardan disana, tapi ketika Ardan berniat mengucapkan salam, Bagas baru sadar kalau Nindy tidak sendiri melainkan bersama dengan lelaki lain.


Nindy melihat ke arah Bagas yang terdiam melihat keberadaan Ardan di rumahnya hanya bisa berdoa semoga Bagas tidak mencampuri urusan nya lagi. melihat perubahan ekspresi dari wajah Bagas, Nindy tahu kalau Bagas merasa tidak suka akan keberadaan Ardan. Tapi Nindy memilih acuh tak perduli dengan tanggapan Bagas, Toh mereka sudah berpisah jadi Bagas tidak punya hak untuk melarangnya dekat dengan lelaki lain.


"Ada apa pak Bagas datang kerumah saya?" Dengan santai nya Nindy bertanya kepada Bagas yang masih mematung di depan pagar rumahnya, sementara nindy dan Ardan melihatnya dengan ekspresi yang berbeda-beda.


"Apa kamu tidak mau mempersilakan aku masuk nin?" Nindy mencebikkan bibirnya melihat gaya bicara Bagas yang menganggap mereka masih dekat.


"Silahkan masuk pak. Tapi maaf saya tidak bisa mempersilahkan bapak untuk masuk ke dalam. Karena kita sudah bukan muhrim lagi, jadi kalau bapak berniat bertamu kerumah saya ,bapak bisa duduk disini bergabung dengan kami."


"Jangan kamu pikir karena kita sudah bercerai kamu bisa berlaku tidak sopan sama aku yah nin."


"Loh tidak sopan yang mananya yah pak? Sepertinya bicara saya sudah sopan sekali terhadap bapak. Lagian ada urusan apa bapak kerumah saya? Apa ada hal yang penting sampai seorang sibuk seperti Anda bisa menyempatkan hadir di rumah saya...?!" Ardan yang merasa tidak enak berada di situasi ini, berniat pergi dari hadapan nindy dan Bagas, tapi di tahan oleh Nindy.


"Mas Ardan disini saja... Lagian sepertinya orang itu hanya sebentar disini, bukan begitu pak Bagas..??! "Nindy sengaja menekankan ucapan terakhirnya kepada Bagas yang kini sudah berada di teras rumah Nindy. Bagas yang merasa diusir secara tidak langsung hanya bisa tersenyum kecil melihat perubahan wajah Nindy padanya.


"Sebenarnya aku berniat mengajak kamu sama anak kita untuk mengunjungi kediaman ayah dan ibu. Karena mereka katanya kangen dengan cucu mereka."


"Maaf saya sedang ada tamu, jadi tidak bisa pergi. kalaupun saya pergi...saya bisa pergi sendiri tanpa perlu Anda menjemput saya."


"Tapi ibu yang nyuruh saya untuk menjemput kamu nin, jadi kamu harus ikut dengan saya sekarang.!" Bagas yang mulai kehilangan kesabarannya mulai emosi melihat nindy yang mengacuhkannya.


Ardan yang melihat gelagat tidak beres dari Bagas mulai tidak tega dengan Nindy yang kini sedang menundukkan kepalanya.


**Lelaki macam apa yang suka memaksakan kehendaknya kepada wanitanya. Seharusnya kamu tidak bertemu dengan lelaki seperti Bagas Dy, harusnya aku yang pertama kali mendapatkan kamu. Jadi kamu tidak akan mengalami hal semacam ini.


"Maaf** permisi saya menyela pembicaraan kalian. Kenalkan nama saya Ardan, dan mungkin Anda lupa dengan saya. Begini mas,, kalau boleh memberi usul lebih baik Anda tidak perlu memaksa nindy untuk menuruti kemauan anda. " Bagas langsung menatap tajam wajah Ardan yang tiba-tiba menyela pembicaraan nya dengan Nindy.


"Saya tidak perduli dengan Anda siapa. Lagian saya juga tidak butuh darah Anda. Lebih baik Anda pergi dari sini sekarang juga sebelum saya mengusir Anda...!!" Ucap Bagas sambil menunjuk wajah Ardan, Ardan sendiri mulai terpengaruh dengan temperamen Bagas. Tak pernah ada seorang pun yang berani menunjuk wajah Ardan selama ini seperti yang di lakukan oleh Bagas saat ini. Sebelum berniat membalas ucapan Bagas padanya, Nindy sudah berdiri ditengah-tengah dan mendorong Bagas menjauh dari hadapan ardan.

__ADS_1


Dengan mata berkaca-kaca, nindy menatap wajah Bagas.


"Seharusnya yang pergi dari sini adalah anda pak bukan dia. karena saya tidak punya urusan dengan Anda lagi. lebih baik Anda pulang sekarang juga....!!!!" Nindy menekankan setiap ucapannya terhadap Bagas, selama ini dia sudah sabar menghadapi temperamen Bagas yang suka berubah ubah. Tapi kali ini dia sudah tidak bisa lagi menoleransi nya.


Bagas menyeringai melihat Nindy yang kini sudah berani terhadap dirinya.


Sreettt


Dengan emosi Bagas mencengkeram lengan Nindy supaya menatap wajahnya. Sementara Ardan yang melihat Nindy yang meringis menahan sakit di lengannya tidak bisa diam saja melihat penderitaan nindy.


Sreettt


Ardan menarik lengan Nindy yang tadi berada didalam cengkraman Bagas dan meminta nindy untuk berdiri dibelakang tubuhnya. Bagas yang melihat itu semakin menyeringai melihat Nindy yang seakan patuh dengan lelaki yang ada dihadapannya ini sekarang.


"jangan pernah kasar terhadap wanita, apalagi tehadap Nindy. Dan anda juga tidak ada hak untuk memaksa nindy, Anda buka suaminya lagi , jadi Anda tidak boleh berbuat semau Anda lagi. Jika Anda kesini hanya ingin menya kiti nindy lagi. Lebih baik Anda pergi dari sini,dan jangan pernah kesini lagi. Urus saja urusan Anda sendiri tanpa perlu mencampuri urusan ninDy lagi. " Bagas tertawa mengejek kepada Ardan. Bagas melirik nindy yang kini sedang ketakutan sambil memegang ujung jas Ardan.


"Ckckck dasar perempuan murahan,,,setelah memeras harta keluargaku sekarang kamu mau memeras harta lelaki ini HAH..!!!"


Deg


"Apa kata kamu mas...? Coba kau ulangi sekali lagi...!!" denagn pelan nindy bertanya kepada Bagas, mungkin dia pikir dia salah dengar.


"Heh...Apa sekarang kamu jadi tuli juga...!!" Nindy mengepalkan tangannya mendengar hinaan dari Bagas.


"Apa setelah memeras keluarga saya kamu akan mencari mangsa baru supaya bisa memberikan uang lebih pada kamu...Ckckck ternyata kamu sama saja seperti wanita murahan...!""


Prakkkk


Dengan penuh emosi nindy menampar wajah Bagas hingga meninggalkan bekas telapak tangannya.


Tes


Dengan berlinang air mata Nindy menatap wajah Bagas dengan tajam. Dia tidak memperdulikan pertengkaran ini akan dilihat oleh orang lain ,yang Nindy mau kalau sekarang adalah melihat Bagas pergi dari rumahnya.


Ardan memandang tajam bagas karena sudah menghina nindy di depannya. Ardan kira Nindy hanya akan diam saja dihina seperti ini oleh mantan suaminya, tapi setelah melihat Nindy menampar wajah Bagas tadi dia malah jadi merasa kasihan kepada Nindy. Seharusnya dia yang memukul Bagas bukan Nindy, melihat Nindy yang menangis sambil menatap Bagas tajam membuat Ardan jadi tidak tega.

__ADS_1


Greebbb


Dengan tiba-tiba Ardan refleks menarik nindy kedalam dekapannya, dia mencoba menenangkan nindy yang kini menangis terisak-isak di pelukannya.


"Saya antar kamu ke dalam yah Dy, biar kamu bisa menenangkan diri. Aku akan menyuruh dia untuk pergi dari sini oke...?" Nindy mengangguk kan kepalanya tanda setuju, kemudian Ardan membawa nindy masuk kedalam rumahnya dan mendudukkan nindy di sofa yang ada di ruang tamu. Ardan mengabaikan Bagas yang kini memandang mereka dengan penuh dendam. Yang menjadi perhatian nya sekarang adalah menenangkan nindy supaya tidak menangis lagi.


Bagas yang melihat Ardan memeluk nindy semakin tersulut hatinya, dia merasa tidak terima kalau Nindy di peluk oleh lelaki lain. Dengan memegang pipinya yang memerah karena tamparan nindy padanya, Bagas memilih pergi dari rumah Nindy menuju mobilnya. Bagas memilih menenangkan hatinya yang tiba-tiba merasa cemburu dengan kedekatan nindy dan Ardan.


Bugh bugh bugh


"Sial sial sial sial.. Aaaaaaaa dasr brengs*k kamu nin, setelah mencampakkan ku kamu malah bersenang senang dengan lelaki lain. Dasar wanita murahan. Brengs*k. !!!"' Ardan memukul stir mobilnya dengan keras , Untuk meluapkan emosinya yang meluap luap. Setelah cukup tenang Bagas pergi meninggalkan rumah Nindy menuju rumahnya yang kini sudah jarang dia tempati karena dia sekarang sering menginap dirumah Siska. sejak perceraian mereka Bagas memang sudah berubah dan menjadi lelaki yang egois dan tidak mau mendengarkan ucapan orang lain.


Sementara itu kita kembali lagi kerumah Nindy, kini Nindy sedang duduk sendiri di sofa sambil meminum air putih yang di berikan oleh Ardan. Nindy sudah berhenti menangis dan menyisakan mata sembab nya yang masih memerah karena habis menangis. Ardan merasa canggung dengan keadaan ini mulai mencari pembahasan lainnya, tapi setelah melihat ke arah jam dinding nindy dia terkejut karena waktu telah menunjukkan pukul 5 sore. Ardan yang merasa kalau Nindy sudah baik baik saja berniat untuk pulang karena tidak enak jika bertamu lama lama disini. Ardan juga tidak mau tetangga Nindy berburuk sangka lagi pada nindy.


"Dy, saya pamit dulu yah. Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi saya. nih nomor saya.!" Ardan menaruh kartu namanya di atas meja depan nindy, sedangkan Nindy sendiri menatap Ardan dengan ekspresi yang berbeda.


"Makasih yah mas Ardan,sudah membantu saya hari ini. Maaf nggak bisa nganterin mas Ardan sampai luar."


"Iya Dy saya tahu. Tapi sebelum saya pergi bisakah kamu berjanji terhadap saya untuk menghubungi saya Setelah ini."


"Baiklah mas Ardan"


"Makasih yah Dy. sampai jumpa lagi. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam mas Ardan."


Nindy menatap kepergian Ardan dengan perasaan campur aduk. Nindy merasa kalau disisi lain hatinya bahwa ia sangat membutuhkan Ardan disisinya, tapi di lain sisi dia takut terluka lagi karena cinta.


Apa yang harus kulakukan Ya Allah, bagaimana aku harus bersikao ya Allah. Tolong tunjukkan hamba petunjukmu ya Allah.


Tbc


Hanya mengingatkan untuk mampir ke ceritaku yang satunya lagi yah kak.


__ADS_1


Salam sayang dari nindy untuk kalian semua.😍😍😍😍😍😍


__ADS_2