
Saat keluar dari ruangan bos, Indah tanpa sengaja menabrak seseorang. Hingga tubuh mungil Indah oun terhuyung ke belakang.
"Kalau punya mata tu di pake!?"bentak orang itu.
Indah mengangkat pndangannya, ingin rasanya Indah memaki orang itu. Tapi semua itu Indah tahan, ia hanya diam dan pergi daei sana. Tidak mungkin ia membuat keributan di hari pertamanya kerja.
Sedangkan pria itu dengan kesal masuk kedalam ruangan yang ada di depannya.
Menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di dalam ruangan itu.
"Kenapa lagi sih?"tanya Baim yang sedang menikmati sarapannya.
"Bete gue, sama karyawan lo. Nggak tau sopan santu banget"dumel Dika .
"Siapa? Perasaan karyawan gue ramah - ramah semua"ucap Baim
"Itu yang baru keluar dari ruangan barusan. Apa dia karyawan baru? Gue baru lihat tu mukanya."tanya Dika, berjalan menghampiri Baim yang sedang sarapan.
"Ooo, yang itu. Iya dia anak baru, ini hari pertamanya kerja."jawab Baim.
"Ngapain, lo ke sini? Tumben pagi - pagi kesini, nggak ke kantor?"tanya Baim heran.
"Lagi nggak ada kerjaan di sana, lagian gue juga lagi bosen dengerin ocehan ayah, yang selalu minta gue nikah."ucap Dika, duduk di kursi yang ada di depan Baim.
"Hahaha.... Ya apa susahnya, kan tinggal nikah doang. "ucap Baim enteng.
"Pala lu, kalau ngomong emang mudah. Elu kan tau sendirilah.."
"Ya ya ya... Tunggu aja terus, emang lu udah coba nyari gitu.."kata Baim.
"Udah, dan gue nggak tau lagi harus nyari dimana lagi."kata Dika, sedikit frustasi.
"Udah, mending lu lupain aja deh. Cari yang baru dan ajak nikah biar hidup lu tenang"kata Baim.
"Nggak semudah itu,."kata Dika.
"Udah makan belum?"tanya Baim.
"Belum, tadi gue buru - buru."
"Tunggu bentar, gue pesenin ." Baim pun keluar dari ruangannya dan meminta pada Lala agar mengantarkan satu porsi nasi goreng dan secangkir kopi kedalam ruangannya.
"O iya La, tapi rasanya harus kaya yang tadi ya. Tadi punya saya pas banget bumbunya"ucap Baim, dan Lala pun mengangguk mengerti. Setelah mengatakan itu Baim kembali masuk kedalam ruangannya.
Lala pergi ke dapur dan melihat Indah yang sedang memotong sayuran .
"Ndah, tolong buat kan satu porsi nasi goreng dan antar kan ke ruangan bos ya. Dan sebelum ke sana kamu mampir dulu ke meja barista, ambil kopi."kata Lala.
__ADS_1
"Baik mbak."ucap Indah.
"Kata bapak, masakan kamu enak"Indah tersenyum senang mendengar kata pujian itu dari Lala.
"Yang bener mbak, aduh aku jadi senang dengernya"ucap Indah tersenyum.
"Pertahankan ya."ucap Lala tersenyum, lalu Lala pun berlalu pergi meninggalkan Indah.
Dengan semangat Indah pun membuatkan Nasi goreng untuk bos nya itu. " Apa karena enak, sampai pak boss nambah."gumam Indah tersenyum geli.
"Ganteng - ganteng, makannya banyak juga." gumamnya lagi. Tak butuh waktu lama Indah pun menyelesaikan masakannya, ia membawa sepering nasi gorenga dan dia juga tidak lupa untuk mengambil pesanan kopi yang di katakan Lala tadi. Kemudian, setelah semuanya siap, barulah Infah berjalan ke ruangan bosnya itu.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk!" mendengar sautan dari dalam Indah pun membuka pintu dan berjalan menuju meja kerja Bosnya. Indah tidak tau siapa nama Bosnya itu, yang ia tahu hanya bosnya itu memiliki wajah yang tampan.
"Ini pak, sarapannya."kata Indah sopan, Baim pun tersenyum.
"Makasih ya." jawab Baim ramah. Indah menunduk, kemudian berjalan keluar.
"Dasar bermuka dua"dumel Dika
"Udah, makan gih. Ini enak lo, rasanya nggak sama dengan yang biasa"kata Baim
"Alah, palingan beda dikit. Kan udah lama gue suruh lu buat ganti chef. Tapi lo ny aja yang nggak mau dengerin gu...."
"Gimana, enak?"tanya Baim yang dengan sengaja memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut Dika.
Dika kembali menyuapkan sesendok asi goreng lagi. "Lo udah ganti chef?"tanya nya.
"Gak tau, gue cuma suruh Lala buat buatin sarapan, tapi kayaknya Lala, yang udah ganti tukang masaknya deh"ucap Baim asal.
"Kenapa rasanya sama kayak nasi goreng yang pernah gue makan dulu"Batin Dika. Dika sangat penasaran dengan orang yang membuat nasi goreng tersebut, ia pun tanpa bersuara, berdiri dan keluar menghampiri Lala.
"La, siapa yang bikin nasi goreng tadi?"tanya Dika to the poin.
"Ngggg... Itu pak, karyawan baru namanya In..."
Ddrrrrrttt...
"Tunggu seebntar!"Ucap Dika saat mendengar dering ponselnya. Dika pun menerima panggilan itu, sambil kembali berjalan masuk ke dalam ruangan Baim.
"Iya, aku kesana sekarang.."
....
"Walaikum salam." Dika mematikan sambungan telponnya.
__ADS_1
"gue cabut dulu."pamit Dika pada Baim.
"Hmm... Hati - hati"ucap Baim. Dika pun hendak pergi, tapi dia kembali menatap piring yang ada di atas meja Baim.
Tanpa bicara, Dika kembali duduk, dan mulai memakan makanannya. Baim tersenyum melihat sahabatnya yang makan dengan lahap.
" Lo lapar, apa doyan"ledek Baim.
"Dari pada mubazir"balas Dika, Baim geleng - geleng melihat cara makan Dika.
"Ok, gue cabut" Dika pun benar - benar pergi meninggalkan ruangan Itu.
Saat keluar dari ruangan Baim, tanpa sadar Dika kembali menabrak seseorang. Dika mendesah kesal, kenapa hari ini dia begitu ceroboh, bahkan dalam waktu yang bisa di bilang berdekatan ia sudah dua kali menabrak orang.
"Hais... Malah bengong, bantuin kek!" ujar Indah kesal, bagaimana mungkin Ia bisa di tabrakoleh orang yang sama. Kesialan apa yang sedang di alami nya pagi ini.
"Jangan lebay, bangun sendiri."ucap Dika Dingin, tanpa berucap Dika pergi begitu saja meninggakan mereka.
"Nyebelin banget sih.." gerutu Indah.
____
Dika memasuki ruangan sang ayah di perusahannya itu, tanpa mengetuk pintu ia langsung membuka dan masuk kedalam.
"Ada apa ayah manggil aku?"tanya Dika, duduk di kursi yang ada di depan meja ayahnya .
"Nanti malam, datang lah ke restorang xxx!"kata ayah nya.
"Ngapain?"tanya Dika malas.
"Nanti kita akan ada makan malam bersama dengan keluarga calon kamu."kata ayah
"Malas, aku sibuk"tolak Dika,
"Pokoknya, ayah nggak mau tahu. Jam 8 malam nanti kamu sudah ada di hotel itu."
Dika berdiri, " Aku nggak janji"ucapnya, melangkah menuju pintu.
"Kalau kamu nggak datang, ayah akan mengeluarkan kamu dari daftar warisan!"teriak tuan Malik. Dika menghentikan langkah nya.
"Aku bisa cari calon sendiri, ayah nggak usah nyariin buat aku!ltegas Dika.
"Tapi mana, dari dulu kamu nggak jadi - jadi nikah. "ucap tuan Malik.
"Ya tunggu ajalah, aku pastiin nan, Ok"ucan? Dika pun benar berlalu pergi dari ruangan ayahnya. Itu dan masuk kedalam ruangannya.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.
Terimah kasih💜