
"pa..pa..!"
Ardan menoleh ke arah pintu yang terbuka,, senyumnya langsung merekah mendengar Arya yang memanggil nya Papa. Ardan beranjak dari duduknya dan menghampiri Arya dan Nindy yang kini sedang berjalan mendekati nya. Tangan nya terulur untuk menggapai tubuh Arya yang memintanya di gendong. Dengan senyum nya yang lebar Ardan membawa Arya dalam dekapannya, dia juga menciumi wajah Arya yang baru bangun tidur. Arya terkikik geli sambil memegang wajah ardan.
Nindy ikut tersenyum melihat betapa bahagianya Arya yang bertemu dengan Ardan. Tak pernah sekalipun dia mengajari Arya untuk memanggil Ardan dengan sebutan papa. Dia sendiri kaget mendengarnya, padahal Nindy sudah memberi tahu kalau Ardan bukan papa nya, tapi seakan di anggap angin lalu, Arya tetap memanggilnya papa. Nindy hanya merasa tidak enak kepada Ardan , takutnya dia risih dengan panggilan papa dari Arya. Tapi selama ini nindy lihat,ardan baik-baik saja dengan panggilan itu.
"Maaf yah mas Ardan, saya sudah menjelaskan kepada Arya kalau mas Ardan bukan papa nya tapi Arya tetap memanggil mas dengan sebutan papa, Mulu. Nindy juga berani bersumpah kalau Nindy tidak pernah mengajarkan Arya buat memanggil papa kepada mas Ardan."
Nindy mencoba menjelaskan kepada Ardan supaya dua tahu kalau dia bersalah disini. Nindy tidak mau Ardan jadi salah paham padanya, dan menganggapnya suka mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Santai saja Dy,, aku tidak masalah dengan panggang papa dari Arya untuk ku. Jujur aku suka, sangat suka malah..hehehe..!" Ardan tersenyum bahagia saat Arya yang kini sedang duduk di pangkuannya. Dia seperti menjadi ayah yang sesungguhnya, senyumnya tak pernah hilang dari bibirnya.
Deg
Jantung Nindy berdebar tidak karuan hanya melihat senyum Ardan, padahal itu tidak ditunjukkan padanya. Tapi seakan Nindy merasa kalau senyum tulus itu di berikan kepada nya.
Nindy mencoba mengalihkan pandangannya dari Ardan dan juga Arya, dia jadi teringat dengan ungkapan ayam nya yang tadi di tinggal oleh nya, semoga tidak gosong.
"Mas Ardan, Nindy permisi ke dapur dulu yah. Tadi saya sedang memasak ,takut gosong." Pamit nindy sambil tergesa-gesa menuju dapur nya, saat sampai di dapur nindy bernafas lega karena ternyata ayamnya masih aman dan sudah siap untuk di goreng.
Dengan cekatan Nindy menggoreng satu per satu ayamnya di dalam wajan nya. Aromanayma goreng yang menggugah selera membuat Ardan berjalan mendekati nindy. Ardan membawa Arya dalam gendongannya dan berdiri di belakang nindy Persie, sementara nindy yang sedang fokus memilah cabai sampai tidak sadar dengan kehadiran Ardan di belakangnya.
"Wangi sekali Dy? .."
"Astaghfirullah hal'adzim mas Ardan kok ngagetin aku sih. Kenapa mas kesini ,, mas kesana saja nanti baju mas bisa bau kalau disini." Usir Nindy pada Ardan yang malah kini sedang cekikikan dengan Arya , Ardan mengabaikan perintah nindy dan malah bersandar di depan kulkas sambil memandang Nindy yang kini sedang kerkacak pinggang padanya.
"Dy..! Bisakah kita menjadi keluarga yang sesungguhnya...?" Tanpa sadar Ardan mengungkapkan isi hatinya pada nindy yang. kini terdiam kaku mendengar ucapan ardan.
Nindy menjadi slah tingkah sampai membuat tangannya tidak sengaja terkena wajan yang panas, nindy menjerit kesakitan dan membuat Ardan yang khawatir reflek memegang tangan nindy dan menariknya langsung ke bawah keran wastafel. Nindy menatap wajah Ardan yang kini sedang mengkhawatirkan nya sambil mengomelinya karena ceroboh sudah melukai jari tangannya.
"Hati-hati Dy, wajan nya kan panas kenapa kamu malah menyentuhnya. sekarang lihat kan jadinya kayak gini, fuh..fuh...fuh...Masih perih nggak Dy? Kamu ada obat luka bakar nggak Dy di rumah? Biar aku ambilkan untuk kamu..!!"
Ardan yang khawatir jadi merancau oanjang lebaran, padahal selama ini Ardan terkenal irit berbicara dengan orang yang tidak di kenal. Ardan akan mengeluarkan sifat aslinya hanya oada keluarga nya dan juga orang yang di anggapnya berkesan di hatinya.
"Sepertinya ada mas, biar nindy saja yang ambil.".
__ADS_1
"Kamu cukup kasih tahu aku dimana tempatnya ,biar aku yang ambil. Tak ada penolakan yah Dy."
"Baiklah mas,, kotak P3K nya ada di atas lemari kecil di ruang tamu." Nindy mengalah dan memberi tahukan dimana letak kotak P3K nya.
Sambil menahan perih nindy meniup niup jari jemarinya yang terkena wajan panas. Nindy matikan kompor nya dan berniat mengangkat ayam goreng nya yang sudah matang, tapi di tahan oleh Ardan dengan menariknya kebelakang.
Ardan mengambil alih tugas nindy untuk mengangkat ayam gorengnya, dan Arya dia taruh di atas karpet. Setelah memastika keadaan kompor sudah mati Ardan menghampiri Nindy yang kini sedang meniup niup luka bakarnya, walaupun tidak lebar tapi tetap saja perih.
Sreettt
Ardan menarik tangan nindy pelan sambil meniup niup luka bakar yang ada di jari nindy.
Nindy terkejut dengan tindakan Ardan padanya, dia merasa seperti ada sengatan listrik yang mengaliri darahnya, hatinya berdesir melihat Ardan yang kini sedang berusaha mengobati lukanya. Pipinya mulai menghangat, Nindy berusaha mengalihkan perhatiannya dengan melihat ke arah lain. Dia tidak berani menatap wajah Ardan yang jarak nya cukup dekat dengan wajah nindy.
Kebiasaan Nindy ketika gugup pasti akan menggigit bibirnya masih sampai sekarang Ardan yang sudah selesai mengoleskan obat di luka nindy, kini mendongak dan menatap wajah nindy yang bersemu merah. Ardan tersenyum kecil, dan tanpa sengaja ardan menurunkan pasangannya ke arah bibir Nindy yang sedang di gigit oleh Nindy ,membuat ardan menelan ludahnya gugup.
Deg
Nindy yang berniat melihat Ardan yang sedang mengobatinya ,di buat terkesima dengan tatapan mata ardan yang begitu indah dan memabukkan.
Sreettt
Nindy menarik tangannya yang masih di pegang oleh Ardan dengan buru-buru, ,nindy juga beranjak dari kursinya menuju dapur berniat membuat sambal. Tapi saat tangannya menyentuh ulekan , nindy mengaduh kesakitan.
Ardan berdecak melihat nindy yang keras kepala memakai tangan kanan nya yang masih terluka untuk mengulek sambal.
"Sudah tidak usah membuat sambal, kita makan seadanya saja yah. Atau kamu mau say belikan sesuatu buat makan Dy..?" Ardan meminta nindy untuk duduk kembali di kursi, dia melihat raut wajah Nindy yang kini sedang meniup kembali luka di tangannya.
"Nggak usah mas. ini aja seperti nya cukup. Tapi mas Ardan tidak masalah kan?karena hanya ini yang bisa nindy siapkan untuk makan malam mas Ardan. Maaf yah mas , tidak bisa memberikan mas Ardan makanan yang layak." Sesal Nindy sambil menundukkan kepalanya.
"Aku nggak masalah Dy, begini aja aku juga sudah suka kok. Sini biar aku saja yang menata makanannya , kamu cukup diam dan jaga Arya saja. oke..!"
"Tapi mas...!"
"Ssttt. Aku nggak mau di bantah,oke.!"
__ADS_1
Akhirnya nindy mengalah dan duduk menghampiri Arya anaknya yang kini sedang sibuk denagn mainannya, dia sesekali melirik Ardan yang sedang menaruh sayur dan ayam goreng di atas meja makan.
Asal nindy tahu ,selama ini Ardan tidak oernah sekalipun membantu kakak atau ibunya dalam mengurusi dapur. Kalau sampai kalanya tahu Ardan melakukan itu, Ara pasti tidak akan percaya.
"Ayo sini makan Dy, ini sudah aku ambilkan nasi beserta lauknya. Kamu bisa makan sendiri kan?" Ardan sengaja menanyakan itu karena melihat tangan kanan nindy yang terluka, Nindy berdiri dan menghampiri Ardan yang kini sedang berdiri di belakang kursi dan menyuruh nindy untuk duduk di kursi itu.
Nindy mengikuti perintah Ardan dan duduk di kursi itu juga, Ardan sendiri berjalan menghampiri Arya dan menggendongnya mendekati nindy yang sedang menatapnya.
Nindy mengambil makanan yang sudah di siapkan untuk Arya di atas meja makan. Dan berniat mengambil alih Arya dari pangkuan Ardan,tapi Ardan menolaknya.
"Biar Arya aku yang menyuapinya. Kamu makan dulu saja ,Dy."
" Nggak usah mas takut ngerepotin."
"Kalau begitu kamu bisa menyuapiku kalau begitu..hehehe" Ardan sengaja menyuruh nindy menyuapinya agar nindy tidak jadi meminta Arya di pangkuannya.
Nindy langsung salah tingkah dan pipinya kembali bersemu merah. Nindy menggigit bibirnya tanpa sadar, Ardan yang melihatnya malah tersenyum menggoda.
"Lihat sayang.. Mama kamu pipinya merah. Mama kamu kenapa sayang? kkkk..."
Blushhh
Pipi nindy makin merona setelah mendengar ucapan ardan yang menggodanya.
Kalau di lihat-lihat mereka seperti pasangan suami istri yang bahagia. Saling melempar godaan satu sama lain. Bahagia sekali jika itu bisa terwujud.
Tbc
Jangan lupa like dan vote yah teman-teman. apalagi di beri hadiah lebih semangat lagi aku nya. hehehe
Terima kasih yang sudah setia membaca ceritaku.
Dan hanya mengingatkan untuk mampir juga di ceritaku TENTANG AKU dan Kamu.
__ADS_1