
Aku menghapus sisa air mata yang masih tersisa di wajahku. Aku menarik nafas dan mengeluarkan nya dari mulut, setelah merasa cukup tenang. Aku beranjak keluar kamar mandi dan mendekati suamiku yang sudah menunggu ku di atas ranjang.
"Kenapa lama sekali sayang? Sini sini... Mas sudah nggak sabar pengin peluk kamu." Mas Bagas menepuk nepuk kasur di sampingnya, memberitahuku untuk mendekatinya. Aku mencoba tersenyum tapi sepertinya hanya ringisan kecil yang terlihat.
greebbb
Setelah sampai di samping nya, mas Bagas langsung menarik tanganku dan aku terjatuh di atas tubuhnya. Dia merapihkan rambutku yang berantakan, kami saling memandang satu sama lain. Sorot matanya yang indah semakin membuat ku terpesona, aku yang mulai terbuai oleh sentuhan jari tangan nya yang dengan lancangnya mengger*y*ngi tubuhku.
Aku mulai memejamkan mataku karena menikmati setiap sentuhan nya. Ketika dia menci** bi***ku dengan penuh gair*h, aku baru sadar kalau aku sedang datang bulan. Aku mencoba menyingkirkan tangan nya yang berada di belakang leher ku, aku melepaskan pagutan bibirnya secara paksa.
Dia menatap mataku dengan penuh protes,karena sudah mengganggu aktivitas nya. Dia hendak mencium ku lagi tapi aku tahan dengan cara mendorong tubuhku bangun dari atas tubuhnya.
"Kenapa sayang...?"
Dia mencium rambutku sambil memelukku dari belakang. Aku menoleh ke belakang dan menemukan wajah suamiku yang masih terselubungi gairah nafsu nya.
"Mas...?"
"Hmmm..."
"Mas...."
"Iya kenapa sayang..?" ucap mas Bagas sabar Sambil menciumi leherku.
"Bisa berhenti dulu mas."
"Apanya sayang.." Aku langsung berdiri dan duduk menghadap nya. Dia bingung menatapku yang menatapnya serius. Dia pun mencoba bersabar dengan kelakuan ku yang tiba-tiba seperti ini.
Aku menarik tangannya dan menggenggam nya, aku ingin bertanya dahulu kepada mas Bagas.
"Mas penginnya punya anak sekarang atau nanti?" Dia menatap mataku bingung karena tiba-tiba membahas masalah anak sekarang. Karena setelah menikah kami belum pernah nemuin masalah anak sekalipun.
"Ehmmm...Mas sih terserah sama yang di atas, mau ngasih sekarang atau nanti...Mas tidak terlalu memikirkan nya. Yang penting selama ada kamu di sisiku... Mas nggak masalah. Tapi tumben nanyain kayak gini? Ada apa sayang? Apa ada sesuatu yang mengganggu mu?"
JUJUR
Aku melihat sorot matanya berkata seperti itu, Aku cukup merasa lega mendengar nya. Mataku mulai berkaca-kaca mendengar jawaban dari mas Bagas.
Greebbb
__ADS_1
Aku memeluk erat tubuhnya, sambil menangis terisak. Mas Bagas yang tahu kalau aku menangis,langsung mendorong tubuhku pelan. Dia mengusap lembut wajahku sambil mengecup kedua mataku.
"Ada apa hmmm..?" Aku menyusupkan tanganku untuk memeluk tubuhnya erat. tak pernah terbayangkan oleh ku akan mendapatkan lelaki yang sepertinya.
"Maaf mas... Sepertinya mas hari ini sampai Minggu depan harus puasa dulu deh mas."
"Maksudnya puasa apa sayang.." Keningnya berkerut bingung menatapku. Aku terkekeh geli melihat nya. Aku mengusap pipinya sayang.
"Itu... maksud nindy...itu loh mas.!"
"Itu apa sih sayang. Mas nggak ngerti maksud ucapan kamu?" Aku menggigit bibir malu.
"Ehm..hari ini aku kedatangan tamu mas."
"Tamu...? Mana..? Dari tadi mas disini nggak denger kalau ada yang mencet bel, Lagian jam segini mana ada tamu sih sayang. Nggak usah bercanda deh.!"
"Iiiihhh...maksud nindy itu loh mas. Tamu bulanan atau menstruasi mas.!" Jelasku sambil mengerutkan bibirku sebal.
"Ooohhh itu toh. WHAT...!!! Maksud kamu...kita nggak bisa berhubungan in....!" Aku langsung menutup mulutnya dengan tanganku. ucapannya yang terlalu frontal makin membuatku malu.
Mas Bagas melepaskan tanganku dari depan bibirnya dan mencium punggung tanganku. Dia tersenyum manis.
"Maaf yah sayang..tadi mas cuma terkejut jadi reflek berteriak di depan kamu sayang. Maaf yah..?!"
"Dan untuk masalah tadi ,mas bisa kok menunggu kamu. apalagi cuma seminggu...Mas dulu setahun memendam rasa cinta mas sama kamu juga kuat apalagi cuma seminggu.. mas nggak masalah sayang."
"Terimakasih yah sayang atas pengertiannya. Sebenarnya tadi nindy takut mas akan marah sama nindy, karena akan membuat mas berpuasa selama seminggu penuh."
"Hei..denger yah istrinya mas Bagas yang paling cantik. Mas menikahi kmu bukan untuk memuaskan nafsu mas, tapi mas menikahi kamu karena ibadah. Dan tak sepantasnya mas marah cuman gara-gara kamu nggak melayani mas di ranjang. Mas cinta sama kamu karena Allah, jadi jangan pernah berfikir yang tidak tidak. Oke sayang.!"
"Ehm. Makasih yah suamiku tercinta. Aku nggak tahu harus bicara apa, tapi yang jelas aku sangat beruntung mempunyai suami yang Sholeh dan mencintaiku setulus hati. I love you sayang."
cup
Aku mencium bibir nya sambil menggelayut manja di tubuh suamiku. Akhirnya malam ini aku bisa tidur dengan tenang.
****
Keesokan harinya aku membangunkan mas Bagas seperti biasa, cuma karena aku yang sedang berhalangan jadi mas Bagas sholat sendirian di rumah. Aku juga sudah menyiapkan bekal untuknya makan siang nanti, selama menikah mas Bagas sekarang lebih suka makan masakanku. Jadi aku selalu menyempatkan untuk memasak,dan kalaupun tidak sempat pasti karena ada perlu jadi mau nggak mau kita harus makan di luar.
__ADS_1
Tadi pagi ketika mau berangkat bekerja,mas Bagas memberitahu ku kalau untuk masalah tanah yang mau dia bangun cafe katanya sudah deal. Dan mereka akan siap untuk membangunnya Minggu depan.
Aku diminta untuk menemaninya nanti ke sana, dan aku dengan senang hati akan selalu mendukung nya.
Ketika aku sedang bersantai di balkon rumah, aku mendengar suara ponselku berbunyi. Aku segera berjalan menghampiri kamarku untuk mengambil ponselku, aku melihat nama Nayla tertera di sana. Aku langsung mengangkatnya.
*Assalamualaikum nay
^^^Wa'alaikumsalam nin.^^^
Ada apa nay?
^^^Lo dirumah atau di cafe nin?^^^
Aku dirumah. kenapa nay?
^^^Gue boleh kerumah lo nggak nin?^^^
Ehm. boleh kok. gue shareloc yah.
^^^Thanks yah nin. gue tunggu yah*.^^^
Nayla menutup telponnya dan aku langsung shareloc alamat rumahku alias rumah suamiku. Aku memberi tahu mas Bagas kalau Nayla mau main kerumah dan dia mengijinkannya.
Aku langsung berjalan ke dapur untuk menyiapkan kudapan yang akan aku siapkan buat menyambut kedatangan Nayla. Dari nada suaranya sepertinya dia lagi ada masalah. Setelah menunggu sekitar setengah jam lebih. Aku mendengar ada telfon dan ternyata Nayla yang menelfon. Aku bergegas mengambil jilbaku yang cukup besar untuk menutupi tubuh atasku.
Aku berjalan keluar rumah,untuk mencari keberadaan Nayla yang katanya sudah dekat dengan rumahku. Ketika aku keluar pagar aku melihat ke jalanan dan dari sini terlihat motor Nayla yang sedang mendekat ke arahku. Aku melambaikan tangan supaya Nayla tahu kalau aku disini.
Setelah sampai didepan ku dia langsung berhenti dan tersenyum lebar menyambut ku. Aku langsung tersenyum manis dan membukakan pintu pagar rumahku untuk mempersilakan motor Nayla masuk kedalam rumahku. Setelah memarkirkan motornya di garasi depan kami saling berpelukan dan aku memintanya untuk masuk kedalam rumahku.
Dia sampai menganga melihat rumahku yang sangat besar, aku hanya tersenyum untuk menanggapi nya. Aku membawa Nayla untuk duduk di ruang santai sambil menonton tv, bahkan Nayla belum pulang kerumahnya padahal dia baru pulang kerja. Aku menyuruhnya untuk mengganti baju dan cuci muka dahulu. Aku memberikan bajuku yang masih baru dan belum ku pakai. Setelah berganti baju aku menyuruhnya untuk beristirahat saja di kamar tamu yang ada di lantai satu.
Setelah Nayla tidur aku menyiapkan makan siang untukku dan Nayla nanti,sedangkan hari ini mas bagas katanya akan lembur jadi aku tidak perlu masak karena mas Bagas akan memberikan ku makanan dari cafenya.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, aku beranjak ke kamar tamu untuk membangunkan Nayla untuk sholat Dzuhur. Setelah sholat Nayla makan masakanku yang sudah aku hangatkan lagi, sedangkan aku sudah makan tadi. Aku membawa Nayla untuk duduk di balkon lantai atas, aku melihat wajah Nayla yang cukup murung tidak seperti biasanya.
Aku menggenggam tangannya untuk memberikan dukungan untuknya, dia menetap wajahku dan tersenyum miris. Tiba-tiba air mata lolos dari matanya yang sudah memerah menahan tangis. Aku langsung memeluknya dan mengusapnya perlahan, aku yang belum tahu apa masalahnya akhirnya menunggu sampai tangisnya mereda. Aku tak perduli dengan bajuku yang basah terkena air matanya, yang penting sekarang aku hanya ingin memberikan kenyamanan untuk nya.
Nayla bukan hanya sekedar sahabat buatku,tapi dia sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Karena selama ini dia dan keluarganya yang selalu menemaniku disini. Taka ada yang lebih menyakitkan dari pada melihat sahabatku menangis seperti ini.
__ADS_1
**Yang sabar yah nay. Apapun masalahmu insya Allah aku akan selalu berada di sampingmu.
Tbc**