Penantian Cinta

Penantian Cinta
chapter 47


__ADS_3

"Tumben nin lo ikut kesini? Biasanya juga lo kalau diajak pergi bareng suka nolak. kkkkk"


Aku langsung menatap tajam wajah Rian. Banyak sekali kata-kata umpatan yang ingin ku ucapkan melihat wajah Rian. Tapi aku mencoba menahannya karena aku tidak ingin membuat keributan disini. Aku juga tidak ingin mempermalukan nama baik suamiku.


Aku menarik nafas dan berniat untuk berbicara serius dengan Rian,tapi sebelum itu terjadi Nayla sudah menghentikan nya dengan menarik lengan bajuku. Aku menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Gue aja nin. Ini masalah gue sama Rian. Jadi gue yang harus menyelesaikan nya, bukan lo ataupun orang lain. Gue cuma minta lo buat temenin gue disini dan kasih gue semangat,ehmm..?!" Setelah berfikir aku akhirnya menyetujui kemauan dari Nayla. Aku tetap duduk disampingnya dan memberikan dukungan padanya.


Kamu pasti bisa nay.Semangat.!!


"Rian.... sebenarnya ada yang mau gue kasih tahu sama lo."


"Ada apa Nay,? kenapa wajah lo serius kayak gitu sih?"


Aku memperhatikan wajah Rian yang mulai penasaran dengan maksud kedatangan kami. Aku sedari tadi sudah melihat wajah kaget Rian, waktu pertama kali melihat aku dan Nayla datang kerumahnya. Karena tak seperti biasanya aku mau di ajak pergi main kerumah temen cowoknya.


Aku melihat Nayla yang mulai mengeluarkan testpack nya dari dalam tasnya dan menaruhnya di atas meja. Rian langsung shock melihatnya, dia menatap wajah Nayla dan juga alat testpack secara bergantian. Sepertinya dia masih tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.


"Lo ....ham...mil Nay?" Terbata bata Rian mengucapkan nya. Dia bangun dari duduknya dan langsung mendekat dan bersimpuh di hadapan nayla. Aku berniat beranjak untuk memberikan ruang kepada mereka tapi Nayla seperti nya tidak mau membiarkanku pergi.


"Please nin, jangan pergi.!"


"IYa nay gue nggak akan kemana-mana. gue disini.!" Aku mengelus punggung Nayla pelan .


"Nin.. lo lagi nggak ngerjain gue kan sama Nayla?" Aku yang mendengarnya langsung mendengus sebal.


"ELO nggak perlu nanya sama gue! Lo harusnya sudah tahu konsekuensinya. Jadi buat apa gue sama nayla ngerjain lo dengan cara begini, nggak ada untungnya buat kita. Yang ada sekarang lo harus mikirin gimana lo sama Nayla harus bertanggung jawab atas kehadiran anak yang ada di dalam kandungan Nayla. Dan jangan pernah berpikir untuk menggugurkan kandungannya..!!! Kalau sampai itu terjadi....gue akan tuntut lo dan nggak akan pernah maafin kalian berdua.!!"


"Nay.... gue tunggu diluar. Kalau sampai dia nggak mau tanggung jawab,kita bisa bicarakan ini dengan orang tua Rian sekarang."


Aku berjalan keluar rumah menuju kursi taman yang aku duduki tadi. Tanpa terasa air mataku mengalir tak terbendung, aku menutup wajahku dengan jilbab ku. Untung suasana sore disini tidak terlalu ramai,dan juga rumah Rian juga terdapat pagarnya, jadi kalau dari luar tidak terlalu terlihat jelas.


Drrrtt drrrtt drrrtt


Aku mengambil ponselku dan ternyata ada panggilan video call dari mas Bagas. Aku langsung mengusap wajahku dan menghembuskan nafas supaya suaraku tidak aneh ketika di dengarnya.


*Sayang....kamu sama nayla masih lama disana?

__ADS_1


^^^Ekhm ekhm. ehmm Nindy kurang tahu mas.^^^


Sayang..!! Coba tolong lihat wajah mas*.!!


Aku langsung gelagapan. Bagaimana ini.. pasti mas Bagas tahu kalau aku sedang menangis.


Nindy..!!! LIHAT aku sekarang juga. !!!


Aku yang sudah tidak bisa mengelak lagi akhirnya hanya bisa pasrah menatap wajah suamiku yang sedang berlinang air mata. Aku menutup mulutku sambil menahan tangis.


Mas akan kesitu sekarang juga!!!. Mas minta kamu untuk kirim alamatnya sekarang juga.


Tanpa salam mas Bagas mematikan sambungan telepon ku. Dia memberikan pesan untuk mengirimkan alamat rumah Rian Sekarang juga. Aku pun langsung shareloc rumah Rian sekarang juga. Aku hanya khawatir semoga mas Bagas tidak ngebut di jalan ketika kesini.


Waktu sholat Maghrib sudah tiba, dan aku melihat orang orang mulai pergi menuju Masjid di sekitar sini. Aku chat mas Bagas untuk sholat di jalan. Tapi sepertinya mas Bagas tidak membaca pesan ku.


Orang tua Rian sudah pulang dari Masjid dan menawarkan aku untuk masuk ke dalam karena nyamuk di luar banyak sekali. Tapi aku menolaknya dengan alasan ingin menelfon keluarga ku, dan mereka membiarkannya.


Baru beberapa saat aku mulai mendengar keributan dari dalam, aku segera melihatnya dan ternyata Ayah Rian sedang berteriak pada anaknya sambil memukul wajah anaknya. Aku yang melihat Nayla yang sedang berlutut di bawah kaki ayah Rian langsung membantunya untuk berdiri.


"Bapak tidak pernah mendidik kamu buat menghamili anak orang. Tapi.. Tapi. kenapa kalian tega melakukan itu sama kami. Kalian membuat para orang tua kecewa dengan kelakuan kalian. Yang kalian pedulikan hanya nafsu kalian saja, tapi setelah kejadian seperti ini kamu malah berniat buat menggugurkan kandungan nya. Lelaki seperti apa kau ini HAH..!!" Aku langsung terkejut dan refleks menampar wajah Rian di depan orang tuanya dan Nayla. Dengan berlinang air mata aku menunjuk wajahnya dengan sangat emosi.


"ELO BUKAN SEORANG LELAKI, ELO ITU BINATANG. Atas dasar apa elo nyuruh Nayla buat menggugurkan kandungan nya. Kita kesini buat minta pertanggung jawaban elo bukan malah nyuruh Nayla buat bunuh bayinya." Aku menekankan setiap ucapanku dengan emosi. Aku menangis terisak menahan luapan emosi ku. Aku berniat melanjutkan ucapanku sebelum ada tangan yang menarik ku ke dalam pelukannya.


Greebbb


"Hei it's Ok sayang. Cukup,biar mereka yang menyelesaikan masalah mereka lebih baik kita tunggu diluar saja . hmmm..?"


Mas Bagas menarik ku keluar rumah dan membawaku untuk duduk di kursi. Aku yang masih emosi dengan Rian, tidak sadar telah mengepalkan tanganku begitu kuat sampai aku tidak sadar telah melukai tanganku sendiri karena terkena kukuku sendiri. Tanganku masih terasa panas karena telah menampar wajah rian dengan cukup kencang.


sreettt


"Sayang..!!! Lihat mata mas..!" Aku yang masih di selimuti kabut emosi hanya mengacuhkan mas Bagas.


"AYUNINDYA...!!"


Aku langsung tersadar setelah mas Bagas memanggil nama lengkapnya dengan tegas. Aku yang baru sadar kehadirannya langsung menumpahkan tangisku dan memeluknya erat.

__ADS_1


"Aku hiks..nemenin Nayla bukan untuk..meminta Rian ..untuk membunuh ...bayi di dalam kandungannya..hiks..tapi aku hanya ...ingin ..minta pertanggung..jawaban dari Rian...bukan malah jadi seperti.. ini mas...huhuhuhu...kasihan Nayla... Mas..!!"


"Iya sayang.udah..udah udah.. Aku tau maksud kalian baik. Rian juga harus bertanggung jawab atas kesalahan nya. Sudah sudah sekarang kamu tenangnya yah sayang... Mas nggak mau lihat kamu menangis lagi,oke..!! Lebih baik kita tunggu masalah ini kelar dulu. Biarkan mereka yang menyelesaikan nya. Ok.sayang..!!".


Aku hanya mengangguk sambil tetap memeluk tubuh suamiku. Aku tidak tahu kalau tidak ada mas Bagas disini sekarang, mungkin aku sudah memukul Rian habis habisan.


Setelah beberapa saat aku mulai bisa mengontrol tangisku dan aku mulai melepaskan pelukannya. Aku mendongak menatap wajah suamiku yang khawatir melihatku,aku mencoba tersenyum padanya. Dan dia membalasnya sambil mengusap lembut wajahku untuk menghapus air mataku tadi. Dia merapihkan jilbabku yang entah sudah seperti apa aku tidak tau.


Aku juga sudah tidak mendengar suara ayah rian dan teriakannya,mungkin mereka sedang mencari solusi nya sekarang. Aku berharap ini tidak akan menemukan titik buntu.


srett


Mas Bagas menarik tanganku dan melepaskan genggaman tanganku. Dia berdecak melihat tanganku yang merah dan lecet. Aku hanya bisa meringis minta maaf padanya.


"Maaf mas atas tindakanku yang telah mempermalukanmu. Aku...!!"


"Ssstt..!! ini bukan salah kamu sayang, mas kalau di posisi kamu juga akan melakukan hal yang sama. Tapi lain kalau kamu tidak perlu mengotori tangan kamu dengan melakukan seperti itu lagi. Lagian mas juga sebenarnya nggak rela kamu menyentuh lelaki lain, karena yang berhak menyentuh kamu hanya mas saja. Kamu mengerti sayang..?"


"Iya mas. Maafin nindy yah mas...?"


"Iya mas maafin kamu kok sayang."


Mas Bagas menariku kedalam pelukannya, dia juga mengecup keningku lama. Aku merasa lega berada disisinya sekarang. Aku yang melihat kehadiran Nayla dan Rian di luar pintu rumahnya langsung melepaskan pelukanku pada mas Bagas.


Aku menggandeng tangan mas Bagas untuk mendekati mereka. Setelah sampai di hadapan mereka, Nayla langsung memelukku erat. Dia meminta maaf padaku dan dia juga mengatakan mereka akan menikah secepatnya.


Aku langsung menatap wajah Rian yang berada persis di depanku, dan dia hanya mengangguk yakin atas pilihan mereka. Aku bernafas lega setelah mendengar akhirnya mereka akan saling bertanggung jawab. Aku memberikan ancaman kepada Rian dengan suara pelan.


"Kalau sampai lo ninggalin Nayla atau buat Nayla sedih gue nggak akan maafin lo. INGART ITU..!!"


Dan rian hanya mengangguk pelan. Aku melepaskan pelukan nayla dan mengucapkan selamat padanya. Aku tidak berniat untuk meminta maaf karena sudah menpar Rian. Karena dia memang pantas mendapatkannya.


Mas Bagas menarik ku dan merangkul pinggangku. Aku berniat meminta maaf kepada orang tua Rian dan juga ijin untuk pulang bersama mas bagas. Aku juga mengenalkan mas bagas sebagai suamiku,dan mereka kaget karena aku sudah menikah. Mereka juga memberikan selamat dan mendoakan aku dan mas Bagas supaya menjadi keluarga yang Samawa.


Setelah berpamitan dengan orang tua Rian, aku dan mas Bagas keluar rumah dan masih menemukan Rian dan Nayla berdiri di luar. Aku menepuk pundak Nayla dan berpamitan padanya. Aku pergi tanpa mau berpamitan pada Rian. Aku masih emosi jika melihat wajahnya. Aku mempercayakan Nayla untuk di antar oleh calon bapak dari anaknya nanti.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2