Penantian Cinta

Penantian Cinta
Tawaran nikah


__ADS_3

Saat hendak membuka pintu, Lala tanpa sengaja mendengar percakapan Baim dan juga Dika.


"Gue harus cari cewek di mana coba yang mai gitu gue?.." Lala pun tersenyum, ia mengurungkan niatnya untuk keluar. Ia kemali berbalik dan berjalan menghampiri Kedua pria itu.


"Hmm.. Maaf sebelumnya, apa tadi bapak bilang sedang cari orang?"tanya Lala.


"Iya, dan kenapa kamu masih ada di sini?"


"Mm... Saya ada teman, dan dia itu sedang membutuhkan uang, saya yakin kalau dia akan menerimanya karena di sedang membutuhkan uang"kata Lala


"Benarkah?"tanya Dika semangat


"Iya, apa bapak mu saya kenalkan sekarang?"tanya Lala.


Dika melihat kearah Baim, dari matanya seolah bertanya. "Benarkh ini?"


"La, kamu serius?"tanya Baim


"Iya pak saya serius, kebetulan teman saya lagi butuh kerjaan tambahan. Jadi, saya mohon buat bapak mempertimbangkannya." kata Lala


Dika diam sejenak, sepertinya dia sedang berpikir. Bisa saja dia mengiyakan permintaan Lala, tapi bagaimana kalau teman Lala itu, bentuknya sama dengan Lala, yang agak berisi itu. Bisa di bully hanis - habisan dia di depan keluarganya


"Baik lah, kamu silahkan bawa teman kamu ke sini! Saya mau lihat dia dulu, kalau memenuhin syarat saya pasti akan menerimanya"ucap Dika..


"Oke, pak tunggu sebentar saya panggil dulu"ucap lala semangat. Gadis itu berjalan cepat keluar dari ruangan itu.


"Apa? Apa temannya itu juga kerja di sini?"tanya Dika menatap Baim, Baim hanya mengedikkan bahunya.


"Kita lihat aja, dan semoga dia sesuai seleramu"ucap Baim.


___


Di dapur, Lala berlari menghampiri Indah yang sedang memasak makanan. Pesanan pelanggan.


"Indaaahhh" teriak Lala. Indah menoleh dan melihat Lala yang sedang berlari kecil pada nya.


"Iya mbak, ada apa?"tanya Indah sambil mengaduk wajannya.


"Aku sudah menemukan pekerjaan tambahn untuku"kata Lala.

__ADS_1


Indah kaget, ia langsung mematikan kompornya. "Mbak serius?"tanya Indah


"iya, aku baru saja menemukannya dan apa kau tahu kalau sekarang bos ingin mengetes dan melihatmu"kata Lala.


"apa? Secepat ini? "tanya Indah.


"Ita, ayo buruan"ujar Lala ikut senang. Indah tiba - tiba memeluk Lala.


"Terima kasih ya mbak, aku nggak akan pernah melupakan kebaikan mbak ini"kata Indah,


"Iya, ayo buruan selesaikan masakanya, jangan bikin mereka menunggu lama"kata Lala, yang di di angguki Indah sambik tersenyum.


___


Tok... Tok... Tokk..


"Masuk!" ujar dari dalam.


Lala dan Indah pun masuk kedalam ruangan tersebut, di sana mereka melihat 2 orang pria yang sedang sibuk dengan beberapa berkas di tangan mereka masing - masing


"Permisi pak, ini saya membawa teman yang katakan tadi"kata Lala.


Dika mendongak, di penasaran dengan bentuk tubuh wanita itu. Dika bisa melihat seorang gadis cantik yang sedang menunduk di depan Baim.


"Tapi, pak?" Indah memegang tangan Lala, seolah gadis itu tidak mau di tinggalkan..


"La!" panggil Baim. Dengan terpaksa Indah melepaskan tangan Lala, ia tidak mungkin membiarkan Lala mendapatkan masalah hanya karenanya.


"Baiklah" Lala melepaskan tangan Indah dengan terpaksa.


____


Indah termenung duduk di depan jendela kamarnya sambil menatap rembulan malam. Dia masih memikirkan tawaran yang di berikan oleh, Baim dan sahabatnya itu.


"apa yang harus aku, lakukan"gumamnya frustasi.


FLASH BACK


Setelah Lala keluar, Indah di persilahkan untuk duduk di kursi yang ada di depan Baim. Pria yang tadi sedang duduk di Sofa dan kini berjalan menghampirir nya

__ADS_1


"Hmmm... Apa kamu benaran mau kerjaan?"tanya Baim, Indah mengangguk.


"Bukankah kamu sudah bekerja di sini? Lalu kenapa masih mencari pekerjaa lain lagi?"tanya Baim


"Hmm... Saya juga akan tetap kerja di sini, kalau bapak mengizinkannya"ucap Indah.


"Siapa nama kamu?"tanya Baim, meskipun dia adalah boss nya, tapi dia juga tidak tau nama pegawainya itu.


"Nama saya Indah, pak"ucap Indah, Dika seketika mendongak, menatap gadis yang ada di depannya itu. berdiri dan mendekati Baim, agar dia bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu.


"Jadi ini, orang yang mau kerja dengan saya"ucap Dika seketika. Indah hanya meliriknya sebentar.


"Bisa apa kamu memangnya?"tanya Dika.


"Mm... Saya bisa segalanya pak, "jawab Indah.


"Benarkah?" Indah mengangguk.


"Apa kamu bisa bekerja sebagai Istri saya?"tanya Dika spontan. Baim yang ikut mendengarnya pun langsung mendongak kaget dengan ucapan sahabat nya itu.


Sementara Indah memandang Dika tak percaya. "Istri? Maksud bapak apa?"tanya Indah


"Nikah kontrak, apa kamu mau?"Tanya Dika.


"..." Indah tak bisa menjawab nya, dia bingung akan menjawab apa, karena dia tidak pernah terfikirkan akan mendapatkan tawaran kerja seperti ini.


FLASHBACK OFF


Indah memadang kartu nama yang di dapatkannya dari teman Baim yang gila tadi.


"Bagaimana ini, kalau aku menolaknya? Tapi... Bagaimana dengan pengobatan ayah?..."


"Aishh... Aku bisa gila"gumamnya menjambak rambutnya.


Indah benar - benar sudah sangat frustasi sekarang. Di sangat membutuhkan uang sekarang tapi tidak dengan menjual dirinya. Menikah dengan pria itu dan dia akan mendapatkan uang, bukankah itu sama saja dia sedang menjual dirinya?


Saat dalam kebimbangan menyerangnya, tiba - tiba Bundanya menghubunginya dan mengatakan kalau ayahnya kembali kritis dan sangat membutuhkan tindakan. Dan masalahnya pihak rumah sakit tidak mau memberinya tindakan sebelum semua tunggakannya di bayarkan.


Indah menarik napasnya dalam - dalam, kemudian ia mengambil ponselnya. Dengan ragu ia memencet angka - angka yang ada di kartu nama itu.

__ADS_1


"Halo..."


...****************...


__ADS_2