Penantian Cinta

Penantian Cinta
chapter 58


__ADS_3

Nindy POV


Positif


Aku membekap mulutku tak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang.


Tes


hiks


Setelah sekian lama akhirnya aku bisa merasakan juga sebagai seorang wanita. Tak bisa ku tahan tangis bahagia ku ini, aku segera berjalan keluar dari kamar mandi untuk menemui mas Bagas yang sedang memakai baju kerjanya.


greebbb


"Mas...hiks...!" Mas Bagas yang sedang memakai baju terkejut karena tiba-tiba aku memeluknya. Dia langsung melepaskan pelukanku dan menariku ke hadapannya.


"Ada apa? Kenapa menangis?"


"Hiks... akhirnya...Setelah setahun lebih... Akhirnya aku bisa hamil juga mas.!"


Deg


Aku melihat wajah mas Bagas yang berubah pias setelah mendengar berita kehamilan ku. Dia menatap wajah ku tak percaya, dengan tangan gemetar Bagas mengusap perutku yang tertutupi baju ku.


"Benarkah itu nin? Kamu lagi nggak bohongin aku kan?"


"iya mas. Buat apa aku membohongi mas. Ini.. kalau nggak percaya mas bisa cek sendiri.!"


Aku menyodorkan hasil testpack ku tadi kepada mas Bagas. Dia melihatnya dengan tangan gemetar kemudian dia langsung memelukku dengan erat sambil mengucapkan terima kasih kepada ku.


"Alhamdulillah, makasih yah nin. akhirnya setelah sekian lama kita bisa mempunyai seorang anak juga."


"Iya mas. Aku juga merasa sangat bahagia sekali mas. terimakasih yah, mas masih setia denganku dan mau bersabar sampai aku hamil. Terimakasih mas.!"


Aku memeluk mas Bagas dengan erat. Pantas beberapa hari ini aku merasa tubuhku seperti masuk angin dan juga mual. Aku kira aku hanya sedang kecapean aja, ternyata aku sedang hamil. Aku menyusupkan wajahku ke dada mas Bagas, aku memeluknya erat. Yang aku inginkan sekarang adalah ingin selalu bersama dengan mas Bagas.


"Aku yang harusnya berterima kasih sama kamu nin, terima kasih karena sudah bersedia menikah denganku. Makasih yah nin."


"Tapi sekarang aku harus bekerja dulu, nanti kalau kamu mau cek kandungan kamu bisa menghubungi ibu yah nin. Maaf...Aku nggak bisa nganterin kamu."


Aku melepaskan pelukanku dan menatap wajahnya dengan sedih, aku tak tahu kenapa aku bersedih mendengar ucapan mas Bagas yang menyuruhku periksa kandungan sendiri.


"ehm. baiklah mas Bagas hati hati yah kerjanya. assalamualaikum."


cup


Ku cium tangan mas Bagas dan dia mengusap rambutku dengan pelan. Setelahnya aku mengambil kerudung ku dan ikut mengantar mas Bagas sampai pintu gerbang. Aku melambaikan tanganku untuk mengantar ke pergian mas Bagas.


Aku berjalan ke ruang santai dan mencoba menghubungi Nayla, aku ingin memberikan kabar bahagia ini dengan nayla. Dengan semangat dan senyum lebar,aku menekan nomor Nayla.


Tut Tut Tut....


Hallo

__ADS_1


^^^Assalamualaikum^^^


Aku cekikikan melihat wajah Nayla yang sedang menyusui anak nya.


Wa'alaikumsalam. Tumben lo ngubungin gue? kenapa? .suami lo nggak marah ngelihat lo masih berhubungan sama gue...?


Aku mengerucutkan bibirku mendengar ucapan Nayla. Entah kenapa mas Bagas sekarang menyuruhku untuk tidak berteman lagi dengan nayla.


^^^Gue juga nggak ngerti kenapa mas Bagas seperti itu. Udahlah biarin aja. Sekarang gue mau lo tahu kalau gue sekarang lagi HAMIL. Yeah......^^^


Apa....!!!


^^^Yah....kenapa malah lo kayak nggak seneng gitu sih ? seharusnya lo kan ikut seneng juga kalau gue hamil . Lo tau sendiri,,,gue udah nunggu selama ini.^^^


Maksud gue, bukan gitu. Tapi terserah lah. Gue ikut seneng kalau lo seneng, tapi,,, gue mau nanyain ini sama lo..?


^^^Naya apa?^^^


Waktu pertama kali suami lo tahu kalau lo hamil gimana ekspresi nya?


^^^Heuh... maksud lo. kok gue nggak ngerti.^^^


Haahhhh...maksud gue suami lo seneng nggak denger lo hamil?


^^^Oh itu. Pertama sih dia kaget,tapi dia langsung meluk gue dan ngucapin selamat sama gue. mang kenapa sih? Sepertinya ada yang lo sembunyikan dari gue yah..?^^^


Udah lah nggak penting. Yang penting sekarang lebih baik lo jaga kesehatan terus jangan terlalu banyak mikirin sesuatu yang nggak penting, jangan sampai stres karena hamil lo masih muda.


^^^Siap komandan. Thank yah nay.^^^


^^^ehm.^^^


Aku menutup sambungan telfon ku dengan nayla dan kemudian mencoba menghubungi ibu mertuaku untuk memberitahukan berita bahagia ini.


*Assalamualaikum Bun.


^^^Wa'alaikumsalam sayang.Gimana kabar kamu hari ini?^^^


Bun. Nindy punya kabar bahagia buat kalian.


^^^Apa itu sayang..?^^^


Nindy hamil Bun.


^^^Benarkah itu sayang. Alhamdulillah. Ayah ayah ayah..sini deh buruan*...!^^^


Aku terkikik mendengar nada antusias ibu yang memanggil ayah mertuaku. Aku menahan tidak bisa menahan senyum bahagia ku melihat mertuaku yang ikut bahagia mendengar kehamilanku. Mereka juga akan ikut menemaniku ke dokter kandungan hari ini, dia menyalahkan mas Bagas yang memilih tetap bekerja padahal tahu kalau istrinya sedang hamil.


Aku mulai bersiap-siap untuk mengganti bajuku dengan yang lebih pantas. Aku mengenakan celana panjang longgar dan juga blouse lengan panjang dan juga pashmina senada dengan celana ku. Mertuaku sudah berpesan untuk menunggu mereka, karena mereka sudah on the way kerumah ku.


Aku membeeitahukan mas Bagas kalau aku akan ke dokter kandungan bersama ibu dan ayah,tapi belum di balas juga sampai sekarang.


Tin tin

__ADS_1


Aku mengambil tasku dan juga ponselku, aku keluar menuju pintu depan dan menguncinya. Kemudian aku menemukan ibu yang sudah tidak sabar menunggu ku, aku tersenyum melihatnya.


Greebbb


"Akhirnya sayang. Selamat yah, ibu bahagia sekali akhirnya Allah mempercayakan kalian untuk memiliki keturunan. "


"Bu udah ayo.! katanya tadi pengin buru-buru lihat calon cucu kita."


"Ish..ayah mah gitu. nggak bisa banget ngelihat ibu seneng dikit."


"Sudah Bu, bener kata ayah. Nindy juga sudah tidak sabar ingin melihat calon anak nindy Bu. hehehe ."


Akhirnya ibu menuruti keinginan aku dan ayah, dia mengandeng tanganku dan menyuruhnya untuk duduk di belakang bersamanya,sednagkan ayah yang merasa seperti sopir hanya bisa menghela nafas kesal. Aku bahagia sekali melihat keharmonisan ayah dan ibu mertuaku, tidak seperti.......


Aku menggelengkan kepalaku pelan. Aku tidak mau memikirkan hal yang membuatku bersedih. yang penting sekarang aku harus bisa menjaga pikiran ku agar tidak stres.


Sesampainya di rumah sakit aku mendaftar dahulu ke bagian pendaftaran dan mengambil nomor antrian. Aku mendapatkan nomor antrian 7, aku melihat di koridor banyak orang yang sedang ikut mengantri di poli masing-masing.


Aku melihat deretan kursi bagian poli kandungan yang sudah terisi penuh oleh ibu ibu hamil, aku jadi tidak sabar ingin merasakan nya juga.


"Sayang kamu tunggu disini yah. Yah sama ibu mau beli air minum sama makanan kecil di kantin buat menemani kita selama menunggu."


"Baik Bun, yah. Nindy tunggu disini yah."


Aku menatap kepergian mertuaku yang sedang menuju kantin, tanpa kusadari aku melihat sosok yang cukup familiar tapi aku lupa siapa. Setelah ku ingat ingat ,ternyata sosok itu adalah Ardan. Dia sekarang sedang menemani perempuan hamil atau itu istrinya aku pun tidak tahu.


Aku berpura-pura tidak melihatnya dan kembali membaca brosur yang aku ambil tadi dari tempat pendaftaran.


"Lo tunggu disini, gue mau beli minum dulu buat Lo." Aku mengernyit bingung mendengar panggilan mereka, apa tidak salah mereka memanggil pasangan mereka dengan sebutan gue lo.


Aku melirik kepergian Ardan sebentar dan beralih kembali membaca brosur tadi. Sekarang yang sedang di priksa adalah nomor antrian 2, sedangkan ayah dan ibu sudah datang dan menemaniku disini. Aku yang duduk diapit oleh kedua mertuaku, mereka ikut gugup menunggu nomor antrian ku di panggil.


Ketika aku mengangkat wajahku ternyata Ardan sedang menatapku, aku mencoba tersenyum kepadanya dan dia ikut tersenyum tipis. Aku mengalihkan pandanganku kepada ibu mertuaku yang sedang mengomel tentang mas Bagas yang tidak mau menemaniku cek kandungan.


Aku merasa Ardan memandang ku dengan intens tapi aku tetap tidak menghiraukannya, aku hanya tidak enak dengan suara mertuaku yang mengumpat anaknya dengan suara kencang. Aku hanya menggaruk belakang kepalaku tidak enak.


"Nyonya Ayunindya,silahkan masuk." Aku langsung beranjak pergi diantar oleh kedua mertuaku, aku melihat Ardan yang tersenyum menatapku, aku melengos tidak mau membalas senyumannya.


"Silahkan nyonya berbaring di tempat tidur, kami akan memeriksa perut ibu. "Aku mengikuti arahan suster dan membuka baju atasku sampai batas dada.


Akh


Aku merasa dingin di sekitar perutku karena jel yang di oleskan oleh dokter itu.


"Lihat Bu ,ini adalah calon anak ibu.Ukurannya masih sangat kecil,karena usia kandungan ibu yang baru memasuki 6 Minggu. Ibu libatkan...?"Aku melihat arahan dari dokter yang memperlihatkan gambar titik kecil yang ada di layar kecil, dokter menjelaskan semuanya dengan pelan dan jelas. Jadi aku bisa paham bagaimana kondisiku calon bayiku sekarang.


Mataku mulai berkaca-kaca melihat calon anakku yang ada di dalam kertas berupa foto yang di ambil oleh dokter. Suster membantuku bangun setelah mengelap perutku dengan tisu. Aku pergi ketempat mertuaku menunggu ku tadi, mereka menyambut antusias foto yang ku perlihatkan kepada mereka.


Setelah selesai konsultasi kami keluar untuk menebus vitamin di bagian kasir. Ketika keluar aku berpapasan dengan Ardan dan wanita yang bersamanya tadi. Ketika aku sudah berada pas dengannya, tiba-tiba Ardan menyisipkan kertas di tanganku. Aku berhenti sebentar tapi ditarik lagi oleh mertuaku,dan aku hanya mengikutinya.


Ketika sudah sampai di tempat kasir, mertuaku menyuruhku untuk duduk dan mereka yang akan mengantri untuk ku. Aku membuka kertas kecil yang diberikan oleh Ardan.


Selamat atas kehamilannya. Aku ikut senang mendengarnya, dan semoga kamu dan calon bayinya sehat juga. Jangan lupa jaga kesehatan,dan jangan terlalu banyak pikiran,biar kalian sehat semua.

__ADS_1


Tes


Tbc


__ADS_2