
Ibu nya Ardan yang bernama Tari masih syok mendengar bahwa anaknya mencintai janda yang sudah mempunyai anak. Ia langsung berteriak memanggil suaminya.
"Papa.. papa...!!" Keluarga Ardan yang kini sedang berada di ruang makan langsung terkejut mendengar teriakan ibu mereka yang cukup menggelegar. Mereka langsung berlari terbirit-birit menuju lantai atas, mereka bingung kenapa ibu mereka menjerit seperti itu. Padahal tadi ijin nya akan memanggil Ardan, mereka berfikir apa terjadi sesuatu dengan Ardan sampai membuat ibu Tari berteriak sekencang itu.
"Ada apa mah. kenapa Mama berteriak seperti itu..?" Tanya papa Ardan yang melihat keberadaan istrinya yang kini seperti kebakaran jenggot mondar-mandir tidak jelas di kamar ardan.
Ibu Tari yang melihat kedatangan keluarganya langsung mendekat kepada mereka semua. ia menyerahkan ponselnya yang masih terhubung dengan Ardan. Sementara itu mereka yang bingung dengan ibu mereka yang malah memberikan ponselnya hanya bisa diam sambil mengerutkan keningnya.
"Ini bicara pada Ardan.Tanya sama di kenapa ibu samoai seperti ini." Tari memberikan paksa ponselnya kepada suaminya, Suaminya yang bingung Akhirnya mengikuti kemauan istrinya. Diaenempelkan ponsel istrinya ke telinganya, sambil menatap istri dan anak-anaknya.
"Assalamualaikum Dan. Ada apa ini? Kenapa Mama sampai berteriak seperti itu..?" Tanya langsung sang kepala keluarga kepada anak nya.
Ardan sendiri cukup terkejut dengan reaksi mamanya . Dia sampai menjauhkan ponsel nya dari telinga, Arya yang mendengar suara teriakan orang malah langsung takut dan memeluk Andra erat erat.
"Ssshhh nggak papa sayang, nenek hanya terkejut saja tadi." Andra menenangkan Arya yang ketakutan dengan suara ibunya. Dia mengelus punggung kecil Arya.
Setelah beberapa saat ardan mendengar suara papa nya menanyakan kejadian yang sesungguhnya kepada nya. Ardan menghela nafas sambil melihat keruang IGD yang sedang menangani Nindy. Ardan masih merasa khawatir sampai mengabaikan panggilan telfon ayahnya.
"Ardan.... Dan...halo..Ardan kamu masih di sana kan..?!" Panggil papa Ardan yang bernama rafit. Ia menatap istrinya yang kini malah melengos tidak mau menatap wajah nya. Radit di buat bingung dengan kelakuan istrinya.
Ardan yang sadar karena mendengar suara papa nya langsung memanggil papa nya.
"Wa'alaikumsalam pah. Maaf tadi ardan melamun. Ardan juga tidak tahu kenapa reaksi Mama sampai seperti itu."
"Memang apa yang kamu katakan kepada Mama,sampai membuatnya marah."
"Bilang sama anak kamu itu, PULANG SEKARANG JUGA. TIDAK ADA BANTAHAN...!!" Seru Tari sambil marah-marah kepada Ardan.
"Maaf mah. Ardan belum bisa pulang sekarang,, aku nggak bisa ninggalin dia sendirian disini. Mama please ngertiin aku sekali ini saja..!" Ucap ardan sambil memohon kepada mamanya. Dia tidak bisa meninggalkan Nindy apalagi Arya dalam kondisi seperti ini. Nindy tidak mempunyai siapapun disini, tadi saya Bu Ani dan suami sudah ijo pulang karena harus mengurus rumahnya dan juga suaminya harus bekerja. Dia tidak bisa meninggalkan arya sendirian disini.
"Baik. jika kamu tidak mau menuruti permintaan Mama. Mama tidak akan memaafkan kamu Dan. " Mama tari langsung pergi meninggalkan keluarganya yang sekarang sedang menatap pertengkaran ibu dan anaknya lewat telfon.
Ara yang melihat sikap mamanya yang ganjil,kahirnya mengambil ponsel dari tangan papa nya dan membiarkan papa menyusul Mama ke lantai bawah.
"Ardan,ini kakak. coba jelaskan ada apa sebenarnya ini? Kenapa Mama bisa sampai marah seperti itu.?" Ardan yang mendengar suara Ara kakak nya, langsung menghela nafas.
__ADS_1
"Mba ara bisa ganti panggilan ini menjadi video call...?" Ara menuruti keinginan Ardan, Ara terkejut dengan Ardan yang kini sedang mendekap anak kecil di tubuhnya.
" Anak siapa itu dan? " Apa ini yang membuat Mama marah sama kamu? Apa kamu mempunyai anak sebelum menikah?" Cecar ara kepada ardan yang kini sedang berdecak sebal melihatnya.
"Pertanyaan kamu itu loh mba. Dengerin dulu penjelasan ku.Jangan asal nuduh aja.!"
"Ya udah buruan...!!"
"Hei sayang, kenalin ini kakak Om. namanya kak Ara, Arya bisa memanggil nya aunty." Ardan mengarahkan wajah Ara kepada Arya yang kini sedang menatap wajahnya bingung. Sedangkan Ara yang melihat Ardan yang begitu sayang pada anak kecil itu , langsung mengubah ekspresinya saat Arya melihat wajahnya Ara tidak mau membuat anak sekecil itu merasa terintimidasi oleh nya.
"Hai sayang. Kenalkan nama aunty Ara. Duuhhh ganteng banget sih Arya." Arya yang malu langsung menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Ardan. Ardan sendiri tidak mau memaksa Arya untuk berbicara lagi. Ardan langsung mengarahkan wajahnya ke hadapan kamera.
"Namanya arya, Mama nya kini baru saja masuk kedalam ruang IGD dan sampai sekarang aku belum tahu keadaannya."
"Ada hubungan apa kamu dengan mamanya ara? Jangan bilang kamu merebut istri orang yah Dan?! Mbak nggak suka itu.!!"
"Bukan mbak. Makanya dengerin dulu penjelasan ku."
"Ok. jelaskan sekarang juga.!!" Suruh ara kepada ardan.
"Yang mana dan, mba lupa..?"
"Hadeuh...itu loh mba. Yang ibunya ngomel-ngomel gara-gara anak lelakinya tidak mau mengantarkan istrinya priksa kandungan malah milih tetap bekerja...?" Ara mencoba menggali ingatannya waktu itu, setelah di ingat-ingat Ara menemuka bayangan seorang gadis berhijab dan cantik yang sednag diapit oleh lelaki dan perempuan yang lebih tua.
"Ahh. gadis berhijab itu maksud kamu...?" Ardan langsung mengangguk membenarkan ingatan Ara.
"Iya bener banget mba."
"Terus apa hubungannya dengan gadis itu." Tanya Ara bingung.
"Ya dia adalah Gadis itu. Gadis itu adalah nindy, Mama dari anak ini..."
"Tapi sepenglihatan mba, meetuanya sangat menyayangi menantunya itu."
"Iya, memang mertuanya itu sangat sayang banget sama Nindy. Tapi sayang suaminya telah menelantarkan istrinya sendiri demi mengejar wanita lain...!" Dengan menggebu-gebu Ardan menceritakan asal muasal pertemuan nya dengan Nindy sampai bisa seperti ini. Ara yang mendengar kisah cinta adik nya ikut kesal dengan mantan suami Nindy.
__ADS_1
"Ya udah mbak nanti akan ke rumah sakit , masalah mama biar nanti mbak Ara yang bntu jelasin."
"makasih yah mbak. Kamu memang kakak yang terbaik. !!!" Uca Ardan Sambil tersenyum lebar. Ara sendiri tidak mempermasalahkan dengan status nindy yang sudah jadi janda diusianya yang masih muda. Justru Ara sangat mendukung keputusan nindy untuk berpisah dari mantan suaminya yang brengsek itu.
Setelah berbicara dengan Ara, Ardan merasa lebih lega. Apalagi Ara sangat mendukung keputusan nya yang mendekati nindy, sedangkan masalah mamanya biar nanti saja Ardan pikirkan lebih baik sekarang ardan fokus dengan kesembuhan nindy.
Saat ardan sedang menelfon sekertaris nya Doni,, dokter yang menangani Nindy keluar dan mencari keluarga nindy. Dengan langkah percaya diri Ardan mendekati dokter itu.
"Apa bapak suami dari ibu nindy?" Tanya langsung dokter kepada Ardan. Ardan yang bingung hanya bisa mengiyakan saja.
"Benar dok. Bagaimana keadaan istri saya dok? Apa dia baik-baik saja.?"
"Tenang pak. Alhamdulillah Bu Nindy sudah lebih baik sekarang, dan Bu Nindy harus di pindahkan ke ruang rawat inap untuk menstabilkan keadaan nya. Jadi bapak bisa mengurus administrasi terlebih dahulu di bagian kasir." Dokter yang bernama Robi menjelaskan keadaan Nindy sekarang dan mengharuskan Ardan mengurus administrasi nya terlebih dahulu.
"Baik akan saya urus administrasi nya sekarang juga. " Ardan langsung menelfon Doni dan menyuruhnya untuk mengurus administrasi nindy lewat telfon.
Ardan sengaja memesan ruang VVIP untuk nindy agar nindy merasa nyaman dan juga tidak terganggu dengan pasien lain. Setelah Dono mengurus semuanya ,akhirnya nindy sudah di pindahkan ke ruang rawat inap VVIP. Nindy masih belum sadar karena dokter telah menyuntikan nindy obat tidur supaya Nindy bisa istirahat dulu.
Setelah di tunggu-tunggu Ara akhirnya datang juga dan membawa makanan bayi untuk arya,d an membawakan sarapan pagi untuk Ardan. Ara langsung mengambil alih Arya dari dalam dekapan ardan, dan menyuapi Arya. Beruntung Arya tidak menangis di gendong Ara dan malah tertawa senang karena Ara yang menyuapinya sambil mengajaknya bercanda.
Ardan sendiri langsung memakan makanan yang di bawakan Ara. Perutnya yang memang sudah terbiasa sarapan pagi , meronta-ronta meliaht makanan yang dibawakan oleh Ara.
"Mama sepertinya belum bisa menerima kalau kamu mencintai seorang janda, dan dia menginginkan kamu sendiri yang menjelaskannya dan juga menyuruh kamu untuk membawa nindy ke hadapan mereka."
"Baiklah mbak, makasih sudah mau membantu aku. dan maaf juga sepertinya aku harus merepotkan mba ara lagi,karena kata dokter Arya tidak boleh berada di sini terlalu lama."
"Baiklah tapi ini tidak gratis yah..? Kamu harus membayar mbak denagn mahal ,oke..!!"
"Ckckck sialan kamu mbak. Masa sama adiknya sendiri itung-itungan gitu sih. emang uang dari suami kamu kurang selama ini?"
"Lagi itukan beda, kalau uang dari kamu kan mbak bisa gunain buat diri mbak sendiri. Sedangkan dari suami mbak,itu buat kebutuhan keluarga mbak dong."
Perdebatan antara Ardan dan Ara masih berlanjut dan berkahir sampai ara membawa pulang arya kerumah nya,bukan kerumah orang tua mereka. Sementara arda memilih menunggu nindy disini. Dia sudah menyuruh Doni untuk membawakan pekerjaannya ke sini agar dia bisa tetap menghandelnya.
Tbc
__ADS_1