
"Sayang.... Mas besok bisa minta tolong tidak sama kamu..?"
"minta tolong apa mas...?"
"Besok jam 4 sore , mas minta tolong buat kamu berkunjung ke cafe, soalnya ada sesuatu hal yang tidak bisa di wakilkan oleh pegawai mas yang disana."
"Kalau boleh tahu itu apa mas..?"
"Besok ada tamu penting yang akan membahas masalah lahan yang akan mas beli. Jadi mas bisa minta tolong kan sama kamu sayang?"
"ehmm...insya Allah mas. Nindy bisa. Mas tinggal beri tahu nindy harus berbuat apa kepada tamu mas."
"Cukup temani mereka sampai mas datang ke cafe. Dan kamu juga bisa membawa mereka untuk berkeliling di sekitar cafe. Nanti mas akan memberi tahu para pegawai atas kedatangan mereka."
"Iya mas bisa kok. Ehmm tapi nanti nindy boleh nggak ketemuan sama nayla di cafe..?"
"kenapa nggak boleh..? Ya boleh lah sayang, mas nggak akan melarang kamu untuk bertemu dengan teman-teman kamu. Yang penting ingat waktu yah sayang. "
"ehmm makasih yah mas. Nindy akan ingat setiap langkahku ada nama suamiku yang harus aku jaga kehormatannya."
"Masya Allah, mas jadi tambah cinta sama kamu sayang. Ya udah lebih baik sekarang kita tidur supaya badan Kita segar lagi. oke sayang..?!"
Aku langsung menyusupkan kepalaku ke pelukan mas Bagas. Sekarang kami sudah berada di rumah dan akan tidur. Kami memutuskan untuk tidak menginap dirumah ayah dan ibu, karena mas bagas besok harus kerja.
Sebenarnya aku cukup tidak nyaman dengan keadaan seperti ini, karena perutku rasanya seperti ada yang mencengkeramnya dengan erat.
Setelah menunggu beberapa menit,akhirnya aku mulai mendengar deru nafas mas Bagas yang teratur, itu menandakan kalau mas Bagas benar-benar sudah terlelap dalam tidurnya.
Aku mencoba melepaskan pelukannya dengan pelan,dan beranjak untuk ke kamar mandi. Aku duduk di atas kloset sambil memegang perutku dengan kencang.
"Kenapa perutku sakit sekali, perasaan aku belum pernah merasakan sakit seperti ini. Aaahh......" Aku mencoba beranjak keluar kamar mandi dan memutuskan untuk menuju lantai bawah. Ku langkahkan kaki menuju dapur, aku mengambil panci kecil untuk merebus air.
Setelah mendidih aku menuangkan nya ke dalam botol minum kaca untuk dibalurkan ke perutku yang sakit. Aku berjalan tertatih-tatih sambil membawa botol air yang tadi aku isi dengan air panas.
Aku mengistirahatkan tubuhku di sofa panjang yang ada di depan ruang tv. Jam menunjukkan pukul 11 malam, dan kakiku tidak kuat untuk berjalan lagi untuk menaiki tangga. Jadi aku memutuskan untuk tiduran disini saja. Sambil membalurkan botol di atas perutku yang sudah di lapisi handuk kecil yang aku ambil di kitchen tadi.
" Haahh...lumayan juga ini. Sepertinya aku tidur disini saja lah,biar besok pagi aku akan naik ke atas untuk membangunkan mas Bagas . Capek kaki ini bila harus bolak-balik.
Aku mendekap botol air panas yang dilapisi handuk kecil dan menempelkannya di area perutku. Aku mencoba memejamkan mata siapa tahu aku bisa tidur, tapi yang ada ini malah semakin terasa sakitnya.
Aku sudah mengganti posisiku beberapa kali, dan ini sangat tidak nyaman. Aku merintih kesakitan merasakan betapa perihnya perutku sekarang. Sampai aku tidak sadar wajahku sudah berlinang air mata.
Aku terus berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT atas nikmat sakit yang Allah berikan kepada hamba-nya ini. Aku meminta ampunan dari Allah SWT atas dosa-dosa ku yang begitu banyak.
"sayang...sayang... kamu dimana?"
__ADS_1
Aku mendengar derap langkah kaki suamiku yang turun dari tangga. Aku mendongakkan kepala mencari keberadaan suamiku.
"Mas...." ucapku pelan sambil menahan tangis.
Mas Bagas yang sudah berada di ujung tangga mulai mencari keberadaan ku yang sedang meringkuk di sofa tanpa lampu yang aku nyalakan.
Tek
Aku memejamkan mata karena tiba-tiba ada sinar lampu yang menyala di atas kepalaku.
"Sayang..kamu ngapain malah tidur disitu..? Mas Ki...Loh kamu kenapa sayang? Kenapa kamu nangis?"
Aku membuka mata dan menemukan sosok lelaki yang sedang khawatir menatap wajah ku. Dia mengusap lembut air mata yang menetes di wajahku, raut khawatir terpancar dari wajahnya melihat keadaan ku yang seperti ini.
Dia mengangkat kepalaku dan direbahkan nya di atas pahanya, dia langsung mencoba dengan sabar menunggu jawaban dariku yang sedang merintih kesakitan.
"Kamu kenapa sayang? tolong bilang sama mas, mana yang sakit? dan mas harus gimana untuk membantu meredakan rasa sakit nya? Nin....kamu dengarkan apa yang mas bilang? Please nin...!!! Tolong jawab pertanyaan mas! mas harus gimana? Mas benar-benar khawatir sama kamu sayang..?"
Aku yang mulai pusing dengan pertanyaan mas Bagas yang bertubi-tubi , akhirnya menyerah dan mengambil tangannya untuk ku tarik menuju perutku. Aku meminta nya untuk mengusap perutku dengan Tempo yang teratur.
Mas Bagas langsung menuruti keinginanku, dia mengusapnya dengan lembut. Setelah dirasa tidak terlalu sakit seperti tadi. Aku mencoba menatap wajah nya yang sudah ikut basah karena air mata. Aku yang baru sadar langsung mencoba bangun dari pangkuannya, tak kupedulikan botol air yang melorot jatuh kebawah. Yang aku pedulikan adalah suamiku sekarang, aku hapus air mata yang menetes di pipinya yang basah.
"Mas kenapa menangis?" ucapku pelan sambil menahan tangis.
Mas Bagas memeluk erat tubuhku sambil menangis terisak. Aku tidak tahu kalau mas Bagas akan sesedih ini karena aku tidak memberitahu aku yang sedang kesakitan. Aku mengusap punggungnya yang lebar dengan sayang.
"Maaf mas...Aku hanya takut mengganggu istirahat kamu mas. Mas kan besok harus kerja jadi butuh isti..." Belum selesai aku meneruskan penjelasannya, mas Bagas tiba-tiba memotong ucapanku.
"Mas nggak butuh istirahat.!!! Yang mas butuhkan itu kamu...sayang...! bukan yang lain. Bila terjadi apa-apa sama kamu, mas nggak bisa memaafkan diri mas sendiri."
cup
Ku cium bibir mas Bagas untuk menenangkannya. Aku tahu mungkin mas Bagas sedang kalut dan merasa bersalah karena membiarkan ku sendirian merasakan kesakitan.
"Mas..!!! Nindy tidak apa-apa. Nindy hanya merasa sakit saja di perut nindy. Jadi mas nggak perlu khawatir sepeti itu, sebentar lagi juga sembuh. Jadi mas nggak usah nyalahin diri mas sendiri ,oke.!!"
Aku menangkup wajah suamiku agar mau menatap mataku, dia masih dengan wajah khawatir nya menatapku. Aku mengusap rambutnya yang berantakan karena baru bangun tidur, aku rapihkan supaya terlihat lebih rapih.
Entah kenapa melihat wajah suamiku yang seperti ini,jadi membuat perutku yang tadinya sakit sekali menjadi agak baikan. Aku mencoba tersenyum untuk menenangkannya.
"Lihat mas...!! Aku sudah baikan. Aku sudah bisa tersenyum berarti aku sudah tidak kesakitan lagi."
"Bohong..!!" Aku melunturkan senyum ku mendengar jawaban mas Bagas. Memang susah di bohongin ini suamiku. Akhirnya aku memutuskan untuk memintanya menuntunku kembali ke atas.
"Ya udah kalau mas nggak percaya, lebih baik sekarang kita kembali ke kamar. Karena ini masih malam dan mas juga butuh isti...!"
__ADS_1
"Sudah mas bilang..!!! Yang mas butuhin sekarang itu mas pengin kamu sembuh dan tidak kesakitan lagi.Mas nggak mau tidur..!! Biarin..mas nggak mau kerja kalau kamu belum sembuh."
Ealah mas bojo malah ngambek. piye Iki?
"Ya sudah kalau gitu mas sekarang gendong nindy sampai kamar,nindy pengin tidur di pelukan mas bagas!"
"Oke. Mas akan melakukan apapun demi kamu, mau sampai kutub Utara pun mas sanggup menggendong mu.." Aku terkekeh geli mendengar gombalan mas Bagas. Mas Bagas yang sudah bersiap menggendong ku ala bridal style sengaja aku tahan dulu. Aku mengambil botol air tadi yang jatuh kelantai bersama handuk kecil, dan berniat mengisinya kembali.
"Kamu mau kemana sayang..??" Cegat mas Bagas sambil menarik lenganku.
"Ini mas.. nindy mau merebus air dulu terus di taruh di dalam botol buat di balurin ke perut dan punggung aku mas. sebentar yah mas."
sreettt
"Duduk..!! sini mas saja yang melakukannya."
Aku duduk kembali di sofa dan menyandarkan tubuhku disana, masih jelas terasa perutku yang masih sakit. Aku menatap punggung mas Bagas yang sedang memasak air.
sshhhh
Aku meringis menahan perih diperut,aku mencoba menekah perutku untuk mencegah rasa sakit ku. Tapi agak berhasil yang ada malah tambah sakit.
greebbb
Tiba-tiba tubuhku terasa melayang dan ternyata pelakunya adalah suamiku yang menggendong ku, aku mengalungkan tanganku ke lehernya dan merebahkan kepalaku ke dada bidangnya.
"Maaf yah mas..sudah merepotkan kamu seperti ini." Ucapku sambil mengeratkan pegangan ku di lehernya karena mas Bagas sedang menaiki anak tangga menuju lantai atas kamar kami.
"Jangan seperti itu sayang. Kamu tidak pernah merepotkan mas sama sekali. Justru mas malah yang harusnya min..."
"Udah stop mas. lebih baik kita saling memaafkan saja. " Potong ku karena masalah ini nggak akan kelar sampai besok bila kami menyalahkan diri masing-masing.
ceklek
"kamu tunggu disini dulu yah. Mas mau ambil botol air yang tadi di dapur, kamu jangan kemana-mana,oke!"
"Hmmm.." Aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Aku merebahkan kepalaku di atas bantal yang nyaman ini. Setelah beberapa saat mas Bagas sudah datang lagi sambil membawakan botol dan handuk yang tadi. Dia menaruhnya di depan perutku dan dia juga merebahkan tubuhnya di samping ku,dan menarik tubuhku untuk lebih dekat dengannya.
Aku merilekskan tubuh ku dan mencoba berdamai dengan rasa sakit ini. semoga dengan mas Bagas yang ada di sampingku bisa membuatnya pergi menjauh.
Tbc
terimakasih buat para pembaca ceritaku. dan jangan lupa like dan dukungannya yah. karena like kalian bisa membuatku lebih semangat lagi untuk menulis.
terimakasih 😉😍😘😘
__ADS_1