
Author POV
Setelah mengantri mengambil vitamin,nindy dan mertuanya bergegas untuk pulang ke rumah mertuanya.
Bruk
greebbb
"Kamu tidak apa-apa?"
"Akh.... saya tidak apa-apa. terima kasih."
"Makasih yah tuan sudah menolong menantu saya, Untung ada tuan jadi menantu saya tidak jadi jatuh. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih tuan. " Ardan membantu Nindy yang hampir tergelincir karena lantai yang mereka lewati ternyata masih bahas. Ardan melepaskan tangannya yang berada di pinggang nindy.
Nindy merasa canggung dan menjadi salah tingkah, bukan karena suka tapi malu karena ada mertuanya di depannya. Nindy membetulkan letak pashmina yang nindy anggap kurang pas ,padahal kerudungnya baik baik saja.
Ardan tersenyum kepada mertua nindy dan menatap wajah nindy yang sedang berpura-pura tidak melihatnya, kemudian Ardan ijin pergi untuk meninggalkan mereka untuk menemui kakaknya yang sedang menunggunya di tempat kasir
"Lain kali hati-hati yah dy,ingat kamu sedang hamil." Nindy melihat kepergian Ardan dengan perasaan yang tidak tenang. Kenapa harus peduli padanya, seharusnya Ardan tidak memperdulikan nya.
"Kamu tidak apa-apa sayang? Kamu pasti kaget yah tadi? Lain kali hati-hati yah sayang." ayah dan ibu mertua nindy membawa pergi menantunya yang sepertinya masih shock dengan kejadian tadi.
Sementara di belakang mereka Ardan sedang memperhatikan sikap mertua nindy yang sangat peduli kepada menantunya.
"Apa Allah sedang mempermainkan hati ku lagi? disaat aku sudah bisa melupakan mu, kenapa kita harus dipertemukan kembali. Tadinya aku berfikir kamu dan dia sudah bahagia,,, tapi sepertinya tebakanku salah. Dia masih memperlakukan kamu dengan tidak baik dy. Tapi aku juga tidak boleh mencampuri urusan mereka karena aku bukan siapa-siapa kamu. Semoga kau dan calon bayimu sehat yah dy. Dan sampai jumpa lagi."
Ardan bermonolog sendiri tanpa peduli orang disekitarnya menatap nya aneh,ardan tak peduli. Setelah melihat sosok nindy yang sudah tak terlihat karena dinding menutupi kemana tujuan mereka pergi, Ardan kembali mencari sosok kakaknya yang ternyata sudah selesai dan sekarang sedang berjalan mendekatinya
__ADS_1
" Kakak cariin ternyata lo malah ada disini. Ayo buruan anterin kakak pulang. kasihan ponakan kamu dirumah sendirian."
"Ckckck yang hamilin siapa yang ribet siapa..? Lagian bilang sama suami lo..lain kali kalau memang nggak bisa nganterin lo priksa kandungan sebaiknya jangan bikin anak lagi."
Pletak
Akhhhhh
"Sakit tau kak." Ardan mengusap usap kepalanya yang menjadi korban pukulan dari kakaknya.
"Makanya nikah kalau emang nggak mau di gangguin sama gue...!! Jomblo aja sombong lo..!!"
"Jodoh gue masih sama orang. Nanti juga kalau sudah waktunya juga bakalan Dateng sendiri."
plakk
"Ish kakak apa-apaan sih. mukulin terus, nanti gue tinggal pergi baru tahu ras."
"Terserah lo mau ngomong apa? Buruan kerjaan gue banyak nih." Ardan meanrik tangan kakaknya pelan supaya tidak terpeleset di lantai yang licin. Mereka pergi ke tempat parkir dan kemudian Ardan mengendarai mobil nya keluar dari area rumah sakit.
Di tempat lain ada bagas dan Siska yang sedang makan siang di kantin. mereka saling bersenda gurau tanpa peduli dengan sekitar nya. Bagas tidak membawa ponsel nya karena sengaja di taruh di loker jadi dia tidak tahu kalau istrinya dan orang tuanya menghubunginya.
"gas nanti pulang kerja temenin gue ke mall yah? Geu mau beli baju buat acara kondangan Tomi. Lo masih inget kan sama dia?"
"Iya tenang aja. Lagian siapa yang nggak inget sama si tomi, dia kan anaknya pecicilan banget dari dulu."
"Iya bener banget. gue aja masih nggak percaya bocah kayak dia dapat cewek yang pendiam dan juga cantik. Kalau jodoh emang nggak bisa di tebak yah gas. hahahaha.."
__ADS_1
Orang-orang di sekitar mereka mulai merasa risih dengan kedemereka. Apa lagi temen kerja nindy dulu, mereka sudah ilfill melihat Bagas dan Siska yang sedang ketawa-ketiwi nggak jelas.
Dinda yang sudah kadung benci sama kelakuan bagas, apalagi semenjak menikah nindy tidak boleh bertemu dengan teman-teman nya lagi. Bagas sudah memblokir nomor mereka semua ada di ponsel nindy, kenapa dia bisa tahu. Ya karena dia mendengarnya langsung dari orangnya,alias nindy.
Mereka tidak sengaja bertemu beberapa bulan yang lalu ketika mereka sedang berbelanja di sebuah supermarket, dan ketika itu nindy yang mendatangi nya. Karena keterbatasan waktu nindy berbicara sebentar padanya dan meminta maaf padanya.
Yang Dinda lihat kini Nindy sudah tidak seceria seperti dulu lagi ,padahal dia dulu orangnya tahu sendiri walaupun tidak secerewet yang lain... tapi dia akan menjadi teman yang baik untuk diajak bercerita. Dinda curiga nindy Selama ini tidak bahagia menikah dengan Bagas. Kalau itu yang terjadi,dia sangat menyesal karena telah mendukungnya dulu.
****
Keesokan harinya nindy mengalami morning sicknes, badannya terasa lemas sekali setelah memuntahkan semua isi perutnya, padahal yang keluar hanya cairan kuning saja yang rasanya sangat tidak enak.
Bagas yang melihat Nindy muntah muntah tidak peduli dan tetap melanjutkan tidurnya yang terganggu karena suara nindy.
Nindy beranjak keluar dari kamar mandi untuk ke luar kamar menuju lantai satu, dia juga tidak berniat membangunkan suaminya karena sepertinya dia tidak perduli padanya.
glek glek glek
tak
"Hah..hah...hah... Alhamdulillah."
Nindy mengusap bibirnya yang basah setelah minum air hangat. Dia duduk di sofa dan menatap ke depan sambil melamun. Tiba-tiba dia jadi teringat dengan kedua orang tuanya, sudah setahun dia tidak pulang ke rumahnya karena Bagas tidak memperbolehkannya pergi ke manapun.
"Ayah,,, ibu,,, selamat yah kalian akan menjadi Kakek dan nenek. hiks....Maaf nindy belum bisa menengok kalian disana...Nanti kalau ada waktu nindy usahain buat mengunjungi makam ayah dan ibu. Hiks Doakan nindy supaya nindy bisa melalui cobaan ini dengan baik. Jangan menyalahkan siapapun, mungkin ini memang salah nindy. Hiks...Ibu... Nindy kangen sama kalian..Nindy kangen pelukan ibu...hiks nindy juga kangen sama ayah....Bagaimana bisa kalian meninggalkan ku sendirian disini. Sementara orang yang tadinya nindy percayai ternyata malah sudah berbalik tidak perduli lagi denganku.. Nindy juga lelah Bu kalau harus berdiri sendirian tanpa ada yang menopang nindy. hiks....."
Nindy menangis sendirian di gelapnya ruangan, dia sengaja tidak menyalakan lampu karena tidak mau Bagas melihatnya seperti ini. Padahal dia kira setelah kehamilannya Bagas akan berubah menyayanginya lagi, tapi ternyata itu tidak berpengaruh sama sekali. justru sekarang mas Bagas makin tidak memperdulikan nya.
__ADS_1
"Sabar yah sayang...suatu saat nanti ayah kamu pasti akan sadar dan mencintai kita lagi. Maafkan suami hamba Ya Allah."
tbc