
Setelah kejadian tadi..mas Bagas mengajakku untuk berkeliling di tepi Marina Bay yaitu Gardens By The Bay. Jadi karena mas Bagas tahu kalau aku suka dengan alam makanya dia mengajakku kesini. Karena katanya Gardens By The Bay adalah surganya bagi pecinta alam dan juga para pecinta hortikultura.
GBTB mempunyai 3 area khusus dengan luas lebih dari 101 hektar. Bay South Garden, Bay East Garden, dan Bay Central Garden.
Setelah membeli tiket , kami masuk kedalamnya dan ketika pertama kali melihatnya aku langsung berdecak kagum melihat keindahan alam yang di buat ini.
"Masya Allah mas...ini keren banget mas. Mas makasih yah kamu sudah mau mengajakku kesini, Sumpah mas ini indah sekali. Mas kok tahu sih ada tempat seindah ini disini...?"
Aku yang masih terpesona dengan keindahannya sampai tidak sadar telah melangkah menuju sebuah Area yang menaungi berbagai macam tumbuhan dan bunga dari berbagai benua.
Ada pepohonan Zaitun yang sepertinya sudah berusia lama hingga bunga Magnolia dan juga bunga Anggrek pun ada disini. Aku yang memang sangat menyukai bunga Anggrek langsung mendekati nya dan aku benar-benar menyukai ini.
Aku mencari-cari keberadaan mas Bagas yang sedang sibuk dengan ponselnya,aku hanya menghela nafas melihat kesibukan mas Bagas. Akhirnya aku memilih berkeliling sendiri dan menikmati keindahan nya dengan berjalan menyusuri setiap areanya.
Tak berhenti aku berdecak kagum dengan keindahannya. Sampai aku melihat sebuah Area yang seperti dari kisah dongeng, dengan lantai Hanging Garden of babylon dengan area hijau , pahatan kayu apung yang semakin membuat dramatis dan juga karya seni floranya.
Saking sibuknya dengan imajinasi ku sendiri aku sampai tidak melihat sekitar.
Bruk
Aahhh
Aku jatuh terduduk setelah menabrak salah satu pengunjung disini. Aku meringis sambil mengusap pant*tku yang sakit. Ketika aku akan bangun ada sebuah tangan yang menjulur di depan wajahku, aku mendongak dan melihat sosok seorang pria tampan yang menggunakan setelan jas lengkap.
"Are you oke..?"
"I'm oke. No problem sir.!" Aku menolak bantuan dari lelaki itu dan mencoba bangun sendiri. Aku menepuk celana kulotku untuk membersihkan nya dari debu, aku berniat pergi tapi di cegah oleh sebuah tangan yang menarik tanganku.
Sreettt
Aku melepaskan tangan nya yang dengan berani memegang tanganku. Aku pikir Sepertinya dia adalah orang penting disini karena banyak orang yang berdiri dibelakangnya sekarang, dari Jasnya saja sudah terlihat itu sangat mahal. Di dukung wajahnya yang tampan dan pembawaan nya yang cool sudah jelas dia adalah pemimpin dari mereka. Aku menatapnya sebentar dan mengerutkan keningku.
"Apa ada yang bisa saya bantu tuan...?" Aku bertanya dengan bahas Indonesia, karena aku memang tidak bisa berbahasa asing. Dan dia tersenyum manis menanggapinya, melihat senyumnya aku jadi ingat dengan mas bagas. Aku melihat jam tangan ku dan melihat sekitar siapa tahu mas Bagas sudah mencariku, tapi sepertinya dia masih sibuk dengan ponselnya.
"Kamu orang Indonesia? Hai...kenalkan nama saya adalah Ardan. Kalau boleh tahu nama Anda siapa..?"
"Ya saya orang Indonesia. Nama saya Nindy. "
"Nama yang cantik seperti orang nya." Aku mendengus pelan, sudah sering aku mendengarnya. Dan sepertinya memang tidak ada yang penting, aku berniat untuk pergi dan tidak mau terjebak diantara orang-orang berduit ini.
"Terima kasih. Kalau memang tidak ada yang penting, saya permisi dulu. Assalamu'alaikum."
Aku tak menggubris panggilan darinya,yang terpenting sekarang aku harus mencari keberadaan suamiku. Ini tidak baik untuk ku, karena tidak seharusnya aku pergi meninggalkan suamiku sendirian.
Aku melihat suamiku yang sedang memunggungiku sambil menelfon, aku berniat mengejutkannya dengan cara menepuk pundaknya tapi...
"Aku lagi di Singapura, jadi nggak bisa bantu kamu. Lagian kamu kan bisa minta tolong sama yang lain. nggak harus sama aku juga."
__ADS_1
Aku mendengarkan percakapan suamiku dengan entah siapa aku pun tak tahu. Aku berdiri di belakangnya sambil menunggu nya selesai.
"Ckckck, please...nggak usah jadiin alasan itu buat ngancem aku. nggak bakalan berhasil, udah lebih baik kamu minta tolong yang lain. Aku lagi sibuk sekarang."
Aku masih diam di belakang punggung suamiku, dia masih tidak sadar keberadaan ku.
"ckckck,menyusahkan saja." Aku yang baru kali ini melihat emosi dari seorang Bagas Suseno sampai terkejut. Ketika mas Bagas berbalik dan melihat keberadaan ku,dia langsung terkejut sambil mengusap dadanya.
"Astaghfirullah sayang..Kamu kok nggak bilang-bilang sih kalau ada di situ. Bikin mas kaget saja kamu sayang."
Aku tersenyum tipis melihat nya, Dia langsung memelukku sambil mengusap punggungku dengan sayang.
"Maaf yah tadi mas ada telfon dari temen mas,jadi lupa kalau lagi pergi sama kamu sayang maaf yah...?!" Aku membiarkan mas Bagas menggandeng tanganku tanpa mau bertanya siapa temannya itu.
"Nggak apa-apa mas."
"Kamu dari mana tadi,mas sampai lupa tadi mau nyusul kamu malah nggak keburu jadi mas nunggu disini."
Aku hanya melipat bibirku sambil mengangguk-angguk.
"Oohh. Tadi aku hanya pergi melihat lihat area sekitar mas."
"Ya udah sekarang waktunya kita berkeliling bersama. Mas mau ngajak kamu buat melihat air terjun buatan disini,kamu pasti akan suka sayang."
"Benarkah itu mas...?" Aku yang antusias mendengar ada air terjun disini langsung menatap mas Bagas, dia yang melihatku begitu bahagia sampai ikut tersenyum sambil mengangguk kan kepala tanda dia tidak membohongi ku.
"Asyik...Ayo buruan mas. Nindy sudah tidak sabar ingin melihat nya langsung." Senyum tak lepas dari bibirku karena aku sudah tidak sabar melihat air terjun disini.
Cup
Mas Bagas mencium pipiku karena melihat tingkah ku yang katanya menggemaskan dan aku hanya tersenyum lebar menanggapinya. Dia memelukku erat sambil memberi tahu apa saja yang ada disini.
Ketika sampai di sebuah Area hijau yang seperti membentuk sebuah gunung tinggi dan udaranya juga sejuk seperti di gunung sebenarnya. Aku makin mendekatkan diriku pada tubuh mas Bagas dan dia semakin mengeratkan pelukannya.
Kami mengelilingi area hijau ini dan ketika sampai di sebuah jembatan aku bertemu dengan orang yang tadi bertabrakan dengan ku, aku menganggukan kepalaku sebagai sopan santun tanpa memperdulikan lelaki itu yang shock melihat aku dengan suamiku. Lagian buat apa aku memperdulikan nya. Sekaya apapun orang itu,aku tidak perduli karena aku sudah mempunyai suami yang Sholeh di sisiku sekarang.
"Nindy...!" Ketika baru beberapa langkah tiba-tiba lelaki yang di ketahui bernama Ardan tadi memanggil namaku,dan itu membuat mas Bagas yang berada di sampingku berhenti berjalan dan menatapnya bingung. Aku yang sedang berada di rangkulan suamiku otomatis ikut berhenti berjalan. Maa Bagas menatap ku bingung dan aku menjawabnya dengan mengedikan bahu ku tanda tidak tahu. Setelah melihat aku dan mas Bagas berhenti Ardan berjalan mendekati kami dan berhenti di depanku persis.
"Maaf Anda siapa?" Suara mas Bagas penasaran dengan siapa lelaki yang berdiri di hadapanku.
"Kenalkan nama saya Ardan. " mereka saling menautkan tangan mereka dan melepaskan nya kemudian.
"Ada apa memanggil nama istri saya tuan..?" Aku melihat keterkejutan di wajah lelaki yang berada di hadapanku, dia menatap mas bagas sebentar kemudian menatapku lagi. Di tersenyum tipis tapi yang terlihat malah seperti ringisan kecil.
"Tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin menanyakan apakah dia baik-baik saja..?" Mas Bagas tiba-tiba mengeratkan pelukannya pada pinggangku dan itu cukup menyakitkan membuatku meringis kecil.
Aaahh
__ADS_1
Sepertinya Ardan mendengar ringisan ku dan dia langsung menanyakan keadaanku yang makin membuat mas Bagas cemburu di buatnya.
"Maksud Anda apa menanyakan keadaan istri saya..? Ada hubungan apa sama Anda?" Aku yang tidak mau membuat keributan disini ,akhirnya menengahi mereka.
"Mas...lebih baik kita pergi dari sini. Katanya mas mau ngajak nindy buat berkeliling di sini. Ayo mas." Aku mencoba menarik tubuh mas Bagas untuk pergi dari sini,tapi sepertinya mas Bagas enggan melakukan nya dan malah memintaku untuk berdiam diri di sisinya.
Haahhhh
Sepertinya mas Bagas benar-benar curiga dengan Ardan.
"Kenapa Anda menyakiti istri Anda sendiri. Kalau Anda memang suaminya kenapa Anda harus berbuat seperti itu. Dan saya dan istri Anda tadi hanya tidak sengaja bertabrakan dan membuatnya jatuh terduduk tadi. Dan saya lihat tadi Anda tidak bersama istri Anda. Seharusnya jika memang Anda suami yang baik,anda tidak membiarkannya berjalan sendirian di tempat seramai ini."
"Apa benar itu sayang...?"
"Iya mas. tadi waktu nindy jalan dan nggak sengaja menabrak pak Ardan.Tapi setelah itu nindy langsung pergi kok mas buat nyari mas Bagas." Aku menjelaskan yang sesungguhnya agar tidak ada kesalahpahaman diantara aku dan mas Bagas.
"Ok mas bisa terima alasan kamu sayang. Dan untuk Anda terima kasih karena sudah perduli dengan istri saya. Tapi lain kali saya berharap Anda tidak perlu mencampuri urusan keluarga saya. Permisi.!!!" Mas Bagas menarik tanganku dan membawa pergi meninggalkan tempat ini. Dia membawaku menuju pintu keluar dengan terburu-buru.
Aku meringis kecil karena tubuhku masih kurang fit gara-gara kegiatan kami semalam,tapi sepertinya mas Bagas tidak memperdulikan nya. Dia tetap memaksaku untuk mengikutinya. Setelah sampai di luar aku melepas paksa tanganku yang berada di genggamannya.
Aku melihat Jari tanganku yang memerah karena remasan tangan mas Bagas. Aku memasukkan tanganku ke dalan saku blazer ku dan menatap mas Bagas yang sedang menatapku marah. Aku mengerutkan keningku bingung.
"Kenapa kamu membiarkan lelaki lain menyentuh dirimu nin. Mas kan sudah pernah bilang , mas nggak suka kalau ada lelaki lain yang menyentuh tubuh kamu. Apa kamu lupa Haahhh...!!"
Aku terkejut mendengar suamiku yang membentakku. Aku lihat ke samping dan membuang nafas ku dengan keras, sepertinya aku harus menghadapi kecemburuan suamiku lagi. Dan ini cukup membutuhkan tenaga dan kesabaran yang lebih. Aku melihat wajah mas Bagas yang masih di selimuti emosi.
Aku mengeluarkan telapak tanganku yang masih memerah dan memperlihatkan nya kehadapan mas Bagas.
Dia melihatnya sebentar dan kembali menatap wajahku marah,dia tidak mau memperdulikan nya. Aku mencoba menekan emosiku dan berharap ini bisa berhasil.
"Kita ke hotel saja mas,aku mau istirahat. Aku masih lelah mas." Aku mencoba meraih tangannya dan dia menepisnya dengan kasar.
Astaghfirullah hal'adzim
Aku beristighfar menyebut nama Allah untuk meminta maaf atas kesalahan suamiku yang telah berbuat kasar padaku. Aku tidak menyangka seorang Bagas Suseno, akan berbuat seperti ini karena rasa cemburunya.
"Baik. Sepertinya mas perlu mendinginkan pikiran mas dahulu. Nanti setelah sudah dingin, mas bisa menghubungiku. Aku pergi dulu mas.. Assalamualaikum."
Aku mencium tangan mas Bagas dan mengambil tasku yang berada di tangannya. Dan dia hanya diam saja tanpa mau memperdulikan ku.
Aku berjalan mengikuti kata hatiku, entah kemana aku pun tidak tahu. Yang aku butuhkan sekarang adalah udara segar untuk bisa memenangkan hatiku yang sedang sedih.
Tes
Aku mengusap wajahku dengan punggung tanganku, aku tidak memperdulikan orang orang yang melihatku kasihan. Aku tetap berjalan ke depan mencari tempat yang sepi agar aku bisa menenangkan diri.
Maafkanlah suami hamba Ya Allah. Hamba yang salah karena telah membuat suami hamba menjadi marah karena tidak bisa menjaga diri hamba Ya Allah.
__ADS_1
Tbc