
dua bulan berlalu, tak ada lagi yang mengusik ketenangan ata, ia pun bekerja di kantor begitu leluasa meninggal kan Yuna tanpa memikir kan apa yang akan terjadi nanti nya
'' bisa-bisa nya ini lupa.. gimana sih mas ata ini..'' ujar Yuna berjalan ke luar dari rumah megah yang di bangun ata untuk diri nya
satu Minggu setelah ata mengusir dan menjeblos kan kaila ke kantor polisi, ata pun memboyong Yuna dan Davina untuk tinggal di rumah mereka
namun semua suasana di rubah oleh ata, dari dekor, plapon dan juga cat tembok pun di rubah oleh ata, tidak ada satu pun yang terlewat kan
walau pun ata harus merogoh kocek yang lumayan banyak, namun untuk menyenangkan hati sang istri dan anak, ata rela akan hal itu
'' ma... Davina ada di dalam..'' ujar Yuna berjalan sambil memegangi rantang berisi kan bekal ata
karena hari ini ata lupa membawa nya, dan Yuna baru menemukan nya tertinggal di atas meja dapur, entah apa yang membuat ata melupakan hal itu, namun Yuna wajib mengantar kan nya
'' Davina...? loh.. bukan nya ada sama kamu..'' saut leana. dari ruang tamu
leana yang mendengar hal itu pun menjadi tidak tenang, ia bergegas keluar dari dalam rumah menghampiri Yuna yang berjalan masuk
'' tadi kata nya mau ke tempat Oma, jadi Yuna iyain aja, karena Yuna lagi sibuk di dapur ma..'' ujar Yuna menjelas kan kepada leana
'' kamu ini, bukan di antar kan kemari anak nya, malah di biarin gitu aja,..'' ungkap leana sedikit kesal
''' apa di butik ya.. ma..'' ujar Yuna
'' ayo.. coba cari kesana..'' ucap leana berjalan mendahului yuna
mereka berdua pun dengan panik berjalan ke arah butik, berharap ada Davina di sana, biasa nya Davina jika di lepas liar kan, makan tujuan nya adalah butik dan mengacak seisi butik,
'' elang... elang..'' panggil leana cepat sedang Yuna masih mengatur nafas nya yang ngos-ngosan
'' iya ma... ada apa .'' saut elang berlari ke depan ketika mendengar suara leana
'' huuh... kamu lihat Davina tidak..'' ujar Yuna sambil mengatur nafas dalam
'' oh.. Davina,, ada di dalam, seperti biasa nya..'' ujar elang santai membuat Yuna dan leana menghela nafas dalam
__ADS_1
'' Alhamdulillahi robbal Allamin..'' ujar Yuna dan leana secara bersamaan
'' tadi saya menemukan nya di pertiga jalan Sana, untung saja Ditra mengenali mengenali Davina dengan bagus, kalau tidak, entah lah..'' ujar elang geleng kepala
'' apa.. kamu menemukan nya di pertigaan jalan sana,, ya..ampun Davina..'' ujar Yuna shok mendengar apa yang di ucap kan oleh elang,
ia terlalu ceroboh untuk hal dalam menjaga anak, Yuna yang awal. nya ingin mengantar kan rantang makanan ata ke kantor
jadi mengurung kan niat nya, Karen tak sanggup jika ia harus pergi ke kantor dalam ke adaan lemas seperti ini
'' yuna... kau tidak apa nak..'' ucap leana yang melihat wajah pucat Yuna
'' lemas ma..'' saut Yuna
'' aduh elang,, coba bantu pindah kan Yuna lebih dulu..'' ujar leana yang panik melihat ke adaan Yuna
'' buk bos,, ibu tak apa..'' tanya elang mendekat ke arah Yuna yang terduduk di lantai,
kaki Yuna begitu lemas, ia terlalu shok mendengar hal itu, ia takut kejadian beberapa tahun silam terulang kembali
di mana anak Yudis hilang dari pandangan mata, hanya dalam hitungan detik saja, bagai mana jika hal itu terulang kembali, bagai mana nanti nasib Davina kecil nya
'' iya ma,, masih bingung mau ngangkat nya harus gimana dulu..'' ujar elang mencari posisi yang anak untuk diri dmnys dan begitu juga dengan Yuna
'' saya masih bisa berjalan elang, kamu hanya bantu saja saya berdiri, agar saya bisa berjalan ke arah sopa..'' ucap Yuna,
elang pun menuruti apa yang di perintah kan Yuna, memapah Yuna ke atas sofa dan menduduk kan Yuna di sana
'' kak Raina,, ambil kan minum..'' ujar elang tanpa menunggu kan suara nya
.karena mereka kini memiliki alat canggih yang di belikan atabuntuk mereka, jika mereka terlalu jauh di butik, maka bisa menggunakan alat tersebut, dan dengan cepat mereka merespon nya
'' ya.. elang sebentar, aku aman kan Davina lebih dulu..'' ujar Raina kewalahan menghadapi anak bos mereka
'' di tunggu segera..'' ujar elang, dan mematikan sambungan tersebut
__ADS_1
tak berselang lama, Raina pun muncul dengan segelas air putih dan tak lupa, di samping nya ada Davina yang selalu mengekor kemana Raina pergi
'' mama..'' ujar Davina berlari ke arah Yuna
'' kamu dari mana saja sayang, kenapa bikin mama khawatir ..'' ujar Yuna cepat, menghirau kan air putih yang di bawa oleh Raina
'' tadi ada nenek, Bawak Vina sana..'' ujar Davina masih menatap tanpa dosa ke arah Yuna
'' nenek siapa sayang, Davina di bawa kemana..'' ujar leana bertanya cepat kepada Davina
'' nenek sana, tadi bawa bombon, tapi Vina gak mau..'' ujar Davina lagi memperjelas apa yang menjadi permasalah pagi ini,
sampai Yuna melupakan rantang bekal untuk ata, sangking panik nya mencari keberadaan Davina, Yuna pun bernafas lega, ketika Davina di bawa oleh elang
'' mulai hari ini, kita harus berhati-hati dalam menjaga Davina..'' ucap mama leana dengan tegas, leana tak mau terjadi sesuatu dalam segala apa yang menyangkut tentang Davina
'' kalian juga harus lebih berhati-hati jika ada yang mencurigakan, langsung saja lapor, jangan malah diam saja..'' ujar leana memberi tahu kan kepada semua karyawa
'' ma... aku melupakan mengantar bekal makan siang untuk mas ata..'' ujar Yuna merasa bersalah kepada ata
'' di mana bekal nya mbak, biar elang saja yang mengantar kan kepada pak bos..'' pinta elang
membuat senyum yuna mengambang, karena ada orang yang mau mengantar kan bekal untuk ata, yang sedang bekerja
'' ada di atas meja dapur elang, kamu serius ini, mau mengantar kan nya..'' tanya Yuna lagi memastikan apa kah elang mau atau tidak
'' iya buk bos, apa sih yang enggak buat Bu bos..'' ujar elang sambil tertawa geli kepada yuna
'' syukur lah kalau begitu..'' ujar Yuna
elang pun berlalu pergi, ia akan mengambil rantang milik ata, sedang kan leana kini menatap cucu nya dengan haru, ia tak mau kejadian beberapa tahun yang silam terjadi lagi kepada Davina,
kalau sempat itu terjadi, entah apa lagi yang bisa leana perbuat, sedang kan Yuna, ia mencoba melurus kan ke dua kaki nya yang sempat lemas tadi karena shok
'' kita pulang Yuna..'' ujar leana bertanya kepada Yuna yang duduk di sofa
__ADS_1
'' bentar ma, Yuna masih mau melurus kan kaki ku, rasa nya lemas sekali ma..'' ujar Yuna menatap ke arah sang mama
...****************...