Penantian Cinta

Penantian Cinta
EXTRA PART Bag. 2


__ADS_3

"Mas tadi sudah memasukkan semua keperluan kita ke koper. Nanti kita perginya menggunakan Jet pribadi jadi kita bisa sampai disana dalam sekejap. Mas juga sudah menyediakan kendaraan pribadi untuk kita berkeliling di kampung halaman kamu sayang. Jadi apakah istriku keberatan atau tidak?"


"Aku ikut apa kata suamiku saja. Lagian ini juga demi kenyamanan Mas Ardan sendiri."


"No no no no! Bukan demi saya! tapi demi kamu Dan juga Arya! Oke sayang!"


"Kkkkk. Iya mas. Makasih sudah memperhatikan kenyamanan aku dan juga Arya. Sekali lagi makasih."


Cup


"Anything for you sayang. Ya udah kita berangkat sekarang! Mas tadi juga sudah menyuruh bibi untuk menggendong Arya. Sayang tidak masalahkan?"


Nindy tersenyum melihat betapa perhatiannya suaminya, dia merangkul lengan suaminya dan berjalan beriringan menuruni tangga. Nindy melihat ke arah lantai bawah yang sudah tidak ada siapa-siapa.


Mungkin mereka sudah keluar duluan.


Ardan melihat wajah istrinya yang semakin cantik dari hari ke hari. Membuatnya selalu tidak fokus jika harus berjauhan dengan istrinya.


Cup


Ardan mencium pipi istrinya gemas. Sementara Nindy yang merasa malu langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


Bisa banget mas Ardan bikin aku tersipu. Untung tidak ada orang lain ,coba kalau ada. Bisa malu aku.


"Makin cantik kalau lagi malu-malu kaya gini. Istrinya siapa sih ini?" Gurau Ardan sambil mencolek dagu istrinya. Nindy langsung memukul pelan dada suaminya.


"Mas~, jangan ngledekin dong! Nindy kan malu~."


Sreet


"Aduh istriku tercinta. Jangan malah menggoda suamimu dong. Kita kan mau pergi, mas nggak mau kita nanti terlambat gara-gara mas mengurung kamu di kamar." Ardan menghentikan langkahnya yang sudah hampir mencapai pintu utama. Ardan menangkup wajah istrinya yang sudah bersemu merah.


Nindy yang mengetahui niat suaminya langsung gelagapan.


"Aku nggak berniat menggoda mas kok. Lagian kan mas dulu yang tadi ngledekin aku." bibinya mengerucut lucu, membuat Ardan tidak kuasa menahan rasa ingin mengecupnya.


Cup


"Jangan mengerucutkan bibir seksimu di depan mas dong sayang. Takut khilaf, kkkkk!!"


"Itu mas aja yang kegatelan."


"Huus!! Kok istri mas tahu sih?"


"Kkkkk."


"Malah ketawa lagi. Emang ada yang lucu yah?"


"Lagian aku tuh baru tahu kalau mas tuh segenit ini. Padahal dulu aku mengira mas tuh orangnya dingin kaya yang di novel-novel gitu. Hahaha"


Ardan tersenyum saat melihat Nindy yang begitu leluasa mengutarakan isi hatinya padanya.


Aku tidak akan membiarkan siapapun merenggut kebahagiaanmu sayang. Kau adalah Bidadari ku, kau adalah wanita terhebat dan aku sangat beruntung bisa mendapatkan mu.


Ardan mengusap wajah Nindy dengan lembut. Tawa Nindy masih menghiasi telinga Ardan. Nindy menghentikan tawanya saat melihat Ardan menatapnya dengan penuh kekaguman padanya.


Pipinya kini bersemu merah ,malu dilihat begitu intens oleh suaminya.


"Kenapa berhenti sayang?"


"Mas jangan ngelihatin aku kaya gitu dong! Aku kan jadi malu mas~".


"Apa kita batalin aja perginya sayang? Mas kok jadi pengin ngurung kamu di kamar sih?"


"Kkkkk. Maaf bukanya berniat menolak , tapi kan jadwal mas Minggu depan sudah full. Jadi kalau kita tidak jadi pergi-.."


Cup


Belum selesai Nindy melanjutkan ucapannya ,Ardan sudah membungkam bibir istrinya dengan kecupan.


Ardan tersenyum melihat Nindy yang langsung terdiam setelah di cium olehnya.


Bugh "Yahhk....Jangan suka cium-cium sembarangan dong Mas! Nanti kalau-.."


Cup

__ADS_1


"Kkkkkk, istriku cerewet sekali. Kkkkk. Mas cuma bercanda sayang. Ayo berangkat sekarang! Mas sudah nggak sabar ingin melihat tempat kelahiran istriku tercinta ini "


Nindy tidak bisa menghentikan debar jantungnya saat mendapatkan sikap manis dari suaminya. Ardan menautkan jari tangan mereka dan mengangkatnya ke depan bibirnya.


Cup


Nindy tersenyum manis, tangan yang tidak di genggam suaminya kini langsung merangkul lengan suaminya.


"Sikapmu yang manis ini membuatku melayang mas. Nindy takut ini semua mimpi mas.!" Ucap Nindy sambil bergelayut manja di lengan suaminya.


Ardan melepaskan tautan jari tangan mereka kemudian merengkuh tubuh Nindy ke dekapannya. Sambil berjalan menuju tempat jet pribadinya yang terletak di samping halaman rumahnya yang luas, Ardan mengecup puncak kepala Nindy dengan sayang.


"Kkkkk. Ini nyata sayang. Ini adalah hadiah buat kamu karena telah mau bersabar menunggu ku menjadi suamimu." Ucap Ardan percaya diri membuat Nindy yang mendengarnya langsung mendongakkan wajahnya menatap wajah suaminya.


Pikir yang di tunjuk oleh Ardan langsung membungkuk hormat saat melihat Ardan dan istrinya berjalan mendekati nya.


"Selamat pagi Tuan Ardan, selamat pagi Nyonya Nindy." Nindy langsung menganggukkan kepalanya kepada lelaki berseragam pilot di depannya.


Ardan langsung menjabat tangan pilotnya. Dia langsung membantu istrinya yang akan naik ke pesawat pribadinya dengan merangkul istrinya. Biarlah orang mau memandang Ardan lebay, yang penting selama Nindy tidak melarangnya berarti itu masih wajar.


Setelah duduk di dalam pesawatnya ,Nindy langsung menggendong Arya. Dia duduk di kursi yang sangat nyaman sambil memangku Arya anaknya.


"Pagi gantengnya mama." Sapa Nindy sambil mencium pipi cuby Arya. Arya hanya cekikikan dan balas mencium Nindy.


"Papah nggak di cium juga nih?" Ardan menatap memelas ke arah Arya.


Arya langsung menengok ke arah Ardan. Arya langsung berdiri dari pangkuan Nindy dan berjalan mendekat ke arah Ardan. Arya mengulurkan tangannya meminta di gendong.


Ardan langsung tersenyum melihat Arya yang begitu menggemaskan. Ardan langsung merengkuh tubuh Arya dan memangkunya.


Cup cup cup cup


Ardan mencium seluruh wajah Arya hingga Arya tertawa bahagia. Kebiasaan Ardan pasti akan mencium seluruh wajah Arya jika sedang bersamanya.


Suami idaman banget kan Ardan


Nindy hanya terkekeh geli saat melihat Ardan yang menciumi seluruh wajah Arya. Terlihat jelas Ardan sangat tulus menyayangi Arya.


Setelah puas mencium wajah Arya, Ardan mengajari Arya nama benda apa saja yang ada di sekitarnya. Dari meja , kursi, serta lampu yang ada di atasnya. Semua tidak luput dari perhatian Nindy.


Nindy menolak saat Ardan menawarkan membawa semua pelayan di mansion nya. Lagian mana mungkin dia memboyong semuanya, Nindy tidak enak juga sama tetangga yang di kampung. Bisa jadi omongan di kampung nanti.


Setelah menempuh waktu sekitar 20 menit pesawat akhirnya lepas landas di lapangan yang sudah Ardan sewa dari orang setempat. Ardan membopong tubuh Arya di gendongannya , tapi tetap tidak melepaskan tautan tangannya dengan Nindy.


"Bi, tolong masukan semua barang-barang ke mobil yang satunya lagi. Dan jangan sampai ada yang tertinggal yah."


"Pak Agus. Biar saya yang nyetir biar anda ikut rombongan yang satunya lagi yah.?!"


"Baik Pak."


Ardan membantu membuka pintu mobil untuk Nindy.


"Makasih mas. sini biar Nindy yang memangku Arya." Arya langsung menerima uluran tangan Nindy dan membawanya di dekapan Nindy.


"Baiklah, sepertinya Arya juga sudah mengantuk."


Ardan berjalan memutar dan masuk kedalam kursi kemudi. Setelah memasang seat belt istrinya dan dirinya ,Ardan langsung meninggalkan lapangan kemudian melajukan mobilnya menuju rumah Nindy yang berjarak setengah jam dari lapangan. Selama perjalanan Arya tertidur di pangkuan Nindy, sedangkan Nindy tetap menemani Ardan.


"Asri banget yah sayang tempat kelahiran kamu?"


"Iya mas. Ngangenin banget emang tempat ini."


"Lebih ngangenin mana sama mas?" Ardan mengedip genit kearah Nindy. Nindy sendiri langsung tergelak melihat suaminya yang bertingkah lagi.


"Jelas mas tidak ada yang mengalahkan." Balas Nindy menggoda Ardan sambil ikut mengedip genit ke arah Ardan.


"Sayang~,jangan menggodaku~"


"Kan tadi mas duluan yang menggodaku.kkkkk"


"Kalau mau menggodaku nanti saja kalau kita sudah sampai di kamar sayang~"


"Mas !! Sumpah yah geli banget aku lihatnya. kkkkk"


"Lah ini kan gara-gara kamu sayang mas jadi kayak gini."

__ADS_1


"Iya-iya maaf yah sayang."


"Nggak mau maafin kalau belum di cium sama kamu.!!"


"Diih..malah ngambek? kaya Arya saja mas nih."


"Kan aku bapaknya?!"


"Iya nanti yah sayang kalau sudah sampai . Kalau sekarang nggak mungkin karena kita lagi di jalan. Mas-mas berhenti!! itu ada rumah pohon itu rumah Nindy mas!" Ardan langsung menghentikan laju mobilnya di depan sebuah rumah berhalaman cukup asri di samping mobilnya.


Ardan melepaskan Seat belt nya dan turun dari mobil setelah mematikan mesin mobil. Dia kini berjalan ke samping kemudi untuk membantu membukakan pintu Nindy. Sementara Nindy dengan pelan melepas seat belt nya agar Arya tidak terganggu. Saat Nindy akan bangun Ardan sudah mengambil alih Arya dari gendongannya.


"Pelan-pelan Sayang." Ardan memegang kepala Nindy agar tidak terantuk kap mobil.


Braak


"Assalamu'alaikum Nindy dan Nak Ardan." Nindy langsung tersenyum saat melihat wajah paman dan bibinya menyambutnya di depan pagar rumahnya.


"Wa'alaikumsalam Bibi ,paman." Nindy memeluk tubuh bibinya sebentar, kemudian menangkupkan tangan kehadapan pamannya dan tersenyum.


Ardan juga menyalami tangan paman dari Nindy. Dia juga tersenyum sopan saat bibi Nindy tersenyum menyambutnya.


"Ayo masuk nak Ardan!!. Maaf yah rumahnya seperti ini."


"Rumahnya sangat nyaman sekali Paman. Bahkan di jaman sekarang rumah seperti ini yang sedang banyak diminati."


"Mana ada nak Ardan ini. Justru orang malah berlomba-lomba membuat rumah yang bagus dan tinggi."


Sambil menggendong Arya , Ardan berbincang dengan paman Nindy. Ardan memang orang yang baik dan tidak pernah mencela orang lain. Membuat paman Nindy sangat salut dengan Ardan. Walaupun dari segala aspek Ardan mempunyai segalanya tapi Ardan tetap rendah hati.


Nindy dan bibinya sudah berjalan di depan dan kini sedang mengobrol. Bibi Nindy membantu Nindy membukakan pintu rumah Nindy agar mereka bisa masuk kerumah Nindy.


"Assalamualaikum." Ucap Nindy saat pintu rumahnya terbuka. Senyumnya merekah indah saat menatap rumahnya yang sudah 2 tahun tidak di kunjungi nya. Rasa rindu langsung melebur menjadi satu saat melihat bingkai foto orangtuanya menyambut saat dia membuka pintu.


"Nindy pulang Ayah, ibu.!" matanya berkaca-kaca saat melihat foto orang tuanya yang sedang tersenyum menyambutnya. Nindy bahkan lupa mengajak Ardan untuk masuk kedalam.


"Masuk nak Ardan. Langsung ke kamar saja. Maaf yah Nak Nindy memang akan langsung lupa segalanya kalau sudah berada di rumahnya. Terlalu banyak kenangan yang di tinggalkan orang tuanya hingga membuat Nindy selalu membayangkan orang tuanya masih berada di sisinya saat pulang kerumahnya." terang bibi Nindy yang melihat Ardan yang kini sedang menatap ponakannya. Ardan yang mendengarnya langsung meminta ijin untuk menaruh Arya di kamar.


"Tidak apa-apa bibi."


"Kalau begitu masuk saja nak Ardan. Maaf saya tinggal dulu yah. Nanti kalau ada butuh apa-apa bisa mendatangi saya atau suami. Sekali lagi terimakasih karena sudah menjadi suami yang begitu menyayangi Nindy."


"Terima kasih kembali karena sudah mau menjadi keluarga buat Nindy." Ucap Ardan tulus saat kepada paman dan bibi Nindy. Dia juga mengantar paman dan bibi sampai ke depan pintu, Setelah nya Ardan langsung menyuruh supir serta pembantu yang baru datang untuk beres-beres. Ardan juga menyuruh pelayan rumahnya untuk menyediakan makanan buat makan siang mereka nanti di dapur.


Setelah memerintahkan pelayannya, Ardan membawa Arya untuk masuk ke dalam kamar Nindy yang memang tidak terkunci.


Ceklek


Wajah bersimbah air mata yang menyambut Ardan saat dia membuka pintu kamar. Ardan langsung masuk ke dalam dan menutupnya kembali. Nindy tersenyum saat menyambut kedatangan suaminya, ia menghapus air matanya yang tidak mau berhenti mengalir saat berada di rumahnya.


Setelah menidurkan Arya di ranjang. Ardan berjalan mendekati Nindy yang kini sedang duduk di kursi belajar dam menatapnya dengan berlinang air mata. Walaupun senyumnya terukir tapi tetap saja masih ada luka di matanya.


Ardan berlutut di hadapan Nindy, lalu tangannya mengusap wajah istrinya yang berlinang air mata. Ardan ikut merasakan sakit saat melihat air mata Nindy yang tetap mengalir deras di sela bibirnya yang tersenyum.


Sambil menggenggam tangan Nindy, Ardan menarik wajah Nindy agar lebih dekat dengan wajahnya. Saat jarak diantara mereka tinggal sedikit lagi, Ardan mencium kedua kelopak mata Nindy yang otomatis langsung tertutup saat merasakan hangatnya bibir Ardan di kelopak matanya.


Ardan menjauhkan bibirnya dari mata Nindy yang kini mulai terbuka, saat pandangan mata mereka bertemu Ardan mengusap kembali wajah Nindy yang basah. Entah apa yang di lakukan Ardan padanya ,kini air mata Nindy sudah berhenti mengalir. Nindy ikut mengusap wajah Ardan yang berada begitu dekat dengan wajahnya.


Mereka saling menghayati setiap sentuhan Hinggan tatapan mata mereka yang tidak bisa berbohong. Bahwa mereka saling mencintai.


"Jangan menangis lagi sayang. Ikhlaskan mereka! Mereka juga ingin melihatmu bahagia. mereka juga akan bersedih saat melihatmu menangisi mereka. Allah mengambil orang tua kamu karena , Allah tahu kamu adalah wanita yang kuat. Sekarang kamu juga tidak sendiri lagi, ada Aku dan juga Arya yang akan selalu menemani kamu. Jadi jangan menangis lagi yah sayang? Mas paling nggak bisa melihatmu menangis."


TBC


Makasih yah yang masih mau nyempatin baca ceritaku. Semoga kalian nggak bosen baca nya yah!.


Jangan lupa mampir ke ceritaku yang lain.


Tentang aku dan Kamu


Adam dan Hawa


Rasa yang Hilang


Ramein yUk...!!

__ADS_1


__ADS_2