
Senyum Ardan belum luntur semenjak Nindy menerima lamaran nya, dia sekarang sedang duduk sambil melihat Arya yang sedang bermain pesawat-pesawatan nya. Sedangkan Nindy sendiri kini sedang tidur setelah minum obat tadi.
Ara sendiri sudah pulang karena anaknya mencarinya. Jadi Ardan disini sendirian bersama Arya di ruang tamu. Ardan sudah tidak sabar memberitahukan berita bahagia ini dengan Mama dan papa nya. Ardan mengambil ponselnya dan mencari nomor kontak papa nya..
Tut...Tut...tut..
*Assalamualaikum
^^^Wa'alaikumsalam pah.^^^
Ada apa Dan?
^^^Papa sama Mama nggak sekarang?^^^
Iya. kenapa Dan?
^^^Hari ini...Ardan sudah melamar nindy pah!!^^^
Benarkah itu..?
^^^Heem. Tau nggak jawaban nya apa?^^^
Pasti kamu di tolak yah? Duh kasihan banget sih anak papa ini. Yang sabar yah sayang.
^^^Iihhhh papa mah suka gitu deh. Ardan saja belum memberitahukan jawaban nya. Papa sudah main tebak aja.^^^
Kkkkkk. Ya ya maaf deh. terus nindy jawab apa dong?
^^^Kkkkk. jelas di terima dong pah. Setelah sekian lama akhirnya Nindy mau menerima cinta ardan pah. Ardan sangat bahagia sekali. makasih yah pah atas support nya.^^^
Alhamdulillah kalau gitu. besok kalau Nindy sudah sembuh total , kamu bisa ajak dia kesini. Sekalian kenalin sama papa dan Mama. Hei ...apa itu Arya?
^^^Ya pah. Sayang...kenalin ini kakek.! Coba dadah dulu sama Kakek.!!^^^
Arya yang sedang bermain akhirnya menghentikan mainan nya sebentar untuk menyapa orang tua Ardan. Sedangkan orang tua ardan yang melihat wajah arya yang menggemaskan tidak sabar untuk menemui nya. Bahkan Mama nya seakan luluh hanya dengan melihat wajah arya.
__ADS_1
Ardan yang melihat mama nya begitu heboh dengan Arya ,ikut tersenyum bahagia. Mereka akhirnya mereka waktu satu jam mereka dengan menggoda arya.
Ardan melihat arah jarum jam dinding yang menunjukkan pukul setengah lima sore. waktunya Arya untuk mandi. Ardan melihat ke arah kamar Nindy, tapi sepertinya Nindy belum bangun. Jadi Ardan memutuskan untuk memandikan Arya di kamar mandi sebelah dapur.
"Ayo sayang,,waktunya kita mandi. Jagoan om udah siap mandi kan? "
"ndi..ndi..au..au.." Celoteh riang Arya ketika mendengar kata mandi. Ardan dengan semangat membawa Arya dalam gendongannya menuju kamar mandi. Sepanjang jalan menuju kamar mandi Ardan sibuk bercanda dengan Arya.
Sementara di dalam kamar, Nindy yang mendengar suara antusias orang tua Ardan kepada anaknya cukup membuat hatinya merasa lega. Dan semoga mereka juga bisa menerima Nindy juga.
Nindy beranjak mengambilkan baju ganti arya dan juga minyak telon dan juga lainnya. Sementara untuk Ardan dia tidak tahu karena memang disini tidak ada baju laki-laki. Nindy membuka pintu kamar nya dan berjalan ke ruang tamu. Dia melihat di depan rumahnya ada penjual bakso keliling.
Kruuuyuukkk
"Ah....jadi laper. Aku mau beli dulu deh, Apa mas Ardan mau yah makan bakso seperti itu?" Nindy berjalan ke arah dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi. Nindy ingin menanyakan Ardan apa dia mau makan bakso.
Tok tok tok
"Mas Ardan..Mas.. Nindy mau beli bakso. Mas Ardan mau tidak? Biar sekalian nindy beliin..?" Nindy mengetuk pintu kamar mandi yang berisikan Ardan dan Arya. sedangkan Ardan yang mendengar suara Nindy memanggil namanya, bergegas mengambil Handuk untuk menutupi bagian privat nya.
Ceklek
"Tadi kamu bilang apa Dy? Aku kurang jelas."
"Itu...Mas Ardan mau makan bakso?. soalnya Nindy mau beli di depan."
"Boleh deh. asal kamu yang beliin aku mau. kkkkk.." goda Ardan pada nindy yang kini wajahnya sudah memerah malu.
"Ya sudah mas Ardan lanjutkan saja mandinya. Biar nanti mas ardan ,Arya selesai mandi baksonya sudah ada di meja makan."
"Tunggu Dy..!" Cegah Ardan ketika melihat Nindy yang akan pergi meninggalkan nya. Tanpa mau berbalik, Nindy hanya berdehem supaya Ardan tahu kalau Nindy mendengar kan nya.
"Bisa minta tolong.. untuk ambilkan ponsel aku di ruang depan? Kalau tidak..bisa tolong kamu telfonkan nama kontak Doni di ponselku. Bilang padanya untuk mengantarkan bajuku kesini." Ardan melihat punggung Nindy di depannya dengan pandangan penuh cinta.
"Biar mas Ardan sendiri saja yang bicara kepada Doni. Aku tidak berani memegang ponsel mas Ardan." Nindy berlalu dengan kecepatan penuh untuk menetralkan degup jantungnya yang berdegup keras. Nindy merasa malu karena melihat tubuh ardan yang toples.
__ADS_1
Nindy mengambilkan ponsel Ardan dan dengan buru-buru mengantarkan ke pada Ardan yang masih menunggu nya di depan pintu kamar mandi. Nindy tidak berani menatap Ardan,jadi selama menaruh ponsel Ardan, nindy menutup kedua matanya dengan jari tangan nya. Sambil mengintip jalan di depannya sedikit agar tidak tersandung atau menabrak kursi maupun meja.
Ardan tertawa geli melihat tingkah Nindy yang menurutnya sangat menggemaskan. Kenapa bisa dia melewatkan wanita seperti Nindy selama ini.
"Makasih yah Dy."
"Heem..." Nindy tidak menggubris Ardan yang kini sedang tertawa geli melihatnya, dengan terburu-buru Nindy keluar dari dapur untuk kedepannya membeli bakso buat dirinyanjuga Ardan.
Saat sampai di depan pagar rumah, Nindy membuka pagar dan keluar untuk menghampiri penjual bakso. Disana banyak ibu-ibu yang sedang makan bakso bersama dibawah pohon jambu. Nindy menyapa mereka sekedar nya dan tidak mau ambil pusing dengan gosip tentang nya dan juga ardan. Nindy mencoba acuh dan menunggu dengan sabar pesanan baksonya.
Nindy membeli 2 bungkus saja, dia sengaja tidak membawa mangkok dari rumah, ya karena you know lah. Ada Ardan disana, jadi dari pada dia melihat yang tidak-tidak lebih baik dia bergegas keluar dari rumah nya.
Nindy menatap pantulan wajahnya dari kaca gerobak penjual bakso, wajahnya masih terlihat pucat tapi sedikit tertutupi oleh liptint yang dia pakai berwarna pink.
"Ni neng baksonya, jadi 20.000 saja." Nindy mengeluarkan uang berwarna biru dan di berikan kepada Abang penjual baksonya. Setelah menerima kembalian nya Nindy masuk kedalam rumahnya lagi dan menutup pagar nya.
Sedangkan pintu depan dia sengaja buka lebar agar tetangganya tidak berpikir yang macam-macam tentangnya. Saat memasuki ruang tamu Nindy menengok ke arah depan rumahnya dan melihat ada seorang lelaki yang baru saja turun dari motor sportnya. Nindy yakin lelaki itu pasti Doni sekertaris ardan.
Nindy tidak jadi masuk kedalam dan malah keluar kembali untuk membuka pagar untuk tamu nya. Dia tersenyum membalas sapaan Doni padanya.
"Ayo masuk pak. silahkan. Mas ardan ada di dalam, pak Doni bisa langsung memberikan nya pada mas Ardan."
"Terima kasih nona. kalau begitu saya permisi masuk ke dalam dulu." Nindy melihat Doni yang masuk kedalam rumahnya dengan menghilangkan tangannya di atas perut nya.
Nindy berfikir apakah ini adalah keputusan yang tepat untuk dia dan juga arya. Apa Arya akan marah padanya karena mempunyai 2 orang ayah. Nindy menerawang jauh bagaimana masa depannya nanti Arya jika tau kelakuan ayah kandung nya. Apakah dia akan marah atau hanya diam dan mengikhlaskan saja perbuatan Bagas pada nya.
"Jangan ngalamun di tengah jalan dong Dy. Nanti kalau kamu kesambet gimana?" Nindy terkejut dengan kedatangan Ardan di belakang tubuhnya, Nindy refleks menjauhkan tubuhnya dari tubuh ardan. .
"Nggak mas. mas Ardan emang bisa ngobatin orang kesambet..?" Nindy sengaja menggoda ardan supaya keadaan tidak canggung lagi. Dia juga melihat ke belakang tubuh ardan tapi tidak menemukan Arya di belakangnya.
.Ardan yang tahu Nindy sedang mencari anaknya, langsung menunjuk ke arah dalam rumah. yang memperlihatkan Arya dan juga Doni yang sedang bermain mobil-mobilan.
"Tenang Arya juga sudah wangi kok. Kalau kamu tidak percaya kamu bisa mencium aku. Ooohhh kok aku. maksudnya mencium Arya. kkkkk" Nindy terkikik geli mendengar candaan Ardan yang garing. Dengan percaya diri Ardan mengambil bungkusan bakso dan menuangkan nya ke dalam mangkuk yang di bawakan oleh nya.
Nindy melihat ke arah Arya yang kini sedang tertawa sambil di suapin oleh Doni. Rasanya bahagia melihat keadaan anaknya sehat semua.
__ADS_1
**Terima kasih Ya Allah. engkau telah menitipkan malaikat kecil untuk menemani hari-hari ku yang sepi ini.
Tbc**