Penantian Cinta

Penantian Cinta
chapter 82


__ADS_3

Nayla memberikan Nindy mic dan di sambut baik oleh Nindy. Nayla kembali ketempatnya dan mengambil gitar dan di bangkunya di atas pangkuannya. Dia sudah siap mengiringi lagu yang akan di nyanyikan oleh Nindy.


Dengan mengumpulkan keberanian nya, Nindy berdiri dari kursi pelaminan nya dan dengan senyum menawannya, Nindy mengulurkan tangannya di depan wajah Ardan.


Nayla mulai memetik gitarnya untuk mengawali lagu ini. Para tamu undangan yang mendengar alunan petikan gitar Nayla langsung bersorak. Mereka menunggu Nindy melantunkan lagu yang kini sedang di iringi petikan gitar dari Nayla.


Ardan sangat terkejut dengan sisi lain dari seorang nindy, dia tidak pernah menyangka kalau Nindy menyimpan sisi romantis di dalam dirinya yang pendiam.


Teruntuk kamu, hidup dan mati ku


Aku tak tahu lagi harus dengan kata apa aku menuliskannya


Atau dengan kalimat apa aku mengungkapkannya


Karena untuk keberkian kalinya


Kau buat aku kembali percaya akan kata cinta


Dan benar, bahwa cinta masih berkuasa di atas segalanya


Ketika hati yang mudah rapuh ini


Diuji oleh duniawi, di uji oleh materi untuk kesekian kali


Lagi,lagi, dan lagi


Ardan langsung mencium bibir Nindy didepan semua para tamu undangan. Membuat wajah Nindy bersemu merah malu, bahkan tak sampai disitu, ardan membawa tubuh Nindy untuk mendekat padanya. Nindy mengangkat mic nya kembali ketika tiba waktunya dia bernyanyi. Sambil menatap wajah Ardan dengan penuh rasa sayang, bahkan dengan berani Nindy mengelus rahang Ardan yang tegas.


...🎵🎶Ku tuliskan kenangan tentang🎶🎵...


...Caraku menemukan dirimu...


...Tentang apa yang membuatmu mudah...


...Berikan hatiku padamu...


...Takkan habis sejuta lagu...


...Untuk menceritakan tentangmu...


...'Kan teramat panjang puisi...


...'Tuk menyuratkan cinta ini...


...Telah habis sudah cinta ini...


...Tak lagi tersisa untuk dunia...


...Karena telah kuhabiskan...


...Sisa cintaku hanya untukmu...


Ardan menatap penuh cinta mata Nindy yang kini sedang menatap balik, Ardan membisikkan sesuatu yang membuat wajah Nindy bersemu merah. Ardan mencium punggung tangan Nindy lembut.


...🎵🎶Aku pernah berfikir tentang🎶🎵...


...Hidupku tanpa ada dirimu...


...Dapatkah lebih indah dari...


...Yang kujalani sampai kini?...


...Aku selalu bermimpi tentang...

__ADS_1


...Indah hari tua bersamamu...


...Tetap tampan rambut pendeknya...


...Meskipun nanti tak hitam lagi...


Sambil tersenyum malu, dibelainya rambut hitam Ardan oleh Nindy dengan lembut.


...🎵🎶Bila habis sudah waktu ini🎶🎵...


...Tak lagi berpijak pada dunia...


...Telah aku habiskan...


...Sisa hidupku hanya untukmu...


...Dan telah habis sudah cinta ini...


...Tak lagi tersisa untuk dunia...


...Karena tlah kuhabiskan...


...Sisa cintaku hanya untukmu...


...Untukmu hidup dan matiku...


...Bila musim berganti...


...sampai waktu terhenti...


...Walau dunia membenci...


...Ku' kan tetap disini...


...Tak lagi berpijak pada dunia...


...Telah aku habiskan...


...Sisa hidupku hanya untukmu...


...Telah habis sudah cinta ini...


...Tak lagi tersisa untuk dunia...


...Karena tlah kuhabiskan...


...Sisa cintaku hanya untukmu...


...Karena telah ku habiskan...


...🎵🎶Sisa cinta ku hanya untukmu🎶🎵...


Tepuk tangan riuh dari para tamu undangan untuk Nindy yang kini sedang di peluk mesra oleh ardan. Bahkan ardan sampai tidak berhenti mengecup puncak kepala nindy yang tertutupi kerudung putihnya.


Ardan mengambil mic yang berada di tangan Nindy dan gantian sekarang Ardan yang akan berbicara di depan banyak orang. Ardan memeluk Nindy dari belakang supaya lebih memudahkannya untuk mengungkapkan rasa cinta nya untuk nindy.


"Terima kasih sayang atas lagu yang kau persembahkan untuk ku, kkkkk Aku tidak menyangka akan di berikan kejutan oleh istriku. Baru kali ini aku di buat mati kutu oleh wanita, dan kamu adalah orang itu sayang." Ardan menundukkan kepalanya dan di taruhnya di atas bahu nindy yang kini sedang tersenyum manis padanya.


"Setelah perjalanan panjang untuk mendapatkan hatimu, aku tidak menyesal sudah menunggu lama untuk bisa berdiri disini denganmu. Terima kasih karena sudah mau menerima ku di dalam hidup kalian. Kau dan arya adalah orang yang sangat penting bagiku, kau memberikan warna di dalam hidupku yang hampa ini." Nindy membalikan badannya menghadap Ardan dan memeluknya dengan erat. Ardan mengelus punggung nindy sambil sesekali mengecup puncak kerudung nindy.


"Di hadapan semua para tamu undangan Saya Ardan Ardiansyah berjanji akan menemanimu sampai maut memisahkan kita, sampai rambut panjang mu tak hitam lagi. Dan saya juga berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti. "


Musik pengiring menambah kesan menjadi lebih romantis, membuat siapapun mendengar nya akan ikut baper atau terbawa suasana. Bahkan tak banyak tamu undangan yang ikut meneteskan air mata melihat sang mempelai wanita menangis di depan sana.

__ADS_1


Ardan membantu menghapus air mata Nindy yang kini sudah membanjiri wajah cantiknya.


"Kau adalah segala-galanya bagiku sayang. Jadi maukah kamu berjanji sehidup semati denganku sayang?" Bisik Ardan di telinganya nindy mesra. Nindy mengangkat wajahnya dan menatap wajah Ardan dengan penuh haru dan penuh rasa sayang.


"Aku hanya wanita biasa yang beruntung bisa mendapatkan cinta darimu mas. Aku tak berani menyakiti perasaanmu, karena aku pernah merasakannya. Sebisa mungkin aku akan menjaga mata, hati ,dan pikiranku hanya untuk mu mas. Aku tak meminta banyak padamu mas,,cukup kau bawa keluarga kita ini ke jalan yang di ridhoi oleh Allah."


"Insya Allah sayang. Kita sama-sama saling mengingatkan jika ada salah di antara kita. Aku juga sangat bersyukur bisa mendapatkan wanita yang Sholehah seperti kamu sayang. Aku bersyukur karena Allah telah mengabulkan doaku selama ini, yaitu mendapatkan kamu."


Kebahagian begitu terpancar dari dua sosial Adam dan hawa yang kini sedang saling mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.


Maklum karena baru hari ini Nindy mau mengutarakan perasaan nya terhadap ardan. Acara berlanjut hingga sore hari dan selesai ketika waktu Maghrib tiba. Para tamu undangan sudah mulai meninggalkan ballroom satu persatu.


Sedangkan pengantin baru kita sudah berada di kamar hotel yang sudah di boking untuk malam pertama mereka.


mereka kini sedang melaksanakn sholat Maghrib berjamaah pertama kali sebagai pasangan suami istri. Wajah Nindy juga sudah bersih dari make up dan juga sudah berganti baju dengan piyama yang sudah di bawanya. Selesai sholat ardan mencium kening istrinya dan berdoa untuk kebaikan istrinya , kemudian Nindy mencium punggung tangan suaminya lembut sambil diusapnya pelan kepala Nindy oleh Ardan.


Arya sudah di titipkan kepada orang tua Ardan, sebenarnya Nindy sudah merindukan anaknya setelah seharian hanyaelihatnya saja tanpa menggendongnya. Tapi Nindy juga tidak bisaenolak permintaan orang tua Ardan yang meminta Arya untuk tidur dengan mereka.


"Mas Ardan mau makan apa biar Nindy siapkan?" Nindy melipat mukena yang di pakainya tadi dan menaruhnya di atas nakas.


"Emang kamu mau nyiapin apa istriku sayang? Kan sekarang disini paling cuma ada anak dan air mineral saja. Kalau kamu udah laper biar suamimu ini yang pesankan lewat telepon, biar mereka yang akan mengantarkan nya kesini." Ardan menjawil pipi Nindy yang kini sudah bersemu merah malu.


"Hmmm ... Nindy ikut mas Ardan saja." Ardan membawa nindy ke dalam dekapannya. Ardan masih tidak menyangka akan bisa menikah dengan Nindy.


"Mas masih berasa mimpi sayang,,,!"


"Kok gitu..?"


"Iya mas tuh masih tidak menyangka akan bisa mendekapmu sedekat ini."


cup


"Bisa mencium kamu seperti ini."


cup


"Manis sekali bibir kamu ini sayang, membuat mas tidak tahan untuk menciumnya."


Nindy hanya bisa memejamkan matanya menerima semua perlakuan lembut dari suaminya. Dia hanya bisa mengikuti kemauan suaminya.


Ardan menatap wajah Nindy yang kini sudah bersemu merah. Ardan mengecup satu persatu mata Nindy yang terpejam. Nindy membuka matanya dan menemukan wajah Ardan yang begitu dekat dengan wajahnya. Hembusan nafas Ardan menggelitik wajah Nindy.


Ting tong


Saat ardan akan mendekatkan wajahnya tiba-tiba suara bel menghentikan niat Ardan yang akan mencium bibir pink nindy.


sigh


Ardan langsung mendengus keras karena ada yang mengganggu kegiatannya. Nindy berniat membukakan pintu untuk Orang yang ada di luar. Tapi Ardan menariknya dan menyuruh Nindy untuk duduk di atas ranjang.


"Biar mas saja yang buka. Kamu duduk cantik aja disini."


Cup


sebelum pergi Ardan sengaja mencuri kecupan di bibir Nindy, dan membuat Nindy langsung salah tingkah di buatnya. Nindy membenarkan letak jilbabnya, dia masih memakainya karena sudah kebiasaan ketika dirumah. Tapi Nindy berpikir mungkin ini waktunya untuk suaminya melihat wajah nya yang tanpa jilbab.


Padahal ardan pernah tidak sengaja melihat Nindy yang tidak memakai jilbabnya waktu pingsan dulu. Tapi sepertinya Nindy lupa.


Saat Nindy sedang melamun Ardan sudah berdiri di hadapannya sambil mendorong troli berisi makan malam mereka. Ardan yang menyadari kalau istrinya sedang melamun, menepuk bahu nya pelan.


"Ngelamun apa sayang..? Ayo kita makan dulu setelah itu kita bisa istirahat malam ini." Nindy hanya mengangguk dan mengambil makanannya. mereka makan dalam diam, sesekali Ardan melihat wajah Nindy dan sebaliknya Nindy juga jarang melirik wajah Ardan. Ketika pandangan mereka bertemu, mereka langsung tersenyum salah tingkah.


Apa malam ini mereka akan bisa menghabiskan malam pertamanya atau tidak. Kita tunggu saja kelanjutannya nanti.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2