Penantian Cinta

Penantian Cinta
Bunda menghilang


__ADS_3

Dika masuk kedalam ruangannya, menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya. Dia sangat bingung sekarang, entah bagaimana caranya agar bisa menggagalkan rencana ayahnya itu. Entah kenapa Ayahnya itu selalu ingin melihatnya menikah mudah. Bahkan dulu, Dika sempat di jodohkan dengan wanita yang merupakan anak dari sahabatnya di kampung.


Namun, hal itu dapat di hentikan Dika, dengan cara dia berpura - pura sakit. Semenjak kejadian batalnya pernikahanya itulah, keluarganya memutuskan untuk pindah ke kota dan kembali fokus mengelola bisnis mereka.


"Kamu di mana sih? Kenapa begitu sulit menemukan kamu?"ucap Dika mengusap wajahnya gusar.


____


Di tempat lain, Indah sedang bersiap untuk pulang, dia melirik jam yang ada di ponselnya yang menunjukkan pukul 5 sore.


"Mbak, Aku pulang duluan ya, bye.."Pamit Indah.


"Iya. Hari - hati dan ingat untuk tidak telat lagi besok, ok"ucap Lala tersenyum.


"Baiklah," Indah pun keluar dari kafe itu, ia berjalan menuju ke halte bus. Ia duduk disana sambil menunggu bus tersebut datang.


Sambil menunggu bus Indah pun mendengarkan lagu kesukaannya. Mulutnya berkomat kamit, mengikuti lirik lagu yang di dengarnya.


Tak lama bus pun datang, Indah tersenyum dan berdiri, saat bus itu berhenti di depannya Indah pun menaikinya.


Indah sangat suka manaiki bus di sore hari, keadaan bus yang sepi penumpang memberikannya suatu kenyamanan tersendiri.


Bus pun berhenti, Indah turun dan melanjutkan perjalan menuju rumah dengan berjalan kaki. Jarak dari halte bus kerumah nya sekita 200 m.


Indah melewati jalanan dengan sangat senang, entah kenapa indah merasa kalau hari ini, hari yang paling menyenangkan menurutnya.


Semua kegiatannya berjalan dengan sangat mulus tanpa rintangan sedikit pun. Mungkin ini karena, Indah begitu banyak mendapatkan pujian dari pelanggan.


Indah sampai di rumah. Keadaan rumah tampak sepi, Indah mengerutkan keningnya, kemana adik dan ibunya? Bukankah, biasanya mereka selalu ada di rumah di jam segini?


Indah memeriksa semua ruangan, namun dia tetap tidak menemukan siapa pun.


"Kemana mereka? Kenapa nggak ada orang?"Indah mengelurkan ponselnya, ia menghubungi bundanya.


Namun, sudah beberapa kali ia menghubungi nomor bundanya, namun tak juga kunjung di angkat.


"Kenapa bunda tidak menjawabnya?"gumamnya.


"Tapi kalau mereka pergi, kenapa rumah nggak di kunci? Kalau ada maling masuk gimana?"


Indah memutuskan untuk memersihkan dirinya dan berganti pakaian.


Tak butuh waktu lama Indah telah selsesai membersihkan dirinya dan ia juga sudah berganti pakaian. Indah kembli keluar kamar.


"Kakak, kapan pulang?"tanya adik bungsunya.


Indah tersenyum, menghampiri adiknya itu."Baru aja, kamu dari mana?"tanya Indah.

__ADS_1


"Aku baru pulang dari ekstrakulikuler kak"jawabnya .


"Bunda mana, kak?"


"Kakak, juga nggak tau. Tadi pas kakak pulang, kakak sudah tidak melihat Bunda."kata Indah.


 


Malam harinya, Maya pun pulang. Mendengar suar pintu di buka, Reza pun langsung berlari melihat siapa yang datang.


Saat sampai depan pintu, Reza menghela napas kecewa. " Kenapa?"tanya Maya yang melihat ekspresi sang adik.


"Aku kira tadi Bunda, ternyata kakak"jawab Reza. Maya mengernyit.


"Emang bunda nggak ada di rumah?"tanya Maya berjalan menghampiri Reza.


" Tadi, saat aku sama kak Indah pulang. Kita berdua udah nggak menemukan bunda di rumah. Kaka Indah juga udah berusaha menghubungi bunda."kata Reza.


"Eza, ayo kita makan dulu." ucap Indah yang tiba - tiba keluar dari dapur dengan 2 piring sambal di tangannya.


"Kamu juga udah pulang, May?"tanya Indah yang melihat Maya berdiri samping Reza.


"Baru aja."jawab Maya.


"Kalau gitu, ayo kita sekalian makan bersama. Nanti habis makan baru kita pikirin dimana kemungkinan bunda berada"kata Indah. Dari nada dan ekspresi Indah terlihat tenang, tapi sebenarnya, saat ini Indah sangat mengkhawatirkan bundannya itu. Dia tidak ingin membuat kedua adiknya ikut panik, makanya Indah berusaha santai.


___


"Bunda kemana sih?"gumam Indah yang terdengar gusar.


Dari tadi Indah tak bisa diam, ia selalu mondar mandir di dalam kamar.


Ting!


Indah menoleh saat mendengar notif ponselnya, menandakana ada pesan masuk. Dengan segera Indah membuka pesan tersebut.


Indah membaca pesan itu dengan kening yang berkerut, kenapa bundanya mengiriminya pesan, yang menyuruhnya untuk datang kerumah sakit.


"Siapa yang sakit?"ucap Indah bermonolog


"Apa bunda yang sakit? Tapi sakit apa? Perasaan bunda sehat - sehat aja" berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Indah.


Tanpa membuat keributan, Indah pun bersiap pergi. Karena hari sudah malam dan pastinya sangat sulit untuk menemukan kendaraan umum, Indah memutuskan untuk pergi dengan menggunakan sepeda adiknya Reza.


Jarak rumah sakit yang memang terbilang cukup jauh, membuat tenaga indah sedikit terkuras. Sekitar pukul 2 malam Indah sampai di rumah sakit, ia kembali menghubunhi bundanya.


"Kamar 1232 anggrek" Gumam Indah melihat papan pintu kamar di rumah sakit itu.

__ADS_1


"Kenapa misterius gini sih." gumamnya.


"Ini dia." Indah berdiri di depan kamar 1232 anggrek. Dengan ragu Indah mengintip keadaan di dalam ruangan itu.


"Kamar siapa ini?"


"Kenapa aku tidak bisa melihat apa pun di dalam"l?"gumamnya.


Dengan ragu, Indah membuka pintu kamar, melangkah pelan, sambil menggenggam erat tali sling bag nya.


Indah terdiam terpaku saat melihat seseorang yang terbaring lemah di atas brangkar rumah sakit. Tenggerokan Indah terasa tercekat, jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat.


"Ini..."


____


Flashback on


Arin baru pulang dari pasar, membeli semua bahan - bahan untuk jualannya besok. Ia mempersiapkan semuanya agar nanti malam ia bisa langsung membuatnya saja, tanpa harus cari - cari lagi.


Arin membersihkan sayuran dan yang lainnya, ia sangat menikmati kegitannya.


Setelah semua perkerjaannya selesai, Arin pun memutuskan untuk beristirahat sejenak, saat ia ingin memejamkan matanya, tiba - tiba ponselnya berbunyi.


Arin melihat siapa yang menghubunginya, dengan kening yang berkerut Arin mengangkat telpon itu.


^^^"Assalamualaikum. " ^^^


.....


^^^"Maaf sebelumnya, ini siapa?"^^^


....


^^^"APA? Baiklah saya kesana sekarang."ucapnya, memutuskan sambungan telponnnya^^^


Dengan buru - buru Arin bersiap dan bergegas ke rumah sakit, dia lupa untuk mengabari anak - anaknya. Bahkan ia juga tidak sempat mengunci pintu rumah.


Saat mendengar kabar itu, jantung Arin rasanya berhenti berdetak untuk sesaat. Entah kenapa dia masih peduli, walau lukanya masih menganga, tapi hati kecilnya bergetar mendengarnya. Sepanjang jalan Arin terus menangis, dia terus meminta supir taxi untuk lebih cepat.


"Pak, cepat lah pak. Saya lagi buru - buru!"


"Sabar bu, kita bisa dalam bahaya kalau lebih cepat lagi"balas supir taxi.


"Ya allah, tolong selamatkan lah dia."doanya dalam hati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2