
Setelah tiga hari dirawat intensif di rumah sakit, akhirnya nindy hari ini sudah bisa pulang kembali ke rumahnya. Selama nindy sakit air susunya tidak keluar lagi, jadi nindy memutuskan untuk menyapih Arya. Walaupun tidak tega tapi Nindy tidak bisa berbuat apa-apa, dan hanya berdoa semoga arya tetap diberikan kesehatan walaupun sudah tidak minum asi lagi.
Selama Nindy di rawat, arya di asuh oleh kakak Ardan. Nindy juga sudah mengenal Ara sebagai orang yang baik, tapi Nindy tidak tahu bagaimana penilaian kakak Ardan padanya. Nindy berharap Ara untuk menyukainya, karena Nindy begitu suka dengan sifat Ara yang baik.
Sedangkan untuk Ardan sendiri, Nindy belum terlalu yakin dengan perasaan nya. Masih ada saja yang membuat hatinya ragu untuk menerima ardan, padahal nindy tahu kalau Ardan itu tulus mencintainya.
Seperti sekarang saja , Ardan bahkan Ara membantunya mengurusi masalah rumah sakit tadi. Mereka juga ikut mengantarkan Nindy sampai rumahnya, bahkan Ardan sudah seperti selayaknya seorang suami siaga yang selalu membantunya di jalan susah.
Hati Nindy terasa ada yang menyentuhnya melihat sifat ardan yang seperti ini. hatinya berdesir hangat, kali ini Nindy tidak menampik perasaannya yang sangat mengagumi seorang Ardan.
Nindy sedari tadi sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri sampai lupa dengan sosok Arya yang kini sedang berada di pelukan Ara dan sudah tertidur. Ara menaruh Arya di kamarnya untuk di tidurkan.
Ara keluar dari kamar dan menemukan Nindy yang kini sedang menatap adiknya yang sedang sibuk dengan ponselnya. Ara memperhatikan sikap Nindy pada Ardan dan Ara menyimpulkan bahwa sebenarnya Nindy itu suka dengan adik nya tapi masih ragu. Entah apa yang membuat Nindy ragu dengan perasaan nya.
Drrrtt drrrtt
Ara melihat ponsel nya yang bergetar dan melihat id caller suaminya yang memanggil. Setelah meminta ijin kepada Nindy untuk mengangkat telfon dari suaminya Ara keluar dari rumah Nindy dan duduk di depan teras rumah Nindy.
Ardan sendiri yang sudah selesai dengan urusan nya kembali menghampiri nindy yang kini sedang duduk sambil menundukkan kepala.
"Apa masih pusing Dy? kalau memang masih pusing lebih baik kamu istirahat saja. Biar nanti aku sama mbak ara pulang saja." Nindy mendongak menatap wajah Ardan, Nindy yang merasa akan ditinggal pergi oleh Ardan langsung menggelengkan kepala nya.
"Mas Ardan." Panggil nindy sambil menautkan jari tangannya resah.
"Ada apa dy?"
"Bolehkah ,,,saya menanyakan sesuatu sama mas Ardan?"
"Tentu saja boleh." Nindy mengangkat kepala nya ketika melihat kedatangan Ara yang duduk di sebelah Ardan. Nindy ragu apakah dia harus mengucapkannya di depan Ara atau tidak. Ara yang tahu kalau Nindy merasa tidak nyaman dengan keberadaan nya, berniat ke kamar Arya untuk melihat Arya yang sedang tidur.
__ADS_1
"Maaf mbak nggak tahu kalau kalian sedang berbicara serius. Kalau gitu Mbak akan ke kamar kamu saja yah. Nanti kalau kalian sudah selesai bisa panggil mbak." Ara berjalan menuju kamar Arya meninggalkan Ardan dan Nindy.
Seperti tahu apa yang akan nindy katakan padanya, Ardan mencoba tersenyum manis supaya Nindy tidak gugup.
"Katakan Dy, aku siap menerima keputusan mu." Ardan gugup mendengar jawaban dari pernyataan cintanya kemarin di rumah sakit.
Flashback
Hari ke dua nindy di rawat
Ardan yang baru saja keluar membeli minuman terkejut menemukan Nindy yang sedang menangis di ranjang nya. Dengan tergesa-gesa Ardan menutup pintu ruang rawat inap nindy sampai membuang minumannya asal.
"Hai..Kamu kenapa Dy? Apa terjadi sesuatu? Dy.. Nindy..!" Ardan memberanikan mengangkat tubuh ringkih nindy ke dalam pelukannya. Nindy yang menyadari keberadaan Ardan langsung memeluk balik ardan.
Ardan mengusap punggung nindy dengan lembut sambil menenangkan nindy yang makin menangis tersedu-sedu. Kening Ardan berkerut bingung ada apa dengan Nindy. Padahal tadi dia hanya keluar sebentar waktu Nindy sedang tidur.
Ardan mencoba melepaskan dekapan nya , setelah lepas Ardan menangkupkan kedua tangannya ke wajah Nindy. Ardan menghapus air mata yang membasahi wajah Nindy.
Nindy yang masih sesenggukan hanya bisa terdiam menatap wajah Ardan yang kini sedang menatapnya intens.
"Aku tidak akan kemana-mana Dy. Maaf bila membuat mu menjadi seperti ini, tadia ku hanya berniat membeli minuman dingin karena minuman disini sudah habis. Aku tidak tahu kalau kamu akan bangun secepat itu. Sekali lagi maaf kan aku yah Dy?" Dengan serius Ardan mencoba meminta maaf kepada Nindy atas kelalaiannya meninggalkan nindy sendirian disini.
"Aku hanya..hiks.. tidak tahu..kenapa aku bisa menangis seperti ini mas. hiks...kenapa mas Ardan datang di saat aku membutuhkan seseorang yang bisa menjadi tempatku bersandar...?..Aku takut menjadi terbiasa dengan kehadiranmu mas...Aku takut..hiks..Mas Ardan akan pergi meninggalkan ku juga... seperti yang lain. hiks.."
"Ssttt...Aku tidak akan melakukan itu sama kamu Dy. Aku akan selalu bersamamu apapun yang terjadi. Dan tolong lupakan lelaki itu dan terimalah aku sebagai pendamping hidupmu.Aku berjanji akan membahagiakan mu seumur hidupku." Nindy melihat kedua bola mata Ardan, dan menemukan ketulusan cinta untuk nya.
"Beri aku waktu supaya aku bisa berpikir mas. Tapi selama mas Ardan menunggu tolong jangan menjauhiku. Aku...Aku..."
"Baiklah..Aku tidak akan menjauhiku. Tapi katakan yang sejujurnya,, apa kamu nyaman dengan keberadaan ku sekarang?"
__ADS_1
Nindy mengangguk sebagai jawaban, dan Ardan langsung tersenyum bahagia mendengarnya. Ardan langsung melepaskan tangannya yang berada di wajah Nindy dan beralih membawa tubuh Nindy kedalam dekapan nya.
Flashback off
Nindy mencoba meredakan rasa gugupnya dengan meremas kedua tangan nya. Ketika dirasa sudah siap nindy menatap wajah Ardan dengan serius.
Ardan menunggu dengan harap-harap cemas keputusan nindy. Dia akan menerima semua keputusan Nindy apapun itu. Kalaupun nindy menolaknya sekarang, tapi dia akan selalu berjuang untuk mendapatkan hati nindy sampai Nindy mau menerima nya.
Ara sendiri memilih menguping di belakang pintu kamar yang sengaja tidak di tutup rapat olehnya. Dia ingin mendengar jawaban dari pernyataan cinta Ardan pada nindy. Dia jadi ikut gugup seperti Ardan sekarang. Ara tidak mempermasalahkan status nindy yang janda, karena dia tahu seperti apa sifat Nindy. Jadi selama Ardan menyakinkan nindy untuk menjadi istrinya, Ara juga mencoba menyakinkan ibu nya supaya mau menerima nindy sebagai istri ardan. Sungguh perjuangan kakak adik yang sangat patut di contoh. Mereka begitu kompak demi kebahagiaan keluarga nya.
"Aku..." Ardan menundukkan kepala tak berani menatap nindy. Sedangkan Nindy yang melihat ketegangan di sekitar Ardan coba meredakan nya dengan melepaskan tangan nya dan menarik tangan Ardan yang kini sedang berkeringat dingin.
Ardan yang merasa tangan nya di tarik oleh Nindy langsung mendongak kan kepalanya dan menatap wajah Nindy yang tersenyum manis padanya. Ardan langsung memegang erat tangan nindy yang sama dinginnya dengan nya.
Mereka sama-sama cemas dengan kelanjutan dari ucapan Nindy.
"Aku... Mau mas!!" Dengan senyum yang merekah nindy menjawab lamaran Ardan padanya.
Ardan langsung tersenyum bahagia dan menarik Nindy kedalam pelukannya.
"Kamu beneran mau menikah denganku Dy? Kamu nggak lagi membohongi ku kan? Please Dy jangan diam saja,tolong jawab dengan jujur!" Ardan yang masih tidak percaya dengan jawaban nindy mencoba bertanya kembali. Sedangkan Ara yang mendengar Nindy menerima lamaran Ardan ikut bersorak gembira di tempatnya. Tapi ketika melihat ke ranjang Arya sudah bangun sambil menatap Ara dengan bingung. Ara langsung membopong Arya dan mengatakan kalau mereka akan menjadi keluarga yang sesungguhnya.
"Iya mas. Nindy mau menjadi pendamping mas Ardan. "
Jawab Nindy sambil ikut tersenyum melihat euforia Ardan terhadap jawaban nya. Dia juga sudah memikirkan nya dengan matang. Masalah cinta dia belum yakin terhadap perasaan nya, tapi setelah melihat perjuangan Ardan yang selalu setia menghadapi nya, dia cukup yakin Ardan tidak akan menyakitinya seperti Bagas.
Semoga Penantian cinta nya selama ini bisa terbayar oleh sosok lelaki seperti ardan. Dan tidak salah lagi. Aamiin
Tbc
__ADS_1