
kliiiinngg
"Selamat datang Bu bos. Mau langsung keruangan atau mau makan dulu Bu bos...?"
"Mau langsung ke atas saja. Dan tolong jangan panggil Bu bos, cukup panggil saja Nindy,oke..!!"
"Baik lah Bu Nindy."
fuuuuhhh
Aku menghela nafas lelah. Terserah lah mau manggil apa, yang penting sekarang aku mau ke ruangan mas Bagas saja.
Tadi pagi sebelum berangkat kerja, mas Bagas sudah memperingatkan ku untuk memberitahu nya kalau terjadi sesuatu padaku. Butuh perjuangan untuk ku agar mas Bagas rela membiarkan aku tinggal di rumah sendirian. Mas Bagas tadi sudah memaksa untuk tetap menemani ku dirumah,tapi aku memberi pengertian kalau aku sudah baik-baik saja. Yah.... walaupun kadang masih nyeri, tapi aku tidak ingin membuat mas Bagas jadi bolos kerja hanya untuk menemani ku dirumah.
Dengan berat hati mas Bagas mengijinkan aku sendirian di rumah, dengan syarat setiap setengah jam sekali aku harus menghubungi nya untuk memberitahu kan keadaanku.
Tadi saja ketika aku mau berangkat ke cafe, mas Bagas dengan rewelnya untuk berhati-hati di jalan dan tetap mengabarinya ketika aku sudah sampai cafe. Dan Tadi mas Bagas juga sudah berpesan kepada pelayan cafe untuk memberikan ku makanan buat menemaniku disini, dan tidak lupa untuk menyediakan air hangat untuk ku minum.
Aku memutar kedua bola mataku melihat sifat protektif dari mas Bagas. Sebenarnya mas Bagas hanya mengkhawatirkan ku saja, tapi kalau berlebihan seperti ini aku juga jadi tidak nyaman.
Aku beranjak menaiki tangga untuk menuju ruangan mas Bagas yang terletak di lantai 3. Ketika melewati lantai 2, tiba-tiba ada yang memanggil namaku.
"Nindy...!!" Aku menengok kearah suara seseorang yang sedang melambaikan tangannya padaku.
Ckckck
Ternyata gerombolan ciwi-ciwi yang sedang nongkrong itu adalah teman satu lineku di pabrik. Aku memutar haluan menjadi ke arah orang orang yang dengan heboh nya memanggil manggil namaku dengan lebay.
Kami berpelukan secara bergantian untuk melepaskan rasa rindu karena sudah cukup lama tidak bertemu. Semenjak aku menikah dengan mas Bagas, aku memang selalu berada dirumah untuk mengurusi pekerjaan rumah.
"Dinda sama nayla mana? kok nggak kelihatan?" Aku bertanya pada Rita dan yang lainnya karena tidak menemukan keberadaan mereka berdua.
"Bentar lagi juga sampai dia. Alhamdulillah... temen gue sekarang sudah mengenakan jilbab juga..." Aku terkekeh mendengar ledekan dari teman-teman ku.
"kkkkk. Ya Alhamdulillah, semua sudah ada yang mengaturnya ta, jadi tinggal tunggu waktu saja. "
__ADS_1
"Sekarang mah udah beda lah ngomong sama Bu Hajjah. hahahaha. " Aku tersenyum menanggapinya.
"Hai guys.... Maaf telat..! Sorry....tadi biasalah.. macet di jalan. Loh loh loh.. Sepertinya kita kedatangan tamu tak di undang ini. Assalamualaikum Bu Hajjah..gimana kabarnya? Sombong amat sekarang. Sudah susah di ajak nongki-nongki cantik ini mah..?!" Nayla langsung mendekati ku dan kami saling berpelukan untuk melepas rindu.
"Wa'alaikumsalam. aamiin. Maaf yah.. kemarin kan gue harus adaptasi dulu di lingkungan yang baru. Lagian kan sekarang gue juga sudah punya laki , gue kalau pergi harus ada persetujuan laki gue dulu. Yah walaupun dia ngijinin tapi gue yang nggak enak. Kalian juga besok ngerasain sendiri apa yang gue rasain kok.!"
"Ya loe kan nikahnya sama idola kita semua. Tapi gue salut sama loe, kok loe bisa sih dapetin cintanya pak Bagas? Setahu gue, walaupun pak Bagas orang nya baik tapi dia nggak pernah mau deketin cewek duluan. Lah loe... nggak ada angin nggak ada hujan kok bisa sih sama pak Bagas? Gue juga nggak pernah lihat loe sama dia bareng di pabrik. Ini tahu-tahu sudah main sebar surat undangan pernikahan saja." sahut temenku yang bernama Rani. Dia anak mesin bareng sama nayla.
"Ya nin. Kasih tau kite-kite dong, kapan kalian jadian dan bisa sampai menikah seperti sekarang..?" Aku yang mulai terpojok oleh pertanyaan teman-teman ku,akhirnya meminta bantuan dari Nayla. Tapi.... sepertinya dia pun ikut penasaran juga dengan perjalanan cintaku dengan mas Bagas.
glek
Aku menelan ludah gugup karena bingung harus bercerita atau tidak. Aku mendengar suara derap langkah sepatu yang mendekat ke arah meja kami.
"Permisi Bu. Maaf mengganggu. Ada tamu yang harus ibu temui. Beliau sudah menunggu di lantai atas."
Fuuuuhhh
Aku bernafas lega bisa menghindari pertanyaan dari mereka semua. Aku langsung mengucapkan terima kasih kepada pelayan tadi yang sudah berlalu meninggalkan meja kami. Aku menatap satu persatu temanku yang ada di meja ini. Aku tersenyum minta maaf karena harus meninggalkan mereka sekarang karena ada tamu yang harus aku temui.
drek
Aku mendorong kursiku dan beranjak berdiri untuk pergi meninggalkan mereka. Dengan wajah tidak rela,mereka menatap kepergian ku yang mulai menjauh dari hadapan mereka. Sebelum menaiki tangga, aku melambaikan tangan kepada mereka sebagai salam perpisahan. Aku mengambil ponselku yang berdering tanda ada panggilan masuk, aku melihat id caller dari suamiku. Aku langsung mengangkat nya sambil menaiki tangga.
*Assalamualaikum mas
^^^Wa'alaikumsalam sayang. Kamu dimana sekarang? Tadi kok pegawai mas nyariin kamu di atas malah nggak ada, kamu emang kemana sayang?^^^
Iya mas, maaf. Tadi Nindy bertemu temen kerja di lantai 2, jadi kami berbincang-bincang dahulu. Tadi juga pegawai mas sudah memberitahu kalau tamu mas sudah datang. Ini nindy sudah sampai di ruangan mas.
^^^Ya udah mas bentar lagi juga pulang. Kamu temenin mereka dulu yah, nanti kalau mas sudah sampai kamu bisa nungguin mas di lantai 2 bareng teman-teman kamu. oke sayang?^^^
Iya mas. Ya udah nindy matiin dulu yah, nggak enak soalnya. Assalamualaikum mas. Nanti hati2 di jalan yah. nggak usah ngebut ngebut.
^^^Iya sayang. Wa'alaikumsalam*.^^^
__ADS_1
Aku menutup panggilan telfonku,dan memasukkan ponsel ke dalam tasku. Sebelum memasuki ruangan aku merapihkan penampilanku sebentar supaya enak di pandang klien mas Bagas.
Tok tok tok
"Assalamualaikum pak..Bu..Maaf yah menunggu lama.. Tadi saya bertemu dengan teman sebentar di bawah. Sekali lagi maaf yah pak dan ibu." Ucapku sambil membungkuk kan badanku sebagai permintaan maaf karena sudah membuat klien mas Bagas menunggu ku.
"Wa'alaikumsalam. Santai saja mba. Kami juga baru sampai. Perkenalkan nama saya David dan ini istri saya Wati.!"
"Nama saya Nindy, istri dari pemilik cafe ini. Dan maaf...Sepertinya kalian harus menunggu lagi karena suami saya masih di jalan, mungkin sekitar 15 menit beliau datang." Kami saling memperkenalkan diri dan berbincang bincang untuk menunggu kedatangan dari suamiku.
Aku menjelaskan tentang cafe ini dan perjalanan bagaimana cafe ini bisa sesukses sekarang. Aku masih ingat jelas dengan pembicaraan ku dengan ibu mertuaku kemarin.
Setelah 15 menit berlalu akhirnya mas Bagas pun sampai juga. Aku tersenyum menyambutnya. Aku mencium tangannya sebagai tanda baktiku kepadanya.
Mas Bagas balas tersenyum padaku, dia mempersilakan ku untuk pergi menemui teman-temanku yang masih ada di bawah. Sebelum pergi aku berpamitan kepada Pak David dan juga Bu Wati untuk undur diri terlebih dahulu,dan mereka mempersilahkan ku untuk pergi terlebih dahulu.
Aku berjalan menuruni tangga untuk bertemu dengan teman-teman ku lagi. Mereka masih asyik dengan pembicaraan mereka sendiri tanpa tau kalau aku sudah dekat dengan meja mereka.
Nayla yang menyadari kehadiran ku langsung tersenyum menyambutnya, dia mempersilakan ku duduk di kursi yang aku duduki tadi. Aku memanggil pelayan dan meminta mereka untuk membawa pwsananku ke meja sini.
"Perasaan tadi gue lihat pak Bagas baru saja naik ke atas? kenapa loe malah turun nin?" tanya Nayla padaku.
"Tadi ada klien penting yang harus gue temenin sampai ke pak Bagas datang. Makanya tadi gue pergi setelah pak Bagas datang."Jelasku sambil menyeruput minuman Nayla yang ada di hadapannya. Dia hanya mendecakkan bibirnya melihat kelakuan ku yang masih sama.
ckckck
"Ini Bu pesanannya. "
"Baik. makasih yah mba."
Setelah kepergian pelayan tadi aku mulai makan makananku yang sudah dipesankan oleh mas bagas. Aku sudah mulai ikut berbaur dengan teman-teman ku yang lain. Kami membicarakan masalah pekerjaan dan juga tidak ketinggalan masalah suamiku yang katanya makin hot setelah menikah.
Aku yang mendengarnya hanya ikut tersenyum bersama yang lainnya. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Banyak teman-teman ku yang undur diri mau pulang dan ada juga yang tetap bertahan disini, dan mereka memilih untuk berangkat kerja dari sini jadi tidak perlu repot bolak balik.
Aku menatap Nayla yang sedang sibuk dengan ponselnya, aku langsung menyandarkan kepalaku ke bahunya. Dia yang menyadari itu aku,langsung menepuk kepalaku yang tertutupi jilbab.
__ADS_1
Tbc