
"hiks...gue harus gimana nin? gue bingung harus jelasinnya gimana sama nyokap bokap gue. Loe tahu sendiri gimana orang tua gue selama ini kan nin? mereka pasti kecewa banget sama gue nin. hiks...!"
Aku masih terdiam membisu mendengar informasi yang diberikan oleh Nayla. Dia cukup terpukul dengan kelakuan Nayla. Bagaimana orang tuanya kalau sampai tahu kelakuan anak nya.
Aku melihat Nayla yang masih menangis sesenggukan sambil memeluk kedua kakinya di atas sofa balkon rumahku. Lidahku terasa Kelu untuk berbicara, aku hanya bisa terdiam sambil menatapnya bingung. Apa yang harus kulakukan untuk membantu sahabatku sekarang. Aku meremas rambutku yang terurai, aku cukup frustasi dengan masalah Nayla. Tak pernah terpikirkan oleh ku kalau masalah ini akan terjadi kepada sahabatku sendiri.
Setelah terdiam cukup lama, aku mulai berdiri dan beranjak untuk melihat pemandangan area sekitar rumahku. Aku berdiri di depan pagar pembatas balkon rumahku, Aku merenungkan semua cerita Nayla dan menutup mataku yang mulai panas.
Tes
Air mataku menerobos dinding pertahanan ku yang sedari tadi aku coba halau, tapi sepertinya ini tidak bisa kutahan lagi. Aku merasa lututku lemas sampai tidak bisa menahan bobot tubuh ku, aku jatuh terduduk sambil menangis terisak. Aku tidak bisa membayangkan bila aku berada di posisi nayla sekarang.
Greebbb
Aku menangis meraung bersama Nayla. Kami berpelukan untuk saling menguatkan, Kami tidak memperdulikan dimana kami berada sekarang.
"Gue harus gimana nin? gue juga nggak bisa ngumpetin masalah ini terus dari orang tua gue.huhuhu..." Aku menggigit bibir menahan tangis,dan mencoba untuk menenangkan diriku sendiri. Aku harus bisa menjadi sandaran Nayla di saat seperti ini, aku harus kuat tidak boleh lemah. Aku menghapus air mataku dan menggenggam tangan Nayla erat.
"loe emang harus jujur sama orang tua lo. Lo nggak bisa terus nutupin masalah ini sendirian. Lo juga harus minta pertanggung jawaban dari Rian. Kalau lo nggak berani bilang sama dia, gue yang akan bicara sama dia..!"
"Gue takut nin kalau dia nggak bakalan mau tanggung jawab sama gue nin..."
"Tapi lo nggak bisa kayak gini juga nay..!! Lo nggak bisa nanggung masalah ini sendirian. Lebih baik kita pergi sekarang dan temui si Rian itu. Gue nggak nyangka kalian bisa melakukan kaya gini nay, gue cukup kecewa sama lo!! Tapi gue juga nggak bisa lihat lo kayak gini. Sumpah nay gue...gue...kecewa banget sama kalian berdua..!!" Aku berjalan tergesa-gesa untuk ke kamar untuk mengganti bajuku.
"Please nin..!! Please hiks..hiks..Mau di taruh di mana muka gue kalau sampai orang tahu kalau gue hamil duluan."
Aku langsung berhenti berjalan dan menatap wajah nindy yang sedang bersimpuh di lantai. Aku hanya bisa tertawa miris melihatnya sekarang.
Aku menarik tubuhnya dan meminta Nayla untuk menatap wajahku. Aku tatap matanya dengan serius. Aku mendengus mendengus sebal mendengar ucapannya.
"Lo berdua waktu ngelakuin kaya gitu emang pernah mikirin gimana perasaan orang tua lo yang udah ngasih kepercayaan sama lo. Dan setelah ke ja di an kaya gini, lo baru ingat kalau lo punya malu. Dulu waktu lo lagi enak-enak an sama dia, emang kalian nggak mikirin konsekuensinya?"
"Lebih baik sekarang kita temui Rian buat minta pertanggung jawaban nya, kalau dia nggak mau tanggung jawab sama lo. Gue yang akan bilang sama orang tuanya untuk meminta pertanggungjawaban atas kesalahan anaknya."
"Sekarang lebih baik lo buruan ambil tas lo dan kunci motornya kasih ke gue. Biar gue yang bawa motornya."
Jebret
__ADS_1
Aku menutup kasar pintu kamarku, aku berjalan ke arah lemari dan bergegas ganti baju. Aku mengambil atasan blus yang longgar dan celana kulot serta jilbaku.
Aku keluar menuruni tangga dan menemukan Nayla yang masih terisak. Aku mengambil helmku di atas lemari dan menarik tangan Nayla keluar rumah. Aku mengunci pintu rumahku dan meminta Nayla untuk membukakan pagar supaya aku bisa mengeluarkan motornya dari garasi.
Aku memakai helmku dan menstater motor matic Nayla, walaupun sudah lama aku tidak pernah naik motor tapi aku masih ingat dengan jelas cara mengendarainya. Nayla menanyakan apakah tidak apa-apa membiarkanku mengendari motor,secara aku punya trauma.
Sekarang aku sudah tidak memikirkan masalah lain yang terpenting masalah temanku cepat selesai. Aku meminta Nayla untuk berpegangan dengan erat karena aku akan ngebut.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore lebih,jalanan pasti macet karena lalu lalang kendaraan yang pulang kerja. Aku meminta Nayla untuk memberitahukan alamat lengkap Rian supaya cepat sampai. Nayla masih menangis di belakang punggung ku, walaupun lirih tapi aku masih bisa merasakannya dari nafasnya yang masih memburu.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam lebih aku dan Nayla sampai di depan rumah Rian yang tidak terlalu besar tapi jika dikatakan cukup berada lah.
Di area sekitarnya yang banyak di mukim oleh orang asli pribumi aku melihat banyak orang yang sedang bersantai di depan rumah maupun anak-anak yang sedang bermain di jalanan.
sreettt
Aku melihat Nayla yang seperti ketakutan untuk berkata jujur pada Rian dan orangtuanya. Tapi aku coba meyakinkan nya supaya dia bisa melakukannya. Aku tidak mau ada yang tersakiti lagi, untuk masalah orang tua Nayla itu bisa nanti setelah bertemu dengan Rian dan juga orang tuanya.
Aku dan Nayla memasuki halaman rumah Rian yang sepi, mungkin mereka sedang di dalam rumah. pikirku.
Tok tok tok
Drrrtt drrrtt drrrtt
Aku merogoh tasku dan menemukan nomor suamiku yang sedang menelfon. Aku berniat mengangkat telfon suamiku sebelum mendengar ada jawaban salamku dari sang tuan rumah.
"Wa'alaikumsalam. Ealah nak Nayla toh sama temennya. kirain siapa? sini masuk neng. Maaf tadi ibu lagi di belakang lagi cuci piring. hehehe"
Aku tersenyum tipis dan ikut masuk menemani Nayla yang sedang gugup mencengkeram lenganku erat. Ini pasti akan berbekas pikirku. Ibunya Rian mengajak kami mengobrol basa-basi sambil menunggu Rian yang sedang mandi katanya. Dan ayahnya katanya lagi makan jadi tanggung mau ngabisin dulu.
Drrrtt drrrtt drrrtt
Aku melihat mas Bagas yang masih menelfonku, aku mohon undur diri sebentar kepada ibunya Rian dan juga Nayla. sebenarnya Nayla tidak rela aku pergi meninggalkan nya. tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menatapku tidak rela.
Aku keluar dari dalam rumah Rian menuju kursi taman yang ada di bawah pohon belimbing. Aku mengangkat telfon dari mas Bagas dan belum aku mengucapkan salam mas Bagas sudah bertanya aku khawatir.
As......
__ADS_1
^^^Sayang kamu dimana? kok mas pulang kamu nggak dirumah?^^^
Maaf mas nindy tadi saking paniknya sampai lupa belum meminta ijin dari mas kalau nindy pergi sama nayla. Tapi bukannya mas tadi bilangnya mau lembur yah? kok...udah pulang mas..?
^^^Niatnya mas mau ngasih kejutan buat kamu sayang. Tapi malah mas yang terkejut tidak menemukan keberadaan kamu dirumah.^^^
ehm..Maaf yah mas. Tadi nindy keluar rumah sekitar jam 4 lebih. Ini juga baru sampai di tempat tujuan.
^^^Emang kamu pergi kemana sama nayla? Sampai lupa nggak ijin sama mas.^^^
Nanti nindy jelasin dirumah yah mas. nggak enak kalau lewat telfon.
^^^Iya. Terus kamu pulangnya mau di jemput sama mas nggak sayang..?^^^
Nanti nindy kabarin yah mas. Sekarang nindy ijin dulu sama mas buat matiin telfon ini, soalnya nindy sudah di tungguin sama nayla.
...Ya udah mas ijinin. tapi kamu nggak ketempat yang aneh-aneh kan sayang sama nayla?...
kkkk nggak lah mas. aku cuma mau nemenin Nayla doang kok. ok sayang. I love you. emmuuachhh
^^^I love you too sayang. emmuuachhh. hati-hati yah. Jangan lupa kasih tahu kalau mau di jemput yah.^^^
ehmmm.
Aku mematikan sambungan telepon ku dan bergegas masuk ke dalam rumah, dan ternyata mereka sudah berkumpul semua. Aku memberi salam kepada ayah Rian dan kemudian duduk di sebelah Nayla yang langsung menggenggam erat tanganku.
"ayo nak Nindy, silahkan di minum teh nya . Maaf nih nggak bisa ngasih makanan yang enak buat nyambut nak Nayla dan nak Nindy."
"Iya Tante makasih. Maaf jadi ngerepotin." Ucapke mewakili nayla yang masih diam sambil menunduk.
"Mau lo yang ngomong apa gue yang ngomong..?" Ucapku sambil berbisik pelan.
"Gue aja."
"Oke..gue tunggu.!"
Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya orang tua Rian undur diri untuk pergi ke dalam. Aku Ya melihat keterdiaman dari rian dan Nayla akhirnya tidak sabar untuk berbicara kepada Rian.
__ADS_1
tbc