
Nindy POV
Setelah perceraian ku dengan mas bagas , aku memilih tinggal di rumahku yang dulu bersama anak ku. Aku sengaja berpisah dengan mas Bagas karena aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit diduakan oleh mas Bagas. Istri mana yang rela jika harus berbagi cinta dengan wanita lain, aku bukanlah wanita yang sekuat itu. Aku hanyalah wanita biasa yang akan merasakan sakit jika sang suami menelantarkan ku hanya demi wanita lain.
Sering ku berfikir bahwa ini hanya perasaan sesaat saja ,tapi setelah dilihat-lihat mas Bagas malah tidak berubah dan malah makin menjadi.
Yang paling menyakitkan ketika tiba saatnya bagi diriku untuk melahirkan, mas Bagas menolak menemani proses kelahiran anaknya. alasannya karena dia sedang bekerja. Sesibuk sibuknya orang kalau tahu istrinya akan melahirkan ,pasti dia akan mengajukan cuti dan menemani istrinya. Tapi memang pada dasarnya mas Bagas sudah tidak mencintai aku lagi makanya dia bisa melakukan itu.
Pada titik itu aku mulai yakin bahwa keputusanku sudah bulat dan mengajukan perceraian padanya. Aku tau aku egois karena lebih memilih bercerai disaat aku baru saja melahirkan anaknya, tapi untuk apa mempertahankan pernikahan ini jika suami sudah tidak perduli lagi pada ku.
Mas Bagas sempat menolak kalau aku meminta bercerai padanya, tapi aku sudah tidak sanggup lagi jika harus hidup bersama dengan dirinya. Dari pada aku harus makan Hati terus hidup bersamanya. Selama beberapa hari aku selalu meminta berpisah padanya,akhirnya dia mengabulkan permintaan ku dengan syarat harus menunggu Arya berumur 40, dan aku menyanggupinya yang penting aku bisa berpisah dari dirinya.
Setelah Arya berumur 40 hari kami mulai mengurus perceraian kami, ya walaupun agak ribet tapi Alhamdulillah akhirnya aku bisa bebas dari belenggu ini. Aku juga tidak menuntut harta gono gini dari mas Bagas tapi mantan mertuaku tidak mau mendengarkan ku. Mereka menuntut anaknya untuk tetap membiayai hidup anaknya setiap sebulan sekali, dan untungnya mas Bagas tidak menolaknya. Tadinya mas Bagas menawarkan sebuah mobil untukku tapi aku menolaknya ,karena aku tidak membutuhkan apapun darinya lagi. cukup dia membiayai kebutuhan Arya saja ,sedangkan aku bisa menghidupi diriku sendiri dengan uang tabunganku.
Dan untuk masalh cafe itu, Ayah mas Bagas memaksaku untuk menerimanya karena dia merasa bersalah karena anaknya sudah menyakiti hatinya dan juga membuat nindy menjadi janda diusia nya yang masih muda. Bahkan mereka berjanji tidak akan menelantarkan aku dan cucunya ini.
Aku yang memang tulus menyayangi mereka jadi merasa terharu,dibalik penderitaan ku ternyata ada orang yang benar-benar tulus menerimaku. Aku dan ibu mas bagas saling berpelukan dan menangis bersama. Ibu merasa kasihan melihatku yang harus mengurus Arya sendiri, bahkan mereka berniat mencarikan pembantu untuk ku,supaya aku bisa fokus merawat Arya dan masalh pekerjaan rumah bisa di handel oleh pembantu. Tapi setelah diberi pengertian akhirnya meraka menerima keputusanku.
Kini Arya sudah berumur satu tahun dan Alhamdulillah sudah bisa berjalan, ya walaupun kadang masih jatuh jatuh tapi untungnya Arya anaknya tidak cengeng jadi walaupun jatuh Arya tetap tidak menyerah.
"Mas ardan makasihn yah sudah mengantarkan saya dan Arya sampai rumah. Dan ini uang belanja tadi?"
"Anggap saja saya sedang mentraktir kamu Dy..! Dan tidak perlu merasa sungkan kepada saya. Saya senang bisa membantu kamu. Lain kali jika kamu mau pergi kemana-mana bisa menghubungi saya.!"
Aku menatap Ardan yang kini sedang berjalan kearah samping kemudi dan membukakan pintu mobilnya untuk ku. Sepertinya aku tahu maksud dari sikap Ardan padaku,karena akupun pernah di perlakukan seperti itu dulu oleh seseorang.
Entah kenapa aku jadi takut jika aku akan menyakiti hati Ardan,karena aku belum bisa membuka hatiku untuk orang lain. Aku takut jika harus terluka kembali.
"Makasih mas." Ucapku sambil membawa Arya keluar dari mobil ardan. Dia meletakkan tangan nya di atas kepalaku, walaupun tidak menyentuh langsung. Mungkin maksud Ardan agar aku tidak terpentok body mobilnya.
"Sama-sama Dy. Lebih baik kamu masuk dulu biar saya yang akan bawa barang belanjaan kamu." Ucap Ardan sambil membuka pintu belakang mobil nya untuk mengambil barang-barang ku. Aku bergegas mengambil kunci yang ada di dalam tas tangan ku, dalam keadaan menggendong Arya aku cukup susah menemukan keberadaan kunci rumahku.
Srett
"Biar saya saja yang mencari kunci rumah kamu. Maaf jika saya lancang... saya hanya merasa kamu butuh bantuan makanya saya membantumu." Terang Ardan yang kini sedang menatap wajahku dengan ekspresi tidak enak, kemudian Aku mengangguk sebagai jawaban nya.
__ADS_1
"Ya mas. Maaf sudah merepotkan mas Ardan."
"Tidak sama sekali Dy. Aku malah senang hehehe..." Aku ikut tersenyum melihat tawa Ardan yang begitu bahagia, padahal aku tidak berbuat apa-apa tapi dia malah senang sekali.
"Ini buka kuncinya Dy? "
"Iya betul mas, sini biar saya saja yang buka pintu rumahnya .!"
"Udah saya saja. Kamu pasti susah karena sednag menggendong Arya yang sedang tidur."
sikapnya begitu baik padaku, maafkan aku mas Ardan karena belum bisa membuka hatiku padamu.
"Baru pulang belanja mba nindy...?" Tiba-tiba dari arah belakang ada ibu Ani yang sedang mengeluarkan motornya. Aku membalikan tubuhku dan berniat berbasa-basi sebentar dengan tetanggaku.
"Iya Bu Ani. ibu mau kemana kok udah rapih?" Aku melihat kearah Ardan yang kini sudah membukakan pintu rumah ku, dan dia malah duduk diam di kursi depan halaman rumahku. Aku merasa tidak enak padanya.
"Ya ini mau kondangan ke tempat saudara. tapi nanti malam juga sudah pulang. "
"OH seperti itu. kalau begitu hati-hati di jalan yah Bu. "
"Eh tunggu dulu mab nindy...!!" Cegah Bu Ani ketika aku akan pergi dari hadapannya.
Deg
Aku terkejut dengan anggapan dari Bu Ani. Hatiku tiba-tiba merasa sakit karena perkataan dari Bu Ani. Aku mencoba tersenyum untuk menanggapi nya.
"Buka Bu, dia itu teman saya dari dulu." Ucapku jujur, karena aku memang menganggap bahwa Ardan adalah teman. Tidak lebih.
"Bisalah itu mah, sekarang bilangnya teman tapi kan siapa tahu besok bisa jadi teman hidup. iya nggak mba Nindy...?" Aku yang mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan ini memilih ijin untuk pergi dengan alasan mau menidurkan Arya, dan dengan sangat terpaksa Bu Ani mengijinkan ku untuk pergi.
Aku bergegas melewati pagar rumahku dan menghampiri Ardan kini sudah berdiri menghadap ku. Sepertinya dia mendengar pembicaraan ku dengan tetanggaku tadi, karena jaraknya memang dekat makanya Ardan bisa mendengarnya.
"Kalau begitu saya pulang dulu yah Dy. Maaf jika membuatmu jadi tidak nyaman dengan kehadiran saya disini."
"Tidak mas, mas Ardan tunggu disini biar saya tidurkan Arya dulu,,nanti saya ambilkan minum dulu."
__ADS_1
"Udah nggak usah dy..."
"Kali ini biarkan saya membalas kebaikan mas Ardan padaku."
"Baiklah jika kamu memaksa.!"
Aku pergi masuk kedalam rumah menuju kamar untuk menidurkan Arya. Dan untungnya Arya tidak bangun dan tetap melanjutkan tidurnya kembali. Setelah itu aku membuatkan teh manis buat mas Ardan, tadi aku melihat ke depan untuk mencari keberadaan Ardan dan ternyata Ardan masih tetap duduk didepan.
Aku berjalan menghampiri Ardan di depan sambil membawa teh manis dan juga cemilan berupa kue bolu yang aku buat sendiri rmtadi pagi.
Maklum ibu menyusui mesti banyak makan biar Asi nya melimpah.
"Silahkan diminum mas teh nya, dan ini juga ada kue buatan saya sendiri, harap maklum kalau rasanya kurang enak. hehehe" Ucapku setelah sampai dihadapan Ardan, kemudian Aku duduk di kursi yang satunya lagi.
"Makasih Dy,,maaf jadi ngerepotin kamu. Wah kayaknya enak nih, saya makan yah Dy..?!"
Ucap Ardan sambil mengambil satu kue dan memakan nya dengan lahap.
"Wow, ini mah bukan enak lagi Dy. Tapi justru ini kue yang paling enak yang pernah saya makan. Boleh nggak saya minta buat di bawa pulang..?!"
"Kkkk,,, bisa aja mas Ardan ini. Kalau mas Ardan suka biar nanti saya bawakan buat mas Ardan. tadi memang saya membuat cukup banyak kue, jadi bisa di berikan buat mas Ardan kalau emang suka."
"Alhamdulillah,makasih yah nin."
"Seharusnya saya yang bilang seperti itu, kan mas Ardan sering tuh nolongin saya. Jadi tidak seharusnya mas Ardan seperti itu. "
"Saya bisa merasakan makanan buatan kamu juga sudah lebih dari cukup Dy.!"
Aku merasa tersentuh dengan kebaikan dari mas Ardan , Semoga Allah memberikan jodoh yang baik untuk mas Ardan. Saat kami sedang mengobrol di teras rumah , tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumahku. Aku yang mengenal siapa pemilik mobil itu hanya bisa menghela nafas.
**Untuk apa dia datang kesini?
Tbc
JANGAN LUPA MAMPIR KE CERITAKU YANG SATUNYA YAH TEMAN-TEMAN**.
__ADS_1
Ditunggu Like dan dukungannya yah teman-teman.