Penantian Cinta

Penantian Cinta
chapter 76


__ADS_3

"Tuan bagaimana dengan rapat dengan para dewan direksi. Apakah saya harus menunda nya atau bagaimana..?" Tanya sang asisten kepada Ardan yang kini sedang fokus dengan laptopnya. kini ia sedang berada di ruang rawat inap nindy.


Baru kali ini Doni melihat bos nya yang biasanya mengutamakan pekerjaan kini malah memilih bekerja sambil menemani seorang wanita.


"Bilang kepada pak Dayat untuk memimpin rapat hari ini. Dan kamu bisa menemaninya, ini sudah saya selesaikan semua berkas berkas nya tinggal kamu bawa ke kantor kembali. Dan jangan lupa kamu nanti pesankan saya makan siang kesini yah..!!" Ardan memberikan semua berkas kepada asistennya dan kemudian menyuruh Doni untuk pergi dari ruangan nindy.


"Baik tuan. Nanti akan saya pesankan makanan yang biasa tuan makan. Kalau begitu saya permisi tuan."


Setelah kepergian Doni, Ardan kembali duduk di kursi sebelah ranjang nindy. Ardan menatap nindy yang kini sedang terlelap tidur, dia sengaja meminta perawat untuk memakaikan kerudung di kepala nindy, supaya jika nanti nindy sadar dia tidak akan malu padanya.


Sudah lewat jam makan siang, Ardan juga sudah makan tadi. Dia kini sedang menelfon kakak nya Ara,untuk menanyakan keadaan Arya.


"Giman arya mbak? Dia rewel nggak?"


"Ya tadi nangis sebentar waktu mau tidur, tapi setelah aku berikan susu untuknya dia langsung tidur. Nindy gimana..? Udah sadar belum?" Tanya Ara pada Ardan. sedangkan Ardan sendiri yang kini sedang berdiri di balkon ruang VVIP, kini menatap wajah Nindy yang masih terjaga dalam tidurnya.


"Kata dokter, paling sebentar lagi nindy bangun mbak. Tapi aku nggak tahu kapan itu waktunya.?"


"Yang sabar aja. Kamu udah makan dan?"


"Sudah tadi mbak, dikirimin sama doni. Mama gimana mbak?..."


"Kamu nggak usah khawatir sama Mama. sebentar lagi juga udah baikan dia. Tau sendiri Mama kayak gimana."


"Baiklah mbak. makasih yah. Aku titip Arya dulu yah mba. !"

__ADS_1


"Heem."


Ardan memutuskan sambungan telfon nya dan beranjak mendekati nindy, dia duduk di samping nya dan mengucapkan doa supaya Nindy cepat bangun.


"Ah....." Ardan yang mendengar suara Nindy langsung bangun dan memandang Nindy yang kini sedang membuka matanya perlahan.


"Dy... apa yang kamu rasakan? Apa kamu haus?" Tanya Ardan. Dia tidak berani memegang Nindy karena takut nindy tidak nyaman dengan nya.


"Aku haus mas." Sambil menatap Ardan Nindy berucap pelan. Ardan yang mendengar nya langsung mengambil gelas yang sudah di beri sedotan tadi. Dia tahu pasti Nindy belum bisa minum secara langsung jadi dia sudah menyediakan sedotan untuk nindy pakai setelah sadar.


"Makasih mas. Arya di mana mas?" Nindy melihat ruangan asing ini dengan pandangan khawatir karena tidak menemukan sosok anaknya dimanapun.


"Arya aku titipkan sama mbak Ara Dy. Maaf aku tidak meminta ijinmu terlebih dahulu. Karena aku pikir akan lebih aman buat Arya berada disana. kata dokter anak kecil juga tidak boleh terlalu lama di dalam rumah sakit takut tertular Dy. sekali lagi maafkan aku dy.!"


Nindy yang melihat wajah bersalah dari Ardan malah menjadi tidak enak.


"Ini tidak ada apa-apanya bagiku Dy. Aku ikhlas menolong mu. Lagian aku juga pernah bilang kepada kamu, aku akan setia menunggu kamu dy,,sampai kapan pun." Dengan berani Ardan menatap dalam kedua bola mata Nindy, dia ingin mengatakan yang sejujurnya kalau dia sangat tulus mencinta nya.


Tes


Air mata turun dari mata nindy, dia merasa tidak pantas di cintai oleh ardan . Nindy merasa bahwa harusnya Ardan mencintai orang lain yang bahkan lebih dari segala-galanya dari Nindy.


"Tapi mas, aku hanya seorang janda..."


"Walaupun kamu janda, tapi aku tidak perduli dy. Yang aku inginkan itu kamu menjadi pasangan hidupku, tidak ada yang lain." Sela ardan yang mengerti akan sambungan ucapan Nindy. Dia tahu pasti Nindy Selma ini cukup tertekan dengan pandangan orang lain padanya. tapi Nindy sama sekali tidak memperlihatkan kepada siapapun.

__ADS_1


Nindy menangis terisak sambil menutupi wajahnya dengan tangan nya. Dia membiarkan Ardan melihatnya yang kini sedang terpuruk. Nindy mengambil nafas untuk meredakan rasa sesak di dadanya, dan dia juga menatap wajah Ardan yang kini sedang menatapnya tak berkedip.


"Mas Ardan tahu aku pernah mempercayakan hidupku kepada orang yang aku anggap akan membahagiakan ku. Dia juga berjanji tidak akan membuat ku menangis, bahkan dia berjanji tidak akan meninggalkanku. Tapi....Nyatanya dia sendiri yang mengkhianatinya. Dia yang menyakitiku, dia juga yang meninggalkan ku. Hiks...Aku sudah berusaha untuk bertahan dengan pernikahanku dulu, tapi semakin aku tahan semakin sakit hati ini mas. hiks..." Ardan yang baru kali ini mendengar isi hati Nindy,ikut terlarut dalam emosi. Ardan mengambil tangan nindy yang sedang di hadapannya.


"Aku tahu Dy, aku hanyalah manusia biasa yang kapan saja bisa membuat hati orang terluka. Dan aku juga tidak mau menjanjikan sesuatu yang muluk-muluk kepadamu. Cukup kamu menerimaku, dan aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk mu." Ardan mengusap tangan nindy yang kini berada dalam genggamannya. tangannya begitu dingin.


Nindy sendiri masih belum bisa menahan tangisnya, jika dia mengibgat masa lalunya dengan Bagas. Nindy pasti akan seperti ini.


"Mas...bisakah kamu memeluk ku sebentar saja...?" Pinta Nindy kepada Ardan. Nindy benar-benar membutuhkan orang yang bisa menjadi sandaran untuk nya jika sedang lelah.


Pertama kali mendengar permintaan nindy, Ardan tidak percaya dengan pendengarannya. Ardan sampai mencubit tangannya sendiri, tapi melihat keseriusan di wajah Nindy akhirnya ardan sadar kalau Nindy tidak bercanda.


Ardan bangun dari kursinya dan duduk di atas ranjang yang sedang di tiduri Nindy. Dengan tangan gemetar Ardan mengangkat tubuh nindy dan membawanya ke dalam dekapannya.


Ardan merasa jantungnya langsung berdesir dan seperti ada sengatan kecil ketika nindy dengan erat melingkarkan tangannya ke tubuh ardan. Nindy yang seperti menemukan kehangatan di hatinya yang dingin, makin mengeratkan pelukannya dan menangis terisak. Nindy ingin menumpahkan isi hatinya kepada ardan, sambil mengucapkan umpatan buat Bagas. Nindy semakin merasa lega karena sudah bisa membuang rasa sesak di dadanya.


Cukup lama mereka dlaam posisi seperti ini, dan sepertinya Nindy kelelahan menangis hingga tertidur di pelukan ardan. Ardan sendiri dengan tenang merebahkan nindy kembali di atas ranjangnya. Dia mengecup kening nindy dengan ras cinta yang menggelora.


"Cukup kali ini aku melihatmu seperti ini Dy. Aku tidak akan membiarkan siapapun merusak kebahagian mu. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti mu ataupun arya. ini janjiku padamu Dy. dan setelah ini ku harap kamu bisa membuka hatimu untukku."


Ardan menatap nindenagn penuh cinta. Dia mengusap wajah Nindy denagn lembut, dia tidak mau membuat nindy terbangun dari tidurnya.


Cup..


Tbc.

__ADS_1


Jangan lupa mampir di ceritaku yang lain yah. ceritanya nggak kalah seru loh.



__ADS_2