
Nindy yang kini sudah selesai dengan urusannya berniat mengunjungi rumah sahabat nya alias Nayla. Tadi Nindy sudah menghubungi Nayla, dan Nayla sangat antusias dengan rencana kedatangan nindy dan juga Arya anaknya.
Setelah membereskan semua perabotan arya, Nindy yang mengira kalau Arya bersamanya di dalam ruangan, memanggil nama anaknya itu.
"Sayang...Ayo kita bersiap-siap untuk pergi kerumah Tante Nay dan bertemu dengan kakak Ajun. Sayang...Arya...?"Nindy yang heran karena tidak mendengar suara Arya ataupun celotehan anaknya itu bergegas mencarinya.
Nindy mencari Arya di ruangannya tapi tidak ketemu, dan ketika melihat pintu ruangannya terbuka,, Nindy bergegas keluar dari ruangannya untuk mencari keberadaan anaknya itu. Maklum Arya baru bisa berjalan,jadi sekarang lagi senang-senangnya Arya mengekploitasi semuanya.
Saat Nindy sudah mencapai pintu, dia melihat Arya sedang di gendong oleh seorang lelaki tapi Nindy tidak tahu siapa lelaki itu. Karena lelaki itu berdiri membelakangi nya, dan ketika Arya yang sedang sibuk berceloteh menoleh ke arah Nindy,dia langsung tersenyum sambil memperlihatkan giginya yang masih sedikit.
"Ma..ma.." Ardan yang mendengar anak kecil didalam gendongannya memanggil seseorang dibelakangnya dengan sebutan Mama ,kini membalikan badannya dan mencari sosok Mama bagi anak itu.
Deg
Dua insan itu saling terdiam dan terpaku, menyadari kehadiran masing-masing. Ardan merasakan hatinya menghangat karena bisa bertemu dengan wanita yang selama ini dia cintai. Sedangkan nindy tidak menyangka bisa bertemu dengan Ardan, sosok lelaki yang selama ini sering menolongnya.
"Ma..ma..kkkkkkk"
Ardan dan Nindy tersadar dari keterpakuannya setelah mendengar panggilan Arya dan juga suara tertawa Arya yang sangat lucu. Ardan mengikuti tangan Arya yang menunjuk seorang wanita didepan sana yang dipanggil Mama oleh Arya. Ketika Ardan dan Arya sampai ke hadapan wanita itu Arya langsung meminta gendong kepada wanita itu,dan langsung diterima oleh mamanya.
Ardan menatap wanita itu yang ternyata adalah Nindy dengan raut yang sulit untuk diartikan. Menyadari mereka menjadi tontonan orang-orang disekitarnya, Nindy meminta Ardan untuk mengikutinya masuk kedalm ruangannya.
Ardan mengikuti kemauan nindy yang menyuruhnya masuk kedalam sebuah ruangan yang sepertinya punya pemilik cafe ini. Ardan duduk di sofa setelah dipersilahkan oleh nindy.
Ardan melihat Nindy yang tampak terbiasa dengan tingkah laku anaknya yang sangat aktif itu. Senyum Ardan menghilang setelah mengingat kalau nindy sudah milik orang lain. Untuk mengurangi rasa canggung di antara mereka Ardan meminta ijin kepada Nindy untuk ke toilet sebentar,karena sepertinya Ardan sudah tidak bisa menahan rasa ingin buang air kecilnya.
Nindy yang melihat perubahan dari ekspresi Ardan hanya bisa tersenyum tipis sambil mempersilakan Ardan menggunakan toilet yang ada di ruangannya. Setelah kepergian Ardan ke kamar mandi, nindy bermain dengan anaknya kembali. Nindy menciumi anaknya yang telah membuatnya khawatir karena telah pergi tanpa sepengetahuan nya.
"Kekekeke..." Suara tawa Arya menggema di sekitar ruangan nindy,karena nindy dengan sengaja menggelitiki tubh Arya.
__ADS_1
"Kkkk, anak Mama yang paling ganteng ini nggak boleh yah bikin Mama khawatir lagi. lain kali kalau mau keluar ajak Mama yah sayang. nih rasain nih hukuman buat Arya yang sudah membuat Mama khawatir setengah mati."
Nindy tidak menyadari kegiatannya yang sedang bermain dengan anaknya di lihat oleh Ardan yang sudah selesai dengan hajatnya dan kini sedang memandang kelakuan anak dan ibu itu. Senyum Ardan tak bisa dicegah melihat tingkah menggemaskan anak dan ibu itu.
Ardan jadi membayangkan kalau dia yang berada diposisi itu, dia pasti akan sangat bahagia. Tak mau berlama-lama menjadi penonton,ardan berjalan menghampiri nindy dan juga anaknya.
Nindy yang baru menyadari kehadiran Ardan langsung menghentikan tangannya yang sedang menggelitiki anaknya, dia memperbaiki kerudungnya yang agak melorot karena aksinya tadi bersama Arya anaknya.
"Bagaimana kabar kamu Dy?" Ardan bertanya kepada Nindy yang kini sedang memangku anaknya. Tapi sepertinya Arya tidak mau dipangku oleh Nindy dan meminta turun dari pangkuan nindy kemudian berjalan ke arah ardan.
Ardan yang melihat anak nindy menghampirinya dan meminta di pangku olehnya,,,langsung tersenyum dan meminta ijin kepada nindy. Setelah mendapat persetujuan dari nindy,ardan langsung mengangkat Arya dan di dudukkan di atas pangkuannya.
Arya langsung tertawa bahagia karena sudah dipangku oleh Ardan,sedangkan nindy sendiri merasa sungkan karena perbuatan anaknya yang minta di pangku oleh Ardan.
Padahal selama ini, sebenarnya Arya cukup sulit jika harus berhadapan dengan orang baru. Apalagi sekarang Arya sudah mengenal ibunya sendiri ,jadi cukup sulit bagi nindy untuk melakukan kegiatan seperti biasanya. Karena Arya akan menangis jika ditinggal sebentar saja oleh nindy, jadi itu kadang membuat Nindy kewalahan sendiri. Jangankan untuk merawat diri, nindy bisa makan juga sudah senang.
"Alhamdulillah baik. Dan makasih yah tadi sudah membantu saya menemukan anak saya. Tadi saya sedang membereskan keperluan Arya jadi tidak tahu kalau Arya pergi dari sini. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih kepada Anda." Ardan yang kini sedang fokus dengan makhluk menggemaskan di hadaoannya, kangsung mengangkat wajahnya dan memandang wajah nindy yang sedang menatapnya. Nindy menurunkan pasangannya dan mengalihkan pandangannya melihat ke arah anaknya yang kini sedang sibuk dengan dasi yang di gunakan oleh Ardan.
"Kamu nggak perlu sungkan seperti itu kepada saya Dy, justru saya malah senang sekali bisa bertemu dengan kamu dan jagoan kecil kamu. Tadi siapa nama anak kamu Dy..?"
"Ah..namanya Arya, Tuan." Ardan yang mendengar panggilan nindy kepadanya langsung menatap nindy tidak suka.
"Panggil Ardan saja Dy..!!" Nindy yang menyadari tatapan tidak suka Dari ardan langsung menggaruk belakang kepalanya.
"Baiklah Mas Ardan." Ardan langsung tersenyum mendengar panggilan nindy padanya, rasanya begitu bahagia hanya mendengar panggilan nindy padanya.
"Makasih dy, kalau boleh tahu kamu mau kemana? Sepertinya kalian mau pergi..?" Ardan membiarkan Arya yang sedang bermain dengan dasinya, dan ketika Ardan meliaht Arya yang berniat memasukkan dasi kedalam mulutnya ,Ardan langsung mencegahnya dengan menjauhkan Arya dari dasinya.
"Nggak boleh yah sayang.. Ini kotor nggak boleh dimasukkan kedalam mulut. Arya lebih baik mainan yang lain yah...?!" Nindy yang melihat interaksi Ardan dan anaknya, tersenyum manis. Sepertinya Ardan sudah terbiasa dengan anak kecil, karena dia sangat natural sekali bermain Dengan Arya.
__ADS_1
"Mas Ardan sudah punya anak berapa..?"
Doeng
Ardan terdiam mendengar tuduhan nindy padanya, Ardan langsung mengerucutkan bibirnya sambil mendekap Arya di pelukannya. Dia merasa sakit hati atas pertanyaan nindy.
"Apa aku sudah terlihat tua sekali yah Dy? Sampai-sampai kamu menganggap aku sudah punya anak...?" Nindy yang melihat Ardan seperti itu menjadi salah tingkah.
Apa aku salah bicara yah ?
"Bukan...maksud saya....!" Nindy yang salah tingkah membuat Ardan tidak jadi marah padanya. Dia menatap ekspresi nindy yang baru kali ini dia lihat.
"Maksud aku..eh...maksud saya.. Mas Ardan sepertinya suka dengan anak kecil. Dan juga...dan juga..." Ardan yang melihat Nindy seperti susah untuk berbicara langsung tersenyum dan menyela ucapan nindy.
"Aku memang udah terbiasa dengan anak kecil, karena aku sudah mempunyai ponakan 3, yang paling kecil umurnya tidak jauh dari Arya. Dan kamu ingat nggak Dy? Sama wanita yang pernah aku anterin ke dokter kandungan..? Ituloh waktu kamu lagi di antar oleh mertua kamu priksa kandungan juga."
Nindy yang mengingat itu langsung tersenyum dan mengangguk kan kepalanya tanda mengerti.
"Dia itu kakak pertamaku, suaminya sedang sibuk dan tidak sempat menemaninya kontrol, makanya dia menyuruhku untuk menemaninya. "
"Oh seperti itu...." Nindy yang tidak tahu harus menanggapinya seperti apa ,memilih diam dan melihat ke arah anaknya yang sepertinya sudah tertidur di pelukan Ardan. Dia jadi tersenyum melihatnya.
"Dan for you information , aku masih lajang dan belum mempunyai anak." Ardan dengan sengaja menekankan kata terakhirnya kepada nindy dan itu makin membuat wajah nindy bersemu merah.
tbc
Double up.
Jangan lupa like dan dukungannya yah. 😍😍😍😍😍
__ADS_1