Penantian Cinta

Penantian Cinta
chapter 74


__ADS_3

Malam sudah berganti pagi, suara Ayam berkokok membangunkan orang orang yang masih tidur. Di sebuah rumah ada seorang wanita yang kini sedang bergelung di bawah selimut, tubuhnya menggigil kedinginan bahkan wajahnya sudah pucat.


Dia adalah ayunindya atau biasa dipanggil nindy. Sejak semalam badannya terasa lemas bahkan dia sempat mengigau memanggil ibu nya. Tak ada siapapun yang menemaninya, bahkan anaknya pun ikut rewel semalam, jadi makin membuat nindy pusing di buatnya. Untung ketika jam 4 pagi anaknya sudah diam dan tidur nyenyak. Sementara nindy sendiri masih berjuang melawan rasa sakit nya.


Nindy berusaha bangun dari tidurnya dan mengambil ponselnya yang ada di nakas sebelah ranjang, dia berniat meminta tolong kepada Nayla untuk membelikannya obat dan makan.


Tut..tu..tu...


Sudah 3 kali Nindy mencoba menghubungi nomor Nayla tapi tidak diangkat oleh Nayla. Nindy mengeratkan jaket yang di pakai karena badannya merasa kedinginan.


Ia mulai mencari nomor kontak siapapun yang bisa di hubungi, tapi dari sekian banyak orang yang di kenal nindy tak ada satupun yang mengangkat telfon nya. Nindy mulai frustasi dibuatnya, tinggal satu nomor yang belum dihubunginya. Ia ragu untuk menghubungi nomornya, kemarin dia sudah membuat lelaki itu kecewa, apa dia mau menolongnya.


Tapi semakin di tahan badannya terasa semakin tidak karuan, bahkan nafasnya mulai tersenggal-senggal. Tak ada pilihan lain selain menghubungi nomor nya. Nindy memencet nama kontak nya dan


Tut...Tut... Tut...


Nindy hampir menyerah karena tidak di angkat juga olehnya, ketika Nindy berniat meletakkan ponselnya ,sayup sayup terdengar suara dari ponselnya, nindy melihatnya dan ternyata telfon nya diangkat oleh orang itu. Nindy merasa ragu , apa iya harus meminta tolong kepada lelaki itu atau tidak.


Halo Dy.... halo...Dy... Nindy...apa kamu ada disana...?


^^^*Ha..Lo..Mas...^^^


Kenapa Dy? Apa terjadi sesuatu?


^^^Maaf mas...hiks*..^^^


Ardan yang mendengar suara isakan nindy langsung bangun dari tidurnya.


Hai ada apa Dy? apa Arya baik-baik saja?


^^^Hiks ...Arya Baik-baik saja mas.hiks...tapi...^^^


Ok. Aku akan ke rumah kamu sekarang juga. Tunggu aku dirumah ,oke.


^^^tapi....Tut Tut Tut^^^


Ardan langsung mematikan sambungan telfon nya dan bergegas turun dari ranjang. Dia asal mengambil kaos dan juga celana panjang. Dia tidak mungkin kerumah Nindy hanya memaki kolor saja kan.


Ardan memacu motor sport nya dengan kecepatan tinggi, Untung jalanan di pagi hari masih lengang jadi membuat Ardan makin leluasa memacu motornya.


Jarak rumah Nindy dan ardan kalau naik mobil bisa membutuhkan waktu satu jam itupun jika tidak terlalu macet. Dan saat ini ardan tidak mau membawa mobilnya dan memilih memakai motor sportnya untuk kerumah Nindy. Sekitar 30 menit Ardan sampai di depan rumah Nindy, dia melihat ada tetangga Nindy yang sedang menyapu depan rumahnya. Kalau tidak salah dia adalah orang yang kemarin.

__ADS_1


Ardan turun dari motornya dan berjalan menghampiri orang itu, sedangkan Bu Ani yang melihat kehadiran Ardan langsung menghentikan kegiatan menyapu halaman rumahnya.


"Permisi Bu...Maaf mengganggu."


"Tidak mas, ada apa yah mas?"


"Begini Bu, bisa minta tolong mengantar saya masuk kerumah Nindy. Saya takut terjadi apa-apa dengan nindy.Tadi dia menelfon saya sambil menangis.Jadi ibu bisa menemani saya untuk melihat keadaaan nindy?" Pinta Ardan kepada Bu Ani yang kini langsung menyuruhnya untuk mengikutinya masuk kedalam rumah Nindy.


Bu Ani memencet bel rumah Nindy berkali-kali tapi tak ada sahutan dari dalam rumahnya. Ardan mulai khawatir dengan keadaan Nindy yang sama sekali tidak membukakan pintu untuknya.


"Bu sepertinya kita harus memanjat pagar ini deh Bu. Saya takut terjadi apa-apa dengan Nindy. saya sudah mencoba menghubungi nomornya juga tidak di jawab juga." Bu Ani melihat ardan yang kini sangat khawatir kepada Nindy menjadi ikut khawatir. Dia melihat suaminya yang sedang mengeluarkan motor, kemudian memanggilnya untuk kesini.


"Ada apa Mah,kenapa pagi pagi Mama sudah berduaan dengan lelaki lain."


"Stop berprasangka buruk. ini tuh temennya si nindy. Tadi mas ini katanya di telfon sama mba nindy dan mba nindy nangis nangis makanya mas ini kesini, mau ngecek siapa tau terjadi sesuatu yang buruk terhadap mba nindy. "


"Oh gitu toh.Ya udah pencet bel nya kan beres." Ardan makin frustasi di buatnya oleh pasangan suami istri ini, dia melihat kaca jendela rumaha Nindy dengan khawatir.


"Sudah pah,,tapi nggak ada sahutan dari mba nindy. Mas ini tadi minta buat naikin pagar rumah mba Nindy, bapak temenin gih."


"Owalah ngomong toh dari tadi. Ayo mas ,sini saya temenin. Nanti kalau emang mba Nindy nya tidak buka pintu nya kita bisa dobrak bareng,bagaimana?"


Bruk. bruk. bruk, bruk


buugh


Setelah dobrakan yang ke empat akhirnya pintu rumah Nindy terbuka juga, ardan di temani suami Bu Ani masuk kedalam rumah Nindy. Ardan mengetuk pintu kamar Nindy,tapi tak ada sahutan juga, akhirnya ardan meminta ijin kepada suami Bu Ani untuk membuka pintunya.


Ceklek


Deg


Jantung Ardan terasa berhenti melihat Nindy yang kini sudah tergeletak di lantai kamarnya, Ardan yang sadar langsung mendekati nindy yang tidak memakai hijabnya. Dia meminta tolong suami bu Ani untuk mengambilkan jilbab di.lemari nindy, dia tidak mau membuat nindy tidak nyaman karena telah melihat Nindy yang tidak memakai hijabnya.


"Ini, saya asal mengambil saja mas."


"Iya pak. makasih. "


"Lebih baik kita bawa kerumah sakit aja mas mba Nindy nya, biar dokter yang menangani nya. saya akan menyuruh tetangga untuk mengantarkan kita kerumah sakit."


Ardan hanya mengiyakan saja perkataan suami Bu Ani, sebelum itu ardan sudah memakaikan jilbab ke kepala nindy. Dia lalu menggendong tubuh nindy yang terasa panas sekali, Ardan sampai tak kuasa menahan air mata nya melihat Nindy yang seperti ini.

__ADS_1


Ardan tadi sudah menemukan kunci gerbang rumah Nindy dan meminta suami Bu Ani untuk membuka gerbangnya. Sesampainya di pintu depan banyak tetangga Nindy yang menunggu dengan khawatir keadaan Nindy.


Sedangkan Arya ,dia sudah di titipkan ke bu Ani. Mobil yang akan membawa Ardan dan Nindy kini sudah datang. Selama perjalanan ardan tidak pernah putus berdoa semoga Nindy baik-baik saja, Ardan menyandarkan tubuh nindy di pelukannya.


Bahkan Ardan tidak mengijinkan tetangga Nindy untuk membantunya menggendong nindy, biarlah hanya Ardan saja yang memegang tubuh nindy.


Sesampainya di depan rumah sakit Ardan berteriak memanggil dokter untuk menangani nindy-nya. Ardan tidak peduli keringatnya sudah membasahi bajunya, yang dia pedulikan adalah kesembuhan nindy. Saya melihat kedatangan Bu Ani dan Arya, ardan langsung meminta Arya dari Bu Ani. Ardan langsung mencium wajah Arya yang masih tertidur.


Ardan menangis memeluk Arya, dia sangat khawatir dengan keadaan Nindy. Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Nindy, Ardan tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


Bu Ani dan suami yang melihat Ardan menangis hanya bisa saling melirik, mereka tidak tahu ada hubungan apa nindy dengan lelaki ini. Tapi setelah di lihat-lihat sepertinya mereka paham dengan ini semua, Mereke mengira kalau Ardan pasti sangat mencintai nindy.


"Sayang,,kita berdoa yah semoga Mama kamu baik saja. Ok.." Ardan mendekap Arya untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut.


Drrrtt drrrtt


Ardan mengambil ponselnya yang ada di saku celananya, dan melihat nama mamanya ada disana. Dengan tangan gemetar Ardan mengangkat telfon dari mamanya


"Dan kamu dimana? Mama cari- cari kamu di kamar kok nggak ada..?" Ardan menghela nafas untuk meredakan suaranya agar tidak terdengar aneh.


"Maaf mah. fuuhhhh, Ardan sekarang sedang di rumah sakit..?"


"Apa? Kamu sakit sayang..?"


"Bukan mah..Tapi....?"


Ardan ragu untuk mengatakan yang sejujurnya, tapi mamanya pasti akan mendesaknya. Ketika dia bingung harus menjawab apa, Arya tiba-tiba bangun dan menatap wajah Ardan dengan senyum yang merekah.


"Pa..pa.." Panggil Arya setelah Melihat wajah Ardan berada tepat di hadapannya. Ardan langsung tersenyum manis melihatnya.


Sementara itu Mama Ardan yang mendengar suara anak kecil langsung mengerutkan keningnya bingung.


"Dan suara anak kecil siapa itu? Kamu jangan bikin Mama penasaran deh. cepat beritahu Mama sekarang juga..!" Mama Ardan berkata tegas kepada Ardan supaya jujur padanya.


"Sebenarnya ini adalah anak dari wanita yang Ardan cintai mah...?"


Jelas Ardan sambil menunggu suara ibunya yang tiba-tiba menghilang setelah mendengar pengakuan dari Ardan.


Mama Ardan sangat syok mendengar bahwa anaknya mengaku mencintai seorang wanita dan sudah mempunyai anak pula.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2