Penantian Cinta

Penantian Cinta
chapter 40


__ADS_3

Pagi hari ini kami berniat mengunjungi orang tua mas Bagas. Sudah 2 minggu kami menjalani pernikahan ini dengan baik, kami sudah mulai membiasakan diri masing-masing.


Walaupun ada saja kebiasaan yang membuat aku dan mas Bagas terkejut dengan kebiasaan kami. Tapi itu tak menyurutkan rasa cinta kami, justru itu yang membuat kami belajar saling menerima kekurangan masing-masing.


Aku yang sudah terbiasa hidup bekerja keras dan dikelilingi banyak teman kini harus hidup di rumah terus dan hanya mengurus pekerjaan rumah sendirian,kadang merasa kangen dengan masa masa itu semua.


Nayla juga kadang menelfon dan meminta ketemuan, tapi aku selalu menolaknya karena tidak enak kepada mas Bagas. Sebenarnya kalau aku ijin sama mas bagas, pasti di ijinin tapi aku yang merasa tidak nyaman dengan itu. Mungkin kalau besok ada waktu aku usahakan untuk bertemu dengan nayla.


Mobil mas Bagas sudah mulai memasuki pekarangan rumah mertuaku. Mas Bagas turun dari kursi kemudi,dan berputar mengelilingi mobilnya untuk membukakan pintu untuk ku. Aku mengucapkan terimakasih atas perhatiannya,dan dia mencium keningku sebagai balasannya.


Kami berjalan bersisian menuju pintu rumah megahnyang ada di hadapan ku, mas bagas mengalungkan tangannya mesra pada pinggangku. Aku melihat keadaan yang cukup sepi di daerah perumahan mertuaku,mungkin orang orang lebih memilih dirumah sambil menghabiskan waktu libur mereka tanpa perlu repot repot keluar rumah.


Setelah sampai didepan pintu, mas Bagas memencet bel yang sudah di sediakan di samping pintu. Setelah beberapa detik terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan seorang pelayan perempuan yang sedang memegang kemoceng.


"Silahkan masuk tuan dan nona. Nyonya sedang berada di halaman belakang sambil bermain dengan peliharaan nya."


"Terimakasih bi " Kami memutuskan langsung menuju halaman belakang untuk bertemu dengan ibu kami.


Sampai di halaman belakang kami melihat ibu yang sedang memberi makan kucing Persia nya dengan tangannya sendiri. Aku berjalan mendekatinya dan langsung mengucapkan salam.


"Assalamualaikum ibu."


"Wa'alaikumsalam. Aduh akhirnya anak ibu datang juga. Sini sayang ibu pengin peluk kamu, ibu udah kangen banget sama kamu sayang."


Ibu mertua memelukku erat, dia juga mencium kedua pipi ku. Aku tersenyum menyambutnya, .

__ADS_1


"Iya maaf yah Bu. Nindy baru sempat berkunjung karena kerjaan mas Bagas yang cukup sibuk,jadi kami baru sempat berkunjung."


"Iya nggak apa-apa sayang,ibu ngerti kok. Ayo kita ke dalam, ayah kamu sedang sibuk di ruangannya makanya ibu tinggal pergi ke taman ngurusin si persi." ibu mengajakku kedalam ruang santai tanpa memperdulikan anak lelakinya yang sedang berdecak melihat kelakuan ibunya yang melupakan anaknya sendiri.


"ckckck. Ibu..ibu.. Untung sayang." Aku masih mendengar jelas gerutuan mas Bagas di belakang. Aku terkikik geli mendengarnya, aku bermaksud memberitahu ibu bahwa ada mas Bagas di belakangnya, tapi ibu malah acuh tak acuh. Aku hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan ibu dan anak satu ini


"Kamu kan sudah biasa kesini, sedangkan istri kamu kan baru beberapa kali kesini. Jadi nggak usah manyun gitu deh . Malu sama istri kamu, sudah tua kelakuan masih kayak bocah saja. "


"Bu~...." . Aku langsung melihat ke arah mas Bagas yang sedang merajuk kepada ibunya. Aku terkekeh sambil menutup mulutku.


"Tuh lihat kelakuan suami kamu nin. Sudah tua kelakuannya kaya bocah. Kamu kok mau sih sama dia nin?" ibu masih senang meledek anak tunggalnya, sampai membuat mas Bagas memutarkan kedua bola matanya.


"kkkkk iya Bu. Nindy juga masih bingung, kok bisa nindy bisa cinta sama mas Bagas. hehehe" Aku langsung menyembunyikan wajahku di belakang punggung mertuaku karena melihat mas Bagas yang tiba-tiba datang menghampiri ku.


Srett


Aku yang terkejut dengan pelukan mas Bagas dan ciuman bertubi-tubi di wajahku, aku hanya bisa tersenyum minta ampun kepada mas Bagas. Mas Bagas yang masih senang menjahiliku kini malah beralih menggelitik tubuhku dengan membabi buta. Aku yang paling tidak bisa di gelitikin badannya, langsung tertawa kegelian karena perbuatan mas Bagas.


"Sudah mas....sudah...sudah... nindy minta...Maaf...kkkkkk...please....mas... Nindy takut....kkkkk...ngompol...di celana...kkkk..Mas....!!" Aku sampai kehabisan tenaga karena ulah mas Bagas.


Ibu yang melihat anaknya sedang menggelitik aku, ikut tertawa bahagia. Aku yang sudah tidak kuat lagi menahan bobot tubuhku akhirnya jatuh terduduk sambil mencoba menyingkirkan tangan jahil mas Bagas.


"Ya ampun gas. Kamu tuh Langi ngapain? Kamu nggak lihat kalau wajah nindy sudah memerah. Ckckck kayak anak kecil aja kami. minggir...!!!Ya ampun menantu kesayangan ayah pasti sudah lemas yah sampai terduduk di lantai.." Aku melihat wajah sang ayah mertuaku yang tiba-tiba membantuku berdiri dari lantai dan menarik ku duduk di sofa panjang yang ada di ruang santai.


Aku menarik nafas dan membuangnya supaya aku bisa menetralkan detak jantung ku yang begitu cepat.

__ADS_1


Greebbb


Tiba-tiba mas Bagas datang dan duduk di sampingku sambil memelukku dengan erat. Dia mengusap punggungku dengan pelan, ibu juga datang membawakan air putih untukku dan di ambil oleh mas bagas.


Bibir gelasnya di tempelkan ke bibirku. Aku mulai meneguk air yang berada di dalam gelas hingga menandaskan semuanya. Aku menyandarkan kepalaku ke da** bidang suamiku, aku masih lemas karena lelah tertawa .


Mas Bagas mulai mengeratkan pelukannya pada tubuhku, aku makin menyamankan diriku di pelukan suamiku.


"Maaf yah sayang, mas nggak tahu kalau kamu bisa sampai jadi seperti ini. Maaf yah sayang."


Cup


Mas Bagas mengecup kepala ku yang tersemat hijab warna toska. Aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Ckckck kalau ayah jadi kamu nin. Ayah nggak akan maafin Bagas ni. kalau perlu jangan kamu kasih jatah suami kamu ini selama sebulan. hahahaha."


"Ayah jangan ngajarin nindy buat melakukan sesuatu yang tidak baik dong...!!"


"Loh kan ayah berkata benar. Kamu sudah membuat mantu ayah sampai lemas seperti itu. Ya nggak Bu? seharusnya kan si Bagas di hukum gara gara membuat mantu kesayangan kita kehabisan tenaga seperti itu."


"Heem bener nin. hukum saja suami kamu nin. ibu nggak masalah kok, biar tahu rasa suami kamu.kkkkk"


"Ibu dan ayah kayaknya bahagia banget ngelihat anaknya sengsara. Sayang kamu jangan sampai melakukan itu sama mas yah. kamu pasti nggak tega kan ngelihat mas sengsara menahan rindu padamu...?"


Aku yang masih berada didalam pelukan mas Bagas hanya bisa tersenyum kecil melihat kelakuan keluarga baruku ini. Aku masih diam tanpa menjawab pertanyaan ayah ibu dan suamiku. Aku sengaja menggantung mereka, karena tubuhku masih lemas karena perbuatan suamiku.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2