Penantian Cinta

Penantian Cinta
Masalah baru lagi


__ADS_3

"Bunda..."panggil Indah, Arin menoleh dan langsung berjalan mendekati anaknya, memeluknya.


"Bun- bunda, kenapa bisa sampai seperti ini?"tanya Indah kaget, melihat kondisi ayahnya yang terbaring lemah. Arin menggeleng, jujur dia juga belum terlalu jelas dengan keadaan suaminya itu .


Arin membawa Indah duduk di sofa. Indah masih menatap ayahnya yang terbaring di brangkar rumah sakit.


"Bunda juga nggak tau, tadi tante mu menghubungi bunda. Dan karena terlalu panik bunda nggak sempat memberi kabar sama kalian."kata Arin.


"Ayah sakit apa bun?"tanya Indah.


"Kata Tantemu, dulu saat ayahmu mencari kita dia mengalami kecelakaan dan sejak kecelakaan itu ayah tidak pernah sadar, dia sudah 9 tahun koma, Ndah."kata Arin.


Indah menatap Arin, merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Lalu kenapa mereka tidak pernah memberi kita kabar?"tanya Indah. Arin hanya menggeleng.


"Lalu di mana selingkuhannya itu?..."kata Indah.


Arin kembali menggeleng. " bukannya ayag sudah menikah dengan gadis itu?"tanya Indah kembali


"Pernikahan itu tidak pernah terjadi, wanita itu menipu ayahmu."ucap Arin. Indah hanya tersenyum kecut, ada sececercah kebahagiaan dan kelegaan di hatinya.


"Lalu, dimana keluar ayah? Kenapa tidak ada seorang pun di sini?"tanya Indah. Ynag memang tidak melihat seorang pun dari keluarga ayahnya itu.


"Mereka sudah tidak mau la menjaga ayahmu, makanya tadi siang tantemu itu menghubungi bunda..." ucap Arin.


"Bunda, jawab pertanyaan Indah dengan jujur.."Indah memegang tangan bundanya.


"Apa bunda, masih mengharapkan ayah?..."


"Apa bunda masih ada rasa sama ayah?..."


"Apa bunda...."Indah tidak melanjutkan pertanyaannya saat ia melihat Arin yang terus menatap ayahnya yang sedang terbaring itu.


"Baiklah, bunda nggak usah jawab. Indah sudah tau jawabannya."kata Indah.


Indah berdiri dan berjalan mendekati tempat tidur itu. Ia menatap ayahnya yang sedang terbaring lemah.


"Bagaimana dengan biaya perawatan ini, bund. Siapa yang akan membayarnya?"tanya Indah. Indah tidak mendapatkan jawaban dari Arin, indah pun menoleh kebelakang menatap wajah bundanya yang sudah berderai air mata, kaget sudah pasti.


"Bunda, tidak tau Ndah... Tapi tadi bagian adm rumah sakit memberikan kuitansi pada bunda dan mereka bilang semuanya harus di bayar paling lama minggu depan."kata Arin


"Apa? Tapi..."


"kalau nggak di byar, ayahmu tidak akan dapat perawatan, nak."potong Arin.


"Berapa?"


Arin berdiri, mengambil selembaran kertas yang di simpannya dalam tas. " 100 jt."ucapnya, memberikan kertas itu pada Indah.

__ADS_1


"Kenapa mahal sekali bunda? Kita dapat uang dari mana?"tanya Indah. Arin menggeleng, ia hanya menangis. Indah pun memeluk tubuh bundanya itu.


"Aku akan, coba tanya sama kak Rey. Barang kali dia bisa membantu"kata Indah.


"Bunda, sudah menghubunginta dan di bilang . Dia tidak akan pernah mau membantu, rasa dendamnya begitu besar pada ayahmu"ucap Arin.


Indah tidak tau lagi harus berbuat apa, dia benar - benar pusing. Kenapa semuanya terasa begitu mencekiknya.


"Harapan bunda cuma kamu ndah, bundah mohon kamu harus mau bantu bunda, ya" pinta Arin, duduk bersimpu di kaki Indah.


Indah kaget melihat bundanya. "Apa - apaan ini bund, ayo bangunlah!lkta Indah membantu Arin berdiri dan membawanya untuk duduk kembali ke sofa.


"Kamu mau kan membantu bunda?"tanya Arin, Idnah pun mengangguk, arin senang dan langsung memeluk tubuh kurus putrinya itu.


"Terima kasih nak, kamu memang paling bisa bunda handalkan."ucapnya.


____


Dika sedang duduk di balkon rumahnya, dia menatap langit yang hanya di terangi oleh cahaya bulan dan beberapa bintang yang menghiasi.


"Huft... Apa yang harus aku lakukan?"mengusap wajahnya. Dia sudah sangat putus asah memikirkan bagaimana cara untuk mengatasi desakan dari orang tuannya itu.


"Aku tidak akan pernah mengkhianatimu..."


"Tapi.... Apakah kamu juga melakukan hal yang sama denganku? Apakah kau juga menjaga hatimu untukku?"pertanyaan itu selalu bersemanyam dalam pikirannya.


"aku tidak mau menikah dengan calon yang di carikan ayah" ucapnya.


Drrrttt..... Drrrrttt...


Dika menoleh, melihat ponselnya yang bergetar di atas meja. Ia melihat nama Maulana terterah di layar ponselnya.


"Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Dia pasti bisa memecahkan semua masalahku ini"gumamnya. Dengan segerah Dika mengangkat telpon tersebut.


^^^"Hallo bro, kau menelponku di saat yang tepat."^^^


"Kenapa? Apa kau ada madalah?"


^^^"Apa kau masih ingat dengan ceritaku tempo hari?"^^^


"Iya kenapa memangnya? Apa kau sudah merima tawaran dari ayahmu itu?"


^^^"Apa kau pikir aku sebodoh itu?"ucao Dika dengan nada kesal.^^^


"Hahaha... Ya mana tau kan, "


^^^"Ayolah, aku butuh saran darimu. Kepalaku rasanya seakan mau pecah"keluh Dika^^^


"Haha... Sarannya yaitu, terimalah tawaran dari ayahmu itu, aku yakin mereka pasti cantik dan hot."

__ADS_1


^^^"Sepertinya otakmu jadi rusak karena kelamaan tinggal di negeri orang"kata Dika.^^^


"Ah... Aku jadi malas memberimu solusi"kata Lana pura - pura ngambek.


^^^"Tc, dasar waria. Jadi cowok kok ambekan banget sih"kesal Dika^^^


Lana habya diam tak menanggapi ucapan Dika.


^^^"Woi, ******. Buruan, gue udah pusing banget ini"kata Dika^^^


"Itukan masalah kamu, bukan aku"kata Lana.


^^^"Ooo... Jadi gitu kamu sekarang, oke."kata Dika hendak mematikan sambungan telponnya.^^^


"Hahaha...."tawa Lana pun pecah.


"Gitu aja ngambek, siapa coba sekarang yang wariah"Kata Lana membalas ledekan Dika. Dika masih diam tanpa merespon.


"Baiklah kalau kamu memang tidak membutuhkan saran dariku lagi, matikan sajalah. Padahal aku sudah menemukan solusi dari maslahmu itu."kata Lana.


^^^"Benarkah, apa? Ayo cepat katakan!"desak Dika.^^^


"Dengarkan baik - baik.." Lana pun mulai menjelaskan semua rencana nya, awalnya Dika sangat menolaknya tapi setelah mendengarkan penjelasan Lana, akhirnya Dika pun mengiyakan dan mulai besok ia akan menjalankan rencananya.


____


Indah berjalan gontai memasuki cafe tempat kerjanya, dia melewati Lala yang sedang memandangnya dengan tatapan heran.


Indah mengganti pakaiannya, kemudian masuk kedapur dan mulai mengerjakan tugasnya.


Hari ini, rasanya Indah tidak memiliki semangat untuk hidup. Wajah yang pucat dan mata pandanya dapat menggambarkan bertapa stresnya gadis itu.


"Hufttt..."


"Apa yang harus aku lagi..."gumam Indah.


Pluk. Indah kaget saat seseorang menepuk bahunya, ia pun menoleh ke belakang dan ternyata Lala lah pelakunya.


"Mbak? Aku kira siapa?"ucap Indah.


"Kamu kenapa? Aku perhatikan dari tadi kamu melamun terus, bahkan telurnya udah gosong pun sampai kamu nggak nyadar"kata Lala, mematikan kompor.


Indah menatap goreng telurnya, yang sudah berwarnah hitam.


"Kamu ada masalah?"tanya Lala lagi. Indah pun menggeleng.


"kalau ada masalah cerita aja sama aku, jangan di pendam."kata Lala memperhatikan wajah Indah yang tampak pucat.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2