Penantian Cinta

Penantian Cinta
chapter 41


__ADS_3

Kami sekarang sedang makan siang bersama di ruang makan, ada begitu banyak hidangan yang di sediakan oleh mertuaku. Aku yang melihatnya sampai kenyang duluan. Aku melihat mas Bagas yang sudah duduk diam sambil menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.


Aku mengambil nasi dan sayur capcay dengan sendok kemudian memasukkan nya ke dalam mulutku. Entah kenapa hari ini nafsu makan ku berkurang, biasanya aku kalau melihat makanan lezat di depanku akan langsung menghabiskannya. Tapi kenapa aku malah mual yah.


Aku mengunyah makananku dengan pelan sambil melihat ayah dan ibu di depanku. Mereka sedang sibuk dengan makanan mereka yang ada di atas piringnya, aku menaruh sendok yang ada di tanganku dan mengambil gelas berisi air putih di sebelah piringku.


Glek glek


Aku menaruh dengan pelan gelasnya agar tidak menimbulkan bunyi yang nyaring. Aku mencoba untuk menghabiskan makanan yang ada di piringku, aku tidak ingin mengecewakan mereka. Biarlah walaupun tidak nafsu makan, aku tetap menjejalkan makanan ke dalam mulutku. Bersyukur tadi aku tidak mengambil banyak.


Setelah selesai aku berniat membantu membereskan piring piring kotor yang ada di atas meja makan untuk di bawa ke dapur dan di cuci sekalian,tapi baru mengambil piringku tiba-tiba ibu menyuruhku untuk menaruhnya kembali.


"Udah sayang,biarin bibi yang ngerjain. kamu sama ibu saja ayo, ibu punya sesuatu yang mau ibu kasih lihat sama kamu." Aku menengok kearah mas untuk meminta ijin, dan dia hanya tersenyum kecil untuk menjawabnya. Sepertinya dia masih marah sama aku gara-gara tadi.


"Baik Bu." Ibu menggandeng tanganku untuk menuju ruangan, seperti perpustakaan kecil yang ada di rumah ini. Walaupun kecil tapi seperti nya buku-buku disini cukup komplit.


"Sebentar yah nin. ibu mau ambil dulu. kamu lihat lihat aja dulu." Aku mengangguk sebagai jawabannya. Setelah ibu meninggalkanku sendiri,aku berjalan mengitari rak-rak buku yang ada disini. Ada banyak buku yang aku tidak tahu buku apa itu, aku hanya melihat lihat saja tanpa mau mengambil nya, aku tahu seperti nya itu buku tentang hukum dan ilmu manajemen.


Aku yang melihatnya saja sudah pusing apalagi kalau di suruh membacanya,bisa-bisa langsung berasap otakku. Ketika aku memasuki rak yang sebelahnya ternyata disini juga ada banyak buku cerita, dari buku anak-anak sampai novel pun ada disini dan aku tidak tahu ini milik siapa, mungkin milik ibu buat mengisi kekosongan. Sepertinya aku juga butuh buat menemaniku ketika mas bagas bekerja.


"Sayang...sini sayang."


"Iya Bu." Aku mendekati ibu yang sudah duduk di sebuah kursi panjang dan setumpuk buku album di atas pangkuannya. Ibu menyuruhku untuk duduk di sampingnya ,dan aku langsung duduk di sampingnya.


"Sudah lama ibu ingin menunjukkan album ini, dulu ibu itu bercita-cita kelak kalau Bagas sudah mendapatkan istri..ibu akan menunjukkan album foto ini kepada istrinya. Dan akhirnya ibu bisa melakukannya sekarang. Terimakasih yah sayang, kamu sudah mau menjadi pendamping hidup anak ibu yang manja itu. Bagas sangat beruntung mendapatkan wanita seperti kamu."


Ibu menceritakan kisahnya sambil mengingat-ingat masa kecil mas bagas, ibu mengelus punggung tanganku yang berada di pangkuannya. Kemudian ibu mulai membuka album pertama yang paling atas.


"Lihat nin...! Ini ibu waktu hamil sekitar 7 bulan, dulu waktu ibu hamil ibu itu suka ngerepotin ayah kamu,kkkkk." senyum tersungging dari bibir ibu kalau mengingat masa hamilnya dulu. Aku juga ikut membayangkan ketika aku hamil nanti, semoga aku bisa merasakannya .


"waktu itu emang ibu ngidam apa ,sampai ayah ikut kerepotan...?" Aku menengok kearah ibu yang sedang membuka-buka album foto selanjutnya.


"Ehmm waktu itu ibu ngidam pengin makan rujak malem malem. Sementara waktu itu kan jarang banget yang jualan rujak, jadi Akhirnya ibu marah sama ayah kamu kkkkk, karena pulang tidak membawa apa-apa."


kkkkkk


"Kasihan banget ayah yah Bu. Tapi akhirnya ibu bisa makan rujak nggak Bu."


"Iya bisa nin. Soalnya ayah kamu waktu pagi-pagi sudah pergi untuk berkelana mencari rujak. Dan ketika waktu siang hari ayah kamu pulang bawa satu kantong plastik membawa rujak pesenam ibu. Waktu itu ibu sampai tidak memperdulikan wajah ayah kamu yang sudah banjir dengan keringat,kkkkkk."


"Lihat nin.... ini waktu Bagas baru lahir. Beratnya dulu sekitar 3 kg dan kulitnya merah, Nangisnya dulu paling kenceng. Ibu juga sampai terharu dengernya, dulu kami belum seperti sekarang nin. Ayah dulu bekerja keras demi menghidupi ibu dan Bagas, dan Alhamdulillah sekarang bisa seperti ini. Dan kamu tahu nin..!! Bagas itu mirip sekali dengan ayah, mereka itu sama-sama pekerja keras. Dulu saja uang kuliah Bagas bukan kami yang membiayainya, tapi itu hasil belajar dia yang mendapatkan beasiswa sampai lulus kuliah. Dan karena Bagas memang anaknya tidak bisa diam, akhirnya dia mencoba untuk membuka usaha sendiri."


"Benarkah Bu..?"

__ADS_1


"heem....buat apa ibu bohong sama kamu nin. Tapi namanya usaha kan tak selalu mulus, waktu masih awal-awal Bagas cukup kesusahan menarik pelanggan. Dan karena tekad kuatnya akhirnya Bagas belajar lagi bagaimana usaha nya bisa punya banyak pelanggan, Bagas mulai mempromosikan lewat media sosial dan juga membuat selebaran. Banyak teman-teman kuliahnya yang membantunya membagikan selebaran di jalanan. Lama kelamaan usahanya berhasil dan cafenya jadi ramai seperti sekarang. "


Aku terharu mendengar perjuangan suamiku yang begitu keras dalam membangun bisnis dalam usaha cafenya. Aku menghapus air mataku yang mengalir di pipi.


Aku juga mendengar nada bangga yang tersirat dari suara ibu. Pasti dia sangat bangga dengan keberhasilan anaknya, terlihat jelas dari senyum yang tak pudar dari bibir.


Kami menghabiskan waktu sampai sore di perpustakaan hanya untuk melihat-lihat kenangan masa kecil suamiku dan juga cerita di balik kesuksesan keluarga ini.


Tok tok tok


"Masuk.."


Ibu menyahut sambil merapihkan album foto yang kami ambil dan menaruhnya di tempat semula ibu mengambilnya, aku juga membantu merapihkannya juga.


ceklek


"Nyonya... Maaf mengganggu. Tadi tuan memanggil nyonya dan nona untuk bergabung bersama di ruang makan."


"Loh emang sudah jam berapa, perasaan kita baru sebentar disini."


"Sudah jam 5 nyonya."


Aku dan ibu saling melirik dan tersenyum lebar, karena saking asyiknya disini kami sampai lupa waktu dan mengacuhkan para lelaki yang ada di depan.


"Baik nyonya. permisi."


Aku dan ibu melangkah keluar ruang perpustakaan sambil bercerita, setelah sampai di ruang makan aku melihat ayah yang sedang duduk sendirian. Aku mencari keberadaan suamiku tapi tidak ada disini.


Aku bertanya kepada ayah dan beliau mengatakan kalau mas Bagas ada di kamarnya. Aku langsung ijin pamit untuk kekamar mas Bagas. Aku berjalan ke arah kamar yang berada di sebelah taman belakang, setelah sampai aku mencoba mengetuknya terlebih dahulu, siapa tahu mas Bagas sedang mandi atau ngapain.


Tok tok tok


Setelah beberapa menit tak ada tanggapan dari mas Bagas, aku mulai membuka handel pintu nya dan tidak terkunci. Aku melongok ke dalam kamar dan menemukan mas bagas yang sedang terlelap tidur di atas ranjang nya.


Aku berjalan masuk dan menutup pintu nya. Aku mendekati ranjang dan ketika sampai aku mulai mendudukkan diriku di sebelah tubuh mas Bagas yang sedang tidur.


Aku mengusap rambutnya yang halus dengan pelan, aku tersenyum manis sambil mengingat cerita dari ibu tadi. Inilah sosok lelaki hebat itu, sosok pekerja keras dan penyayang kepada keluarga nya. Aku beruntung bisa mendapatkan lelaki seperti mas bagas, aku berniat mencium pipi suamiku tapi dengan tiba tiba mas Bagas malah membalikkan badannya dan jadi menghadap langsung pada wajahku.


Cup


Aku langsung memundurkan wajahku dan menoleh kesamping untuk menetralkan degup jantungku yang berdetak kencang. Aku langsung merutuki diriku sendiri, karena sudah berani mencium bibir suamiku secara diam diam.


Setelah cukup tenang,aku mulai membangunkan mas Bagas dengan cara menepuk pipinya pelan. Membangunkan mas Bagas sebenarnya cukup gampang, tapi akan sulit ketika dia sudah terlalu capek dan ketika membangunkan nya harus butuh kesabaran ekstra. Karena pasti akan akan ada drama dahulu, seperti mas Bagas yang akan menariku kedalam pelukannya dan aku yang meronta-ronta menolaknya.

__ADS_1


Bagaimana tidak meronta-ronta, mas Bagas itu akan menciumi semua wajahku berkali-kali. Jadi aku pasti akan menjerit untuk menghindari serangan mendadak darinya.


Puk. puk puk


"Mas...bangun...Kita sudah di tunggu ayah dan ibu di ruang makan." Mas Bagas hanya menggeliat pelan sambil merangkul perutku yang ada di depannya. Dia juga malah menumpukkan kepalanya di atas paha ku. Dia memeluk erat pinggangku sambil menyusupkan kepalanya ke perutku lebih dalam.


"Mas geli....kkkk.... sudah ayo mas. kasihan ibu sama ayah sudah lama nungguin kita. Mas~~~...!" Aku merengek geli karena kepala mas Bagas yang di gesekan-gesekan ke perutku. Aku mencoba menyingkirkan kepalanya dengan cara mendorong kepalanya pelan, tapi mas Bagas malah tambah mengeratkan pelukannya.


"Nggak mau...Biarin mereka nungguin lama. Lagian siapa suruh mereka sudah bikin mas marah...!" Aku langsung paham kemana arah tujuan mas Bagas. Sepertinya dia marah karena aku yang membela kedua orang tuanya yang ikut membuat suamiku ini.


Aku terkikik geli karena mas Bagas yang masih tetap tidak mau menjauhkan kepalanya di perutku.


"Ya kalau marah sama ibu dan ayah,jangan mas lampiaskan sama aku dong mas. Mas~~~ cukup...!! Aku sudah tidak tahan mas. ini benar-benar menggelikan mas."


"Biarin...Mas juga marah sama kamu. soalnya kamu sudah bersekongkol dengan mereka. Pokoknya kalau kamu belum mencabut hukuman kamu sama mas, mas ngga bakalan melepaskan kamu."


"Kkkkk, itukan salah mas sendiri yang sudah membuatku menjadi seperti itu."


"Ya udah berarti aku nggak akan mau melepaskan kamu. Sampai pagi pun mas sanggup kok."


Aku yang mulai tidak tahan akhirnya lebih memilih mengalah dan mencabut hukuman mas Bagas.


"Iya iya... Sekarang mas lepasin."


"Iya apanya...? Mas nggak ngerti."


"Iya nindy cabut hukumannya."


"Janji yah kamu nggak bakalan hukum mas lagi, apalagi ngurangin jatah mas."


"Iya ...iya...Nindy janji. yang penting mas nggak buat nindy marah pasti nindy nggak akan ngasih hukuman lagi sama mas."


"iya mas janji nggak bakalan ngelakuin seperti itu lagi. Makasih yah sayang. i love u, cup cup cup cup cup cup"


"Stop mas...!, Atau nindy bakalan narik lagi ucapan nindy yang tadi."


" Oke oke...!Mas berhenti, tapi please jangan ngancem kayak gitu lagi."


Akhirnya mas Bagas mau melepaskan pelukannya dan ikut bangun dari tidurnya,untuk mengikuti ku keluar kamarnya. Kami mulai makan bersama di ruang makan.setelah adegan drama yang menguras tenaga.


Tbc


jangan lupa like dan komen yah. supaya aku bisa semangat melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


terimakasih


__ADS_2