Penantian Cinta

Penantian Cinta
chapter 54


__ADS_3

...🎶🎵Sudah kering air mataku🎵🎶...


...tersiksa merindukan mu...


...Sumpah mati kau rusak...


... jiwaku saat ini...


... sudah habis air mataku...


... tersiksa kehilanganmu...


... sumpah mati kau rusak...


... jiwaku selama ini...


...song by : Geisha...


Untuk kali ini kita berkenalan dulu dengan sosok lelaki tampan bernama lengkap Ardan Ardiansyah biasa dipanggil Ardan oleh orang terdekatnya. Dia adalah pengusaha muda yang sukses dalam memimpin sebuah perusahaan keluarganya. Dia adalah anak ke 2 dari 3 bersaudara, kakak yang pertama bernama Ramadhani Ardiansyah seorang perempuan yang cantik dan anggun, dia sudah menikah dengan suaminya yang bernama Gunawan dan sudah dikaruniai putra dan putri berumur 8th dan 5thn. Dan untuk adiknya bernama Luky Ardiansyah yang masih kuliah berumur 22th.


Dan pada tahun ini Ardan sendiri sudah memasuki umur 30th. Dan statusnya masih jomblo,padahal dengan tampangnya yang good looking itu dia bisa menggaet wanita manapun. Tapi pada dasarnya Ardan memang belum berniat untuk mempunyai pasangan hidup,karena dia masih di sibukkan dengan pekerjaannya yang selalu menunggunya untuk di kerjakan.


Dengan kedua bola mata hitamnya, bulu mata yang indah ,rahangnya yang tegas dan bibirnya yang kecil dan jangan lupakan tatapan matanya yang selalu membuat wanita blingsatan hanya dengan melihatnya sekali. Pembawaannya yang cool menambah kesan misterius tetapi tetap tampan di pandangnya.


Selama ini dia jarang sekali tersenyum kepada orang lain, dan selama ini belum ada perempuan yang bisa membuat hatinya luluh. Tapi semenjak pertemuannya dengan perempuan berjilbab di Singapura, ada gelenyar sedikit di hatinya setiap memikirkannya.


Padahal perempuan itu berpenampilan sangat sederhana tapi auranya berbeda dengan wanita yang lain. Tidak pernah dia jumpai perempuan seperti nindy selama hidup nya. Biasanya dia akan bertemu dengan perempuan yang berpenampilan yang seksi, dan menor. Sedangkan nindy, dia hanya mengenakan celana kulot ,blazer dan juga kerudung Tapi aura yang terpancar melebihi perempuan yang lain. Ada keinginan untuk memiliki nya, tapi sepertinya dia harus menyerah karena ternyata sang perempuan sudah mempunyai suami.


Malang sekali nasibmu Ardan. Setelah sekian lama mencari perempuan yang cocok dengan mu tapi giliran sudah bertemu ternyata dia sudah ada yang punya.


Setelah pertemuan keduanya di hotel,dia memutuskan untuk tidak memikirkan nya lagi dan mulai fokus dengan kerjaannya di Singapura. Tapi mungkin Allah sedang mengujinya ,mereka di pertemukan kembali setelah dia pulang dari Singapura dan kembali ke Indonesia di sebuah Mall.

__ADS_1


Dia sebenarnya sudah cape dan berniat untuk pulang, tapi ketika dia dan asistennya hendak menuju lift dia melihat kejadian yang membuat hati siapapun akan sakit merasakannya.


Dia melihat Nindy yang sedang diam terpaku melihat suaminya sedang memeluk wanita lain di depannya. Dan beg*nya , nindy malah menuruti keinginan suaminya yang menyuruhnya untuk tetap berdiam disini.


Ardan yang melihatnya sampai mengetatkan rahangnya, tidak percaya bahwa perempuan yang dia ikhlaskan dengan lelaki lain malah di sakiti hatinya. Dia melihat Nindy yang berjalan dengan lunglai ke kursi yang ada di depan sebuah toko baju,dan hatinya ikut sakit melihat Nindy yang sedang memukul mukul dadanya sesak sambil menutup matanya.


Dia ingin menghajar suami Nindy yang sudah tega mencampakkan wanita seperti nindy hanya demi wanita lain. Dia meminta asistennya untuk pulang terlebih dahulu,dia mendekati nindy dan duduk di sebelahnya.


Sebelumnya nindy masih tetap menutup kelopak matanya,tetapi setelah mendengar suara dari Ardan dia langsung membuka kelopak matanya dan langsung menggeser posisi duduknya. Ardan yang melihatnya malah tersenyum, dia menghormati perempuan seperti nindy.


Walaupun di acuhkan nindy, Ardan tetap mengajaknya berbicara. Tapi setelah mengangkat telfon yang mungkin dari temannya nindy langsung terlonjak bangun dan melihat ke kanan dan kirinya.


Entah mereka sedang membicarakan apa tapi ketika Ardan melihat Nindy yang akan pergi,dia menahannya dengan mengingatkan kalau suaminya belum datang, dan Nindy akhirnya diam dan menurut.


Setelah beberapa saat ada pasangan yang mendekati nindy dan Ardan. Nindy berpelukan di tarik oleh teman perempuannya dan menjauh sedikit dari Ardan, tapi dengan jarak seperti itu Ardan masih bisa mendengar percakapan antara dua orang sahabat itu.


Ardan melihat Nindy yang seperti kurang nyaman dengan teman perempuannya, Sepertinya nindy tidak mau temannya tahu kalau suaminya sedang bermesraan dengan wanita lain.


Nindy mengambil kantong belanjaannya yang ada di sebelah kursi dan menundukkan kepala kepada Ardan dan kemudian nindy pergi menjauh dari Ardan.


Ardan melihat suami Nindy yang masih berada di dalam sebuah restoran dengan wanita tadi. Dia bimbang ingin mengikuti nindy atau tetap pulang kerumahnya, tapi dia penasaran dengan keadaan nindy sekarang. Setelah berpikir akhirnya dia mengikuti nindy dan temannya. Dia melihat kalau mereka akan ke basement dan beruntung mobilnya juga berada di basement itu juga.


Ardan mengikuti mobil teman nindy sampai di sebuah rumah berlantai dua, dan dia melihat Nindy yang keluar dari mobil temannya dan memasuki rumah berlantai dua tersebut.


Ardan masih menunggu di depan rumah nindy sampai dia melihat sebuah mobil berhenti didepan rumah tadi, ternyata suami Nindy baru pulang setelah 2 jam membiarkan istrinya sendirian.


Dug


"Sial*n. Dasar lelaki baj*ng*n. Kalau memang dia tidak bisa membahagiakan istrinya lebih baik ceraikan istrinya. F*ck you.!!!"


Bagas memukul setir mobilnya dengan kencang setelah melihat suami Nindy. Dia melihat lampu kamar di lantai 2 sudah menyala setelah dari tadi tidak menyala, Ardan menunggu beberapa saat dan dia seperti mendengar suara pintu depan yang dibanting cukuo kencang hingga dia mendengar suaranya dari luar.

__ADS_1


Dia melihat pintu pagar rumah itu terbuka dan memperlihatkan sosok perempuan yang memakai baju tidur dan tetap memakai jilbabnya yang sedang menangis. Dia adalah Nindy, dia melihat Nindy yang berjalan sambil mengusap wajahnya dari belakang.


Area sekitar rumah Nindy cukup sepi malam ini,dia jadi bimbang mau keluar dari mobil atau tetap bertahan di dalam mobilnya. Ardan menyalakan mobilnya dan mengikuti kemana arah nindy pergi. Dia melihat sekitar tapi tidak menemukan suaminya menyusulnya,dia jadi gelisah sendiri.


Ardan mengetuk ngetukan kuku jari tangannya di setir mobilnya, dia melihat kanan dan kiri jalanan tapi yang terlihat hanya beberapa pengendara motor yang lewat saja. tanpa mau memperdulikan orang sekutarnya, nindy berhenti di sebuah taman dan duduk di bangku taman tersebut.


Sambil menekukkan kedua kakinya keatas kursi,nindy menyembunyikan wajahnya yang sedang menangis terisak. Ardan sudah berniat turun dari mobilnya tapi terhenti ketika melihat sang suami turun dari motornya dan berjalan mendekati nindy.


Entah apa yang di katakan Bagas tapi nindy sama sekali tidak meresponnya sama sekali,justru itu makin menyulut api Bagas dan dengan teganya meninggalkan nindy di taman sendirian.


Setelah kepergian Bagas, Ardan memilih mengambil jaketnya yang selalu dia bawa di mobilnya dan mendekati nindy.


"Aku sudah bilang mas. kalau aku butuh sendiri dulu. tolong jangan ganggu aku dulu. Please...hiks...!!!" Nindy menganggap kalau Bagas datang kembali untuk membujuknya tapi ternyata dia salah. Karena saat ini yang sedang berdiri di hadapannya adalah Ardan.


Ardan masih tetap diam ditempatnya berdiri mengabaikan kata kata nindy, dia memakaikan jaketnya untuk melindungi tubuh nindy dari udara malam ini. Nindy yang merasa bahwa orang didepannya bukanlah suaminya,kemudian mendongakkan kepalanya dan melihat siapa orang yang sedang ada di hadapannya sekarang.


Nindy mencoba tersenyum kepada Ardan dan Ardan yang melihatnya makin merasa ikut tersayat hatinya melihatnya. Ardan duduk di sebelahnya dengan ada jarak karena dia tidak mau membuat Nindy tidak nyaman.


"Maaf aku hanya sedang lewat tadi dan ternyata melihat kamu disini sendirian, kalau begitu saya permisi dulu. Kalau bisa lebih baik kamu pulang dan tidur di rumah,ini sudah malam."


Ardan berniat beranjak pergi dari taman tapi dia mendengar nindy mengucapkan kata-kata yang membuatnya menjadi terdiam.


"Terimakasih. Tapi lain kali bila Anda melihat saya, tolong acuhkan saja saya. Karena saya sudah mempunyai seorang suami, ini tidak enak dipandang oleh orang lain."


"Kalau itu memang membuatmu tidak nyaman, saya akan mengabulkannya. Dan semoga kau bahagia dengan suamimu. permisi."


Ardan merasa dadanya sakit mendengar penolakan dari nindy, tapi memang ini semua kesalahan Ardan karena dia yang mendekati nindy. Ardan berjalan mendekati mobilnya dan masuk kedalam kursi kemudi dan pergi meninggalkan nindy di taman itu.


"Br*ngs*ek. Kenapa aku tidak bertemu dengannya dari dulu. Selama ini emang kamu kemana aja sih Dan? Kok bisa aku nggak bertemu dengan nindy. Kalau semisal aku yang bertemu duluan kan aku nggak akan melihatnya menangisi lelaki baj*ng*n seperti itu."


Aaaaaaaa

__ADS_1


Ardan berteriak marah sambil memukul memukul setir mobilnya. Ardan menghembuskan nafas nya kasar, dia meraup wajahnya dan mengendurkan dasinya yang terasa mencekiknya.


__ADS_2