Penantian Cinta

Penantian Cinta
EXTRA PART


__ADS_3

Hai semua. Apa ada yang merindukan kisah Nindy dan juga Ardan? Kali ini saya akan membuatkan EXTRA Part buat kalian yang rindu dengan kisah Nindy dan Ardan.


Selamat membaca!!!!


...---------...


"Mas...."


"Iya ada apa sayang? Mas di belakang?"


Nindy berjalan dari dapur menuju suara suaminya berasal, sambil membawa nampan di tangan, berisi kue serta Teh untuk suami nya.


Cupcake coklat yang di buat Nindy hari ini atas request suaminya. Katanya dia ingin makan yang manis-manis buatan Nindy, jadi dengan senang hati Nindy menyetujui permintaan Ardan.


Nindy sangat menyukai setiap perlakuan Ardan yang begitu lembut kepada nya. Nindy merasa sangat di istimewa kan oleh suaminya, bahkan ketika ada kesalahan kecil yang tidak sengaja di lakukan oleh Nindy, Ardan akan mendengarkan terlebih dahulu akar permasalahannya atau sebaliknya Nindy juga akan melakukan hal yang sama jika suaminya salah.


Nindy sangat berterimakasih kasih kepada suami serta keluarga, mereka benar-benar menerima Nindy dengan tulus. Rasa syukur tidak pernah lupa Nindy panjatkan kepada Allah karena telah memberikan orang-orang yang baik untuk dirinya.


Sesampainya di pintu belakang yang terhubung langsung dengan taman yang Ardan sulap menjadi tempat bermain anak-anak, Nindy melihat sosok lelaki yang sudah menemaninya selama 3 bulan masa pernikahan mereka.


Nindy menatap punggung Ardan dengan lembut, dari sini dia bisa melihat betapa bahagianya Ardan bermain dengan Arya tanpa merasa lelah. Arya juga sangat nyaman bersama dengan Ardan, membuat Nindy makin merasa jatuh cinta kepada suaminya.


Ardan yang merasa di perhatikan ,menolehkan kepalanya ke belakang. Senyum lebar dia berikan kepada istri tercintanya. Dia melambaikan tangan meminta Nindy untuk berjalan mendekatinya.


Nindy membalas senyum Ardan tak kalah manis.


Melihat Nindy membawa nampan ,Ardan langsung menghampiri Nindy, lalu mengambil alih nampan yang ada di tangan Nindy dan membawanya ke arah Gazebo Sambil menggandeng tangan Nindy di sampingnya.


"Makasih yah Mas." Ardan menatap Nindy yang berada di sampingnya. Setelah meletakkan nampan di atas meja, Ardan mengusap lembut kepala Nindy yang tertutupi hijabnya.


"Untuk?"


"Untuk menerima semua kekuranganku."


Ardan menarik tangan Nindy dan membawanya ke depan bibirnya.


Cup


"Mas yang berterima kasih sama kamu. Kamu sudah mau menerima mas."


Nindy diam menatap kedua bola mata Ardan. Hatinya begitu berdesir saat kedua bola mata Ardan menatapnya balik. Nindy mengangkat tangannya yang tidak di genggam oleh Ardan, kemudian mengusap lembut wajah Ardan yang begitu rupawan.


"Aku, begitu beruntung mendapatkan lelaki seperti kamu mas. Aku...aku..."


"Ssttt!" Ardan menempelkan jari telunjuknya ke arah bibir Nindy.


"Justru Aku yang sangat beruntung bisa mendapatkan wanita secantik dan Sholehah seperti kamu. Asal kamu tahu sayang~, aku sangat mencintaimu. Aku rela melakukan apapun demi bisa membahagiakan kamu dan juga Arya. Kau hadiah terindah untuk ku sayang."


"Setiap kata-kata yang kau ucapkan sangat menyentuh hatiku mas. Terima kasih karena telah memilihku menjadi pendamping hidupmu mas. Yang bisa aku berikan hanya kesetiaan dan kepercayaan ku padamu. Tolong tetap jaga kepercayaan ku! Jangan kau khianati aku!"


"Sayang,, aku bukanlah manusia yang sempurna. Maaf jika aku masih belum bisa membahagiakan kamu. Tapi aku janji akan menjaga hati dan juga kepercayaan yang kamu berikan padaku. Aku juga tidak mungkin bisa berpaling darimu, karena cintamu sudah mengikatku seumur hidup."


"Jadi apa sekarang suamimu ini sudah bisa mencicipi cake buatan istriku ini?"


Senyum manis terukir indah di bibir berwarna pink milik Nindy.


"Tentu. Silahkan! Ini aku buatkan khusus untuk orang tercinta."


"Sayang~,jangan seperti itu. Kau membuatku ingin memakanmu sekarang juga." Ardan merajuk seperti anak kecil yang tidak di beri uang jajan, karena melihat tingkah istrinya yang menggoda nya.


Nindy sangat menikmati setiap detik kebersamaannya dengan suami tercintanya.


Nindy menangkup kedua pipi Ardan dan menghadapkan ke depan wajahnya.


Cup


Ardan langsung bungkam saat dengan tiba-tiba di kecup oleh Nindy.


Setelah mengecup bibir Ardan, Nindy tersenyum manis. Mata Nindy menelusuri setiap jengkal dari wajah suaminya. Dari alis, mata ,hidung,pipi, bibir, hingga berakhir ke mata yang kini sedang menatap nya dengan penuh cinta.


Ardan sendiri sangat terkejut dengan kelakuan Nindy yang tiba-tiba. Ardan jelas melihat ada rasa kekaguman Nindy saat menatap wajahnya. Saat pandangan Nindy berakhir di kedua bola matanya, Ardan menatapnya dengan penuh cinta.


"Ardan Ardiansyah." Ucap Nindy dengan pelan tapi jelas terdengar jelas di telinga Ardan.


"Hemm.."

__ADS_1


"Ardan."


"Iya sayang."


"Mas ardan."


"Mas Ardan Ardiansyah."


Tes


Ardan langsung menangkup wajah Nindy, mengusap air matanya dengan lembut yang jatuh membasahi ke dua pipinya . Ardan membawa tubuh Nindy ke dalam rengkuhannya.


Sementara para pembantu yang sedang berada di sana langsung pergi meninggalkan tuan rumahnya dan membawa Arya masuk ke dalam rumah. Tanpa perlu di perintah mereka tahu kalau Sang tuan rumah butuh privasi ,jadi mereka langsung pergi meninggalkan area bermain.


Ardan yang menyadari kalau mereka sudah berdua saja langsung mengeratkan pelukannya. Ardan mengecup kening istrinya lama. Ia juga membiarkan baju yang di kenakan nya basah oleh air mata istrinya.


Nindy mengerucutkan bibirnya saat sadar dirinya berlaku seperti anak kecil yang merindukan kasih sayang orang tuanya.


Ahh


Nindy jadi teringat kalau dia belum pernah membawa Ardan ke kampung halamannya saat teringat dia belum berkunjung selama menikah dengan Ardan.


Saat pernikahannya dengan Ardan paman dan bibinya datang dan menangis terharu. Bibinya sangat merasa bersalah karena tidak tahu menahu bahwa Nindy menderita selama menikah dengan Bagas. Bibinya menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjadi pengganti Kakaknya yang selalu ada untuk Nindy.


Nindy hanya bisa menenangkan bibinya dan mengatakan kalau dia baik-baik saja sekarang. Nindy juga tidak menyalahkan siapapun karena memang ini takdir yang di berikan Allah padanya. Setelah cukup tenang ,Nindy meminta bibinya untuk beristirahat dulu.


Cup


Ardan mengecup bibir Nindy.


"Sebenarnya kamu kenapa sayang? Kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini? Apa mas berbuat salah padamu?" Nindy menggelengkan kepalanya . Ardan dengan sabar meladeni tingkah istrinya yang memang cukup membingungkan dirinya.


Bayangkan saja, Nindy yang datang dengan senyum kemudian mengatakan cinta padanya,lalu tiba-tiba menatapnya intens kemudian menangis sesenggukan.


Coba bagaimana perasaan kamu?


"Mas?"


"Iya sayangnya aku. Ada apa?" Ardan membelai lembut pipi istrinya yang bersemu merah.


Ardan tidak bisa menutupi rasa bingungnya.


"Maksud aku. Selama kita menikah ,aku belum pernah mengajak mas kerumahku.?"


"Loh terus yang selama ini kamu tempati itu rumah siapa sayang?"


"Kkkkk. itu rumah aku mas. Tapi rumah dimana aku di besarkan."


"Oohhh. Tentu aku sangat bersedia. Kemanapun kamu membawaku pergi aku akan ikut. Mau kapan sayang?"


"Kalau hari Sabtu besok bisa nggak Mas?"


"Ok Nanti mas akan usahakan yah untuk istri tercinta ku ini."


cup


"Mas ada satu lagi?"


"Apa itu?"


"Nanti aku mau kenalkan mas sama orang tua aku."


"Dengan senang hati sayang. Baiklah nanti mas akan suruh Doni menjadwalkan agenda kita Sabtu besok. Maaf yah sayang jika mas selalu sibuk hingga waktu kita tidak terlalu banyak."


"Mas tidak perlu merasa bersalah. Mas itu sedang bekerja jadi mana mungkin aku menuntut waktu yang banyak buat aku. Lagian nanti kalau Nindy meminta mas berhenti bekerja mana bisa mas memberikan nafkah buat aku sama Arya. Mau makan apa nanti kita?" Dengan sengaja Nindy menggoda suaminya yang kini sedang memandang Nindy dengan raut tidak percaya.


"Oohh. Asal kamu tahu yah sayang! Walaupun suamimu ini nggak kerja, kita masih bisa hidup selama tujuh turunan." Dengan bangganya Ardan memberitahukan asetnya ke pada istrinya.


Nindy memandang Ardan dengan tidak percaya.


"Masa?"


"Kamu mau bukti? Baik mas akan telepon Doni supaya kamu bisa melihat semuanya."


"lakukan!"

__ADS_1


Ardan langsung merogoh kantong celana dan mengambil ponsel untuk menghubungi Doni, sekertaris nya. Selama menunggu panggilan teleponnya tersambung, Ardan menatap Nindy dengan percaya diri. Sementara Nindy yang sudah tidak dapat menahan tawanya langsung meledakan tawanya.


Hahahaha


"Halo tuan. Ada yang-"


Klik


Sebelum Doni melanjutkan ucapannya Ardan sudah memutuskan panggilannya dengan sepihak.


Ardan menatap istrinya yang kini sedang tertawa hingga membungkuk kan tubuhnya.


Nindy bahkan sampai menitikkan air matanya saking lamanya dia tertawa.


"Apa yang kamu tertawakan sayang? Kamu nggak lagi ngerjain suami kamu kan?" Tanya Ardan bingung melihat istrinya tertawa seperti itu.


Tapi Ardan juga merasa senang saat pertama kali nya melihat Nindy yang tertawa hingga terpingkal-pingkal seperti sekarang.


"Mas ...Aduh mas..perutku...hahaha...Mas aku...aku nggak...hahaha..bisa berhenti tertawa...hahaha" Nindy tidak bisa melanjutkan ucapannya karena saking susahnya mengendalikan tawanya. Sudah sekian lama, Nindy tidak tertawa seperti ini.


Ardan langsung membawa tubuh Nindy ke atas pangkuannya. ia ingin bisa melihat dengan jelas wajah cantik perempuan yang di cintainya ini.


Ardan mengusap air mata yang keluar dari mata Nindy.


Lelah tertawa Nindy langsung membawa tubuhnya merapat lagi ke arah Ardan , ia membenamkan wajahnya ke dada suaminya.


"Haaahh..haaahhhh..cape sekali mas. perut-ku sampai sakit. Hahhhh...sudah lama sekali aku tidak tertawa seperti ini mas."


Nindy mengangkat wajahnya demi bisa melihat wajah Ardan yang kini sedang menatapnya balik.


"Pelan-pelan saja! Jujur mas sangat terkejut melihatmu, baru pertama kali mas lihat kamu hingga tertawa bahagia seperti itu. Dan apa mas boleh tahu apa penyebabnya? Karena sedari tadi kita nggak lagi bercanda , tapi kita sedang membahas masalah-." Seakan tersadar, Ardan langsung menatap istrinya.


"Tunggu. Jangan bilang kamu tadi cuma ngerjain mas doang?"


"Kkkkk. Maaf yah sayang. Tadi aku memang niatnya mau bercanda saja, tapi mas malah menanggapinya dengan serius seperti itu. Kkkkk. maaf yah sayang?!" Nindy menatap wajah Ardan dengan memelas agar bisa di maafkan oleh Ardan.


Ardan sendiri langsung membuang wajahnya.


"Jadi..sekarang istri dari Ardan Ardiansyah sudah pintar mengerjai suaminya? Pintar sekali."


"kkkkk. Maaf yah sayangku!"


Cup


"cintaku"


Cup


"Manisku"


Cup


"Suamiku"


Cup


"Belahan jiwaku"


cup


"Stop!!" Ardan langsung menghentikan bibir istrinya yang akan mencium bibirnya.


"Kamu sengaja yah mancing-mancing mas buat memakan kamu disini juga?!"


"Yap. bener banget. Jadi apa perlu kita teruskan ini? Atau kita suda-.."


Sebelum Nindy menyelesaikan kata-katanya Ardan lebih dulu membungkam bibir istrinya dengan bibirnya cepat.


Setelah puas Ardan langsung menyeringai menatap nindy.


"Kali ini kamu tidak akan bisa lolos lagi dariku sayang.!!"


TBC


Lanjut nggak nih?

__ADS_1


__ADS_2