
Beberapa menit kemudian.
Setelah selesai mandi, mereka berdua pun kembali ke Kota Seribu Obat.
"Blitzzzz............. " Suara jurus teleportasi milik Arung.
Dalam satu kedipan mata Arung dan Shilla pun berpindah tempat ke depan pintu kamar nya di Gedung AKPERTI.
"Dup................... " Suara saat tapak kaki mereka mulai mendarat di lantai koridor Gedung berbentuk pedang menancap tersebut.
"Shilla kembalilah duluan, Jendral Es sebelum nya telah mengirimkan pesan singkat untuk ku, dia memintaku untuk menjumpai beberapa koleganya yang sedang berada di sini." Ucap Arung berbohong.
"Jendral Es.... Ugh... Tugas negara aku tidak bisa menahan nya di sini." Gumam Shilla.
"Ya sudah pergilah Arung." Ucap Shilla.
"Sampaikan salam ku kepada Xiao Mei Mei dan yang lain nya yach." Ucap Arung kemudian mulai berteleport.
"Blitzzzz........... " Suara jurus teleportasi milik Arung.
Shilla hanya tersenyum lebar saja ke arah Arung dengan terpaksa, ia sebenarnya tidak menginginkan kekasih nya tersebut pergi lagi, apa lagi dia baru saja memberi beberapa ramuan obat kuat yang akan bereaksi beberapa jam lagi.
"Dia pasti akan berteleport kembali ke tempatku atau Kak Mei Mei saat sesak nanti." Gumam Shilla kemudian mulai masuk ke dalam kamar tersebut.
-[Di atas salah satu gagang pedang di Bangunan Gedung AKPERTI]-
Dalam satu kedipan mata Arung pun kembali berpindah ke salah satu gagang pedang bangunan AKPERTI tersebut, ia pun mulai mengeluarkan Pipa Hisap Emas nya kemudian mulai menghisap tembakau ular milik nya.
"Whusss........... " Suara hembusan asap rokok Arung.
Komandan Don Juan itu pun mulai duduk dengan santai di tempat tersebut sambil menikmati pemandangan indah di sekitar nya.
"Kadang aku juga butuh waktu untuk menyendiri dan memenangkan pikiran ku." Ucap Arung sambil memandangi bangunan-bangunan yang ada di sekitar nya.
Beberapa saat kemudian Jeni pun terlihat dari kejauhan sedang terbang menggunakan cincin emas nya ke arah AKPAVLA.
"Jeni, wah... Kebetulan sekali jika di temani Jeni yang penurut, siang hari yang santai ini pasti akan tambah menyenangkan." Gumam Arung kemudian melesatkan akar-akar tanaman dari telapak tangan nya ke arah Jeni.
"Whusss......... " Suara hempasan angin saat akar-akar tanaman itu mulai melesat ke arah Gadis Penurut tersebut.
Akar-akar tanaman merambat itu pun mulai melesat ke arah Jeni kemudian mulai melilit tubuhnya juga cincin emas milik nya.
"Ugh...... Siapa yang menculik ku." Gumam Jeni kemudian mulai mencoba melepaskan diri dari lilitan akar kayu tersebut.
__ADS_1
Arung pun mulai menarik Jeni yang sudah terlilit akar tanaman tersebut ke arah nya, akhirnya Jeni mengetahui jika yang menculik nya adalah Bos Berdarah Dingin tersebut.
"Bos Arung?" Gumam Jeni saat menatap Pemuda Tampan berambut biru tersebut.
Arung hanya tersenyum kecil kemudian melepaskan lilitan akar di tubuh Jeni saat tiba di sebelah nya. Jeni pun bangun kemudian menunduk kepada Bos Berdarah Dingin nya tersebut.
"Bos Arung, maaf ada apa bos menarikku kesini." Ucap Jeni kemudian mulai menyimpan cincin emas tersebut ke dalam cincin ruang penyimpanan milik nya.
"Jeni aku ingin kau menemaniku siang ini." Ucap Arung kemudian kembali menghisap tembakau ular nya.
"Whusss.......... " Suara hempasan asap tembakau ular milik Arung.
"Baik Bos... " Ucap Jeni kemudian mulai memijit pundak Bos Arung tersebut.
"Ugh..... Sepertinya hari yang aku tunggu-tunggu telah tiba, dia pasti akan segera merudu paksa ku sebentar lagi,"
"Untung saja aku sudah menelan Pil KB setelah tiba di sini kemarin, tidak kusangka dia sampai mengetahui jadwal ku mengkultivasi pil tersebut,"
"Bos memang seorang assasin profesional." Gumam Jeni yang masih salah paham dengan identitas Arung yang sebenarnya.
"Ugh... Pijitan nya lebih enak dari pijitan Gisel maupun Shilla, dia pasti mau berterima kasih kepada ku karena telah memberikan Buah Pohon Raja Petir tersebut." Gumam Arung sambil menikmati pijatan lembut Jeni tersebut.
Jeni pun mulai memijit Arung dengan lembut dan sangat hati-hati, Gadis cantik tersebut tidak berani menyinggung perasaan Bos nya yang dianggap nya berdarah dingin tersebut.
"Ugh...... Apa White Hole lagi, padahal aku sedang menikmati pijatan lembut Jeni." Gumam Arung yang merasa kentang.
"Ugh..... Apa ini?" Ucap Jeni.
-[Benua Ular, disaat Arung kembali ke Pelabuhan Kuno Planet Jupiter]-
Dalam satu kedipan mata mereka berdua pun kembali berpindah tempat ke koridor penginapan di saat Arung sebelum nya tengah bergumul mesra dengan Irish dan Sarah.
"Brukkkk......... " Suara saat tubuh mereka berdua jatuh di depan pintu kamar penginapan tersebut.
Arung pun mulai mengamati sekeliling dan merasa familiar dengan koridor hotel tersebut, ia pun mulai mengintip melalui lubang kunci di pintu tersebut ke dalam kamar tersebut.
"Itu kan aku, Irish dan Sarah,"
"Ugh.... Sepertinya aku berteleport ke waktu dimana aku Irish dan Sarah baru saja bergumul." Gumam Arung.
Ia pun teringat cerita Sarah mengenai seseorang yang menjatuhkan Pil Ular Kuno di depan pintu kamar nya, Arung pun mulai mengeluarkan Pil Ular Kuno tersebut kemudian meletakkan nya tepat di depan pintu tersebut.
"Jeni, ayo kita menjauh dan bersembunyi." Bisik Arung.
__ADS_1
"Baik Bos." Bisik Jeni.
"Kenapa Bos meletakkan Pil Ular Kuno itu di depan pintu ya, apa dia sudah menjampi-jampi nya dulu?"
"Dan dimana aku saat ini?" Gumam Jeni.
Setelah Arung di masa lalu kembali ke Pelabuhan, Irish dan Sarah pun keluar dari dalam kamar tersebut berniat mencari udara segar dan meminum segelas arak ular di bawah.
"Kraak.......... " Suara saat pintu kamar terbuka.
"Lho.... Kak itu kan Pil Ular Kuno, siapa yang meletakkan nya disitu?" Tanya Sarah.
Irish pun langsung mengambil kedua Pil tersebut, kemudian menyimpan nya ke dalam cincin ruang penyimpanan milik nya.
"Sepertinya langit pun menolong kita Sarah, ranah kita berdua baru saja turun setelah berbagi essensi dengan Naga Muda,"
"Dengan Pil ini kemampuan kita akan kembali lagi, ayo kita segera pergi mencari tempat yang sunyi untuk mengkultivasi kan Pil Ular Kuno ini." Ucap Irish.
"Ayo Kak." Ucap Sarah.
Kedua Kakak beradik cantik tersebut pun pergi dari koridor tersebut berniat untuk mengkultivasi kan Pil Ular Kuno tersebut. Sementara itu Arung baru tahu jika orang yang meletakkan Pil tersebut di depan pintu tersebut adalah dirinya sendiri.
"Semesta memang sungguh aneh, aku juga yang berbagi essensi dengan mereka aku juga yang meletakkan Pil Ular Kuno tersebut di depan pintu mereka." Gumam Arung sambil termenung mengingat perkataan Sarah.
"Bukan kah itu adalah Ratu Ular, kenapa Bos bisa tahu kalau Ratu Ular akan keluar dari dalam kamar itu?"
"Kejadian hari ini sungguh aneh." Gumam Jeni.
Arung pun kemudian menarik pergelangan tangan Jeni lalu masuk ke dalam kamar Irish dan Sarah berada sebelum nya.
"Ugh..... Apakah bos akan melakukan nya sekarang." Gumam Jeni.
Mereka berdua pun duduk di kursi di kamar penginapan tersebut, tampak di atas meja tersebut masih tersisa arak ular di dalam kendi milik Sarah yang tertinggal.
"Ugh... Sepertinya keperawanan ku akan hilang malam ini, mungkinkah setelah Bos puas dia akan mencampakkan ku." Gumam Jeni kemudian meminum arak ular yang ada diatas meja tersebut.
"Glekk...... Glekkk..... Glekkk....... " Suara saat Jeni Galgadoth mulai meneguk arak ular milik Sarah yang tertinggal tersebut.
Sementara itu Arung masih berpikir keras mengenai White Hole yang selalu muncul secara tiba-tiba tersebut kemudian selalu saja menyeret nya ke masa lalu, bahkan kali ini ia di seret ke masa lalu namun di masa lalu di Planet Lain.
"Apa sebenarnya White Hole itu?" Gumam Arung yang sangat penasaran dengan fenomena alam tersebut.
TO BE CONTINUED.........
__ADS_1
[MOHON VOTE DAN LIKE NYA AGAR NOVEL INI TETAP TERBIT ON TIME CC NOVELIS JALANAN].