
Semenjak Ayu, Shilla, dan Jeni mulai berlatih jurus perisai angkasa di Tepian Danau, Arung terus mengamati perkembangan mereka dalam menguasai jurus tersebut.
"Shilla sudah mulai paham inti dari jurus ini, begitu pula dengan Ayu, mereka hanya tinggal menyempurnakan nya saja, sementara Gadis ini tidak dapat memadatkan tenaga dalam nya di sebabkan ranah nya yang rendah." Gumam Arung kemudian mengeluarkan Buah Pohon Raja Petir dan memberikan nya kepada Jeni.
"Apa ini, kenapa bos memberikan ku buah ini?" Gumam Jeni yang duduk di sebelah Arung.
"Makanlah Jeni, itu hadiah buat mu." Perintah Bos Arung.
"Baik Bos." Ucap Jeni lalu mulai memakan buah tersebut sampai habis.
"Sekarang meditasi lah kau akan segera menerobos ke ranah alam Raja puncak." Ucap Arung lalu mulai memejamkan matanya.
"Menerobos?"
"Apa maksudnya, apa dia ingin menerobos kesucian ku sesaat lagi, ugh.... Malunya." Gumam Jeni.
Sementara itu Ayu dan Shilla masih berlatih pedang di Tepian Danau tersebut, beberapa menit kemudian luapan energi petir mulai terasa di sekujur pembuluh-pembuluh darah milik Jeni.
"Ugh.... Apa ini, sensasi ini sepertinya aku akan menerobos." Gumam Jeni lalu mulai bermeditasi.
Aura petir mulai berkumpul di sekujur tubuh nya, beberapa saat kemudian seberkas sinar biru pekat melesat dari tubuh Jeni yang menandakan nya telah menerobos ranah alam Raja.
"Ugh.... Aku merasakan kekuatan ku meluap-luap, jadi ini adalah ranah alam Raja puncak." Gumam Jeni.
"Jeni berlatih lah kembali bersama yang lain nya." Perintah Bos Arung.
"Baik Bos." Ucap Jeni lalu bangun dari meditasi nya kemudian membungkuk memberikan penghormatan kepada Bos Arung dan beranjak ke tepian danau lalu kembali berlatih.
"Baiklah aku sekarang akan mencoba nya juga, aku akan mengeluarkan tenaga dalam ku dari pori-pori di tubuh ku." Gumam Arung.
Aura berwarna-warni mulai berkumpul di sekujur tubuh Arung, beberapa saat kemudian perisai keemasan pekat menyelubungi tubuh nya.
"Lho kenapa warna perisai angkasa Arung berwarna emas." Gumam Shilla dan Ayu.
Sementara itu Jeni baru saja berhasil mengeluarkan Jurus Perisai Angkasa nya, terlihat perisai kebiruan mulai membungkus tubuh nya.
"Yeah...... Aku berhasil." Gumam Jeni lalu menoleh ke arah Bos Arung.
"Lho.... Kok Perisai Angkasa Bos berwarna emas, apa bos salah?" Gumam Jeni lalu mulai berlatih bela diri di Tepian Danau tersebut.
Sementara itu Arung terus bermeditasi sambil memasang Perisai Angkasa Emas di sekujur tubuh nya.
__ADS_1
"Ada yang aneh dengan Perisai Angkasa ku, apa karena aku menyalurkan tenaga dalam dari pori-pori kulit ku?"
"Apakah Jurus ku ini malpraktek." Gumam Arung kemudian terus melanjutkan meditasi nya.
Kembali ke Planet Bumi di Kantin AKPAVLA di jembatan yang membentang di atas Danau Siluman Petir.
Matriak Yuki mengajak Vinic, Tetua Shiyu, Xiao Mei Mei dan juga Rea untuk nongkrong di Cafe di tengah jembatan tersebut.
"Wah.... Lezatnya, makanan di sini benar-benar nikmat." Ucap Nyonya Vinic.
"Memang jika ada Kak Yuki, Hari-hari bahagia kita kembali seperti dulu lagi ya Vin." Ucap Xiao Mei Mei.
"Kasian mereka, pasti berat sekali semenjak aku menghilang selama 20 tahun ini." Gumam Matriak Yuki.
"Matriak, Tetua dan Murid-murid lain nya, mereka memintaku agar menyampai kan padamu jika mereka ingin ikut menyaksikan pertandingan final Alkemis di Kota Seribu Obat ini, Matriak." Ucap Tetua Shiyu.
"Shiyu, aku sebenarnya ingin mengajak mereka semuanya kemari tapi itu kan butuh biaya, aku mana punya uang untuk membelikan tiket kepada 1000 orang murid-murid tersebut." Ucap Nyonya Vinic.
"Tenang saja Vinic, masalah itu biar aku yang urus, aku akan membeli 100 mobil truk perang lalu mengirimkan nya langsung ke Puncak Gunung Obat." Ucap Matriak Yuki.
"Ugh..... Level Panglima Perang memang beda, uang nya pasti sangat banyak." Gumam Xiao Mei Mei sambil menyedot jus pokat di atas meja.
"Bagus sekali Matriak Yuki, aku akan segera mengabarkan Tetua lain nya untuk bersiap." Ucap Tetua Shiyu lalu mulai menghubungi Tetua Dara.
"Baik Kak." Ucap Xiao Mei Mei lalu beranjak ke tempat komandan-komandan yang berjaga tersebut berniat mengajak mereka makan.
Sementara itu Rea si rubah hitam tampak sangat menikmati Daging Beast Kijang yang tengah di santap nya di sebelah Matriak Yuki.
"Rubah Berekor Sembilan milik Shilla ini sungguh jinak, Beast ini adalah salah satu Beast dewa yang buas,"
"Bagaimana bisa dia menjinakkan nya?" Gumam Matriak Yuki sambil menelpon kenalan nya yang berada di Kota Awan Hitam.
Yuke Mal, di ruang Direktur Yuke.
"Byurrrr................ " Suara hujan deras.
Terlihat Yuke tengah duduk di kursi kerjanya sambil meminum kopi.
"Kejadian saat Ujian Final Tahap ke Tiga tempo lalu sungguh mengerikan, untung saja aku dan Akira bersembunyi di basement bawah tanah mall jika tidak aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi saat itu." Gumam Yuke lalu mulai meneguk kopi nya.
'Kring.... Kring..... Kring..... " Suara HP Yuke berdering.
__ADS_1
"Nomor tidak di kenal?"
"Siapa yach?" Gumam Yuke lalu mengangkat nya.
"Halo Yuke ini aku Yuki Tiger." Ucap Yuki melalui HP.
"Yuki Tiger kan sudah di nyatakan menghilang dan di asumsikan tewas 20 tahun yang lalu, suara nya pun seperti suara anak kecil,"
"Ini pasti telpon nge prank." Gumam Yuke mengira yang menelpon nya adalah orang jahil.
"Adik Kecil, gak boleh ngeprank Kakak kayak begini, gak baik lho..... " Ucap Yuke menasehati Matriak Yuki yang di kiranya orang jahil.
"Ini akibat suara ku yang berubah menjadi anak kecil, aku seperti nya harus membocorkan beberapa rahasia masa lalu Yuke." Gumam Matriak Yuki.
"Yuke ingat aku telah menolong mu dari perampok mesum dua puluh tahun yang lalu, kau ingat Gadis Manja?" Tanya Matriak Yuki.
"Apa.... Hanya Yuki yang memanggilku dengan sebutan Gadis Manja, dan kejadian perampokan dua puluh tahun yang lalu aku tidak pernah menceritakan nya kepada siapapun." Gumam Yuke.
"Yuki..... Syukurlah kau masih hidup, aku bahagia sekali." Ucap Yuke baru menyadari jika yang menelpon nya adalah teman masa lalu nya Yuki Tiger.
"Huft............. " Suara Nafas Panjang Yuki.
"Akhirnya.... Dia baru percaya kalau aku Yuki." Gumam Matriak Yuki.
"Yuke kita akan bernostalgia nanti setelah racun yang menggerogoti ku ini hilang, saat ini aku butuh bantuan mu Gadis Manja." Ucap Matriak Yuki.
"Bantuan apa Yuki?" Tanya Yuke.
"Aku ingin membeli 100 truck perang kualitas bagus, dan aku ingin kau mengantar nya langsung ke Puncak Gunung Obat ke Kediaman Tiger." Ucap Yuki.
"Gampang itu Yuki, aku akan mengirimkan tagihan biaya nya ke Whatsapp nomer ini yach." Ucap Yuke.
"Atur aja Yuke, aku akan menstransfer uang nya saat aku menerima tagihan nya." Ucap Matriak Yuki.
"Ok Kalau begitu untuk sahabat lama ku, aku akan mencarikan Truk Perang terbaik di showroom adikku dan mengantarkan nya langsung ke Kediaman Tiger, sudah dulu ya Yuki." Ucap Yuke lalu mematikan HP.
Beberapa menit kemudian Yuke pun mengirimkan tagihan biayanya, Yuki langsung menstransfer sejumlah uang tersebut ke rekening Yuke melalui token gaji nya, 100 Truk Perang pun akan di antar kan ke Puncak Gunung Obat oleh Yuke beserta beberapa staf nya.
"Yuke memang ahli dalam perdagangan dan juga dia sangat setia kawan." Gumam Matriak Yuki lalu kembali mengobrol ringan dengan Nyonya Vinic dan yang lain nya.
TO BE CONTINUED.........
__ADS_1
[MOHON VOTE DAN LIKE NYA AGAR NOVEL INI TETAP TERBIT ON TIME CC NOVELIS JALANAN].