
"Byurrrr.......................... " Suara Hujan Deras.
Penginapan Stadium Awan Hitam
Karena sudah larut malam Arung pun membawa Gisel kembali kamar nya.
Kamar 303
Di dalam kamar ternyata Shilla sudah menunggu kepulangan Arung sejak tadi, melihat Arung menggendong Gisel di punggung nya, ia pun ikut menggendong tubuh Gisel ke atas tempat tidur. Arung terkejut ternyata di dalam kamar sudah ada tilam yang empuk di samping ranjang utama.
"Wah......... Shilla memang pengertian sekali semenjak menjadi pacarku, saat dulu di Kediaman Tiger dia selalu menembakkan bola api ke arah ku,"
"Sekarang bahkan aku bisa tidur bersebelahan dengannya." Gumam Arung.
Arung dan Shilla lalu mulai merebahkan tubuh Gisel ke atas ranjang utama.
"Gisel mabuk ya Arung?" Tanya Shilla.
"Ya seperti yang kau lihat Shilla, malam ini ia meminum banyak sekali beer di kantin,"
"Bahkan saat Wakil Komandan Luna di racuni saja, Gadis pemabuk ini tetap tidur,"
"Aku menemukannya tak sadarkan diri di kantin, saat malam malam bersama Wakil Komandan Luna." Ucap Arung.
"Ugh........... Arung kau sudah memiliki aku, kenapa masih makan malam dengan perempuan lainnya." Gumam Shilla.
"Shilla aku sudah memenangkan pertandingan malam ini, jadi hadiah apa yang ingin kau berikan?" Tanya Arung, sambil mengembalikan sarung tangan milik ke Shilla.
"Ya sudah Arung duduk lah di tilam tersebut." Ucap Shilla.
"Akhirnya, kejadian seperti di Kaki Bukit Siluman akan terjadi lagi di atas tilam cadangan ini." Gumam Arung.
"Tunggu sebentar Shilla agar memudahkan mu nanti, aku akan berganti pakaian dulu ke piyama tidur ku." Ucap Arung, ia pun keluar sejenak dari dalam kamar lalu membuka pakaian dan hanya mengenakan celana boxer saja.
"Memudah kan apa, aku kan hanya ingin memijit nya saja." Gumam Shilla.
Beberapa saat kemudian Arung pun masuk kembali ke dalam kamar lalu duduk di tilam tersebut, Shilla pun sudah berganti dengan piyama tidur nya begitu pula dengan Gisel (Shilla yang menggantikan nya Piyama tidur).
"Baiklah Shilla, aku sudah siap." Gumam Arung.
Shilla pun duduk di belakang Arung dan mulai memijit pundak Arung.
"Wah ternyata ia ingin merangsang titik rileks di pundak ku terlebih dahulu, baru selanjutnya dia akan memijit titik vital lainnya,"
"Tidak kusangka Shilla sangat profesional masalah ini, mungkinkah dia di ajari oleh Matriak?" Gumam Arung.
30 Menit kemudian, Arung baru menyadari yang di maksud Shilla hadiah adalah massage bahu tersebut.
"Ugh........ Shilla, kau sudah membuatku berpikir yang aneh-aneh selama 30 menit ini, pikiran ku mengeras gara-gara kau katakan akan memberikan ku sebuah hadiah." Gumam Arung.
"Lho kenapa bisa menonjol, aku kan hanya memijit nya saja." Gumam Shilla, menoleh ke bawah.
"Ya sudah aku nikmati aja massage dari Shilla,"
"Ah.......enak ternyata enak juga pijitan Shilla, rupanya ini yang dia maksud dengan hadiah nya." Gumam Arung.
"Sepertinya dia sudah menikmati pijitan ku, ini baru pijitan bisa kau bayangkan Arung jika aku memberikan yang lainnya lagi." Gumam Shilla.
"Mulai hari ini kalau kamu menang bertanding, aku akan memijit mu Arung, sebagai hadiah kemenangan mu." Ucap Shilla, sambil terus memijit pundak Arung.
"Oh ia.............Arung, aku sudah membeli banyak bahan makanan kamu mau aku masak kan hidangan apa besok?" Tanya Shilla.
"Kalau bisa masakan yang memiliki banyak tumbuhan di dalamnya Shilla." Jawab Arung.
"Tumbuhan, aneh sekali,"
"Apa Arung sudah menjadi seorang vegetarian saat ini." Gumam Shilla.
Tak lama kemudian Gisel pun mulai membuka kedua belah matanya dan terbangun, ia pun tengah melihat Shilla yang sedang memijit pundak Arung.
"Dasar istri muda, pandai sekali kau mengambil hati calon suami ku,"
"Aku tidak boleh kalah." Gumam Gisel, lalu mulai memijit kaki Arung.
Arung dan Shilla hanya diam saja, saat melihat Gisel.
"Oh... ia aku tadi kan lagi menghilangkan rasa galau ku di Kantin, semenjak kapan aku bisa ada disini,"
"Mungkinkah saat mabuk tadi aku menerkam Arung bersama istri muda nya?"
"Tidak.... tidak mungkin, sebaiknya aku memastikannya." Gumam Gisel.
"Arung kenapa aku bisa berada di dalam kamarmu, bukankah tadi aku sedang berada di Kantin Stadium?" Tanya Gisel.
"Sepertinya Gisel sudah sadar saat ini." Gumam Arung.
"Kamu mabuk tadi Gisel, karena sudah kemalaman Arung membawa mu kemari."
"Lalu aku yang telah menggantikan pakaianmu Gisel." Ucap Shilla.
"Oh..... kukira tadi Arung yang menggantikannya." Gumam Gisel, berharap Arung yang menggantikan nya.
"Terima kasih Shilla." Ucap Gisel.
"Sepertinya kedua pacarku ini sudah mulai akur, syukurlah." Gumam Arung.
"Begini ceritanya Gisel.................. " Ucap Arung.
Arung pun mulai menceritakan seluruh kejadian nya, mulai dari kultivasi ganda yang di lakukan nya dengan Shilla, hingga masalah Wakil Komandan Luna yang baru saja di racuni ketika lagi makan malam malam bersama nya. Arung juga menjelaskan perihal essensi dan khasiat nya yang dapat membangkitkan elemen alam tertentu jika mengkultivasi kan nya.
"Oh............jadi begitu ceritanya ya Arung." Ucap Gisel.
"Kukira kalian melakukan hal itu....itu....itu,"
"Ehm......ehm.......itu loh." Ucap Gisel, dengan pipi yang memerah.
"Kya............... Gisel membuatku malu." Gumam Shilla.
"Mau nya sih, Kaki Bukit Siluman yang terbaik." Gumam Arung.
Pipi Shilla pun mulai memerah saat mengingat kejadian tadi pagi saat ia berkultivasi ganda dengan Arung.
"Jadi aku dapat membangkitkan elemen tumbuhan juga seperti mu, Arung?" Ucap Shilla, sambil memijit pundak Arung.
"Benar Shilla, lihat lah telapak tanganku ini." Ucap Arung.
Arung pun membalikkan telapak tangannya, lalu sebuah tumbuhan kecil dan aura kehijauan mulai muncul dari telapak tangannya tersebut. Gisel dan Shilla yang melihat nya pun takjub, Shilla kemudian melakukan hal yang serupa, tumbuhan kecil dan aura kehijauan pun muncul juga dari telapak tangan nya.
"Wah............aku juga telah membangkitkan elemen tumbuhan, Gisel." Ucap Shilla, kegirangan.
"Arung jika menemukan essensi lagi, aku mau satu lah, Sayang." Ucap Gisel. sambil terus memijit paha Arung.
"Ugh....... Gisel kau sengaja memijit ku di dekat area terlarang milikku, celana ku sudah sedikit terasa sempit." Gumam Arung.
"Kenapa dengan Arung kenapa terlihat gelisah?"
"Mungkin saja dia lelah, sebaiknya aku terus memimijitnya, lho.... apa ini kok ada yang menonjol." Gumam Gisel, lalu menoleh ke area tersebut.
"Ugh..... Gisel, kau sengaja." Gumam Arung.
Gisel dan Arung pun menganggap kejadian yang tadi itu tidak ada, sementara itu Shilla mulai memijit kepala Arung.
"Enak sekali Shilla, kau memang calon istri idaman." Gumam Arung.
Satu jam kemudian
"Baiklah, ayo kita tidur sudah tengah malam,"
"Besok siang aku ada jadwal pertandingan lainnya." Ucap Arung.
"Hoam............ " Suara menguap Shilla.
"Ayo sayang." Ucap Gisel.
Arung lalu tidur di tilam bawah, sedangkan Shilla dan Gisel tidur di ranjang utama berduaan.
Keesokan siangnya Arung pun terbangun, Arung pun bersiap makan siang dan bergegas ke stadium. Hari ini Shilla tidak ikut ke stadium karena sejak pagi sampai sekarang masih berlatih elemen tumbuhan di ruang santai.
Sedangkan Gisel hari ini tidak ada jadwal bertanding dan berniat pergi ke salon. Jadwal pertandingan Arung nanti sore, jadi ia berniat pergi membesuk Wakil Komandan Luna di Rumah Sakit dan telah menyiapkan dua buah keranjang buah-buahan yang dahulu di berikan Robert Wong.
Di dalam Mobil Jeep.
"Byurrrr..................... " Suara Hujan Deras.
Saat ini Arung sedang mengendarai mobil Jeep ke Rumah Sakit Kota Awan Hitam.
"Sepi juga rasanya, biasanya kalau gak ada Gisel ada Shilla,"
"Beginilah kalau lagi kosong, apa aku jadiin pacar aja ketiga cewek kembar Psikopat itu?" Gumam Arung.
Rumah Sakit Awan Hitam
Beberapa menit kemudian Arung pun tiba di depan Rumah Sakit, lalu langsung masuk ke basement parkiran bawah. Beberapa saat kemudian ia pun beranjak ke lantai 1 rumah sakit menggunakan lift basement.
"Wah ternyata besar juga Rumah Sakit nya, bersih lagi." Gumam Arung, lalu mulai berjalan mencari lobi.
Beberapa menit kemudian Arung tiba di Lobi Rumah Sakit tersebut, ia pun lalu menghampiri suster cantik yang lagi piket di lobi tersebut. Tampak di sekitar lobi sudah ada banyak keluarga pasien, pasien, maupun tenaga medis yang tengah sibuk dengan urusan nya masing-masing.
"Halo suster cantik, saya ingin menjenguk Wakil Komandan saya di Rumah Sakit ini namanya Luna Thunder." Ucap Arung.
"Tampan nya Pemuda berambut merah ini." Gumam Suster Cantik.
Suster cantik tersebut langsung terbius kemampuan Dragon Love milik Arung.
"Sebentar ya Tampan." Ucap Suster cantik, lalu memeriksa nama pasien tersebut di dalam database nya.
"Oh..........Wakil Komandan Luna berada di lantai tiga, kamar nomor 30, Tampan." Ucap Suster cantik, lalu mengedipkan matanya.
"Kacau nih, aku gak mungkin menambah masalah dengan wanita lagi,"
"Sebaiknya aku segera pergi." Gumam Arung.
"Terima kasih Suster cantik, aku pergi dulu yach." Ucap Arung, lalu beranjak ke kamar Wakil Komandan Luna.
beberapa menit kemudian.
Lantai 3, di kamar nomor 30
Tampak di kiri dan kanan koridor terdapat banyak sekali kamar sepanjang jalan, dan lalu lalang pasien, keluhannya pasien dan juga tenaga medis.
"Tok... tok.... tok.... " Suara ketukan Pintu.
"Wakil Komandan Luna, ini aku Arung." Ucap Arung.
"Masuklah Arung." Ucap Wakil Komandan Luna.
Arung pun mulai memasuki kamar tersebut, terlihat Wakil Komandan Luna sedang duduk di atas ranjang sambil menyandarkan punggung nya di dinding lalu memegang sebuah kitab jurus di tangannya.
"Oh................Arung duduk lah." Ucap Wakil Komandan Luna.
Tampak raut wajah Wakil Komandan Luna sedih.
"Syukurlah kamu baik-baik saja setelah meminum arak beracun tersebut." Ucap Wakil Komandan Luna.
Arung lalu duduk dan meletakkan dua keranjang buah di atas meja.
"Iya Wakil Komandan Luna,"
"Bagaimana dengan cedera mu saat ini?" Tanya Arung.
"Sepertinya aku harus memulai ulang semua kultivasi ku Arung, Semua kultivasi ku saat ini telah hancur terkena racun tersebut." Ucap Wakil Komandan Luna.
"Kasian Wakil Komandan Luna, makanya wajah nya terlihat sedih." Gumam Arung.
"Sekarang Aku hanyalah orang biasa bukan lagu seorang kultivator." Ucap Wakil Komandan Luna.
Arung pun menatap wajah Wakil Komandan Luna.
"Untuk memulihkan kultivasi Wakil Komandan Luna, hanya ada satu cara yaitu dengan melakukan kultivasi ganda dengan essensi magnet dan air emas,"
"Maka ia akan segera sembuh total, karena essensi memiliki khasiat mengembalikan kondisi penggunanya ke kondisi puncaknya," Suara di kepala Arung.
"Jadi seperti itu cara menyembuhkan racun Wakil Komandan Luna." Gumam Arung.
"Menurutku racun ini dapat di sembuhkan dengan cara kultivasi ganda, Wakil Komandan Luna." Ucap Arung.
"Metode mesum itu, mungkinkah Arung hanya ingin melihat tubuhku saja?"
"Tapi hanya itu harapan satu-satunya, jika tidak akan butuh waktu bertahun-tahun untuk mengembalikan kultivasi ku." Gumam Wakil Komandan Luna.
"Benarkah Arung". Ucap Wakil Komandan Luna.
"Tentu saja, aku sangat yakin 100 persen kultivasi Wakil Komandan Luna akan sembuh seperti sedia kalanya." Ucap Arung.
"Baiklah Arung, aku percaya padamu nanti setelah aku berbicara pada Quill aku akan mengabari mu sekitar satu bulan lagi." Ucap Wakil Komandan Luna.
"Baik Wakil Komandan Luna." Ucap Arung.
Tak lama kemudian datang dua orang kultivator lainnya ke dalam kamar Wakil Komandan Luna.
"Ah...............kalian berdua sudah datang," Ucap Wakil Komandan Luna.
"Iya Guru," Sahut Kompak kedua gadis cantik tersebut.
Ternyata kedua kultivator itu adalah Jupiter Fox dan Kayla Amara, murid langsung Wakil Komandan Luna.
"Kenalkan ini murid ku Arung, Jupiter dan Kayla." Ucap Wakil Komandan Luna.
"Halo Tampan, Aku Kayla." Ucap Kayla, sambil menjabat tangan Arung.
"Hai Arung, Aku Jupiter, kita sudah saling mengenal kan di atas arena," Ucap Jupiter.
"Aku Arung, kalau begitu aku permisi dulu Wakil Komandan Luna." Ucap Arung.
"Sebentar Arung." Ucap Wakil Komandan Luna, lalu menuliskan nomer HP nya di selembar kertas lalu memberikan nya ke Arung,
Kayla dan Jupiter pun salah paham, mereka mengira Wakil Komandan Luna selingkuh dengan Arung.
"Aku tidak pernah melihat guru memberikan nomer HP nya kepada laki-laki lainnya, mungkinkah mereka memiliki suatu hubungan terlarang?" Gumam Jupiter.
"Ugh........ Memang antara Arung dan Tuan Muda Quill, Arung lebih tampan,"
"Tapi aku tidak menyangka Wakil Komandan Luna memiliki hubungan dengan nya." Gumam Kayla.
"Arung setelah urusan ku dan Quill selesai, kita akan bertemu." Ucap Wakil Komandan Luna.
"Baik Wakil Komandan Luna." Ucap Arung.
"Apa.....................???? " Gumam Kayla.
__ADS_1
Arung lalu beranjak ke Stadium Awan Hitam untuk mengikuti pertandingan kompetisi.
Di Stadium Awan Hitam.
Beberapa saat kemudian Arung pun tiba di Stadium Awan Hitam.
"Pertandingan selanjutnya antara Arungbijak Tiger VS Lily Dragon Ice,"
"Kepada para peserta diharap naik keatas arena." Ucap Komandan Anya, menggunakan jurus Auman.
Lily dan Arung pun naik keatas arena, mereka membungkuk dan saling menghormati. Lily merupakan seorang kultivator di ranah alam lautan puncak, rambutnya berwarna biru dan matanya berwarna biru jernih.
"Wajah Gadis Cantik ini, aku merasa seperti pernah melihat nya sebelum nya?"
"Tapi di mana ya, kecantikan nya khas banget?" Gumam Arung, lalu menggunakan sarung tangan merah yang di pinjamkan oleh Shilla tadi siang.
Lily kemudian mengeluarkan sebuah cakram pipih yang tajam, senjata suci tersebut berada pada alam naga puncak.
"Wah itu cakram air, senjata yang langka." Ucap salah seorang penonton.
"Plok....... plok........ plok......... " Suara tepuk tangan penonton.
"Kenapa Pemuda Tampan itu termenung?"
"Kya............ mungkinkah dia telah menyadari kecantikan bangsawan ku." Gumam Lily.
Lily sudah terbius oleh kemampuan Dragon Love milik Arung.
"Huft.................... " Suara nafas panjang Lily.
"Jangan terkecoh ketampanan nya Lily." Gumam Lily, lalu melemparkan cakram air nya ke arah Arung.
"Sepertinya Gadis Cantik ini ingin segera menang." Gumam Arung, lalu melesatkan akar tanaman dari telapak tangannya ke arah cakram tersebut.
Akar tanaman milik Arung pun terbelah oleh cakram tersebut, ia pun lalu mengeluarkan Pedang Taifun lalu menahannya dengan pedang tersebut.
"Grekkk..... grekkk.... grekkk..... " Suara Cakram air sedang menekan Pedang Taifun.
"Ugh................ kuat sekali, seandainya ranah ku masih normal." Gumam Arung, namun tenaga dorongan dari cakram tersebut teramat besar.
"Akh................. " Teriak Arung, ia pun terpental beberapa meter.
Cakram air kembali kepada pemilik nya, Arung pun bangkit kembali lalu menebaskan seberkas energi angin berbentuk bilah pedang ke arah Lily.
"Wajah kesakitan nya pun tampan." Gumam Lily lalu menembakkan bongkahan es yang besar dari telapak tangannya ke arah bilah pedang angin.
"Duarghhh........................." Suara ledakan akibat Kedua elemen yang saling berbenturan.
Arung lalu mengalirkan tenaga dalam nya ke kakinya, beberapa saat kemudian muncul tornado kecil di bawah kakinya.
"Whussss..................... " Suara tornado kecil.
"Kya.............. tampan nya, dia terlihat gagah,"
"Mama marah gak ya, kalau aku menjadi kan nya pacar ku... eh... calon suamiku?" Gumam Lily.
Arung pun mulai melayang satu meter dari atas lantai arena menggunakan kemampuan Pedang Taifun tersebut.
"Wah ternyata gadis cantik itu berelemen es, dia pasti seorang bangsawan." Ucap salah satu penonton.
"Pemuda berambut merah itu begitu gagah dan tampan, jadikan aku istrimu.... " Teriak penonton lainnya.
"Sebaiknya aku harus segera mengakhiri pertandingan ini, lalu mendekatinya." Gumam Lily, lalu mulai menembakkan beberapa bongkahan es runcing ke arah Arung.
Arung pun terbang melesat ke arah bongkahan es tersebut menggunakan tornado kecil di kakinya lalu membelah bongkahan-bongkahan es tersebut.
"Duargh...... duargh..... duargh...... " Suara ledakan dari bongkahan-bongkahan es yang mengenai lantai setelah terbelah.
"Kya................ gantengnya?" Gumam Lily.
"Kenapa dari tadi Lily pipi nya terus memerah, mungkinkah dia sedang demam?"
"Kalau ia, kasian juga ya." Gumam Arung.
Lily lalu menyalurkan energi petir ke arah cakram air, lalu melemparkan nya ke arah Arung. Cakram pun berputar dengan sangat kencang lalu mengeluarkan energi petir yang dahsyat.
"Serangan yang dahsyat, aku tidak boleh menganggap remeh serangan tersebut." Gumam Arung, lalu menebaskan sejumlah energi angin yang berbentuk pedang besar ke arah cakram tersebut.
"Duarrrrr..................................... " Suara ledakan pun terjadi.
Energi bilah pedang angin pun lenyap, namun cakram air berenergi petir itu terus melesat. Karena sudah tidak dapat menghindari nya lagi, Arung pun berteleport ke belakang Liliy dan melesat kan tembakkan bola api hitam ke punggung Lily.
"Blitzzzz........................................ " Suara Jurus Teleportasi milik Arung.
Lily pun menyadari serangan Arung dari belakang tersebut, lalu mulai menghentakkan telapak tangan nya ke lantai Arena.
"Groagh........ groaghhhhhhh...... " Suara saat bongkahan batu muncul.
Sebongkah batu keluar dari dalam lantai arena lalu menjadi tameng pertahanan Lily.
"Duarrrrr................................. " Suara bola api hitam yang menghantam tameng pertahanan Lily.
Asap pun mulai mengepul dari balik asal ledakan tersebut.
"Wanita cantik ini ternyata memiliki tiga macam elemen, jika aku dalam kondisi puncak aku aku yakin dapat mengimbanginya,"
"Aku harus mencari siasat untuk memenangkan pertandingan ini,"
"Apa aku mengalahkan nya menggunakan ke tampanan ku, ah...tidak mungkin seorang Kultivator sekuat itu akan terlena oleh ketampanan." Gumam Arung.
"Wah.................laki-laki yang tampan, Kira-kira dia sudah punya pacar apa belum ya?"
"Tapi tidak mungkin laki-laki se tampan itu tidak punya kekasih, kecuali dia gay, sebaiknya aku pastikan nanti,"
"Nanti akan ku tanyakan kepadanya, setelah aku mengalahkannya dengan cinta." Gumam Lily.
"Hi...... hi...... Hi....... " Tawa Kecil Lily di dalam hati.
Sementara itu di bangku tribun dalam, Dila Azura sedang menyaksikan pertarungan tersebut.
"Kenapa pemuda berambut merah itu masih hidup, seharusnya dia sudah mati terkena racun dari ku, bahkan Wakil Komandan Luna saja sampai kehilangan kultivasi nya."
"Apa dia memiliki serum penawar racun kelabang surgawi?"
"Tidak mungkin, penawar racun itu hanya di jual di Paviliun Racun milik Paman dan saat ini stok nya sedang habis." Gumam Dila, sambil menghisap rokok di mulut nya.
"Whusss.............. " Suara hembusan asap rokok.
Kembali ke kamar pribadi Nona Mitha.
Siang ini Nona Mitha sedang menonton Live Streaming pertandingan tersebut sambil bermeditasi es. Ia sedang menyaksikan pertandingan Arung Vs Lily dengan tenang.
"Kejutan apa lagi yang akan diberikan oleh Adik kecil ini, aku sudah tidak sabar melihat nya," Gumam Nona Mitha.
Kemudian Lily pun muncul di atas arena, Ekspresi Nona Mitha pun berubah. Seketika emosi nya Nona Mitha naik lalu menyebabkan sirkulasi es di tubuh nya kacau.
"Uhuk... uhuk... uhuk... " Suara batuk Nona Mitha, mulutnya mengeluarkan sedikit darah.
"Uhuk...... uhuk..... uhuk.... "
"Uhuk.... uhuk....... " Suara batuk Nona Mitha.
"Ugh.............Sudah kubilang kepada nya supaya jangan ikut ujian prajurit, dasar adik nakal." Ucap Nona Mitha, sambil mengelus-elus dadanya.
"Aku sudah bilang akan merekomendasikannya langsung ke Sekolah Perwira di Kota Seribu Obat, awas saja dia nanti setelah ujian tahap kedua ini selesai aku akan memberikan hukuman berat kepada nya." Ucap Nona Mitha.
Nona Mitha pun kembali berganti pakaian dan berniat menonton kembali pertandingan sambil meminum secangkir teh.
Arung pun mulai terbang melayang sekitar lima meter dari arena menggunakan tornado kecil di kakinya, melihat itu kali ini Lily menembakkan beberapa bongkahan es runcing kembali ke arah Arung. Arung pun kembali menerjang ke arah beberapa bongkahan es tersebut lalu membelah nya menggunakan Pedang Taifun.
"Duarghhh.......... duarghhh......... duarghhh......... " Suara ledakan akibat beberapa pecahan bongkahan es menghantam lantai arena.
Beberapa saat kemudian.
Tiba-tiba saja Lily sudah tidak ada ditempat awal ia berpijak.
"Kemana Gadis Cantik berambut biru tersebut?" Gumam Arung, ia pun bingung lalu menoleh kesana-kemari berniat mencari keberadaan Lily.
Lily ternyata sudah berada di belakang Arung lalu mulai melesatkan cakram air berenergi petir, Cakram air petir pun melesat dengan dahsyat.
"Apa...... sejak kapan dia di belakang ku?" Gumam Arung, beberapa saat kemudian ia baru menyadarinya.
"Dia akan kalah saat ini, Komandan Anya cepat kau selamatkan laki-laki tampan tersebut." Gumam Lily.
Sementara itu Komandan Anya telah bersiap menyelamatkan Arung.
"Ugh..... aku terdesak, sebaiknya aku menembakkan bola api hitam sekuat tenaga ku,"
"Ke arah Cakram yang tengah melesat tersebut." Gumam Arung, lalu ia pun mulai mengumpulkan seluruh tenaga dalam nya ke telapak tangan nya lalu menghadap kan nya ke arah cakram air petir tersebut.
Para penonton pun berdiri dan takjub melihat serangan Arung. Ternyata sebuah bongkahan es runcing berdiameter sepuluh meter melesat dari telapak tangannya lalu menghantam cakram air petir tersebut.
"Duarrrrrrr........... " Sebuah ledakan besar pun terjadi.
Cakram air petir pun berhasil di hentikan dan terjatuh ke lantai.
"Brukkkk.............. " Suara Cakram air petir yang jatuh ke lantai.
"Apa........... mungkinkah Arung sebenarnya adalah kerabat jauh ku, aku seperti mengenal aura elemen es tersebut?"
"Jika kami kerabat jauh, mama gak mungkin ngizinin aku memacarinya." Gumam Liliy.
Saat ini Lily sedang termenung dan tidak mengetahui ada beberapa pecahan bongkahan es yang tengah melesat ke arahnya.
"Ugh...... gadis bodoh itu termenung disaat-saat kritis seperti ini." Gumam Komandan Anya.
Beberapa detik sebelum terkena beberapa pecahan bongkahan es, Komandan Anya langsung menepis nya serangan tersebut dengan pedang milik nya. Para penonton pun bertepuk tangan atas kemenangan Arung.
"Plok...... plok..... plok...."
"Plok....... plok..... plok... " Suara tepuk tangan Penonton.
"Lho aku perasaan tidak pernah mengkultivasi essensi berelemen es, mungkinkah kalau aku seorang jenius sebenarnya?" Gumam Arung.
"Wah...........itu sebuah elemen es sepertinya dia berasal dari salah satu keluarga bangsawan, wajar saja wajahnya sangat tampan." Ucap salah satu penonton.
"Kya....... Tampan hati ku beku karena es mu, jadikan aku istrimu." Teriak penonton lainnya.
Arung sendiri terkejut dia bermaksud mengeluarkan serangan bola api hitam namun malahan serangan es yang muncul, ia pun turun perlahan-lahan ke arena.
"Mungkin ini ada hubungan nya dengan Kejadian di Kaki Bukit Siluman." Gumam Arung.
Lily pun mulai mendekati Arung, lalu menjabat tangan nya.
"Selamat Tampan, kau menang." Bisik Lily, lalu melangkah pergi.
"Terima kasih." Ucap Arung.
"Tampan setelah aku lebih kuat darimu, aku akan mencarimu untuk menyatakan perasaan ku." Gumam Lily, sambil melangkah pergi.
Saat ini Lily makin terbius oleh kemampuan spesial Arung "Dragon Love".
Beberapa saat kemudian.
Komandan Anya mulai mengumumkan pemenang Pertandingan tersebut, sementara itu Arung menyimpan kembali Pedang Taifun nya dan segera meninggalkan Stadium Awan Hitam.
Tepi Jalan Stadium Awan Hitam
"Byurrrr....................... " Suara hujan deras.
Arung lalu keluar dari Stadium Awan Hitam, dan saat ini sedang berdiri di tepian jalan. Terlihat lalu lalang kendaraan di jalanan tersebut, lalu beberapa kultivator dan orang-orang biasa sedang berjalan di trotoar jalan tersebut.
"Hah................. "
"Kenapa aku sampai bisa memiliki sebuah elemen es, aku tidak pernah mengkultivasi kan elemen tersebut." Gumam Arung.
Beberapa Kultivator Wanita yang melintas di sekitar Arung pun menoleh ke arahnya, mereka sepertinya terbius oleh kemampuan spesial Arung.
"Mungkinkah ini ada hubungan nya dengan kejadian di Kaki Bukit Siluman?"
"Saat aku mengkultivasi ganda Nona Mitha sehingga essensi nya berpindah setengah kepadaku, tapi dia kan bukan seorang manusia bukan beast?"
"Sebaiknya aku bertanya permasalahan ini kepada Robert saja, dia mungkin tahu penyebab nya?" Gumam Arung, lalu menelpon Robert.
Beberapa saat kemudian, Robert Wong pun mengangkat teleponnya.
Lantai1, Perpustakaan Kota Awan Hitam.
Saat ini Robert tengah duduk di kursi lalu melempangkan kaki dan membuka kacamata nya, ia saat ini juga sedang menikmati segelas kopi pahit di atas meja Pustakawan nya.
"Hai bro, wow............perfect."
"Elemen es yang sangat mengagumkan teman." Ucap Robert Wong, melalui HP.
"Dia pasti terkejut juga dengan serangan es ku tadi." Gumam Arung.
"Robert ada yang ingin ku tanyakan kepadamu, ini mengenai essensi dari seorang kultivator apakah ada?" Ucap Arung, melalui HP.
"Oh................tentu saja ada, nanti aku bawakan bukunya kamu baca aja sendiri Arung," Ucap Robert, melalui HP.
"Mana mungkin aku mengatakan nya kalau essensi pada kultivator baru bisa terbagi setelah melakukan hubungan intim, dan salah satu nya harus berada di ranah kultivator alam naga puncak ke atas,"
"Mungkinkah Arung sudah melakukan hubungan intim dengan salah seorang kultivator senior, dan saat ini dia akan di jadikan suaminya secara paksa?"
"Kasihan temanku kalau memang begitu." Gumam Robert.
"Robert.... Robert....?" Ucap Arung melalui HP
"Iya... iya... Bro,"
"Arung, ada yang ingin ku bicarakan dengan mu nanti,"
"Tapi nanti ya setelah shift kerja ku berakhir di perpustakaan ini,"
"Aku akan datang ke rumah mu atau tempat lainnya kau berada bro." Ucap Robert Wong, melalui HP.
"Ya sudah baiklah, aku akan menunggumu di Rumah Makan Daging Panggang Siluman Air saja Robert." Ucap Arung, melalui HP.
"Ok bro, jadi aku akan langsung ke Warung Makan tersebut." Ucap Robert, sambil mematikan HP nya.
Arung lalu beranjak ke rumah makan tersebut, berniat mengendarai jeep perang miliknya.
Bandara Udara Kerajaan Assasin.
Setelah beberapa hari melakukan perjalanan melalui bus, Cie Err pun telah tiba di Bandara Udara, saat ini ia tengah duduk di dalam Pesawat Terbang Maskapai Assasin Airlines dan hendak berangkat ke Kota Awan Hitam. Beberapa menit kemudian pesawat tersebut pun mulai lepas landas.
Di dalam Pesawat Assasin Airlines.
Saat ini Pesawat telah mengudara selama beberapa jam, terlihat Cie Err tengah duduk di bangku paling belakang seorang diri lalu memandangi jendela pesawat.
__ADS_1
"Nona minuman atau makanannya." Ucap salah satu Kultivator Pramugara, menawarkan beberapa snack dan minuman.
"Tidak tuan, Terima kasih." Ucap Cie Err.
Kultivator Pramugara itu pun kembali menawarkan beberapa snack dan minuman kepada penumpang pesawat lainnya, lalu meninggalkan Cie Err.
"Wah..... Kultivator Pramugara itu tampan, tapi tidak se tampan Pemuda yang menodai mama ku,"
"Ugh....... apa yang kupikirkan, kenapa aku berpikir seperti ini,"
"Ingat tujuanku ke Kota Awan Hitam untuk membuat Pemuda Berambut Merah itu bertanggung jawab dengan mamaku." Gumam Cie Err.
Beberapa saat kemudian terjadi goncangan pesawat yang sangat besar, ternyata di luar pesawat beberapa ekor beast tengah menyerang Pesawat Assasin Airlines.
Di luar Pesawat.
"Aurghhhh....................... " Suara raungan beast Phoenix Surgawi.
Ada lima ekor Beast Phoenix yang terbang di sekitar pesawat, sepertinya makhluk-makhluk ini terganggu dengan suara berisik Pesawat Assasin Airlines. Makhluk-makhluk ini mulai melesatkan beberapa tembakan bola api ke arah pesawat tersebut.
"Duargh......... duargh....... duargh.......... " Suara ledakan pesawat, seluruh mesin pesawat pun mati.
Tampak beberapa lubang tercipta di badan pesawat akibat serangan mendadak tersebut, tak lama berselang pesawat pun jatuh tepat di pinggiran Desa Fire Snake. Kelima Beast Phoenix tersebut pergi begitu saja setelah menjatuhkan pesawat berpenumpang 200 orang.
Di dalam Pesawat ketika hendak jatuh.
Kepanikan terjadi di kabin pesawat, tampak para kultivator bergegas memasang perisai kultivasi mereka begitu pula dengan Cie Err.
"Ugh....... mama maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa membuat Pemuda yang bernama Arung itu bertanggung jawab kepada mu mama,"
"Pesawat ini akan jatuh, aku entah selamat atau ikut tewas," Gumam Cie Err.
Sementara itu dua kultivator yang duduk di depan Cie Err terlihat panik, ternyata mereka adalah sepasang Assasin yang baru saja menikah.
"Mama.... bagaimana ini, kita baru saja menikah bahkan berciuman saja belum." Ucap Kultivator Laki-laki tersebut.
"Papa makanya jangan sibuk terus bekerja, mama sudah berulang kali memancing Papa,"
"Tapi Papa selalu saja sibuk bilang sedang ada misi pembunuhan disana lah disni lah l, makanya salah Papa sendiri kan." Ucap Kultivator Perempuan tersebut.
"Ia ma, maaf." Ucap Kultivator laki-laki tersebut.
Kultivator Perempuan tersebut pun mulai mengayunkan tangannya, sebuah perisai tumbuhan muncul di sekitar mereka.
"Baiklah Pa kemari cepat, jangan berisik malu dengan yang lainnya." Ucap Kultivator Perempuan tersebut dari balik perisai.
"Yihaa.......... " Teriak Kultivator Laki-laki tersebut, kegirangan.
"Papa, kan sudah mama bilang jangan berisik, kok malah teriak segala." Ucap Kultivator Perempuan tersebut.
Sementara itu di luar perisai, di bangku belakang Cie Err dan penumpang lainnya yang mendengarkan pembicaraan sepasang suami istri ini mengurut-urut kepalanya masing-masing.
"Dasar assasin hitam, sudah berada dalam kondisi kritis seperti ini masih saja sempat-sempat nya melakukan hal tersebut,"
"Mungkinkah mama dan Pemuda berambut merah ini melakukan hal seperti itu sepanjang waktu seperti sepasang suami istri yang sedang mabuk kasmaran ini,"
"Mamaaaaa....... malangnya nasibmu setelah memberikan segalanya kau di campakkan begitu saja." Gumam Cie Err.
"Hiks...... hiks..... hiks.... "
"Hiks....... hiks...... hiks.... " Isak tangis Cie Err pecah.
Beberapa saat kemudian pesawat pun jatuh ke pinggiran Desa Fire Snake.
"Duargh............................ " Suara ledakan akibat jatuhnya pesawat.
Rumah Makan Daging Panggang Siluman Air.
Beberapa menit kemudian, Arung pun tiba di rumah makan tersebut. Ia pun memarkir mobilnya ke tepian jalan lalu masuk ke dalam. Di dalam terlihat sangat ramai pengunjung sedang menyantap pesanan mereka, Arung pun duduk di salah satu kursi di tempat tersebut, berniat memesan makanan.
"Pelayan daging siluman air panggang dengan sayuran yang banyak satu porsi ya dan teh ginseng nya satu." Pesan Arung.
Pelayan Laki-laki pun menghampiri Arung.
"Baik Tuan Muda." Ucap Pelayan Laki-Laki tersebut, lalu beranjak menyiapkan pesanan Arung.
Beberapa saat kemudian pesanan pun tiba.
"Wah...... cepat sekali, pelayanan disini memang nomer satu." Gumam Arung.
"Selamat menikmati Tuan Muda." Ucap Pelayan Laki-laki.
"Terima Kasih." Ucap Arung.
Arung pun menunggu kedatangan Robert Wong sambil menyantap daging panggang siluman air lalu minum segelas teh gingseng.
"Ah...... rasa daging ini sungguh nikmat, tapi aku masih saja bingung dengan Dunia Kultivasi ini,"
"Nama rumah makannya saja sangat aneh dan terkesan menyeramkan, tapi warung makan ini tetap ramai." Gumam Arung, lalu meneguk teh ginseng nya.
Kamar Nona Mitha
Kembali ke kamar Nona Mitha, saat sedang menonton live streaming pertandingan Arung VS Lily. Setelah berganti pakaian dan membuat segelas teh ginseng, Nona Mitha pun kembali menonton lanjutan pertandingan tersebut.
"Syukurlah belum selesai, aku masih ingin melihat wajah tampan Adik Kecil." Gumam Nona Mitha.
Beberapa menit kemudian
Nona Mitha masih tenang menonton pertandingan tersebut sambil meneguk teh beberapa kali.
"Hebat juga Lily sekarang sudah dapat membangkitkan tiga elemen alam." Gumam Nona Mitha dalam hati, sambil mengaduk teh gingseng nya.
Ketika Lily mengerahkan seluruh kemampuannya pada serangan cakram air, Nona Mitha pun berhenti sejenak meneguk teh.
"Bagus Lily, itu bukti kamu adalah keluarga dragon ice kita." Gumam Nona Mitha dalam hati.
Tak lama kemudian, Arung melesatkan bongkahan es dari telapak tangannya. Nona Mitha yang melihatnya seketika menumpahkan teh gingseng tersebut ke bajunya.
"Adik kecil akhirnya, elemen es kita bangkit." Ucap Nona Mitha dalam hati.
"Dia pasti sudah menyadarinya, apakah aku umumkan saja bahwa aku sudah bertunangan dengan adik kecil." Gumam Nona Mitha didalam hati, dengan pipi yang memerah dan ekspresi sedingin es.
Para pengawal setia yang berjaga di depan kamar Nona Mitha pun bingung dengan maksud Nona Mitha mengatakan "elemen es kita", mereka berdua pun saling tatap-tatapan. Nona Mitha pun kembali berganti pakaian setelah menonton pertandingan Arung.
Kembali ke warung makan
Arung tengah bersantai meminum teh gingseng di kursi, setelah selesai menyantap makanan di warung makan. Seorang wanita cantik menepuk bahunya dari belakang, ternyata itu Kayla Amara dan Jupiter Fox.
"Wah elemen es yang hebat, ternyata kau seorang bangsawan di Kekaisaran ini, bahkan guruku pun sampai tersedak ketika memakan buah tadi." Ucap Kayla.
Arung pun menoleh kebelakang.
"Ternyata murid Wakil Komandan Luna." Gumam Arung dalam hati.
"Ya sudah kalian ngobrol aja dulu, aku akan mengantarkan pesanan guru ku ke rumah sakit." Ucap Jupiter, kemudian beranjak kembali kerumah sakit sambil membawa dua plastik besar makanan.
"Baiklah Jupiter, ingat sisakan buatku ya daging panggangnya." Ucap Kayla, kemudian duduk di depan Arung.
"Wah kalau dilihat dari dekat kau lebih tampan dari yang di TV ya." Ucap Kayla, sambil tersenyum kearah Arung.
"Benarkah, Kayla kamu bercanda." Ucap Arung.
"Kryukkk... kryukkk...." Suara perut Kayla
Mendengar itu Arung langsung memesan kan satu porsi daging panggang siluman air untuk Kayla. Kayla ternyata dari tadi pagi belum memakan makanan apa pun karena menjaga Wakil Komandan Luna di Rumah Sakit.
Beberapa saat kemudian, Kayla pun selesai menyantap seluruh makanannya.
"Pemuda tampan ini pasti keturunan bangsawan, makanan di warung ini kan sangat berkelas dan mahal tapi dia dengan mudah memesan nya." Gumam Kaya dalam hati.
"Terima kasih Arung, memang daging di kedai ini sangat lezat." Ucap Kayla
"Ya Kayla, tidak apa-apa." Ucap Arung.
"Kamu lagi menunggu pacarmu ya." Tanya Kayla.
"Tidak aku sedang menunggu temanku, Robert Wong." Ucap Arung.
"Kring..... kring..... kring... " Suara HP Arung berbunyi dari dalam cincin ruang nya.
Arung pun mengangkat telponnya, ternyata Gisel yang menelfon.
"Sayang kau dimana sekarang makan di luar yuk, aku kelaparan nich dari pagi belum makan karena habis nyalon ajak Shilla pun boleh." Ucap Gisel melalui HP.
"Sayang?, ternyata pemuda tampan ini sudah punya pacar," Gumam Kayla dalam hati.
"Kebetulan aku lagi di kedai langganan mu bersama seorang teman, kemarilah akan kupesan kan lele penyet buatmu." Ucap Arung melalui HP.
"Ya sekalian ada yang ingin ku bicarakan dengan mu Arung, dan masalah undangan makan malam dari mamaku." Ucap Gisel.
"Baiklah aku tunggu disini ya." Ucap Arung.
Gisel pun mematikan HP nya dan beranjak ke kedai makan menggunakan taxi. Setelah memesan dua porsi lele penyet dan beberapa kaleng beer Arung pun melanjutkan mengobrol dengan Kayla. Beberapa menit kemudian Gisel pun tiba dan langsung duduk di samping Arung dengan wajah yang kesal. Gisel salah penafsiran dan mengira Arung ingin mengenalkan salah seorang pacar lagi kepadanya. Untuk masalah Shilla, Gisel sudah bisa menerimanya sebagai madu.
"Jadi ini temanmu ya Arung, wanita mana lagi yang kau jadikan pacar ketigamu." Ucap Gisel dengan nada suara yang agak besar.
"Apakah kamu tidak cukup berpacaran denganku dan Shilla, sehingga harus menambah satu wanita lainnya lagi." Ucap Gisel kesal, sambil melihat kearah Arung kemudian Kayla.
Arung tidak bisa berkata apa-apa, seluruh pengunjung pun menatap kearah meja kami.
"Wah dasar playboy. tiga pacarnya apa dia kira dirinya seorang jenderal." Ucap salah seorang pengunjung.
"Dua pacarnya, wah tidak sia-sia dia tampan dan kaya."
"Wanita yang bernama Gisel ini pun sangat cantik, rambut ungunya dan mata yang berwarna hijau."
"Aku harus segera menjelaskan kesalah pahaman ini, kasian Arung tidak bisa berkata apa-apa." Gumam Kayla dalam hati.
"Nona Gisel, aku bukan pacarnya Arung."
"Aku kebetulan sedang membeli daging panggang buat guruku dan duduk bersama Arung." Ucap Kayla.
"Tenang dulu Gisel Kayla adalah murid dari Wakil Komandan Luna." Ucap Arung.
"Oh..... maaf Arung kalau begitu, ya sudah jangan canggung lanjutkan saja pembicaraan kalian." Ucap Gisel.
"Tidak ap aku sudah selesai kok, aku balik dulu ya Arung." Ucap Kayla.
"Jangan balik sekarang, sebentar lagi saja kita balik sama-sama aku dan Arung akan mengantarmu minumlah beer ini terlebih dahulu." Ucap Gisel.
"Benar yang dikatakan Gisel, sebentar lagi saja balik bersama kami." Ucap Arung.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Kayla, sambil meminum beer.
Gisel pun mulai menyantap hidangan lele penyet tanpa menghiraukan Arung dan Kayla yang sedang mengobrol. Tak terasa hari pun sudah menjelang sore, Robert Wong pun bergegas beranjak ke warung makan, menggunakan mobil sedan miliknya.
Penginapan Stadium Awan Hitam.
Pagi hari, saat Arung masih tertidur pulas di dalam kamar.
"Huft........................ " Suara hembusan nafas panjang milik Shilla.
"Baiklah, aku akan mencoba mengeluarkan beberapa dahan dari telapak tangan ku." Gumam Shilla, lalu memasang kuda-kuda.
Aura kehijauan berkumpul di sekujur tubuh Shilla.
"Bayangkan dahan, dahan keluar lah." Gumam Shilla, lalu dari telapak tangan Shilla keluar beberapa akar ber aura kehijauan.
"Lho.... kok akar yang keluar bukan nya dahan,"
"Apa yang salah dengan latihan ku ya?"
"Baiklah aku akan mencobanya sekali lagi." Gumam Shilla, lalu memasang kuda-kuda sekali lagi.
"Bayangkan dahan, dahan, ayam jago Arung, ayam jago Arung,"
Aura kehijauan kembali berkumpul di sekujur tubuh Shilla.
"Lho...........kok ayam jago Arung." Gumam Shilla, lalu terkejut melihat hasil latihannya.
Shilla membayangkan kejadian saat kultivasi ganda di dalam kamar.
"Hah............. " Suara hembusan nafas panjang Shilla.
Dari tangan Shilla keluar banyak sekali akar-akar tumbuhan yang membentuk Beast Ayam Jago berkepala Manusia.
"Hah............................ " Suara hembusan nafas panjang Shilla.
"Ini akibat metode kultivasi mesum di kamar bersama Arung, sejak saat itu sampai sekarang aku selalu kepikiran Arung." Ucap Shilla, lalu memulai lagi latihannya.
Beberapa jam kemudian.
"Aku sudah mencobanya berkali-kali tapi tetap saja akar-akar yang keluar, sebaiknya aku menyudahi latihan ku dulu saja." Gumam Shilla.
Siang hari, di dapur kamar 303
Siang hari setelah Arung berangkat.
"Baik lah saat nya menyiapkan masakan yang lezat buat calon suamiku,"
"Akan ku kerahkan segenap kemampuan memasakku, lalu kutambahkan dengan rasa cinta ku." Gumam Shilla, lalu mulai menyiapkan bumbu-bumbu masakan.
Beberapa jam kemudian, Shilla pun selesai memasak.
"Huft................... " Suara hembusan nafas panjang Shilla.
"Tinggal menunggu calon suami datang, apa dia akan menyukai masakanku yach." Ucap Shilla.
Tampak di meja makan dapur, banyak hidangan lezat telah tersaji di atasnya.
"Cuci piring sudah, memasak sudah,"
"Kya.......... aku merasa seperti ibu-ibu rumah tangga saja,"
"Kya.......... malunya." Ucap Shilla, lalu beranjak ke ruang santai.
Ruang Santai Kamar 303
Shilla pun duduk sambil membaca buku yang dipinjam oleh Arung yang tergeletak di atas meja sambil menghidupkan kan TV.
"Bagus sekali buku yang di pinjam oleh calon suamiku ini." Gumam Shilla, lalu mulai membaca buku tersebut.
Beberapa jam kemudian.
Tidak terasa waktu pun sudah sore Shilla terus menunggu Arung pulang sambil meminum segelas susu phoenix.
Warung Makan Daging Panggang Siluman Air.
"Byurrrr......................... " Suara hujan deras.
__ADS_1
Akhirnya Robert pun tiba lalu bergabung di meja bersama Arung dan lainnya. Arung lalu memperkenalkan Robert Wong kepada Gisel dan juga Kayla.