Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
SEA WARS Bagian Ke Tiga.


__ADS_3

Kembali ke saat Gisel mengeluarkan Jurus Tapak Halilintar Ungu milik nya, Di Dek Kapal Layar Langit yang di nakhodai oleh Wakil Komandan Luna.


"Duarghhh............... " Suara ledakan akibat Jurus Tapak Halilintar Ungu yang dahsyat tersebut.


Wakil Komandan Luna beserta Komandan-Komandan lain nya yang berada di atas dek kapal lain nya pun terpukau menyaksikan serangan dahsyat tersebut.


"Gile Bener....... "


"Aku sudah dua kali menyaksikan Jurus ini namun masih tetap terpukau, aku tahu apa yang di rasakan Manusia Pohon Raksasa tersebut." Gumam Luna kembali mengingat saat dirinya menahan Jurus Tapak Ungu tersebut di kala Ujian Tahap Ketiga di Kota Awan Hitam tempo lalu.


Hujan deras terus mengguyur Samudra Zamrud Hijau tersebut, beberapa kilatan petir terlihat beberapa kali, suara halilintar menyambar pun terdengar beberapa kali menambah mencekam nya hari tersebut.


"Byurrrr......... " Suara hujan deras.


Wakil Komandan Luna pun mulai mengeluarkan Pedang Obat dan Pedang Petir Ungu nya, kemudian bersiap bertarung di atas Dek tersebut.


"Datang lah Manusia-Manusia Beast Ssialan." Gumam Luna menanti kedatangan Monster-Monster Pohon tersebut.


Salah satu Komandan Mawar pun mulai menaiki Dek tersebut bersama dengan 50 Prajurit-Prajurit Beast tumbuhan, sang pemimpin pun mulai mengacungkan Pedang Kayu Besi nya ke arah Luna dan Komandan-Komandan serta Calon-Calon Alkemis lain nya.


"Serang........... " Teriak Komandan Mawar tersebut.


"Hyattttt.......... " Teriak Prajurit-Prajurit tersebut lalu menerjang ke arah Luna dan yang lain nya.


"Tring...... Tring..... Tring..... "


"Tring...... Tring..... Tring.... " Suara Saat Senjata-Senjata Suci Milik Kultivator dari Planet Bumi beradu dengan Pedang Kayu Besi milik Manusia-Manusia Beast tersebut.


Sementara itu Wakil Komandan Luna berhadapan langsung dengan Komandan Mawar tersebut.


"Dari sekian banyak Kultivator di atas dek kapal ini, kenapa Komandan Manusia Beast tersebut harus memilih melawan ku sich." Gumam Luna.


"Erggggghhhh....... " Suara Erangan Komandan Manusia Beast tersebut.


"Huft........... " Suara Nafas Panjang Luna.


Kembali ke Kapal Layar Langit yang di naiki oleh Menteri Obat.


Di dalam ruangan VVIP.


"Tok..... Tok...... Tok....... " Suara ketukan pintu dari luar.


"Guru.... Guru..... " Teriak Reika sedikit agak panik saat memanggil guru nya.


Karena semalam Menteri Obat bergadang memikirkan rasa sakit hatinya kepada Tunangan Jendral Es dan meminum minuman dingin saat ini Sinyo Sakura sedang mencret dan sedang berada di dalam toilet.


"Reika masuklah, pintunya tidak terkunci..... " Teriak Menteri Obat dari dalam kamar mandi.


"Kenapa guru berteriak?" Gumam Reika.


Gadis Cantik itu pun memegang gagang pintu, kemudian membukanya lalu masuk ke dalam ruangan VVIP tersebut.


"Kraaakkkkk........... " Suara saat pintu terbuka.


"Ada apa Reika, kenapa mengganggu ku saat aku sedang berada di dalam kamar mandi?" Tanya Menteri Obat dari dalam kamar mandi.


Reika pun mulai menceritakan detail peristiwa yang saat ini sedang terjadi di luar, ia pun mengatakan perang hebat tersebut sedang berkecamuk di luar sana.


Beberapa saat kemudian.


"Apa..... Reika walaupun saat ini kondisi kita lagi kritis, masalah hati ku tetap nomer satu, kita harus tetap membunuh Tunangan Jendral Es tersebut,"


"Kalau begitu tunggulah dulu di sini, selesai urusan ku di Kamar Mandi ini kita akan melihat situasi di luar." Perintah Menteri Obat dari dalam kamar mandi.


"Siap Guru." Jawab Reika lalu duduk menunggu di sofa di dalam Kamar Guru nya tersebut.


Dari luar Kapal tersebut terdengar suara ledakan dan gemuruh pertarungan, sesekali Kapal tersebut pun ikut berguncang.


"Tutttt................. " Suara buang angin guru nya dari dalam kamar mandi.


"Ugh.... Bau banget apa yang di makan guru semalam." Gumam Reika lalu menutup hidung nya.


Kembali ke Komandan Lily dan Milea yang tengah bersantai di Pulau Jamur.


Sesaat sebelum terjadi nya serangan oleh Jendral Mawar Ungu dan bala tentara nya, ternyata Milea tidak mencari Buah Pohon Kematian ia malah berjemur di pinggir pantai tersebut bersama Komandan Lily dan kedua sepupu nya, Cici dan Bayli.


"Wah.... Kau memang hebat Milea, tidak kusangka Raja Kota Awan Hitam memiliki peninggalan Buah Pohon Kematian di dalam ruang harta penyimpanan milik nya, jadi kita tidak perlu bersusah payah mencari nya lagi,"


"Tim kita pasti menang." Ucap Komandan Lily yang tengah memakai tabir surya nya.

__ADS_1


Saat ini keempat wanita tersebut tengah mengenakan bikini dan berjemur di pinggiran Pantai Pulau Jamur tersebut.


"Benar Komandan, Tim kita jadinya tidak perlu membahayakan diri untuk menjelajah Pulau-Pulau Berbahaya di sekitar sini." Ucap Milea yang tengah tertulungkup di atas tikar tersebut.


"Raja Kota memang hebat, dia memberikan buah tersebut secara cuma-cuma kepada kita Bayli." Ucap Cici.


"Benar Cici." Ucap Bayli.


Beberapa saat kemudian langit pun mulai di penuhi oleh awan-awan hitam, tak lama berselang hujan deras pun mulai mengguyur Pulau Jamur tersebut.


"Byurrrr.................. " Suara hujan deras.


"Jderrr...... Jderrr....... Jderr......... " Suara petir yang menyambar di kejauhan.


"Firasatku tidak enak Milea, sebaiknya kita kembali ke Kapal Layar Langit." Ucap Komandan Lily lalu memasang perisai hujan di kepalanya.


"Benar yang di katakan Komandan Lily, kita sudah hampir enam bulan berada disini, lebih baik kita segera kembali,"


"Aku khawatir kita akan ketinggalan kapal jika telat kembali." Ucap Bayli.


Tim Komandan Lily tidak mengetahui jika saat ini Peperangan Besar tengah berkecamuk di sekitar Kapal-Kapal Layar Langit tersebut.


"Baik lah, aku pun sudah lelah terus-terusan berjemur di Pulau Jamur ini." Ucap Milea.


Setelah selesai berpakaian Tim yang baru saja selesai liburan itu pun mulai melesat ke arah Kapal-Kapal Layar Langit tersebut berada.


"Whusss...... Whusss....... Whusss......... " Suara hempasan angin saat Komandan dan Rekan Calon Alkemis nya melesat terbang dari Pulau Jamur tersebut.


Kembali Ke Arung dan tim nya.


Saat ini Arung tengah menghadapi tujuh manusia beast yang tengah mengeroyok nya, ketujuh Prajurit-Prajurit tersebut kompak mengayunkan Pedang nya ke arah Arung.


"Tring.... Tring..... Tring..... "


"Tring..... Tring.... Tring..... " Suara Saat Pedang milik Arung beradu dengan Pedang milik Prajurit-Prajurit tersebut.


"Ugh.... Sebaiknya aku mengeluarkan elemen magnet ku, mereka pasti lengah." Gumam Arung lalu mulai menghembuskan asap hitam dari dalam mulut nya.


"Whussss............ " Suara hembusan asap hitam yang mulai memenuhi radius beberapa meter di sekitar Arung.


Akibat asap hitam yang berelemen magnet tersebut, para Prajurit-Prajurit Beast itu pun lengah untuk sesaat di karenakan mereka mulai merasakan berat saat melangkah ataupun mengayunkan pedang nya.


"Gawat.... Asap ini membuat tubuh ku serasa mengangkat beban ratusan kilo." Gumam Prajurit Beast lain nya.


"Bagus mereka lengah, sekarang saat nya." Gumam Arung lalu melesat dan mulai menghabisi ketujuh Prajurit-Prajurit Beast tersebut.


"Jleeebb..... Jleeeb....... " Saat Pedang Taifun dan Pedang Tornado menusuk perut para Prajurit-Prajurit tersebut.


"Akhh.............Akh......... Akh....... " Teriak Prajurit-Prajurit tersebut lalu tewas dan menjelma ke wujud asal nya.


"Slassss..... Slasshhh......... " Suara saat Pedang Taifun dan Pedang Tornado Api memenggal kepala Prajurit-Prajurit tersebut.


"Brukkk....... Brukkkk..... Bruuukkkkk........ " Suara saat tubuh-tubuh juga kepala-kepala manusia pohon itu tersungkur ke atas tanaman merambat.


Dengan anggun dan lincah Arung berhasil membunuh ketujuh Prajurit-Prajurit tersebut, di kejauhan Shimura pun melihat kultivator yang menjadi incaran nya tersebut sejak beberapa bulan yang lalu.


"Itu dia selebritis yang aku tunggu selama ini." Gumam Shimura lalu melesat terbang ke arah Arung lalu menusuk punggung nya.


"Jleeebb.................... " Suara saat Pedang Obat menusuk punggung Arung yang sedang lengah.


"Akhhhh..................... " Teriak Arung lalu mulai mengeluarkan darah hitam.


"Kena kau, sekarang tinggal memenggal kepala mu saja." Ucap Shimura kemudian mencabut pedang tersebut berniat memenggal kepala Tunangan Jendral Es tersebut.


"Arung......... " Teriak kompak Ayu, Shilla, dan Jeni dari kejauhan.


Kembali ke saat sebelum Arung mulai melesatkan elemen magnet nya.


Shilla, Ayu, dan Jeni saat ini sedang menghadapi 13 Prajurit-Prajurit Manusia Beast tersebut, tampak mereka tengah beradu pedang dengan makhluk-makhluk tersebut.


"Tring........ Tring...... Tring..... "


"Tring........ Tring....... Tring.... " Suara Saat Pedang-Pedang mereka saling beradu.


Shilla pun mulai menebaskan silang Pedang Iblis Kembar Putih nya tersebut.


"Whusss............. " Dua bilah pedang dengan pose menyilang berelemen cahaya dan kegelapan menerjang ke arah kumpulan Prajurit-Prajurit Beast tersebut.


Tidak mau kalah dengan Kultivator Bumi itu, ketiga Manusia Beast itu pun mulai menebaskan Pedang nya.

__ADS_1


"Whusss.............. " Tiga bilah pedang kayu raksasa menerjang ke arah Shilla.


Sementara itu Ayu dan Jeni melesat dari samping berniat menyerang mendadak beberapa Prajurit-Prajurit yang sedang lengah menyaksikan serangan milik Shilla tersebut.


"Duarghhh............ " Suara ledakan yang dahsyat pun terjadi akibat benturan ketiga elemen tersebut.


"Slashh...... Slasshhh......... " Suara saat Pedang Naga Api memenggal dua Prajurit-Prajurit Manusia Beast tersebut.


Prajurit-Prajurit Beast lain nya pun mulai menyerang ke arah Ayu.


"Ugh..... Baru dua mati masih ada 11 lagi." Guman Ayu lalu kembali saling beradu Pedang dengan ketiga Prajurit-Prajurit Beast tersebut.


"Tring....... Tring........ Tring....... "


"Tring....... Tring........ Tring....... " Suara saat Pedang Naga Api beradu dengan Pedang-Pedang Kayu Besi.


Sementara itu Jeni pun berhasil menusuk satu manusia Beast yang sedang lengah.


"Jleebbbb............ " Suara saat Pedang Emas menusuk perut Manusia Beast tersebut.


"Akh......... " Teriak manusia Beast tersebut lalu tewas.


2 Manusia Beast yang menyaksikan kejadian tersebut pun berang lalu mulai menebas punggung Jeni.


"Slashhhh.......... " Suara saat Pedang Kayu Besi menebas punggung Jeni.


"Akh......." Teriak Jeni lalu tersungkur ke depan.


Kedua manusia Beast tersebut hendak menusuk perut Jeni.


"Mati Kau.... " Ucap Salah Satu Manusia Beast tersebut.


Beberapa saat sebelum tertusuk Pedang Kayu Api, dua buah bola api berdiameter dua meter menghanguskan kedua manusia Beast tersebut.


"Duarghhhh........ Duarghhhh............ " Dua suara ledakan akibat serangan bola api.


Ternyata Shilla melihat Jeni hendak di bunuh oleh manusia Beast tersebut, Gadis Cantik Berambut Hitam Berkilau itupun melesatkan dua buah bola api ke arah makhluk-makhluk tersebut.


"Syukurlah masih sempat." Gumam Shilla lalu melesat ke arah Jeni.


"Byurrrr...................... " Suara hujan deras.


Beberapa kobaran api pun tetap menyala di hari dengan intensitas hujan lebat tersebut, terlihat Shilla sudah berada di sebelah Jeni. Setelah beberapa menit berlalu dengan bersusah payah akhirnya Ayu, Shilla, dan Jeni berhasil membunuh ke Sembilan Prajurit-Prajurit Beast lain nya.


"Jleeeb......................... " Suara saat Pedang Obat Menusuk Punggung Arung.


Dari kejauhan ketiga Calon Alkemis tersebut menyaksikan peristiwa saat punggung Komandan nya di tusuk oleh Pedang Obat tersebut.


"Arung......................... " Teriak Kompak ketiga Gadis Cantik tersebut kemudian melesatkan Jurus andalan nya ke arah Shimura Sakura.


"Whusss....... " Suara Hempasan Saat Dua bilah pedang raksasa berelemen kegelapan dan cahaya yang saling menyilang melesat.


"Whusss....... " Suara Hempasan angin saat Pedang Api Raksasa melesat.


"Whusss........ " Suara Hempasan angin saat bola berelemen petir melesat.


Karena lengah Shimura pun terkena ketiga serangan tersebut dengan telak dan terpental.


"Duarghhh............... " Suara ledakan akibat gabungan serangan tersebut.


Ketiga Gadis Cantik itu pun melesat ke arah Komandan nya yang sedang terluka.


"Ugh... Syukurlah ada mereka bertiga, jika tidak kepalaku pasti putus,"


"Dia pasti utusan Guild Assasin Hitam." Gumam Arung.


Beberapa saat kemudian ketiga Gadis Cantik itu pun menghampiri Komandan nya.


"Kau tidak apa-apa Arung." Ucap Shilla sambil melihat luka tusukan di punggung nya.


"Terima kasih teman-teman, luka ku belum begitu parah." Ucap Arung.


Mereka bertiga pun bingung dengan situasi saat tersebut, kenapa sampai bisa yang menyerang Arung adalah seorang Kultivator Manusia, ketiga gadis cantik itu pun mulai berasumsi jika yang menyerang Komandan nya tersebut adalah kaki tangan para manusia Beast tersebut.


"Gadis itu pasti pengkhianat." Gumam Ketiga Calon Alkemis Cantik tersebut kompak.


TO BE CONTINUED.........


[MOHON VOTE DAN LIKE NYA AGAR NOVEL INI TETAP TERBIT ON TIME CC NOVELIS JALANAN].

__ADS_1


__ADS_2