
Arena
"Byurrrr.............................. " Suara hujan deras.
Arung lalu maju ke hadapan Nona Mitha, berniat berbicara dengan Jendral Berserker untuk menjelaskan niat nya saat merebut senjata milik Dilla.
"Habis kamu Arung, Paman terlihat sangat kesal." Gumam Dilla.
Arung tetap tenang saat ini di karenakan ia telah menyatu dengan Teratai Kebijaksanaan, niat membunuh yang sangat besar muncul dari arah Jendral Berserker.
"Jendral, kenapa anda mengatakan bahwa saya curang?" Tanya Arung.
Nona Mitha pun takjub dengan sikap tenang yang di miliki Arung.
"Apa kau tidak tau peraturan pertandingan ini tidak boleh merebut senjata milik lawan lalu di gunakan untuk diri sendiri." Jawab Berserker.
"Mohon maaf Jendral, saya hanya ingin mengurangi daya serangan yang dahsyat dari Dilla,"
"Dan tidak bermaksud menggunakan Pedang Iblis Hitam tersebut." Ucap Arung, lalu melemparkan Pedang Iblis Hitam tersebut kembali ke Dilla.
"Wah..... pedang ku kembali." Gumam Dilla, lalu menangkap Pedang yang di lempar kan oleh Arung.
"Huft....................... " Suara nafas panjang Dilla.
"Pemuda ini tidak hanya Tampan, kuat, namun tetap tenang di kondisi rumit seperti ini,"
"Apa dia tidak merasakan nya?"
"Aku merasakan niat membunuh yang sangat besar dari arah Tribun penonton, dia baru saja membuat patah hati banyak sekali Kultivator Laki-laki di Benua Es Api ini." Gumam Dilla.
"Bulu kuduk ku kenapa berdiri, firasat ku tidak enak,"
"Di dunia asal ku jika bulu kuduk berdiri berarti di tempat ini angker, mungkinkah ada makhluk gaib di pohon besar di pojokan arena tersebut." Gumam Arung, lalu menoleh ke arah pohon besar tersebut.
Arung kemudian kembali ke belakang untuk mengambil Pedang Taifun lalu menyimpan nya kembali ke dalam cincin ruang miliknya.
"Yang penting Pedang Iblis Hitam itu telah di kembalikan, jika tidak rencana ku bisa terbongkar,"
"Berapa usia Pemuda ini, kenapa dia bisa sangat tenang berdiri di hadapan ku,"
"Ugh......... bocah ini juga sangat pandai bersilat lidah, sebaiknya aku tidak memperpanjang masalah ini lagi." Gumam Berserker.
"Kau dengar itu Berserker, dia tidak curang,"
"Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa melihat sampai akhir, ingat pertaruhan kita tetap masih berlaku." Ucap Jendral Es.
"Kali ini ku maafkan bocah tunangan mu itu Jendral Es, lain kali aku tidak akan bermurah hati lagi seperti ini." Ucap Berserker.
Berserker pun berbisik kepada Dilla.
"Dilla jangan sampai Pedang Iblis Hitam ini jatuh lagi ke tangan nya, kau harus segera mengakhiri pertandingan ini,"
"Gunakan kemampuan Pedang Iblis Hitam yang sudah ku ajarkan ke padamu,"
"Jurus Seribu Bayangan Iblis." Bisik Berserker.
"Baik Paman." Bisik Dilla.
Berserker pun lalu meninggalkan arena lalu terbang kembali ke Tribun Khusus Perwira Tinggi.
Arung lalu menyimpan Palu Emas Hitam Surgawi, kemudian mengeluarkan Belati Naga Iblis Air nya.
"Aku sudah tau cara menghadapi kemampuan menembus perisai nya itu." Gumam Arung.
Jendral Es pun menoleh sesaat ke senjata alam dewa tersebut.
"Wah......... darimana dia memiliki banyak senjata dewa, kakak ku saja hanya memiliki satu buah senjata alam dewa?" Gumam Jendral Es.
Tribun Penonton.
"Byurrrr............................ " Suara hujan deras.
Saat Arung mengeluarkan senjata ranah alam dewa lainnya, para penonton pun kembali di buat nya terkejut.
"Plok........ plok....... plok.... "
"Plok.........plok........plok......" Suara tepuk tangan Penonton.
"Wah........ hebat sekali tunangan Jendral Es." Teriak salah satu penonton lainnya.
"Hidup Tunangan Jendral Es,"
"Hidup Tunangan Jendral Es,"
"Hidup Tunangan Jendral Es," Teriak beberapa Penonton Fans Wanita Jendral Es.
Terlihat di bangku-bangku Tribun Penonton, beberapa Kultivator laki-laki duduk dengan lemas saat mengetahui Pemuda Berambut Merah adalah Tunangan Jendral Es.
Pinggir Tribun Penonton
Para Kameramen mulai menyorot ke arah Arung dan Jendral Es saat Jendral Berserker telah meninggalkan arena.
"Anya, Talia, sebaiknya kita ke arena sekarang." Ucap Komandan Lala.
"Ayo Lala, aku pun sudah lama tidak melihat wajah Jendral Es dari dekat." Ucap Komandan Anya.
"Baik." Ucap Komandan Talia.
Ketiga Komandan pun kembali melesat ke atas arena berniat men jeda pertandingan untuk beberapa saat.
Pojokan Arena.
"Byurrrr........................ " Suara hujan deras.
Ada yang aneh di pojokan arena di Pinggir Tribun Penonton hari ini, terlihat sebuah bonsai raksasa dengan diameter batangnya sebesar satu meter dan tinggi nya dua meter.
"Kenapa tadi dia menoleh ke arahku, mungkinkah dia tahu,"
"Karena ada dua tonjolan aneh pada batang kayu ini, akh. .......tidak mungkin dia tahu,"
"Mungkin hanya perasaan ku saja." Gumam Miranda Lang.
Dua tonjolan tersebut di sebabkan karena belum sempurnanya Jurus Avatar Pohon milik Miranda Lang, dia baru menguasai setengah jurus nya.
"Ugh............ tidak kusangka Pemuda Kejam yang membunuh Yolanda Lang ternyata adalah seorang Tunangan Jendral Es,"
"Ini bukan masalah sepele,"
"Aku tidak boleh bertindak gegabah, sebaiknya aku mengamati situasi nya terlebih dahulu." Gumam Miranda Lang.
Ternyata itu merupakan Jurus elemen tumbuhan milik Miranda Lang, Jurus Avatar Pohon. Rasa angker yang dirasakan oleh Arung tadi ternyata adalah niat membunuh dari Assasin level 1 "Miranda Lang".
Tribun Khusus Perwira Tinggi
Ketiga Jendral lainnya tidak berbicara sepatah kata pun dengan Berserker saat ia kembali ke kursinya. Keadaan di Tribun tampak hening lalu sedikit tegang setelah kejadian tak terduga yang terjadi di atas arena sebelum nya.
"Kakak kedua.......kakak kedua..........bagaimana bisa kau jatuh cinta dengan Pemuda yang belum jelas asal usul nya seperti itu?"
"Bahkan kau sudah tidur dengannya, jika Matriak dan Kakak Pertama mengetahuinya, "
"Mereka pasti akan menghukum mu." Gumam Jendral Karna, lalu meneguk arak beberapa kali.
"Mitha.... Mitha, padahal aku sudah pernah mengenal kan mu beberapa kali dengan beberapa Tuan Muda dari sekte-sekte bela diri terkemuka di Kekaisaran Dewi Es ini,"
"Namun kau selalu saja menolaknya, tidak kusangka selera mu adalah seorang Berondong Muda." Gumam Jendral Catherine Thunder, lalu menggeleng-geleng kepalanya.
Raut wajah Jendral Wilson Cherokee terlihat sedih saat menatap ke arah Arung.
"Kasian Pemuda Tampan Berambut Merah tersebut, setelah hari ini nyawanya pasti akan terancam,"
"Apa dia tidak tahu status Nona Mitha di Benua Es Api ini, setiap ada laki-laki dari golongan orang biasa yang mendekatinya pasti tewas beberapa hari setelah nya,"
"Ada banyak sekali Tuan Muda di Sekte-Sekte Besar dan beberapa Jendral, serta Kultivator-kultivator Senior lainnya yang mencintai Mitha sejak dulu." Gumam Jendral Wilson Cherokee.
"Huft........................... ":Suara nafas panjang Jendral Wilson Cherokee.
"Tunangan Jendral Es memang sangat tampan, mungkin saat ini dia adalah Pemuda Tertampan di seluruh Benua Es Api ini, namun tampan saja bukan syarat utama menjadi Tunangan Jendral Es." Gumam Jendral Wilson Cheroke.
Saat ini Jendral Wilson Cherokee telah terpengaruh kemampuan Dragon Love milik Arung.
Arena.
"Byurrrr.............................. " Suara hujan deras.
Ketiga Komandan telah tiba di atas arena, namun tidak berani berbicara sepatah kata pun. Hal tersebut di sebabkan karena adanya Panglima Perang yang saat ini sedang berdiri di hadapan mereka.
"Kwak....... Kwak........ Kwak......... " Suara Beast Gagak terbang melintasi langit di arena.
"Arung ini aku buatkan beberapa porsi Daging Panggang Raja Siluman Air buat mu." Ucap Jendral Es, lalu memberikan Arung sebuah cincin es.
"Wah........ Jendral Es sampai memasakkan makanan buatnya." Gumam Komandan Lala.
"Terima Kasih Jendral Es." Ucap Arung, lalu menerima cincin es pemberian nya tersebut.
"Aku akan di rendahkan apabila tidak memberikan hadiah balik kepada Jendral Es, oleh yang lainnya,"
Arun pun diam lalu berpikir sejenak.
"Baiklah akan kuberikan beberapa harta ku kepadanya, tidak ada ruginya anggap saja ini hadiah karena telah melepas keperjakaan ku saat di Kaki Bukit Siluman Air tempo dulu,"
"Ugh........ goresan gunung es yang indah, lalu Lembah es yang membara,"
"Walau terlihat dingin namun sebenarnya sangat membara." Gumam Arung, lalu mengeluarkan dua buah senjata dewa lalu beberapa buah pil.
Ketiga Komandan dan Dilla pun kembali terkejut saat Arung ingin memberikan hadiah balik untuk Jendral Es.
"Ugh...... Adik Tampan, hadiah apa yang hendak kau berikan kepada Jendral Es,"
"Kau hanya akan mempermalukan dirimu saja." Gumam Komandan Talia.
Ketiga Komandan mengira Arung akan memberikan hadiah balik yang biasa-biasa saja, jadi mereka menyepelekan Arung begitu pula Dilla.
"Hah...... palingan dia mau kasih Jengkol dan Pete Api, salah satu komoditi pertanian di kampungnya." Gumam Dilla.
Sebelum melakukan pertandingan Dilla sudah menyelidiki Profil Arung serta keluarganya, Dilla pun mengetahui kalau Keluarga Tiger memiliki lahan pertanian Jengkol Api dan Petai Api di Puncak Gunung Obat.
"Sepertinya Arung ingin memberikan hadiah kepadaku, tidak kusangka ternyata dia sangat dewasa,"
"Padahal usianya kan jauh sekali di bawah ku, namun sikap tenang nya melebihi usia nya saat ini." Gumam Jendral Es, pipi nya pun mulai memerah.
Arung lalu mendekat ke arah Jendral Es.
"Dup...... dup..... dup........ " Suara detak jantung cepat Dilla.
"Lho kenapa aku yang deg-degan, perasaan apa ini?" Gumam Dilla.
Beberapa saat kemudian.
"Ini ada sedikit hadiah Jendral Es, mohon terimalah Pedang Es Beku Wewangian Surgawi, lalu Kipas Dewi Es Surgawi ini sangat cocok dengan kecantikan dan kultivasi mu Jendral." Ucap Arung, lalu menyerahkan kedua senjata suci ranah alam dewa tersebut kepada Jendral Es.
"Dia berani menggombali ku di depan khalayak ramai, apa dia tidak tahu mengenai rumor yang beredar tentangku." Gumam Jendral Es.
Rumor itu bahkan sudah pernah masuk artikel ataupun acara talk show di Benua Es Api ini, namanya adalah Death Love nya Jendral Es. Jadi siapa pun yang mencintai atau di cintai oleh Jendral Es akan mati mengenaskan beberapa hari selanjutnya.
"Kau memang Pemberani Tunangan ku." Ucap Jendral Es.
"Pemberani?" Gumam Arung.
"Wah........ tidak ku sangka kau memiliki banyak senjata dewa Arung, baiklah,"
"Terima kasih." Ucap Jendral Es, lalu menerima kedua senjata tersebut.
Jendral Es lalu menyimpan nya ke dalam cincin ruang penyimpanan milik nya.
"Arung, syukurlah walau kejadian di Kaki Bukit Siluman itu sebenarnya adalah sebuah kecelakaan,"
"Tapi saat ini aku bahagia sekali." Gumam Jendral Es.
Dilla dan Ke tiga Komandan yang berada di arena terkejut kembali saat melihat kedua senjata dewa tersebut.
"Latar belakang seperti apa yang di miliki Pemuda berambut merah tersebut, sehingga dia memiliki banyak sekali senjata di ranah alam dewa?" Gumam Komandan Anya.
"Ugh......... jika saja aku tahu saat itu Arung memiliki banyak senjata dewa aku pasti akan memberikan nya racun viagra, dan membuatnya jadi kekasihku dengan segala cara." Gumam Dilla.
Racun Viagra adalah sebuah racun yang membuat libido seorang Kultivator naik efeknya hampir sama dengan Arak Naga yang pernah di minum Arung saat di Istana Naga Benua Barat bersama Pangeran Thor.
"Aku telat, padahal saat di Warung Makan Daging Panggang Siluman Air,"
"Aku memiliki kesempatan." Gumam Dilla.
Dilla sepertinya sudah mulai terbius dengan kemampuan Dragon Love nya milik Arung.
"Tunggu sebentar Jendral Es, ini ada lima butir Pil Awet Muda dan Lima Butir Pil Nafas Air,"
"Terimalah Tunangan ku." Ucap Arung, lalu memberikan pil-pil tersebut kepada Jendral Es.
Tepuk tangan penonton kembali bergema di dalam Stadium.
"Plok...... plok...... plok....... "
"Plok...... plok........ plok....... " Suara Tepuk Tangan Penonton.
"Terima kasih Tunangan ku." Ucap Jendral Es, lalu menerima pil-pil tersebut.
__ADS_1
Terlihat pipi Jendral Es kembali memerah, ia lalu berjalan anggun ke hadapan Arung kemudian memeluk leher Arung. Para penonton, serta para Jendral dan yang lainnya saat melihat adegan tersebut mulai menghentikan nafas nya untuk beberapa saat. Berkat Anugerah kebijaksanaan yang di peroleh Arung dari Teratai Kebijaksanaan ia pun segera mengetahui maksud dan tujuan Jendral Es.
"Jika aku tidak membalas ciuman dingin Nona Mitha, ia pasti akan sangat malu nanti nya." Gumam Arung, lalu memeluk pinggul ramping Nona Mitha.
Seluruh penonton di Stadium tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk beberapa saat, semua mata saat ini tertuju kepada sepasang kekasih yang tengah berpelukan mesra di atas arena. Dada mereka saling bersentuhan, begitu juga dengan pinggang mereka. Aura api hitam keluar dari tubuh Arung menandakan ketidak stabilan hatinya saat ini, begitu pula Jendral Es aura sedingin es pun keluar dari tubuhnya.
"Ugh..................... celanaku sedikit sempit saat ini, baiklah keluarkan seluruh kemampuan mu Jendral Es." Gumam Arung, lalu mulai mencium bibir dingin Nona Mitha.
"Adik kecil, tonjolan apa ini." Gumam Nona Mitha.
Nona Mitha lalu membalas ciuman berapi-api dari Arung, mereka berdua pun saling berciuman dan tidak mengindahkan penonton, Jendral, atau pun tamu-tamu lainnya di dalam Stadium. Terlihat ciuman mereka begitu panas membara juga dingin, Jendral sedingin Es akhirnya takluk di tangan seorang Pendekar Setengah Naga.
"Arung kau sungguh berani mencium ku terlebih dahulu." Gumam Nona Mitha, lalu memeluk erat leher Arung dan kembali mencium nya.
Pinggiran Tribun Penonton.
Saat adegan ciuman Arung dan Jendral Es terjadi di atas arena, para kameramen sibuk bukan main mencari sudut yang pas untuk mengabadikan momen bersejarah tersebut. Para reporter terlihat sangat bersemangat meliput pertandingan yang sangat epik ini.
"Wah................Berita besar, video ini pasti viral sorot..... sorot.... terus." Teriak salah satu Reporter.
"Gila tuh cowok, apa dia gak tahu berapa jumlah followers Jendral Es di instagramnya, cepat sorot.... sorot.... sorot." Teriak reporter lainnya.
"Berita ini akan booming untuk satu bulan ke depan, dan akan menjadi trending di youtube,"
"Cepat sorot..... sorot..... sorot.... terus." Teriak reporter lainnya lagi.
Keributan pun terjadi di pinggiran tribun tersebut, akibat serangan tak terduga Arung ke Wajah Jendral Es.
Tribun Penonton.
Di Tribun Penonton kembali terjadi beberapa keributan di di sebabkan mengamuk nya beberapa fans berat Jendral Es yang tidak Terima cintanya di khianati. Hati mereka, jiwa mereka meleleh saat melihat bibir sedingin es itu di nodai oleh Arung." Niat membunuh yang sangat besar muncul di sekitar arena.
"Duargh........... duargh........ duargh........... " Suara ledakan di atas pelindung arena di sebabkan serangan beberapa elemen yang berbeda-beda.
"Berani sekali kau mencium pujaan hatiku, rambut merah." Teriak salah satu Fans Jendral Es.
"Akan ku bakar kau jadi debu." Teriak Fans Jendral Es lainnya.
"Awas kau, akan ku makan daging mu dan ku minum darah mu." Teriak Fans Jendral Es lainnya.
Beberapa menit kemudian kekacauan pun dapat di redam oleh beberapa Komandan yang berjaga dan Prajurit-prajurit nya.
Tribun Khusus Perwira Tinggi.
Keempat Jendral yang melihat adegan ciuman Arung dan Jendral Es pun ikut terkejut, begitu pula dengan para Komandan yang mendampingi mereka. Nando dan Mutia saling bertatap-tatapan, saat ini mereka baru saja paham maksud dari Jendral Es ketika menyuruh mereka membawa Beast Raja Siluman Air ini Rumah Makan.
"Jendral Es sudah kehilangan akalnya, dia harus segera ikut sidang kode etik di mahkamah Militer,"
"Dia bahkan dicium, lalu mencium kembali Prajurit Magang tersebut di atas arena,"
"Apa dia sudah lupa kalau Pertandingan ini di siarkan langsung ke seluruh Benua Es Api." Ucap Berserker, lalu menarik-narik janggutnya.
"Kakak Kedua, kau sungguh membuat ku malu hari ini,"
"Kenapa tidak mencari kamar saja." Gumam Jendral Karna, lalu menutup wajah dengan kedua tangan nya.
Terlihat ketiga Komandan sekaligus istri Jendral Karna mulai menggeleng-geleng kan kepalanya melihat tingkah laku kakak ipar dan calon abang ipar nya.
"Kak Mitha....Kak Mitha."
"Kalau Kakak kebelet kali, Kakak kan bisa mencari kamar dengan Calon Abang Ipar." Gumam Uranus.
Sementara itu Jendral Catherine dan Jendral Wilson saling menatap satu dengan lainnya, sepertinya pendapat mereka sama kali ini.
"Kasihan Prajurit magang itu, setelah ini dia pasti mati,"
"Apa dia tidak tahu?"
"Banyak sekali orang-orang yang mencintai Mitha selama ini,"
"Mereka pasti akan datang satu persatu untuk membunuh Prajurit Tampan tersebut,"
"Kalau aku melihat karir pemuda ini, di masa depan dia pasti akan mendapatkan jabatan yang sangat bagus,"
"Hanya saja saat ini dia terlalu ceroboh, dan berani memprovokasi banyak orang dengan aksi romantis nya di atas arena tersebut,"
"Apa dia tidak pernah menonton TV, lalu mendengar rumor tentang Death Love nya Jendral Es." Gumam kedua Jendral tersebut.
Guild Assasin Hitam, Kerajaan Assasin
Saat ini, di dasar lautan perairan Pulau Assasin.
Di lantai sepuluh, tampak Jie Lang sedang meregisterkan misi beberapa assasin yang sedang mengantri di depan meja nya. Hari ini sama seperti hari-hari lainnya banyak assasin yang berlalu lalang di dalam ruangan tersebut.
"Kring....... kring........ kring...... " Suara Telepon Guild di meja Jie Lang berdering.
"Nomor tidak di kenal?" Gumam Jie Lang, ia pun kemudian mengangkat nya.
"Halo....... "
"Dengan Guild Assasin Hitam, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Jie Lang.
"Aku sangat membenci Pria berambut merah itu Nona, dia telah berani-berani nya mencium pujaan hati ku di depan kedua mataku ini Nona,"
"Hatiku saat ini rasanya seperti tersayat-sayat oleh beribu-ribu silet beracun yang tajam Nona, hidup ku saat ini segan mati pun aku aku rela Nona." Jawab Pria Misterius tersebut.
"Waduh....... dia malah curhat, apa di pikirnya ini nomer telpon Kultivator Psikiater?"
"Tapi kasian juga dia, sepertinya istrinya telah diambil orang secara paksa di depan matanya,"
"Kalau di Kerajaan Assasin ini hanya Yolanda Lang yang tega dan punya kebiasaan gila seperti itu, tapi dia sudah tiada." Gumam Jie Lang.
"Hiks...... hiks..... hiks.... "
"Hiks...... hiks..... hiks.... " Tangis Pria Misterius tersebut.
"Lho.... kok malah menangis, sepertinya istrinya di perkosa oleh orang tersebut,"
"Sehingga saat ini Tuan ini sangat bersedih." GumamcJie Lang.
"Nona bisakah aku menyewa seorang Assasin level 10?" Tanya Pria Misteri tersebut.
"Maaf Tuan, tapi menurut peraturan kami tidak bisa Tuan,"
"Misi pembunuhan nya tetap harus di mulai di level 1,setelah 10 tahun misi tak kunjung selesai-selesai, baru akan di ambil alih oleh assasin di level 10,"
"Hiks....... hiks...... hiks......" Tangis Pria Misterius tersebut.
"Wah........ sepertinya orang yang menjadi target pembunuhan kali ini telah memperkosa lalu membunuh istri Pria Misterius tersebut,"
"Kultivator cini sangat kejam, selama 20 tahun aku bekerja di sini, baru kali ini aku mendapatkan klien yang sangat sedih seperti ini, kasian di." Gumam Jie Lang.
Jie Lang telah gagal paham, isak tangis Pria Misterius tersebut kembali pecah, beberapa saat kemudian barulah berhenti.
"Hatiku pedih sekali saat ini Nona, ya sudah aku akan mengirimkan Profil Pemuda ******** tersebut,"
"Kirimkan no rekening resmi Guild Assasin Hitam ini, aku akan menstranfer kan 1 milyar koin emas untuk misi level 1 ini." Ucap Pria Misterius tersebut.
"Wah......... dia memiliki dendam yang sangat besar terhadap pemuda tersebut, mungkinkah anak dari istri nya juga di embat oleh Kultivator Jahat tersebut?" Gumam Jie Lang.
"Baik lah Tuan." Ucap Jie Lang, lalu menutup HP nya.
"Sepertinya Tuan Muda ini telah menjual seluruh aset berharga nya, hanya untuk membiayai sebuah misi pembunuh level 1 tersebut." Gumam Jie Lang.
Beberapa saat kemudian, Pria Misterius tersebut mulai menstranfer kan 1 milyar koin emas ke dalam rekening Guild Assasin Hitam beserta dengan uang administrasi nya yaitu sebesar 10 persen dari Bounty misi tersebut. Saat ini Arung telah menjadi orang nomer 1 yang di cari oleh seluruh assasin level 1 di Benua Es Api.
Kembali ke Arena.
Dilla dan Ketiga Komandan kembali terkejut menyaksikan adegan ciuman panas di atas arena. Beberapa menit kemudian Jendral Es pun menyudahi ciuman nya lalu kembali terbang ke Tribun Khusus Perwira Tinggi.
"Ugh....... aku bisa kena stroke jika terus melihat kejutan seperti ini." Gumam Komandan Anya di Pinggiran Tribun Penonton.
"Ugh........ menjijikkan sekali, perut ku jadi mulas sekali,"
"Aku harus segera menyelesaikan Pertandingan ini sekarang juga, aku sudah muak melihat adegan percintaan mereka berdua." Gumam Dilla.
Arung saat ini tengah memegang Belati Naga Iblis Air, ia pun saat ini telah bersiap menghadapi Dilla Azura kembali di atas arena dan telah menyiapkan sebuah siasat.
"Huft.............. " Suara hembusan nafas panjang Arung.
"Dilla sepertinya memiliki sebuah kartu truf, sebaiknya aku segera menjalankan siasat ku ini." Gumam Arung.
Arung lalu mengayunkan tangan nya, seketika sebuah Perisai Kultivasi Tumbuhan raksasa menutupi sebagian arena.
"Percuma kau memasang Perisai kultivasi tersebut, Pedang Iblis Hitam ku ini akan dengan mudah menembusnya,"
"Lalu pedang ini akan bertengger di lehermu, Pendekar Fuckboy." Gumam Dilla, lalu melesatkan Jurus Seribu Bayangan Iblis.
Tubuh Dilla pun menjadi banyak seketika ada sekitar 50 bayangan yang tercipta persis seperti dirinya, lalu mulai mengelilingi perisai kultivasi tersebut. Saat ini Arung telah selesai mengisi penuh air di dalam Perisai Kultivasi tersebut. Arung saat di Ngarai Biru telah mengkultivasi Pil Nafas Air jadi saat ini dia memiliki kemampuan untuk bisa bernafas di dalam air.
"Apa yang di lakukan si bodoh itu di atas sana, Jurus Langkah Petir nya pasti akan menghilang seketika jika memasuki kolam air buatan ku ini,"
"Setelah itu akan ku tembakkan jurus bola api hitam ke arah nya." Gumam Arung.
Dilla dan ke 50 bayangan nya telah bersiap lalu mulai memasang kuda-kuda Jurus Langkah Petir, bersiap melesat masuk ke dalam perisai kultivasi tumbuhan tersebut.
"Menyerah lah Arung, setidak nya kau tidak terluka terlalu parah." Ucap Dilla, menggunakan Jurus Auman.
"Gadis Cantik ini mencoba menakut-nakuti ku, baiklah aku akan memprovokasi nya sedikit." Gumam Arung, lalu menyalurkan aura kehijauan ke dalam perisai kultivasi tersebut.
Beberapa akar pun mulai membentuk sebuah tulisan raksasa di atas perisai kultivasi tersebut. Tulisan tersebut ternyata berbunyi "Tidak Pendekar Fuckgir, aku tidak akan menerima cintamu".
"Ha....... ha....... ha....... "
"Ha...... ha........ ha.......... " Suara Tawa Penonton dari Tribun Penonton.
"Pemuda ini sangat berbakat menjadi Kultivator Artis Komedian." Gumam Uranus dari Tribun Khusus Perwira Tinggi.
"Hag.... hag...... hag...... "
"Hag...... hag...... hag..... " Tawa kecil Jendral Wilson dan Catherine dari Tribun Khusus Perwira Tinggi.
"Apa itu Pendekar **** Girl?" Gumam Jendral Es dari Tribun Khusus Perwira Tinggi.
Mendengar suara tawa geli dari arah Tribun Penonton, Dilla pun menjadi malu sekaligus marah.
"Dasar Pendekar Fuckboy, rasakan ini." Gumam Dilla, dengan pipi yang memerah.
Dilla dan ke 50 bayangan nya pun melesat masuk ke dalam perisai kultivasi tumbuhan, Arung pun dibuat nya terkejut karena begitu banyak Dilla Dilla yang masuk ke dalam Perisai tersebut.
"Blurpppppppppp.................. " Suara tubuh Dilla yang sebenarnya saat masuk ke dalam kolam buatan.
"Apa..... bagaimana dilla bisa sebanyak ini?" Gumam Arung, lalu mulai mengamati Dilla Dilla tersebut.
Akibat adanya air di dalam perisai Kultivasi tumbuhan ini, Jurus Langkah Petir pun menghilang seketika sehingga gerakan Dilla melambat.
Beberapa saat kemudian
"Ugh..... ada yang aneh dengan Dilla Dilla tersebut, hanya Dilla yang di sana yang mengeluarkan buih-buih disekitar nya." Gumam Arung.
"Binggo." Ucap Arung, lalu melesat kan sebuah bola api hitam raksasa ke arah Dilla yang mengeluarkan buih-buih di sekitar nya.
"Ugh.... air, Jurus Langkah Petir tidak berfungsi di dalam air,"
"Apa.............. bagaimana dia bisa mengetahui dimana posisi ku saat ini??? " Gumam Dilla, sambil memasang perisai kultivasi elemen kegelapan.
Bola api hitam pun mulai menghantam perisai kultivasi elemen kegelapan tersebut, hingga bergeser ke atas langit-langit perisai kultivasi tumbuhan lalu menjebol nya.
"Duargh............................. " Suara ledakan akibat benturan perisai kultivasi kegelapan dan bola api hitam raksasa saat menjebol perisai kultivasi tumbuhan.
Setelah bergeser beberapa meter dari puncak perisai kultivasi tumbuhan yang telah jebol, bola api hitam dan perisai kultivasi elemen kegelapan pun meledak dengan dahsyat.
"Duargh............................. " Suara ledakan akibat dua elemen yang berbeda saling beradu.
Getaran hebat pun terjadi di sekitar Stadium imbas dari ledakan tersebut.
"Groaghhhhhhh................. " Suara getaran bangunan Stadium untuk beberapa menit.
Asap pun mulai mengepul di atas perisai kultivasi tumbuhan yang telah jebol dan menganga. Di dalam lubang tersebut di penuhi oleh air berwarna kebiru-biruan dan Arung masih berada di dalam nya.
"Uhuk...... uhuk..... uhuk...... " Suara batu darah Dilla.
"******** itu sepertinya memiliki kemampuan bernafas di dalam air,"
"Serangan nya pun sangat mengerikan, telat sedikit saja aku pasti celaka tadi." Gumam Dilla.
Beberapa saat kemudian asap pun perlahan mulai menghilang dari atas perisai yang jebol, tampak Dilla Azura tengah melayang di atas perisai kultivasi tumbuhan raksasa tersebut menggunakan dua buah roda emas di kakinya. Terlihat sebuah bola berenergi kegelapan raksasa berada di ujung Pedang Iblis Hitamnya yang tengah menghunus ke angkasa.
Tribun Khusus Perwira Tinggi.
Kelima Jendral pun terpaku melihat pertandingan sengit tersebut, siapa yang kalah dan siapa yang menang sulit untuk di tentukan.
"Ha...... ha...... ha.......... " Tawa Jendral Berserker, sambil menarik-narik janggutnya.
"Sepertinya aku harus bersiap menolong tunangan mu tersebut Jendral Es." Ucap Berserker.
Jendral Es hanya diam dengan ekspresi sedingin es.
"Arung kumohon bertahanlah." Gumam Jendral Es, terlihat raut wajah nya gelisah.
"Bagus Dilla, segera lepaskan Segel Iblis Pelahap tersebut." Gumam Berserker.
"Sepertinya Mitha sedang galau, dia tidak menduga tunangan nya bisa terdesak sampai jauh seperti ini,"
__ADS_1
"Dia akan sangat syok jika Tunangan nya sampai kalah, apa lagi dia telah memprovokasi seluruh fans nya di Benua Es Api ini." Gumam Jendral Catherine Thunder.
Kembali ke arena.
Bola berelemen kegelapan tersebut semakin membesar, saat ini diameter nya menyamai diameter Perisai Kultivasi Tumbuhan milik Arung.
"Rasakan ini." Teriak Dilla, lalu mengayunkan Pedang Iblis Hitamnya.
Bola hitam raksasa pun melesat cepat ke arah Perisai Kultivasi Tumbuhan milik Arung.
Ketiga Komandan langsung melesat ke atas Perisai tersebut menggunakan Roda Emas, lalu memasang Perisai kultivasi bersama.
"Ugh....... Anya, bertahanlah." Gumam Komandan Lala, sambil mengerahkan seluruh tenaga nya menahan bola hitam raksasa tersebut.
"Ugh...... ia Lala, serangan ini lebih dahsyat berkali-kali lipat dari serangan Tapak Halilintar Ungu milik Gisel." Ucap Komandan Anya.
Beberapa saat kemudian, Jendral Berserker pun melesat ke arah Komandan Lala dan yang lainnya. Ia pun membantu menahan serangan dahsyat tersebut bersama kelima Komandan nya.
"Hyattttt......................... " Teriak Berserker, sambil menahan bola hitam tersebut.
Jendral Berserker dan lainnya pun berhasil memental kan serangan dahsyat itu ke langit sehingga tidak menghantam Perisai Kultivasi Tumbuhan milik Arung. Akibat serangan dahsyat milik Dilla perisai kultivasi yang melindungi arena pun ikut hancur.
"Baguslah rencanaku berjalan dengan lancar." Gumam Berserker, sambil melihat keatas.
Bola berenergi kegelapan raksasa pun mulai melesat ke langit. Jendral Berserker kemudian menoleh ke arah Tribun Khusus Perwira Tinggi.
"Jendral Es kau sudah kalah, aku memenangkan taruhan ini,"
"Jangan ingkar janji Jendral Es, Mansion dan Paviliun Obat Cabang Kota Awan Hitam milik mu sekarang menjadi milikku." Ucap Jendral Berserker, menggunakan Jurus Auman.
"Ha........... ha........ ha......... " Tawa Jendral Berserker.
Jendral Es pun menunjuk ke arah langit, terlihat di atas sana Arung tengah memeluk pinggang Dilla lalu melilitkan akar-akar tanaman di tubuhnya. Tampak di leher Dilla, Belati Naga Iblis Air menggores nya sedikit.
"Ugh.......... Sejak kapan dia ada di belakang ku, Paman pasti kesal sekali dengan ku saat ini." Gumam Dilla.
"Kau sudah kalah Pendekar **** Girl." Ucap Arung.
Jendral Berserker pun menoleh ke atas, ia hampir roboh karena syok melihat kekalahan Dilla Azura. Ketiga Penatua langsung melesat ke arena berniat membantu Patriak Keluarga Azura dan Dilla.
"Hotel dan Paviliun Racun ku, Patriak Aliansi Paviliun Racun pasti akan marah padaku." Gumam Berserker, saat hampir roboh kedua Penatua Keluarga Azura langsung menopang tubuh Jendral Berserker.
Dilla pun mulai turun perlahan ke tempat Paman nya, setelah mendarat. Tubuhnya pun mulai oleng karena kehabisan tenaga, Tetua Yaoyan pun langsung membantu Dilla. Jendral Berserker dan lainnya pun pergi meninggalkan arena, berniat meninggalkan Stadium Kota Awan Hitam.
"Walau pun aku kalah, namun rencana ku sudah berhasil,"
"Kau akan mati Jendral Es." Gumam Berserker, lalu pergi meninggalkan Stadium.
Beberapa saat kemudian Stadium kembali bergemuruh
"Byurrrr............................... " Suara hujan deras.
"Plok....... plok........ plok..... "
"Plok........ plok........ plok..... " Suara tepuk tangan penonton.
"Hidup Tunangan Jendral Es,"
"Hidup Tunangan Jendral Es." Teriak beberapa Fans wanita Jendral Es.
"Huft........................... " Suara nafas panjang Arung, lalu kembali ke Tribun Dalam serta melambaikan tangan nya ke arah Penonton dan Kameramen.
"Fuckgirl merupakan salah satu Lawan yang sangat hebat, tapi hingga akhir aku tidak mengecewakan mu kan Jendral Es." Gumam Arung, sambil berjalan.
Beberapa saat kemudian.
"Pertandingan akan di lanjutkan 15 menit kemudian." Ucap Komandan Lala, menggunakan Jurus Auman.
Kelima Komandan Jenderal Berserker pun melesat kembali ke Tribun Khusus Perwira Tinggi.
Tribun Khusus Perwira Tinggi
Jendral Es berdiri terpaku menyaksikan kemenangan indah Tunangan nya, Ketiga Jendral lainnya pun ikut berdiri di samping Panglima Perang Kekaisaran Dewi Es tersebut. Beberapa saat kemudian ke lima Komandan Jendral Berserker tiba di Tribun, lalu menyerahkan Dokumen Kepemilikan Hotel dan Paviliun Racun Cabang Kota Awan Hitam kepada Jendral Es.
"Kami mohon izin kembali, Jendral Es." Ucap perwakilan salah Satu Komandan Jenderal Berserker.
"Baik lah." Ucap Jendral Es, lalu kembali duduk di kursinya.
Kelima Komandan Jendral Berserker pun beranjak pergi, Ketiga Jendral lainnya pun kembali duduk di kursi nya.
"Aku tidak mengira Tunangan mu itu bisa menang dengan cara menggerayangi.... eh maksudku melesat ke belakang Dilla secepat itu." Ucap Jendral Wilson.
"Selamat Jendral Es, Tunangan mu sungguh tidak mengecewakan mu,"
"Jendral Es boleh aku minta satu Pil Awet Muda tersebut." Ucap Jendral Catherine.
Jendral Es hanya menoleh ke arah Jendral Catherine.
"Nanti ya Catherine, setelah aku melapor kan nya kepada Kaisar terlebih dahulu,"
"Dia sudah sangat lama mencari Pil Awet Muda tersebut, aku tidak menyangka ternyata Tunangan ku yang memilikinya." Ucap Jendral Es.
"Kakak Kedua, kumohon berikan Paviliun Racun dan Hotel tersebut untuk ku,"
"Kumohon kak." Ucap Jendral Karna.
"Karna nanti kita akan bicarakan masalah tersebut setelah acara ini selesai." Ucap Jendral Es.
Kembali ke Arena
15 menit kemudian.
Ketiga Komandan pun kembali melesat ke atas Arena, begitu pula dengan Arung.
Kali ini ia tiba tepat pada waktu nya.
"Baiklah Pertandingan selanjutnya antara Gisel Alba VS ArungBijak Tiger, kepada peserta di harap naik ke atas arena." Ucap Komandan Lala.
"Kemana Gisel, kok dia belum naik juga ke atas arena yach?"
'Lalu kemana Matriak dan yang lainnya, katanya mereka semua mau menonton pertandingan ku siang ini?"
"Apa mungkin karena aku telat datang tadi siang, mereka semua langsung kembali,"
"Mereka mengira aku tidak datang, atau Xiao Mei Mei menceritakan kejadian yang terjadi semalam di Danau Mematikan?"
"Mungkin seperti itu." Gumam Arung.
Beberapa saat kemudian seorang Prajurit datang lalu membisikkan sesuatu ke telinga Komandan Lala, setelah itu Prajurit tersebut kembali. Komandan Lala lalu menghampiri Arung kemudian memegang sebelah tangan nya.
"Gisel Alba tidak bisa hadir, jadi dia dinyatakan kalah,"
"Pemenang sekaligus Juara Pertama Ujian Kompetisi Tahap kedua ini adalah Arungbijak Tiger." Ucap Komandan Lala, lalu mengangkat sebelah tangan Arung ke atas.
"Aku menang,.... " Gumam Arung.
"Plok....... plok........ plok..... "
"Plok........ plok........ plok..... " Suara tepuk tangan penonton.
Ruangan Panitia Judi Kota Awan Hitam.
"Byurrrr........................ " Suara hujan deras.
Sejak di mulai nya pertandingan antara Arung dan Dilla, suasana ruangan tampak sangat tegang. Ke dua ketua Panitia tampak sangat gelisah.
"Nona Clark, Jika Dilla sampai menang,"
"Kita terpaksa menjual Stadium Awan Hitam ini, jumlah taruhan untuk kemenangan Dilla sudah mencapai 50 milyar koin emas,"
"Jika mereka menang kita harus membayar sepuluh kali lipat nya, menjadi 500 milyar koin emas, kita bangkrut Nona Clark." Ucap Parson, sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.
Saat ini Nona Clark sedang mondar-mandir di sekitar meja bundar sambil menonton Pertandingan Arung dan Dilla yang sedang saling beradu pedang.
"Berapa orang yang memasang taruhan buat lawan tandingnya Dilla, Parson?" Tanya Nona Clark.
"Hanya satu orang saja Nona Clark, dan dia adalah Peserta itu sendiri,"
"Ugh....... karir ku yang telah kubangun selama 10 tahun ini, tidak kusangka akan hancur hari ini." Gumam Nona Clark, lalu duduk lemas di kursi di samping Parson.
"Huft........................... " Suara hembusan nafas panjang Nona Clark.
Terlihat salah satu ketua lainnya masih tetap tenang, Paris pun bangun lalu berdiri dan maju ke depan meja bundar. Parson dan Nona Clark pun saling menatap, lalu menoleh ke arah Paris.
"Tenang-tenang teman-teman semua masalah ada solusinya, jika kita kalah kali ini,"
"Kita hanya perlu tunduk di bawah Aliansi Paviliun Racun, aku memiliki kenalan disana,"
"Mereka bisa membantu masalah keuangan kita saat ini." Ucap Paris.
"Aku tidak setuju Paris, Aliansi Paviliun Racun sering berkonspirasi terhadap tindak-tindak kejahatan, lebih baik aku menjual Stadium ini dari pada harus bergabung dengan mereka." Ucap Nona Clark, sambil menghentak meja bundar.
Parson hanya diam sambil mengurut-urut kepalanya.
"Begini saja Clark, bagaimana kalau kita bertaruh,"
"Jika aku menang, kau dan Parson akan setuju untuk bergabung dengan Aliansi?" Tanya Paris.
"Ini semua gara-gara ada yang membocorkan informasi mengenai Dilla saat pembukaan Ujian Kompetisi Tahap Ke Dua tersebut, saat ini aku sudah mengetahui siapa pengkhianat yang telah membocorkan nya,"
"Aku sudah pasti kalah, setidak nya aku mempertaruhkan semuanya hari ini,"
"Sekalian jika berhasil aku dapat menyingkirkan pengkhianat ini." Gumam Nona Clark.
Nona Clark merupakan seorang mantan ******* di salah satu Rumah Bordil di Ibu Kota Kekaisaran. Ia juga merupakan salah satu murid dalam yang berasal dari Sekte Kupu-kupu Hantu di Pulau Iblis Ular yang sangat cantik, memiliki rambut berwarna putih dan memiliki mata berwarna merah.
"Baiklah hanya saja jika aku menang, kau harus menyerahkan posisi mu kepada pemuda yang melawan Dilla tersebut." Ucap Nona Clark.
"Apa....... sepertinya dia sudah menyadari nya bahwa aku lah yang sudah membocorkan profil Dilla ke luar." Gumam Paris.
"Baiklah jika aku kalah, aku bersedia menyerahkan posisiku ini,"
"Dan akan ku gandakan hadiah kemenangan Pemuda itu menjadi 10 ribu kali lipat, tapi kau harus menjadi selir ku yang ke 30 bagaimana?" Tanya Paris.
"Ugh...... tidak masalah menjadi selirnya, aku sudah bekerja di rumah bordil selama 30 tahun,"
"Pemuda berambut merah kau harus menang, aku berjanji akan menyenangkan mu setelahnya untuk beberapa hari." Gumam Nona Clark, lalu beranjak ke tempat Paris.
"Parson kau menjadi saksinya." Ucap Nona Clark, lalu menjabat tangan Paris.
"Deal Paris." Ucap Nona Clark.
"Dasar *******, siapa yang mau menjadikan mu selir,"
"Kau akan ku jadi kan budak ku setelah aku menghancurkan kultivasi mu nanti, lagian Pemuda itu tidak akan pernah menang." Gumam Paris.
"Ha...... ha...... ha.... " Suara Tawa Paris.
Nona Clark dan Paris kembali duduk dan menyaksikan pertandingan tersebut, beberapa menit pun telah terlewati. Sampai pada adegan dimana Arung mencium Jendral Es, Nona Clark kembali bersemangat.
"Bagus Pemuda berambut merah, kau telah berani mencium Jendral Es,"
"Aku yakin kau akan menang, aku tidak peduli jika kau menang aku akan tetap tidur dengan mu." Ucap Nona Clark.
"Ugh........... bagaimana bisa begini, Tetua Yaoyan informasi dari mu telah salah,"
"Jika kalah aku pasti akan di ceraikan oleh istri-istri ku." Gumam Paris.
"Syukurlah Nona Clark, ada sedikit harapan." Ucap Parson.
Beberapa menit kemudian Pertandingan pun mencapai klimaks nya, dan Arung memenangkan Pertandingan.
"Oh yeah......... mantap Pemuda Berambut Merah, aku pasti akan memuaskan mu malam ini." Teriak Nona Clark
Lalu berjoget-joget di atas meja bundar dengan tarian yang eksotis dan sensual. .
"Aku pada mu....... " Teriak Nona Clark.
"Syukurlah kita tidak jadi bangkrut." Ucap Parson.
"Ugh...................... Tetua Yaoyan, ini semua gara-gara mu." Gumam Paris.
"Tidak.......................... " Teriak Paris.
Beberapa saat kemudian Paris pun terpaksa menstranfer uang senilai 1,85 milyar koin emas ke akun gaji Arung, serta mengubah dokumen-dokumen kepemilikannya atas nama Arung.
Di Tribun Dalam.
Saat ini Arung tengah bermeditasi seorang diri di atas bangku di tribun dalam. Dari sekujur tubuhnya keluar aura berwarna-warni.
"Hatsyimmmmm......... " Suara bersin Arung.
"Oh.........mungkin ini akibat kelamaan di dalam air sebelum nya,"
Beberapa saat kemudian.
"Ugh...... kenapa bulu kuduk ku berdiri lagi,"
"Mungkinkah tempat ini jadi menyeramkan dan angker karena tidak ada siapa pun lagi disini?"
"Lho... kok ada pohon besar di dalam sini, sebelum-belum nya kan tidak pernah ada, aneh?"
"Ya sudah mungkin aku tidak menyadarinya karena sebelumnya tempat ini selalu ramai, sebaiknya aku memulihkan diri ku terlebih dahulu saja." Gumam Arung.
__ADS_1
Arung tidak menyadarinya Pohon Besar itu tercipta dari Jurus Avatar Pohon milik Miranda Lang, di dalam nya Miranda telah bersiap-siap membunuh Arung.