
Kembali ke saat Black Hole muncul di kediaman Keluarga Tiger, Xiao Mei Mei tengah tidur di ranjang kamar tamu setelah mabuk saat acara jamuan makan malam. Xiao Mei Mei galau mengingat Matriak Klan Xiao akan mengadakan pertarungan jodoh untuk menikahkan nya dua bulan mendatang di kediamannya di Desa Tiger. Saat ini Xiao Mei Mei pun tengah bermimpi kenangan indah nya saat-saat berciuman dengan Arungbijak Tiger untuk pertama kali nya di basement parkiran bawah penginapan.
"Byurrrr,........................... " Suara hujan deras di luar basement, cuaca pun dingin dan lembab di bawah saat ini.
Arung dan Xiao Mei Mei tengah berada di dalam sebuah lift hendak turun ke basement bawah, suasana hening pun tercipta di dalam lift tersebut.
"Dup... dup.... dup..... dup...... " Suara jantung Xiao Mei Mei berdetak tak menentu ketika berdekatan dengan Arung.
"Kenapa jantung ku berdetak tak menentu saat bersama Adik Kecil, apakah aku sedang jatuh cinta?" Gumam Xiao Mei Mei, kemudian menoleh ke arah Arung.
"Tidak..tidak....... itu tidak boleh, anakku Xiao Ling saja sudah sebaya dengannya,"
"Lagian dia kan salah satu murid nya Vinic." Gumam Xiao Mei Mei.
"Kamu harus kuat...... Xiao Mei Mei." Gumam Xiao Mei Mei.
Di dalam bayangan Xiao Mei Mei, seluruh murid di Kediaman Keluarga Tiger di ajari langsung oleh Vinic.
"Kyaa........................ kenapa aku semalu ini saat aku berada di dekat nya." Gumam Xiao Mei Mei, sambil memegang kedua pipinya yang memerah.
Arung yang melihat raut wajah gelisah Xiao Mei Mei pun penasaran, kemudian bertanya kepadanya.
"Ada apa Mei Mei, apa kamu sedang tidak enakan badan?" Tanya Arung.
"Kyaa................... Adik kecil ini ternyata sangat perhatian dengan ku, seperti nya aku memang sedang jatuh cinta." Gumam Xiao Mei Mei.
"Tidak apa-apa Arung, aku hanya khawatir saja jika terlambat pulang malam ini,"
"Soal nya Gurun Api Es akan memasuki musim es, jadi akan ada banyak beast di area tersebut." Ucap Xiao Mei Mei.
Pintu lift pun terbuka, Xiao Mei Mei dan Arung pun berjalan keluar dari lift menuju truk milik Xiao Mei Mei. Mereka pun sampai di dekat truk yang di parkir Xiao Mei Mei, karena sudah tengah malam lokasi di sekitar parkiran ini sepi pengunjung.
Arung aku balik dulu ya." Ucap Xiao Mei Mei, sambil memeluk Arung kemudian mengecup pipi Arung.
"Kya...... apa yang kulakukan kenapa aku mencium pipinya." Gumam Xiao Mei Mei.
Arung pun memberanikan diri untuk mencium bibir Xiao Mei Mei.
"Eh... apa yang di lakukan Adi kecil ini." Gumam Xiao Mei Mei, saat itu bibir Arung tengah mencium bibir Xiao Mei Mei.
"Ya sudah lah lagian aku pun ssudah terlanjur jatuh cinta dengan Adik kecil pemberani ini." Gumam Xiao Mei Mei, sambil membalas ciuman Arung.
Mereka pun berciuman di basement parkiran penginapan untuk beberapa saat.
"Lho kok sudah selesai, padahal kan lagi kentang," Gumam Xiao Mei Mei, Arung pun menyudahi ciumannya.
"Anggap ciuman tadi salah satu hadiah ku ya Arung." Ucap Xiao Mei Mei, kemudian naik ke truk nya.
"Hadiah.... kau dungu sekali Xiao Mei Mei." Gumam Xiao Mei Mei.
"Hati-hati di jalan Mei Mei." Ucap Arung, sambil melambaikan tangan nya kepada Xiao Mei Mei.
"Wah kenapa aku berkata seperti itu, harusnya aku menyatakan cintaku malam ini,"
"Bahkan dia melambaikan tangannya padaku," Gumam Xiao Mei Mei.
"Hiks..... hiks..... hiks........ " Tangis kecil Xiao Mei Mei di dalam hati.
"Arungggg...... aku mencintaimu....Saranghae....." Teriak Xiao Mei Mei di dalam hati.
Akhirnyan Xiao Mei Mei pun tersadar dari mimpi tentang kenangan indahnya bersama Adik Kecil di saat-saat perpisahan mereka malam itu.
"Duarghhhh..................... " Suara ledakan serangan penuh jurus harimau api milik Vinic.
"Arungggg........ " Teriak Xiao Mei Mei, sambil perlahan membuka matanya.
Kembali ke Tepi Danau Obat
Kura-kura seribu tahun pun kembali mengumpulkan energi petir di sekujur tubuh nya, berniat kembali menyerang ke arah Matriak. Matriak pun bangun dari meditasi nya kemudian mengumpulkan sisa-sisa tenaga nya untuk melesatkan Jurus Harimau Api kembali.
"Mei Mei cepat lah kemari." Gumam Matriak, sambil melesatkan Jurus Harimau Api dari telapak tangannya.
"Groaghhhhhhh................................. " Raungan Kura-kura Seribu Tahun, kemudian makhluk ini pun melesatkan bola petir raksasa ke arah Harimau Api yang tengah melesat.
Di kamar tamu.
"Duargh......................... " Suara ledakan, saat Harimau Api dan bola petir beradu.
Xiao Mei Mei pun mendengar suara ledakan tersebut.
"Sepertinya telah terjadi pertarungan di luar, sebaiknya aku mengecek nya sekarang,"
"Lho pakaianku, pasti Vinic yang menggantikannya saat aku tak sadar kan diri tadi." Ucap Xiao Mei Mei, kemudian ia pun melesat terbang hanya dengan menggunakan piyama tidur saja.
Xiao Mei Mei pun menyaksikan pertarungan para murid dan tetua melawan banyak beast Kura-kura Petir di sekitar mansion.
"Ini pasti serangan beast dari hutan kematian, aku telah berulang kali menasehati Vinic untuk menjual tempat ini,"
"Daerah ini merupakan wilayah yang sangat berbahaya, apa yang ku khawatir kan selama ini tampaknya telah terjadi." Gumam Xiao Mei Mei, ia pun terbang sambil mengamati keadaan di bawah.
"Duarghhh.............. " Suara ledakan akibat bola petir ******* habis Harimau Api.
"Vinic." Gumam Xiao Mei Mei, sambil melesat ke arah Matriak.
Bola petir pun melesat ke arah Matriak.
"Hah........ hah...... hah....... " Suara nafas terengah-engah Matriak.
"Gawat aku sudah sampai batas ku, tidak kuduga Xiao Mei Mei belum bangun-bangun,"
"Jika aku tahu tadi, aku pasti akan menyuruh salah satu murid membangunkan Xiao Mei Mei." Gumam Matriak, kemudian menutup matanya.
Seberkas energi api berwarna ungu pun menghantam bola petir.
"Duarghhh........... " Suara ledakan akibat kedua elemen saling beradu.
"Vinic kau sudah mengantuk ya." Ucap Xiao Mei Mei.
"Syukur lah kau sudah bangun, aku sudah tidak kuat lagi,"
"Hah...... hah....... hah.......... " Suara Nafas terengah-engah milik Matriak.
"Kuserah kan sisanya padamu Mei Mei, dan kalau bisa ketika membunuh beast ini jangan terlalu merusak tubuhnya." Ucap Matriak.
"Baik lah Vin, sepertinya kau mempunyai rencana terhadap tubuh beast tersebut,"
"Anggap saja bantuan ku malam ini hadiah atas kontrak jiwa yang telah dilakukan antara Arung dan Shilla, Vin." Ucap Xiao Mei Mei, kemudian terbang melesat ke atas beast tersebut.
Saat ini Xiao Mei Mei tengah memakai celana shot tipis berwarna merah dan sebuah penutup dada berwarna merah, disisi danau tampak Bing An baru sadar dari pingsannya. Bing An pun berdiri kemudian menatap ke atas Beast Kura-kura Seribu Tahun.
"Dewi berambut merah yang sexi." Gumam Bing An, sambil mengalirkan air mata kebahagian.
Di dalam pandangan Bing An, saat Xiao Mei Mei terbang ke atas Beast itu sangat lah lambat.
"Kalaupun aku mati malam ini aku rela." Ucap Bing An, sambil mengeluarkan air mata kebahagiaan.
"Dewi berambut merah..... " Teriak Bing An, sambil memuncrat kan darah di hidungnya kemudian tak sadar kan diri kembali.
"Rasakan ini, elemen api beku." Teriak Xiao Mei Mei, sambil melesatkan bola api berwarna ungu raksasa ke arah bola petir yang melesat.
Bola api ungu pun ******* bola petir dan melesat ke arah Kura-kura Seribu tahun.
"Duargh........... " Suara ledakan akibat api ungu.
Tubuh kura-kura Seribu tahun pun membeku setelah ledakan, Matriak dan para tetua lainnya pun terkejut.
"Ini elemen api legenda, api beku." Ucap Matriak.
"Pertama Arung membangkitkan elemen api hitam." Gumam Matriak.
Matriak selalu menonton livestreaming pertandingan Arung melalui HP nya.
"Saat ini Xiao Mei Mei dengan api bekunya, sebenarnya ada cerita apa lagi yang disembunyikan mereka saat berdua di pulau makam kuno?" Gumam Matriak.
"Vin.... vin kok termenung.... " Ucap Xiao Mei Mei.
"Iya.... iya..... " Ucap Matriak.
"Ayo kita bantu mereka." Ucap Xiao Mei Mei.
Kemudian Matriak dan Xiao Mei Mei pun membantu para murid dan tetua lain nya untuk menangkap Kura-kura petir.
Saat ini Sore hari di pintu masuk Perpustakaan Kuno.
"Baiklah nona-nona, saat nya kita menuju permukaan dan menghirup udara segar di atas sana,"
"Mendekatlah." Ucap Arung.
"Setelah keluar dari pintu berwarna merah itu, Arung tampak lebih dewasa dan tampan." Gumam Shilla, sambil mendekat kemudian memeluk Arung.
Gisel pun berlari ke arah Arung dan memeluknya.
"Udah sayang." Ucap Gisel.
Perisai pelindung kultivasi air pun menyelimuti mereka bertiga.
"Buat apa kau memasang perisai ini, Arung?" Tanya Gisel.
Arung hanya tersenyum kemudian memasang kuda-kuda jurus teleportasi bagian kedua, teleportasi sejauh 10 km.
"Gisel kau akan tahu nanti, sekarang pegang erat-erat tubuhku." Ucap Arung, kemudian melesat kan jurus tersebut.
"Blitzz........... blitz....... " Suara jurus teleportasi Arung.
Setelah beberapa kali berteleport mereka bertiga pun tiba di permukaan tanpa basah sedikitpun, perisai kultivasi air pun perlahan menghilang.
__ADS_1
"Oh jadi maksud nya agar kami bertiga tidak kebasahan." Gumam Shilla, sambil melepaskan pelukannya.
"Kau memang perhatian sekali Arung, kau bahkan tidak ingin pakaian kami berdua kebasahan." Ucap Gisel.
"Arung cepat keluarkan mobil jeep mu biar aku yang menyetir, kau tampak lelah." Ucap Shilla.
Arung pun kemudian mengeluarkan sebuah pedang emas dari cincin ruang miliknya.
"Apalagi yang Arung ingin lakukan, kenapa ia malah mengeluarkan sebuah pedang emas bukan nya mobil jeep nya." Gumam Shilla.
"Arung apakah aku perlu mengeluarkan pedang milikku juga?" Tanya Gisel.
"Tidak usah Gisel, lebih aman jika kita tidak terpisah." Ucap Arung, kemudian meletakkan pedang emas di tanah lalu menyalurkan tenaga dalam nya ke inti senjata alam Naga tersebut.
"Membesar." Ucap Arung.
"Pedang emas itu perlahan membesar, dan berwarna hijau,"
"Senjata suci apa lagi ini, pedang taifun saja sudah sangat hebat." Gumam Shilla.
"Ayo duduklah." Ucap Arung, lalu berjalan kearah pedang dan duduk bermeditasi kemudian menutup matanya.
"Ayo Shilla, pedang terbang ini aman kok,"
"Jangan khawatir, aku juga memiliki pedang seperti ini setelah di berikan oleh Arung." Ucap Gisel kemudian duduk di hadapan Arung.
Shilla pun beranjak duduk di belakang Arung, seketika akar pun keluar dari pedang terbang mulai melilit tubuh mereka bertiga.
"Tenang saja nona-nona akar-akar ini adalah tenaga dalam ku." Ucap Arung.
"Sejak kapan Arung membangkitkan elemen tumbuhan." Gumam Gisel.
Saat pertarungan di stadium Kota Awan Hitam, Gisel tidak ikut menonton ketika Arung mengeluarkan elemen tumbuhan. Saat itu Gisel tengah cemburu buta terhadap Shilla dan belum bisa menerima dirinya di madu.
"Gisel aku ingin mengembalikan tenaga dalam ku yang hilang saat berteleport tadi, jadi kamulah yang mengemudikan pedang terbang ini."
"Memang nya bisa Arung?" Tanya Gisel.
"Apa yang mereka bicarakan aku tidak paham." Gumam Shilla.
"Salurkan sedikit tenaga dalam mu, kemudian rasakan tenaga dalam ku yang berada di dalam inti senjata suci ini." Ucap Arung.
Gisel pun mulai menyalurkan tenaga dalam nya, kemudian merasakan tenaga dalam milik Arung di dalam inti senjata suci ini.
"Melayang lah.... " Gumam Gisel, sambil menutup kedua matanya.
"Benar-benar bisa melayang, ternyata pedang ini bisa terbang kalian tidak berbohong." Ucap Shilla.
Pedang hijau ini perlahan melayang.
"Tentu saja pedang ini terbang, namanya saja pedang terbang." Ucap Gisel.
"Shilla ini pengalaman pertamamu menaiki pedang terbang, walaupun tubuhmu telah di lilit oleh akar tanaman sebaiknya kau berpegangan pada sisi pedang juga,"
Saat ini mereka bertiga tengah melayang di atas langit Ngarai Biru.
"Gisel bergegas lah menuju Kota Awan Hitam." Ucap Arung, dengan tenang.
Beberapa saat kemudian perisai kultivasi es pun menyelimuti pedang terbang.
"Wah.... wah..... Arung saat ini benar-benar pengertian, dia tahu cuaca sore ini panas dan memasang perisai ini agar suhu di sini menjadi seperti di Ac." Ucap Gisel.
"Gisel Gisel, perisai ini di pasang Arung buat jaga-jaga apabila ada serangan mendadak saat kita terbang nantinya." Gumam Shilla.
"Ehmm... Arung ngomong-ngomong, arah Kota Awan Hitam kemana ya?" Tanya Gisel.
Keadaan membeku untuk sesaat di atas langit ini.
"Shilla beri tahu Gisel Arah nya kemana." Ucap Arung.
"Maaf Arung, aku pun tidak begitu ingat arah kembali ke Kota Awan Hitam.
"Dasar mereka berdua, cantik-cantik namun tidak memakai otaknya untuk berfikir." Gumam Arung, sambil membuka matanya kembali dan mengeluarkan HP Tablet miliknya.
"Gaya nya aja yang tenang, sepertinya ia tidak mengetahui arah ke Kota Awan Hitam,"
"Dan berniat menanyakannya ke temannya." Gumam Gisel.
Arung kemudian menghidupkan aplikasi navigasi mapping di HP nya.
"Gisel ikuti peta di HP ini." Ucap Arung, kemudian memberikan HP tablet miliknya.
Shilla semenjak kecil tidak pernah memiliki HP canggih sepy yang di miliki oleh Arung, jadi ia tidak begitu paham kalau ada aplikasi seperti itu didalam nya. HP canggih milik matriak pun tidak pernah disentuh oleh Shilla karena ia khawatir akan rusak. HP yang baru di berikan oleh Arung belum sempat di pakainya.
"Wah handphone canggih ternyata benar-benar hebat." Gumam Shilla.
"Baiklah ayo kita berangkat." Teriak Gisel dengan semangat, sambil melesatkan pedang terbang hijau tersebut.
"Byurrrr...................... " Hujan deras pun turun.
Arung saat ini tengah bermeditasi sambil tidur untuk mempercepat memulihkan tenaga dalam nya yang hampir habis saat berteleport bertiga saat di Perpustakaan Kuno. Sementara itu Shilla tengah memasukkan SIM card miliknya kedalam HP baru yang di berikan oleh Arung.
"Sebaiknya aku menelpon mama sekarang," Gumam Shilla, kemudian menelpon mama nya.
Di dalam Truk Xiao Mei Mei.
"Kring...... kring...... kring......"
Matriak pun melihat HP nya.
"Shilla, akhirnya anak nakal ini ingat sama mamanya." Gumam Matriak, kemudian mengangkat HP nya.
"Shilla kemana saja kamu selama ini?" Tanya Matriak melalui HP.
"Aku diajak Arung ke Ngarai Biru ma, Arung ada keperluan disini sedikit." Ucap Shilla melalui HP.
"Lho di Ngarai Biru, di Pulau Balighe kan?" Tanya Matriak melalui HP.
"Ia lho ma, di Pulau Bali ghe emangnya kenapa ma?" Tanya Shilla melalui HP.
"Kalian tidak ketemu dengan Bongpal disana, dia sedang berbulan madu bersama Syu Yan di sana." Ucap Matriak melalui HP.
"Kakek Bongpal.... bulan madu.... kapan nikahnya ma, aku kok enggak tahu?" Tanya Shilla melalui HP.
"Ternyata ada juga yang mau dengan kakek mesum itu." Gumam Shilla.
"Oh iya mama lupa kabarin, saat kamu dan Xiao Mei Mei berangkat ke Kota Awan Hitam, mereka menikah di mansion keluarga kita Shilla" Ucap Matriak melalui HP.
"Wah kalian bertiga enak ya bulan madu ni sepertinya gak mau kalah dengan Bongpal." Ucap Matriak melalui HP.
"Lho mama kok tahu, pasti Kak Mei Mei yang menceritakan nya." Gumam Shilla.
"Ya sudah Shilla, mama tengah dalam perjalanan menuju Kota Awan Hitam bersama Mei Mei,"
"Kami berencana menonton pertandingan final Arung, Shilla,"
"Bongpal dan istrinya juga sedang menuju ke sana,"
"Sudah dulu ya sayang, rawat baik-baik Arung jangan kalah sama gadis berambut ungu itu." Ucap Matriak, kemudian menutup HP nya.
"Beepp..... beep..... beeppp..... " Suara HP mati.
"Shilla ya Vin." Tanya Xiao Mei Mei.
"Ia Mei Mei, anak nakal itu setelah sekian lama baru sekarang dia menelponku." Jawab Matriak.
"Gimana kabar nya Shilla saat ini, Vin?" Tanya Xiao Mei Mei.
"Dari suaranya sepertinya baik-baik saja Mei Mei, bahkan mereka baru saja ke Pulau Balighe,"
"Saat ini pun mereka tengah dalam perjalanan kembali ke Kota Awan Hitam." Jawab Matriak.
"Mereka bertiga Vin?" Tanya Xiao Mei Mei.
"Ya ialah mereka bertiga, Arung, Shilla, dan gadis berambut ungu,"
"Dari suara Shilla tampak nya ia sangat bahagia." Ucap Matriak.
Matriak mengetahui kejadian yang terjadi di penginapan dan pulau makam kuno dari cerita Xiao Mei Mei.
"Hiks..... hiks..... hiks....... " Tangis kecil Xiao Mei Mei di dalam hati.
"Seharusnya aku ikut ke Pulau itu dengan Adik Kecil,"
"Aku seharusnya menembaknya ketika di basement saat itu." Gumam Xiao Mei Mei.
"Bentar lagi Mei Mei, pasti nanyain Arung." Gumam Matriak.
"Arung gimana, Vin?" Tanya Xiao Mei Mei.
"Tuch kan, aku kerjain Mei Mei kali ini." Gumam Matriak.
"Sepertinya dia kurang sehat Mei Mei, seluruh tubuhnya lemas dan suhu badannya tinggi,"
"Ini katanya mereka mau membawanya ke tabib terdekat, kasian anak itu padahal sebentar lagi pertandingan final di mulai." Jawab Matriak.
"Kena kau." Ucap Matriak.
"Hi..... Hi.... Hi..... " Tawa kecil Matriak.
"Arung....... aku segera sampai bertahanlah." Gumam Xiao Mei Mei kemudian melesatkan truk nya.
Kembali ke Arung dan yang lainnya yang tengah terbang kembali menuju Kota Awan Hitam.
"Shilla tadi mama mu ya?" Tanya Gisel.
__ADS_1
"Ia Gisel, katanya mereka mau menonton pertandingan final Arung,"
"Jadi saat ini mereka tengah di dalam perjalanan menuju Kota Awan Hitam." Ucap Shilla.
"Oh iya aku sampai lupa, pertandingan final ya." Ucap Gisel, kemudian mengecek tanggal hari ini di HP milik Arung.
"Syukurlah masih tiga hari lagi." Ucap Gisel.
"Huft........... " Suara Hembusan nafas panjang Gisel.
"Baiklah berpegangan lah Shilla aku akan menambah laju pedang terbang ini." Ucap Gisel.
"Ya tapi hati-hati Gisel." Ucap Shilla.
Beberapa saat kemudian Pedang terbang pun melesat dengan cepat di langit.
Paviliun Racun di Kota Awan Hitam
Saat ini hari sudah menjelang malam, sedang ada rapat tertutup antara Patriak dan keponakannya di sebuah ruang rahasia di Paviliun Racun. Pemilik Paviliun Racun ini adalah keluarga Azura, Patriak keluarga adalah salah satu Jendral di Kekaisaran Dewi Es yaitu Berserker Azura dan keponakannya adalah Dila Azura mereka tengah merencanakan sesuatu yang jahat.
"Paman ini Pedang Iblis Hitam milikku." Ucap Dila, sambil memberikan pedang miliknya.
Tetua Yaoyan pun mengambil pedang tersebut dan memegang nya.
"Keponakan ku, aku dan para tetua akan mengisi pedang ini dengan elemen kegelapan yang sangat beracun, ingat seperti rencana kita sebelumnya,"
"Serangan dari pedang ini hanya boleh kau lesatkan di detik-detik terakhir pertandingan, agar tidak ada yang curiga." Ucap Berserker, sambil mengelus-elus janggut hitamnya.
"Baik paman aku akan mengikuti perintah paman." Ucap Dila.
"Ha.... ha..... ha...... " Tawa Berserker.
"Kali ini kita akan membunuh panglima perang Kekaisaran Dewi Es ini, tidak melalui tangan kita." Ucap Berserker.
"Aku juga akan hadir di dalam pertandingan nanti, ingat keponakan ikuti rencananya jangan terbawa emosi." Ucap Berserker.
"Baik Paman, aku tidak akan mengecewakan Paman." Ucap Dila.
"Saat pedang ini telah selesai kami isi dengan energi kegelapan yang beracun, Tetua Yaoyan akan mengembalikan Pedang Iblis Hitam mu." Ucap Berserker.
"Baik Patriak." Ucap Tetua Yaoyan.
Ternyata Dila semenjak orang tuanya meninggal, ia di asuh oleh Pamannya sampai saat ini.
"Baik Paman, kalau begitu aku pamit dulu masih ada yang harus kukerjakan." Ucap Dilla, kemudian ia pun beranjak pergi.
"Yaoyan salurkan seluruh tenaga dalam kalian, dan isi dengan racun penghancur perisai ke dalam Pedang Iblis Hitam tersebut." Ucap Patriak.
"Baik Patriak." Ucap Tetua Yaoyan.
"Jangan sampai rencana kita menghancurkan perisai pelindung Pulau Awan Hitam gagal." Ucap Berserker.
Jendral Berserker adalah seorang kultivator di ranah alam Naga tingkat satu.
Kembali ke Arung dan yang lainnya yang tengah terbang kembali menuju Kota Awan Hitam.
Keesokan paginya mereka.
"Hoam................. " Suara menguap Gisel.
"Ngantuk banget nih, Shilla dan Arung sudah tidur, aku udah gak tahan lagi ni."
Mendengar suara menguap dari Gisel Arung pun membuka matanya perlahan, sementara itu Shilla tengah tertidur di atas pedang terbang dalam keadaan bermeditasi.
"Gisel kalau sudah mengantuk, tidur lah biar aku yang mengendarai pedang terbang ini." Ucap Arung.
"Iya nih Sayang, aku sudah mengantuk sekali, rasanya seluruh badanku udah mau remuk semalam ini." Ucap Gisel.
Arung kemudian mengeluarkan bola ruang miliknya, kemudian meletakkan nya di atas pedang terbang. Seketika bola ruang pun di lilit akar yang keluar pedang terbang.
"Perhatian banget, memang calon suami ku yang terbaik." Gumam Gisel.
"Istirahatlah di dalam bola ruang ini, Gisel." Ucap Arung.
"Baik sayang." Ucap Gisel, akar yang melilit tubuh Gisel pun masuk kembali kedalam pedang terbang.
Gisel kemudian bangun dan mendekati Arung.
"Mmuachh..... " Suara kecupan di bibir Arung oleh Gisel.
Arung sebenarnya berniat membalas ciuman Gisel hanya saja, ia khawatir Shilla akan terbangun.
"Baiklah sayang, nanti kalau sudah tiba di Kota Awan Hitam jangan lupa bangunkan aku ya." Ucap Gisel.
"Iya..... tidurlah." Ucap Arung.
"Clara." Ucap Gisel, kemudian tersenyum ke Arung.
Tubuh Gisel pun terhisap ke dalam bola ruang tersebut, Arung kemudian menoleh ke arah Shilla di belakangnya.
"Gadis bodoh ini, tidur tanpa memasang aura api di sekelilingnya." Gumam Arung.
Arung pun kemudian mengayunkan tangannya, seberkas energi api hitam, samar-samar menyelimuti tubuh Shilla.
"Byurrrrr........................ " Suara hujan deras.
"Sepertinya kita sudah mendekati Kota Awan Hitam." Gumam Arung.
Tak lama berselang, sebuah bola api beracun melesat ke arah mereka dari arah depan. Arung pun kemudian melesatkan bongkahan es raksasa dari telapak tangannya.
"Duargh................ " Suara ledakan akibat elemen yang sama saling beradu.
Akibat ledakan tersebut, terjadi sedikit goncangan di pedang terbang hingga membangunkan Shilla.
"Arung ada apa ini, apa kita tengah menabrak sesuatu?" Tanya Shilla.
Arung saat itu sedang mengeluarkan Pedang Taifun dan Palu Emas Hitam Surgawi nya, di hadapan nya seekor Burung Phoenix Surgawi tengah mengepak-ngepakkan sayap nya.
"Senjata dewa, aku tidak mengira dia memiliki beberapa senjata dewa." Gumam Shilla, kemudian menoleh kearah beast raksasa di depan Arung.
"Burung Phoenix Surgawi, kenapa beast legenda ini ada di langit ini,"
"Arung kenapa ia begitu tenang menghadapi beast ini, kekuatan beast ini kan setara dengan kultivator di ranah alam langit." Gumam Shilla.
"Oh Shilla ternyata kau sudah bangun, kebetulan sekali." Ucap Arung.
Dari arah Burung Phoenix Surgawi ini aura api berwarna ungu mulai menyelimuti tubuhnya dan membakarnya.
"Siapa yang tidak terbangun, ketika terjadi goncangan sekeras itu Arung." Ucap Shilla.
"Ha..... ha...... ha........ " Tawa kecil Arung.
"Kenapa kamu malah tertawa Arung, saat ini kita tengah berada dalam bencana besar." Ucap Shilla.
"Tidak ada bencana yang tidak membawa berkah,"
"Tidak ada berkah yang membawa bencana." Ucap Arung.
"Apa maksudmu Arung?" Tanya Shilla.
"Kau akan tahu setelah aku mengalahkan Nona cantik di sana,"
"Aku akan mendekati nya, kau kendarai lah pedang terbang ini." Jawab Arung.
"Nona cantik?"
"Bukankah itu seekor Beast, ada yang salah dengan kepala anak itu." Gumam Shilla.
Shilla pun mulai menyalurkan sedikit tenaga dalam nya ke dalam inti senjata suci, kemudian mulai merasakan tenaga dalam milik Arung yang ada di dalamnya.
"Aku merasakannya, ternyata tidak sesulit yang ku bayangkan."
Arung pun mulai merubah tenaga dalam nya menjadi tornado kecil di kakinya, membuatnya bisa melayang."
"Hah... ternyata Pedang Taifun dapat di gunakan seperti itu." Gumam Shilla, sambil mengendalikan pedang terbang.
"Kau sudah mahir Shilla, sebaik nya menjauhlah dari sini aku akan menangani Nona Beast tersebut." Ucap Arung, kemudian mendekati api ungu tersebut.
"Nona-nona lagi, apa dia menyindir ku dan ingin mencari calon istri lainnya,"
"Jika benar-benar dia mencari calon istri lainnya, kya........... gimana nasib ku dan Gisel." Gumam Shilla, mulai menjauh dari Arung dan api ungu tersebut.
Perlahan api ungu pun mulai menghilang, dari balik asap ungu keluarlah sesosok Nona yang sangat cantik. Wanita tersebut mengenakan pakaian perang berwarna merah darah dengan rambut berwarna merah. Shilla pun menatap fenomena transformasi tersebut takjub sekaligus khawatir.
"Ternyata benar-benar seorang Nona yang sangat cantik, darimana Arung mengetahui nya." Ucap Shilla, kemudian membatu menyaksikan kecantikan dan keanggunan Nona yang tengah melayang tersebut.
"Tidak kusangka, aku akan bertemu seekor Naga di antara rubah,"
"Sudah lama sekali sejak aku merasakan Daging Naga di mulutku." Ucap Nona Beast tersebut, sambil mengeluarkan senjata suci miliknya.
"Terakhir kali Nona Beast yang berkata seperti itu telah menjadi santapan ku, dan menjadi seperti ini." Ucap Arung, kemudian mengeluarkan bola api hitam di tangannya.
"Elemen api legenda, ternyata dia benar-benar telah memakan seekor bangsawan dari bangsa kami, aku tidak boleh lengah." Gumam Nona Beast tersebut, kemudian mengeluarkan senjata suci lainnya.
"Seperti nya dia sedikit tertekan mendengarnya, dan lebih waspada." Gumam Arung.
Kedua senjata yang di gunakan Nona Beast adalah Pedang Iblis Putih Kembar, yang merupakan senjata suci alam siluman puncak. Jika kedua senjata ini di gunakan secara bersamaan, kekuatan nya akan setara dengan senjata suci alam iblis puncak.
"Lho sejak kapan tubuhku di selimuti aura api hitam ini, pasti Arung yang melakukannya."
"So sweet.................dia pasti khawatir pacarnya masuk angin." Gumam Shilla, sambil memegang kedua pipi nya yang memerah.
Di dalam Bola Ruang
Terlihat Gisel yang tengah tertidur memakai celana ketat pendek berwarna ungu, dan hanya memakai penutup dada.
__ADS_1
" Groaghhahhh..... groaghhh......... " Suara dengkuran milik Gisel.
Kedua rubah berekor sembilan pun tampak tidur di dekat Gisel.