
Di langit di Atas Kota Awan Hitam dan Gurun Api Es.
Saat ini.
"Byurrrr............................... " Suara hujan deras.
Bola berelemen kegelapan raksasa tersebut terus melesat ke angkasa lalu mulai menerobos awan-awan gelap ber petir.
"Gregeghh........ Gregh......... Gregegh........ " Suara yang di akibat kan bola hitam saat menerobos.
Beberapa menit kemudian Bola hitam melesat ke sebuah perisai kultivasi berwarna biru, ternyata di atas langit Kota Awan Hitam dan Gurun Api Es ini terdapat sebuah pulau melayang yang di kelilingi oleh Danau yang air nya jatuh terus menerus ke bawah selama ini. Fenomena inilah yang menyebabkan Kota Awan Hitam selalu beriklim hujan sepanjang tahun.
"Aurgh....... Aurgh....... Aurgh.......... " Raungan Beberapa Beast Phoenix Surgawi, saat melihat bola hitam tersebut, lalu terbang melesat kembali dalam Pulau.
"Duargh........................... " Suara ledakan akibat hantaman bola hitam ke perisai air.
Dari dalam bola hitam muncul sesosok bayangan raksasa hitam besar bertanduk yang kemudian melahap Perisai Kultivasi Phoenix Air tersebut hingga berlubang sangat besar, lalu setelahnya sesosok bayangan hitam besar itu pun meraung dengan sangat keras.
"Groagh........................... " Suara raungan yang dahsyat.
Akibat raungan besar tersebut, beberapa ribu Ikan Koi Surgawi pun muncul dari permukaan Danau Langit tersebut lalu keluar melalui lubang perisai air yang menganga tersebut. Setelah keluar dari lubang yang menganga tersebut ukuran Ikan Koi Langit Surgawi tersebut perlahan membesar dengan ukuran dan warna yang berbeda-beda tiap ekornya, yang terbesar berukuran seperempat Kota Awan Hitam yang juga merupakan pimpinannya.
"Aurghhh........................... " Raungan Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa.
Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa ini kekuatan nya setara dengan Kultivator di ranah alam dewa tingkat awal, ada sekitar 5000 ekor beast Ikan Koi dengan ukuran yang berbeda-beda dan di pimpin oleh Ikan Koi Raksasa tersebut. Makhluk-makhluk ini terlihat sangat marah karena suara raungan yang di keluarkan oleh Segel Iblis Pelahap milik Jendral Berserker, Kawanan Ikan-ikan ini pun mulai turun ke Kota Awan Hitam untuk mengamuk.
Mansion milik Jendral Es di pusat kota, Gazebo di halaman tengah mansion.
"Byurrrr.................... " Suara hujan deras.
Beberapa hari yang lalu.
Jendral Es mengadakan rapat tertutup dengan memanggil ketiga Jendral lainnya secara mendadak untuk berkumpul di dalam gazebo milik nya. Karena terburu-buru tampak ketiga Jendral pergi ke Mansion Nona Mitha hanya dengan mengenakan piyama tidur, pipi Jendral Karna pun memerah melihat Jendral Catherine dan Wilson berpakaian super minim dan berenda.
"Ugh.... Mataku silau sekali malam ini, Catherine dan Wilson tidak kusangka mereka begitu cantik dan panas malam ini." Gumam Jendral Karna, lalu menoleh ke arah Jendral Catherine dan Wilson dengan tatapan mesum.
"Ehm.... Ehm... Ada apa Jendral Karna, apa kau ingin menambah istri lagi seperti Jendral Berserker?" Tanya Nona Mitha.
"Maaf Kakak Kedua, mata ku hanya sedikit silau saja malam ini,"
"Uranus dan yang lainnya pasti akan membunuh ku jika aku menambah istri lagi." Gumam Jendral Karna.
"Dasar Jendral Fuckboy dan mesum." Gumam Jendral Wilson.
"Mitha ada apa mengumpulkan kami semua malam ini, apa Kekaisaran ini akan mendapat serangan dari Kekaisaran lainnya?" Tanya Jendral Catherine, sambil menuang arak ke dalam cawan nya.
"Ia Kakak Kedua, hari ini adalah jatah Uranus untuk tidur bersamaku malam ini,"
"Dia sangat jengkel kepadaku karena aku pergi rapat mendadak malam-malam begini Kakak Kedua." Ucap Jendral Karna.
"Di otak nya hanya ada jatah saja, padahal istri nya kan 10 orang,"
"Aku bingung bagaimana dia bisa lulus ujian menjadi Jendral, mungkinkah dia meniduri beberapa panitia tersebut?" Gumam Jendral Catherine.
"Hoam........... " Suara menguap Jendral Wilson.
"Ia ada apa ini Mitha, aku pun sangat mengantuk saat ini,"
"Kenapa rapat nya tidak di adakan pagi hari saja." Tanya Jendral Wilson.
Nona Mitha lalu meneguk arak di depan nya, baru ia mulai berbicara.
"Teman-teman..... "
"Jadi aku mengumpulkan kalian bertiga pada malam hari ini adalah untuk memobilisasi seluruh Prajurit agar berjaga di pinggiran Kota Awan Hitam di hari pertandingan final,"
"Aku khawatir karena jadwal pertandingan final tersebut, bertepatan dengan malam Dragon Moon." Ucap Nona Mitha.
"Oh iya, benar itu sangat berbahaya,"
"Biasanya akan ada banyak Beast Naga yang mengamuk di malam Dragon Moon tersebut,"
"Ugh........ Siapa juga yang membuat jadwal pertandingan final nya di hari tersebut." Ucap Jendral Catherine, lalu meneguk arak di cawan.
"Wah... Kakak Kedua memang jenius, bisa mengetahui kalau malam pertandingan tersebut merupakan malam Dragon Moon,"
"Kakak Kedua memang is the best, calon suami kakak di masa depan pasti sangat beruntung." Ucap Jendral Karna.
"Kalau masalah itu aku pun sudah tahu Mitha, juga ada beberapa hal yang aneh dalam beberapa bulan ini,"
"Ada banyak sekali komandan-komandan yang tewas di bunuh atau pun diracuni,"
"Aku mencium sesuatu yang berbau busuk." Ucap Jendral Wilson.
Keadaan di dalam Gazebo pun hening untuk sesaat.
"Oleh sebab itu semua, aku ingin kalian memobilisasi seluruh prajurit yang berada di bawah kalian untuk berjaga di pinggiran Kota Awan Hitam,"
"Kita akan bersiap untuk kondisi apapun yang terjadi pada saat tersebut,"
"Mau itu malam Dragon Moon, atau kah ada sebuah konspirasi nanti nya." Ucap Nona Mitha.
"Baik Panglima." Ucap Kompak ketiga Jendral.
Beberapa saat kemudian mereka pun mulai kembali ke kediaman nya masing-masing.
"Semoga Uranus tidak mengunci pintu kamarnya, aku udah kentang kali gara-gara panggilan Kakak Kedua yang tiba-tiba tadi,"
"Dan juga gara-gara kedua Jendral tadi yang berpakaian begitu minim lalu berenda, Uranus I'm Coming." Gumam Jendral Karna, lalu melesat terbang kembali ke mansion nya berniat mendapatkan kehangatan di malam yang dingin ini dari Uranus.
Pinggiran Kota Awan Hitam.
"Byurrrr.................. " Suara hujan deras.
Saat ini sudah ada 20 ribu pasukan yang berjaga di pinggiran Kota Awan Hitam lalu menunggu perintah dari Panglima Perang Kekaisaran Dewi Es. Tampak banyak kamp-kamp Prajurit yang berdiri dan Prajurit yang berbaris dengan senjata lengkap.
"Groagh......................... " Suara raungan dari atas langit.
"Mungkinkah itu raungan para Beast Naga, tapi ini kan masih sore hari?"
"Firasat Ku tidak enak." Gumam Komandan Barito Zukho, lalu melihat ke atas langit hujan.
Tribun dalam.
Saat ini di Tribun dalam sedang kosong, tampak dari bangku-bangku yang tidak berpenghuni tersebut. Arung saat ini sedang bermeditasi di atas bangku yang biasa ia duduki bersama Gisel dan juga Shilla, beberapa saat kemudian ia pun terlelap dalam meditasi nya.
Pojokan Tribun Dalam, di sebuah Pohon.
"Tidur berarti mati, saat nya aku membalas kematian adik bodoh ku Yolanda Lang." Gumam Miranda Lang, lalu mengeluarkan Pedang Tornado Api yang telah di lumuri Racun Peledak.
"Nyenyak sekali Pemuda Berambut Merah itu tidur." Gumam Miranda Lang, lalu keluar dari avatar pohon tersebut kemudian mengendap-ngendap ke belakang Arung.
Beberapa saat kemudian.
"Matilah pembunuh.... " Ucap Miranda Lang, lalu menusuk punggung Arung.
"Jlebb......................... " Suara Pedang Tornado Api menusuk punggung Arung dari belakang.
Darah pun mulai mengalir dari luka tusukan tersebut, Arung pun mulai tersadar dari tidur lelap nya.
"Akh............. " Teriak Arung, lalu perlahan membuka matanya.
"Ada apa ini..... Mungkinkah Dilla balas dendam padaku." Gumam Arung.
"Mati kau." Ucap Miranda Lang, lalu mulai menebas leher Arung.
"Blitz............. " Suara jurus teleportasi milik Arung.
"Whusss....... " Suara tebasan Pedang Tornado Api menebas udara kosong.
"Kemana dia?" Gumam Miranda Lang, lalu menoleh kesana-kemari.
Beberapa detik sebelum terkena tebasan pedang Arung pun berteleport ke belakang Miranda Lang, lalu melesatkan serangan Bola Api Hitam ke arah punggung nya.
"Itu bukan Dilla, siapa Wanita tersebut,"
"Ada dendam apa dia dengan ku." Gumam Arung.
"Uhuk...... Uhuk..... Uhuk...... " Suara Batuk Arung.
"Duargh.......... " Suara ledakan akibat serangan Bola Api Hitam mengenai punggung Miranda Lang.
Miranda Lang pun terpental hingga beberapa meter ke depan lalu terluka parah, darah pun muncrat dari mulut nya.
"Ugh..... Pemuda ini sangat kuat, sebaiknya aku segera kabur,"
"Dia bukanlah lawan ku, lagian aku sudah menusukkan Pedang Beracun ini." Gumam Miranda Lang, lalu mulai melesat ke arah pintu keluar dan berniat kabur.
"Ugh...... Dada ku sakit sekali, tidak akan kubiarkan kau lolos semudah itu." Gumam Arung, lalu mengeluarkan Pedang Taifun nya dan berteleport ke dekat pintu keluar.
"Blitzz................ " Suara jurus teleportasi milik Arung.
Arung muncul tepat di samping Miranda Lang dengan posisi siap menebas nya.
"Sial..... Dia cepat sekali." Gumam Miranda Lang, sambil melesat.
Arung pun menebas ke arah Miranda Lang yang sedang melesat lalu memutuskan lengan nya yang sedang memegang Pedang Tornado Api.
"Akh...................Tangan ku." Teriak Miranda Lang, lalu melesatkan Jurus Avatar Pohon sekuat tenaga nya.
"Groagh.... Groagh.... Groagh...... " Suara beberapa avatar pohon yang mulai muncul dari dalam tanah.
"Jurus apa lagi ini?" Gumam Arung, lalu terbatuk dan mulai lemas.
"Uhuk..... Uhuk...... Uhuk..... "
"Uhuk..... Uhuk....... Uhuk..... " Suara batuk Arung, sambil memuntahkan darah.
Seketika banyak sekali pohon muncul di sekitar Tribun dalam dan pintu keluar.
"Tak kan kubiarkan kau lari." Gumam Arung, lalu memasang kuda-kuda Jurus Teleportasi.
Saat hendak melesatkan Jurus Teleportasi kembali, Arung pun kembali memuntahkan darah dari dalam mulutnya.
"Uhuk...... Uhuk....... Uhuk.... "
"Uhuk...... Uhuk........ Uhuk..... " Suara Batuk Arung.
Ia pun lalu berhenti dan duduk bermeditasi di dekat lengan Miranda Lang yang putus.
"Ugh..... Sebaik nya aku memulihkan kondisi ku dulu saja saat ini." Gumam Arung.
Saat ini Arung masih mengira dirinya hanya terkena luka tusukan biasa saja. Ia belum menyadari nya, saat ini dia sedang terkena Racun Peledak.
"Dalam 15 menit lukaku akan sedikit membaik, ini hanyalah luka biasa,"
"Dasar Pembunuh Amatir, kenapa dia tidak langsung memenggal kepala ku tadi." Gumam Arung.
Beberapa saat kemudian terdengar suara raungan dari atas langit.
"Aurghhhh............................... " Suara Raungan Ikan Koi Langit Surgawi yang sedang melesat turun dari langit.
"Suara apa itu, firasat ku tidak enak."
Beberapa saat kemudian samar-samar suara Jendral Api mulai muncul di kepala Arung.
"Pedang Tornado Api yang menusuk mu tadi sudah di lumuri dengan Racun Peledak, jika dalam waktu delapan jam ini kau tidak menemukan penawarnya,"
"Tubuh mu akan segera meledak akibat sirkulasi energi yang terbalik." Suara di kepala Arung.
"Apa................ "
"Racun ini membuat tubuh ku korslet lalu meledak, sungguh racun yang kejam,"
"Padahal aku baru saja memulai kehidupan baru ku di Benua Es Api ini,"
"Dimana aku bisa mendapatkan penawar racun tersebut, sebaiknya aku menyimpan Pedang dan Cincin Hijau milik Pembunuh Misterius tersebut terlebih dahulu." Gumam Arung, lalu mulai menyimpan kedua barang milik pembunuh tersebut.
Beberapa saat kemudian terdengar suara gemuruh dari atas langit di Stadium Kota Awan Hitam.
"Groagh............... Groagh........ Groagh.......... Groagh.......... " Suara gemuruh di atas langit.
Saat ini Jendral Berserker dan keluarga Azura lainnya telah meninggalkan Kota Awan Hitam lalu menuju Ke Kota Seribu Obat.
Di jalanan Kota Awan Hitam.
"Byurrrr.................... " Suara hujan deras.
Tampak Miranda Lang tengah melarikan diri dengan lengan yang terputus, ia melesat dengan sangat cepat berniat melarikan diri dari Kota Awan Hitam.
"Ugh....... Tangan ku, semoga kau meledak berkeping-keping Rambut Merah." Gumam Miranda Lang, sambil melesat.
Koridor Menuju Arena
__ADS_1
"Byurrrr.................. " Suara hujan deras.
Beberapa menit kemudian, setelah berjalan beberapa langkah keluar dari Tribun Dalam.
"Ugh........... Racun nya mulai bereaksi, seluruh tubuhku seperti kehilangan energi." Ucap Arung, lalu mulai berjalan dengan gontai.
Terlihat Arung sedang kesulitan berjalan, bahkan ia berjalan sambil memegang dinding-dinding koridor. Langkah nya mulai goyah, namun ia tetap berjalan setapak demi setapak berniat berjumpa dengan Jendral Es.
"Duargh........ duargh...... duargh....... " Suara ledakan yang berasal dari atas langit.
"Ugh...... sepertinya ada pertarungan yang sengit di luar sana." Gumam Arung.
"Uhuk....... uhuk....... uhuk...... " Suara batuk Arung, lalu memuntahkan darah dari mulut nya.
Ia pun tetap berjalan selangkah demi selangkah dengan sorot mata yang hampir padam.
Tribun Khusus Perwira Tinggi.
"Byurrrr....................... " Suara hujan deras.
Jendral Es dan yang lainnya sedang menyaksikan pertunjukan musik dari atas tribun, tiba-tiba saja terdengar suara raungan yang sangat keras dari atas.
"Aurgh.......................... " Raungan dari atas langit.
Ke empat Jendral pun bangun dari kursinya, lalu berjalan ke pinggiran Tribun dengan kepala menengadah ke atas.
"Catherine sepertinya, para beast Naga itu datang lebih awal dari perkiraan ku,"
"Segera perintahkan para panitia untuk membubarkan acara ini, lalu berikan isyarat siap berperang kepada Prajurit-prajurit yang ada di perbatasan kota." Perintah Jendral Es.
"Baik Panglima." Ucap Jendral Catherine, lalu memerintahkan kelima Komandan nya untuk membubarkan acara.
Kelima Komandan lalu melesat ke arena untuk membubarkan acara, sementara itu Jendral Catherine pun terbang melesat ke atas arena.
Beberapa saat kemudian.
"Aku tidak menyangka para beast Naga itu benar-benar datang menyerang ke mari, biasanya mereka hanya mengamuk di Kota Es Utara." Gumam Jendral Catherine, lalu melesatkan bola petir isyarat ke langit.
Bola petir pun melesat ke arah langit, setelah mencapai ketinggian tertentu bola tersebut meledak.
"Duarghhh.......................... " Suara ledakan.
Para penonton pun mulai membubarkan kan diri, beberapa saat kemudian ribuan bola petir dengan berbagai ukuran melesat dari langit menuju Kota Awan Hitam.
"Karna, Wilson, ayo kita bantu Catherine." Perintah Jendral Es, lalu terbang menghampiri Jendral Catherine.
"Baik Panglima." Ucap kedua Jendral Kompak.
Sesampai nya di atas arena tersebut, mereka pun mulai melesatkan serangan mereka ke arah bola-bola petir yang menerjang tersebut.
Pinggiran Kota Awan Hitam.
"Byurrrr..................... " Suara hujan deras.
"Duarghh................ " Suara ledakan yang berasal dari langit di atas Tribun Dalam.
Para Komandan pun mulai bersiap terbang menggunakan Roda Emas yang baru saja di beli oleh Kekaisaran Dewi Es dari Perusahaan Alba.
"Sersan, perintahkan para prajurit untuk melesatkan serangan mereka ke arah bola-bola petir tersebut,"
"Jendral Catherine telah memberikan isyarat perang." Perintah Komandan Barito.
"Siap Komandan." Jawab kompak kesepuluh Sersan.
Berbagai macam serangan pun melesat dari arah pinggiran kota menuju langit, berbagai elemen pun saling beradu sehingga menyebabkan ledakan-ledakan kecil di langit.
"Duargh....... Duargh......... Duargh....... "
"Duargh......... Duargh........ Duargh..... " Beberapa suara ledakan.
Bola-bola petir yang tidak berhasil di tahan pun menghantam arena dan di sekitar pusat kota.
"Duargh...... Duargh........ Duargh........ " Suara Bola petir yang menghantam arena dan pusat kota.
Pinggiran Tribun Penonton.
Tampak para kameramen dan reporter belum juga meninggalkan arena, mereka masih meliput peperangan besar tersebut. Terlihat dari langit seekor Beast Ikan Koi Langit Suragawi seukuran seperempat Kota Awan Hitam mulai muncul.
"Itu..... Itu...... salah satu Raja Beast, Ikan Koi Langit Surgawi kekuatan nya setara dengan Kaisar Es." Ucap salah satu reporter.
"Liput terus ini akan menjadi berita yang benar-benar besar dan eksklusif." Ucap Reporter lainnya.
Para Kultivator Jurnalis itu pun mulai meliput kembali kondisi perang tersebut tanpa mengindahkan perintah pembubaran dari Jendral Es.
Di Langit di Atas Arena.
Keempat Jendral pun masih melayang lalu terkejut menyaksikan kehadiran Beast raksasa tersebut, di sekitar makhluk tersebut terlihat beribu ekor Beast ikan mulai menyerang ke dalam Kota.
"Aku salah memprediksi kan nya Catherine, ternyata bukan para Naga yang menyerang kita,"
"Kali ini kita harus mengerahkan seluruh kemampuan kita, aku tidak yakin akan memenangkan pertempuran ini." Ucap Jendral Es.
"Ugh...... Menyeramkan, padahal aku sengaja ikut menghadiri acara ini karena cuaca yang selalu hujan terus." Gumam Jendral Karna.
"Hiks..... Hiks..... Hiks...... " Tangis kecil Jendral Karna di dalam hati.
"Aku sebenarnya ingin membuat anak dengan ketiga istri ku, Riri, Amanda, dan Uranus." Gumam Jendral Karna.
Beberapa saat kemudian
"Tenang Kakak Kedua, Kakak Pertama saat ini pasti sedang mengirimkan bala bantuan nya kemari,"
"Kita hanya perlu menahan Beast Raksasa ini untuk beberapa waktu Kak." Ucap Jendral Karna.
"Aurghhhh............... " Raungan Beast Ikan Raksasa, lalu melesatkan bola petir berukuran raksasa.
"Wilson bantu aku." Ucap Jendral Catherine.
"Baik Catherine." Ucap Jendral Wilson.
Mereka berdua pun mulai menggabungkan kekuatannya lalu melesat kan bola petir berukuran raksasa ke arah bola petir yang sedang menerjang ke arah mereka.
"Duarghhh.............. " Suara ledakan dahsyat pun terjadi.
Sementara itu Jendral Es sedang mengumpulkan energi elemen es nya berniat mensummon Beast Kontrak nya yang berasal dari Planet Jupiter.
"Kakak Kedua bahkan sampai ingin mensummon Naga Salju Api nya, sebaik nya aku juga mensunmon Duyung Api mesum tersebut." Gumam Jendral Karna, lalu mengumpulkan energi api nya juga.
Sementara itu Jendral Catherine dan Wilson mulai menembakkan beberapa bola petir berukuran raksasa ke arah Ikan Koi Langit Surgawi.
"Kita harus mengulur waktu." Ucap Jendral Catherine.
"Ya Catherine." Ucap Jendral Wilson.
Beberapa saat kemudian seekor Naga Salju Api dan Duyung Api Raksasa muncul. Beast Ikan Koi Langit Surgawi pun mulai menembakkan semburan air raksasa yang menyebabkan Jendral Catherine dan Wilson terpental.
"Wah..... Sudah lima tahun kau tidak memanggilku, sepertinya kau saat ini sangat terdesak seperti saat di gurun tersebut." Ucap Gatot Angkara si Naga Salju Api.
Naga Salju Api ini merupakan Beast Kontrak nya Jendral Es memiliki panjang sekitar 100 meter, kekuatan nya setara dengan kultivator di ranah alam naga puncak.
"Kau lihat Ikan Raksasa di sana, itulah lawan kita kali ini Gatot." Ucap Jendral Es, yang sedang berdiri di atas kepala Naga tersebut.
"Wah.... Besar sekali, kau selalu saja menempatkan ku ke dalam situasi yang berbahaya." Ucap Gatot.
Jendral Es dan Naga nya mulai melesat dan terbang di sekitar Ikan Koi sambil melesat kan beberapa bongkahan es raksasa.
"Duarghhh....... Duarghhh........ Duargh....... " Suara ledakan yang terjadi akibat serangan Jendral Es.
Ikan Koi tersebut pun membalas serangan dari Jendral Es, namun Jendral Es berhasil menghindari nya.
Seekor Duyung raksasa pun muncul.
"Wah..... Jendral Tampan sepertinya kau sedang ***** ya, makanya memanggil ku." Ucap Madonna.
Seekor Duyung Api Raksasa memiliki tinggi 20 meter pun muncul, terlihat Jendral Karna berdiri di pundak nya.
"Madonna kumohon bantu aku kali ini, kau lihat ikan raksasa tersebut,"
"Kumohon Madonna aku akan melakukan apa pun yang kau minta." Ucap Jendral Karna.
"Ha..... Ha..... Ha..... " Tawa Madonna.
"Baiklah.... Kau harus tidur dengan ku setelah ini." Ucap Madonna.
"Ugh....... Terakhir kali aku tidur dengan nya, aku sampai koma selama satu tahun, tapi saat ini nyawa lebih penting." Gumam Jendral Karna.
"Baik Ratu ku." Ucap Jendral Karna.
Jendral Karna dan Duyung Api nya pun mulai menembakkan api hitam ke arah Ikan Koi tersebut.
"Duargh..... Duargh....... Duargh.... " Suara ledakan akibat serangan Jendral Karna dan Duyung Api nya.
Aula Tamu Istana Kekaisaran Dewi Es, Saat pertandingan Arung Vs Dilla.
Istana ini sangat besar seperti Istana Naga Benua Naga Barat, terlihat halaman depan nya saja sangat luas dan dapat menampung sekitar 100 ribu pasukan.
Aula Istana.
Saat ini Kaisar beserta ke 100 menteri nya tengah menonton acara live streaming Pertandingan di Stadium Kota Awan Hitam di dalam Aula Tamu. Tampak sang Kaisar Es tengah duduk di atas singgasana nya, lalu para menteri duduk berjejer di dalam ruangan besar tersebut.
"Wah ternyata anak mu sangat hebat, Perdana Menteri Azura." Ucap salah satu Menteri.
Ternyata Dilla Azura adalah anak dari Shana Azura sang Perdana Menteri. Dilla sejak kecil di rawat oleh Jendral Berserker Azura yang merupakan adik kandung Shana Azura.
"Sepertinya Pemuda berambut merah itu akan segera kalah." Ucap Menteri lainnya.
"Terima kasih.... Terima kasih." Ucap Perdana Menteri Azura.
Saat ini Arung dan Dilla sedang beradu pedang di atas arena, sang Kaisar Es masih duduk dengan tenang lalu meneguk arak beberapa kali hingga saat Jendral Es muncul dan mengumumkan Arung sebagai tunangannya di atas arena tersebut.
"Uhuk..... Uhuk..... Uhuk..... " Suara batuk sang Kaisar.
"Apa......... "
"Ugh.... Mitha kenapa kau se ceroboh ini, kau tahu kan kalau julukan kedua mu adalah Love Killer,"
"Kasihan Pemuda berondong tersebut, disini saja sudah ada beberapa Menteri yang roboh karena syok." Gumam Kaisar Es.
"Yang mulia, anda tidak apa-apa?" Tanya salah satu Menteri.
"Aku tidak apa-apa, lebih baik kalian bawa segera ke Rumah Sakit beberapa mentri yang roboh di sana." Ucap Kaisar, sambil mengurut-urut kepala nya.
Terlihat beberapa Menteri jatuh tersungkur karena syok, sehingga perputaran tenaga dalam di dalam tubuh mereka menjadi terbalik.
"Maafkan aku yang mulia, apa kita hentikan saja acara nonton bareng ini." Ucap Perdana Menteri Azura.
"Tidak apa-apa Perdana Menteri Azura lanjutkan saja, aku masih ingin melihat kelakuan bodoh apa lagi yang akan di buat adik bodoh ku." Ucap Kaisar Es.
"Baik Yang Mulia." Ucap Perdana Menteri Azura.
Kaisar Es dan beberapa Menteri yang tersisa pun kembali melanjutkan menonton pertandingan tersebut, beberapa menit kemudian Kaisar kembali di suguhkan adegan bodoh dari adik nya Jendral Es hingga ia terbatuk.
"Uhuk..... Uhuk..... Uhuk...... " Suara batuk Kaisar Es.
"Mitha, kenapa kau mencium nya di depan umum seperti itu,"
"Kau kan bisa mencari sebuah kamar, kasihan Tunangan mu itu,"
"Di dalam ruangan ini dan di luar saja aku sudah merasakan niat membunuh yang sangat besar." Gumam Kaisar Es.
"Duargh....... Duargh....... Duargh....... "
"Duargh....... Duargh........ Duargh....... " Suara beberapa ledakan besar yang berasal dari luar.
"Sudah kuduga akan jadi begini." Gumam Kaisar.
"Yang Mulia, anda tidak apa-apa,"
"Apa kita hentikan saja menonton acara ini." Ucap Perdana Menteri Azura.
"Tidak usah Perdana Menteri Azura, lanjutkan saja,"
"Dan tolong urus keributan di luar sana." Ucap Kaisar Es.
"Baik yang mulia." Ucap Perdana Menteri Azura, lalu keluar berniat meredam kekacauan di dalam istana.
"Huft....................... " Suara nafas panjang Kaisar Es.
Beberapa Menteri laki-laki pun keluar karena mood nya yang jelek. Saat ini Kaisar Es tengah menonton acara Live streaming tersebut bersama beberapa Menteri yang tersisa hingga akhirnya pertandingan di menangkan oleh Tunangan Jendral Es.
"Selamat yang mulia, Tunangan Jendral Es Menang." Ucap beberapa Menteri kompak.
"Iya... Iya..... Terima kasih." Ucap Kaisar.
__ADS_1
"Dasar adik ku yang bodoh, yang satunya tukang kawin dan yang satunya lagi di buta kan oleh cinta,"
"Kau tidak tau masalah apa yang kau berikan kepada Tunangan mu setelah acara ini Jendral Es." Gumam Kaisar Es.
Beberapa jam kemudian terlihat serangan Beast yang sangat banyak di atas langit Kota Awan Hitam dari TV di aula tamu Istana, Kaisar Es pun segera memerintahkan 20 orang Jendral nya dengan membawa 100 ribu pasukan membantu Jendral Es membasmi Beast-beast ikan tersebut di Kota Awan Hitam.
Sementara itu Menteri Sinyo Sakura sangat bersedih dengan statemen Tunangan yang di lontarkan Jendral Es lalu melihat adegan ciuman nya tersebut, ia pun lalu kembali ke dalam salah satu kamar tamu di dalam Istana Kekaisaran Dewi Es berniat menelpon Guild Assasin Hitam.
Kamar Tamu Menteri Obat.
Sesampainya di dalam kamar Menteri Obat pun langsung menelpon Guild Assasin Hitam berniat memberikan bounty yang sangat besar untuk kepala Arung.
"Hiks..... Hiks.... Hiks.... "
"Hiks...... Hiks..... Hiks.... " Tangis Menteri Obat.
"Akan kubunuh kau Arung, aku sudah berkali-kali melamar Jendral Es tapi selalu saja ditolak,"
"Memegang tangan nya pun aku tidak pernah, kau malah berani mencium nya dengan sangat panas dan membara di atas arena tersebut." Gumam Menteri Obat, lalu menelpon Guild Assasin Hitam.
Ternyata yang memberikan bounty senilai 1 milyar koin emas untuk kepala Arung adalah Menteri Obat Shinyo Sakura. Setelah selesai menelpon Menteri Obat kembali menangis, suara tangisan lainnya juga terdengar dari beberapa kamar tamu lainnya ini semua disebabkan oleh ciuman panas membara dari sang Pendekar Setengah Naga.
Di Arena.
Seekor Ikan Koi Langit Surgawi berwarna putih dengan panjang sekitar 100 meter tengah mengamuk di arena, saat ini Komandan Uranus, Riri dan juga Amanda sedang berhadapan dengan makhluk tersebut. Terlihat juga beberapa Prajurit dan kultivator lainnya sedang menghadapi ikan-ikan koi lainnya.
"Aurghhh..................... " Suara raungan Ikan Koi Putih tersebut.
"Uranus, Beast ini kekuatannya setara dengan kultivator di ranah alam harimau puncak,"
"Berhati-hatilah." Ucap Komandan Riri.
"Sebaiknya kita menyerang nya bersama-sama Riri, Uranus." Ucap Komandan Amanda.
"Kalian berdua tahan dia selama 10 menit aku akan melesat kan Jurus Tinju Kera Batu milikku kepadanya." Ucap Komandan Uranus.
Jurus Tinju Kera Batu milik Komandan Uranus dapat membunuh seorang kultivator satu tingkat di atas ranah milik penggunanya.
"Baik Uranus." Ucap Riri, lalu melesat kan bola berelemen angin ke arah Ikan Koi tersebut.
"Jurus Tinju Kera Batu, bagus Uranus," Gumam Komandan Amanda, lalu melesatkan bola berelemen api ke arah Ikan Koi tersebut.
Sementara itu Komandan Uranus sedang memasang kuda-kuda jurus tersebut, tampak aura kecoklatan menyelimuti tubuhnya membentuk se ekor kera.
"Bertahanlah Riri, Amanda." Gumam Komandan Uranus, lalu kembali mengumpulkan tenaga dalam nya.
"Duarghhh........... " Suara ledakan akibat jurus milik Komandan Riri dan Komandan Amanda.
Ikan Koi tersebut kemudian mulai menyelimuti dirinya dengan elemen air lalu menyalurkan elemen petir di sekujur tubuhnya, kemudian mulai mengayunkan ekor nya ke arah Riri dan Amanda.
"Dzzitt...... Dzzitt......." Suara percikan petir dari tubuh makhluk tersebut.
Komandan Riri sempat menghindari serangan mendadak tersebut, namun malang bagi Komandan Amanda dia terkena serangan mendadak tersebut dengan telak.
"Akh............... " Teriak kesakitan Komandan Amanda, lalu terpental beberapa meter.
"Amanda, kurang ajar kau." Teriak Komandan Riri, lalu melesat ke arah ikan yang sedang melayang tersebut ke bawahnya.
"Rasakan ini ********." Teriak Komandan Riri, sambil melesatkan bola energi berelemen angin Raksasa.
Makhluk itu pun lengah sebuah bola energi berelemen angin raksasa pun mulai menghantam bagian bawah Beast ikan tersebut, sayatan-sayatan angin pun mulai mencabik-cabik tubuh makhluk tersebut.
"Ergh............... " Erangan kesakitan Ikan Koi Langit Surgawi tersebut, tubuhnya sempat berputar-putar untuk sementara lalu kembali melayang.
Tampak di tubuh makhluk tersebut terdapat banyak luka sayatan yang masih berdarah akibat serangan dari Komandan Riri.
"Riri minggirlah." Teriak Komandan Uranus, sambil melesat kan Jurus Tinju Kera Batu nya.
"Uranus telah selesai mengumpulkan energinya, sebaiknya aku menghindar dulu." Gumam Komandan Riri, lalu melesat pergi.
Sebuah tinju raksasa melesat dari dalam tanah dan menghantam kepala Ikan Koi Langit tersebut.
"Duarghhh................. " Suara hantaman Jurus Tinju Kera Api.
Seketika tempurung kepala ikan tersebut remuk terkena tinju batu, makhluk itu pun terjatuh dengan tempurung kepala yang pecah dan tewas.
"Brukkk.................... " Suara tubuh makhluk itu jatuh.
Komandan Amanda pun berjalan gontai ke arah Komandan Uranus.
"Bagus Uranus, satu ikan sudah tumbang masih ada banyak lagi di atas sana." Ucap Komandan Amanda.
"Uhuk.... Uhuk.... Uhuk..... " Suara Batuk Komandan Amanda lalu mengeluarkan darah.
Komandan Riri pun mulai melesat kembali ke arah Komandan Amanda dan Komandan Uranus. Beberapa saat kemudian Jendral Catherine dan Jendral Wilson terpental ke arena setelah terkena semburan air kencang dari Beast Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa.
"Duargh.............. " Suara ledakan.
"Jendral Catherine." Gumam Komandan Riri, lalu melesat ke arah jatuhnya Jendral Catherine.
Begitu pula dengan Komandan Uranus ia pun melesat ke arah Jatuhnya Jendral Wilson, berniat memberikan Pil Gingseng Seratus Tahun. Beberapa saat kemudian, Komandan Uranus pun tiba di tempat jatuh nya Jendral Wilson begitu pula dengan Komandan Riri telah sampai ke tempat jatuh nya Jendral Catherine.
"Uhuk...... Uhuk.... Uhuk.... " Suara batuk Jendral Wilson, lalu mengeluarkan darah.
"Jendral minumlah pil gingseng seratus tahun ini." Ucap Komandan Uranus, lalu memberikan pil tersebut.
"Wah.... Walaupun seorang Komandan, istri Karna memiliki pil yang sangat langka bersama nya,"
"Enaknya jadi adik ipar Kaisar Es." Gumam Jendral Wilson.
"Terima Kasih, Komandan Uranus." Ucap Jendral Wilson, lalu menerima pil tersebut.
Jendral Wilson pun mulai mengunyah lalu menelan Pil tersebut kemudian bermeditasi sesaat.
Di tempat Jendral Catherine terjatuh, disisi lainnya.
"Ugh..... Serangan Ikan Koi itu sangat dahsyat, padahal itu hanya semburan air,"
"Untung aku sempat memasang perisai kultivasi petir di sekitar ku, sehingga cedera ku tidak separah Wilson." Gumam Jendral Catherine.
Beberapa saat kemudian Komandan Riri pun tiba.
"Oh... Syukurlah Jendral Catherine tidak terluka parah." Gumam Komandan Riri.
"Kebetulan sekali ada kamu Komandan Riri, tolong berjaga di sekitar ku,"
"Aku akan mensummon Beast kontrak ku." Perintah Jendral Catherine.
"Siap Jendral." Ucap Komandan Riri, lalu berjaga di sekitar Jendral Catherine.
Tampak di tubuh Jendral Catherine aura biru pekat mulai berkumpul di sekujur tubuh nya. Beberapa saat kemudian tampak di atas langit Jendral Es telah berhasil mensummon Naga Salju Api nya dan tengah menyerang Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa. Begitu pula dengan Jendral Karna telah berhasil mensummon Duyung Api Raksasa nya.
"Ugh......... Riri, Uranus, lihat Karna mensummon Duyung Mesum itu." Teriak Komandan Amanda.
Komandan Uranus dan Komandan Riri pun menoleh ke atas, dari tubuh mereka berdua terpancar niat membunuh yang sangat besar.
"Dasar Jendral Playboy, kenapa kau mensummon Duyung Mesum itu,"
"Padahal kau sudah meniduri nya beberapa tahun yang lalu." Teriak Komandan Uranus.
"Dasar Duyung.... Pelakor... " Teriak Komandan Riri.
Jendral Catherine dan Wilson yang mendengar umpatan ketiga istri Jendral Karna hanya tertawa kecil.
"Hi..... Hi..... Hi...... "
"Hi...... Hi..... Hi..... " Tawa kecil Kedua Jendral.
Beberapa menit kemudian seekor Burung Elang Petir pun muncul.
"Wah...... Dimana ini, kenapa banyak sekali ikan di atas langit,"
"Apa aku sedang bermimpi, tapi kenapa ada Catherine di atas kepala ku." Ucap Bernardo Sky Thunder.
"Bernard kau harus membantuku melawan ikan raksasa di sana." Ucap Jendral Catherine.
"Wah..... Aku tidak yakin akan menang Catherine, dia sangat besar dan sangat kuat." Ucap Bernardo.
"Kita tidak sendirian, ada dua temanku di atas sana, ayo Bernardo." Perintah Jendral Catherine.
"Baik Catherine." Ucap Bernardo, lalu Catherine dan Burung Elang Petir nya pun melesat ke langit berniat menyerang Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa.
Sementara itu Jendral Wilson masih memulihkan tenaga dalam nya dan juga kondisi nya. Ketiga istri Jendral Karna masih terus mengumpat ke arah Duyung Mesum tersebut, lalu kembali melawan beberapa ekor Ikan Koi lainnya.
Koridor Stadium.
Saat ini Arung sudah tersungkur jatuh ke lantai dan sedang merangkak dengan bersusah payah menuju ke arena Stadium.
"Ugh..... Aku harus segera bertemu Jendral Es, walau tidak menemukan penawar nya,"
"Sebelum mati minimal aku dapat melihat wajah dingin Jendral Es, Mitha tunggulah tunangan mu ini." Gumam Arung, lalu kembali merangkak menuju arena.
"Uhuk..... Uhuk.... Uhuk..... " Suara Batuk Arung, lalu mengeluarkan darah.
Penginapan Lantai 30, Kamar 303.
Saat ini
Tampak Friska si Rubah Putih tengah menonton Pertandingan di TV di ruang santai, beberapa saat kemudian seekor Ikan Koi Langit Surgawi di ranah alam kesatria puncak menerobos jendela kamar milik Arung.
"Duargh................ " Suara ledakan akibat serangan Ikan Koi.
Ikan tersebut pun masuk lalu mulai menatap ke arah Friska berniat memakannya, makhluk ini pun mengaum setelah nya.
"Aurghhhh................. " Auman Ikan Koi tersebut.
"Guk.... Guk.... Guk...... " Gonggongan Friska si Rubah Putih tidak gentar terhadap nya.
Akibat auman tersebut, Rea si Rubah Hitam pun keluar dari dalam kamar dan terlihat sangat marah. Rea si Rubah Hitam merasa tidur sorenya terganggu.
"Erghhhhh................... " Suara Rea si Rubah Hitam.
Melihat dua Rubah Berekor Sembilan di hadapan nya, Ikan Koi tersebut pun ciut lalu berusaha berbalik badan dan lari kemudian berniat memanggil teman-teman nya yang lain.
"Guk... Guk.... Guk..... " Gonggongan Friska si Rubah Putih, lalu melesat kan bola berenergi cahaya ke arah ikan tersebut.
Begitupun dengan Rea si Rubah Hitam, makhluk ini pun melesatkan serangan bola berenergi kegelapan ke arah ikan tersebut. Malang bagi makhluk bersisik tersebut, karena ketakutan ia pun terkena serangan telak dari Rea dan Friska.
"Duargh............. " Suara ledakan akibat serangan kedua rubah yang menghancurkan sebagian kamar Arung.
Ikan Koi tersebut pun berubah menjadi Ikan Panggang dengan bau yang harum.
"Kryuk....... Kryuk...... " Suara keroncongan perut Friska si rubah Putih, ia pun menghampiri ikan Panggang tersebut lalu menyantapnya.
Rea si Rubah hitam hanya menggeleng-geleng kan kepala nya melihat Friska menyantap ikan Panggang tersebut.
Beberapa saat kemudian
"Kryuk....... Kryuk...... " Suara keroncongan perut Rea si Rubah Hitam, makhluk ini pun ikut menghampiri ikan Panggang tersebut lalu ikut menyantapnya bersama Friska.
"Guk.... Guk.... Guk..... " Gonggongan Friska si Rubah Putih.
Di dalam Truk Perang Milik Keluarga Azura.
Tampak sepuluh buah mobil truk Perang berjalan beriringan di jalanan menuju Kota Seribu Obat, Jendral Berserker beserta Dilla keponakan nya memimpin di depan.
Kabin Depan Mobil Truk Perang.
Tampak Jendral Berserker duduk di samping lalu Dilla yang mengemudikan kendaraan roda enam tersebut.
"Dilla, mama mu pasti marah besar padaku,"
"Kau harus membantuku nanti, aku sudah kalah bertaruh dengan Jendral Es sehingga aku telah kehilangan Hotel dan Paviliun Racun cabang Kota Awan Hitam." Ucap Jendral Berserker.
"Dasar paman bodoh, ngapain pula dia pakai taruhan segala,"
"Kalau gak main wanita ya berjudi lah kerjaan nya dari dahulu." Gumam Dilla.
"Tenang saja Paman, rencana mu kan sudah berhasil,"
"Saat ini Kota Awan Hitam sedang di serang oleh ribuan beast dari langit, Jendral Es dan yang lainnya pasti akan segera mati." Ucap Dilla.
"Kau benar Keponakan ku, kakak pasti akan memaafkan ku kali ini." Ucap Jendral Berserker, lalu menarik-narik janggutnya.
"Ha..... Ha..... Ha..... " Tawa Jendral Berserker.
Kelima Komandan yang mendampingi Jendral Berserker terbang di sekitar truk Perang tersebut, mereka berlima tidak mengetahui bahwa sanya saat inicdi Kota Awan Hitam tengah berkecamuk Perang yang sangat Besar.
"Arung....... "
"Aku akan membuat perhitungan kembali dengan mu, dasar Pendekar Fuckboy,"
"Kau tidak mau memacari ku tapi memelukku saat-saat terakhir itu, aku pun merasakan sedikit tonjolan saat itu,"
__ADS_1
"Dasar Fuckboy...... " Gumam Dilla, lalu menancap gas mobil tersebut dengan pipi yang memerah.
"Kwak..... Kwak..... Kwak...... " Suara beast gagak lewat.