Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
Ujian Final AKPAVLA Bagian Ke Satu.


__ADS_3

Acara final tersebut kembali di adakan di Stadium di Puncak Gunung Seribu Obat, ternyata hari ini adalah hari berlangsung nya ujian tersebut. Stadium ini memiliki kapasitas daya tampung sama seperti di Stadium Kota Awan Hitam, 30 ribu Prajurit-Prajurit yang di bawa oleh Jendral Es pun telah bersembunyi di sekitar mansion-mansion dan hutan di tempat tersebut.


-[Di Tribun Khusus]-


Terlihat Ketua Paviliun Obat, Jendral Catherine, dan Rektor AKPERTI tengah duduk di kursi tersebut di dampingi orang-orang terdekat mereka.


"Seperti biasa nya Jendral Es telat lagi." Ucap Jendral Catherine.


"Namanya juga Panglima Perang, Jendral Catherine,"


"Sudah kita mulai saja acara nya." Ucap Nyonya Vicki selaku KETUA PAVILIUN OBAT dan KETUA AKPAVLA.


"Benar yang di katakan oleh Nyonya Vicki, ayo kita mulai saja acara nya." Ucap Bu Diamond selaku REKTOR AKPERTI.


Sebenarnya mereka bertiga sudah mengetahui jika Jendral Es akan muncul sehabis pertandingan final alkemis tersebut, namun mereka bertiga berpura-pura tidak mengetahuinya untuk mengelabui pihak musuh.


"Ugh.... Jantung ku berdegup kencang saat menunggu serangan tiba-tiba dari Ratu Racun, walau sudah sering berperang aku masih saja gugup,"


"Apalagi lawan nya kali ini adalah KERAJAAN IBLIS ULAR." Gumam Jendral Catherine.


-[Arena]-


Acara musik pun sudah di mulai di atas arena tersebut, kali ini pembawa acara dari ujian tersebut adalah Wakil Komandan Luna, Wakil Komandan Gisel, dan Komandan Uranus walau saat ini mereka tidak saling bercakap-cakap namun mereka terpaksa akur karena tugas negara tersebut. Sementara itu salah satu Istri Jendral Karna itu belum hadir di atas arena karena sedikit urusan.


"BAIKLAH MARI KITA SAKSIKAN PENAMPILAN DARI KURTIVATOR ARTIS CANTIK KITA, NONA CLARK." Ucap Luna dan Gisel kompak menggunakan Jurus Auman Petir nya.


Nona Clark yang merupakan wanita tercantik nomer tiga di Benua Es Api pun mulai membawakan beberapa tembang cinta untuk menghibur penonton-penonton tersebut.


"Suit-suit..... " Sultan beberapa penonton laki-laki.


"Nona Clark... SARANGHAE......." Teriak beberapa penonton laki-laki yang sering nonton drakor.


"Plok.... Plok.... Plok... "


"Plok.... Plok..... Plok..." Suara tepuk tangan yang sangat meriah dari para penonton tersebut saat menyaksikan kecantikan nomer tiga di Benua Es Api tersebut.


"Ugh... Kemana Arung, aku harus menuntaskan nazarku saat di Stadium Awan Hitam tersebut, dan memberikan nya jabatan pengelolaan di Stadium Awan Hitam." Gumam Nona Clark kemudian mulai membawakan tembang-tembang lagu cinta tersebut.


Sementara itu di pinggiran tribun tampak Luna dan Gisel yang berdiri bersebelahan namun tidak bercakap sepatah katapun yang ada hanyalah gumaman berisi umpatan.


"Huh..... "


"Dasar Pelakor.... " Gumam Gisel saat melihat wajah Luna.


"Huftt..... " Suara Nafas Panjang Luna saat melihat sikap jutek Gisel.


"Dia masih belum bisa menerima hubungan ku dengan Arung." Gumam Luna.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Komandan Uranus pun mulai muncul, lalu mulai menghampiri mereka berdua kemudian menepuk bahu kedua sahabat yang sedang marahan tersebut.


"Gisel, Luna, maaf ya aku terlambat datang nya." Ucap Komandan Uranus.


"Tidak apa-apa Komandan." Ucap Gisel dan Luna Kompak.


-[Halaman Istana Kerajaan Phoenix]-


Karena beberapa hambatan di dalam perjalanan beberapa hari yang lalu Tetua Laraz pun baru sampai ke Istana Kerajaan Phoenix saat ini. Terlihat Jendral Wilson tengah duduk bersama sang Ratu Phoenix Air kemudian saling meminum arak bersama.


"Wilson, syukur lah." Gumam Tetua Laraz saat melihat sahabat karib nya dari kejauhan, ia pun kemudian melesat terbang ke arah gazebo tersebut.


Jendral Wilson dan Ratu Phoenix Air pun mulai terkejut saat melihat Tetua Laraz mulai mendarat di depan gazebo tersebut.


"Dup......... " Suara saat tapak kaki Tetua Laraz mulai mendarat.


"Laraz, kukira Gadis ini tidak jadi datang, sepertinya ada yang menghambat perjalanan nya kesini." Gumam Jendral Wilson.


"Wilson kita harus segera ke Kota Seribu Obat sekarang, Ratu Racun sudah berada tepat di langit di atas kota tersebut." Ucap Tetua Laraz lalu masuk dan duduk di sebelah Jendral Wilson.


"Bagaimana bisa mereka ada di sana, intelijen dari Kekaisaran kami tidak mendapatkan informasi mengenai hal itu." Ucap Jendral Wilson.


"Oh.... Ternyata dia adalah temannya Wilson." Gumam Ratu Gina lalu mulai meneguk arak di hadapan nya.


"Itu semua karena Jurus Tabir Hantu milik Sekte ku Wilson." Ucap Tetua Laraz.


"Tabir Hantu." Gumam Jendral Wilson.


"Apa... 100 ribu pasukan." Gumam Ratu Gina kemudian tersedak.


"Uhuk.... Uhuk.... Uhuk..... " Suara batuk Ratu Gina.


"Ceritakan kepadaku Laraz." Ucap Jendral Wilson.


Tetua Laraz pun mulai menceritakan detail penyerangan tersebut, dan jumlah Jendral serta kultivator yang ikut dalam penyerangan tersebut. Beberapa saat kemudian Jendral Wilson bersama 5000 bala tentara nya mulai terbang menuju Kota Seribu Obat, begitupun dengan Ratu Gina bersama 100 pasukan Phoenix nya mulai terbang menuju Kota tersebut juga.


-[Lantai 100 Gedung AKPERTI]-


Tampak 10 Komandan sedang berjaga di depan pintu kamar bernomer 101 tersebut, sesosok wanita cantik berambut biru dan bermata ke emasan pun mulai mengetuk pintu kamar tersebut.


"Tok.... Tok.... Tok.... " Suara ketukan pintu.


Para Komandan yang berjaga tersebut pun menunduk lalu memberikan hormat kepada wanita sedingin es tersebut.


"Ugh.... Jendral Es sampai datang sendiri kemari untuk menemui Panglima Perang Harimau Api." Gumam salah satu Komandan yang berjaga tersebut.


Ternyata Gadis itu adalah Jendral Es yang juga merupakan Panglima Perang Kekaisaran Dewi Es.

__ADS_1


-[Di Dalam Ruangan]-


Nyonya Vinic dan yang lain nya saat ini sudah pergi duluan ke Stadium di Puncak Gunung Seribu Obat, saat ini di dalam ruangan tersebut tinggal Yuki dan Rea si Rubah Hitam saja.


"Sepertinya sudah datang, Ye Lian benar-benar menepati janji nya." Gumam Yuki yang sejak tadi menunggu kedatangan Jendral Love Killer tersebut.


"Jendral Es masuk lah." Ucap Yuki.


Jendral Es pun mulai membuka pintu kamar tersebut kemudian mulai masuk dan menghampiri Yuki.


"Salam Kak Yuki, syukurlah kau baik-baik saja." Ucap Mitha lalu memeluk Yuki.


Ternyata Mitha sangat akrab dengan sahabat kakak nya tersebut.


"Ia Mitha, cerita nya panjang." Ucap Yuki.


"Kak Yuki, Kakak menyuruh ku memberikan pil ini kepada mu." Ucap Mitha lalu memberikan Pil Penawar Racun Kehidupan tersebut.


"Terima Kasih Mitha." Ucap Yuki kemudian langsung menelan pil tersebut dan mengkultivasi kan nya.


"Ugh.... Akhirnya, aku pulih." Gumam Yuki sambil bermeditasi.


Sementara itu Jendral Es pun duduk menunggu di sebelah nya, ia pun menatap ke arah Beast yang sedang duduk di sebelah Yuki kemudian mulai terkejut.


"Ugh...Bukankah itu Ras Beast Rubah Dewa, bagaimana bisa Beast Buas tersebut di jinakkan oleh Kak Yuki?" Gumam Mitha.


Aura berwarna-warni pun mulai berkumpul di sekujur tubuh Yuki, ia pun mulai bermeditasi untuk mencerna pil tersebut.


"Panglima Harimau Api yang gagah jadi anak sekecil ini, semesta benar-benar aneh." Gumam Mitha saat menoleh ke arah Yuki.


-[Di Dek Kapal Layar Langit]-


Terlihat di atas dek tersebut Perdana Menteri, Ratu dan Jendral Sisilia Manggado sedang berdiri di ujung pinggiran dek tersebut.


"Yang Mulia Ratu bersabar lah, begitu kita mendapatkan kabar kedatangan Jendral Es kita akan segera menyerang Puncak Gunung Seribu Obat tersebut." Ucap Perdana Menteri Racun.


Saat ini Ratu Racun mengenakan jubah perang berwarna hijau begitu pula dengan yang lain nya, di punggung nya sebuah labu hitam raksasa tergantung.


"Ugh... Hari ini Ratu Racun akan bertempur habis-habisan, ia sudah membawa senjata andalan nya Labu Iblis di balik punggung nya." Gumam Jendral Sisilia Manggado yang merupakan Panglima Perang Kerajaan Racun tersebut.


"Baiklah Perdana Menteri Racun, aku akan bersabar untuk beberapa jam lagi, setelah itu kita akan mengamuk di Puncak Gunung Obat tersebut." Ucap Ratu Racun dengan nada suara yang dingin dan datar.


"Ratu Racun sepertinya sangat dendam dengan Jendral Es." Gumam Perdana Menteri Racun kemudian mulai tersenyum licik.


Jendral Sisilia Manggado yang melihat senyuman licik Perdana Menteri Racun pun sedikit jengkel.


"Ugh.... Aku merasa Rubah Tua ini memiliki sebuah siasat licik di kepalanya, apa perang ini ada hubungan nya dengan kelicikan nya?" Gumam Jendral Sisilia Manggado.

__ADS_1


TO BE CONTINUED.........


[MOHON VOTE DAN LIKE NYA AGAR NOVEL INI TETAP TERBIT ON TIME CC NOVELIS JALANAN].


__ADS_2