
"Byurrrr..................... " Suara hujan deras.
Ruang Resepsionis, pagi ini.
Ketika terbangun di dalam ruangan resepsionis tersebut, ketiga Cewek Kembar Psikopat pun terkejut karena kunci kamar 303 milik Tuan Muda mereka telah hilang, oleh sebab itu mereka pun membuat rapat darurat pagi ini di ruangan dalam tersebut.
"Meli, Moli kenapa kunci kamar 303 yang tergantung di dinding ruangan ini bisa hilang?" Tanya Meri.
"Maaf Meri, semalam aku ketiduran." Jawab Moli.
"Aku juga ketiduran Meri, bahkan semalam aku mimpi basah dengan Tuan Muda Arung,"
"Oh ia..... kalau begitu aku permisi mandi dulu ya, setelah mandi aku akan kembali ikut rapat darurat ini." Ucap Meli, lalu beranjak ke toilet.
Sebenarnya kunci kamar tersebut telah di ambil oleh Shilla saat tengah malam tersebut, ketiga cewek kembar tidak menyadari nya karena sedang bermimpi basah dengan Tuan Muda Arung.
"Ugh.............. Meli ini yang ada di dalam pikiran nya selalu saja malam pertama bersama Tuan Muda saja." Gumam Meri.
Sebenarnya Meri semalam juga mimpi basah dengan Tuan Muda Arung, namun di enggan memperlihatkan nya.
"Wah........ kenapa mimpi Meli bisa sama dengan ku, Kya........... jika mengingat mimpi itu rasanya pengen tidur lagi." Ucap Moli.
"Moli juga bermimpi sama dengan Meli, ugh.........aku juga sih,"
"Ini pasti karena kejadian kentang...... saat berhasil menangkap Tuan Muda di malam itu,"
"Sepertinya aku memang harus segera pergi ke Pulau Iblis Ular, untuk mempelajari cara mengatasi jurus menghilang secara tiba-tiba milik Tuan Muda." Gumam Meri.
Tak lama berselang, Meli pun keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan sehelai handuk saja lalu kembali mengikuti rapat darurat tersebut.
"Hemm....... Meli wangi sekali, rambutnya pun basah, sepertinya mimpi nya semalam sangat membara sekali,"
"Namun lebih panas mimpi ku lagi, aku mimpi basah bertiga dengan Meri." Gumam Moli.
"Baiklah kita harus kembali menangkap Tuan Muda, namun kali ini aku harus pergi ke Pulau Iblis Ular." Ucap Meri.
"Meri apa yang ingin kau lakukan, aku tidak setuju jika kau ingin meracuni Tuan Muda,"
"Cinta tidak harus memiliki Meri, kau bisa di penjara jika membunuh Tuan Muda." Ucap Meli.
"Ugh......... Adik bodoh ku lagi-lagi gagal paham, dada nya saja yang besar tapi otak nya mungkin sangat kecil." Gumam Meri.
"Dasar bodoh kamu Meli, sudah jelas kan Meri ingin pergi ke sana ia pasti ingin mempelajari sesuatu." Ucap Moli.
"Ternyata kau lebih pintar dari pada Meli, cepat jelaskan pada Meli rencana ku pergi ke Pulau Iblis Ular, Moli." Ucap Meri.
"Syukur lah Moli mengerti maksudku pergi ke Pulau Iblis Beracun." Gumam Meri.
"Begini dada gede, Meri berniat mempelajari cara membuat Racun Viagra Ular,"
"Jadi Tuan Muda tidak akan mungkin menolak seperti saat terakhir kali kita menangkapnya." Ucap Moli.
"Moli..... bukan begitu rencana ku,...."
"Ini akibat kalian berdua selalu berpikiran malam pertama saja, sehingga kalian tidak bisa memahami rencanaku." Gumam Meri.
"Dengarkan baik-baik, aku akan pergi sekarang ke Pulau Iblis Ular untuk mempelajari cara mengatasi jurus menghilang milik Tuan Muda." Ucap Meri.
"Oh.... begitu, benar-benar Meri tiket pesawat nya biar aku yang tanggung." Ucap Moli.
"Tiket penginapan nya aku yang tanggung, yang penting kau harus mendapatkan cara mengatasi jurus aneh itu,"
"Jadi kita dapat ber malam pertama bertiga di ruangan ini." Ucap Meli, keceplosan.
"Di otaknya Malam Pertama saja, bertiga pula apa di pikir nya ini di film-film." Gumam Meri.
"Baiklah kalau begitu aku mau mandi dulu." Ucap Meri.
"Tapi kau mau pergi sekarang juga Meri?" Tanya Moli.
"Aku mimpi basah juga berempat sama Tuan Muda." Ucap Meri keceplosan.
"Dasar mesum.............. " Gumam Moli.
"Gayanya aja sok-sok kan gak mau, gak mau." Gumam Meli.
"Aduh...... aku keceplosan." Gumam Meri, lalu beranjak ke dalam toilet.
Arena Stadium Kota Awan Hitam
"Pertarungan antara Gisel Alba vs Rara Phoenix di mulai" Ucap Wakil Komandan Luna, menggunakan Jurus Auman Petir.
Gisel Alba telah berdiri di atas arena sejak tadi dengan aura petir yang meluap-luap di sekujur tubuhnya, Rara pun tidak gentar kemudian mengeluarkan Golok Pemenggal Siluman dari dalam cincin ruang nya.
"Baiklah Gisel, aku akan mencoba kemampuan mu yang telah mengalahkan Nia." Gumam Rara, lalu menerjang ke arah Gisel sambil mengayunkan golok nya.
Seberkas energi api berbentuk golok melesat ke arah Gisel.
"Huft.......................... " Suara nafas panjang Gisel.
"Rara ini sepertinya seorang gadis yang tidak sabaran untuk segera kalah," Gumam Gisel, lalu menghindar ke samping.
Rara kembali mengayunkan golok nya. Energi api berbentuk golok kembali menyerang ke arah Gisel.
"Serangan itu lagi, nampaknya golok tersebut hanya memiliki serangan monoton seperti itu saja." Gumam Gisel, lalu melesatkan bola petir berdiameter satu meter ke arah golok api tersebut.
"Duarrrr........................ " Suara ledakan yang terjadi akibat dua elemen yang saling berbenturan.
"Wajar jika Nia kalah, ternyata Gisel benar-benar kuat,"
"Serangan bola petir nya saja sudah sekuat ini." Gumam Rara.
Setelah terjadi ledakan, asap pun mulai mengepul lalu mulai menutupi daerah sekitar bekas ledakan.
"Bersiaplah Rara, sekarang saat nya aku mencoba jurus yang kedua." Gumam Gisel.
Beberapa menit kemudian asap pun mulai menghilang, terlihat Gisel sedang berdiri memegang Cambuk Qilin nya. Aura petir di sekeliling Gisel semakin melebar dan pekat. Gisel lalu mengangkat Cambuk Qilin ke atas kemudian menegang seketika, tak lama berselang dari arah cambuk yang menegang tersebut keluar sambaran Halilintar Ungu yang menerjang ke langit.
"Itu jurus yang sama, yang telah mengalahkan Nia,"
"Aku sudah menyiapkan sebuah strategi untuk menepis serangan tersebut." Gumam Rara.
Suasana di stadium pun menjadi hening seketika, penonton pun mulai menarik nafas panjang saat melihat aura petir di sekitar Gisel.
"Jderrr...................... " Suara ledakan di langit pun terjadi.
Kemudian Gisel mulai menghentakkan cambuk ke arah Rara.
"Terima ini, Tapak Halilintar Ungu." Teriak Gisel.
Sebuah telapak tangan raksasa muncul dari langit berdiameter enam meter dengan aura petir berwarna ungu yang sangat pekat menerjang ke arah Rara.
"Itu........... "
"Gawat, serangan tersebut ternyata sangat berbeda dengan serangan yang mengalahkan Nia sebelum nya,"
"Serangan ini berkali-kali lebih kuat." Gumam Rara.
Melihat serangan yang begitu mengerikan Rara pun mulai mengayunkan Golok Pembunuh Siluman nya sekuat tenaga ke arah Telapak Tangan Halilintar Ungu tersebut. Bilah energi api berbentuk golok pun melesat lalu berbenturan dengan Telapak Tangan Halilintar Ungu.
"Duarghhh.......................... " Suara ledakan akibat Tapak Halilintar Ungu melahap Golok Api.
Golok api pun sirna seketika, melihat hal tersebut Wakil Komandan Luna pun langsung turun tangan dan berusaha menahan Telapak Tangan Halilintar Ungu tersebut dengan Pedang Petir Ungu milik nya.
"Ugh........ serangan ini begitu dahsyat." Gumam Wakil Komandan Luna, sambil menahan serangan Gisel.
Rara pun ikut membantu menahan Tapak Halilintar Ungu tersebut bersama Wakil Komandan Luna.
"Ugh........... tulang ku rasanya seperti mau remuk menahan tekanan Tapak Halilintar Ungu ini." Gumam Rara, sambil menahan nya.
Pinggiran Tribun Penonton.
"Seperti nya Luna tidak akan mampu menahan serangan dahsyat tersebut lebih lama lagi, ayo kita bantu Luna." Ucap Komandan Anya.
"Sepertinya ia sudah mencapai batasnya." Gumam Komandan Talia.
"Ayo bergegas kasihan Luna." Ucap Komandan Lala.
Kemudian ketiga orang Komandan pun bergegas ikut membantu menahan serangan tersebut bersama Wakil Komandan Luna.
Arena.
Begitu sampai di arena ketiga Komandan langsung menahan Tapak Halilintar Ungu bersama Luna dan Rara.
"Dalam hitungan ketiga, kerahkan kemampuan kalian." Ucap Komandan Lala.
"1, 2 , tigaaaaaa....... " Teriak Komandan Lala.
Mereka pun mengerahkan seluruh tenaga mereka untuk membelokkan lintasan serangan Tapak Halilintar Ungu.
"Hyatttt.................. " Teriak kompak mereka, akhirnya Telapak Tangan Halilintar Ungu milik Gisel pun bisa di alihkan lintasannya ke belakang sehingga tidak mengenai Rara.
"Duarghhh............... " Suara Tapak Halilintar Ungu yang menghancurkan pelindung kultivasi di sekitar arena.
"Groaghhhhhhh................. " Suara getaran bangunan Stadium untuk beberapa saat.
"Hah........ hah....... hah...... " Suara nafas terengah-engah milik Rara.
"Aku bisa mati jika terkena serangan dahsyat seperti itu." Gumam Rara, lalu pergi meninggalkan arena.
"Nyaris saja tadi, kalau kami tidak segera membantumu,"
"Kamu bisa terluka parah Luna dan bocah di sampingmu bisa langsung tewas." Ucap Komandan Anya.
"Huft......................" Suara nafas panjang Komandan Talia.
"Cambuk itu merupakan sebuah senjata dewa yang sangat menakutkan." Ucap Komandan Talia.
"Sebaiknya cepat kau umumkan pemenang nya, Luna." Ucap Komandan Lala.
Pertandingan pun di menangkan oleh Gisel Alba, para penonton pun bertepuk tangan meriah. Walau menang Gisel masih terlihat sangat kesal, di sebabkan kejadian tadi siang di kamar Arung.
"Arung.... apa kah malam ini aku harus melakukan hal itu dengan nya."
"Baiklah malam ini aku akan ke kamar Arung lalu melakukan nya,."
"Tapi bagaimana cara mengajaknya,"
"Ugh......aku kurang pandai soal-soal yang begituan, sebaiknya aku menenangkan pikiranku dengan meminum beberapa kaleng beer di kantin." Gumam Gisel.
Desa Lembah Pembunuh, Pulau Assasin.
Saat ini Nona Yang sedang melakukan Yoga di ruang santai di dalam rumah nya, tampak Cie Err sedang menonton pertandingan antara Gisel dan Rara.
"Ma..... ma........ aku sangat ingin menonton Pertandingan Final secara langsung di Stadium Kota Awan Hitam." Ucap Cie Err.
"Sepertinya Cie Err sangat mengagumi Arung, Pemuda itu pun merupakan Pemuda yang baik." Gumam Nona Yang, sambil melakukan gerakan Yoga.
"Arung aku akan membuat mu bertanggung jawab kepada mama ku, tunggu saja saat aku sampai di sana." Gumam Cie Err.
"Cie Err, kenapa kau tidak pergi saja ke Kota Awan Hitam." Ucap Nona Yang, sambil melakukan gerakan Yoga.
"Pucuk di cinta bulan pun tiba, Arung jika kau tidak mau bertanggung jawab,"
"Akan ku perlihatkan kengerian keluarga Err ku." Gumam Cie Err.
"Benarkah ma...... Terima kasih." Ucap Cie Err.
"Tentu saja Cie Err, jika aku mengingat Kota Awan Hitam tersebut,"
"Aku teringat kejadian malam itu lagi." Ucap Nona Yang, sambil meneteskan air mata di pipinya.
"Ferguso maafkan aku malam itu tidak bisa menyelamatkan mu." Gumam Nona Yang, lalu menghentikan gerakan Yoga nya.
"Hiks....... hiks....... hiks....... "
"Hiks......... hiks....... hiks...... " Tangis Nona Yang Pecah, saat mengingat kematian sahabat karib nya Ferguso.
"Ma.... ma..... Arung kau sungguh kejam, setelah kau menikmati sari bunga mama ku,"
"Kau mencampakkan nya begitu saja, awas kau Arung,"
"Aku akan membuat perhitungan dengan mu nanti." Gumam Cie Err, lalu memeluk mama nya.
Beberapa saat kemudian, Nona Yang pun selesai menangis.
"Maaf kan Mama Ci Err, nanti setelah sampai di Bandara Kota Awan Hitam hubungi adikku Lang Err yang berarti bibi mu." Ucap Nona Yang.
"Ya ma, kalau begitu aku pergi sekarang ma." Ucap Cie Err.
"Buru-buru amat Cie Err, sepertinya dia sangat menyukai Arung,"
"Cie Err belum mengetahui jika Arung sudah memiliki seorang pacar." Gumam Nona Yang.
"Mama tunggulah dengan tenang di sini, akan ku bawa Pemuda yang menodai mama bertanggung jawab kemari." Gumam Cie Err.
"Hiks...... hiks...... hiks...... " Tangis kecil Cie Err didalam hati, merasa iba dengan situasi percintaan mama nya.
__ADS_1
Cie Err pun lalu pergi ke bandara, hanya bermodalkan cincin ruang milik nya saja. Ternyata Nona Yang adalah Kakak Kandung Nyonya Lang, berarti Nona Yang merupakan bibi. Gisel.
Tribun dalam
Beberapa jam kemudian, Shilla dan Arung sudah berada di tribun dalam. Arung pun mengamati sekeliling berniat menemukan Gisel di antara peserta lainnya.
"Arung bagaimana rencana mu memenangkan pertandingan ini, sementara ranah kultivasi mu tidak stabil?" Tanya Shilla
"Tenang Shilla, aku sudah menonton semua pertandingan live streaming lawan ku sebelum nya,"
"Aku sudah mengetahui kelemahan dari Arata kay, dia lemah terhadap elemen angin dan senjata nya berada di ranah alam langit puncak." Jawab Arung.
Shilla pun membuka website jadwal pertandingan Arung melalui HP jadulnya, lalu menyadari lawan Arung selanjutnya bukanlah Arata Kay tetapi Arata Sky. Shilla pun hanya menggeleng-geleng kan kepalanya melihat kecerobohan calon suami nya kelak.
"Arung lawan mu bukanlah Arata Kay, tetapi Arata Sky." Ucap Shilla.
"Hah...................****** aku Shilla, aku salah mengamati lawan kali ini." Ucap Arung.
Shilla kemudian mengeluarkan sebotol air mineral di dalam cincin ruang miliknya.
"Minumlah dulu Arung," Ucap Shilla, sambil memberikan minuman mineral kepada Arung.
Arung pun meneguk habis air mineral pemberian Shilla tersebut, terlihat keringat mengucur di dahi Arung.
"Wah...............hilang dech uang taruhan ku ribuan koin emas jika kalah bertanding kali ini,"
"Kalau tau seperti ini, aku akan pertaruhkan semua uangku pada Dila Azura." Gumam Arung.
Kemudian Shilla pun mengelap keringat di dahi Arung, melihat kelakuan Shilla yang semakin lembut padanya benih-benih cinta pun mulai tumbuh di hati Arung kepada Shilla.
"Arung tenang, gunakan pusaka kuno milik keluarga kita ini." Ucap Shilla, sambil memperlihatkan sepasang sarung tangan berwarna merah kepada Arung.
"Sarung tangan ini dapat meningkatkan kekuatan serangan pemakai nya sebanyak 30 kali lipat, berarti walaupun ranah kultivasi mu rendah serangan mu setara dengan serangan kultivator di ranah alam lautan puncak." Ucap Shilla, sambil memakaikan sarung tangan merah tersebut ke tangan Arung.
"Hiks..... hiks..... hiks........ " Tangis hari Arung melihat sikap Shilla yang sangat pengertian.
"Shilla..... aku sangat ingin mencium mu saat ini." Gumam Arung.
Para peserta lain yang berada di tribun dalam pun menatap ke arah Arung dan Shilla, sementara itu mata Arung dan mata Shilla saling beradu pandang untuk beberapa saat. Tanpa sadar Shilla pun mengecup pipi Arung, lalu pipi nya Shilla langsung memerah.
"Wah............pasangan yang serasi, tampan dan juga cantik." Ucap para Peserta lainnya.
"Iya bahkan warna rambutnya sama, Sama-sama indah." Ucap para Peserta lainnya.
"Carilah kamar Nona Cantik.... " Ucap Peserta lainnya.
Setelah di cium oleh Shilla ranah kultivasi Arung kembali ke ranah alam lautan puncak untuk beberapa saat, lalu kembali lagi ke ranah alam kesatria puncak.
"Apa yang kulakukan, kenapa aku mencium nya,"
"Arghhhh............... malu nya, tapi kenapa perasaan ku menjadi lega ya." Gumam Shilla.
"Arung, aku pergi keluar sebentar ya,"
"Aku ingin membeli beberapa kaleng beer dan makanan lainnya," Ucap Shilla.
"Tunggu Shilla," Ucap Arung.
"Argghhh.................. apa dia mau menanyakan masalah ciuman di pipinya tadi,"
"Kya.............. malu nya." Gumam Shilla.
"Ini belanja lah sepuas mu Shilla, dan Terima kasih telah meminjamkan aku sarung tangan ini." Ucap Arung.
Lalu melemparkan dua buah kantong kecil yang berisi masing-masing 100 koin emas kepada Shilla.
"Ya ganbatte Arung, kalau kau menang aku akan memberikan mu hadiah malam ini." Ucap Shilla, sambil menangkap dua buah kantong tersebut.
"Arung sejak pergi ke kota sudah menjadi kaya raya,"
"Wah............200 koin emas," Gumam Shilla.
"Sebaiknya aku belanja bahan makanan yang enak-enak dengan uang pemberian calon suami ku ini,"
"Malam ini aku akan memasakkan masakan yang lezat buat calon suamiku." Gumam Shilla.
"Hi... Hi... Hi.... " Tawa kecil Shilla di dalam hati, lalu beranjak pergi ke pasar.
Arung pun duduk bersimpuh lalu bermeditasi di atas bangku beton di tribun dalam. Di dalam dantian nya, Arung mulai merasakan elemen api hitam, elemen api biasa, elemen air biasa, dan ada satu elemen lagi yang berwarna hijau.
"Elemen hijau ini elemen apa, sebaiknya aku kembali berkonsentrasi." Gumam Arung.
Ia pun mulai memfokuskan energi hijau tersebut ke telapak tangannya, sebuah dahan pun muncul dan ternyata itu adalah sebuah elemen tumbuhan biasa.
"Wah jakpot lagi, aku berhasil membangkitkan elemen tumbuhan biasa kali ini,"
"Ini bisa jadi kartu As ku memenangkan pertandingan ini, dengan serangan kejutan." Gumam Arung.
"Syukurlah uangku tidak jadi hilang kali ini,"
"Hadiah apa ya yang diberikan Shilla jika aku memenangkan pertandingan ini, mungkinkah ia akan memberikan dirinya kepadaku malam ini." Gumam Arung.
Arena
"Pertandingan selanjutnya antara Arungbijak Tiger VS Arata Sky" Ucap Wakil Komandan Luna, menggunakan Jurus Auman.
Arata sky pun melompat ke atas arena, begitu pula dengan Arung. Kedua peserta kemudian membungkuk dan saling memberi hormat, Arata lalu mengeluarkan senjata sucinya yaitu "Garpu Tala" yang merupakan sebuah senjata suci di ranah alam naga.
"Plok......... plok......... plok....... "
Plok......... plok......... plok....... " Suara tepuk tangan Penonton.
"Wah.........si rambut merah seperti nya terkena racun, ranah kultivasi nya menurun." Ucap salah satu penonton.
"Sepertinya keberuntungan nya akan habis malam ini." Ucap Penonton lainnya.
"Kasian dia padahal sudah sampai sejauh ini." Ucap Penonton lainnya.
"Dasar penonton sialan bukan nya memberikan ku semangat, malah membicarakan hal yang tidak-tidak." Gumam Arung.
Arung pun mulai memperhatikan ke arah Arata, wajah nya terasa amat familiar dan sangat mirip denga Bunga Sky.
"Dia pasti kembaran Bunga, ranah nya pun berada di alam lautan puncak"
"Arung keluarkan senjata mu, dan ayo kita mulai segera pertarungan ini." Ucap Arata, sambil memegang Garpu Tala.
"Kau kembaran nya bunga ya,? Tanya Arung.
Arata kemudian terdiam untuk beberapa saat.
"Tentu saja, dia salah satu teman satu tim ku saat ujian tahap pertama di Rawa Siluman Air, hanya saja ia di nyatakan telah tewas di rawa tersebut." Ucap Arung.
Arata pun tersenyum kecil lalu kemudian menerjang ke arah Arung, sambil mengayunkan garpu Tala nya.
"Apakah Gadis Kembar itu semuanya Psikopat, kenapa dia tersenyum kemudian menyerangku?" Gumam Arung.
Ia pun berhasil menghindari serangan yang pertama dari Arata.
"Ternyata kau tidak hanya tampan, tapi lincah juga." Gumam Arata, lalu menyerang kembali dengan Garpu Tala nya.
Arung pun melompat ke belakang, serangan Garpu Tala pun hanya mengenai lantai arena. Terkena serangan Garpu Tala lantai arena meleleh dalam sekejap, Arung pun mulai melesatkan serangan bola api biasa ke arah Arata.
"Wah mata Garpu itu pasti sangat panas, lantai arena saja meleleh karena nya."
"Jika terkena Garpu Tala tersebut, aku pasti akan segera cedera parah." Gumam Arung.
Arata pun menepis bola api berdiameter tiga meter itu dengan mudah menggunakan Garpu Tala tersebut.
"Walaupun ranah kultivasi Arung berada pada ranah alam kesatria puncak, namun serangan nya sama kuat nya dengan serangan seorang kultivator di ranah alam lautan puncak,"
"Sungguh aneh, apa yang bisa membuat serangannya meningkat sekuat itu." Gumam Wakil Komandan Luna.
Arata kembali menyerang, kali ini dengan melesat kan bola petir berdiameter tiga meter ke arah Arung.
"Di ranah ku saat ini aku hanya bisa berteleport sebanyak tiga kali." Gumam Arung.
"Blitzzz......................................... " Suara jurus teleportasi.
Arata pun menyadari bahwa Arung sudah berpindah dari lokasi nya saat ini, ia pun mulai menoleh kesana-kemari.
"Blitzzzzz........................ " Suara jurus teleportasi Arung.
Arung muncul tepat di belakang Arata, namun ia pun langsung menyadari nya. Arata langsung berputar 180 derajat lalu melesatkan seberkas cahaya panas berbentuk cakar ke arah Arung.
"Akh........................... panas sekali." Teriak Arung, saat terkena serangan Arata dan terluka parah.
Tak lama kemudian Arung pun mulai memuntahkan darah dari mulutnya, merasa sudah menang Arata pun berjalan dengan angkuh nya.
"Uhuk............ uhuk.......... uhuk......... " Suara batuk Arung.
Arena
Ternyata Arung memiliki sebuah siasat tersembunyi, lalu sedang menunggu sebuah celah yang akan membalikkan keadaan seketika.
"Berjalan lebih dekat lagi, Nona Arata," Gumam Arung.
Arata saat ini sudah berada sekitar 10 kaki lagi dari Arung.
"He... he... he... " Suara tawa kecil Arung.
"Kenapa pemuda ini malah ketawa, pasti ada suatu siasat yang jahat." Gumam Arata.
"Terima ini, Nona Arata" Teriak Arung.
Aura berwarna hijau berkumpul di sekitar tangan Arung, beberapa saat kemudian beberapa akar kayu yang besar melesat keluar dari tangannya lalu mengarah ke Arata.
"Elemen tumbuhan, bagaimana mungkin?" Gumam Arata.
Arata pun mulai melompat ke belakang tapi tidak keburu, Akar dari telapak tangan Arung sudah mengunci pergerakan Arata. Senjata sucinya pun terpental sejauh beberapa meter, Arung lalu mengeluarkan Pedang Taifun dari dalam cincin ruangnya.
"Akar-akar itu telah mengunci pergerakan mu Arata Sky, kau lengah dan mengira sudah menang,"
"Kau terlalu naif." Ucap Arung, lalu berjalan dengan santuy dan mengarahkan Pedang Taifun ke leher Arata.
"Ugh........ tubuhku.... akar-akar ini menggangguku,"
"Tidak ada salah nya kalah dengan Pemuda Tampan ini, kira-kira dia sudah punya pacar apa belum ya?" Gumam Arata.
Arata sepertinya sudah terbius dengan kemampuan Dragon Love milik Arung.
"Wah.................rambut merah ternyata seorang Sage, sungguh menakjubkan." Teriak salah satu Penonton.
"Kyaaa..................... Pemuda berambut merah itu sangat tampan" Teriak Penonton lainnya.
"Plok....... plok...... plok....... " Suara Tepuk tangan Penonton.
Wakil Komandan Luna pun mengumumkan pemenang pertandingan tersebut, lalu membantu Arata melepaskan akar-akar yang mengunci tubuh nya. Sementara itu setelah melambaikan tangan kepada para penonton, Arung pun kembali ke tribun dalam untuk menunggu Shilla kembali dari pasar.
Di tribun dalam
"Huft............................." Suara hembusan nafas panjang milik Arung.
"Untung saja Arata tadi lengah, jika tidak aku tidak yakin akan memenangkan pertandingan tersebut."
"Untung saja ada sarung tangan merah ini, wanginya pun sama seperti wangi tubuh Shilla." Gumam Arung.
"Goresan alam yang indah." Ucap Arung, lalu mengingat kejadian saat di dalam kamar bersama Shilla.
Beberapa menit kemudian, Wakil Komandan Luna pun menghampiri Arung dan duduk di sebelah nya, para peserta yang berada di tribun dalam pun mulai menatap ke arah Arung.
"Wah dasar play boy, kemarin tiga wanita cantik." Ucap salah satu Peserta wanita.
"Sekarang Wakil Komandan Luna pun di embat nya juga." Ucap salah satu Peserta lainnya.
"Dasar Pendekar **** Boy." Ucap beberapa Peserta lainnya.
Mendengar ocehan para peserta, Wakil Komandan Luna pun hanya tertawa kecil sambil menutup mulut dengan tangan nya.
"Hi..... Hi..... Hi..... " Tawa kecil Wakil Komandan Luna.
"Wah....... Arung tidak hanya tampan, tapi sekarang mendapatkan julukan baru yaitu Pendekar Fuckboy." Gumam Wakil Komandan Luna.
"Wakil Komandan Luna ngapain dia kemari, mungkinkah dia ingin menjadikan aku pacar nya seperti Nona Dark?" Gumam Arung.
"Hai............Arung, Terima kasih ya sudah menyelamatkan Dark saat di Gurun Api Es tersebut, lalu membawa nya kembali pulang dengan selamat ke kota Awan Hitam." Ucap Wakil Komandan Luna.
"Oh...... syukurlah ternyata dia hanya ingin berterima kasih, kukira dia akan mulai menggodaku sama seperti Nona Dark." Gumam Arung.
"Ia.....Wakil Komandan Luna, sudah kewajiban ku sebagai kultivator bayaran Tuan Muda Quill untuk menjaga Nona Dark." Ucap Arung.
"Sungguh Pemuda yang bertanggung jawab pada pekerjaan nya, aku sungguh penasaran dengan nya?" Gumam Wakil Komandan Luna.
"Kryukkk............ kryuk........... " Suara keroncongan perut Arung.
"Ugh...... sepertinya aku sangat lapar setelah pertandingan tadi, ini pasti efek kultivasi ganda sebelum nya." Gumam Arung.
"Selamat ya Arung, kau sudah menjadi Sage empat elemen di usia yang semuda ini,"
__ADS_1
"Sebagai hadiah karena telah menyelamatkan ku, ayo kita makan malam ke kantin."
"Aku traktir kali ini deh." Ucap Wakil Komandan Luna.
"Gak mungkin aku menolak ajakan dari atasan nih,"
"Bagaimana dengan Shilla,"
"Ya sudah lah, aku tinggalkan pesan saja disini buat Shilla,"
"Hadiah ku............" Gumam Arung.
"Ayo Arung." Ucap Wakil Komandan Luna.
"Sebentar Wakil Komandan, aku meninggalkan pesan buat temanku dulu." Ucap Arung, lalu menulis sebuah pesan di sepucuk kertas.
Ia pun meninggalkan sepucuk kertas tersebut di atas sebuah bangku beton di tribun dalam, lalu beranjak pergi ke kantin bersama Wakil Komandan Luna.
Kantin Stadium
"Byurrrr............................. " Suara hujan deras.
Sesampainya di kantin ternyata ada Gisel yang tengah mabuk lalu meneguk beer, Wakil Komandan Luna dan Arung pun duduk di kursi yang sama dengan Gisel. Ternyata Gisel sudah mabuk, karena terlalu banyak meminum beer.
"Gisel...... Gisel....... Gisel,"
"Ini pasti karena kesalahpahaman yang terjadi di dalam kamar." Gumam Arungm
"Mau apa kamu kemari playboy berambut merah."
"Dasar Pendekar Fuckboy kamu,"
"Sana pergi ke tempat istri muda mu yang sama-sama berambut merah, dasar playboy." Ucap Gisel
"Hiks........ hiks...... hiks..... "
"Hiks........ hiks...... hiks..... " Tangis kecil Gisel.
"Tenanglah Gisel kau sedang mabuk." Ucap Arung.
Tak lama berselang Gisel pun mulai tak sadarkan diri, selesai bertanding ternyata la tidak pulang malahan mabuk-mabukan di kantin sampai saat ini.
"Ha... ha.... ha...... " Tawa kecil Wakil Komandan Luna.
"Sepertinya kekasihmu mabuk Arung,"
"Oh ia............pesan lah makanan sepuas mu Arung." Ucap Wakil Komandan Luna.
"Gisel selalu begini Komandan, kalau sudah terlalu banyak minum beer dia pasti tak sadarkan diri lalu berbicara ngawur." Ucap Arung.
"Ugh........ Pendekar Fuckboy apanya Gisel?" Gumam Arung.
Wakil Komandan Luna dan Arung pun memesan makanan. ia pun bingung kenapa Arung memesan makanan vegetarian dan tidak memesan daging.
"Lho..... kenapa Arung tidak makan daging, mungkinkah masakan disini tidak cocok dengan lidahnya?" Gumam Wakil Komandan Luna.
"Arung kenapa kau hanya memesan makanan vegetarian?" Tanya Wakil Komandan Luna.
"Begini ceritanya............. " Ucap Arung.
Ia pun mulai menceritakan perihal essensi tumbuhan yang di peroleh nya secara tidak di sengaja di dalam Goa Giok Hijau. Setelah melakukan metode kultivasi ganda dengan Shilla, essensi tumbuhan tersebut mulai menyatu dengannya. Setelah itu Arung pun dapat membangkitkan elemen tumbuhan biasa, namun ranah nya tidak stabil selama satu bulan ini lalu harus mengkonsumsi makanan vegetarian.
"Oh begitu ya ceritanya, ternyata Bola Energi Berwarna itu memiliki khasiat membangkitkan sebuah elemen."
"Aku sudah berdinas selama dua puluh tahun dan baru mengetahui nya sekarang,"
"Wah... wah.......wah, kau memang penuh dengan kejutan Prajurit Muda Tampan." Ucap Wakil Komandan Luna.
Saat ini Wakil Komandan Luna sudah mulai terbius dengan kemampuan Dragon Love milik Arung.
Sambil menyantap makan malam, Arung pun menjelaskan mengenai metode kultivasi ganda tersebut kepada Wakil Komandan Luna lalu efek samping nya selama sebulan.
"Metode nya mesum banget,"
"Kya...................... jika aku melakukan dengannya, tubuhku yang polos ini akan keliatan semuanya,"
"Bahkan Quill pun belum melihat nya." Gumam Wakil Komandan Luna.
"Kenapa dia termenung?" Gumam Arung.
Wakil Komandan Luna pun mulai menyimak dengan seksama penjelasan Arung.
"Teknik yang sungguh mesum, itu bukan akal-akallan mu kan Prajurit Tampan?" Tanya Wakil Komandan Luna.
"Tentu saja tidak Wakil Komandan Luna." Ucap Arung sambil mengelap sisa-sisa makanan di mulut nya.
"Bisa melihat goresan alam wanita lainnya, aku benar-benar beruntung,"
"Ugh.......... tapi saat ini aku tengah ujian, sebaiknya jika Wakil Komandan Luna meminta tolong,"
"Aku harus mencari waktu yang tepat." Gumam Arung.
"Arung bolehkah aku melihat sarung tangan merah mu, aku penasaran sejak tadi?" Tanya Wakil Komandan Luna.
"Tentu saja Wakil Komandan Luna." Ucap Arung, lalu melepas salah satu sarung tangan merah milik Shilla dan memberikannya kepada Wakil Komandan Luna.
Di samping Arung, Gisel terlihat sudah tertidur pulas sampai-sampai air liur nya pun membasahi meja.
"Groagh...... groagh...... groghhhh...... " Suara kecil mendengkur Gisel.
"Ini adalah senjata ranah alam dewa kuno puncak, Sarung Tangan Rubah Merah."
"Wajar saja kekuatan serangan nya meningkat drastis, dasar pemuda yang misterius." Gumam Wakil Komandan Luna, sambil mengembalikan sarung tangan tersebut kepada Arung.
"Arung dulu ketika aku baru pertama kali masuk dinas menjadi prajurit, aku bersama Komandan ku yang dulu membunuh seekor beast Kura-Kura Raksasa bercangkang Emas di Gurun Api Es,"
"Kami berhasil mengalahkannya di benteng kota Awan Hitam, tapi kami harus membayar mahal," Ucap Wakil Komandan Luna
"Dari seratus orang prajurit muda yang dikirim ke sana semuanya tewas termasuk Komandan dan Wakil Komandan di divisi pertahanan saat itu." Ucap Wakil Komandan Luna, dengan raut wajah yang sedih.
Sementara itu di bangku lainnya sesosok kultivator cantik tengah menguping pembicaraan mereka, sepertinya dia memiliki maksud yang tidak baik. Sesosok wanita cantik itu ternyata adalah Dila Azura, ia memiliki rambut berwarna hitam pekat dan bola mata berwarna kecoklat-coklatan.
"Kemudian dari tubuh beast yang tewas itu aku menemukan sebuah Bola Berenergi Berwarna Biru, lalu aku menyimpannya di dalam lemari pembeku milik ku." Ucap Wakil Komandan Luna.
"Itu essensi air sepertinya, beruntung sekali Wakil Komandan Luna." Gumam Arung.
"Sepertinya itu sebuah essensi Wakil Komandan Luna, wah jakpot tuch kalau Wakil Komandan Luna melakukan kultivasi ganda, Wakil Komandan Luna pasti bisa membangkitkan sebuah elemen baru." Ucap Arung.
"Oh.........jadi seperti itu kultivasi ganda ya, aku harus mencari tahu masalah kultivasi ganda tersebut." Gumam Dila dalam hati.
"Ya Arung, Bola energi berwarna biru itu memang sebuah essensi air, hanya saja aku tidak mengetahui cara meng kultivasi kan nya."
"Yang kutahu jika essensi tersebut direbus bersama gingseng 1000 tahun dapat membuat seorang lelaki menjadi perkasa di ranjang." Ucap Wakil Komandan Luna.
"Jadi aku berencana memberikannya kepada Quill saat kami menikah nanti," Ucap Wakil Komandan Luna, pipinya pun memerah.
"Kukuruyuk.................... "'Kokokan Ayam Jago, di benak Wakil Komandan Luna.
"Ternyata Wakil Komandan Luna pacarnya Tuan Muda Quill, patut malam itu dia ikut bersama kami menjelajahi Gurun Api Es." Gumam Arung.
"Pelayan bawakan kami satu kendi arak terbaik." Ucap Wakil Komandan Luna.
Pelayan tesebut pun beranjak ke dapur berniat mengambil satu kendi arak dan dua cawan arak.
"Ini adalah kesempatan ku, melenyapkan kultivasi Wakil Komandan Luna untuk selamanya,"
"Ha..... ha...... ha...... " Tawa kecil Dilla di dalam hati.
Dila Azura pun mulai bangun lalu beranjak ke dapur, ia pun mengeluarkan Topeng Siluman dari cincin ruang miliknya lalu memakainya. Seketika wajah dan tubuhnya serta pakaiannya berubah dan mirip dengan pelayan tersebut. Dila kemudian membunuh pelayan tersebut dengan cara menusuknya menggunakan Sangkur Kelabang Beracun lalu menyimpan tubuhnya ke dalam cincin ruang milik nya.
"Baiklah bersiap lah Wakil Komandan Luna, minumlah arak beracun ini." Gumam Dilla.
Dila yang sudah menyamar menjadi pelayan, mulai membubuhkan Racun Kelabang Surgawi setingkat alam bumi ke dalam arak di kendi tersebut. Kemudian dengan tenang Dila pun mulai menghidangkan Arak tersebut ke atas meja Arung dan Wakil Komandan Luna.
"Ini Arak Nya, Tuan muda, Nona." Ucap Dila, sambil menuangkan arak dari kendi ke kedua cawan mereka berdua di atas meja.
"Terima kasih Nona Cantk." Ucap Arung, lalu pelayan tersebut atau Dila tersenyum dan beranjak meninggalkan meja.
"****** kalian, sebaiknya aku segera keluar dari kantin ini." Gumam Dila, lalu beranjak pergi.
"Kemudian lima tahun yang lalu saat terjadi penyerangan oleh beast dari Gurun Api Es ke perbatasan Kota Awan Hitam yang di pimpin oleh beast Naga Magnet Surgawi,"
"Setelah berperang melawan para beast itu selama sebulan penuh, akhirnya kami berhasil menang dan membunuh Naga tersebut," Ucap Wakil Komandan Luna.
"Namun dari 5000 prajurit yang dikirim untuk menumpas para beast itu, hanya 1000 prajurit yang selamat,"
"Bahkan Jenderal Es pun telah menghilang sampai dengan saat ini, saat itu seluruh perwira tewas dan hanya aku perwira yang selamat sehingga aku mendapatkan essensi magnet," Ucap Wakil Komandan Luna.
"Jendral Es, dia pasti seorang laki-laki yang gagah," Gumam Arung.
Arung tidak menyadari kalau Jendral Es adalah wanita tercantik di Kekaisaran ini.
"Wow.............menakjubkan Wakil Komandan Luna, anda sudah memiliki essensi yang langka elemen magnet dari Naga pula." Ucap Arung.
"Itu lah setelah mendengar metode kultivasi ganda mu aku berencana membangkitkan kedua elemen tersebut, dan meminta tolong kepadamu Arung." Ucap Wakil Komandan Luna.
Arung pun membayangkan Wakil Komandan Luna yang tak berbusana.
"Pasti tubuhnya sangat seperti biola kulitnya saja putih lali bola matanya yang biru jernih itu sungguh memancarkan keindahan alam di Kota Awan Hitam ini." Gumam Arung.
"Siap Wakil Komandan Luna, prajurit ini pasti akan membantumu hanya saja dalam satu bulan ini aku tidak bisa membantu mu,"
"Saat ini aku sedang menstabilkan essensi tumbuhan di dalam tubuhku." Ucap Arung, lalu pipinya memerah.
"Kau pasti berpikir aku yang tidak mengenakan sehelai pakaian pun, terlihat jelas dari pipi mu yang memerah,"
"Mungkin juga ada sesuatu yang mengeras." Gumam Wakil Komandan Luna.
"Baiklah kalau begitu aku akan berdiskusi dengan Quill terlebih dahulu, lalu meminta izin darinya." Ucap Wakil Komandan Luna.
"Tentu saja Wakil Komandan Luna aku siap, nanti hubungi saja aku." Ucap Arung.
"Ayo kita habiskan arak ini lalu kembali pulang." Ucap Wakil Komandan Luna, sambil meneguk arak dari dalam cawan begitu pula dengan Arung.
beberapa menit kemudian,
"Arak ini sungguh nikmat," Gumam Arung.
"Akhhh..... ............... " Suara rintihan kesakitan dari Wakil Komandan Luna.
Selang beberapa detik Wakil Komandan Luna pun memuntahkan darah dari mulutnya dan jatuh tak sadarkan diri.
"Sepertinya ada yang meracuni nya, untung saja ranah racun nya di bawah alam bumi,"
"Jika tidak aku bisa bernasib sama dengan Wakil Komandan Luna." Gumam Arung.
Para prajurit diluar pun mulai bergegas masuk dan membawa Wakil Komandan Luna ke Rumah Sakit Awan Hitam, yang bersebelahan dengan stadium. Para prajurit kemudian menyegel kantin tersebut lalu berjaga disekitarnya, melihat Wakil Komandan Luna yang sudah dibawa ke rumah sakit terdekat perasaan Arung pun menjadi tenang.
"Untung banyak Prajurit yang berjaga di sekitar sini, jadi Wakil Komandan Luna bisa segera di larikan ke Rumah Sakit,"
"Gisel masih tidur seperti tidak terjadi apa-apa, sepertinya ia minum banyak sekali beer malam ini." Gumam Arung, lalu menoleh ke arah Gisel.
Tak lama kemudian Komandan Anya datang lalu menginvestigasi Arung, Arung pun mulai menceritakan kejadian nya.Komandan Anya pun membawa kendi yang berisi arak beracun tersebut ke markas untuk di jadikan barang bukti.
"Nasib baik kamu memiliki tubuh pil dewa obat, Prajurit Tampan,"
"Sudah malam kembalilah besok kamu masih harus mengikuti ujian kompetisi lagi."
"Dan bawa juga gadis pemabuk di samping mu itu bersamamu, serahkan masalah yang ada disini kepadaku." Ucap Komandan Anya.
"Siap Komandan." Ucap Arung, sambil membungkuk dan menghormati Komandan Anya, lalu mulai menggendong Gisel di punggung nya berniat kembali ke Penginapan Stadium.
Kembali ke kamar Nona Mitha
Sore itu Nona Mitha sedang menonton live streaming pertandingan antar Gisel Alba VS Rara Phoenix. Saat itu Nona Mitha tengah merajut sapu tangan emas dengan anggunnya, ketika Gisel mengeluarkan jurus Tapak Halilintar Ungu tangan Nona Mitha pun tertusuk jarum.
"Aww................. " Ucap nya.
"Sungguh senjata suci yang menakutkan, telapak tangan yang turun dari langit." Ucap Nona Mitha.
Jam di dalam kamar Nona Mitha sudah menunjukkan pukul sembilan malam di dunia kultivasi ini, Nona Mitha akhirnya telah selesai menjahit sapu tangan emas bermotif mawar merah di tengah nya. Ia pun mulai melanjutkan menonton live streaming pertandingan di stadium. Kali ini adalah pertandingan antara Arung VS Arata, Nona Mitha saat ini tengah mengenakan sebuah piyama tidur yang super minim berenda sambil meminum segelas susu Phoenix.
"Lho ranah adik tampan itu kok menurun drastis ya." Gumam Nona Mitha, sambil melihat ke arah sarung tangan yang di kenakan oleh Arung.
"Itu adalah sebuah senjata ranah alam dewa kuno puncak, Sarung Tangan Rubah Merah." Ucap Nona Mitha, sambil meneguk susu Phoenix.
Nona Mitha pun menyaksikan dengan serius pertandingan adik tampan nya tersebut. Tak lama berselang ia pun sangat terkejut, sampai-sampai menumpahkan Susu Phoenix nya ke atas celana shot transparan milik nya.
"Itu kan elemen tumbuhan, ternyata dia tidak hanya tampan dia juga seorang sage yang sama seperti ku."
"Ternyata pemuda yang berbagi essensi jiwa kultivator dengan ku seorang pemuda yang menakjubkan."
"Mungkin hanya ada 1000 orang sage laki-laki di benua Es Api ini, ya sudah susu pun kembali tumpah malam ini tetapi tidak masalah,"
"Aku merasa senang malam ini." Gumam Nona Mitha.
Nona Mitha kembali berganti piyama tidur nya lalu melanjutkan menonton pertandingan live streaming tersebut.
__ADS_1