Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
Bola Penjara Pohon Dewa Air


__ADS_3

Di Balik Awan Hitam


Jam 01.00 malam


Saat ini Arung masih terjebak di dalam penggalan-penggalan ingatan nya. Sementara itu Kedua Naga tersebut sedang melesat ke atas langit seperti sedang mencium bau makanan yang lezat.


"Aurghhhh....... Aurghhhh........ " Raungan kedua Naga tersebut, sambil melesat terbang ke angkasa


"Whussss............ " Suara hempasan angin saat kedua Naga tersebut melesat terbang.


Satu jam kemudian makhluk-makhluk buas itu pun telah tiba di tempat asal bau tersebut.


"Aurghhhh....... Aurghhhh........ " Raungan kedua Naga tersebut, sesaat setelah sampai di tempat asal bau tersebut.


Ternyata di balik awan hitam itu terdapat sebuah Pulau yang Melayang yang di kelilingi oleh danau yang air nya jatuh terus-menerus ke bawah yang menyebabkan iklim hujan sepanjang tahun di Kota Awan Hitam.


"Duargh.... Duargh...... Duargh...... " Suara ledakan terdengar dari dalam Pulau Melayang tersebut.


Pulau Terlarang Awan Hitam.


Pulau Melayang ini adalah sebuah pulau yang terletak di atas Gurun Api Es dan Kota Awan Hitam. Pulau ini melayang serta dikelilingi oleh danau yang di huni oleh Ikan-Ikan Koi Langit Surgawi, di tengah-tengah danau terdapat sebuah kota yang di huni oleh Ras Beast Phoenix Surgawi Api dan Phoenix Surgawi Air. Kota di sini tampak seperti kota-kota kuno jika di dunia asal Arung, lalu di pusat kota berdiri sebuah istana megah milik Raja Phoenix Air.


"Aurghhhhh.................. " Suara raungan Black Hole Dragon, lalu melesatkan sebuah bola berelemen Black Hole ke arah perisai tersebut.


Pulau ini di tutupi oleh sebuah Segel Perisai Kultivasi Phoenix Air tingkat alam dewa yang membuat Pulau melayang ini tidak di ketahui oleh siapa pun di Kekaisaran Dewi Es tersebut.


"Duarghhh..................... " Suara ledakan akibat serangan Black Hole Dragon tersebut.


Perisai tersebut kembali berlubang untuk yang kedua kali nya, kedua Naga pun segera melesat masuk ke dalam nya saat ini.


"Whussss............ " Suara hempasan angin saat kedua Naga mulai melesat terbang ke dalam Pulau Terlarang Kota Awan Hitam tersebut.


Kota Phoenix Awan Hitam, sesaat sebelum kedua Naga tiba di dekat Perisai.


Kota ini merupakan sebuah kota yang berada di tengah-tengah Pulau Terlarang Awan Hitam, bangunan-bangunan di dalam kota ini masih Kuno dan di penuhi oleh manusia beast Phoenix dan manusia beast dari jenis lain nya. Saat ini kota sedang porak-poranda akibat serangan Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa Betina yang lagi mengamuk bersama kawanan nya yang berjumlah ribuan.


"Duarghhh.......... Duargh...... Duargh...... " Suara ledakan terdengar di mana-mana di seluruh penjuru kota.


Tampak seekor Burung Phoenix Raksasa berbulu biru sedang mengepak-ngepakkan sayap nya dan terlihat kelelahan, ternyata Beast tersebut adalah Raja di kota ini.


"Hah..... Hah...... Hah... " Suara nafas terengah-engah Raja Phoenix Air, yang telah bertarung sejak tadi.


Saat ini Raja Phoenix Air sedang berhadapan dengan Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa Betina tersebut untuk melindungi kota nya.


"Sial.... Walaupum ranah kami saat ini seimbang tapi kekuatan nya jauh lebih kuat dari pada ku, aku tidak yakin dapat mengalah kan nya." Gumam Raja Phoenix Air, sambil mengepak-ngepak kan sayap nya.


Raja Phoenix Air pun mulai mengepakkan sayap nya lalu mulai menyalurkan tenaga dalam nya, sebuah semburan air berpetir pun mulai melesat ke arah Beast Raksasa tersebut.


"Whusss................... " Suara semburan air berpetir dari kepakkan sayap Beast tersebut.


Raja Phoenix Air merupakan Seekor Beast Phoenix dengan tinggi sekitar 100 meter dengan bulu berwarna biru, sedangkan Ikan Koi Langit Surgawi Betina Raksasa tersebut berukuran sama persis dengan Ikan Koi Raksasa yang menyerang Kota Awan Hitam. Makhluk-makhluk tersebut merupakan sepasang Beast suami istri yang menguasai Danau Langit di Pulau Terlarang Awan Hitam ini.


"Aurghhhh hhh......... " Raungan Ikan Koi Raksasa Betina tersebut, sambil melesatkan bola petir raksasa ke arah serangan Raja Phoenix Air tersebut.


"Duarghhh................ " Suara ledakan akibat kedua serangan yang saling beradu.


Tampak di atas langit 3000 ekor Beast Phoenix Surgawi dengan berbagai ukuran tengah menghadapi serangan 10.000 Ikan Koi Langit Surgawi dengan berbagai ukuran pula.


"Duarghhhh............ Duarghhh....... Duarghhh........ " Suara ledakan di beberapa tempat di langit.


Di jalanan dan di atap-atap rumah tampak mayat-mayat dari Ikan-Ikan dan Burung-Burung Phoenix yang berserakan, ternyata saat bayangan hitam bertanduk tersebut meraung tidak hanya Kota Awan Hitam yang mengalami kekacauan tapi di kota ini juga sama.


"Prajurit segera ambil Bola Penjara Pohon Dewa Air dari ruang pusaka kerajaan dan bawa kemari, aku tidak yakin sanggup menahan ikan buas ini lebih lama lagi." Perintah Raja Phoenix Air.


"Baik yang mulia." Jawab Prajurit tersebut lalu melesat ke arah Istana berniat mengambil bola tersebut.


Beberapa saat kemudian terdengar raungan dua ekor Naga dari balik Perisai Kultivasi Phoenix Air.


"Aurghhhh.......... Aurghhhh.......... " Raungan dari balik perisai tersebut.


Beberapa saat kemudian.


"Duarghhh............. " Suara ledakan pada saat perisai kembali berlubang untuk yang kedua kali nya.


"Bencana apa lagi yang akan datang ke kota ku malam ini." Gumam Raja Phoenix Air.


Mendengar Raungan kedua Naga tersebut, Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa Betina itu pun merasa tertekan lalu berbalik arah dan berniat kembali ke dalam Danau Langit untuk bersembunyi.


"Aurghhhh hhh............ " Auman Ikan Koi Langit Surgawi Raksasa Betina tersebut, memberikan sebuah isyarat kepada semua Ikan-Ikan Koi untuk kembali ke dalam Danau.


Para Ikan Koi lain nya pun mulai berbalik arah lalu meninggalkan Kota Phoenix Air dan berniat kembali ke dalam Danau Langit sesuai perintah ratu nya.


"Yang mulia apa kita akan mengejar Ikan-Ikan tersebut." Ucap Salah Seorang Prajurit.


"Jangan persiapkan saja diri kalian, aku mencium bau dua ekor Naga yang sangat buas berniat menyerang kemari." Ucap Raja Phoenix Air tersebut.


"Ugh.... Ini semua akibat malam Dragon Moon, tapi tidak kusangka ada dua ekor Naga yang berani berburu kemari." Gumam Raja Phoenix Air.


Beberapa saat kemudian ke dua Naga pun tiba di atas langit Kota Phoenix Awan Hitam, kedua Beast Buas tersebut pun mulai menyerang.


"Aurghhhh......... Aurghhhh.......... " Raungan kedua Beast Naga tersebut, lalu melesatkan serangan bongkahan es raksasa dan bola berelemen black hole ke arah kawanan Phoenix tersebut.


"Prajurit serang." Teriak Raja Phoenix Air.


Para Burung Phoenix Surgawi pun mulai melesatkan serangan bola api dan semburan air berpetir dengan beragam ukuran ke arah serangan milik para Naga tersebut.


"Duarghhh........... Duarghhh......... Duarghhh........ " Suara ledakan akibat beberapa elemen yang saling beradu.


Asap pun mulai mengepul dari tempat serangan para Beast saling beradu tersebut, perlahan asap pun mulai menghilang dan tampak di tempat tersebut telah kosong.


"Kemana ke dua Naga tersebut pergi, bagaimana mungkin dengan tubuh sebesar itu mereka dapat bergerak dengan sangat cepat?" Ucap Raja Phoenix Air.


"Aurghhhhh..................... " Raungan kesakitan beratus-ratus Burung Phoenix Surgawi yang tengah di kunyah hidup-hidup oleh ke dua Naga Raksasa tersebut bersamaan.


Ternyata saat terjadi ledakan, kedua Naga Raksasa tersebut melesat dengan sangat cepat ke barisan paling belakang Prajurit Burung Phoenix Surgawi tersebut melalui sebuah Black Hole.


"Kretekkk kk..... Krakkk..... Krakkk...... " Suara tulang belulang Burung-Burung Phoenix Surgawi yang tengah di kunyah hidup-hidup.


Melihat 500 pasukan nya di mangsa hidup-hidup dalam sekejap oleh kedua Naga tersebut, Raja Phoenix Air pun mulai meneteskan air mata.


"Aurghhhhh.................. " Raungan ke dua Naga tersebut, lalu kembali melesatkan serangan nya.


"Dasar Naga Bar-Bar." Teriak Raja Phoenix Air, lalu mulai mengepakkan sayap nya.


Serangan semburan air berpetir yang dahsyat pun kembali melesat di iringi dengan serangan lain nya oleh para Prajurit-Prajurit nya. Kedua serangan andalan dari kedua Naga tersebut pun ikut melesat berniat mengadu kekuatan.


"Whusss............. " Suara hempasan angin akibat kedua serangan Naga yang tengah melesat.


Ledakan besar kembali terjadi di atas langit tersebut, sehingga menggetarkan seisi Kota Phoenix Awan Hitam.


"Duarghhh........................ " Suara ledakan yang dahsyat.


"Groaghhhhh.................... " Suara getaran bangunan-bangunan yang di akibatkan oleh ledakan tersebut.


Asap pun kembali mengepul di sekitar lokasi ledakan, perlahan asap pun mulai menghilang tampak kedua Naga kembali menghilang.


Beberapa saat kemudian.


"Aurghhhh hhh hhh............ " Raungan kesakitan Burung-Burung Phoenix Surgawi yang kembali di kunyah hidup-hidup oleh ke dua Naga tersebut.


Kedua Naga kembali berada di barisan belakang para Prajurit dan mulai memangsa Burung-burung tersebut hidup-hidup. Ternyata Black Hole Dragon memiliki kemampuan khusus menciptakan sebuah lubang hitam yang dapat di masuki nya dan Naga Es Kuno lalu keluar di belakang barisan Prajurit Burung Phoenix Surgawi tersebut.


"Kretekkk kk..... Krakkk..... Krakkk...... "


"Kretekkk kk..... Krakkk..... Krakkk...... " Suara tulang belulang Burung-Burung Phoenix Surgawi yang tengah di kunyah hidup-hidup.


Beberapa saat kemudian salah satu Prajurit pun menghampiri yang mulia Raja Phoenix Air, sambil mencengkram sebuah bola biru berdiameter 2 meter di kaki nya.


"Yang Mulia aku sudah membawa kan Bola Penjara Pohon Dewa Air ini." Ucap Prajurit tersebut.


"Untunglah bola ini sudah tiba, sebaiknya aku menjelma ke bentuk manusia beast ku terlebih dahulu,"


"Lalu segera menyegel ke dua Naga Psikopat tersebut ke dalam nya." Gumam Raja Phoenix Air, berniat menjelma ke bentuk manusia beast nya.


Aura air pun kembali berkumpul di sekujur tubuh nya, perlahan Raja Phoenix Air menjelma menjadi sesosok manusia beast bersayap biru.


"Tetaplah mencengkram bola tersebut, aku akan segera mengumpulkan seluruh tenaga dalam ku untuk menyegel kedua Naga Psikopat tersebut,"


"Prajurit lain nya serang kedua Naga tersebut, ulur lah waktu sebanyak mungkin untuk ku." Perintah Raja Phoenix Air.


"Siap yang mulia." Teriak kompak Burung-Burung Phoenix Surgawi lain nya.


Aura biru kembali berkumpul di sekujur tubuh nya, tampak Raja Phoenix Air sedang berkonsentrasi penuh lalu sebuah essensi biru pun mulai muncul di atas kepala nya.


"Aurghhhh................. " Raungan kesedihan para Prajurit yang menyaksikan essensi biru tersebut keluar.


Para Burung Phoenix Surgawi saat ini telah menyadari nya, bahwa sang raja akan segera mengorbankan dirinya untuk menyegel ke dua Naga tersebut dengan essensi nya.


"Whussss............... " Suara hempasan angin, akibat kedua Naga terus sedang melesat.


Sementara itu kedua Naga kembali berburu Burung-burung Phoenix Surgawi lain nya lalu mulai mengunyah mereka.


"Kretekkk kk..... Krakkk..... Krakkk...... "


"Kretekkk kk..... Krakkk..... Krakkk...... " Suara tulang belulang Burung-Burung Phoenix Surgawi yang tengah di kunyah hidup-hidup.


Saat ini jumlah Prajurit Burung-burung Phoenix Surgawi tersebut yang tinggal hanya setengah nya saja.


"Serang..... " Teriak salah satu komandan Burung Phoenix Surgawi tersebut.


Ribuan serangan dengan berbagai ukuran kembali melesat ke arah ke dua Naga yang sedang mengunyah teman-teman mereka tersebut.


"Aurghhhh.............. " Raungan Naga Es Kuno, lalu melesatkan sebuah bola berelemen es raksasa ke arah serangan-serangan tersebut.


"Duarghhh......... Duarghhh hh......... Duarghhh......." Suara ledakan yang dahsyat kembali terjadi.


"Groaghhhhh........... " Suara getaran bangunan-bangunan yang di akibatkan ledakan dahsyat tersebut.


Asap pun kembali mengepul untuk yang ketiga kalinya, dan perlahan menghilang. Tampak kedua Naga sudah tidak berada di lokasi tersebut, lalu kembali terdengar suara raungan kesakitan dari barisan belakang.


"Aurghhhh hhh hhh............ " Raungan kesakitan Burung-Burung Phoenix Surgawi yang kembali di kunyah hidup-hidup oleh ke dua Naga tersebut.


"Kretekkk kk..... Krakkk..... Krakkk...... "


"Kretekkk kk..... Krakkk..... Krakkk...... " Suara tulang belulang Burung-Burung Phoenix Surgawi yang tengah di kunyah hidup-hidup.


"Bagaimana bisa makhluk sebesar itu bergerak dengan sangat cepat." Gumam salah satu Burung Phoenix Surgawi tersebut.


Penggalan Ingatan Arung.


Di Tepian Danau Mematikan.


"Hah....... " Suara nafas panjang Arung.


"Sungguh aneh melihat diri ku sendiri bersemedi di Tepian Danau ini." Ucap Arung, lalu mengamati diri nya sendiri dari berbagai sisi.


"Ternyata diriku memang benar-benar tampan, patut saja Xiao Mei Mei tergila-gila kepada ku,"


"Ini semua berkat Essensi Putri Naga Kecil, kenapa aku bisa merindukan nya ya." Ucap Arung.


Lalu beberapa saat kemudian ia kembali terhisap ke penggalan ingatan lain nya.


"Akh............. " Teriak Arung saat dirinya kembali terhisap ke penggalan ingatan lain nya.


Saat ini Arung kembali ke ingatan nya saat bersama dengan Putri Naga Kecil di dalam kamar tamu di Istana Naga Benua Naga Barat.


Tampak Putri Naga Kecil dan Arung sedang duduk dan meminum segelas arak lalu menyantap masakan lezat buatan nya.


"Ugh..... Putri Naga Kecil ku, sudah lama sekali aku tidak melihat mu,"


"Walau pun ini hanya sepenggal ingatan ku, tapi hati dan rinduku kepada mu bisa terobati untuk saat ini." Ucap Arung, lalu mulai meneteskan air mata.


Arung pun mulai mengamati diri nya dan Putri Naga Kecil yang sedang membicarakan mengebai pernikahan nya nanti yang akan di selenggarakan di Istana Naga Benua Naga Selatan.


"Arung ada yang ingin ku beritahukan kepada mu saat ini." Ucap Clara.


"Ugh...... Apa dia ingin memangsa ku lagi malam ini, terakhir kali dia memangsa ku dengan sangat buas nya adalah dua minggu yang lalu,"


"Sebaik nya aku segera menelan beberapa Pil Naga setelah selesai menyantap masakan ini buat persiapan, jika tidak aku bisa kembali terluka parah." Gumam Arung.

__ADS_1


"Huft............... " Suara nafas panjang Arung.


"Bicarakan saja Putri Naga Kecil, tidak perlu sungkan-sungkan bicara dengan calon suami mu sendiri." Ucap Arung, sambil menyantap nasi dengan rendang Phoenix.


"Begini Pangeran Naga, mengenai pernikahan kita sebaik nya di langsungkan di Benua Naga atau di Benua Manusia saja,"


"Sepertinya pemberontakan Perdana Menteri Naga sebentar lagi akan berakhir." Ucap Putri Naga Kecil.


Mendengar perkataan dari Putri Naga Kecil sontak saja Arung menjadi tersedak dan batuk-batuk.


"Uhuk...... Uhuk. .... Uhuk.... " Suara Batuk Arung.


Melihat Tunangan nya tersedak Putri Naga Kecil pun mulai beranjak menghampiri nya lalu duduk di sebelah nya.


"Arung kau tidak apa-apa, apa masakan ku kepedasa?" Tanya Putri Naga Kecil, sambil mengelus-elus punggung Arung.


"Uhuk...... Uhuk. .... Uhuk.... " Suara Batuk Arung.


"Ini semua karena kamu Putri Naga Kecil, kenapa pertanyaan penting seperti itu kau tanyakan di saat-saat seperti ini." Gumam Arung, lalu meminum segelas air putih.


"Tidak ada yang salah dengan masakan mu Putri Naga Kecil, ini semua karena aku makan nya yang terlalu ter buru-buru." Ucap Arung.


"Oh..... Syukurlah Pangeran Naga." Ucap Putri Naga Kecil.


"Ugh...... Gara-gara pertanyaan pernikahan tersebut, kepala ku menjadi sakit,"


"Sebaik nya aku meminum Pil Pereda Sakit Kepala terlebih dahulu." Gumam Arung, lalu merogoh-rogoh saku celana nya.


Putri Naga Kecil pun hanya mengamati tindakan Arung saja tanpa berkomentar apa pun.


"Sepertinya dia ingin meminum Pil, tapi Pil apa ya?"


"Mungkinkah Pi Naga, apakah dia berniat melakukan nya malam ini,,


"Kya....... Dasar Pangeran Naga Nakal, padahal baru dua minggu yang lalu aku memberikan jatah untuk nya." Gumam Putri Naga Kecil, pipinya pun mulai memerah.


Arung pun salah mengambil Pil di dalam saku celana nya, ia malahan mengambil tiga butir Pil Naga lalu langsung menelan nya.


"Kya....... Pil Naga, aku harus siap-siap." Gumam Putri Naga Kecil.


"Lho..... Kenapa Putri Naga Kecil meninggalkan ku?" Gumam Arung.


Saat ini Putri Naga Kecil berniat mandi lalu kemudian memberikan pelayanan kepada Calon Suami nya. Ia pun menghentikan langkah nya saat menuju pintu keluar kamar nya.


"Arung kau harus memberikan jawaban nya setelah aku kembali, dimana kita akan melangsungkan pesta pernikahan nanti nya." Ucap Putri Naga Kecil.


"Iya... Tunangan ku." Ucap Arung.


"Oh..........ternyata Putri Naga Kecil meninggalkan ku untuk membiarkan ku berpikir dengan tenang, dimana aku akan melangsungkan pernikahan dengan nya nanti nya." Gumam Arung, lalu berganti dengan pakaian tidur nya.


Sementara itu Arung yang satu nya lagi, yang saat ini sedang terjebak di dalam penggalan ingatan tersebut sedang bersedih mengingat kejadian saat itu.


"Ugh...... Putri Naga Kecil, jika saja aku tahu bakal mati terkena racun peledak ini,"


"Aku pasti akan menikahi mu saat itu di Istana Naga Benua Barat, jika aku masih hidup dan selesai melaksanakan Ujian ini aku akan kembali ke Benua Naga untuk melangsungkan pernikahan dengan mu." Ucap Arung.


Beberapa menit kemudian.


Arung saat ini tengah tiduran di atas ranjang untuk menunggu Tunangan nya kembali.


"Mana dia kok belum kembali juga padahal aku sudah sangat merindukan nya, padahal baru beberapa menit saja dia pergi tapi aku sudah sangat rindu." Gumam Arung.


"Krakkkk................ " Suara pintu kamar terbuka.


Tampak seorang gadis cantik bertanduk mengenakan pakaian yang super minim dan transparan berwarna pink memasuki kamar tersebut.


"Bagaimana sayang, apa kau sudah memutuskan nya?" Tanya Putri Naga Kecil.


"Ugh..,...... Cobaan apalagi ini." Gumam Arung.


"Terserah kamu Putri Naga Kecil, di mana saja aku siap asalkan itu menikah dengan mu." Ucap Arung yang saat ini terlena dengan kecantikan dan keseksian Putri Naga Kecil.


"Bagus lah kalau begitu, kita akan mengadakan nya di Benua Naga." Ucap Putri Naga Kecil, lalu menghampiri Arung di atas ranjang dan mulai mencumbu nya.


"Ugh...... Putri Naga Kecil..... " Gumam Arung.


Putri Naga Kecil pun mulai mengayunkan lengan nya, seketika pintu kamar pun tertutup dan tersegel dengan perisai kultivasi api milik nya.


"Dup........... " Suara pintu tertutup.


"Ugh..... Sangat aneh melihat diri sendiri melakukan adegan tersebut." Ucap Arung, lalu menutup matanya.


Kembali ke Langit Di Atas Kota Phoenix Awan Hitam.


Satu jam kemudian, tampak Prajurit Burung Phoenix Surgawi saat ini hanya tersisa sebanyak 300 ekor saja dan yang lain nya telah menjadi mangsa dari kedua Naga tersebut.


"Kretekkk kk..... Krakkk..... Krakkk...... "


"Kretekkk kk..... Krakkk..... Krakkk...... " Suara tulang belulang yang tengah di kunyah.


"Aurghhhhhh.................... " Suara Raungan ke dua Naga tersebut kompak lalu kembali menerjang ke arah sisa pasukan tersebut.


"Gawat seperti nya ini adalah akhir dari Kerajaan Phoenix Awan Hitam ini." Ucap salah seorang Prajurit tersebut.


Kobaran api dan mayat Beast tampak di mana-mana, langit yang gelap saat ini berubah menjadi merah menyala akibat kedatangan dua predator tersebut.


"Sejarah beribu-ribu tahun akhirnya sirna di tengah malam penuh teror ini." Ucap Prajurit lainnya.


Beberapa saat kemudian sebuah lengan raksasa berelemen air melesat ke arah kedua Naga tersebut lalu mencengkram leher kedua makhluk tersebut.


"Akh................. " Teriak ke dua Naga tersebut.


Kedua Naga tersebut berusaha keras untuk melepaskan cengkraman tangan biru tersebut, namun makhluk-makhluk tersebut tidak memiliki kuasa untuk melepas kan nya.


"Akh................. " Teriak ke dua Naga tersebut.


Perlahan tubuh kedua Naga pun mulai mengecil hingga sepanjang satu meteran.


"Hidup Raja Phoenix Air...... "


"Hidup Raja Phoenix Air...... "


Sementara itu Raja Phoenix Air sudah kehabisan seluruh tenaga dalam nya dan bahkan kehabisan essensi hidup nya.


"Hah.... Hah.... Hah..... " Suara terengah-engah Raja Phoenix Air.


"Sebelum mati aku harus berhasil menyegel kedua Naga Psikopat ini terlebih dahulu." Ucap Raja Phoenix Air.


"Hah.... Hah.... Hah..... " Suara terengah-engah Raja Phoenix Air.


Raja Phoenix Air pun mulai mengumpulkan seluruh tenaga dalam nya yang tersisa untuk memasukkan ke dua Naga Psikopat tersebut ke dalam Bola Penjara Pohon Dewa Air.


"Hyattttttt............. " Teriak Raja Phoenix Air, lalu memasukkan kedua Naga tersebut ke dalam Bola Penjara Pohon Dewa Air tersebut.


"Aurghhhh hhhh............ " Raungan kesakitan ke dua Naga tersebut saat tersegel ke dalan Bola Penjara Pohon Dewa Air tersebut.


"Blurpppppppppp.......... " Suara saat kedua Naga tersebut saat memasuki Bola Penjara Pohon Dewa Air tersebut.


Keadaan pun menjadi senyap di atas langit Kota Phoenix Awan Hitam saat ini, tampak perlahan tubuh Raja Phoenix Air menghilang menjadi debu.


"Prajurit ku segera lemparkan Bola Penjara Pohon Dewa Air tersebut ke dalam Danau Langit, sepertinya waktu ku tidak akan lama lagi." Ucap Raja Phoenix Air, kemudian menghilang menjadi debu.


"Whusss............. " Suara angin di saat tubuh Raja Phoenix Air menjadi debu dan hilang terhembus.


"Yang Mulia Raja.....yang mulia raja... " Teriak para Beast Phoenix Surgawi yang tersisa tersebut.


"Aurghhhh......... Aurghhhh........ Aurghhhh....... " Raungan kesedihan Beast Phoenix yang di tinggal mati oleh pemimpin nya.


"Raja sudah tiada........ " Teriak Prajurit lain nya.


Beberapa menit kemudian, Danau Langit.


Prajurit tersebut pun mulai menjalankan wasiat terakhir dari Raja nya lalu membuang Bola Raksasa tersebut kedalam Danau Langit.


"Blurpppppppppp.............. " Suara saat bola tersebut perlahan tenggelam.


"Raja aku sudah menjalan kan wasiat mu yang terakhir, semoga kau dapat tenang di alam sana." Ucap Prajurit tersebut, sambil meneteskan air mata.


"Hiks..... Hiks..... Hiks...... " Tangis Beast Phoenix Surgawi tersebut, lalu kembali ke Kota Phoenix Awan Hitam.


Kembali ke Penggalan Ingatan Arung.


Tampak saat ini sedang terjadi pergulatan yang sangat panas di dalam kamar tersebut.


"Hah..... Putri Naga Kecil benar-benar beringas saat di ranjang, sebaik nya aku segera membuat Sup Essensi seperti yang di sarankan oleh Nyonya Ya." Gumam Arung.


Beberapa saat kemudian tubuh Arung pun perlahan menjadi debu sedikit demi sedikit.


"Ugh.... Apa ini kenapa tubuhku perlahan menghilang seperti ini." Ucap Arung.


"Akh........ Kentang..... " Teriak Arung, lalu menghilang seiring dengan tersegel nya Black Hole Dragon ke dalam Bola Penjara Pohon Dewa Air tersebut.


Keesokan paginya di Lantai 3 Rumah Sakit Kota Awan Hitam.


Di luar tampak masih banyak Beast Ikan-Ikan Koi Langit Surgawi yang tengah bertarung dengan para Prajurit-Prajurit beserta para Komandan Kekaisaran Dewi Es.


Di dalam Kamar tempat Gisel di rawat.


"Byurrrr................... " Suara hujan deras.


Semenjak tadi malam Kayla terus menjaga sahabat karib nya tersebut lalu bertarung melawan Ikan-Ikan Koi Langit Surgawi yang hendak menerobos masuk kemari. Tampak Dinding di dekat jendela tersebut telah berlubang, kobaran api pun tampak di mana-mana di Kota Awan Hitam.


"Hah................ " Suara hembusan panjang nafas Kayla.


"Ikan-Ikan Koi ini tidak ada habis-habis nya, untung saja makhluk-makhluk ini tidak menyerang kemari lagi." Gumam Kayla, lalu duduk di samping ranjang Gisel.


Beberapa saat kemudian Gisel pun perlahan membuka kedua matanya.


"Ugh........ Kepala ku pusing sekali." Gumam Gisel, lalu mengamati sekeliling ruangan.


"Lho..... Kenapa aku berada di dalam kamar ini, dan di luar kenapa tampak begitu kacau?" Gumam Gisel, lalu menoleh ke arah Kayla.


"Duarghhh.... Duarghhh........ Duarghhh....... " Suara ledakan terdengar dari luar.


"Kayla apa yang sedang terjadi saat ini, kenapa aku bisa sampai ada disini,"


"Dan di luar kenapa Kota Awan Hitam bisa porak-poranda seperti itu?" Tanya Gisel.


"Sepertinya ia melupakan ingatan tentang Arung yang telah mejadi Tunangan dari Jendral Es, bathin nya mungkin tidak kuat mendengar kan statemen panas tersebut." Gumam Kayla.


"Begini ceritanya Gisel.............. " Ucap Kayla.


Kayla pun mulai menceritakan kejadian yang telah terjadi saat ia tidak sadar kan diri, akhirnya Gisel pun mulai paham dengan situasi terkini saat ini.


"Awas saja Pendekar Don Juan itu jika kembali, aku akan memberi nya hukuman,"


"Baru saja dia meniduri ku, dia sudah berani menaklukkan Jendral Es,"


"Ugh..... Hatiku sakit sekali." Gumam Gisel, lalu berniat menelpon Pendekar Don Juan tersebut.


"Sepertinya Gisel mulai kesal dan hendak menelpon Pendekar Don Juan." Gumam Kayla.


Saat Gisel membuka HP nya terlihat sebuah artikel panas yang memuat photo saat Arung dan Jendral Es sedang berciuman dengan panas nya.


"Ugh...... Pendekar Don Juan, baru saja kau mencumbu ku kau berani mencium Jendral Es,"


"Bahkan sampai jadi konsumsi publik seperti ini,"


"Ugh........ Hatiku..... Ugh... Ugh.... Ugh.... " Ucap Gisel, lalu kembali tak sadar kan diri sambil mengalirkan darah hitam dari mulut nya.


"Gisel...... " Teriak Kayla, lalu membuka sedikit baju nya lalu mencoba menstabilkan aliran energi di dalam tubuh Gisel.


"Hah..... Gisel seperti nya syok saat melihat photo ciuman Pendekar Don Juan ini." Ucap Kayla, sambil melihat HP Gisel.


"Sekarang aku baru percaya rumor yang mengatakan Jendral Es adalah seorang Love Killer, malam ini tidak hanya Gisel yang dirawat akibat pernyataan dan ciuman Jendral Es,"


"Tapi ada banyak sekali kultivator lain nya yang ikut di rawat di sini gara-gara hal tersebut." Gumam Kayla, sambil menyalurkan tenaga dalam nya ke dada Gisel.


Di Dalam Bola Penjara Pohon Dewa Air.

__ADS_1


Keesokan Paginya.


Arung saat ini tengah di lilit oleh Beast Ular Hijau milik Ketua Sekte Iblis Beracun dan bersandar di batang sebuah pohon raksasa, begitu pula dengan Nona Mitha. Arung pun mulai sadar kan diri lalu membuka matanya tampak di hadapan nya seorang Gadis Cantik berpakaian serba hijau tengah duduk bersemedi.


"Ugh...... Kepala ku pusing sekali, dimana aku saat ini?"


"Bukan nya aku sudah mati,"


"Siapa wanita cantik itu, lho kenapa ada Jendral Es disini." Gumam Arung.


"Arung syukurlah kau sudah bangun." Ucap Nona Mitha.


"Bukankah Nona Mitha saat itu sedang terluka parah, dan kenapa ranah nya bisa turun ke ranah alam kesatria puncak,"


"sungguh aneh,"


"Dan.... Bukan nya aku sudah mati, kenapa aku masih hidup dan tempat apa ini?" Gumam Arung.


Mendengar beberapa patah kata dari mulut Jendral Es, Ketua Sekte Iblis Beracun tersebut pun mulai membuka matanya.


"Sepertinya sepasang kekasih tersebut sudah bangun." Gumam Ketua Sekte Iblis Beracun.


"Sepasang kekasih ternyata sudah sadar, baik lah kalian harus menjawab nya dengan jujur,"


"Bagaimana caranya kalian berdua bisa sampai berada di dalam sini?" Tanya Ketua Sekte Iblis Beracun tersebut.


Arung masih mengamati sekeliling daerah tersebut, lalu samar-samar sebuah suara pun mulai muncul di kepala nya.


"Saat ini kalian sedang berada di dalam Bola Penjara Pohon Dewa Air, satu-satu nya cara untuk keluar dari tempat ini adalah dengan menggunakan Jurus Teleportasi bagian ketiga." Ucap Suara di Kepala Arung tersebut.


"Oh.... Begitu ya, caranya,"


"Sudah lama juga gak mendengar suara Jendral Api tersebut, aku jadi kangen juga." Gumam Arung.


Nona Mitha enggan menjawab pertanyaan dari Ketua Sekte Iblis Beracun tersebut, karena kesal wanita berbaju hijau itu pun bangun lalu mulai menampar Arung dan Juga Nona Mitha bergiliran.


"Plak.... Plak...... " Suara tamparan dari Ketua Sekte Iblis Beracun tersebut.


Darah pun mulai mengalir dari mulut mereka berdua.


"Ugh..... Gadis ini sungguh kejam, ia main tampar aja." Gumam Arung.


"Arung wanita ini sangat lah kejam, kita bicara atau pun tidak bicara dia tetap akan membunuh kita pada ujung nya." Ucap Nona Mitha.


"Wajah ******* ini sangat mirip dengan Jendral Es, tapi itu tidak mungkin Jendral Es,"


"Ranah Jendral Es itu pada masa kejayaan nya di ranah alam malaikat puncak sama seperti ku dulu." Gumam Ketua Sekte Iblis Beracun.


"Dasar *******.... " Ucap Ketua Sekte tersebut, kemudian kembali menampar wajah Nona Mitha.


"Ugh.... andai saja ranah ku tidak turun se drastis ini, wanita ini pasti akan kujadikan balok es." Gumam Nona Mitha.


"Plak.... Plak.... Plak.... " Suara tamparan Ketua Sekte Iblis Beracun.


"Gadis Kejam hentikan, aku tidak tahu apa-apa kenapa kami berdua bisa sampai di sini." Teriak Arung.


"Rambut Biru, kau diam saja di situ sebentar lagi akan tiba giliran mu menerima tamparan dari Ketua sekte ini." Teriak Ketua Sekte tersebut.


"Ketua Sekte?" Gumam Arung.


"Plak.... Plak.... Plak.... " Suara tamparan keras Ketua Sekte Iblis Beracun.


Darah pun mulai mengalir dari mulut Jendral Es.


"Uhuk.... uhuk.... uhuk...... " Suara batuk Jendral Es.


"Gimana ******* masih belum mau bicara lagi, aku akan membunuh mu sekarang,"


"Bicaralah." Ucap Ketua Sekte Iblis Beracum.


"Ugh..... Rambut ku merah kenapa dia mengatakan biru?"


"Pasti ada yang salah dengan penglihatan nya, bisa saja dia rabun warna." Gumam Arung.


"Hah............... " Suara nafas panjang Arung.


"Namanya juga Gadis Psikopat." Gumam Arung.


Ia pun baru mulai menyadari turun nya ranah dirinya secara drastis ke ranah alam kesatria puncak.


"Hah......ada yang aneh dengan ranah ku, kenapa ranah ku saat ini bisa turun lagi ke ranah alam kesatria puncak?" Gumam Arung, lalu memasang kuda-kuda Jurus teleportasi seada nya.


Saat ini Ketua Sekte Iblis Beracun mulai berniat membunuh Jendral Es, tampak kuku-kukunya sudah mulai memanjang.


"******* ini tahan dengan siksaan tamparan ku, aku sudah mulai bosan,"


"Aku akan membunuh nya lalu bermain dengan bocah tampan berambut biru tersebut." Gumam Ketua Sekte Iblis Beracun.


Arung pun melesatkan Jurus teleportasi nya.


"Blitz............. " Suara jurus teleportasi milik Arung.


"Brukkk........ " Suara tubuh Beast Ular yang melilit Arung jatuh.


"Suara apa itu?" Gumam Arung.


Ketua Sekte pun menoleh ke arah suara tersebut, lalu kebingungan.


"Lho..... Kemana Pemuda Berambut Biru itu?" Ucap Ketua Sekte.


Jendral Es pun menoleh ke arah suara tersebut, lalu kebingungan.


"Arung, kemana perginya dia?"


"Dia pasti menggunakan jurus aneh itu lagi." Gumam Nona Mitha.


Dalam sekejap mata Arung pun muncul di samping Nona Mitha, lalu memegang bahunya berniat berteleport ke atas.


"Arung, sejak kapan kau ada di sini?" Gumam Nona Mitha.


"Blitzzz............... " Suara jurus teleportasi milik Arung.


"Brukkk............... " Suara Beast Ular yang melilit tubuh Nona Mitha pun ikut jatuh.


"Lho.... Kenapa sekarang malah Gadis berambut biru itu yang ikut menghilang?" Ucap Ketua Sekte Iblis Beracun.


"Tidakkkkk................. " Teriak Ketua Sekte Iblis Beracun tersebut, lalu menembakkan beberapa bola api beracun ke segala arah.


Dalam sekejap mata Arung dan Nona Mitha pun berteleport ke atas salah satu dahan pohon raksasa tersebut.


"Brukkkk.............. " Suara Tapak kaki Arung dan Nona Mitha yang menginjak dahan.


"Arung bagaimana kau bisa secepat itu?" Tanya Nona Mitha.


"Arung sangat tampan saat ini, dan dia sangat mirip dengan Pemuda yang menyelamat kan ku lima tahun yang lalu." Gumam Nona Mitha, sedikit bernostalgia saat menatap wajah Arung.


"Tenanglah Nona Mitha, Gadis Psikopat itu pasti saat ini sedang mencari-cari kita." Ucap Arung, lalu mengeluarkan bola ruang pemberian Putri Naga Kecil.


"Duarghhh......... Duarghhh....... Duarghhh..... " Suara ledakan terdengar dari bawah.


Arung pun mulai mengamati sekeliling nya dan berniat mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan bola ruang tersebut, ia pun melihat ke arah buah raksasa berwarna biru tersebut.


"Nona Mitha ayo kita ke sana." Ucap Arung lalu melesat ke arah buah raksasa tersebut.


"Ia Tunangan ku." Ucap Nona Mitha.


"Apa yang hendak di lakukan Arung ya, sebaik nya aku ikutin saja." Gumam Nona Mitha, lalu mengekor Arung.


Sesampainya nya di dekat Buah Raksasa tersebut, Arung pun memasukkan bola ruang tersebut ke dalam nya menggunakan elemen tumbuhan milik nya.


"Nona Mitha, ayo kita pergi sekarang." Ucap Arung lalu memegang pergelangan tangan Tunangan nya tersebut.


"Pergi kemana Arung, sepanjang mata memandang hanya daratan putih lalu ada beberapa kebun tembakau di sana?" Tanya Nona Mitha.


Saat ini Ketua Sekte Iblis Beracun tengah terbang menuju puncak pohon berniat menemukan Arung dan Jendral Es lalu membunuh nya.


"Clara." Ucap Arung.


"Clara, gadis mana lagi yang di kejar Arung saat ini?" Gumam Nona Mitha.


Mereka berdua pun tersedot ke dalam bola ruang pemberian Putri Naga Kecil tersebut.


"Whussss.............. " Suara hempasan angin di sekitar Ketua Sekte Iblis Beracun saat terbang.


"Kemana sepasang kekasih tadi pergi, jurus aneh apa itu?"


"Mungkinkah mereka berdua adalah murid-murid dari Sekte Kupu-Kupu Hantu?" Gumam Ketua Sekte Iblis Beracun tersebut.


"Brukkkk........ " Suara Tapak kaki Ketua Sekte Iblis Beracun saat mendarat di dahan tempat Arung dan Jendral Es berada sebelum nya.


"Hah................ " Suara nafas panjang Ketua Sekte Iblis Beracun


"Mereka tidak ada di sini, sebaik nya aku mulai menyisir seluruh pohon raksasa ini sampai ke puncak nya." Gumam Ketua Sekte Iblis Beracun.


Saat ini Di Perbatasan Kota Awan Hitam


Tampak Miranda Lang tengah berlari di jalanan yang telah porak-poranda tersebut, saat ini ranah Assasin tersebut telah turun ke ranah alam kesatria puncak karena racun.


"Ugh..... Ini semua gara-gara Pemuda Berambut Merah itu, racun ku mulai bereaksi karena tidak menghisap tembakau ular saat ini." Gumam Miranda Lang, sambil terus berlari dengan kesal.


"Uhuk..... Uhuk..... Uhuk...... " Suara batuk Miranda Lang, lalu mengeluarkan darah hitam yang kental.


"Awas saja jika aku berhasil kabur kali ini, aku akan melakukan Party untuk memburu mu." Gumam Miranda Lang.


"Whuss............ " Suara lesatan Ikan Koi Langit Surgawi ke arah Miranda Lang.


Tiba-tiba saja seekor Beast Ikan Koi Langit Surgawi sepanjang 2 meter menghadang nya dan tampak lapar.


"Erghhhhh............. " Suara raungan Beast tersebut.


"Mati aku." Gumam Miranda Lang.


Beast tersebut lalu menyemburkan semburan air berpetir ke arah Miranda Lang. Ia pun memasang perisai kultivasi tumbuhan di sekitar nya.


"Duarghhh............... " Suara ledakan akibat serangan tersebut berhasil menerobos perisai kultivasi dan mengenai Miranda Lang.


"Akh............ " Teriak kesakitan Miranda Lang, lalu tewas tersetrum.


"Drrrtttttttt....... ddddrrrtttttttt.......... " Suara tubuh Miranda Lang saat kesetrum.


"Brukkkkk....... " Suara tubuhnya saat tersungkur ke belakang.


Beast tersebut pun mulai beranjak ke arah tubuh hangus Miranda Lang dan mulai memangsa nya.


"Ergggghhhhhh........ " Suara gemeretak gigi Ikan Koi Langit Surgawi tersebut.


Beberapa saat kemudian Petugas Patroli Jalan Raya Peri dan Mika pun tiba ke lokasi Miranda yang sedang di mangsa tersebut, lalu langsung melesatkan dua serangan bola petir ke arah Beast tersebut.


"Duarghhh............ " Suara ledakan akibat serangan tersebut.


"Brukkkkk............. " Suara tubuh Ikan Koi Langit Surgawi tersebut saat jatuh ke jalanan.


"Kasian wanita ini dia pasti di mangsa hidup-hidup oleh Ikan psikopat ini." Ucap Mika, merasa iba melihat kondisi mengenaskan Miranda Lang.


"Mika ayo kita tolong yang lain nya." Ucap Peri, lalu kembali melesat ke depan.


"Benar masih banyak warga yang harus kita selamat kan." Ucap Mika, lalu melesat menyusul Peri.


Kebun Tembakau Ular di daratan putih tersebut.


Ternyata Bunga Sky teman satu tim nya Arung masih hidup dan saat ini dia telah menjadi budak dari Ketua Sekte Iblis Beracun. Dia mendapatkan tugas untuk menanam dan merawat Tembakau-Tembakau ular tersebut.


"Ugh..... nasib-nasib, dari sekian banyak Peserta yang mengikuti ujian tersebut kenapa hanya aku yang di culik oleh Ketua Iblis itu." Gumam Bunga, sambil menyiram tumbuhan tersebut.


"Hah........... " Suara nafas panjang Bunga.


"Sebaik nya aku tidak melawan nya, bahkan Beast tingkat alam dewa saja tidak mampu melawan nya." Gumam Bunga, lalu mulai melanjutkan menyirami Tembakau-Tembakau Ular tersebut.


Di dalam Tembakau-Tembakau Ular tersebut terdapat beraneka ragam ular dengan warna yang beragam.

__ADS_1


__ADS_2