
Di Benteng Perbatasan Kota Awan Hitam
"Byurrrr.............. " Suara hujan deras.
Tampak 5000 Prajurit dan para Komandan serta Wakil Komandan tengah berbaris di hadapan Jendral Es. Saat ini Mitha tengah berdiri di atas sebuah podium yang baru saja di siap kan untuk inspeksi mendadak tersebut.
"Wah..... Jendral Es benar-benar kecantikan nomer satu di Benua Es Api ini." Gumam Luna, dari dalam barisan.
"Kalian adalah Prajurit-Prajurit kebanggaan Kekaisaran Dewi Es ini, jadi disiplin itu di perlukan,"
"Dan ingat kita tidak boleh gentar melawan apa pun yang mengancam keutuhan Kekaisaran ini." Ucap Jendral Es.
"Wah.... benar-benar pidato yang berapi-api." Gumam Luna, dari dalam barisan.
"Siap Jendral Es." Ucap Kompak seluruh Prajurit.
"Hidup Jendral Es........ "
"Hidup Jendral Es........ "
"Hidup Jendral Es........ " Teriak Prajurit-Prajurit tersebut.
Teriakan pun terhenti saat kemunculan sesosok energi membentuk Naga Emas Raksasa dari pusat kota. Terlihat para Komandan-komandan dan Prajurit-Prajurit menoleh ke arah energi emas tersebut.
"Itu kan Essensi Bangsawan milik Pendekar Naga, buat apa dia membangkitkan nya di pusat kota?"
"Apa ada seekor Naga yang mengamuk di dekat nya?" Gumam Luna, saat melihat sosok Naga Emas tersebut.
Masih menjadi sebuah misteri kenapa Luna Thunder sampai mengenali essensi bangsawan tersebut, sementara Arung sendiri baru saja menguasai kemampuan tersebut.
"Aurghhhhh...................... " Raungan suara Naga Emas yang memecah kan kesunyian seisi Kota Awan Hitam.
Jendral Es pun melesat terbang dari podium, lalu mulai memerintahkan para Prajurit-Prajurit dan Komandan-komandan nya untuk bersiap berperang.
"Ugh..... Firasatku tidak enak kali ini, bencana apa yang akan melanda Kota Awan Hitam ini." Gumam Jendral Es, lalu mensummon Naga Api Salju nya.
"Whusss.................. " Suara hempasan angin yang di hasilkan saat Naga Salju Api mulai muncul.
Jendral Es pun langsung melesat ke arah kepala makhluk tersebut, lalu berdiri gagah di atas nya.
"Tenang sebelum badai, kenapa hati ku semakin tidak enak." Gumam Jendral Es.
Naga Salju Api saat ini sedang melayang tepat di atas barisan Prajurit-Prajurit nya.
"Sepertinya kau sedang dalam masalah lagi kali ini ya Jendral Es." Ucap Gatot.
"Firasatku tidak enak Gatot, aku merasakan mara bahaya sedang mendekat ke arah Kota Awan Hitam ini,"
"Lebih baik kita bersiap ssaja, dari pada telat Gatot." Ucap Jendral Es.
"Whusss.................. " Suara angin Gurun Es yang berhembus.
Atap Penginapan Stadium Awan Hitam.
"Byurrrr.............. " Suara hujan deras.
Jiwa nya pun keluar dari Dunia Naga Emas yang berada di dalam dantian nya, Arung pun mulai membuka kedua mata nya setelah itu.
"Ugh..... Apa tadi itu hanya halusinasi ku saja, karena sangat berniat membangkitkan essensi bangsawan," Gumam Arung.
Ia berpikir pertemuan nya di dalam Dunia Naga Emas adalah sebuah halusinasi dan tidak lah nyata.
"Sebaik nya aku pastikan saja." Gumam Arung, lalu mulai membuka bajun ya serta menoleh ke balik punggung nya.
"Astaga....... "
"Tato Naga Emas, ternyata tadi bukan halusinasi ku,"
"Syukurlah aku masih waras." Gumam Arung, lalu mulai berdiri dari meditasi nya.
Arung pun lalu mulai menghisap tembakau ular nya.
"Whusss..................... " Suara hembusan asap rokok nya.
"Hari-hari yang tenang kembali ku jalani, walau pun langit di kota ini selalu hujan,"
"Nanti malam aku akan kembali membasahi selingkuhan ku disini, kali ini dia pasti akan becek." Gumam Arung, lalu kembali menghisap tembakau ular nya.
"Whusss..................... " Suara hembusan asap rokok nya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara raungan Naga yang sangat keras dari arah benteng perbatasan Kota Awan Hitam.
"Aurghhhh.................. " Suara raungan Naga tersebut kembali memecahkan keheningan di dalam Kota Awan Hitam ini.
"Apa itu?"
"Kenapa bisa ada raungan seekor Naga di perbatasan Kota Awan Hitam." Gumam Arung.
"Aurghhhh.................. " Suara raungan Naga kembali terdengar.
"Gawat Luna saat ini tengah berada di perbatasan Kota, aku akan kesusahan jika tidak ada wanita yang mendampingi ku di masa lalu ini,"
"Aku akan kesepian tiap malam nya jika Luna tidak ada." Gumam Arung, lalu mulai melesat terbang ke arah suara raungan tersebut setelah menyimpan pipa hisap nya.
"Whusss...................... " Suara hempasan angin saat Arung mulai melesat terbang.
"Sepatu terbang milik Burung Phoenix Surgawi tersebut sungguh praktis." Gumam Arung.
Kembali ke Benteng Perbatasan Kota, sebelum terdengar raungan Naga tersebut.
Dari kejauhan tampak Naga-Naga Magnet Surgawi tengah melesat terbang ke arah Jendral Es dan bala tentara nya.
"Ugh..... Seekor Pimpinan Naga Magnet Surgawi dengan kekuatan di ranah alam malaikat puncak, dan gerombolan Naga nya." Gumam Jendral Es.
Ia pun lalu menoleh ke arah Komandan-komandan nya.
"Para Komandan perintahkan kepada semuanya untuk bersiap berperang, lawan kita adalah Beast-Beast Naga Magnet Surgawi tersebut." Perintah Jendral Es.
"Siap Jendral Es." Sahut ke 50 Komandan kompak.
Akhirnya segerombolan Naga Magnet Surgawi pun tiba di Benteng Perbatasan Kota berniat mengamuk karena kematian Naga Magnet kecil. Pemimpin dari makhluk-makhluk buas tersebut pun mulai menoleh ke arah Jendral Es dan Naga Salju Api nya dengan sorot mata yang penuh dendam.
"Aurghhhh....................... " Raungan Naga MMagnet Surgawi yang sangat marah lalu berniat mengunyah Jendral Es.
Kemarahan Naga Magnet Surgawi ini di picu oleh kematian anaknya yang di bunuh oleh Jendral Berserker dengan menyamar sebagai Jendral Es. Saat ini di mata makhluk tersebut Mitha merupakan pembunuh sadis anak nya.
"Kenapa mata Naga ini menyiratkan kemarahan yang mendalam kepada ku, niat membunuh nya sangat besar." Gumam Jendral Es.
"Gatot aku akan mulai mengerahkan jurus Tapak Salju, Kumohon kau mengulur waktu untuk ku selama mungkin." Perintah Jendral Es.
"Hah...... " Suara nafas panjang Naga Salju Api tersebut.
"Baiklah Mitha, tapi jangan terlalu lama ya makhluk ini lebih kuat dari ku berkali-kali." Ucap Gatot Angkara si Naga Salju Api.
"Aku tahu itu Gatot, walau ranah ku sebanding dengan makhluk tersebut,"
"Namun kekuatan ku jauh berbeda dengan makhluk tersebut, oleh karena itulah aku menyerang nya dengan jurus andalan ku di saat kondisi ku masih prima." Gumam Jendral Es.
"Aurghhhh................... " Raungan Naga Salju Api lalu mulai melesat terbang ke arah pemimpin para Naga Magnet Surgawi tersebut.
"Naga Salju Api telah menyerang, kita juga jangan mau kalah juga,"
"Semuanya serang..... " Teriak salah satu Komandan dengan jurus auman petir.
Para Prajurit-prajurit yang berjumlah 5000 an itu pun mulai menyerang ke arah gerombolan Beast Naga yang berjumlah 100 ekor di ranah alam Naga puncak tersebut.
"Ugh.... Arung Do'akan aku selamat dalam peperangan yang tiba-tiba ini, jika aku selamat aku akan meniduri mu semalaman sampai kau puas." Gumam Luna, lalu mulai mengeluarkan Pedang Petir Ungu nya.
"Hyaattttt.......... " Teriak Luna, sambil mengayun-ayunkan pedang nya.
Naga-Naga Magnet Surgawi pun mulai menyemburkan asap hitam ke sekitar nya, asap tersebut pun mulai muncul di sekitar kaki para Prajurit-prajurit tersebut.
"Asap hitam apa itu?" Gumam Luna.
"Ugh..... Kenapa tiba-tiba langkah ku terasa berat." Ucap salah satu Prajurit.
"Apa ini, seperti nya asap ini menyebabkan gaya gravitasi di sekitar sini meningkat drastis." Gumam Luna.
Mereka belum menyadari jika wilayah yang di bungkus oleh lapisan asap hitam setinggi 20 cm itu membuat gaya gravitasi meningkat menjadi 10 kali lipat kecuali Luna.
"Ugh.... Tubuh ku mulai terasa berat, aku harus bergerak menggunakan tenaga dalam ku di sini,"
"Dasar Naga Magnet Surgawi berengsek." Gumam Naga Salju Api.
Sementara itu Jendral Es sedang mengumpulkan energi es di seluruh tubuh nya berniat melesatkan jurus andalan nya. Naga Salju Api pun mulai melesatkan sebongkah es raksasa ke arah Naga Magnet Surgawi tersebut.
"Whusss............ " Suara hempasan angin saat bongkahan es melesat.
"Naga Salju Api, kenapa kau membantu manusia tersebut?" Tanya Naga Magnet Surgawi, sambil menghindari serangan nya.
"Duarghhhh................... " Suara ledakan akibat serangan bongkahan es raksasa mengenai daratan.
"Itu bukan urusan mu Naga Brengsek." Jawab Naga Salju Api.
Sementara kedua Naga tengah berkomunikasi, Naga-Naga lain nya mulai melesatkan tembakan bola magnet berwarna hitam keungu-unguan ke arah para Prajurit-Prajurit tersebut.
"Whussss............... " Suara hempasan angin akibat serangan bola-bola magnet tersebut.
"Serang, lesatkan juga serangan ke arah makhluk-makhluk itu." Perintah Salah Satu Komandan menggunakan jurus auman petir.
Para prajurit pun melesatkan berbagai jenis serangan ke arah Naga-Naga Magnet Surgawi tersebut.
"Duargh...... Duargh...... Duarghhh......... " Suara ledakan akibat berbagai elemen yang saling beradu di langit.
Tampak ada beberapa ekor Naga yang berjatuhan dan tewas setelah terkena serangan tersebut.
"Brukkkk.......... Brukkkk....... Brukkkk......... " Suara beberapa tubuh Naga yang terjatuh lalu tewas.
Dari pihak para Prajurit-Prajurit pun mulai berjatuhan korban akibat serangan bola-bola magnet tersebut.
Kembali ke pertarungan Naga Salju Api dan Naga Magnet Surgawi.
"Aurghhhh............" Raungan Naga Salju Api, lalu kembali melesatkan beberapa bongkahan es raksasa ke arah makhluk tersebut.
"Dasar Bodoh Naga Bodoh, dia tahu kalau aku bukan lawan nya,"
"Tapi dia masih berani menyerang." Ucap Naga Magnet Surgawi, lalu mulai melesatkan bola magnet ke arah Naga Salju Api.
"Whussss............. " Suara hempasan angin akibat serangan bola magnet tersebut.
Di karenakan ranah Naga Salju Api yang lebih lemah dari makhluk tersebut, bola magnet pun melahap bongkahan-bongkahan es raksasa tersebut dengan mudah nya lalu menghantam tubuh Beast Kontrak tersebut.
"Duarghhh.................. " Suara ledakan bola magnet saat mengenai tubuh Naga Salju Api tersebut.
"Duagh....................... " Suara tubuh Naga Salju Api yang terpental lalu menghantam daratan.
Beberapa saat kemudian Gatot pun kembali melesat ke arah Naga Magnet Surgawi, pertarungan sengit pun kembali terjadi.
"Ugh..... Mitha bergegas lah, makhluk ini sangat kuat." Gumam Naga Salju Api.
"Kau mempermalukan kaum Naga." Ucap Naga Magnet Surgawi.
Kobaran api tampak di mana-mana, tubuh-tubuh Prajurit tak bernyawa pun mulai berserakan.
"Byurrrr......................... " Suara hujan deras.
Hari pun menjadi mencekam dan penuh dengan darah dan teriakan-teriakan kesakitan.
"Akhhhh........ " Teriak beberapa Prajurit yang tengah di makan hidup-hidup.
"Kretekkkkk.... kretekkkkk... tekkkk.... tekkk...... " Suara tulang-belulang para prajurit yang tengah dikunyah hidup.
Langit di atas Pusat Kota.
"Byurrrr......................... " Suara hujan deras.
"Whusss........ " Suara hempasan angin saat makhluk ini melesat.
"Aurghhhhhh................. " Suara raungan Naga Magnet Surgawi yang berhasil menerobos masuk ke dalam pusat kota.
Ternyata salah satu Naga Magnet Surgawi di ranah alam Naga tingkat awal berhasil menerobos masuk ke dalam kota dan berniat mengamuk.
"Akan kubunuh semua penduduk di kota ini sebagai persembahan untuk adik kecil ku." Gumam Naga tersebut.
Yang di maksud adik kecil oleh Naga tersebut adalah Naga Magnet Kecil yang tewas terbunuh di tangan Jendral Berserker yang sedang menyamar. Saat tengah terbang Arung pun melihat Naga tersebut terbang menuju pusat kota seperti ingin mengamuk.
__ADS_1
"Itu..............."
"Best Naga tersebut seperti nya hendak mengamuk." Gumam Arung, lalu mengurungkan niat nya pergi ke perbatasan Kota.
"Sebaiknya aku membereskan makhluk buas itu dulu baru setelah nya aku membantu Luna, kasian orang-orang tak bersalah di dekat stadium tersebut." Gumam Arung, lalu melesat terbang ke arah Naga Magnet Surgawi tersebut.
"Whusss.......... " Suara hempasan angin akibat suara Arung saat bermanuver terbang ke arah pusat kota.
Di Langit di Atas Stadium Kota Awan Hitam.
Tampak sebuah acara pertandingan sepak bola antar kota sedang di langsungkan di sana, tiba-tiba saja seekor Naga Magnet Raksasa sepanjang 100 meter muncul di atas langit Stadium Awan Hitam.
Di lapangan bola kaki.
Salah seorang kultivator pemain sepak bola tengah menggiring bola berniat menerobos pertahanan lawan nya.
"Kenapa langit nya makin gelap ya." Gumam Kultivator Pemain Bola tersebut, lalu menengadahkan kepalanya ke atas.
"Astaga...... "
"Apa itu...... Kenapa bisa ada seekor Beast Buas dia atas stadium ini?" Ucap Kultivator Pemain Bola tersebut, lalu menoleh ke arah teman-teman nya yang lain.
Tampak para kultivator pemain sepak bola tersebut mulai melarikan diri dengan kocar-kacir, begitu juga dengan para penonton yang berada di tribun penonton.
"Akh....... " Teriak histeris.
Tampak karena panik beberapa penonton tersungkur ke lantai dan menjadi bulan-bulanan penonton lain nya.
"Tolong...... Tolong....... Tolong..... " Teriak beberapa penonton yang tengah berdesak-desakan saat akan keluar dari dalam tribun tersebut.
"Semut-semut sedang berlarian, kalian harus menanggung perbuatan Gadis yang telah membunuh adik ku." Gumam Naga Magnet Surgawi.
Makhluk tersebut pun mulai menyemburkan asap berwarna hitam ke arah Stadium tersebut, berniat meningkatkan gaya gravitasi di sekitar nya menjadi 10 kali lipat.
"Whusss............................. " Suara hembusan asap hitam milik Naga Magnet tersebut.
"Tolong...... Tolong....... Tolong..... " Teriak beberapa penonton yang tengah berdesak-desakan saat akan keluar dari dalam tribun tersebut.
Di Ruangan Panitia Judi Stadium Awan Hitam.
Sesaat sebelum Naga Magnet Surgawi sampai di atas langit Stadium Awan Hitam, Nona Clark dan juga Parson telah menyadari kedatangan makhluk tersebut melalui cctv yang dipasang di sekitar tempat tersebut.
"Ini gawat,"
"Parson, seperti nya ada seekor beast yang berniat menyerang kemari,"
"Kita harus pergi ke tribun, lalu segera melindungi para penonton." Ucap Nona Clark, sambil beranjak keluar ruangan tersebut.
"Kenapa makhluk buas tersebut harus muncul di saat pertandingan final Liga Kekaisaran Dewi Es ini." Gumam Nona Clark, sambil mengurut-urut kepala nya lalu beranjak pergi.
"Baik Nona Clark." Ucap Parson, lalu beranjak mengikuti nya.
"Kemana Paris sialan itu, dia selalu hilang di saat-saat kondisi kritis seperti ini." Gumam Nona Clark, sambil menutup pintu.
"Dup................ " Suara pintu di tutup.
Nona Clark dan Parson pun segera menuju ke tribun penonton berniat menolong para penonton tersebut.
Kembali ke langit di atas Stadium Kota Awan Hitam.
Setelah Naga Magnet Surgawi selesai menyemburkan asap hitam tersebut, tampak beberapa penonton mulai berjatuhan akibat gaya gravitasi tersebut.
"Ugh...... Tubuh ku tidak bisa di gerakkan." Ucap salah seorang penonton yang telah tersungkur ke lantai tribun.
"Akh........ " Teriak beberapa penonton yang terinjak-injak.
Terlihat masih banyak penonton yang tidak berhasil keluar dari Tribun tersebut di karenakan Gaya Gravitasi yang meningkat.
"Tolong....... Tolong.......... Tolong...... " Teriak beberapa penonton yang telah tersungkur dan tidak bisa bergerak lagi.
Naga magnet Surgawi pun kemudian menembak kan beberapa bola magnet ke arah Tribun Penonton.
"Duarghhh....... Duarghhh........ Duarghhhhh........ " Suara ledakan serangan bola magnet mengenai perisai kultivasi petir.
Beberapa saat sebelum bola-bola magnet mengenai Tribun Penonton, Nona Clark langsung memasang perisai kultivasi petir di sekitar tempat tersebut.
"Parson segera bawa keluar para penonton tersebut, kita harus meminimalisir korban penonton yang jatuh." Perintah Nona Clark, sambil memasang perisai kultivasi petir.
Ranah kultivasi Nona Clark saat ini berada di ranah alam Naga puncak begitu pula dengan Parson.
"Nona Clark memang merupakan wanita yang berhati mulia, dia bahkan mengkhawatirkan para penonton tersebut dari pada dirinya sendiri." Gumam Parson.
Parson merupakan tipe orang yang selalu berpikir positif, hanya terkadang sesekali ia berpikir posesif.
"Cepatlah Parson, jika ada banyak korban yang berjatuhan,"
"Aku khawatir izin usaha stadium ini akan di cabut dan kita kembali menjadi pengangguran, aku tidak ingin kembali ke tempat pelacuran tersebut." Ucap Nona Clark.
Naga Magnet Surgawi kembali melesatkan serangan bola-bola magnet ke arah perisai tersebut.
"Duarghhh....... Duarghhh........ Duargh....... " Suara ledakan akibat serangan Naga Magnet tersebut.
"Ugh...... Ternyata ia bertindak seperti ini agar izin usaha tempat ini tidak di cabut, padahal aku sudah berpikir Nona Clark adalah seorang Dewi yang sangat Berbelas Kasih." Gumam Parson.
"Baik Nona Clark." Ucap Parson, lalu mulai mengevakuasi keluar penonton yang tidak bisa bergerak tersebut satu persatu.
Darah pun mulai mengalir dari mulut Nona Clark.
"Ugh..... Kenapa ada banyak asap hitam di lantai ya, dan kenapa tubuhku terasa berat,"
"Atau itu hanya perasaan ku saja." Gumam Nona Clark.
Ia belum menyadari nya kalau tempat yang di naungi asap hitam setinggi 20 cm itu memiliki gaya gravitasi 10 kali lipat dari biasanya, ini merupakan kemampuan alami yang hanya di miliki oleh Naga Magnet Surgawi.
Kembali ke Arung.
Saat ini Pendekar Naga tersebut sedang terbang dengan gagah nya ke arah Stadium Awan Hitam berniat menolong orang-orang lemah, tampak seekor Naga Raksasa tengah melesatkan beberapa serangan bola magnet ke arah tempat tersebut.
"Apa................ "
"Ternyata benar Naga itu sedang mengamuk, sebaik nya aku cepat pergi ke sana." Gumam Arung, lalu mulai menambah kecepatan terbang nya.
"Whusss.......... " Suara hempasan angin saat dia meningkatkan kecepatan terbang nya.
Setelah beberapa menit menahan serangan Naga Magnet Surgawi tersebut, Nona Clark pun terluka sangat parah hingga tersungkur ke tanah.
"Duarghhh................. " Suara ledakan akibat serangan bola magnet menghancurkan perisai kultivasi petir sekaligus mencederai Nona Clark.
"Akh.............. " Teriak Nona Clark, lalu terpental ke tanah.
"Brukkk......... " Suara tubuh Nona Clark yang menghantam tanah.
Saat ini tubuh Nona Clark terbujur kaku tak dapat bergerak di atas tanah akibat serangan tersebut, perisai kultivasi petir penahan hujan nya pun menghilang.
"Byurrrr.............. " Suara hujan deras.
Seluruh pakaian nya pun basah kuyup, Nona Clark hanya menatap ke arah Naga Magnet Surgawi tersebut yang saat ini tengah bersiap kembali melesatkan tembakan bola magnet nya.
"Ugh...... Tubuh ku sudah tidak bisa di gerak kkan lagi walaupun aku dulu pernah bekerja di Rumah Bordil namun aku belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta,"
"Jika tahu aku akan mati mengenaskan seperti ini, aku pasti akan mengejar beberapa laki-laki." Gumam Nona Clark, lalu mulai meneteskan air mata penyesalan nya.
Naga Magnet Surgawi pun mulai melesatkan serangan bola magnet ke arah Nona Clark yang sudah tidak bergerak lagi di tanah, Parson pun menyadari hal tersebut.
"Whusss............... " Suara hempasan angin saat bola magnet melesat.
"Gawat Nona Clark bisa mati jika terkena serangan sedahsyat itu." Gumam Parson, lalu mulai melesat ke hadapan Nona Clark dan melesatkan serangan bola petir raksasa dengan segenap kekuatan nya.
Nona Clark pun menyadari kedatangan Parson yang berniat menyelamatkan nya.
"Parson, dia sungguh sangat setia kawan." Gumam Nona Clark, yang sudah terbujur kaku.
"Whusss............... " Suara hempasan angin saat bola magnet melesat.
"Dasar Bodoh." Gumam Nona Clark.
Kedua elemen pun saling beradu hingga menyebabkan ledakkan yang sangat dahsyat serta menggoncang Stadium untuk beberapa saat.
"Duarghhh............... " Suara ledakan akibat bola petir dan magnet yang saling beradu.
Nona Clark menyadari Parson hanya sanggup sekali mengimbangi serangan Naga tersebut, walaupun berada di ranah yang sama Parson lebih lemah dari nya ber kali-kali.
"Groaghhhhh............ " Suara goncangan bangunan pada Stadium.
Ternyata Parson telah menggunakan seluruh tenaga dalam nya untuk menahan serangan tersebut, tubuh nya pun kemudian tersungkur di sebabkan tarikan gaya gravitasi 10 kali lipat dari asap hitam tersebut.
"Brukkkk.............. " Suara tubuh Parson yang tersungkur di dekat Nona Clark.
"Parson, seperti nya ini akhir dari kita berdua." Gumam Nona Clark, kembali meneteskan air mata melihat sahabat satu-satunya yang sudah dia anggap seperti saudara nya sendiri kehabisan tenaga dan berada dalam kondisi berbahaya.
"Nona Clark, maafkan aku seperti nya aku hanya dapat menahan serangan Naga Magnet itu sekali saja." Ucap Parson.
Walaupun ranah kultivasi mereka sebanding dengan Naga Magnet tersebut, namun mereka berdua merupakan Kultivator Artis jadi tidak memiliki kekuatan yang besar walau ranah nya tinggi.
"Kasian Nona Clark, sepertinya dia sudah tidak dapat bergerak lagi,"
"Untung saja aku sudah menikah, jadi setidak nya aku sudah memiliki penerus,"
"Tapi Nona Clark dia masih saja jadi Jomblower sejati sampai saat ini." Gumam Parson.
"Hiks.... hiks..... hiks..... " Tangis kecil Nona Clark di dalam hati.
"Aku ingin jatuh cinta...... " Gumam Nona Clark.
Kembali ke Arung.
Saat Naga Magnet Surgawi melesatkan serangan terakhir ke arah Nona Clark dia telah tiba di langit dia Atas Kota Awan Hitam dan sedang menganalisa medan pertempuran.
"Kekuatan Naga ini jauh di atas ku, hanya ada satu cara untuk mengalah kan nya." Gumam Arung, lalu mulai mengeluarkan Palu Emas Hitam Surgawi nya.
Dia pun menyalurkan 30 persen tenaga dalam nya ke dalam inti senjata suci tersebut, lalu berteleport ke sebelah kepala Naga Magnet Surgawi tersebut.
"Blitzzz................ " Suara jurus teleportasi Milik Arung.
Dalam sekejap mata ia pun tiba di tempat tersebut, lalu mulai mengayunkan martil nya. Seketika benda tersebut membesar lalu menghantam kepala Naga Magnet Surgawi tersebut.
"Duagh........... " Suara kepala Naga yang terhantam Martil tersebut.
"Aurghhhhh............. " Raungan kesakitan Naga Magnet tersebut, lalu terpental ke arah tribun penonton.
"Brukkkk................. " Suara tubuh Naga Magnet Surgawi saat menghantam tribun luar.
Ranah kultivasi Naga Magnet Surgawi pun turun satu tingkatan setelah serangan tersebut lalu belum menyadari nya. Makhluk itu pun kembali melesat dan menerjang ke arah Arung dari tribun penonton tersebut.
"Whussss............. " Suara hempasan angin saat makhluk buas tersebut melesat terbang.
"Ugh.... Kepala ku, siapa kultivator yang berani menyerangku diam-diam."
"Ugh.......Aku lengah sesaat tado." Gumam Naga Magnet Surgawi tersebut.
"Blitzzzzz................ " Suara jurus teleportasi milik Arung.
Terjangan Makhluk Buas itu pun hanya menerkam angin kosong di angkasa di sebabkan Arung yang kembali berteleport.
"Kemana dia??" Gumam Naga Magnet Surgawi, lalu menoleh ke sekitar nya.
Dalam sekejap mata Arung pun berpindah ke atas kepala makhluk buas tersebut, lalu kembali menghantam kepala nya dengan Martil tersebut.
"Duagh............ " Suara hantaman martil saat mengenai tempurung kepala Naga Magnet Surgawi tersebut.
"Aurghhhhhhh............... " Raungan kesakitan Naga Magnet Surgawi tersebut.
Makhluk Buas ini pun kembali terpental ke arah tribun penonton untuk yang kedua kali nya.
"Sudah dua kali, seperti nya sudah aman ranah nya sudah sama dengan ku,"
"Saat ini aku tinggal memenggal kepala nya saja." Gumam Arung, lalu menyimpan Palu Emas Hitam Surgawi nya dan mencabut kedua pedang yang tersarung di pinggang nya.
Akhirnya Makhluk Buas itu menyadari penurunan ranah kultivasi nya akibat serangan tersebut.
"Ugh..... Sakit sekali, senjata dewa nya ternyata memiliki efek untuk menurunkan ranah kultivasi ku,"
"Bisa berbahaya jika terkena serangan nya sekali lagi." Gumam Naga Magnet Surgawi tersebut.
Tampak sekujur tubuh makhluk buas itu mulai di penuhi aura berelemen magnet, tak lama berselang Naga Magnet Surgawi pun menjelma menjadi sesosok pemuda yang sangat tampan bertanduk emas lalu mengenakan jubah perang hitam kebiru-biruan.
__ADS_1
"Ternyata ia Manusia Beast..... " Gumam Arung.
"Kau akan mati kali ini Khisanat." Ucap Naga Magnet Surgawi tersebut, lalu mulai mengeluarkan Pedang Naga Khayangan dari dalam cincin ruang milik nya.
Arung pun melihat fenomena metamorfosis tersebut dari atas langit, ia pun melesat terbang ke arah Manusia Beast tersebut sambil menghunus kan kedua pedang nya.
"Aku harus segera membunuh nya tenaga ku hanya tersisa sekitar 40 persen lagi." Gumam Arung.
Naga Magnet Surgawi dan dirinya pun mulai beradu pedang, tampak Arung mulai mengayunkan kedua pedang nya sambil terbang di atas makhluk tersebut. Sejak tadi ia bergerak menggunakan tenaga dalam nya di dalam wilayah ber gravitasi tinggi tersebut.
"Tring....... Tring....... Tring....... "
"Tring......... Tring....... Tring..... " Suara ketiga pedang yang saling beradu.
Naga Magnet Surgawi tersebut lalu mencium bau yang sama dari tubuh Arung lalu mulai menyadari kalau lawan nya sebangsa dengan nya.
"Ternyata pemuda ini Naga seperti ku, kenapa dia bertentangan dengan bangsa nya sendiri." Gumam Naga Magnet, lalu mulai mengayunkan Pedang Naga Khayangan nya.
"Tring....... Tring....... Tring....... "
"Tring......... Tring....... Tring..... " Suara ketiga pedang yang saling beradu.
Sementara itu Arung khawatir ranah Naga tersebut kembali ke puncak kekuatan nya beberapa menit kedepan. Efek penurunan ranah ini berlaku hanya satu jam saja.
"Aku harus segera memenggal kepala nya." Gumam Arung, lalu berteleport ke belakang Naga Magnet tersebut.
"Blitzzzzz................" Suara Jurus Teleportasi Milik Arung.
"Whusss............... " Suara tebasan angin.
Naga Magnet Surgawi pun mulai sadar kalau lawan nya tiba-tiba lenyap.
"Sial..... Kemana perginya Naga muda tersebut?" Gumam Naga Magnet Surgawi tersebut.
Dalam sekejap mata Arung pun berada di belakang makhluk buas tersebut lalu mulai mengayunkan kedua pedang nya.
"******........... " Suara muncratan darah Naga Magnet Surgawi tersebut.
"Brukkkk........ " Suara tubuh Naga Magnet Surgawi yang tersungkur ke lantai.
"Huft.............. " Suara nafas panjang Arung, lalu mendekati tubuh makhluk tersebut dan mengambil senjata sucinya kemudian menggantung nya di pinggang nya.
Beberapa saat kemudian tubuh manusia beast tersebut pun kembali ke wujud asal nya, dari kepalanya yang terpotong essensi magnet pun mulai muncul dan melayang.
"Wah.... Jakpot lagi nih,"
"Sepertinya yang barus saja muncul dari kepalanya adalah Essensi Magnet." Gumam Arung, lalu mulai menyimpan essensi dan tubuh Beast tersebut.
Ia pun kemudian menoleh ke sekeliling nya, asap hitam pun perlahan menghilang setelah kematian makhluk tersebut. Arung kemudian menoleh ke arah Nona Clark dan Parson yang tengah terluka.
"Nona cantik itu seperti nya terluka parah dan dalam kondisi kritis,"
"Sebaik nya aku segera menolong Kultivator Cantik itu terlebih dahulu, baru beranjak menolong Luna." Gumam Arung, lalu mulai terbang ke arah Nona Clark dan Parson.
Di arena.
Beberapa saat kemudian Pendekar Naga pun tiba di dekat tubuh Nona Clark dan Parson yang terluka parah. Parson dan Nona Clark pun dapat mendengar dan melihat pertarungan mereka sejak tadi.
"Terima kasih Pendekar Muda, karena sudah menyelamatkan kami dan membunuh makhluk buas itu." Ucap Parson.
Setelah medan gravitasi tinggi menghilang Parson pun sudah dapat kembali bergerak seperti sedia kala nya, ia pun mulai memapah Nona Clark dan menyandarkan tubuh nya di dekat pinggiran dinding tribun.
"Sebagai sesama Pendekar kita hidup harus saling tolong menolong Tuan, hari ini aku menolong Tuan mungkin esok hari aku akan di tolong oleh Tuan." Ucap Arung.
Parson pun takjub dengan perkataan Arung tersebut.
"Tidak kusangka Pemuda ini merupakan seorang Pendekar Sejati yang menjunjung tinggi kebenaran." Gumam Parson.
"Hah..... Hah...... Hah........ " Suara Nafas Terputus-putus Nona Clark.
"Nona Clark..... " Gumam Parson.
Melihat teman nya yang bernafas terputus-putus Parson pun panik dan mulai berjalan mondar-mandir di hadapan nya.
"Aduh bagaimana ini?"
"Sepertinya dia sudah sangat kelelahan dan telah kehabisan tenaga dalam dan juga terluka parah, aku khawatir dia tidak akan selamat setiba nya di Rumah Sakit." Ucap Parson.
Arung pun lalu mengeluarkan sebutir Pil Naga lalu mengunyah nya di dalam mulut nya lalu meminum segelas air mineral.
"Apa yang hendak di lakukan Pendekar Muda ini,"
"Yang cedera Nona Clark, kenapa jadi dia yang meminum obat nya,"
"Apakah ini metode pengobatan terbaru, seperti nya dia juga seorang Tabib,"
"Kami sungguh beruntung." Gumam Parson, saat melihat tindakan Arung.
Arung sudah pernah mengalami kondisi yang sama seperti yang di alami oleh Nona Clark saat terkena Racun Pohon Kematian dan tidak bisa bergerak, Xiao Mei Mei pun meminumkan penawar racun dengan cara mengunyah nya di mulutnya agar mudah di telan kemudian menyalurkan tenaga dalam nya.
"Aku akan mencobanya sekarang, Nona Cantik maaf kan aku." Gumam Arung, lalu mendekati Nona Clark kemudian meminumkan Pil Naga yang telah encer dari mulut nya tersebut ke mulut Nona tersebut.
"Ugh........ Apa yang di lakukan Pemuda Berambut Biru ini, kenapa dia mencumbu ku." Gumam Nona Clark, saat di minumkan Pil Naga oleh Arung.
Beberapa saat kemudian Nona Clark pun baru menyadari nya saat cairan encer mulai memasuki tenggorokan nya.
"Ugh..... ternyata dia meminum kan obat untuk ku, padahal aku sudah sedikit berharap dia menciumku tadi,"
"Wanita mana yang tidak akan jatuh cinta melihat Pendekar setampan itu, aku rela di madu." Gumam Nona Clark.
"Apa....ternyata dia meminum kan pil encer tersebut dari mulut nya, sungguh mmetode pengobatan yang mesum." Gumam Parson.
Beberapa saat kemudian Arung pun telah selesai meminumkan Pil Naga Encer tersebut, lau mulai duduk bersimpuh berniat menyalurkan tenaga dalam nya ke tubuh Nona Clark.
"Tuan, tolong bantu aku memegang tubuh Nona Cantik ini." Ucap Arung.
"Sepertinya dia akan memulai pengobatan lanjutan nya." Gumam Parson.
"Baik Pendekar Muda." Ucap Parson, lalu membantu Nona Clark duduk bersimpuh dan memegangi nya.
Arung pun mulai menyalurkan tenaga dalam nya ke punggung Nona Clark, aura berwarna-warni pun mulai muncul di sekeliling nya Parson yang melihat hal tersebut pun terkejut.
"Apa............. "
"Pendekar Muda ini ternyata seorang Sage, wajar saja jika dia berhasil membunuh Naga Magnet Surgawi tersebut." Gumam Parson.
Tampak Nona Clark mengalami sensasi yang membuat nya nyaman saat tenaga dalam tersebut mengalir di dalam nya.
"Ugh..... Pembuluh-pembuluh darah ku terasa hangat sekali, seperti nya aku tidak jadi mati karena Pemuda Tampan Berambut Biru ini,"
"Dia telah menyelamat kan ku, sebagai murid dari Sekte Kupu-kupu Hantu aku harus menikahinya,"
"Untuk membalas budi baik nya." Gumam Nona Clark.
Arung tidak menyadarinya, di dalam Sekte Kupu-kupu Hantu terdapat sebuah peraturan dimana harus menikahi penyelamat jiwa nya bagi lawan jenis. Jika penyelamat nya sejenis maka mereka harus mengabulkan satu permintaan nya.
"Kenapa firasat ku gak enak banget ya, saat menyelamatkan Gadis Cantik ini?" Gumam Arung.
Kembali ke Perbatasan Kota.
Tampak kobaran api dimana-mana, banyak tubuh Prajurit-prajurit yang tewas begitu pula dengan Naga-Naga Magnet Surgawi tersebut. Saat ini sudah 2000 prjurit yang tewas dan 50 ekor Naga Magnet Surgawi yang tersisa.
"Aurghhhh hhh........... " Raungan Pimpinan Naga Magnet Surgawi yang telah memenangkan pertempuran melawan Naga Salju Api.
Beast Kontrak itu pun mulai menoleh ke arah Jendral Es, tampak tubuh Naga Salju Api tersebut dipenuhi luka dan berdarah.
"Ugh.... Maafkan aku Jendral Es, seperti nya aku tidak kuat lagi melawan Naga Magnet Surgawi ini." Gumam Gatot Angkara, lalu mulai menerjang ke arah Naga Magnet Surgawi tersebut lalu berniat menerkam nya.
"Dasar bodoh, kau seharusnya kembali ke Planet Asalmu Beast Kuno." Ucap Naga Magnet Surgawi, lalu menembakkan bola magnet dari dalam mulutnya.
"Gawat...... " Gumam Naga Salju Api.
"Duarghhh..................... " Suara ledakan akibat serangan tersebut.
Naga Salju Api pun menghilang setelah nya dan kembali ke Planet Asalnya.
"Gatot........ " Gumam Jendral Es.
Tampak Jendral Es telah berhasil mengumpulkan seluruh tenaga dalam yang di perlukan untuk mengerahkan Jurus Tapak Salju nya.
"Terima kasih Gatot." Gumam Jendral Es, lalu mulai meremas kepalan tangan nya.
Puluhan Tapak Salju pun bermunculan di sekitar Naga Magnet Surgawi tersebut.
"Apa ini.........?"
"Kenapa ada banyak sekali telapak tangan putih di sekitar ku." Gumam Naga Magnet Surgawi.
Puluhan Tapak Salju pun mulai menghantam tubuh pimpinan makhluk buas tersebut secara serentak.
"Rasakan kau....... " Gumam Jendral Es.
"Duargh hhhh......... Duarghhh.......... Duarghhh..... " Suara ledakan yang dahsyat akibat serangan yang dahsyat tersebut.
"Aurghhhhhh.................... " Raungan kesakitan Pimpinan Naga Magnet Surgawi tersebut.
"Groaggghhhhh............... " Suara getaran bangunan benteng perbatasan yang di akibatkan kan oleh ledakan dahsyat tersebut.
"Whusss............... " Suara hempasan angin yang hebat akibat ledakan tersebut.
Pertarungan lain nya pun terhenti untuk sementara waktu, tampak tubuh pemimpin dari makhluk-makhluk buas itu terpental ke tanah.
"Duagh................... " Suara tubuh makhluk raksasa itu saat terpental ke tanah.
Keadaan pun menjadi sunyi sejenak di perbatasan Kota tersebut, Jendral Es pun terlihat sudah kehabisan seluruh tenaga nya namun makhluk-makhluk buas itu tidak berani mendekati nya.
"Hah..... Hah....... Hah...... " Suara nafas terengah-engah Jendral Es.
"Apakah makhluk buas itu sudah mati, jika belum itu gawat." Gumam Jendral Es.
Kembali ke arena di Stadium Awan Hitam.
Saat ini Arung masih membantu memulihkan kondisi Nona Clark di sekitaran arena, tampak Parson pun sedang bermeditasi di sekitar nya.
"Duarghhhh................ " Suara ledakan terdengar dari arah perbatasan Kota Awan Hitam.
Arung pun terkejut mendengar suara ledakan yang sangat dahsyat tersebut begitu pula Parson dan juga Nona Clark.
"Luna, gawat kekasih baru ku,"
"Akan susah jika aku terjebak di sini tanpa seorang pendamping, siapa yang akan memasakkan makanan-makanan lezat di pagi, siang, dan malam hari." Gumam Arung, lalu bangun dari meditasi nya.
Yang dimaksud nya makanan saat di malam hari adalah nafkah bathin yang selalu di lakukan Luna. Kondisi Nona Clark saat ini sudah lepas dari kondisi kritis dan sudah bisa berbicara dan mulai menggerakkan tubuh nya.
"Kenapa dia berhenti, padahal aliran tenaga dalam yang mengalir di dalam pembuluh-pembuluh darah ku sangat hangat." Gumam Nona Clark, seperti nya mulai terbius oleh kemampuan Dragon Love nya milik Arung.
"Kemana Pendekar Sejati itu akan pergi?" Gumam Parson.
"Tuan tolong jaga Nona Cantik ini, aku akan membantu mereka yang berada di perbatasan kota saat ini." Ucap Arung, mulai melangkah kan kaki nya berniat melesat terbang.
"Baik Tuan Pendekar." Gumam Parson, takjub melihat tekad baik Arung.
"Sungguh Pendekar berhati mulia, jika aku memiliki Putri seumuran dengan nya,"
"Aku pasti akan menikahkan Putri ku dengan nya." Gumam Parson, dia belum menyadari maksud sebenarnya Arung kesana untuk menyelamatkan Luna agar nafkah bathin nya selama di masa lalu ini terpenuhi.
"Tuan Pendekar, sebelum kau pergi beritahukan lah nama mu terlebih dahulu?" Tanya Nona Clark, yang sedang duduk bermeditasi.
Arung pun menghentikan langkah kaki nya, lalu menoleh ke belakang.
"Akan berbahaya jika aku memberitahukan nama asli ku, aku khawatir sejarah akan berubah,"
"Slah satu sejarah yang berubah adalah sejarah aku telah meniduri kekasih teman baikku sendiri." Gumam Arung.
Beberapa saat kemudian, ia pun baru memberi tahu kan nama samaran nya.
"Panggil saja Aku Pendekar Naga." Ucap Arung, lalu terbang meninggalkan mereka.
"Whusss.......... " Suara hempasan angin saat dia terbang.
"Ugh.... Nama yang sangat keren saat aku aku berjumpa lagi dengan mu aku akan memberikan essensi kultivator ku." Gumam Nona Clark, lalu mulai kembali bermeditasi berniat memulihkan diri nya.
"Pendekar Naga, aku akan mengingat nya." Gumam Parson.
"Ugh.. Kenapa firasatku tidak enak ya?" Gumam Arung, saat mulai melesat terbang dari arena.
__ADS_1