Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
Racun Tapak Ular Beracun


__ADS_3

Di Dalam Bola Penjara Pohon Dewa Air.


Dalam sekejap mata Jendral Es dan Arung pun berada di atas dahan pohon raksasa tersebut.


"Brukkkk....... " Suara Tapak kaki Arung dan Mitha saat ke luar dari dalam bola ruang tersebut lalu mendarat ke atas dahan pohon.


Mitha pun mulai mengamati sekeliling daratan putih tersebut lalu berniat mencari Gadis Psikopat yang menampar nya saat itu.


"Mana Gadis Psikopat yang telah menyiksa ku saat itu." Gumam Mitha.


"Arung kau tunggu lah di sini aku akan membunuh Gadis Psikopat tersebut terlebih dahulu, ini perintah." Perintah Jendral Es, lalu terbang meninggalkan Arung.


"Huft............... " Suara nafas panjang Arung.


"Belum sempat aku menjawab perkataan dari nya dia sudah pergi saja,"


"Dasar Jendral Es kalau di dalam mansion aja selalu mengekor pada ku." Gumam Arung, lalu duduk bersantai.


Ia sangat yakin Jendral Es akan memenangkan pertarungan tersebut, karena ranah nya saat ini sangat tinggi dan juga sangat kuat.


Beberapa saat kemudian.


Jendral Es pun mulai melayang lalu mengamati daratan putih di bawah nya.


"Kemana Gadis Psikopat tersebut?" Gumam Mitha.


Beberapa saat kemudian.


"Aha.................. "


"Itu dia Gadis Psikopat yang telah menampar ku saat itu, ugh darah ku mendidih saat melihat nya." Gumam Jendral Es yang telah menemukan orang yang ia cari-cari.


Saat ini Ketua Sekte Iblis Beracun tengah duduk bermeditasi di kelilingi oleh ratusan Beast ular berwarna-warni dan belum menyadari kehadiran Jendral Es.


"Hei Gadis Ular, hari kematian mu telah tiba,"


"Hari ini adalah hari pembalasan mu." Teriak Jendral Es.


Mendengar perkataan Jendral Es, Ketua Sekte Iblis Beracun pun mulai membuka kedua mata nya lalu bangun dan menengadah kan kepala nya ke atas.


"Aduh... Ternyata Gadis yang ku tampar saat itu, kenapa ranah nya bisa melesat secepat itu,"


"Aku tidak yakin bisa menang melawan nya saat ini." Gumam Ketua Sekte Iblis Beracun, lalu terbang ke atas berniat bernegosiasi.


"Ternyata Nona yang ku tampar satu bulan yang lalu merupakan seorang kultivator yang sangat hebat, tidak bisakah kita membicarakan kesalahpahaman kita di masa lalu tersebut Nona."


"Nama ku Shayla Poison Snake dan aku adalah Ketua Sekte Iblis Beracun, jika kau membunuh ku,"


"Para Tetua dan murid di sekte ku akan mengejar mu Nona." Ucap Shayla, sambil membungkuk dan memberi hormat.


"Hah............ " Suara nafas panjang Jendral Es.


"Jika aku tidak membunuh mu saat ini, mau di taruh di mana muka ku." Ucap Jendral Es, lalu mengeluarkan Kipas Dewi Es Surgawi nya.


"Gadis Es yang sombong,"


"Sial.... Siapa dia, kenapa dia tidak gentar setelah mendengar nama Sekte ku,"


"Dia seperti nya sudah berniat menyerang." Gumam Shayla, lalu mengeluarkan Sarung Tangan Ular Hijau milik nya.


Sarung Tangan Ular Hijau merupakan senjata suci di ranah alam Iblis puncak dan merupakan salah satu pusaka dari Sekte Iblis Beracun.


"Walaupun ranah mu sangat tinggi saat ini, tapi jurus-jurus ku sangat lah beracun Nona,"


"Coba pikir kan kembali saran ku sebelum nya." Ucap Shayla.


Jendral Es pun kembali mengingat pertarungan nya dahulu saat melawan Beast Kelabang Surgawi di Dasar Jurang Kaki Bukit Siluman, saat itu dia terkena racun tanpa di sadari nya dari asap yang di timbulkan oleh serangan api beracun tersebut.


"Ugh.... Racun itu sangat berbahaya, sebaik nya aku memasang perisai kultivasi es di sekitar ku, agar racun tidak dapat mengenai ku." Gumam Jendral Es, lalu mengayunkan lengan nya.


Sebuah Perisai Kultivasi Es pun mulai membungkus tubuh nya.


"Sepertinya dia memiliki pengalaman bertarung dengan kultivator tipe racun, baik lah aku akan mencoba menyerang nya terlebih dahulu." Gumam Shayla, lalu mulai melesatkan serangan semburan api hitam beracun dari telapak tangan nya.


"Whusss......... Suara semburan api hitam beracun saat sedang melesat.


"Apa dia ingin bermain-main dengan ku dengan serangan lemah seperti itu." Gumam Jendral Es, lalu mulai mengayunkan kipas nya.


Ribuan pedang angin muncul di sekitar Jendral Es lalu mengarah ke arah Shayla.


"Apa itu?" Gumam Shayla.


Ribuan pedang angin pun mulai menghempaskan semburan api tersebut lalu mencabik-cabik tubuh Shayla hingga terluka parah.


"Whuuusssss........... " Suara hempasan Angin Pedang-Pedang Angin saat melesat.


"Akhhh.......... Akh.... Akhhh...... " Teriak kesakitan Shayla.


"Duargh.... Duarghhh..... Duarghhh..... " Suara ledakan saat pedang-pedang angin menghantam daratan putih.


"Brukkkk......... " Suara tubuh Shayla saat jatuh ke daratan putih.


"Ughh..... Aku tidak bisa meremehkan wanita es itu dia sangat kuat sekarang, jika tau akan begini aku pasti akan membunuh nya saat itu." Gumam Shayla, lalu mulai melesatkan Jurus Tapak Seribu Ular.


Ribuan energi petir berbentuk Ular pun melesat dari telapak tangan nya ke arah Jendral Es.


"Huft........... " Suara nafas panjang Jendral Es.


"Jurus mengerikan hanya saja kekuatan nya masih jauh di bawah ku." Gumam Jendral Es, lalu kembali mengayunkan kipas nya.


Ribuan pedang angin pun mulai melesat ke arah ribuan ular petir tersebut.


"Duarghhh...... Duarghhhh....... Duarghhhh..... " Suara ledakan akibat kedua elemen yang saling beradu.


Ternyata serangan tersebut adalah sebuah siasat dari Shayla, saat kedua serangan saling beradu ia pun melesat ke belakang Jendral Es lalu mengeluarkan Jurus Tapak Ular Beracun.


"Matilah kau Gadis Es." Teriak Shayla, lalu mengarahkan telapak tangan nya yang menghijau ke arah punggung Jendral Es.


"Apa ternyata serangan ular petir itu adalah siasat nya, gawat Tapak itu sangat beracun." Gumam Jendral Es, lalu berbalik berniat menghadang serangan nya.


Arung yang melihat Tunangan nya dalam kondisi yang berbahaya pun langsung berteleport ke belakang punggung Jendral Es bermaksud menahan serangan Tapak Ular Beracun tersebut.


Di dahan pohon raksasa.


"Serangan itu sangat beracun, Mitha bisa terluka parah olehnya." Gumam Arung, lalu berteleport ke belakang punggung Jendral Es.


Di langit di atas Daratan Putih.


"Blitzz............... " Suara jurus teleportasi milik Arung.


"Dup................. " Suara kedua telapak tangan saat saling beradu.


"Ugh..... telapak tangan ku serasa terbakar, panas sekali." Gumam Arung.


"Siapa pemuda bodoh ini, kenapa ia berani-berani nya beradu telapak tangan dengan ku." Gumam Shayla.


Kedua tenaga dalam pun saling beradu, sehingga menghasilkan ledakan yang mementalkan mereka berdua.


"Duarghhh........... " Suara ledakan akibat kedua telapak tangan yang saling beradu.


"Akh........... " Teriak Arung, lalu memuntahkan darah hijau yang kental.


Ia pun terpental ke arah Tunangan nya, Jendral es pun kemudian menangkap tubuh kekasih nya tersebut.


"Akh......... " Teriak Shayla, lalu terpental hingga ke daratan putih.


"Duagh............ " Suara saat tubuh Shayla terhantam ke daratan putih.


Jendral Es pun sangat marah dengan perbuatan Shayla yang telah melukai kekasih hati nya tersebut, ia pun mulai mengayunkan kipas nya untuk yang ketiga kali nya dengan kekuatan penuh.


"Rasakan ini Gadis Ular.' Teriak Jendral Es.


Ribuan pedang angin kembali melesat dan memotong-motong tubuh Shayla hingga tak bersisa.


"Akhhh............ " Teriakan terakhir Shayla saat tubuh nya tercabik-cabik menjadi debu.


"Brukkk............ " Suara cincin ular dan Sarung Tangan Ular Hijau yang jatuh ke tanah.


"Whuss............ " Suara hempasan angin sepoi-sepoi.


Jendral Es dan kekasih hatinya pun perlahan turun ke daratan putih tersebut berniat memulihkan tenaga dalam nya.


"Dup....... " Suara Tapak kaki mereka berdua saat menyentuh tanah.


"Bagaimana kondisi mu Arung?" Tanya Mitha.


"Ugh..... Ada yang aneh Mitha sepertinya tenaga dalam ku sedikit demi sedikit mulai menghilang." Ucap Arung.


"Uhuk...... Uhuk..... Uhuk..... " Suara batuk Arung, lalu mengeluarkan darah hijau yang kental kembali.


"Coba lihat tangan mu Arung." Ucap Mitha.


Ia pun memperlihatkan telapak tangan nya kepada Mitha, di telapak tangan nya tersebut terdapat sebuah tato ular hijau yang menyebabkan kebocoran tenaga dalam dari arah tato tersebut.


"Aku merasakan samar-samar tenaga dalam nya keluar dari tato di tangan kanan nya ini," Gumam Mitha.


"Ini adalah racun yang sangat ganas, duduk lah Arung aku akan mencoba menstabilkan nya untuk sementara." Ucap Mitha.


"Baiklah Mitha." Ucap Arung, lalu duduk bersimpuh.


"Ugh...... tanganku terasa sangat panas, seolah-olah akan melepuh." Gumam Arung.


Mitha pun mulai duduk bersimpuh di belakang punggung Arung lalu mulai menyalurkan sebagian tenaga dalam nya ke dalam tubuh Tunangan nya tersebut.


"Akh......... " Teriak Arung, lalu kembali memuncrat kan darah hijau dari dalam mulut nya.


"Kenapa bisa sesakit ini, padahal aku baru saja menikmati kehidupan ku bersama Mitha selama sebulan ini." Gumam Arung.


Kebun Tembakau Ular.


Saat mendengarkan suara ledakan, bunga pun meninggalkan kebun tembakau ular nya lalu beranjak ke tempat asal suara ledakan tersebut.


"Sepertinya Ketua sedang bertarung, sebaiknya aku melihat nya." Gumam Bunga, lalu beranjak pergi menuju arah suara ledakan tersebut.


Kembali ke Arung dan Mitha.


Beberapa menit kemudian Bunga pun tiba ke lokasi tersebut, lalu menghampiri mereka.


"Bukan kah itu Arung, kenapa dia begitu tampan saat ini?"


"Sebaik nya aku memastikan nya, aku sangat yakin pemuda tampan itu adalah rekan setim ku." Gumam Bunga, lalu mulai menghampiri dan menyapa mereka.


"Arung kau kah itu?" Tanya Bunga, yang masih mengamati mereka berdua dan menjaga jarak nya.


"Suara nya terdengar akrab, siapa gadis ini ya?" Gumam Arung.


Ia pun mulai membuka kedua mata nya setelah mendengarkan suara tersebut.


"Lho..... kenapa ada seorang gadis cantik di sini, lalu kenapa dia bisa mengenal Tunangan ku,"


"Mungkinkah yang di katakan oleh gadis yang menelpon nya saat itu adalah benar,"


"Bahwa Arung memang merupakan seorang Pendekar Don Juan?" Gumam Mitha.


"Bunga, syukurlah kau masih hidup,"


"Kenapa kau bisa berada disini?" Tanya Arung.


"Oh jadi namanya Bunga, mungkinkah dia adalah bunga malam?" Gumam Mitha, sambil terus. menyalurkan tenaga dalam nya.


"Ceritanya panjang Arung, sepertinya kau terkena Tapak Ular Beracun,"


"Kau harus segera menghisap tembakau ular untuk menetralisir racun tersebut." Ucap Bunga.


"Tembakau Ular, komoditi apa itu,"


"Dari namanya saja sudah terdengar menjijikkan." Gumam Mitha.


Saat berada di dalam Mansion Putri Naga Kecil, Arung sudah memeriksa semua isi cincin ruang yang ia temukan, lalu memasukkan semua nya ke dalam cincin es pemberian Mitha.


"Oh iya.........mungkinkah tembakau hijau itu merupakan tanaman hijau yang ada di dalam cincin milik assasin yang menyerang ku saat di dalam tribun dalam tersebut?" Gumam Arung, lalu mulai mengeluarkan tembakau dan pipa hisap dari dalam cincin es nya.


"Sepertinya Gadis Cantik ini teman nya, patut saja gadis yang menelpon Arung memanggilnya Pendekar Don Juan,"


"Sampai di tempat beginian pun dia memiliki kenalan seorang Gadis Cantik, dasar Pendekar Don Juan." Gumam Mitha, lalu menggeleng-geleng kan kepala nya sambil terus menyalurkan tenaga dalam nya.


"Apakah seperti ini Bunga?" Tanya Arung.


Bunga pun mengamati tembakau dan pipa hisap emas yang di tunjukkan oleh Arung.


"Benar Arung, cepat hisap lah." Ucap Bunga.


"Mendengar nya mengatakan cepat hisap lah membuat hatiku terasa sedikit kesal." Gumam Mitha.


Arung pun lalu mulai menaruh tembakau tersebut di dalam pipa hisap lalu mulai menghisap nya. Ia tidak pernah merokok seumur hidup nya, saat tarikan pertama ia pun mulai terbatuk.


"Uhuk.... Uhuk.... Uhuk...... " Suara batuk Arung.


"Hisap terus Arung." Ucap Bunga.


"Baik.... Baik.... " Ucap Arung.


"Uhuk.... Uhuk.... Uhuk...... " Suara batuk Arung.


"Apa mungkin akan berhasil?" Gumam Mitha.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, tampak kondisi Arung sudah mulai membaik setelah menghisap tembakau ular tersebut.


"Whusss............ " Suara hembusan rokok Arung.


"Sepertinya berhasil Mitha." Ucap Arung.


"Wah.... Syukurlah, Terima kasih ya Bunga, namaku Mitha." Ucap Mitha.


Bunga pun mulai mengamati Mitha, lalu mulai menyadari kalau Mitha adalah Jendral Es.


"Jendral Es,... Kau adalah Jendral Es." Ucap Bunga.


"Fiuh.......... Mohon maaf Jendral aku tidak mengenali mu saat ini." Ucap Bunga, lalu mulai membungkuk dan memberikan hormat kepada sang Jendral.


"Jangan terlalu formal Bunga, panggil saja aku Nona Mitha,"


"Coba cerita kan bagai mana kau bisa berada disini." Ucap Jendral Es.


"Begini ceritanya Jendral Es............ " Ucap Bunga, lalu mulai menceritakan nya.


Ia ternyata di culik oleh Ketua Sekte Iblis Beracun untuk di jadikan budak nya saat di di Rawa Siluman Air saat ia terjebak di dalam kabut Ungu. Saat hendak kembali ke Pulau Iblis Ular mereka tanpa sengaja masuk kedalam Pulau Terlarang Awan Hitam, lalu di segel di dalam Bola Penjara Pohon Dewa Air ini.


"Oh....... Jadi begitu, berarti saat ini kita berada di dalam sebuah Bola Penjara Pohon Dewa Air." Ucap Jendral Es.


"Benar Jendral Es." Ucap Bunga.


"Tenang saja Mitha, sepertinya tenaga ku sudah pulih sebaik nya kita keluar dari dalam bola ini segera." Ucap Arung.


"Kenapa Arung dengan santai nya memanggil Jendral Es dengan sebutan Mitha, apa yang telah aku lewatkan selama beberapa bulan ini mengurus Kebun Tembakau Ular,"


"Lalu ranah nya pun sudah sangat tinggi melebihi kekuatan ku saat ini, bahkan dia jauh lebih kuat dari pada Nia." Gumam Bunga.


Arung pun lalu bangun dan menyimpan pipa hisap nya.


"Bunga sampai kapan aku harus menghisap tembakau ular ini?" Tanya Arung.


"Aku juga tidak tahu Arung, tapi jika habis kau dapat memanen nya di kebun tembakau yang telah ku tanam dan ku rawat di sana." Ucap Bunga, lalu menunjukkan kebun tembakau ular di dekat pohon raksasa.


"Sepertinya aku harus menyimpan bola aneh ini." Gumam Arung.


"Baiklah mendekat lah Mitha." Ucap Arung.


"Baiklah Sayang." Ucap Mitha, lalu mendekat dan memeluk pinggang Arung.


Mendengar Jendral Es memanggil Arung dengan sebutan sayang, Bunga pun membeku untuk beberapa saat.


"Sayang.....?"


"Bagaimana mungkin seorang Jendral Es sekaligus wanita tercantik di Benua Es Api ini bisa menyukai seorang calon Prajurit, pasti Arung menggunakan sebuah pelet." Gumam Bunga.


"Bunga kemari lah, kita akan segera pergi." Ucap Jendral Es.


"Sebenarnya aku sedikit risih memeluk Arung, hanya saja ini adalah sebuah perintah dari Jendral Es,"


"Jadi aku harus mematuhi nya." Gumam Bunga.


"Siap Jendral." Ucap Bunga, lalu berjalan mendekati Arung kemudian memeluk nya juga.


"Ya pasti Arung memakai pelet ke Jendral Es, aroma tubuh nya saja sangat harum,"


"Mana ada laki-laki yang memiliki aroma tubuh seharum ini." Gumam Bunga, sambil memeluk nya.


Saat ini kedua gadis cantik tersebut sedang memeluk Arung dengan erat nya.


"Ugh..... Baiklah aku akan mencobanya sekarang." Gumam Arung.


Aura berwarna-warni mulai muncul di sekitar tubuh mereka bertiga, menandakan Jurus Teleportasi akan segera di kerahkan.


"Wah.... Baru kali ini aku melihat aura berwarna-warni seperti ini, hanya seorang Sage yang bisa mengeluarkan aura berwarna-warni seperti ini,"


"Bahkan Arung telah menjadi seorang Sage saat ini." Gumam Bunga.


Saat ini Arung tengah berkonsentrasi penuh untuk segera melesatkan Jurus Teleportasi.


"Rasakan energi alam di sekitar ku, lalu sinkron kan jumlah tenaga dalam di dalam dantian ku." Gumam Arung, lalu melesatkan jurus tersebut.


"Blitzzzz.................. " Suara jurus teleportasi milik Arung.


Dalam sekejap mata mereka bertiga pun berada di dalam Dasar Danau.


Dasar Danau Langit.


"Blurpppppppppp........... " Suara saat mereka berada di dalam Dasar Danau tersebut.


Arung pun mulai melepaskan pelukan ke dua gadis cantik tersebut, dan mulai menyimpan bola biru raksasa tersebut ke dalam cincin ruang milik nya.


"Ugh..... Ternyata kita benar-benar bisa keluar, tapi cepat lah Arung kita keluar dari sini,"


"Aku sudah hampir kehabisan nafas." Gumam Bunga, sambil menahan nafas.


Sementara itu Jendral Es tetap tenang sambil menahan nafas nya, Arung pun lalu kembali dan memeluk tubuh kedua Gadis Cantik tersebut berniat kembali melesatkan jurus teleportasi tersebut.


"Baiklah Nona-nona." Ucap Arung, lalu mulai memasang kuda-kuda jurus teleportasi.


"Lho.......kenapa Arung bisa berbicara di dalam air, ini sangat aneh?"


"Ugh........ Nafasku." Gumam Bunga.


"Blitzzzz................... " Suara jurus teleportasi milik Arung.


"Blurpppppppppp....... " Suara gelembung air saat mereka telah meninggal kan dasar Danau tersebut.


Di langit di atas Danau Langit.


Dalam sekejap mata mereka bertiga pun berada di atas langit. Arung dan Bunga pun jatuh ke bawah sementara itu Jendral Es melayang di atas danau tersebut. Selendang emas pun mulai memanjang lalu membalut kedua tubuh mereka sehingga tidak jadi terjatuh dan ikut melayang bersamanya.


"Baiklah kita akan berganti pakaian terlebih dahulu, baru aku akan mengantarkan kalian berdua kembali ke Kota Awan Hitam,"


"Lalu aku akan kembali Ke Ibu Kota setelah nya." Ucap Mitha, sambil terbang ke tepian Danau bersama yang lain nya.


"Mitha aku dan Bunga akan kembali terbang menggunakan Pedang Terbang, kalau kau buru-buru kembali ke Ibu Kota,"


"Maka kembali lah terus." Ucap Arung.


"Pedang Terbang, apa itu?" Gumam Bunga.


"Oh iya............aku sampai lupa kalau Arung memiliki pusaka Pedang Terbang tersebut." Gumam Mitha.


"Baiklah Arung, tapi kau harus kembali ke Ibu Kota setelah segala urusan mu selesai di Kota Awan Hitam tersebut, ini adalah perintah." Perintah Jendral Es.


"Siap Jendral Es." Ucap Arung.


"Aku masih bingung kenapa Arung bisa mengenal Jendral Es, sebenarnya mereka memiliki hubungan seperti Apa?" Gumam Bunga.


Mereka bertiga pun sampai di tepian danau lalu mulai berganti pakaian di balik pepohonan di sekitar nya. Setelah itu Jendral Es pun berpamitan dengan Arung lalu mulai melesat terbang kembali ke Ibu Kota Kerajaan, sedangkan Arung dan Bunga kembali ke Kota Awan Hitam menggunakan Pedang Terbang.


Di dalam kamar Ratu Racun


Saat ini Ratu Racun yang juga merupakan seorang penguasa kerajaan tersebut tengah bermeditasi di atas seekor Beast Ular berwarna Putih di dalam kamar nya. Tampak cahaya giok pada kalung nya mulai meredup memberikan pertanda adik nya yang juga merupakan Ketua Sekte Iblis Ular Beracun telah tewas.


"Shayla..... " Gumam Ratu Racun, sambil meneteskan air mata di pipi nya.


"Hiks....... hiks....... hiks........ " Tangis Ratu Racun lalu menyeka air matanya.


Beberapa saat kemudian.


"Siapa yang berani membunuh adik ku, dia harus membalas nya dengan nyawa nya,"


"Membunuh adik ku sama juga dengan mencoreng wajah ku, aku harus menyelidiki kematian adik ku dan membalaskan dendam nya." Gumam Ratu Racun, lalu berdiri dan meninggalkan ruangan nya.


Koridor Istana.


Ia pun berjalan di koridor istana nya, siapa pun yang bertemu dengan nya selalu membungkuk dan memberi hormat.


"Semoga panjang umur Ibu Ratu." Ucap salah satu petinggi di Kerajaan tersebut.


Ratu Racun hanya melambaikan tangan nya lalu beranjak masuk ke dalam aula singgasana kekuasaan nya. Tampak di dalam aula singgasana tersebut para menteri dan jenderal-jenderal nya tengah duduk di kiri dan kanan ruangan tersebut lau langsung berdiri saat ia mulai memasuki ruangan tersebut.


"Semoga panjang umur Ibu Ratu." Ucap kompak para Jendral dan pejabat tinggi lain nya.


Ratu Racun pun duduk di atas singgasana kekuasaan nya tersebut, para Jendral dan Pejabat Tinggi lain nya pun kembali duduk di tempat nya masing-masing.


Beberapa saat kemudian.


"Perdana Menteri Racun, adik ku telah di bunuh oleh seseorang,"


"Walaupun Kerajaan ini harus ber perang, pembunuh itu harus kita bunuh." Ucap Ratu Racun.


Sontak saja seluruh aula menjadi riuh saat mendengarkan berita duka seperti itu.


Beberapa saat kemudian,


"Saya akan menyelidiki nya Ratu Racun, saya tidak akan berhenti sampai pembunuh itu bisa di temukan." Ucap Perdana Menteri Racun.


Kota Seribu Obat.


Saat ini Jendral Berserker sedang bersedih setelah di marahi habis-habisan oleh Kakak Pertama nya Perdana Menteri Azura. Kesedihan nya bertambah berat saat mengetahui berita dari Jendral Karna yang menyatakan Jendral Es baik-baik saja dan sedang berbulan madu dengan tunangan nya.


"Jendral Es kau sangat kejam, kenapa kau tidak mati di hari itu,"


"Aku sudah bertaruh dan kehilangan aset berharga ku di Kota Awan Hitam, tapi kau tak kunjung mati." Ucap Jendral Berserker.


Saat ini kelima Komandan yang menjaga nya pergi ke Kota Awan Hitam untuk ikut menstabilkan kondisi keamanan di sana pasca serangan Beast dan kemunculan bencana white hole.


"Padahal aku sudah melamar mu berkali-kali, namun kau selalu menolak ku,"


"Malahan saat ini kau bertunangan dengan seorang Prajurit yang berasal entah dari mana,"


"Dasar kau Jendral Keong Racun." Ucap Jendral Berserker.


Saat menyebutkan kata tunangan, kegalauan Jendral Berserker pun berubah menjadi kebahagiaan. Esok hari merupakan hari pertandingan jodoh Xiao Mei Mei yang akan di laksanakan di alun-alun Desa Tiger dan merupakan hari yang telah lama di tunggu-tunggu oleh Jendral Berserker.


"Oh iya...... Esok hari adalah hari yang telah kutunggu-tunggu, aku harus segera datang ke sana sekarang,"


"Akan kupastikan malam esok aku menghisap sari bunga matahari milik Calon Selirku yang ke tiga puluh." Ucap Jendral Berserker, lalu mulai membuka jendela kamar nya.


"Kraakkkkk........ " Suara jendela kamar yang terbuka.


"Ha..... Ha.... Ha....... " Tawa Jendral Berserker, lalu melesat terbang berniat pergi ke Desa Tiger.


Koridor Hotel Paviliun Racun.


Sementara itu di koridor hotel, Tetua Yaoyan sedang berjalan di dampingi oleh dua orang Gadis Cantik yang sangat sexi berniat ke kamar Patriak.


"Kalian berdua akan kuberikan bonus yang besar jika bisa menyenangkan Patriak ku malam ini." Ucap Tetua Yaoyan.


"Tenang saja Tetua Yaoyan, jika kau tidak percaya dengan kemampuan kami berdua kau bisa mencicipi kami terlebih dahulu." Ucap Salah Seorang Gadis Cantik tersebut.


"Benar Tetua, dijamin tetua merem melek malam ini." Ucap Gadis cantik yang lain nya.


"Hi.... Hi.... Hi.... " Tawa kecil kedua gadis cantik tersebut.


"Kalau dari bahasa yang mereka berdua sampaikan, mereka berdua adalah Kupu-kupu Malam yang berpengalaman dan sangat kotor." Gumam Tetua Yaoyan.


Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di depan pintu kamar Patriak, ia pun lalu mulai mengetuk pintu tersebut.


"Tok...... Tok...... Tok...... " Suara ketukan pintu.


"Patriak ini aku, Yaoyan." Teriak Yaoyan, lalu kembali mengetuk pintu tersebut.


"Tok...... Tok...... Tok...... " Suara ketukan pintu.


Beberapa saat kemudian.


"Sepertinya ada yang tidak beres di dalam, sebaik nya aku masuk." Gumam Tetua Yaoyan, lalu memegang gagang pintu berniat membuka nya.


"Krakkkkk............ " Suara pintu terbuka.


"Kok tidak di kunci, lalu kenapa jendela kamar terbuka?"


"Mungkinkah Patriak di culik, tapi tidak mungkin ada yang bisa menculik Patriak,"


"Patriak itu sangat licik, sebaik nya aku menunggunya saja dulu di sini." Gumam Tetua Yaoyan.


"Kalian berdua duduk lah dulu, kita akan menunggu Patriak ku kembali." Ucap Tetua Yaoyan, lalu duduk bermeditasi di atas ranjang.


"Baik lah sayang, jika Patriak mu gak ada,"


"Kami akan melayani mu sayang." Ucap salah satu Kupu-kupu malam tersebut.


Sementara itu kedua Kupu-kupu malam tersebut langsung tidur-tiduran di sekitar ranjang tempat Tetua Yaoyan bermeditasi.


"Gadis-gadis ini sungguh kotor." Gumam Tetua Yaoyan, saat mendengar perkataan salah satu Kupu-kupu malam tersebut.


Kembali ke Langit Kota Awan Hitam, saat Arung mulai pergi dari Pulau Terlarang Awan Hitam.


"Whusss.............. " Suara hempasan angin akibat Pedang Terbang yang menukik tajam.


Sementara itu Arung dan Bunga tengah duduk bersimpuh dengan lilitan akar di tubuhnya.


"Bunga sampai kapan aku harus menghisap tembakau ular ini?" Tanya Arung, sambil menghisap tembakau ular.


"Pertanyaan itu lagi, apa dia tidak mempercayai ku." Gumam Bunga.


"Setahu ku Arung sampai kau menemukan penawar nya, aku pun tidak tahu apa penawar dari Racun Tapak Ular Beracun tersebut." Ucap Bunga.

__ADS_1


"Hah........... " Suara nafas panjang Arung.


"Sepertinya aku memiliki sebuah PR untuk menemukan penawar dari racun yang sedang menggerogoti tubuh ku ini, aku akan coba tanyakan dengan Shilla nantinya,"


"Dia pasti mengetahui masalah racun ini, sebaik nya aku mencari tahu cara merawat atau menanam tembakau ular terlebih dahulu dari Bunga." Gumam Arung.


Beberapa saat kemudian.


"Bunga bagaimana cara kita merawat atau menanam tembakau ular tersebut?" Tanya Arung.


"Aku sudah menduganya kau akan menanyakan hal tersebut." Gumam Bunga, lalu mulai mengeluarkan sebuah kitab dari dalam cincin ruang milik nya.


"Ini ambillah Arung, aku sudah tidak membutuhkan nya lagi." Ucap Bunga, lalu memberikan sebuah kitab kepada Arung.


"Kitab apa ini, mungkinkah Bunga berniat mengeprank aku?" Gumam Arung, lalu mulai menyimpan Kitab tersebut.


"Ini adalah Kitab cara menanam dan merawat tembakau ular, saat ini kau lebih membutuhkan nya ketimbang aku Arung." Ucap Bunga.


"Iya Terima kasih banyak Bunga." Ucap Arung.


"Oh ia.......aku harus menanyakan nya sekarang mengenai hubungan nya dengan Jendral Es, si love killer itu." Gumam Bunga.


"Arung apa hubungan mu dengan Jendral Es, kenapa kalian terlihat begitu akrab?" Tanya Bunga.


"Huft................ " Suara hembusan nafas panjang Arung.


"Akhirnya dia menanyakan nya juga." Gumam Arung.


"Aku dan Jendral Es bertunangan saat ini, dan kami berencana menikah nanti nya." Ucap Arung.


Bunga pun membeku untuk sesaat.


"Ada yang gak beres dengan otak anak ini, mungkin ini akibat racun Tapak Ular Beracun yang membuat nya berhalusinasi seolah-olah menjadi tunangan Jendral Es,"


"Siapa yang akan percaya dengan mu Arung, walaupun kau sangat tampan dengan rambut biru mu kau tetap bukan level Jendral Es." Gumam Bunga.


Beberapa jam kemudian mereka pun tiba di perbatasan Kota Awan Hitam, Arung pun menurunkan Bunga lalu beranjak terbang kembali menuju Desa Tiger.


Perbatasan Kota Awan Hitam.


"Byurrrr................ " Suara hujan deras.


Setelah turun dari Pedang Terbang, bunga pun memandangi punggung Arung yang mulai perlahan mengecil.


"Arung saat ini sungguh berbeda, dia hanya berpamitan lalu langsung beranjak pergi lagi,"


"Apa aku kurang cantik, atau dia nya aja yang udah jadi seperti hantu,"


"Pergi dan hilang seperti hantu, ah... Sebaiknya aku kembali ke kediaman ku terlebih dahulu." Gumam Bunga.


Saat ini Bunga sepertinya telah terbius oleh kemampuan Dragon Love milik Arung. Sementara itu di dekat Gerbang masuk tampak seorang Pendekar berjubah hitam lalu memakai topi hitam bundar juga bercadar hitam sedang menelpon.


"Aku melihat seseorang yang sangat mirip dengan target kita, namun dia berambut biru bukan berambut merah,"


"Ini aku kirimkan foto nya." Ucap Pria Misterius tersebut melalui HP, lalu mulai mengirimkan foto tersebut melalui whatsapp milik nya.


"Bagus lanjutkan pengintaian tersebut, aku akan melaporkan nya kepada Black Rock." Ucap Pria Misterius lain nya, lalu menutup telpon nya.


Pria Misterius tersebut kembali mengintai siapa pun yang memasuki atau keluar dari Kota Awan Hitam tersebut.


"Hah............ " Suara nafas panjang pria misterius tersebut.


"Aku sudah mengintai di sini selama beberapa hari tapi Pendekar Play Boy itu tak kunjung tiba." Gumam Pria Misterius tersebut.


Tanpa disadari Arung nilai bounty nya telah naik menjadi 10 milyar koin emas, ternyata setelah Menteri Obat menelpon ada beberapa orang lainnya yang ikut serta menambah kan nilai Bounty bagi Arung. Saat ini Kelompok Assasin Black Rock yang sedang mengambil misi besar tersebut.


Kediaman Alba, di lantai 10.


"Byurrrr................. " Suara hujan deras.


Tampak Gisel tengah berlatih jurus langkah rubah dari kitab emas yang muncul secara tiba-tiba saat ia terbangun dari tidur nya.


"Ugh.... Aku memang pecundang, bahkan aku kalah dengan Friska,"


"Dia padahal tidak bisa membaca, tapi dia sudah berhasil menguasai Jurus Langkah Rubah." Ucap Gisel.


Tampak Rubah Putih tersebut tengah bergerak dengan cepat menggunakan Jurus Langkah Rubah di dalam ruang latihan tersebut.


"Baru kali ini aku melihat ada seekor Beast yang bisa menguasai suatu jurus, ini benar-benar aneh,"


"Sebaiknya aku memperhatikan nya saja, mana tahu aku bisa lebih cepat paham terhadap jurus tersebut." Gumam Gisel, lalu mulai mengamati Friska si Rubah Berekor Sembilan.


Beberapa saat kemudian.


"Hah..... " Suara nafas panjang Gisel saat mengingat Pendekar Don Juan.


"Pendekar Don Juan, kau ada di mana saat ini,"


"Setelah kau meledakkan hati ku berkeping-keping di atas arena tersebut kini kau tidak kunjung kembali,"


"Dasar Pendekar Don Juan." Teriak Gisel.


Di depan pintu ruang latihan.


Saat Gisel berteriak Nyonya Ya telah berdiri di depan pintu ruang latihan berniat mengajak nya makan malam.


"Ah.... Kasian Gisel masih terus bersedih gara-gara Arung yang bertunangan dengan Jendral Es, aku pun tidak bisa turut campur dengan masalah kali ini,"


"Di satu sisi Gisel, di sisi lain nya Jendral Es merupakan Pahlawan di Kekaisaran ini,"


"Ya sudah lah sebaik nya aku kembali saja, biar kan Gisel tenang terlebih dahulu." Gumam Nyonya Ya, lalu beranjak pergi.


Di dalam ruang latihan.


Akhirnya Gisel memahami cara untuk menguasai jurus Langkah Rubah tersebut, yaitu meledakkan tenaga dalam di telapak kaki secara konstan.


"Binggo..... "


"Baiklah akan ku coba." Gumam Gisel.


Gisel pun mencoba nya, lalu mulai meledakkan tenaga dalam di kakinya secara konstan. Ia pun berhasil menguasai Jurus Langkah Rubah tersebut lalu melesat kencang bersama Friska si rubah putih.


"Yihaa....... " Teriak Gisel, kembali melesatkan Jurus Langkah Rubah.


Di dalam kamar Hotel Patriak di Hotel Paviliun Racun cabang Kota Seribu Obat.


Tampak kedua Kupu-kupu malam telah bosan menunggu, Tetua Yaoyan pun juga telah lelah menunggu Patriak.


"Kemana Patriak, aku sudah menunggunya sejak tadi hingga malam,"


"Namun ia tak kunjung kembali." Ucap Tetua Yaoyan, lalu bangun dari meditasi nya dan berjalan mondar-mandir di depan ranjang.


Kedua Kupu-kupu malam yang mendengar perkataan Tetua Yaoyan pun menjadi khawatir jasa mereka akan segera di batalkan lalu mereka berdua pun mulai mengatur siasat nakal.


"Tetua Yaoyan, bolehkah kami menumpang mandi sudah sejak tadi badan kami gerah." Ucap kedua gadis tersebut kompak.


"Hah........... " Suara nafas panjang Tetua Yaoyan.


"Mereka berdua sampai kegerahan menunggu Patriak, kasian juga kedua Kupu-kupu malam tersebut." Gumam Tetua Yaoyan, lalu kembali duduk di ranjang.


"Ya sudah mandilah sana, yang bersih ya." Ucap Tetua Yaoyan mencoba bercanda.


"Kalau Tetua meragukan kebersihan kami mandi, ayo kita mandi bareng,"


"Akan ku bersihkan tubuh Tetua sekalian." Ucap Kupu-kupu malam tersebut.


"Tidak usah kalian saja yang mandi, tubuh ku masih bersih kok." Ucap Tetua Yaoyan.


"Hi..... Hi...... Hi....... " Tawa kecil kedua Kupu-kupu malam, lalu masuk ke dalam toilet.


"Pilihanku memang tepat, mereka berdua memang sangat profesional,"


"Tidak ada salah nya aku membayar mereka 1000 koin emas per malam." Gumam Tetua Yaoyan, lalu mengeluarkan sekaleng beer dari dalam cincin ruang milik nya.


15 menit kemudian, kedua Kupu-kupu malam telah selesai mandi tampak aroma wangi yang sangat menyengat dari dalam toilet sampai ke tempat Tetua Yaoyan berada.


"Ugh.... Gila banget wangi sekali, sabun apa yang mereka pakai?" Gumam Tetua Yaoyan, lalu meneguk beer beberapa kali teguk kan.


Tetua Yaoyan tidak mengetahui jika kedua Kupu-kupu malam tersebut sedang mengeluarkan elemen nafsu nya yang membuat tubuh mereka berdua menjadi sangat harum.


"Kraakkkkk.............. " Suara pintu toilet terbuka.


"Uhuk...... uhuk..... uhuk..... " Suara batuk Tetua Yaoyan akibat kesedak meminum beer.


"Apa.......... "


"Ugh..... Aku tidak kuat melihat nya." Ucap Tetua Yaoyan.


Tampak kedua Kupu-kupu malam hanya mengenakan sehelai handuk yang transparan lalu mulai menghampiri Tetua Yaoyan.


"Kau harus kuat Tetua." Ucap Kupu-kupu malam tersebut lalu mencium Tetua.


"Ugh..... Patriak maaf kan aku." Gumam Tetua Yaoyan, lalu membalas kembali ciuman nakal kedua Kupu-kupu malam tersebut.


Dari balik pintu hotel di dalam kamar Patriak pun mulai terjadi pergulatan nakal yang tidak di duga-duga akibat sang Jendral yang tak kunjung kembali.


"Kwak...... Kwak......... Kwak.......... " Suara Beast Gagak yang sedang lewat.


Sementara itu di atas langit.


Tampak Jendral Berserker tengah terbang menuju Klan Xiao di Desa Tiger berniat menghisap sari bunga matahari milik Xiao Mei Mei, sang Jendral tidak mengetahui kalau sari bunga tersebut telah terhisap habis saat di tepian Danau mematikan oleh sang Pendekar Don Juan yang merupakan seekor naga di antara Prajurit-Prajurit Kekaisaran Dewi Es.


"Hatsyimmm....... Hatsyimmm........ " Suara bersin Patriak.


"Ugh..... Siapa yang lagi membicarakan ku malam-malam begini, mungkinkah Mei Mei,"


"Dia pasti sedang menunggu kedatangan ku." Gumam Jendral Berserker.


"Ha...... Ha...... Ha......... " Tawa Jendral Berserker, lalu mulai menambah kecepatan terbang nya.


"Whusss.................. " Suara hempasan angin saat Jendral Berserker melesat terbang di langit.


Di Langit lain nya.


Tampak Arung tengah duduk bermeditasi di atas pedang terbang nya, sambil memulihkan tenaga dalam nya yang telah terkuras habis saat melesatkan jurus teleportasi bagian ketiga di dasar Danau Langit.


"Jika tenaga ku sudah pulih aku dapat dengan mudah berteleport ke Puncak Gunung Obat, hanya saja sejak tadi tenaga ku baru terkumpul sekitar 30 persen nya saja." Gumam Arung, sambil menghisap tembakau ular.


"Lama-lama rasa tembakau ular ini nikmat juga ternyata." Ucap Arung.


"Whusss............... " Suara hembusan asap rokok dari mulut Arung.


Beberapa saat kemudian tampak terjadi perubahan fenomena cuaca di langit, awan tiba-tiba saja menghitam lalu mengalirkan petir di sekitarnya.


"Dzzitt......... Dzzitt......... Dzzitt......... " Suara percikan petir dari atas langit.


"Ada apa ini kenapa tiba-tiba langit mendung." Gumam Arung lalu mulai mengayunkan lengan nya.


Sebuah perisai kultivasi air pun mulai membungkus tubuh dan pedang terbang nya, beberapa saat kemudian sebuah white hole pun muncul di hadapan Arung.


"Byurrrr................ " Suara hujan deras yang turun tiba-tiba.


"Apa itu..... Kenapa lubang putih itu muncul secara tiba-tiba di hadapan ku." Ucap Arung, lalu berusaha menghindari white hole tersebut.


Samar-samar ingatan Jendral Api pun kembali terngiang di dalam kepala nya.


"Itu adalah sebuah White Hole sebuah fenomena alam yang langka, jika tersedot ke dalam nya akan berpindah ke suatu tempat ataupun ke suatu tahun yang berbeda atau pun bisa sama dengan saat ini." Suara di kepala Arung.


"Ugh..... Apa, gawat kalau begitu,"


"Aku sudah cukup membuat masalah di Benua Naga, aku tidak ingin menambah nya lagi." Gumam Arung, lalu kembali berusaha menjauh dari white hole tersebut.


Sebuah rantai putih pun melesat ke arah nya lalu menembus perisai kultivasi air tersebut dan melilit tubuh Arung dan juga Pedang Terbang nya.


"Ugh.... Apa lagi ini, siapa yang merantai ku saat ini." Gumam Arung, lalu mencoba melesatkan jurus teleportasi.


Beberapa saat kemudian.


"Lho.... Kenapa tidak bisa." Ucap Arung, lalu tertarik masuk kedalam white hole tersebut.


"Warppp..... Warppp....... Warp....... " Suara saat tubuh Arung masuk secara paksa ke dalam white hole.


Lima Tahun Yang Lalu, di Penginapan Stadium Kota Awan Hitam


White hole tersebut pun mulai muncul kembali di atas Penginapan Stadium Awan Hitam.


"Byurrrr................... " Suara hujan deras.


"Warppp....... Warppp....... Warppp.......... " Suara tubuh Arung saat kembali keluar dari dalam white hole.


"Brukkkkk............... " Suara tubuh Arung yang jatuh ke atas penginapan.


"Tring..................... " Suara pedang emas yang juga ikut jatuh di samping Arung.


Arung pun bangun lalu mulai mengamati sekitar kemudian menyimpan pedang emas kembali ke dalam cincin ruang milik nya.


"Kenapa aku bisa berada di atas Penginapan Stadium Awan Hitam?"


"Bukankah tadi aku sedang dalam perjalanan kembali ke Puncak Gunung Obat." Gumam Arung, lalu berjalan ke pinggiran atap berniat mengamati keadaan di bawah.


"Whusss............... " Suara hembusan asap rokok tembakau ular.


"Sebaik nya aku istirahat sejenak di sini, dan meminum sekaleng beer,"


"Hari ini sungguh aneh sesaat sebelumnya aku tengah terbang di atas langit di malam hari, saat ini aku berada di atas atap penginapan di sore hari,"

__ADS_1


"Bencana apa lagi ini." Gumam Arung.


Ia pun mulai memeriksa kembali cincin ruang milik nya berniat melakukan persiapan jika ada sebuah bencana yang muncul secara tiba-tiba.


__ADS_2