
-[Tribun Dalam]-
Tampak tim-tim lain nya telah bersiap untuk tampil di atas arena tersebut. Ke tiga tim itu pun duduk berjauhan di dalam tribun khusus peserta tersebut.
-[Tim Milea]-
Komandan Lily, Milea, Cici, serta Bayli pun sedang duduk di kursi tersebut.
"Milea, apa kali ini kau memiliki trik curang lagi seperti saat ujian tahap ke dua?" Bisik Komandan Lily.
"Tidak Komandan, kali ini aku tidak memiliki trik curang seperti saat di Planet Obat dan Racun tersebut, kali ini kita harus menang dengan kekuatan dan kepintaran kita sendiri." Bisik Milea.
Milea pun menoleh ke arah Shilla yang sedang duduk di kejauhan ia pun teringat dengan gadis yang bertarung dengan nya saat memperebutkan tubuh Beast Ular Bertanduk Sembilan di Pasar Kota Awan Hitam tersebut.
"Cabe-cabean, ternyata dia ikut ujian ini juga?"
"Ugh.... Kebetulan sekali, aku bisa membalaskan kekalahan ku dulu saat di arena pasar tersebut, awas kau Cabe-Cabean." Gumam Milea dengan sorot mata yang tajam ke arah rival nya tersebut.
-[Tim Shilla]-
Sementara itu Shilla pun menyadari kehadiran Tante Milea dari kejauhan.
"Tante-tante cerewet itu ternyata Calon Alkemis juga, ugh... Sepertinya aku berjodoh dengan nya,"
"Dasar tante-tante an." Gumam Shilla.
"Shilla, bagaimana ini Jeni dan juga Arung belum datang, kita bisa didiskualifikasi kan nich." Ucap Ayu yang mulai gelisah.
"Mau bagaimana lagi Ayu, kita berdoa saja agak Komandan Don Juan itu muncul dari atas langit, dia sudah tidak pulang ke rumah berhari-hari." Ucap Shilla.
"Apa...... Kenapa kau tidak menceritakan nya kepada ku, Shilla?" Tanya Ayu.
"Aku takut kau akan tidak bersemangat lagi mengikuti ujian tahap ke tiga ini." Jawab Shilla.
Ayu pun ter duduk dengan lemas di bangku tersebut, tampak semangat nya mulai merosot di karenakan ketidak hadiran Arung dan juga Jeni.
"Kau benar Shilla, sepertinya kita hanya akan menjadi murid luar." Ucap Ayu dengan nada suara yang melemah.
Ternyata Calon-Calon Alkemis yang berhasil menyelesaikan Ujian Tahap Pertama mereka secara otomatis sudah di angkat menjadi murid luar, sementara itu bagi tim yang berhasil mendapatkan peringkat ke satu dan ke dua di Ujian Tahap Ketiga tersebut akan otomatis di angkat menjadi murid dalam di AKPAVLA tersebut.
"Kalau Arung aku sudah terbiasa dengan jadwal karet nya, yang aku bingungkan Jeni,"
"Kenapa ia tidak bisa di hubungi sama seperti Komandan Don Juan tersebut, mungkinkah mereka berdua kencan di belakang ku?" Gumam Shilla yang mulai menaruh rasa curiga kepada Jeni.
-[Tim Dilla]-
Saat ini Dilla dan Jackal sedang duduk dengan mesranya di bangku tribun dalam tersebut, sedangkan Kiky dan Alia duduk agak jauh dengan pasangan yang sedang mabuk kasmaran tersebut.
"Dilla, seragam putih mu membuatku bergairah." Rayu Komandan Jackal, sambil memegang dagu Dilla.
"Dasar tukang gombal, saat aku mencuci piring di dapur pun kau bilang aku sexi,"
"Sebentar lagi kau pasti akan menciummku." Gumam Dilla.
__ADS_1
"Ia Sayang." Ucap Dilla dengan mesra.
"Ugh.... Lampu hijau, jalan terus." Gumam Komandan Jackal kemudian mulai mencium Dilla.
"Kan benar." Gumam Dilla yang pasrah di cium oleh pacar nya tersebut.
Kiky dan Alia yang melihat hal tersebut hanya bisa bergumam di dalam hati kecil nya.
"Ugh..... Mereka selalu saja berciumman di depan khalayak ramai, apa mereka mau pamer?" Gumam Kiky.
"Dilla.... Dilla.... Siap-siap aja bibir mu jadi sompel dan dower akibat Komandan Gila Cium tersebut,"
"Dasar........ " Gumam Alia yang sebenarnya cemburu dengan kemesraan mereka berdua karena sampai dengan saat ini diri nya adalah seorang Jones.
NOTE : JONES kepanjangan nya adalah Jomblo Ngenes.
Beberapa saat kemudian Komandan Uranus pun mulai memasuki Tribun Dalam tersebut.
"Ayo......kalian semua harap naik ke arena sekarang juga, ujian nya akan segera di mulai." Ucap Komandan Uranus.
Ke tiga tim pun mulai beranjak ke arena di pimpin oleh Komandan Uranus.
-[Tribun VVIP]-
Terlihat Matriak beserta ke tujuh Tetua Keluarga Tiger dan Juga Xiao Mei Mei duduk di bangku Tribun tersebut, sementara 1000 orang murid Keluarga Tiger menonton dari tribun penonton.
"Wah.... Sepertinya Tetua-Tetua ini sangat antusias menonton performa langsung Calon Matriak masa depan nya." Gumam Xiao Mei Mei saat melihat Tetua-Tetua Cantik tersebut.
Mereka pun mulai melihat ke tiga tim saat memasuki arena tersebut.
"Ugh..... Apa yang di lakukan nya di saat-saat penting ini, dasar murid Kakek Mesum." Ucap Tetua Kikan.
"Sudahlah sebaiknya kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti." Ucap Tetua Ami berusaha menenangkan Tetua-Tetua lain nya.
Sementara itu Nyonya Vinic, Xiao Mei Mei dan Tetua Shiyu sudah mengetahui ketidak hadiran Arung, namun mereka sudah pasrah akan keadaan tersebut.
"Kemana perginya Komandan Don Juan itu, sudah berhari-hari dia menghilang, di telepon gak bisa di SMS pun gak bisa?" Gumam Xiao Mei Mei yang sudah sangat rindu dengan Suaminya tersebut.
"Apa yang di pikirkan Arung kenapa dia belum muncul-muncul juga sampai saat ini." Gumam Nyonya Vinic sambil mengurut-urut kepala nya.
Xiao Mei Mei dan yang lain nya tidak tahu jika Arung saat ini terdampar di masa lalu dan di Planet lain di karenakan FENOMENA WHITE HOLE.
-[Tribun Penonton]-
"Kacang-kacang, ada jagung rebus,"
"Di beli, di beli." Teriak Penjual makanan ringan tersebut sambil berjalan di arena penonton tersebut sambil menjajakan dagangan nya.
Ternyata Nyonya Ya dan Joong Woon juga hadir untuk menyaksikan Gisel menjadi Pembawa Acara dan Ayu sebagai kandidat murid dalam di Ujian Final Alkemis tersebut, Mamanya Gisel dan Ayu itu pun melihat saat Shilla, Ayu dan yang lain nya mulai beranjak ke atas arena tersebut.
"Wah.... Kak Ayu gagah sekali memakai seragam putih itu ma." Ucap Joong Woon.
"Huss..... Gagah apa nya dia kan bukan Prajurit seperti Kakak mu Gisel." Ucap Nyonya Ya.
__ADS_1
"Ia Ma, gagah seperti anak ayam potong, putih-putih gitu." Canda Joong Woon.
"Ada-ada saja kamu Joong Woon." Ucap Nyonya Ya.
-[Pinggiran Tribun]-
Seperti biasa para Kultivator reporter dan Kultivator Kameramen pun sudah mulai berkerumun di pinggiran tribun tersebut, mereka mengharapkan sebuah berita besar hari ini.
"Cepat, atur posisi kamera yang benar letakkan kamera pada sudut yang pas." Perintah Salah Satu Kultivator Reporter tersebut.
"Aku mencium sesuatu yang berbau heboh di dalam ujian yang di hadiri Jendral Love Killer tersebut." Ucap Kultivator Reporter lain nya.
Sementara itu Gisel dan Luna bingung, kenapa Kekasih mereka tidak ada di dalam Tim Shilla tersebut.
"Kemana Pendekar Fuckboy itu, kok gak ada,"
"Apa mungkin dia telat lagi kayak di Ujian Kompetisi tempo lalu?" Gumam Gisel.
"Pendekar Naga dimana kau berada saat ini?" Gumam Luna.
Kedua Gadis Cantik itu pun mulai beradu mata secara tidak di sengaja, tampak di mata Gisel masih di penuhi dengan kobaran api cemburu, Luna pun mengalah dan memalingkan wajah nya.
"Huh..... "
"PELAKOR...... " Gumam Gisel jengkel dan kesal.
Komandan Uranus pun memanggil Gisel dan Luna untuk segera memulai ujian tersebut, mereka berdua pun melesat ke atas arena menggunakan Jurus Langkah Petir dan Jurus Langkah Rubah.
"BAIKLAH KITA AKAN MENUNGGU SETENGAH JAM LAGI UNTUK MEMULAI UJIAN MEMBUAT PIL PENAWAR RACUN KEHIDUPAN INI,"
"JIKA DALAM SETENGAH JAM LAGI ADA TIM YANG BELUM CUKUP ANGGOTA NYA, TIM TERSEBUT AKAN DIDISKUALIFIKASI KAN,"
"UJIAN PUN AKAN DI LANJUTKAN SETELAH ITU." Ucap Luna dan Gisel menggunakan Jurus Auman.
"Arung, Jeni cepat lah datang." Gumam Shilla di dalam hati kecil nya.
Gisel pun tersenyum kepada Sahabat Karib nya Shilla begitu pula dengan Luna. Tiga orang Tetua AKPAVLA pun terbang ke atas arena dengan membawa masing-masing Tungku Obat berdiameter dua meter.
"Dup.... Dup..... Dup...... " Saat ketiga tunggu tersebut mendarat di lantai arena.
Ketiga Tetua Cantik itu pun terbang kembali ke tempat nya setelah itu. Beberapa murid dalam pun mulai naik ke atas arena kemudian mulai meletakkan sebuah meja besi dan bahan-bahan untuk membuat Pil tersebut di atas meja besi tersebut, mereka juga memberikan buku metode peracikan obat tersebut kepada perwakilan masing-masing tim.
"Ini..... Untuk mendapatkan pil yang sempurna bahan-bahan tersebut harus di bakar atau di panaskan di suhu konstan 200 derajat selama tiga jam." Gumam Dilla saat membaca buku tersebut.
"Ughh..... Ini sangat susah." Ucap Alia yang juga ikut membaca buku tersebut.
Tak terasa waktu setengah jam pun sudah mulai berlalu, Luna dan Gisel pun mulai menghitung mundur.
"Sepuluh... Sembilan... Delapan.... Tujuh... " Ucap Luna dan Gisel dengan Jurus Auman Petir nya.
"Arung please, datang lah." Gumam Ayu di dalam hati kecil nya.
TO BE CONTINUED.........
__ADS_1
[MOHON VOTE DAN LIKE NYA AGAR NOVEL INI TETAP TERBIT ON TIME CC NOVELIS JALANAN].