
Di dalam ruangan di balik pintu berwarna merah.
"Ruangan ini, terasa sangat lah familiar"
"Giok teratai berwarna merah tersebut, sepertinya aku pernah melihat nya?"
"Tapi di mana ya?" Ucap Arung.
Arung menatap ke arah giok teratai yang berada di atas sebuah meja di samping ranjang yang sudah berdebu tersebut. Ruangan ini berukuran 6 x 6 meter dengan sebuah ranjang yang terbuat dari giok hijau beraura es, dan sebuah meja giok dan kursi giok juga ada sebuah lemari dari kayu di sudut ruangan tersebut.
"Ini..... kenapa hati ku terasa pedih." Gumam Arung.
Air matanya pun mulai menetes dengan sendiri nya, lalu berjalan menuju ke arah Teratai Merah tersebut dan menyentuh nya.
"Kenapa air mataku bisa keluar dengan sendiri nya, lalu perasaan sedih ini seperti saat kehilangan seseorang yang sangat di sayangi." Gumam Arung.
Saat Arung mulai menyentuh teratai tersebut, benda merah tersebut menjelma menjadi seberkas energi api dan melesat ke arah dahi nya tepat di lambang api tersebut.
"Akh................. " Teriak kesakitan Arung.
"Ugh..... kepalaku pusing sekali." Gumam Arung.
Tak lama berselang energi beberapa elemen di dalam tubuh Arung meluap-luap, ia pun mulai bergegas duduk bermeditasi di atas ranjang giok hijau es tersebut.
"Kenapa lagi dengan tubuh ku ini, ada reaksi yang aneh setelah cahaya tersebut melesat ke dahiku,"
"Mungkinkah ini adalah ingatan kultivator lain nya." Gumam Arung, sambil bermeditasi.
Aura api berbentuk sebuah teratai pun mulai membungkus tubuhnya, tak lama berselang ia pun mulai tertidur sambil bermeditasi.
Penggalan Ingatan Jendral Api.
3500 tahun yang lalu di Kediaman Jendral Api di Ibu Kota Kerajaan Jang Baek.
"Dimana ini, kenapa aku bisa ada di dalam kamar ini." Gumam Arung.
Ia tidak menyadari diri nya saat ini sedang melihat cuplikan kehidupan Jenderal Api, yang ada di dalam ingatan nya. Arung melihat cuplikan kisah hidup Jendral Api sebelum wafat, Jenderal Api tengah terbaring di sebuah ranjang yang terbuat dari giok berwarna merah dan ditemani oleh beberapa komandan di sisi nya.
"Siapa orang tua itu, sepertinya mereka semua tidak menyadari kehadiran ku,"
"Aku seperti sedang menonton sebuah drama live." Ucap Arung.
Jendral Api yang dilihat oleh Arung disini berbeda dengan hologram Api yang terlihat di makam kuno, hologram Jendral Api terlihat sebagai seorang jenderal perang yang masih muda dan gagah serta memegang sebuah pedang di tangannya. Sementara itu lelaki yang sedang terbaring di atas ranjang tersebut adalah seorang lelaki tua dengan janggut putih yang panjang dan kulitnya terlihat keriput.
"Lapor Jendral, kami sudah menyelesaikan membuat lima makam kuno sesuai instruksi darimu dan memasukkan peti beracun yang kau berikan kedalam nya." Ucap Komandan Api yang pertama.
"Tapi ada satu masalah Jendral, Giok Teratai kebijaksanaan yang rencananya akan kami taruh pada makam kuno telah di curi oleh Raja pencuri." Ucap Komandan Api kedua.
"Makam kuno, sepertinya aku berada dalam ingatan Jendral Api" Gumam Arung.
Akhirnya Pendekar Don Juan pun mulai sadar saat ini dia tengah berada di mana.
"Uhuk..... uhuk.... " Suara batuk Jendral Api.
"Ya sudah lah, adik ku emang sangat nakal,"
"Dia bahkan tidak menemui ku ketika aku sekarat, dan sekarang malah mencuri senjata paling kuat yang aku miliki."
"Ya sudah tidak apa-apa, sepertinya ajal ku tidak akan lama lagi." Ucap Jendral Api.
Setelah mendengar perkataan Jendral Api, kelima komandan yang berdiri di samping nya pun meneteskan air mata sedih.
"Jendral bertahanlah, negeri ini akan kacau jika tidak ada dirimu." Ucap Komandan Api ketiga.
"Hiks.... hiks.... hiks..... " Suara tangis Komandan Api Ketiga.
"Delayla, berhenti menangis walaupun kamu seorang wanita namun kamu tetap salah seorang Komandan api ku."
"Setelah aku terkena racun tingkat alam dewa puncak ini, selama setahun ini kondisi kian memburuk hingga saat ini,"
"Bahkan hingga aku dekat dengan ajal ku aku masih saja belum mendapatkan pewaris, sampai harus meninggalkan lima makam kuno,"
"Ha... ha.... ha.... " Tawa kecil Jendral Api.
"Dasar raja pencuri, dari kecil hingga aku akan mati kau selalu menyusahkan ku." Ucap Jendral Api.
"Siapa orang yang mampu meracuni Jendral Api, dan kenapa dia sampai diracuni?"
"Ternyata masih ada empat makam kuno lainnya yang menyimpan warisan Jendral Api." Gumam Arung, sambil terus menyimak pembicaraan Jendral api dan para komandan api nya.
"Kalian tenang saja, walaupun teratai itu dicuri oleh nya,"
"Dia tidak akan pernah bisa mengkultivasikan Teratai Kebijaksanaan tersebut, hanya orang-orang berhati bersih yang dapat menyatu dengan teratai tersebut,"
"Jadi walaupun nakal, adikku bukanlah ancaman besar bagi Kerajaan Jangbaek ini,"
"Waktu ku tidak lama lagi, jika aku mati nanti kuburkan aku di kaki bukit Gunung Langit Api,"
"Serta ikut kubur gulungan peta yang menunjukkan lokasi kelima pulau makam kuno bersamaku,"
"Uhuk.... uhuk.... " Suara batuk Jendral Api.
"Siap Jendral." Ucap kelima Komandan Api, sambil membungkuk dan memberi hormat.
Tak lama berselang Jendral Api pun menghembuskan nafas terakhir nya, melihat Jendral mereka meninggal ke lima Komandan Api pun menangis.
"Jendral....... jendral.... kau tidak boleh mati." Teriak beberapa Komandan Api.
"Hiks..... hiks...... hiks.......... " Tangis beberapa Komandan Api.
"Sungguh sangat mengenaskan nasib Jendral Api di akhir hayat nya tewas karena racun,"
"Makanya dia menaruh Pil Dewa Obat di dalam peti tersebut." Ucap Arung.
Di dalam ruangan di balik Pintu Berwarna Merah
Kesadaran Arung pun kembali ke tubuh nya, ia pun mendengar kan teriakan Shilla dan Gisel dari luar.
"Pendekar Don Juan, kenapa lama sekali,"
"Mungkinkah ada gadis cantik lain nya di dalam sana." Teriak Gisel, sambil bercanda.
"Arung...... Arung...... Arung...... " Teriak Shilla, dari luar.
Namun karena saat ini ia sedang menyerap Teratai Kebijaksanaan, Arung pun tidak dapat menjawab panggilan Shilla dan Gisel. Tanpa di sadari nya, ia sudah lima jam bermeditasi di dalam ruangan milik raja pencuri tersebut.
"Kedua gadis itu sedikit labil saat ini, sebaik nya aku memberikan sebuah tanda untuk mereka." Gumam Arung.
Ia khawatir kedua nona cantik tersebut akan nekat menerobos masuk kemari, jika tidak memberikan sebuah tanda. Arung pun melempangkan tangan nya aura hijau pun mulai berkumpul di telapak tangan nya. Sebuah akar pun menjalar keluar dari telapak tangan nya tersebut lalu menembus pintu berwarna merah dan menuju ke arah Gisel dan Shilla.
Lorong Jebakan
"Drrrtttttttt............... " Suara rambatan akar tumbuhan milik Arung.
"Arung........ Arung......... kau sudah lima jam di sana, apa kau baik-baik saja?" Teriak Gisel.
"Gisel sepertinya Arung baik-baik saja lihat itu akar tanaman milik nya." Ucap Shilla sambil menunjuk ke arah akar yang menjalar dan membentuk tulisan "Aku sedang ber kultivasi di dalam, aku baik-baik sayang".
"Lihatlah calon suamimu Shilla, sambil ber kultivasi masih bisa menggombal " baik-baik sayang" apanya?" Ucap Gisel
"Dia juga kan calon suami mu Gisel." Ucap Shilla.
"Iya ya... ha.... ha.... ha..... " Tawa kecil Gisel.
"Ya sudah ayo kita bermain kartu saja sambil menunggu Arung selesai ber kultivasi." Ucap Gisel.
"Ya boleh juga." Ucap Shilla.
"Apa pun asal tidak mabuk-mabukan, jika mabuk kau sangat parah Gisel." Gumam Shilla.
Di dalam Ruangan di balik Pintu Berwarna Merah.
Tanpa di sadari oleh Arung, setelah satu hari satu malam barulah Teratai Kebijaksanaan tersebut terserap sempurna ke dalam dirinya. Lambang api di dahi nya pun mulai berubah menjadi lambang teratai berwarna merah, sesaat setelah selesai menyerap senjata suci tersebut aura api berwarna merah pun melesat keluar dari tubuh Arung.
"Wah......... hebat sekali, aku berhasil menerobos ke ranah berikut nya." Gumam Arung.
Ranah Arung pun naik satu tingkat lagi, menjadi Ranah alam bumi puncak. Sementara itu kedua nona cantik tersebut sedang tidur di atas tilam yang empuk serta menunggu kembalinya sang pujaan hati selesai ber kultivasi.
"Sebaik nya aku kembali bermeditasi." Gumam Arung.
Keesokan paginya Arung telah berteleport ke tempat Shilla dan Gisel tidur, setelah mendapat kan Teratai Kebijaksanaan pembawaan Arung menjadi tenang dan dewasa.
Di dalam lorong.
"Shilla Gisel bangunlah, sudah saat nya kita kembali ke Kota Awan Hitam." Ucap Arung, sambil memercikkan sedikit air ke mata Shilla dan Gisel.
"Ehmmm.... ia sayang," Ucap Gisel
"Hoammm...... " Suara Gisel sedang menguap, kemudian ia pun berdiri.
"Ehm.... Arung kau sudah kembali ya, aku ketiduran saat menunggumu keluar dari pintu berwarna merah tersebut tadi malam." Ucap Shilla.
"Ya sudah ayo bangun dan mendekat lah kearah ku, kita akan segera kembali ke permukaan Ngarai Biru ini." Ucap Arung, sambil memberikan isyarat untuk memeluk nya dengan kedua tangan nya.
"Jurus mesum itu lagi." Gumam Shilla.
"Baik sayang." Ucap Gisel, sambil beranjak ke tempat Arung, dan berniat memeluk nya.
"Ehmm... ia Arung sepertinya pagi ini kau sedikit berbeda." Ucap Shilla, sambil beranjak ke tempat Arung dan berniat memeluk nya juga.
"Pegang yang erat ya, jarak dari sini ke gerbang masuk perpustakaan itu cukup jauh sekitar beberapa ratus kilometer,"
"Jadi aku akan berteleport beberapa kali, ingat aku khawatir kalian akan jatuh dan tertinggal jika tidak memeluk ku erat-erat." Ucap Arung.
"Benarkah Arung, kami akan jatuh jika tidak memeluk mu erat-erat?" Tanya Shilla, kemudian memeluk erat pinggang Arung.
"Ugh...... Aroma tubuh Pendekar Don Juan ini sangat wangi, aku jadi ingin mandi bareng dengan nya." Gumam Shilla.
Saat ini Shilla sudah terbius kemampuan Dragon Love milik Arung.
"Benar Shilla jika kamu jatuh, separuh dari hatiku ikutan jatuh,"
"Aku khawatir aku tidak menjadi aku lagi yang seutuh nya." Ucap Arung, sambil menggombali Shilla.
"So sweat..... kalau jatuh jadi serpihan-serpihan donk." Gumam Shilla.
Mendengar perkataan Arung, pipi Shilla pun mulai memerah. Sedangkan Gisel, ia merasa cemburu karena Arung hanya perhatian terhadap Shilla saja.
"Ugh.... Pendekar Don Juan, aku juga mau di gombalin oleh mu." Gumam Gisel.
"Ia sayang, tidak akan ku lepaskan kamu." Ucap Shilla, yang akhirnya luluh dan menyandarkan Kepala nya ke bahu Arung.
Arung menyadari saat ini Gisel tengah cemburu, ia pun berniat menghibur nya.
"Gisel kamu juga peluk aku yang erat ya, aku juga khawatir jika kamu jatuh,"
"Siapa yang akan mengisi tempat di dalam relung-relung hatiku." Ucap Arung, kali ini menggombali Gisel.
Mendengar perkataan Arung, Gisel pun tersenyum lebar dan memeluk Arung erat-erat.
"Ugh..... So Sweat...... My Beib." Gumam Gisel.
__ADS_1
"Baiklah pegangan yang kuat ya, kalian mungkin akan sedikit hoyong." Ucap Arung.
"Blitzz...... blitzzz....... blitzzzz........ blitzzz........ " Suara jurus teleportasi milik Arung setelah berteleport beberapa kali.
Beberapa detik kemudian.
Pintu Gerbang Masuk Perpustakaan Kuno.
"Wah..........cepat sekali, hanya butuh beberapa detik dan kita telah sampai di belakang gerbang masuk perpustakaan ini kembali." Ucap Gisel.
Arung pun kembali melepaskan pelukan kedua gadis cantik tersebut lalu duduk bersimpuh di lantai.
"Huft............ " Suara nafas panjang Arung.
"Duduk lah dulu kalian berdua, siang nanti kita akan melanjutkan berteleport kembali ke permukaan Ngarai Biru tersebut."
"Aku perlu mengembalikan tenaga dalam ku terlebih dahulu." Ucap Arung sambil mengeluarkan HP tablet dan sebuah Pil Naga dari dalam cincin ruang nya.
Shilla dan Gisel pun mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda dari diri Arung.
"Gisel apa perasaan ku saja, sepertinya Arung agak berubah setelah memasuki pintu berwarna merah tersebut." Bisik Shilla di telinga Gisel.
'Kalau menurutku seperti nya, Arung makin dewasa aja." Bisik Gisel di telinga Shilla.
"Arung terlihat lebih tenang sekarang, dan pintar menggombal." Bisik Shilla di telinga Gisel.
"Sepertinya Jurus Kultivasi Pendekar Don Juan nya sudah sempurna." Bisik Gisel di telinga Shilla.
"Ha.... ha..... ha...... " Tawa kecil kompak mereka berdua.
Arung pun kemudian memasukkan sebuah memori card kecil dari dunia asal nya ke dalam HP tablet milik nya. Lalu ia mulai memutar lagu nya peterpan yang berjudul Kalau Cinta Menggoda.
"Lagu siapa grup band mana nih, aku tidak pernah mendengarkan nya sekali pun?"
"Enak banget." Gumam Gisel.
Shilla dan Gisel pun terdiam lalu mulai mengikuti irama intro lagu tersebut.
"Sejak jumpa kita pertama, ku langsung jatuh cinta,"
"Walau ku tahu kau ada pemilik nya,"
"Tapi kutak dapat membohongi, hati nurani,"
"Tapi kutak dapat menghindari.... gejolak cinta ini"
Arung pun mulai mengayunkan lengannya, gerbang masuk yang tertutupi api berubah menjadi transparan.
"Wah........ indah nya." Gumam Shilla, saat melihat ke arah luar.
Terlihat beragam beast tengah berenang dan beberapa tumbuhan air di dasar Ngarai yang daun nya melambai-lambai. Arung pun mulai mendinginkan lorong tersebut dengan aura es dari tubuh nya, tanpa disadari kedua gadis cantik tersebut.
"Tidak kusangka ternyata ruangan di belakang Gerbang Masuk ini sungguh sejuk." Gumam Gisel
Terlihat dari mata Gisel dan Shilla yang sudah terhanyut di dalamirama musik cinta yang di putar oleh Arung.
"Ugh...... aku gak kuat nih, pengen meluk Arung aja." Gumam Gisel.
Gisel dan Shilla pun bergegas duduk di kiri dan kanan Arung, dan perlahan menyandarkan kepala mereka berdua bersamaan ke bahu Arung.
"Huft.............. " Suara nafas panjang Arung.
Ia pun hanya diam dan tersenyum kecil dan meneruskan meditasi nya.
"Maka ijinkanlah aku mencintaimu,"
"Atau bolehkan lah ku sekedar sayang padamu,"
"Izinkanlah aku mencintaimu,"
"Atau bolehkan lah ku sekedar sayang padamu,"
Gisel dan Shilla pun terbuai mendengarkan lagu-lagu cinta yang ada di dalam memory card milik Arung, hingga mereka berdua pun tertidur di bahu Arung hingga tak terasa hari pun sudah menjelang siang.
Kembali saat malam Arung membangkitkan elemen dewa "Black Hole".
Di Kota Awan hitam hujan deras pun turun, beberapa lubang Black Hole muncul di jalanan, di langit bahkan di dalam ruangan.
"Byurrrr................. " Suara hujan deras.
Dari dalam Black Hole itu muncul beraneka ragam beast, termasuk di penginapan tempat Arung menginap pun muncul Black Hole. Saat itu Nyonya Ya dan Nyonya Lang tengah duduk di lobi hotel bersama Patriak, sedang berdiskusi masalah keuntungan penjualan roda emas.
Lobi Hotel Penginapan Stadium Awan Hitam.
"Byurrrr............. " Suara hujan deras.
Kebetulan sekali saat ini Meli dan Moli tengah menjemput Meri yang baru saja tiba di Bandara Udara Kota Awan Hitam, jadi mereka tidak berjaga di Ruangan Resepsionis tersebut.
"Kakak lihat itu kenapa ada sebuah lubang hitam yang muncul tiba-tiba di halaman depan penginapan ini?" Ucap Nyonya Lang, sambil berdiri lalu menunjuk ke arah lubang tersebut.
Beberapa saat kemudian se ekor Kera Es keluar dari dalam Black Hole tersebut.
"Warppp...... warpppp....... " Suara yang di timbulkan oleh Black Hole.
"Auo... ouo... ouo... " Teriak Kera Es tersebut, lalu langsung melesat kan beberapa bongkahan es ke arah lobi hotel.
Nyonya Ya pun beranjak memeluk Patriak dan menyelamatkan diri ke luar.
"Duarghhh.............. " Suara ledakan akibat serangan mendadak Kera Es tersebut.
Beberapa saat kemudian dua Black Hole lain nya pun mulai muncul, dua Kera Es lain nya pun ikut keluar dari dalam lubang tersebut.
"Warpp....... warppp........ warpppp....... " Suara yang di keluarkan saat muncul nya Black Hole tersebut.
"Adik malam ini sungguh aneh, seharusnya habitat para beast tersebut adalah di Kota Es Utara, kenapa makhluk-makhluk tersebut bisa sampai muncul di daerah sini?" Ucap Nyonya Ya, sambil membelah bongkahan es yang melesat ke arah nya.
"Duarghhh....... duarghhhh..... duargh........ " Suara ledakan terdengar di mana-mana.
"Sepertinya malam ini adalah malam yang aneh Kak, di mana-mana terdengar suara ledakan yang dahsyat." Ucap Nyonya Lang sambil mengayunkan Pedang Badai Petir nya ke arah para Kera Es tersebut.
Sambaran petir dari pedang pun mulai menghujam ke arah salah satu Kera Es tersebut, makhluk tersebut pun langsung hangus terbakar setelah nya.
"Drrrttttt...... duarghhh............ " Suara tersetrum lalu meledak akibat serangan Pedang Badai Petir.
"Auooo..... wo... Ooooo.......... " Raungan Kedua Kera Es tersebut.
Melihat salah satu teman nya telah tewas kedua Kera Es lain nya pun mulai menembak kan beberapa bongkahan es secara membabi buta ke arah Nyonya Lang.
"Adik pasti tidak akan mampu bertahan menghadapi serangan tersebut, aku harus segera membantu nya." Gumam Nyonya Ya, sambil beranjak memeluk Patriak ke arah Nyonya Lang.
"Aya.........Lang Err sepertinya tidak akan mampu bertahan, kau harus membantu nya." Ucap Patriak sambil berpegangan pada pinggang ramping istri nya.
Saat ini ranah Nyonya Ya sudah naik satu tingkat setelah mengkonsumsi Buah Pohon Raja Api pemberian Calon Menantu nya, sekarang kultivasi nya berada di ranah alam langit puncak.
"Aku tidak akan mampu menahan nya,"
"Wah.............tamat sudah," Gumam Nyonya Lang, sambil memasang perisai kultivasi elemen petir.
Nyonya Ya bersama Patriak pun tiba tepat waktu, ia punLangsung memasang sebuah perisai kultivasi api untuk memperkuat pertahanan.
"Lang Err, kau tidak apa-apa?" Tanya Patriak, kepada istri kedua nya.
"Untung kakak, datang tepat waktu Alba,"
"Jika tidak, aku tidak yakin bisa bertahan terhadap serangan bongkahan es ini." Ucap Nyonya Lang.
Bongkahan es yang mengarah ke Nyonya Lang pun terpental ke segala arah setelah membentur perisai kultivasi gabungan tersebut. Bongkahan es itu pun menghancurkan beberapa titik bangunan, dan halaman penginapan tersebut.
"Duarghhh...... duargh....... duargh..... " Suara ledakan akibat bongkahan es yang terpental ke segala arah.
"Adik sekarang adalah saat yang tepat untuk menyerang nya, gunakan jurus langkah petir mu dan serang Kera Es itu dari belakang." Ucap Nyonya Ya.
Sementara itu Patriak mengeluarkan roda emas yang telah di modifikasi nya dan ia melompat berdiri di atasnya. Kedua istrinya tidak menyadari hal itu, karena mereka tengah fokus terhadap pertempuran tersebut.
"Baik kakak bertahanlah." Ucap Nyonya Lang, sambil mengeluarkan jurus langkah petir nya.
Dalam beberapa menit, Nyonya Lang telah berada di belakang salah satu Kera Es. ia pun langsung mengayunkan Pedang Badai Petir nya ke arah beast tersebut, Sambaran petir pun melesat dari ayunan pedang tersebut dan langsung menewaskan Kera Es tersebut.
"Duarghhh...................... " Suara ledakan akibat serangan Pedang Badai Petir mengenai Kera Es.
Melihat kedua teman nya telah tewas mengenaskan, Kera Es yang tersisa pun berang. Makhluk ini pun mulai mengumpulkan seluruh energi elemen es nya lalu menembak kan sebongkah es berukuran raksasa ke arah Nyonya Ya.
"Whusss....................... " Suara bongkahan es raksasa melesat ke arah Nyonya Ya.
"Kakak......Alba..... " Teriak histeris Nyonya Lang, yang berasumsi bahwa Nyonya Ya dan Patriak tidak akan selamat terkena serangan sebesar itu.
"Alba.... lari lah aku hanya mampu menahan nya untuk beberapa detik saja." Teriak Nyonya Ya, sambil bersiap mengayunkan Pedang Phoenix Surgawi nya.
"Mana mungkin aku meningalkan wanita yang selalu menyelamatkan hidup ku selama ini." Ucap Patriak, sambil terbang ke arah Nyonya Ya dan memeluk pinggul ramping nya.
"Jason..... " Gumam Nyonya Ya.
"Duargh.............. " Suara ledakan pada lobi penginapan yang terkena bongkahan es raksasa.
"Groaghhhhh........ " Suara getaran bangunan akibat ledakan tersebut.
Beberapa menit sebelum ledakan terjadi Patriak berhasil menyelamatkan Nyonya Ya dengan terbang ke atas menggunakan Roda Emas.
"Byurrrr................... " Suara hujan deras.
Sementara itu Nyonya Lang berpikir bahwa Nyonya Ya dan Patriak telah tewas terkena serangan tersebut. Tangis pun mulai pecah di malam tersebut. Para penghuni dan petugas penginapan pun tampak beberapa ada yang tewas di lobi penginapan, ataupun di dalam kamarnya.
"Duarghhh....... duarghhh...... duarghhh...... " Suara ledakan terdengar dari kejauhan.
Kobaran api tampak di beberapa titik, malam berhujan kali ini tampak sedikit menyala.
"Hiksss....... hikssss...... hiksss..... " Suara Pilu Tangisan Nyonya Lang.
Sementara itu, karena sudah kehabisan energi Kera Es yang tersisa hanya berdiri lalu berusaha meninggalkan halaman penginapan tersebut.
"Beast keparat jangan pergi kau." Teriak Nyonya Lang, sambil melesat menggunakan jurus langkah petir ke arah beast tersebut.
"Akan kuambil kepalamu, sebagai persembahan untuk Alba dan kakak." Ucap Nyonya Lang sambil memenggal kepala Kera Es tersebut.
"Auuuuu.............. " Teriakan Beast tersebut saat kepala nya di penggal.
"******............" Suara darah yang muncrat dari leher Kera Es tersebut.
"Brukkkk........... " Suara tubuh Kera Es yang tersungkur ke tanah.
Sementara itu di ketinggian 120 meter dari muka tanah, untuk pertama kali nya dalam hidup Patriak, ia menyelamatkan Nyonya Ya. Bulan pun muncul di langit Kota Awan Hitam yang hujan, Patriak pun tengah berpelukan dengan mesranya di atas langit bersama istri pertama nya.
"Bagaimana bisa kau melayang Alba, bukan kah kau tidak bisa berkultivasi."
"Tidak mungkin kau berlatih bela diri, bakat kultivasi mu bahkan tidak ada." Ucap Nyonya Ya, sambil memeluk erat leher Patriak.
"Roda emas ini telah ku modifikasi Aya, sumber energinya menggunakan batu roh dan dapat di gunakan oleh orang biasa"
"Aku menambahkan sebuah chips ke dalam nya,"
"Ini adalah kehebatan dari ilmu pengetahuan, yang penting kita selamat Aya,"
__ADS_1
"Sebaiknya kita turun dan menyelamatkan Lang Err." Ucap Patriak Jason Alba.
Nyonya Ya pun sangat tersentuh dengan ketulusan Patriak yang tidak meninggalkan nya ketika serangan besar tersebut.
"Jason, walau pun kau lemah namun kau sangat peduli dengan ku, ughh....... aku gak kuat lagi." Gumam Nyonya Ya.
Ia pun mulai mencium bibir Patriak dengan panas nya di tengah hujan tersebut, untuk beberapa saat mereka pun berciuman di angkasa di temani oleh sinar rembulan dan rinai hujan.
"Ugh...... Aya seperti nya lagi pengen, celana ku jadi sempit,"
"Ini gara-gara sup essensi buatan nya dulu, pantang di pancing,"
"Adik kecil pun berdiri tegap untuk beberapa jam ke depan." Gumam Patriak, sambil berciuman.
Tiba-tiba saja Roda Emas Modifikasi Patriak pun telah kehabisan sumber energi nya, ia dan Nyonya Ya pun oleh lalu terjatuh.
"Maaf sayang, sepertinya satu batu roh nya hanya mampu bertahan untuk beberapa menit saja,"
"Aku masih perlu memodifikasi nya lebih baik lagi kedepan nya,"
"Sepertinya kita akan jatuh, ku serah kan sisa nya kepadamu Aya." Ucap Patriak.
"Hah.............. " Suara nafas panjang Nyonya Ya yang kecewa.
"Padahal tadi lagi romantis-romantis nya, ya sudah lah kentang jadi nya." Gumam Nyonya Ya.
"Dari wajah istri ku ini dia pasti lagi kentang." Gumam Patriak.
"Ya tenanglah Alba, serahkan saja sisa nya padaku." Ucap Nyonya Ya.
Ia pun mulai mengeluarkan bola api kecil dari telapak kaki nya, kemudian mulai melesat lalu menggendong Patriak.
"Aduh..... kenapa pose gendongan nya jadi seperti ini." Gumam Patriak.
"Aya.........kenapa posisi turun nya jadi seperti ini, kau sudah seperti menggendong Jong woon saja." Ucap Patriak yang tengah di gendong dengan tangan memeluk leher Nyonya Ya.
"Sudah jangan berisik, aku tengah menstabilkan bola api di bawah kaki ku,"
"Jika tidak kita akan jatuh dan menghantam lantai." Ucap Nyonya Ya, sambil berkonsentrasi men stabil kan bola api di bawah telapak kaki nya.
Tubuh Nyonya Ya pun perlahan turun dan setelah beberapa saat kemudian, mereka pun mendarat dengan selamat.
"Brukkk............ " Suara kaki Nyonya Ya saat menyentuh tanah.
Melihat bola api dari atas perlahan turun, Nyonya Lang pun kembali melesat ke arah bola api itu tersebut mendarat.
"Mungkinkah mereka selamat." Gumam Nyonya Lang, sambil melesat.
Beberapa saat kemudian.
"Alba,..... "
"Kakak Pertama Syukurlah.... kalian selamat." Ucap Nyonya Lang sambil menghampiri Patriak dan Nyonya Ya.
Ketika mendekat dan melihat Nyonya Ya tengah menggendong Patriak. Kesedihan nya pun berubah menjadi kelucuan saat melihat adegan tersebut.
"Hag.... hag.... hag.... " Tawa Nyonya Lang pecah.
"Alba..............kau seperti Joong woon saja minta di gendong." Ucap Nyonya Lang.
"Ugh...... memalukan sekali." Gumam Patriak.
Patriak pun mulai turun dari gendongan Nyonya Ya dengan pipi yang memerah.
"Aku sangat malu malam ini." Gumam Patriak.
Sementara itu Nyonya Ya hanya diam saja lalu mulai menganalisa sekeliling nya.
"Sepertinya para Kera Es telah tewas di tangan Lang Err." Gumam Nyonya Ya.
"Penginapan pun telah porak poranda, sebaiknya kita melihat keadaan Joong woon di atas sana istri-istri ku." Ucap Patriak, sambil berjalan menuju ke penginapan yang hancur.
"Oh iya.........Joong Woon ku." Ucap Nyonya Ya, sambil berlari ke arah penginapan begitu pula dengan Nyonya Lang.
Setelah menjemput Meri dari Bandar Udara Kota Awan Hitam, mereka bertiga pun nongkrong di Restaurant Awan. Restoran tersebut merupakan salah satu rumah makan yang buka selama 24 jam penuh di Kota Awan Hitam ini.
Lantai Tiga Restaurant Awan, satu jam sebelum Arung membangkitkan elemen Black Hole nya.
"Byurrrr................... " Suara hujan deras.
Tampak Meli, Moli dan Meri tengah duduk bersantai sambil menikmati beberapa mangkok jumbo beast kerang rebus dan beberapa kaleng beer di teras lantai tiga Restoran Awan.
"Gimana Meri, apakah kau sudah berhasil menemukan cara mengatasi jurus menghilang nya Tuan Muda Arung?" Tanya Meli, sambil membuka beberapa kerang.
"Tenang saja, tentu saja aku berhasil,"
"Ini hasil nya." Jawab Meri lalu mengeluarkan tiga buah Kitab Jurus di atas meja.
"Wah..... Kau memang yang terpintar di antara kita bertiga, kukira kau bakal mati saat memasuki Hutan Zombie tersebut." Ucap Moli.
"Moli jadi kau sudah mengetahui mengenai Hutan Zombie tersebut, kenapa kau tidak memberitahukan nya kepada ku." Ucap Meri.
"Maafkan kami Meri, jika kami memberitahukan hal tersebut padamu,"
"Kau pasti akan mengurungkan niat mu pergi ke Sekte Kupu-kupu Hantu tersebut." Ucap Meli, sambil memakan kerang rebus.
"Ugh..... Dasar dua vampir kembar ini, demi ambisi malam pertama mereka bersama Tuan Muda Arung,"
"Mereka tega tidak memberikan informasi yang begitu penting tersebut, serta berniat mengorbankan aku" Gumam Meri.
"Hah............. " Suara nafas panjang Meri, lalu meneguk beer beberapa kali teguk kan.
Moli pun mulai membaca Kitab Jurus yang pertama, lalu ekspresi nya terkejut kemudian memberikan Kitab tersebut kepada Meli.
"Kenapa ekspresi Moli seperti itu, seperti habis melihat hantu saja,"
"Apa mungkin di dalam kitab Jurus tersebut terdapat ilustrasi hantu yang begitu menakutkan?" Gumam Meri.
Saat membaca kitab tersebut ekspresi Meli hampir sama dengan Moli, kemudian ia pun memberikan Kitab tersebut kepada Meri.
"Ada yang aneh dengan isi di dalam kitab ini." Gumam Meri, lalu mulai membuka Kitab tersebut.
Meri pun mulai membaca halaman pertama di dalam kitab tersebut, lalu ekspresi nya sama dengan kedua kembaran nya tersebut.
"Apa............. "
"Untuk dapat mempelajari Jurus ini harus dapat membangkitkan elemen nafsu,"
"Elemen nafsu memang hampir sama lemah nya dengan elemen air, namun untuk membangkitkan nya kita harus berkultivasi di tempat yang penuh dengan nafsu." Ucap Meri.
Kedua kembaran nya pun mulai mengangguk beberapa kali.
"Tempat yang penuh nafsu adalah Rumah Bordil, jadi kita harus berkultivasi di tempat pelacuran tersebut." Ucap Meri.
Kedua kembaran nya pun mulai mengacungkan jempol nya kepada Meri, lalu kembali menyantap kerang rebus dan meminum beer. Suasana hening pun tercipta untuk sementara di meja Meri dan yang lain nya.
Beberapa saat kemudian.
"Baiklah aku rela menjadi ******* untuk dapat bersama Tuan Muda Arung, walaupun hatiku harus tersayat-sayat,"
"Aku rela." Ucap Meli.
"Ugh....... Dasar Meli terlalu mendramatisir keadaan, kita tidak mesti menjadi ******* untuk membangkitkan elemen nafsu,"
"Kita kan bisa menjadi pelayan saja di situ, hanya saja walaupun sekedar menjadi pelayan pandangan orang-orang yang melihat kita bekerja di sana pasti negatif." Gumam Meri.
"Dasar bodoh kau Meli, kita hanya perlu berkultivasi,"
"Kita tidak perlu menjadi ******* di tempat tersebut." Ucap Moli.
"Ugh.... Syukurlah Moli sedikit lebih pintar daripada Meli,"
"Meli ini hanya pintar masalah malam pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya saja." Gumam Meri.
"Jadi kita harus bagaimana Moli?" Tanya Meli.
"Kita kan bisa jadi mami-mami nya saja, jadi kita tidak perlu menjadi *******,"
"Kita hanya perlu mengkoordinir *******-******* yang ada di bawah kita untuk melayani om-om hidung belang di tempat pelacuran tersebut." Ucap Moli.
"Dasar bodoh.... Bodoh.... Dan bodoh, otak Meli dan Moli beda tipis saja." Gumam Meri.
"Hah................. " Suara nafas Meri.
"Dengarkan baik-baik, kita tidak perlu menjadi ******* ataupun mami-mami di rumah bordil tersebut, kita hanya perlu menjadi pelayan saja di rumah bordil tersebut,"
"Pada jam istirahat kita akan mulai berkultivasi untuk membangkitkan elemen nafsu." Ucap Meri.
"Kenapa aku tidak memikirkan cara itu, Meri memang jenius." Gumam Moli.
"Oh...... Benar sekali yang kau katakan Meri, kau memang jenius." Ucap Meli.
"Bukan nya aku yang jenius, hanya saja pikiran kalian berdua yang selalu mesum." Gumam Meri.
"Saat aku berhasil menguasai jurus ini, aku akan langsung melangsungkan malam pertama dengan Tuan Muda Arung." Ucap Moli, dengan bersemangat.
"Aku juga akan melakukan nya sebelum Moli." Ucap Meli.
"Hah.... Dasar Mesum kuadrat, seperti nya aku juga harus melakukan nya sebelum Meli dan Moli,,
"Karena aku lebih tua dari mereka beberapa menit." Gumam Meri.
Tak lama berselang sebuah Black Hole Raksasa pun mulai muncul di langit di dekat Restoran Awan.
"Warppp........ Warppp........ Warpppp.......... " Suara Black Hole saat muncul.
"Lubang aneh apa itu Meri, kok besar banget?" Tanya Meli.
"Aku pun baru pertama kali ini melihat nya." Jawab Meri.
Beberapa saat kemudian seekor Beast Naga pun keluar dari dalam Black Hole tersebut.
"Aurghhhhh............... " Raungan Naga Es tersebut yang berniat mengamuk di area tersebut.
"Lho.... Itu kan Naga yang kabur saat di Hutan Zombie?"
"Kenapa dia bisa ada di sini bukankah jarak Kota Awan Hitam dan Pulau Iblis Ular sangat jauh?" Gumam Meri.
Naga Es tersebut pun mulai mengamati sekeliling nya terlebih dahulu dan berniat mengamuk.
"Gawat itu kan Gadis Cantik yang memiliki Tongkat Pemukul Naga, aku bisa tewas di tangan nya,"
"Tongkat itu sangat berbahaya bagi bangsa Naga, mereka pun ada tiga saat ini,"
"Nasib ku benar-benar apes malam ini." Gumam Naga Es tersebut lalu berbalik arah dan kabur kembali.
"Whussss.............. " Suara Naga tersebut saat melesat kabur.
"Lho.... Kok kabur lagi?" Gumam Meri.
Meli dan Moli pun bingung melihat kejadian tersebut.
__ADS_1
"Kenapa Naga tersebut kabur setelah menatap Meri?" Gumam Kompak Meli dan Moli.