
Di Dalam Kamar VVIP.
Arung merupakan Tunangan Jendral Es, sehingga dia mendapatkan fasilitas VVIP di dalam Kapal Layar Langit tersebut. Tampak Shilla dan Ayu tengah mengobrol ringan sambil duduk di sofa, sementara itu Jeni Galgadoth tengah mandi di dalam kamar mandi sambil berfikir kalau Bos Arung itu adalah seorang Assasin Berdarah Dingin.
Di Dalam Kamar Mandi.
"Byurrrr.............. " Suara shower air.
Terlihat Gadis Cantik tersebut tengah mandi tanpa mengenakan sehelai penutup apa pun, ia berniat membersihkan tubuh nya sebersih-bersih mungkin demi Bos Arung, Gadis Polos tersebut berpikir Assasin Berdarah Dingin tersebut akan segera merudu paksa diri nya dalam waktu dekat.
"Tubuh ku harus bersih dan wangi, aku khawatir Assasin berdarah dingin itu akan membunuh ku jika tubuhku sampai kotor atau bau saat di jamah nya nanti." Gumam Jeni Galgadoth sambil menyabun tubuh bak gitar biola nya.
Pipi Gadis Polos itu pun mulai merona merah saat membayangkan dirinya dirudu paksa oleh Assasin Berdarah Dingin dan tampan tersebut.
"Shilla dan Ayu begitu bersih dan wangi merekapun pasti merawat diri nya juga karena takut akan Komandan Berdarah Dingin tersebut." Gumam Jeni yang salah berfikir tentang sikap manis manja Ayu dan Shilla terhadap Komandan Tampan tersebut.
Jeni jarang mengikuti berita di TV atau pun membaca artikel di HP nya, jadi saat ini dia belum tahu jika Arung itu adalah Pemuda yang tengah hangat di perbincangkan di Benua Es Api tersebut.
"Ugh.... Kenapa kau bisa berada di dalam mulut harimau, Jeni,"
"Ugh Jeni.........Ganbatte kau harus tegar dan tetap kuat, walaupun nanti akan menyakitkan,"
"Ini semua demi menjadi Alkemis lalu mengobati mama." Gumam Jeni kemudian melanjutkan mandi nya.
"Byurrrr.............. " Suara Shower Air.
Beberapa saat kemudian Jeni pun selesai mandi, lalu berpakaian dan keluar dari dalam Kamar Mandi tersebut, lalu mulai bergabung dengan dua teman nya yang duduk di atas sofa dan ikut mengobrol ringan bersama dengan mereka.
"Ehm..... Jeni wangi banget..... " Gumam Ayu saat mencium aroma lavender yang berasal dari tubuh Gadis Polos tersebut.
Ruang Hitam.
Akibat hantaman Palu Emas Hitam Surgawi oleh Arung, ranah yang di miliki Aca Zord turun secara drastis ke ranah alam langit puncak, tampak gadis cantik itu kebingungan dengan penurunan ranah nya secara tiba-tiba tersebut.
"Lho..... Ranah ku kenapa bisa turun, senjata apa itu tadi?" Gumam Aca Zord kemudian mengeluarkan Pedang Obat milik nya.
Pedang Obat tersebut merupakan senjata suci yang berada di ranah Alam Naga Puncak.
"Hyattttt.......... " Teriak Aca Zord, lalu mulai menerjang ke arah Arung dan Luna menggunakan Jurus Langka Petir nya.
"Arung dia sudah terluka biar aku saja yang menghadapi nya, aku pun ingin membalas sambaran petir tadi." Ucap Luna berniat membalas sambaran petir yang mengenai nya tersebut.
"Lanjut Luna....... " Ucap Arung sambil mempersilahkan Kekasih Gelap nya untuk bertarung one by one dengan Aca Zord.
Luna pun menerjang ke arah Aca Zord menggunakan jurus langkah petir yang sama, tampak pedang milik mereka berdua saling beradu, percikan-percikan petir tampak di sekitar Pedang Petir Ungu tersebut.
"Dzzzitttt....... Dzzzitttt............. " Suara percikan petir dari Pedang Petir Ungu.
"Tring....... Tring........ Tring...... "
"Tring....... Tring........ Tring....... " Suara saat pedang mereka saling beradu.
Sesekali Aca Zord juga menembakkan sambaran petir ke arah Luna, dengan lincah gadis berambut ungu itu pun menghindari nya lalu kembali saling beradu ketangkasan berpedang.
"Tring....... Tring........ Tring...... "
"Tring....... Tring........ Tring....... " Suara saat pedang mereka kembali saling beradu.
__ADS_1
Di tempat itu juga Arung mulai mengamati keadaan pertarungan tersebut, kemudian mulai menyimpulkan kondisi pertarungan antara Luna dan Aca Zord.
"Mereka berdua kelihatan berimbang, aku akan membiarkan Luna melawan nya untuk beberapa menit lagi, pertarungan ini sangat bagus buat perkembangan seni bela diri nya di masa depan." Gumam Arung kemudian kembali menyaksikan pertarungan ketangkasan berpedang di antara mereka berdua.
"Tring....... Tring........ Tring...... "
"Tring....... Tring........ Tring....... " Suara saat pedang mereka kembali saling beradu.
Kembali Ke Kamar VVIP.
Jeni saat ini sedang berdiri dan hendak keluar dari dalam ruangan VVIP tersebut.
"Jeni kau mau kemana?" Tanya Ayu.
"Aku ingin ke Kabin Kemudi Ayu, aku ingin bertanya dengan Wakil Komandan tersebut berapa hari lagi kita tiba di Planet Obat dan Racun tersebut." Jawab Jeni.
Jeni pun keluar dari dalam kamar tersebut berniat pergi ke Kabin Kemudi untuk bertanya dengan Wakil Komandan yang bertugas.
Ruang Hitam.
45 menit telah terlewati sejak penurunan ranah Aca Zord, Arung pun mulai khawatir ranah Gadis tersebut akan kembali dalam beberapa menit lagi.
"Tring....... Tring........ Tring...... "
"Tring....... Tring........ Tring....... " Suara saat pedang mereka kembali saling beradu.
"Ugh..... Gadis ini walaupun telah cedera namun masih tetap kuat." Gumam Luna yang sudah kesusahan menghadapi ayunan berat Pedang Obat milik Aca Zord.
"Gawat jika terus begini kami pasti kalah, sebaik nya aku mengakhiri nya saat ini juga." Gumam Arung kemudian mencabut Pedang Naga Khayangan nya.
"Tring....... Tring........ Tring...... "
"Tring....... Tring........ Tring....... " Suara saat pedang mereka kembali saling beradu.
"Blitzzzz................. " Suara Jurus Teleportasi milik Arung.
Dalam sekejap mata Komandan Don Juan itu pun berpindah tempat ke belakang Aca Zord kemudian memenggal nya.
"Slasshhhh............. " Suara Pedang Naga Khayangan saat memenggal kepala Gadis Cantik tersebut.
"******................... " Suara darah yang muncrat dari lehernya.
"Arung.... " Ucap Luna.
Beberapa saat kemudian ruang hitam tersebut pun menghilang, mereka berdua pun kembali ke dalam kabin kemudi Kapal Layar Langit tersebut.
"Brukkk......... " Suara Tubuh dan Kepala Aca Zord yang jatuh ke lantai kabin.
"Tringg.......... " Suara Pedang Obat yang jatuh ke lantai.
"Hah..... Hah...... Hah........ " Suara Nafas Terengah-engah Luna.
"Arung bertindak di saat yang tepat, aku sudah tidak kuat lagi menahan Gadis Psiko tersebut." Gumam Luna lalu beranjak ke dekat Aca Zord.
Arung pun beranjak duduk di sofa setelah nya karena kelelahan telah menggunakan Palu Emas Hitam Surgawi sebelum nya, Luna pun menyimpan Pedang Obat dan Pedang Petir Ungu nya ke dalam cincin ruang milik nya.
"Fiuh............ "
__ADS_1
"Selesai juga, sungguh pertarungan yang melelahkan." Gumam Arung.
Di Depan Pintu Kabin Kemudi.
Sementara itu Jeni Galgadoth sudah tiba di depan pintu kabin kemudi tersebut, dan sedang memegang gagang pintu berniat membukanya.
"Kraaakkkk.......... " Suara pintu Kabin Kemudi terbuka.
Raut wajah Jeni Galgadoth pun pucat saat melihat sesosok tubuh tak berkepala terbaring di lantai kabin dan Arung yang duduk dengan tenang di sofa, sementara itu Luna sedang mengelap ceceran bekas darah di kabin tersebut.
"Jeni....... " Gumam Arung saat menoleh ke arah Gadis Cantik tersebut.
"Dia memang pembunuh kejam dan berdarah dingin, setelah memenggal kepala seorang gadis cantik, dia malah duduk dengan tenang di sofa." Gumam Jeni kembali salah paham dengan kejadian saat ini.
"Siapa Gadis itu?" Gumam Luna saat menoleh ke arah Jeni.
"Jeni, mau ngapain kamu kemari?" Tanya Arung.
"Ugh.... Aku bisa bernasib sama dengan Gadis Cantik itu jika sampai salah ngomong, sebaik nya aku mengarang cerita terlebih dahulu agar assasin berdarah dingin itu tidak marah pada ki." Gumam Jeni.
"Hemmmm...... Sepertinya Pendekar Naga mengenalnya, apakah itu salah satu Calon istri lain nya lagi?" Gumam Luna kemudian menyimpan mayat yang ada di lantai tersebut lalu kembali mengelap bekas darah yang berceceran tersebut.
"Aku salah membuka pintu ruangan bos, maafkan aku." Jawab Jeni lalu membungkuk.
"Jeni jangan katakan hal ini pada siapa pun." Perintah Arung.
"Siap Bos.... " Jawab Jeni kembali membungkuk.
"Bos... Panggilan sayang macam apa itu?" Gumam Luna sambil kembali mengelap bekas ceceran darah di lantai kabin tersebut.
"Kalau begitu saya permisi dulu bos, silahkan bos melanjutkan apa yang hendak bos lakukan sebelum nya." Ucap Jeni lalu menutup pintu dan beranjak pergi ke dek kapal untuk menenangkan diri.
"Dup........... " Suara Pintu Kabin saat tertutup.
"Kenapa Jeni selalu memanggilku bos, apa dia menganggapku bos nya, gadis cantik yang aneh tapi dia sangat murah hati." Gumam Arung.
"Sepertinya Gadis yang bernama Jeni itu adalah Gadis yang Penurut ya Sayang." Celetuk Luna sambil kembali mengelap bekas ceceran darah di lantai.
"Ugh.... Sepertinya Luna mulai cemburu pada Jeni, aku lebih baik diam di saat seperti ini, apapun yang ku katakan saat ini pasti salah." Gumam Arung kemudian menghisap tembakau ular milik nya.
"Whusss................ " Suara hembusan asap tembakau ular.
"Dia diam aja dia, sudah bisa di pastikan kalau Gadis Cantik itu salah satu Kekasih nya." Gumam Luna.
Di Dek Kapal.
Tampak Jeni sedang muntah-muntah setelah melihat mayat yang tewas dalam kondisi sangat mengenaskan di dalam kabin kemudi tersebut.
"Uek..... Uek...... Uek...... " Suara muntahan Jeni Galgadoth.
"Pasti Gadis Cantik itu di bunuh nya karena tidak ingin dirinya di sentuh oleh Bos, aku sebaiknya harus tetap wangi dan bersih, oh ia dan aku harus segera membeli pil KB untuk mencegah suatu hal yang buruk terjadi,"
"Tapi mana ada Puskesmas atau Rumah Sakit disini, ya sudahlah setelah berhubungan aku akan mabuk-mabukan agar tidak terjadi sesuatu yang di luar rencana." Gumam Jeni yang masih gagal paham dengan identitas Arung.
Arung yang melihat Jeni muntah-muntah dari balik kaca jendela Kapal Layar Langit hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ternyata dia buru-buru pergi tadi karena kondisi kesehatan nya sedang buruk, dia tidak ingin mengotori lantai kabin ini dan membuat Luna kesusahan." Gumam Arung.
__ADS_1
TO BE CONTINUED.........
[MOHON VOTE DAN LIKE NYA AGAR NOVEL INI TETAP TERBIT ON TIME CC NOVELIS JALANAN].