Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
Perpustakaan kuno kerajaan Jangbaek


__ADS_3

Di dalam kapal selam.


"Duargh.............. " Suara ledakan akibat jurus elemen es milik Arung saat menghantam Raja Siluman Air.


Debu pun mulai mengepul dari dasar Ngarai, akibat ledakan tersebut.


"Groaghhhhhhh......... groagh....... " Suara goncangan di sekitar Ngarai.


"Serangan yang mengerikan, goncangan nya terasa hingga kemari." Gumam Jupiter.


"Arung semoga kau selamat, aku tidak ingin jadi calon janda." Gumam Shilla.


"Arung pasti menang, dia memiliki kecepatan yang sangat tinggi,"


"Aku yakin dia akan menang." Gumam Ayu, mengingat kejadian saat di dekat kuil di Reruntuhan Kuno.


Robert beserta yang lainnya pun penasaran akan hasil pertandingan antara Arung vs Raja Siluman Air, perlahan debu pun mulai menghilang dan terlihat Beast yang terkapar di dasar Ngarai dengan tubuh penuh luka dan darah.


"Wah..............hebat, Arung sepertinya telah menang." Ucap Robert.


"Syukurlah Arung menang." Ucap Shilla, sambil berlari ke jendela di dekat Robert Wong.


"Kau memang Calon Suami Idaman My Lovely Arung, Tetua Shiyu pasti sangat menyesal saat ini karena telah menolak lamaran mu." Gumam Shilla.


Kembali ke Arung yang sedang berenang di dalam Ngarai Biru.


Jupiter dan Ayu pun beranjak ke jendela di dekat Robert Wong juga, sementara itu Arung berenang ke dasar Ngarai untuk mencari Pedang Taifun nya yang terjatuh.


"Dimana Pedang Taifun ku jatuh yach?" Gumam Arung.


Setelah berenang ke sana kemari di dasar sungai, akhirnya ia pun menjumpai Pedang tersebut. Pedang itu tertancap di sebuah peti yang terbuat dari giok, dan di samping peti tersebut ada sebuah kerangka seorang kultivator dengan tulang belulang berwarna kemerah-merahan.


"Kenapa kerangka Kultivator ini berwarna kemerah-merahan?"


"Dan peti apa ini?" Gumam Arung.


Ia pun berenang ke tempat kerangka tersebut lalu menyimpan Pedang Taifun nya dan memungut peti giok beserta kerangka merah itu ke dalam cincin ruang milik nya.


"Wah..... jakpot lagi nih, ada beberapa benda aneh,"


"Sebaik nya aku menyimpan nya saja." Gumam Arung.


Di dasar Ngarai tersebut ada sebuah cincin dan dua buah giwang berwarna merah darah dari giok, karena penasaran Arung pun menyimpan kedua benda tersebut kedalam cincin ruang milik nya. Keanehan pun terjadi saat ia sedang memegang giwang merah, sebuah suara yang sudah sangat akrab di telinganya muncul.


Kamar Putri Naga Kecil, Istana Naga Benua Selatan.


Saat ini Putri Naga Kecil sedang duduk di kursi giok di dalam kamarnya, dan sedang membaca salinan jurus teleportasi milik Arung. Setiap harinya Putri Naga Kecil selalu mencoba ber telepati ke fikiran Arung namun tidak pernah berhasil hingga hari ini.


"Arung... Arung dimana kau kenapa aku tidak bisa ber telepati dengan mu selama ini?" Telepati Clara.


Suara tersebut sangat akrab di telinga nya, ternyata itu adalah suara telepati dari Putri Naga Kecil tunangan nya yang saat ini sedang berada di Benua Naga Selatan.


"Tunangan ku tercinta, Clara." Gumam Arung.


"Clara kau kah itu." Telepati Arung.


"Syukur lah, setelah sekian kali nya aku ber telepati baru kali ini masuk telepati ku masuk juga,"


"Kau sekarang sedang dimana Arung, kenapa selama ini aku tidak bisa ber telepati dengan mu?" Tanya Clara.


"Baiklah Clara, sudah saatnya kamu mengetahui asal usul ku yang sesungguh nya." Telepati Arung.


"Asal usul Tunangan ku, ehm.... berarti selama ini ia berbohong,"


"Awas kalau dia kembali akan ku berikan dia arak naga." Gumam Clara.


Arung pun mulai menceritakan tempat asal kedatangan nya dan lain hal, ia juga menceritakan tentang Benua Es Api.


Beberapa menit kemudian.


"Jadi kau bukanlah kultivator yang berasal dari Benua Manusia, tapi kultivator yang berasal dari planet bumi dari dunia atau planet yang berbeda?" Tanya Clara.


"Ya seperti itu lah, aku khawatir kau akan bersedih jika aku menceritakan yang sejujur nya kepada mu saat itu Clara." Jawab Arung.


"Jadi kenapa saat ini telepati ku bisa masuk ke kamu Arung?" Tanya Clara.


Arung pun mulai menjelaskan nya kepada Clara, setelah ia memegang sebuah giwang berwarna merah yang baru saja ia temukan saat itu pula telepati dari Clara masuk.


"Ya sudah kalau begitu ingat kau adalah tunangan ku dari mana pun kau berasal, pakai lah giwang merah itu agar aku dapat menghubungi mu setiap waktu Arung,"


"Ingat kita sudah menghabiskan setahun bersama di Istana Naga Benua Barat,"


"Ya sudah aku ingin memberi makan Claire dulu, sudah waktunya ia makan malam." Telepati Clara.


"Claire, apakah bayi Naga yang waktu itu tapi tidak mungkin dia masih bayi saat itu?" Gumam Arung.


"Ya Putri Naga Kecil, baik baik sayang ya di sana." Telepati Arung.


"Saat nya jumpa dengan ke dua pacar ku dulu, Gisel and Shilla,"


"Syukurlah mereka sudah mulai akur saat ini." Gumam Arung.


"Ugh..... dasar Pangeran Naga Play Boy, baik-baik sayang tapi saat ini ia sedang memikirkan perempuan yang bernama Gisel dan Shilla." Gumam Clara.


Arung pun memakai kedua Giwang berwarna merah darah tersebut. Ia tidak mengetahj jika benda yang dipakai nya itu membutuhkan konsumsi energi yang sangat besar untuk mengaktifkannya, untuk saat ini masih ada sisa-sisa tenaga dalam dari pemilik sebelum nya. Giwang tersebut juga merupakan senjata suci alam dewa puncak tipe komunikasi, yang bernama Giwang Darah Naga.


Kembali ke Ngarai Biru.


"Wah.........senang sekali mendengar suara Putri Naga Kecil, sudah lama sekali, rasanya hatiku jadi deg-deg an seperti ini,"


"Tapi siapa itu Claire ya, tidak mungkin dia adiknya Putri Naga Kecil, dia kan anak paling bungsu,"


"Ah........ itu mungkin keponakan nya, sebaiknya aku segera mengumpulkan tubuh beast-beast Siluman Air tersebut terlebih dahulu,"


"Lumayan kan buat nanti di jual di Warung Makan Daging Panggang Siluman Air." Gumam Arung.


Ia pun mulai mengumpul kan seluruh tubuh beast-beast Siluman Air tersebut, kemudian Arung pun berenang ke arah gerbang masuk perpustakaan kuno.


"Wah...... tidak kusangka di dasar Ngarai ini terdapat sebuah bangunan Kuno, dunia ini memang penuh keajaiban." Gumam Arung.


Ia pun saat ini berdiri tepat di depan gerbang masuk perpustakaan kuno tersebut, lalu memandangi ke arah lapisan api yang menutupi jalan masuk ke tempat tersebut.


"Untuk melewati perisai api tersebut, kau harus melemparkan sebuah batu roh berelemen api, begitu pula ketika hendak keluar juga dengan cara yang sama." Suara di kepala Arung.


"Good job Ingatan Jendral Api, sebaik nya aku kembali ke kapal selam." Gumam Arung, lalu kembali ke kapal selam.


Beberapa saat kemudian, ia pun tiba di pintu masuk kapal selam milik Robert.


"Tok....... tok........ tok.......... " Suara ketukan pintu kapal selam.


Robert pun membukakan pintu buat Arung, lalu ia pun beranjak masuk melewati perisai air kapal selam tampak seluruh pakaian Arung basah kuyup. Robert pun bergegas menutup kembali pintu masuk kapal selam nya sesudah itu. Melihat Arung kembali dengan pakaian yang sobek serta luka memar di sekujur tubuh nya, Shilla pun langsung memeluk Arung.


"Oh.... My lovely Arung, kasian banget." Gumam Shilla, sambil memeluk Arung.


"Ehm.... Shilla main peluk aja kan bajunya dia jadi basah juga, dasar perempuan." Gumam Arung.


"Ehm..... maen peluk aja, di kira nya gak ada manusia apa di dalam kapal selam ini, aku kan pengen juga meluk cowok kayak gitu,"


"Teganya kau Shilla, sampai saat ini aku masih saja menjomblo,"


"Itu semua akibat aku kerjaan nya pergi ke Perpustakaan terus." Gumam Jupiter, tengah merenungi nasib ke jomblo an nya.


"Arung Syukur lah kau baik-baik saja, aku sangat khawatir dengan keadaan mu tadi." Ucap Shilla.


"Hah............ " Suara nafas panjang Arung, lalu melepaskan pelukan Shilla.


"Baik dari mana Shilla, tubuhku penuh dengan luka." Gumam Arung.


"Ya Shilla aku hanya terluka sedikit, dan seluruh tenaga dalam ku sudah habis terkuras,"


"Sebaiknya kita bergegas masuk ke dalam perpustakaan kuno, aku khawatir akan ada rombongan beast lain nya yang datang kemari setelah keributan tadi." Ucap Arung.


"Sebaik nya aku tidak membuat khawatir Shilla dengan luka yang ku Terima tadi, saat bertarung dengan Raja Siluman Air." Gumam Arung.


"Benar yang dikatakan Arung, sebaiknya kita segera bergegas masuk ke dalam Perpustakaan Kuno tersebut, teman-teman." Ucap Ayu.


"Apa aku pacari Robert Wong saja, tapi ia tampak nya sangat menyukai Kayla?"


"Hah...... " Suara nafas panjang Jupiter.


"Kalau aku pacari Arung saja kedua singa betina di samping nya pasti mengamuk, nasib-nasib jomblower sejati." Gumam Jupiter.


Arung pun berniat mengeluarkan batu roh api yang di temukan nya saat di Benua Naga Selatan sebagai kunci untuk memasuki gerbang api tersebut


"Mana ya baru roh nya." Gumam Arung, sambil mencari batu roh api tersebut.


Ia pun salah mengeluarkan peti yang di maksudkan, malahan Arung mengeluarkan peti giok yang baru saja di temukan nya tadi.


"Aduh.... kacau,"


"Aku dan kecerobohan ku, aku salah mengeluarkan peti,"


"Ini akibat terlalu banyak harta benda di dalam cincin penyimpanan ku, saat ada waktu aku harus membenahi cincin penyimpanan ku ini." Gumam Arung.


Sebelumnya Arung berniat menyimpan peti giok ini untuk dirinya sendiri.


"Peti Giok yang indah, apa ya isinya?" Gumam Jupiter.


"Wah............bro, peti apa itu?" Tanya Robert.


"Oh.......ini peti yang baru saja kutemukan di dasar Ngarai tersebut, ayo kita buka saja aku pun penasaran dengan isi di dalam nya." Ucap Arung, sambil membuka peti giok tersebut.


Didalam peti giok ternyata terdapat sepuluh botol pil, dan di tiap botol nya berisi sepuluh buah pil. Pil yang ada di dalam botol itu ternyata adalah pil nafas air yang merupakan pil tingkat alam dewa yang memiliki khasiat membuat pemakai nya dapat bernafas di dalam air secara permanen.


"Pil nafas air, wah....... hebat sekali,"


"My bro ku memang yang terbaik, pil ini sudah hilang selama ribuan tahun cara pembuatan nya,"


"Tidak kusangka kita menemukan nya di dasar Ngarai ini." Gumam Robert.


Robert dapat mengetahui pil tersebut dari buku-buku kuno yang telah di bacanya saat di perpustakaan Kota Awan Hitam.


"Wah..........beruntung sekali kita bro, ini pil nafas air merupakan sebuah pil dewa yang di buat oleh kultivator alkemis ranah alam dewa puncak,"


"Dengan pil dewa ini kita dapat memiliki kemampuan bernafas di dalam air secara permanen,"


"Wah.............bro tidak sia-sia kau bertarung dengan Raja Siluman Air setelah itu kau mendapatkan pil yang sangat berharga ini." Ucap Robert Wong.


"Wah........ benar ada banyak pil nafas air di dalam botol ini Arung, kau sungguh Pemuda yang beruntung." Ucap Jupiter fox.


"Dan kedua gadis itu juga merupakan gadis yang beruntung karena berhasil mendapatkan mu, hanya aku dan Ayu yang Jomblo disini." Gumam Jupiter.


"Hiks..... hiks...... hiks..... " Tangis kecil Jupiter.


"Wah..... kemana saja dia pergi, dia selalu dapat menemukan sesuatu yang berharga,"


"Aku kembali menyesal tidak mengejar nya saat itu." Gumam Ayu.


"Sepertinya mereka semua tertarik dengan Pil Nafas Air ini, sebaik nya aku bagikan saja kepada mereka,"


"Aku tidak enak jika menyimpan nya untuk diriku sendiri." Gumam Arung.


"Ya sudah kita bagi rata saja botol pil ini." Ucap Arung.


"Tidak usah bro aku cukup satu pil aja, yang lainnya itu adalah milikmu,"


"Kau sudah bertarung habis-habisan dengan Raja Siluman Air, lagian harta itu berada di luar perpustakaan kuno,"


"Perjanjian kita kan harta yang ada di dalam." Ucap Robert.


"Pil nafas air segitu hebat nya kah?" Gumam Shilla.


Yang lain nya pun setuju dengan usulan dari Robert tersebut, Arung pun mulai membagikan pil tersebut kepada mereka satu persatu. Mereka pun mulai menelan dan mengunyah pil nafas air tersebut, lalu mulai mengkultivasikan nya.


"Gisel.... Kayla bangun." Ucap Ayu.


"Ugh.... kepalaku pusing banget." Ucap Gisel.


"Uek....... " Suara mau muntah Kayla.


"Ughh....... dimana aku?" Ucap Kayla.


"Dasar duo pemabuk." Gumam Ayu.


Setelah mereka berdua terbangun Ayu menjelaskan perihal Pil Nafas Air tersebut kepada duo pemabuk, lalu memberikan pil tersebut kepada mereka berdua.


"Wah....... selagi kami tidur, Sayang ku menemukan pil yang hebat, baguslah dia memang calon suami ku." Ucap Gisel, lalu mengunyah dan menelan pil tersebut.


"Ayu ini bukan obat kuat kan, ini benar-benar pil ajaib kan?" Tanya Kayla.


Saat ini Kayla masih sedikit mabuk, sehingga bicara nya sedikit ngelantur.


"Hah.............. " Suara nafas panjang Ayu.


"Tentu saja bukan Kayla, lagian mana mungkin Arung memberikan mu obat kuat,"


"Jika ia ingin memberikan obat kuat itu pun kepada Gisel dan Shilla." Ucap Ayu, keceplosan.


"Ugh..... apa yang telah kukatakan." Gumam Ayu.


Suasana di dalam kapal selam pun senyap untuk sementara, Kayla pun mengunyah lalu menelan pil tersebut.


"Kya............ kenapa Kak Ayu berkata seperti itu, aku kan jadi malu." Gumam Shilla.


"Bagus Kak Ayu, kau memang Kakak yang sejati, kau membela Calon Adik Ipar mu di hadapan orang ramai." Gumam Gisel.


"Ugh....... apa yang di pikir kan Ayu tentang ku, apa dia berpikir aku se lemah itu sampai-sampai harus memakai obat kuat?"


"Apa dia berpikir aku akan meniduri Gisel dan Shilla sekaligus makanya memerlukan obat kuat, dasar Ayu mesum." Gumam Arung.


"Aduh..... dasar Kayla, pasti dia masih mabuk,"


"Kalaupun ada yang memberikan mu obat kuat, itu pasti aku Kayla Amara." Gumam Robert.


Beberapa saat kemudian.


"Robert sebaik nya kau segera mengkultivasi Buah Pohon Raja Air yang dulu kuberikan kepadamu, mungkin di dalam Perpustakaan tersebut penuh dengan marah bahaya." Ucap Arung.


"Oke bro." Ucap Robert.


Robert mulai menyantap buah pohon Raja air lalu mengkultivasikan nya sekalian dengan Pil Nafas Air di dalam kapal selam tersebut.


"Buah Pohon Raja Air, buah apa lagi itu?" Gumam Jupiter.


"Apa itu sejenis buah penambah vitalitas pria?" Gumam Kayla, masih sedikit mabuk.


Beberapa saat kemudian Kultivasi Robert naik satu tingkat ke ranah alam raja puncak, Jupiter dan Kayla pun terkejut.


"Apa... bagaimana mungkin dia menerobos secepat itu, jadi ini adalah khasiat dari Buah Pohon Raja Air tersebut." Gumam Jupiter.


"Aku bertambah yakin jika Arung pasti memiliki buah penguat vitalitas pria, aku yakin sekali sekali,"


"Nanti saat aku memiliki seorang pacar, aku akan meminta buah tersebut kepada Arung secara pribadi untuk pacar ku,"


"Agar nantinya pacar ku bertambah kuat dan gagah perkasa di ranjang ,"


"Hi..... Hi..... Hi.... " Gumam dan Tawa kecil Kayla.

__ADS_1


"Wah..... ternyata buah ini benar-benar berkhasiat, aku semakin yakin mengenai pelet tersebut dia pasti memiliki nya,"


"Saat sudah selesai menjelajahi Perpustakaan Kuno ini bersamanya, aku akan meminta nya secara pribadi untuk memberi tahukan alamat Kultivator Dukun tersebut." Gumam Robert.


Beberapa jam kemudian mereka semua pun telah selesai mengkultivasikan Pil Nafas Air.


"Fiuh.......... "


"Akhirnya selesai juga, sebaiknya aku mengajak mereka segera masuk ke dalam Perpustakaan Kuno tersebut,"


"Aku khawatir akan ada nya lagi beast-beast ganas yang datang kemari." Gumam Arung.


Ia pun mulai memberitahukan mereka cara untuk melewati gerbang api tersebut dan memberikan dua buah batu roh berelemen api kepada teman-teman nya tersebut.


"Oh..........jadi kita bisa masuk dan keluar menggunakan batu roh ber elemen api ini ya, tidak ku sangka pengetahuan my bro ku ini ternyata sangat luas,"


"Aku kira yang ada di pikiran nya hanya perempuan dan seni bela diri, lalu satu lagi pelet yang ampuh." Gumam Robert.


"Baiklah, kalian semua sudah paham kan bagaimana caranya memasuki Perpustakaan tersebut,"


"Ayo kita jelajahi Perpustakaan Kuno tersebut." Ucap Arung, lalu membuka pintu kapal selam dan keluar.


"Ayo....... " Sahut kompak mereka.


Arung dan teman-teman nya pun mulai keluar dari kapal selam tersebut, kemudian mulai memasuki gerbang api tersebut setelah mereka melemparkan sebuah batu roh ber elemen api ke dalam nya.


Lorong Perpustakaan Kuno


"Wah.... ternyata benar-benar berhasil, batu roh berelemen api ini benar-benar ajaib." Gumam Jupiter.


Mekanisme cara masuk dan keluar gerbang api ini hampir sama dengan mekanisme yang ada pada portal menuju Benua Naga di Kuil Reruntuhan Kuno Ibu Kota Kerajaan Jangbaek..


"Hebat sekali Arung, begitu kita semua masuk ke dalam lorong ini giok-giok tersebut langsung menyala,"


"Padahal tidak ada listrik sama sekali di sini,"


"Ini pasti kultivasi sihir." Ucap Gisel, sambil berjalan, lalu mengamati sekeliling.


Giok-giok penerangan tersebut secara otomatis menyala setelah mereka mulai memasuki lorong tersebut, ternyata di balik gerbang tersebut adalah sebuah lorong yang sangat besar berukuran sekitar 10 x 5 meter.


"Sepertinya Gisel sudah tidak mabuk omongan nya sudah tidak ngelantur lagi, tinggal Kayla yang masih saja sedikit mabuk." Gumam Arung, sambil berjalan.


"Hebat tidak kusangka di sini benar-benar terdapat sebuah Perpustakaan Kuno." Ucap Robert.


"Kenapa Robert berkata seperti itu, bukankah dia yang menemukan lokasi tempat ini?"


"Mungkinkah ini karena dia baru saja mengkultivasi Buah Pohon Raja Air, sehingga otak nya sedikit korslet." Gumam Arung.


Arung dan teman-temannya pun mulai menyusuri lorong perpustakaan tersebut, lorong tersebut lumayan panjang. Panjang nya mungkin sampai 50 km.


"Mungkin Kultivator-kultivator pada zaman dahulu gemuk-gemuk, sehingga kultivator arsitek nya merancang lorong yang panjang sekalian tempat mereka membakar lemak nya." Ucap Gisel.


"Oh... jadi seperti itu ya Gisel, aku sangat setuju dengan pendapat mu,"


"Mungkin juga sekalian melatih stamina kultivator di zaman dahulu, sehingga mereka gagah perkasa di atas ranjang." Ucap Kayla.


"Ugh...... dasar gadis pemabuk." Gumam Robert.


"Dasar kamu Kayla, di otak mu hanya ranjang lalu mabuk,"


"Haduh.... haduh... pusing aku melihat mu." Ucap Gisel.


"Ha.... ha..... ha..... " Tawa kompak Arung, Shilla, Ayu, Jupiter, dan Robert, saat mendengarkan pemabuk menasehati pemabuk.


Beberapa Jam Kemudian.


Mereka pun tiba di sebuah ruangan yang besar, diruangan tersebut terdapat sepuluh buah lorong dengan ukuran yang sama. Mereka pun terhenti di ruangan tersebut guna berdiskusi bersama.


"Hah....... hah...... hah...... " Suara terengah-engah Robert.


"Fiuh....... " Ucap Robert.


"Gimana nih Stamina Robert seperti nya lemah, dari laki-laki yang kutemui selama ini hanya Arung dan Robert yang memenuhi kriteria menjadi calon pacarku,"


"Tapi kalau Arung sudah pasti gak bisa ku raih, ada dua singa betina di sisi nya,"


"Mungkinkah jodoh ku Robert. Kya....... aku jadi malu." Gumam Kayla.


"Robert bagaimana ini lorong mana yang akan kita masuki saat ini?" Tanya Arung.


"Huft......... " Suara nafas panjang Robert.


"Dari buku-buku Kuno yang ku baca tidak ada yang menjelaskan mengenai lorong-lorong ini bro,"


"Jadi sebaiknya kita memecahkan masalah ini bersama." Jawab Robert.


"Aduh Robert, aku kira kau sudah benar-benar mempelajari masalah lokasi Perpustakaan Kuno ini." Ucap Jupiter.


"Aku tidak paham apa yang Jupiter maksudkan." Gumam Ayu.


Mereka pun mulai bermusyawarah lalu berdebat untuk memilih lorong mana yang akan di masuki selanjutnya. Akhirnya mereka pun sepakat untuk membuat dua buah tim, yang mana Arung, Shilla, dan Gisel akan memasuki lorong ke satu sedangkan Robert, Jupiter, Kayla, dan Ayu akan memasuki lorong nomer tiga.


Beberapa saat kemudian,


"Baiklah jadi kita membagi nya menjadi dua tim, gimana kalian setuju?" Tanya Arung.


"Setuju sekali sayang." Ucap Gisel, lalu menggandeng tangan Arung.


"Hah............ " Suara nafas panjang Ayu.


"Aku sebenarnya mau satu tim dengan Gisel, hanya saja aku capek jadi tukang pukul nyamuk selama ini,"


"Lebih bagus aku satu tim dengan Robert." Gumam Ayu.


"Aku juga setuju." Ucap Shilla, lalu berjalan ke dekat Arung.


"Aku juga setuju." Ucap Kompak Robert, Kayla, dan Jupiter.


"Baik lah aku bersama Shilla dan Gisel akan memasuki lorong kesatu." Ucap Arung.


"Ok bro, aku dan tim ku akan masuk ke lorong ke tiga." Ucap Robert.


"Hahay.... mereka pasti akan melakukan Party Nakal di dalam sana, threesome gitu,"


"Arung pasti sudah menyiapkan pengaman dan obat kuat di saku celana nya, makanya ia ingin membagi kelompok menjadi dua." Gumam Robert, lalu mengedipkan matanya ke Arung.


"Kenapa Robert mengedipkan matanya kepada ku, pasti otak nya ada yang korslet." Gumam Arung.


"Semoga kau baik-baik saja Arung, aku khawatir kau akan terluka parah saat meladeni ke dua Singa Betina tersebut,"


"Kedua Singa Betina itu terlihat masih muda dan sangat bersemangat, Hati-hati teman." Gumam Kayla.


"Aurgh....... " Suara Kayla yang menirukan auman seekor Singa.


"Dasar Pemabuk." Ucap Gisel.


"Hah.......... " Suara nafas panjang Arung.


"Tidak kuduga Arung merencanakan Party Nakal di dalam lorong ini, apa dia tidak takut kesambet,"


"Lorong ini kan sudah di tinggalkan selama beribu-ribu tahun, tempat ini pasti angker." Gumam Jupiter.


Robert dan lainnya telah gagal paham dengan maksud Arung membagi kelompok nya menjadi dua. Akhirnya kedua kelompok pun mulai memasuki masing-masing lorong secara serentak.


Lorong Ketiga


Beruntung bagi Robert dan yang lainnya, di lorong nomer tiga ini hanya di penuhi oleh beast yang kekuatannya setara dengan kultivator di ranah alam kesatria puncak saja. Namun ada banyak segala beast di dalam lorong ini, Jupiter, Ayu dan juga Kayla bertarung di sepanjang tempat ini.


Beberapa Jam Kemudian.


"Mereka tidak ada habis-habis nya Ayu, jika begini kita bisa kelelahan." Ucap Jupiter, sambil menebaskan Pedang Darah nya.


"Duargh..... duargh..... duargh...... " Suara ledakan akibat serangan Ayu dan Jupiter.


"Ayu Jupiter, bersemangat lah anggap saja ini latihan,"


"Lihat Robert walau pun serangan nya lemah ia tetap menembakkan pistol air tersebut." Ucap Kayla, lalu melesat kan tembakkan bola petir ke arah beast Laba-laba tersebut.


"Hah.......... " Suara nafas panjang Robert.


"Pistol air, sepertinya Kayla masih mabuk,"


"Ternyata kalau mabuk Kayla jadi super mesum dan perkataan nya asal ceplas ceplos saja." Gumam Robert, lalu menembakkan tembakan bola air ke arah Beast Laba-laba tersebut.


"Dasar Kayla, kasian kan Robert." Gumam Jupiter.


Yang menjadi ujung tombak penyerangan di lorong ketiga tersebut adalah Kayla dan Ayu yang memiliki kekuatan tempur dan pengalaman paling tinggi.


Kembali ke lorong kesatu yang di masuki oleh tiga sejoli


Arung, Shilla, dan Gisel mulai menyusuri lorong tersebut, setelah mereka berjalan sejauh 3 km mereka pun berhenti sejenak. Dinding di sekitar lorong tersebut di penuhi dengan ornamen kepala harimau dengan mulut yang menganga dan tersusun rapi sepanjang 3 km ke depan nya.


"Firasat ku tidak enak, kenapa ada ornamen kepala harimau di dinding-dinding ini,"


"Ini kan jalan menuju Perpustakaan bukan jalan menuju ke kebun binatang,"


"Aku mencium sesuatu yang tidak beres disini." Gumam Arung.


"Tunggu sebentar Gisel, sepertinya ada yang aneh dengan lorong tersebut,"


"Kenapa ada banyak sekali ornamen patung kepala harimau di dinding-dinding lorong tersebut, sebaiknya kita memeriksa nya terlebih dahulu." Ucap Arung.


"Baiklah Arung." Sahut kedua gadis cantik tersebut serentak.


"Ornamen kepala harimau ini tidak cocok jika terpasang di sini, apa lagi dengan pose mulut ternganga seperti itu,"


"Kesannya seperti harimau yang sedang kelaparan." Ucap Gisel.


"Benar kata Gisel, siapa Kultivator Arsitek yang merancang lorong ini,"


"Dari mulai jalan yang panjang serta ornamen harimau kelaparan, ini sebenarnya jalan menuju Perpustakaan atau jalan menuju kebun binatang,"


"Atau mungkin saja ini jogging track di masa lalu." Ucap Shilla.


"Hah............... " Suara nafas panjang Arung.


"Tenanglah nona-nona cantik, biar aku yang memeriksa nya dulu." Ucap Arung.


Ia pun berdiri di depan lorong aneh tersebut, kemudian mulai melesat kan sebongkah es yang runcing dari telapak tangannya ke arah lorong tersebut.


"Whuss............ " Suara bongkahan es saat melesat di dalam lorong yang di penuhi ornamen kepala harimau.


Sebongkah es pun melesat memasuki lorong yang di penuhi patung kepala harimau di dinding-dinding nya. Akibat bongkahan es tersebut, mekanisme jebakan di lorong tersebut pun aktif. Dari patung kepala harimau melesat bola api hitam dan meleleh kan bongkahan es milik Arung.


"Duarghhh........ duargh...... duargh..... " Suara bola api hitam saat mengenai bongkahan es tersebut.


"Ugh..... ternyata ornamen kepala harimau itu sebuah jebakan, tololnya aku tidak menyadari hal tersebut,"


"Untung saja Calon Suami ku menyadari nya, dia memang Calon Suami Idaman." Gumam Shilla.


"Untung saja kita tidak tergesa-gesa melewati nya, jika tidak kita pasti sudah terpanggang Arung." Ucap Shilla.


"Hah......... aku terkecoh dengan pose menganga ornamen patung tersebut,"


"Ternyata itu sebuah pelontar bola api hitam, mereka mendesain Perpustakaan Kuno dengan jebakan seperti ini,"


"Siapa yang akan memasuki nya, bukan nya mau belajar di sini malah tewas terpanggang,"


"Bagaimana sistem pemerintahan di zaman kuno tersebut, sehingga bangunan-bangunan berbahaya seperti ini bisa mendapatkan izin membangun." Gumam Gisel.


"Hah.......... " Suara nafas panjang Gisel.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang, sayang?" Tanya Gisel.


"Tenagaku saat ini sudah habis terkuras ketika melawan Raja Siluman Air di dalam Ngarai Biru tersebut, sebaik nya kita beristirahat dulu saja di sini."


"Sambil aku memulihkan tenaga dalam ku, setelah itu baru kita melanjutkan penulusuran lorong tersebut." Ucap Arung, lalu duduk bersimpuh kemudian bermeditasi.


"Baiklah sayang aku pun sudah mengantuk, aku akan tidur dulu," Ucap Gisel, lalu mengeluarkan sebuah tilam dari cincin dalam ruang milik nya.


Sementara itu Shilla pun ikut bermeditasi bersama Arung, ia ternyata sangat setia terhadap kekasih nya tersebut.


"Wah..... tampan nya, perasaan ku dulu Arung tidak setampan ini,"


"Lalu dia kelihatan lebih dewasa sekarang." Gumam Shilla.


Shilla sesungguhnya sudah mengantuk saat ini namun ia menahan nya dan lebih memilih bermeditasi bersama kekasih hati nya.


"Hoam......... " Suara menguap Gisel.


Hari pun sudah menjelang malam, Gisel sudah mengantuk berat di sebabkan beer yang di minum nya bersama Kayla di dalam kapal selam.


"Arung Shilla aku tidur duluan ya." Ucap Gisel.


"Iya Gisel, aku belum mengantuk,"


"Kau duluan saja." Gumam Shilla, lalu melanjutkan meditasi nya.


Arung hanya menganggukkan kepala nya beberapa kali, lalu kembali bermeditasi memulihkan tenaga dalam nya.


"Aku sebenarnya masih ingin berjaga, aku khawatir mereka berdua khilaf lalu melakukan hal tersebut tanpa mengajak ku,"


"Tetapi kepalaku pusing sekali, ini gara-gara Kayla dia memberiku banyak sekali beer saat di kapal selam tersebut." Gumam Gisel, lalu menutup kedua matanya.


Hari pun menjelang malam, Arung masih terus bermeditasi.


"Groaghhhhhhh..... groagh...... " Suara mendengkur Gisel.


"Gisel.... Gisel..... sepertinya kau sangat lelah hari ini sampai-sampai tidur nya mendengkur,"


"Mata ku pun sudah berat sekali, sebaik nya aku beranjak tidur juga." Gumam Shilla.


Ia pun mengeluarkan tilam dari cincin ruang penyimpanan milik nya, karena sudah tidak kuat menahan kantuk Shilla pun beranjak tidur.


Esok Hari


Keesokan pagi nya tenaga dalam Arung pun sudah pulih sepenuh nya, Ketika membuka mata beraneka ragam makanan telah terhidang di atas sebuah meja. Ternyata itu semua masakan buatan Shilla yang di masak nya sewaktu menunggu Arung di penginapan.


"Wah........... ini pasti masakan Shilla." Gumam Arung, lalu beranjak ke meja tersebut.


"Ayo di makan Arung." Ucap Shilla.


"Masakan mu benar-benar lezat Shilla, nanti ajarkan aku ya,"


"Sebagai ganti nya akan ku belikan beer kualitas terbaik buat mu." Ucap Gisel.


"Aku akan mengajar kan mu Gisel, tapi masalah beer kualitas terbaik itu tidak usah saja." Ucap Shilla.


Beberapa saat kemudian mereka pun selesai sarapan bersama, Arung pun berniat segera meninggalkan lorong jebakan tersebut. Ia pun beranjak lalu berdiri ke dekat lorong tersebut, kemudian menatap ke arah Gisel dan Shilla.


"Gisel, Shilla mendekat lah ke arah ku." Ucap Arung.


Gisel sudah pernah melihat jurus teleportasi milik Arung, ketika ia tengah melaksanakan Ujian tahap pertama menjadi prajurit di Rawa Siluman Air.


"Sudah kuduga ia akan menggunakan Jurus tersebut sejak kemarin." Gumam Gisel, ia pun mulai mendekat ke arah Arung lalu memeluk pinggang nya.


"Apa yang mau di lakukan Arung, mungkinkah dia benar-benar ingin melakukan Party Nakal dengan kami,"

__ADS_1


"Kya....... apa yang harus kulakukan, aku tidak mungkin menolak nya,"


"Tapi aku malu." Gumam Shilla, pipi nya pun mulai memerah.


Sementara itu Shilla masih belum paham apa yang hendak di lakukan oleh Arung dan berpikiran negatif terhadap nya.


"Ugh....... tampan nya Calon Suamiku, rambut merah nya, mata emasnya." Gumam Gisel, sambil memeluk Arung lalu menatap wajah nya seketika itu pipi nya pun memerah.


"Sudah lama aku tidak memeluk Arung seperti ini, dia makin gagah saja,"


"Tubuhnya pun berbau harum, wah.......ternyata aku tidak salah memilih Calon Suami ku,"


"Walau harus berbagi ranjang dengan Shilla, tidak apalah." Gumam Gisel, sambil menatap ke arah Shilla.


"Shilla percaya lah padaku kali ini saja, ayo kita harus segera melewati lorong jebakan tersebut." Ucap Arung.


Shilla masih berdiri dan belum beranjak ke dekat Arung.


"Ya sudahlah tidak ada salah nya, mungkin ia ingin membuat sebuah kenangan indah di dalam lorong ini bersamaku dan si rambut ungu itu"


"Aku pasrah saja deh dan menutup kedua mataku, sepertinya si liar Gisel sudah terbiasa melakukan nya bersama Arung setiap saat,"


"Ia tidak terlihat canggung sama sekali, malahan sangat menikmatinya,"


"Wanita di kota besar memang ahli hal-hal begituan." Gumam Shilla.


Shilla pun mendekati Arung, Arung pun memeluk pinggul ramping milik Shilla. Arung kemudian mengumpulkan tenaga dalam miliknya untuk mengeluarkan jurus teleportasi.


"Blitzzzz..................." Suara jurus teleportasi milik Arung.


Beberapa detik kemudian Arung beserta kedua pacar nya pun berteleport ke ujung lorong jebakan.


"Wah..............jurus apa ini, kenapa kita bisa sampai disini." Tanya Shilla.


"Tenang Shilla ini adalah jurus andalan ku, hanya saja untuk membawa kalian aku harus memeluk kalian berdua." Jawab Arung.


"Ugh...... malu nya aku, kukira Arung hendak melangsungkan Party Nakal dengan aku dan Gisel, ternyata dia hanya ingin mengeluarkan jurus nya,"


"Tapi kenapa aku merasa sedikit kecewa ya." Gumam Shilla.


"Ayo sayang kita segera pergi menyusuri lorong ini." Ucap Gisel, lalu mulai menggandeng tangan Arung.


"Ayo kalau begitu Gisel, Shilla." Gumam Arung.


Ia beserta kedua pacar nya pun mulai menyusuri lorong tersebut kembali, setelah sepuluh langkah berjalan tiba-tiba saja lantai dibawah telapak kaki mereka pun mulai terbuka.


"Krakkk............ " Suara lantai yang terbuka.


Gaya gravitasi yang sangat kuat pun menarik mereka jatuh ke dasar ruangan. selang beberapa detik lantai divatas mereka pun menutup kembali.


"Duk............. " Suara lantai yang menutup kembali.


Ruangan di bawah lantai tersebut pun menjadi gelap gulita. Beberapa saat kemudian Arung pun sadar.


"Ugh..... punggung ku dan kepala bagian belakang ku sakit sekali." Gumam Arung.


Terlihat dua gadis cantik sedang duduk di hadapan nya dan sebuah senter besar sedang menyala di tengah ruangan di dasar lantai tersebut.


"Arung syukurlah kau sudah sadar, kau sudah pingsan selama beberapa menit di sini,"


"Seperti nya kita saat ini sedang terjebak di sebuah ruangan berukuran 100 x 100 meter dengan kedalaman sekitar 8 km." Ucap Gisel.


"Gaya gravitasi di ruangan ini pun 10 x lipat kuatnya di bandingkan dengan di luar,"


"Di dalam ruangan ini kita harus bergerak menggunakan tenaga dalam yang sangat besar, jika tidak kita tidak akan bisa bergerak." Ucap Shilla.


"Kalian berdua tidak apa-apa?" Tanya Arung.


"Aku dan Shilla baik-baik saja kok Sayang." Jawab Gisel.


"Sebaiknya kita memeriksa ruangan ini terlebih dahulu, Gisel Shilla." Ucap Arung, lalu berdiri dan mulai menyusuri ruangan di bawah lantai dasar tersebut.


"Hah....... " Suara nafas panjang Arung.


"Ternyata benar kita harus menggunakan tenaga dalam yang besar untuk bergerak di dalam ruangan ini." Gumam Arung.


Gisel dan Shilla pun ikut menemani Arung memeriksa ruangan tersebut, setelah berjalan beberapa langkah Arung menemukan dua ekor beast yang sudah tewas selama beberapa ribu tahun.


"Kenapa bisa ada Beast mati di sini." Gumam Arung.


Kondisi beast tersebut sudah di penuhi oleh debu, dan terlihat di lantai terdapat dua buah bola energi berwarna hitam dan putih serta dua buah telur berwarna hitam dan putih seukuran peti.


"Itu sepertinya essensi kedua makhluk ini,"


"Di samping nya kenapa bisa ada telur, kukira Beast ini bereproduksi dengan cara melahirkan,"


"Ternyata bertelur sungguh dunia yang aneh." Gumam Arung, lalu menggeleng-geleng kan kepala nya.


Melihat beast yang tertutup debu tersebut Shilla dan Gisel pun berniat membersihkan nya. Mereka berdua pun menyentuh kedua beast itu dan menepuk-nepuk nya dengan sebuah kemoceng yang mereka simpan di dalam cincin ruang nya.


"Apa yang mereka lakukan kenapa mereka membersihkan debu-debu di tubuh Beast itu, mungkin kah mereka penasaran dengan jenis Beast tersebut?" Gumam Arung.


Beberapa saat kemudian debu yang menutupi kedua beast tersebut pun telah menghilang.


"Uhuk..... uhuk..... uhuk.... " Suara batuk Shilla terkena debu.


"Ini kan Beast Rubah Berekor Sembilan berelemen cahaya, dan yang satunya lagi berelemen kegelapan." Ucap Gisel, dengan ekspresi yang terkejut.


"Berelemen Cahaya dan kegelapan?"


"Berarti kedua bola energi itu benar-benar adalah sebuah essensi." Ucap Arung.


"Essensi lagi, wah bahaya tuch." Gumam Shilla, mengingat kejadian di dalam penginapan.


"Sepertinya kedua beast tersebut tewas karena tidak bisa keluar dari dasar ruangan ini, kasian padahal mereka baru saja menelurkan anaknya." Ucap Shilla, sambil memegang telur berwarna hitam.


"Wah.......telurnya enak nih di jadikan telur dadar, Kira-kira masih segar atau tidak ya?"


"Usia telur-telur ini pasti sudah beribu-ribu tahun." Gumam Shilla.


"Ya sepertinya kamu harus mengeluarkan jurus andalan mu sekali lagi Arung, agar kita tidak bernasib sama dengan kedua beast tersebut." Ucap Gisel sambil memegang telur berwarna putih.


"Wah... telur ini enak di jadikan telur setengah matang, di tambah dengan sekaleng beer,"


"Membayangkan nya saja sudah membuat ku ngiler." Gumam Gisel.


Arung pun mencoba menganalisa penyebab kematian kedua beast tersebut, jika di lihat dari segi kekuatan nya kedua beast tersebut merupakan beast yang kekuatan nya berada pada ranah alam dewa awal. Seharusnya mudah bagi mereka untuk keluar dari sini, ia pun menenggadah kan kepalanya ke atas langit-langit ruangan tersebut. Ada sebuah lapisan kultivasi yang mencegah sesuatu keluar dari sini, segel ini lebih kuat dari segel yang ada di jurang kaki bukit siluman.


"Itu adalah Segel Penjara Bumi ranah alam dewa puncak, yang hanya dapat di lalui oleh kultivator di ranah alam dewa puncak, atau menggunakan jurus teleportasi." Suara di kepala Arung.


"Oh jadi seperti itu, trimks ya ingatan Jendral Api." Gumam Arung.


"Kamu benar Gisel seperti nya kedua beast ini sedang terluka parah, dan secara tidak sengaja terjatuh ke dalam ruangan ini dan tidak bisa keluar lagi,"


"Hingga akhirnya mereka berdua tewas,sungguh malang nasib makhluk-makhluk ini" Ucap Arung.


"Jadi bagaimana cara kita keluar dari sini, Arung?" Tanya Shilla.


"Tenang saja kita dapat keluar dengan mudah menggunakan jurus andalan milik ku tadi, Shilla,"


"Kamu tidak usah khawatir, aku akan menyimpan kedua essensi ini terlebih dahulu." Ucap Arung, lalu menyimpan kedua buah bola berenergi tersebut dan juga menyimpan kedua tubuh beast rubah berekor sembilan tersebut.


Gisel dan Shilla belum menyadari nya, saat mereka menyentuh kedua telur tersebut mereka telah mengaktifkan sebuah segel warisan klan rubah dewa. Tak lama berselang sebuah energi cahaya berbentuk Rubah Berekor Sembilan melesat keluar dari telur berwarna putih lalu memasuki dahi Gisel. Tubuh Gisel pun mengeluarkan aura berwarna putih, seluruh tenaga dalam di dalam tubuh nya besirkulasi tidak teratur.


"Ah........ada apa ini Arung kenapa energi di dalam tubuh ku tiba-tiba tidak stabil seperti ini, dan cahaya apa tadi itu." Ucap Gisel.


"Uek...... " Suara muntah darah Gisel.


"Ada apa ini, apakah ada racun di tubuh atau di telur tersebut?" Gumam Arung.


"Bermeditasi lah terlebih dahulu Gisel, aku akan mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi." Ucap Arung.


Gisel pun mengikuti anjuran dari Arung lalu bermeditasi, Arung pun lalu duduk di belakang Gisel kemudian menyalurkan tenaga dalam nya serta membantu nya menstabilkan energi putih tersebut.


"Ugh...... apa ini aliran tenaga dalam nya terbalik, aku harus memutarnya kembali." Gumam Arung.


Beberapa menit kemudian.


Seberkas energi kegelapan berbentuk Rubah Berekor Sembilan pun melesat keluar dari telur berwarna hitam lalu memasuki dahi Shilla.


"Cahaya apa ini Arung?" Tanya Shilla.


Arung tidak dapat bergerak, apabila ia bergerak sedikit saja Gisel akan terluka parah. Tak lama berselang aura kegelapan pun mulai keluar dari tubuh Shilla, kondisi Shilla pun sama seperti Gisel.


"Uek............ " Suara muntah darah Shilla.


"Shilla duduk lah di samping Gisel, sepertinya kalian mengalami kondisi yang sama setelah menyentuh kedua telur tersebut." Jawab Arung.


"Iya Arung." Ucap Shilla.


"Uek........... " Suara muntah Shilla kembali.


Shilla pun duduk di samping Gisel, Arung pun mulai membantu kedua gadis cantik tersebut menstabilkan tenaga dalam nya.


"Hah........ huft....... " Suara tarikan dan hembusan nafas panjang Arung.


"Ini benar-benar sulit, ini hampir sama saat aku menggunakan metode kultivasi ganda." Gumam Arung.


Tak lama berselang kedua essensi yang berada di dalam cincin ruang milik Arung keluar dengan sendirinya, kedua essensi itu membelah. Separuh essensi cahaya masuk ke dada Gisel, separuh essensi kegelapan masuk ke dada Shilla dan separuh essensi cahaya dan kegelapan yang bergabung dan masuk ke dalam dada Arung.


"Akh............... " Teriakan mereka bertiga saat essensi tersebut meresap ke dalam dantian nya.


Tubuh mereka bertiga pun mulai mengeluarkan energi yang meluap-luap dan berwarna-warni, baju yang mereka pakai pun hangus menjadi debu akibat luapan energi.


"Hurrffff........... " Suara hangus pakaian seketika menjadi debu.


Kedua telur pun melayang ke hadapan Shilla dan Gisel seperti ikut menyerap luapan energi tersebut ke dalam inti telur.


"Ugh.......... sakit sekali tadi saat essensi itu meresap ke dalam dada ku, sepertinya Shilla dan Gisel kesulitan berbicara dan bergerak." Gumam Arung.


Tiga hari kemudian


Mereka bertiga pun melakukan kultivasi ganda tersebut selama tiga hari tiga malam, hingga akhirnya seluruh essensi tersebut menyerap sempurna ke tubuh mereka.


"Huft............... aku capek sekali, mata ku sangat mengantuk,"


"Entah sudah berapa hari terlewati, aku sampai sudah bosan melihat punggung mulus mereka." Gumam Arung.


Energi cahaya pun mulai melesat keluar dari tubuh Gisel menandakan Gisel sudah membangkitkan elemen cahaya. Energi kegelapan pun mulai melesat keluar dari tubuh Shilla menandakan Shilla sudah membangkitkan elemen kegelapan.


"Ugh....... cairan kotor ini dan lesatan cahaya tadi, sepertinya penyatuan essensi ini telah berhasil,"


"Syukurlah." Gumam Arung.


Cairan hitam pun keluar dari tubuh mereka, rambut Shilla yang awalnya merah berubah menjadi hitam dan bola matanya berubah menjadi ke emasan seperti Arung.


"Perubahan fisik mereka pun telah terjadi." Gumam Arung.


"Huft.............. " Suara nafas panjang Arung.


Gisel warna rambut nya pun telah berubah pirang dan warna matanya berubah keemasan sama seperti Arung. Tanpa di sadari oleh Gisel dan Shilla, mereka berdua telah menjadi separuh manusia dan separuh beast sama halnya dengan Arung setelah menerima segel warisan, hanya saja Gisel dan Shilla masuk ke dalam Klan Beast Rubah Berekor Sembilan atau Klan Rubah Dewa. Sementara itu dari tubuh Arung melesat energi kegelapan, beberapa menit kemudian dari tubuhnya juga melesat energi cahaya.


"Akh........... "Teriak Arung.


"Kenapa sakit sekali." Ucap Arung.


Benua Es Api di seluruh tempat


Tiba-tiba saja di seluruh wilayah Benua Es Api tersebut terjadi fenomena cuaca yang aneh. Di Seluruh wilayah telah di selimuti awan hitam yang beraliran petir, Hujan yang lebat pun terjadi hampir bersamaan di seluruh wilayah Benua Es Api tersebut.


"Byurrrr.................. " Suara Hujan Deras.


"Dzzitt....... Dzzitt........ Dzzitt....... "


"Dzzitt......... Dzzitt....... Dzzitt...... " Suara percikan petir di langit.


Kemudian Black Hole pun muncul serentak di semua tempat, lubang tersebut memiliki ukuran yang berbeda-beda. Dari dalam Black Hole tersebut pun muncul beragam jenis beast, kekacauan pun terjadi serentak hampir di seluruh Benua Es Api di malam tersebut.


"Duarghhh........ duargh....... duarghhh......... " Suara ledakan akibat serangan Beast.


Para Jenderal dan prajurit, serta kultivator lainnya pun tengah berhadapan dengan beast yang keluar dari dalam Black Hole tersebut.


Dasar Lorong Jebakan


Energi Cahaya dan Kegelapan pun mulai melesat keluar serentak dari tubuh Arung dan menghujam ke langit-langit dasar ruangan, seketika lapisan segel penjara bumi hancur.


"Duargh.........." Suara ledakan akibat hujaman energi cahaya dan kegelapan pada langit-langit dasar ruangan.


"Duargh.......... " Suara ledakan akibat hujaman energi cahaya dan kegelapan saat menerobos lalu melesat ke angkasa.


Energi hitam dan putih yang telah menyatu tersebut telah melesat ke arah langit, fenomena aneh pun terhenti Black Hole-Black Hole pun mulai menghilang perlahan. Kekacauan pun terjadi di setiap kota, Arung tidak menyadari fenomena tersebut terjadi karena dia telah membangkitkan sebuah elemen dewa "Black Hole".


"Brukkk..........brukkk..... brukkk....... " Suara serpihan langit-langit yang jatuh ke dasar ruangan.


"Ugh.... untung saja aku memasang perisai kultivasi tumbuhan segera, jika tidak Aku, Gisel, dan Shilla pasti tewas tertimpa reruntuhan tersebut." Gumam Arung.


Kedua gadis cantik pun tak sadarkan diri dan roboh ke dasar lantai sambil memeluk telur hitam dan telur putih.


"Brukkk...... brukkkk...... " Suara tubuh Gisel dan Shilla tersungkur ke lantai.


Langit-langit di ruangan ini pun telah hancur akibat kebangkitan elemen dewa milik Arung tersebut.


"Ugh...... tenaga ku memghilang." Ucap Arung.


"Brukkk......... " Suara tubuh Arung tersungkur di lantai dasar ruangan, perisai kultivasi pun perlahan menghilang.


Ia pun terjatuh dan sulit untuk bergerak, ternyata seluruh tenaga dalam dan kultivasi nya telah hilang untuk sementara.


"Ugh...... aku lupa akan efek samping dari metode kultivasi ganda ini, sebaiknya aku beristirahat di dalam bola ruang pemberian Putri Naga Kecil,"


"Aku seperti sedang mengangkat beberapa bongkahan batu besar, jika terlalu lama di sini aku bisa mati." Gumam Arung.


Dengan bersusah payah ia pun mengeluarkan bola ruang pemberian Putri Naga Kecil, dan kedua tangan nya mencoba menyentuh tubuh kedua gadis cantik tersebut.


"Ugh..... berat sekali, rasanya tangan ku mau patah." Gumam Arung, sambil menggerakkan kedua belah tangan nya dan berusaha menyentuh Gisel dan Shilla.


Setelah menyentuh tubuh kedua gadis cantik tersebut Arung pun mengucapkan pasword untuk memasuki bola ruang tersebut.


"Ugh....... akhir nya berhasil." Gumam Arung.


"Clara" Ucap Arung dengan suara yang sangat kecil.


Mereka bertiga pun terhisap ke dalam bola ruang milik Putri Naga Kecil.


Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di depan gerbang masuk mansion milik Putri Naga Kecil dengan kondisi terbaring di atas tanah. Sesampai nya di dalam pulau ini, barulah Arung dapat bergerak kembali.


"Hah........... " Suara hembusan nafas panjang Arung.


"Fiuh........... "


"Akhirnya tubuh ku bisa digerakkan kembali, syukurlah efek gaya gravitasi tersebut tidak sampai ke dalam sini." Ucap Arung.


Sementara itu kedua gadis cantik sudah tak sadarkan diri, tanpa mengenakan sehelai benang apa pun.


"Sebaik nya aku segera menggendong mereka berdua kembali ke dalam kamar terlebih dahulu,"


"Ughh....... celana ku terasa sempit." Gumam Arung, sang Pendekar Setengah Naga.

__ADS_1


__ADS_2