Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
Serangan Ke Benteng Mawar Hijau.


__ADS_3

Lima Bulan Kemudian.


Arung pun akhirnya berhasil berteleport ke atas Cangkang Kerang Tumbuhan Raksasa tersebut.


"Blitzzzz.................. " Suara Jurus Teleportasi milik Arung.


"Ugh.... Akhirnya aku berhasil juga menguasai jurus ini, setelah lima bulan akhirnya aku berhasil,"


"Sebelumnya aku sudah hampir putus asa karena selalu jatuh dari atas langit,"


"Sebaik nya aku kembali ke dalam Mutiara Berwarna Merah Darah tersebut dulu dan memberitahu kan yang lain nya mengenai kabar gembira ini." Gumam Arung lalu berteleport kembali ke dalam Mutiara Berwarna Merah Darah tersebut.


"Blitzzzz.............. " Suara Jurus Teleportasi milik Arung.


Dalam satu hembusan nafas Pemuda Tampan itu pun kembali ke atas Puncak Gunung Hitam dengan pakaian yang basah kuyup.


"Dup................ " Suara saat tapak kaki nya mendarat di atas tanah, ia pun terbang menuju Mansion Makam Kuno lalu masuk ke dalam Bola Ruang Milik Putri Naga Kecil.


Di Dalam Pulau Putri Naga Kecil.


Arung pun berjalan dengan raut wajah yang gembira menuju mansion Putri Naga Kecil tersebut.


"Shilla dan yang lain nya pasti senang bisa segera keluar dari dalam Mutiara berwarna merah ini, aku sebaik nya cepat mengabari mereka." Gumam Arung sambil berjalan.


Ia pun mulai menaiki tangga menuju lantai ketiga tersebut, tempat dimana yang lain nya berada saat ini.


Di Dalam Ruangan Putri Naga Kecil.


Ketiga Calon Alkemis Cantik ini baru saja selesai mandi berbarengan, aroma lavender yang menyengat tercium dari tubuh indah mereka bertiga, dan saat ini juga mereka tengah mengenakan pakaian dalam di dalam kamar yang penuh sejarah tersebut.


"Ugh..... Sudah hampir lima bulan kita berada di dalam Mutiara Berwarna Darah ini, apa Arung hanya memberikan janji palsu kepada kita Shilla,"


"Dan ia mengatakan kalau dirinya bisa membawa kita keluar dari sini setelah menguasai Jurus Teleportasi Bagian Ke empat?" Tanya Ayu sambil mengenakan penutup dada ungu nya.


"Percayalah pada nya Ayu, tidak ada salah nya kita percaya, toh kita bertiga pun tidak memiliki cara lain untuk keluar dari sini." Jawab Shilla sambil menoleh ke arah dada Ayu yang besar.


"Buset dada Ayu sama gede nya dengan punya Gisel, dada ku aja yang kecil, makanya Arung gak sering menggrepe-***** diriku." Gumam Shilla saat menoleh ke arah dada berukuran standar milik nya raut wajah sedikit sedih.


"Jeni kenapa kau diam saja, apa pendapat mu?" Tanya Ayu.


"Aku akan mengikuti Bos Arung apa pun yang terjadi Ayu." Ucap Jeni Galgadoth dengan tegas.


Jeni merasa berhutang budi dengan bantuan Bos Arung selama ini, ia pun memutuskan untuk mematuhi Bos Arung dan sudah sangat siap di rudu paksa oleh Bos yang menurut nya berdarah dingin tersebut.


"Ugh..... Gadis ini sebenarnya memiliki hubungan apa dengan Calon Suamiku?" Gumam Shilla kembali mencurigai gerak-gerik Jeni Galgadoth.


Saat mereka tengah berpakaian, Komandan Don Juan itu pun membuka pintu kamar tersebut.


"Kraaakkkkk............. " Suara saat pintu kamar penuh sejarah tersebut mulai terbuka.


Arung pun hanya diam dan membatu saat menyaksikan tubuh-tubuh setengah polos di hadapan nya tersebut, sementara itu Gadis-gadis itu cuek dan terus berpakaian.


"Dasar mata keranjang dia sengaja membuka pintu di saat kami tengah berpakaian, apa dia berniat mengembat Kakak nya Gisel juga?"


"Awas saja kalau iya, aku akan laporkan Ke Kak Mei Mei." Gumam Shilla lalu kembali berpakaian.


"Dia sudah pernah melihatku tak berbusana berhari-hari di Hutan Tak Bernama, anggap saja ini bonus buat nya karena telah menolongku menghisap racun di bawah dadaku saat itu." Gumam Ayu lalu kembali berpakaian.


Jeni Galgadoth pun menatap heran ke arah Arung, Ayu, dan juga Shilla yang begitu cuek, Arung pun lalu menutup pintu kamar penuh sejarah tersebut setelah memandangi pandang tersebut untuk beberapa menit.


"Dup.................. " Suara pintu kamar penuh sejarah itu saat tertutup.


Di Ruang Santai.


Arung pun duduk di kursi giok di ruang santai sambil menghisap tembakau ular milik nya setelah nya.


"Whusss........... " Suara hembusan asap rokok yang membentuk tubuh indah ketiga Calon Alkemis Cantik tersebut.

__ADS_1


"Ugh.... Gawat celanaku jadi sempit gara-gara pemandangan alam Benua kultivasi tadi, sungguh bukit-bukit yang indah." Gumam Arung lalu pipi nya pun mulai merah merona.


Beberapa menit kemudian.


"Kraaak........ " Suara pintu kamar yang penuh sejarah itu pun kembali terbuka kali ini Shilla yang membuka nya.


Ketiga Gadis Cantik tersebut pun langsung menghampiri Arung di dalam ruang santai, lalu duduk di sekeliling nya.


"Harumnya......., celanaku makin sempit jadinya,"


"Ugh.... Ketiga Gadis Cantik ini datang, sial kenapa aku berpikiran tubuh tak berbusana mereka terus?"


"Apa aku harus menggunakan kemampuan mata api ku?" Gumam Arung berniat melihat tubuh polos milik mereka kembali menggunakan mata lima elemen nya.


"Ehm... Ehm.... Apa ada yang ingin kau sampaikan Komandan?" Tanya Shilla yang membuyarkan rencana mesum Arung.


Sementara itu Jeni Galgadoth kembali gagal paham dengan kejadian barusan di dalam kamar yang penuh sejarah tersebut.


"Saat Komandan Berdarah Dingin tadi menatap tubuh tak berbusana kami, ekspresi Ayu dan Shilla biasa-biasa saja, seolah-olah mereka sudah pernah memperlihatkan tubuh polos mereka ke Arung?"


"Kalau Shilla aku sudah pernah mengintip nya berkali-kali sedang bermesraan dengan Arung, tapi kalau Ayu baru kali ini kulihat dia seperti itu,"


"Bos Arung pasti sudah lelah mencicipi Ayu, saat ini dia sedang mencicipi Shilla, setelah itu baru dia akan mencicipi aku." Gumam Jeni Galgadoth yang selalu salah paham terhadap tiap tindakan Arung.


"Begini semuanya, kita sudah dapat keluar dari sini, aku sudah berhasil menguasai Jurus Teleportasi Bagian Ke empat tersebut,"


"Ayo kita segera kembali ke permukaan." Ucap Arung dengan semangat berapi-api dan celana yang menyempit.


Ketiga Gadis Cantik tersebut pun mulai saling bertatapan, Shilla pun langsung memeluk Arung setelah nya.


"Kalau begitu ayo kita keluar dari sini Arung." Ucap Ayu lalu bangun dari kursi giok tersebut.


"My Lovely Arung kau memang is the best..... " Gumam Shilla.


Mereka berempat pun keluar dari dalam Mutiara Berwarna Merah Darah tersebut setelah nya.


Kembali ke Jendral Catherine.


Saat ini Jendral Cantik tersebut bersama 500 pasukan nya tengah berada di sekitar Benteng Mawar Hijau, hampir 3000 Komandan-komandan Baru dan Calon-Calon Alkemis sudah berhasil di tangkap oleh Jendral Mawar Ungu dalam beberapa bulan ini.


"Serang......... " Teriak Jendral Catherine dengan berapi-api.


Jendral Cantik tersebut bersama dengan 500 pasukan nya pun mulai menyerang Benteng tersebut, pertempuran berdarah pun mulai terjadi di dalam benteng tersebut.


"Tap...... Tap...... Tap....... "


"Tap...... Tap...... Tap....... " Gemuruh suara langkah kaki Prajurit-Prajurit Kekaisaran Dewi Es.


Para Prajurit-Prajurit Beast yang berjaga di sekitar Benteng sontak terkejut, dan mulai bersiap bertempur.


"Serangan mendadak di pagi hari." Gumam Salah Satu Prajurit Beast.


"Cepat beritahu Jendral Mawar Ungu status di Benteng Mawar Hijau ini." Perintah Salah Satu Prajurit Beast yang sedang berjaga.


"Baik..... " Ucap Prajurit tersebut lalu beranjak ke luar.


Saat ini Jendral Mawar Ungu tengah minum-minum di Bar Tumbuhan bersama beberapa komandan nya, Jendral Catherine pun mengambil inisiatif untuk menyerang benteng tersebut di saat Jendral Kekar itu tidak berada di dalam Benteng Mawar Hijau tersebut.


"Jangan biarkan ada Prajurit-Prajurit yang keluar dari dalam sini, bunuh yang mencoba mencari bantuan." Perintah Jendral Catherine menggunakan Jurus Auman.


Prajurit yang hendak mengabari keadaan di benteng itu pun di bunuh oleh salah satu Prajurit Kekaisaran Dewi Es.


"Rasakan ini." Ucap Prajurit Kekaisaran Dewi Es tersebut sambil melesatkan bola api ke arah Prajurit Beast yang sedang melesat tersebut.


Bola api tepat mengenai kepala Prajurit Beast tersebut, seketika kepalanya pun hangus terbakar.


"Boomm......... " Suara ledakan di kepala Manusia Beast tersebut.

__ADS_1


"Akhhhh....... " Teriak Prajurit tersebut lalu tewas dan kembali ke wujud asal nya menjadi manusia pohon.


"Bagus... " Gumam Jendral Catherine sambil melesat menggunakan Jurus Langkah Petir.


"Duarghhh.......... Duargh......... " Suara tembakkan balok-balok kayu yang mengenai beberapa Prajurit-Prajurit Kekaisaran Dewi Es.


Tampak di kedua belah pihak sudah mulai berjatuhan korban, dinding di sekitaran pintu masuk Benteng hancur di beberapa titik nya, kobaran api pun terlihat di mana-mana.


"Tring...... Tring...... Tring....... "


"Tring.......Tring....... Tring...... " Suara saat Pedang-Pedang Prajurit-Prajurit tersebut saling beradu.


Jendral Catherine pun mulai memasuki koridor benteng tersebut lalu membunuh siapa pun yang di temuinya di dalam lorong tersebut.


"Jangan mundur, kita harus bertahan sampai Jendral Mawar Ungu kembali." Teriak Salah Satu Prajurit yang berjaga di dalam koridor benteng tersebut.


Daun-daun yang tajam pun mulai di lesatkan oleh Manusia-Manusia Beast tersebut.


"Whusss...... Whusss...... Whusss...... " Suara saat daun-daun tajam tersebut melesat.


"Slassshhhh...... Slasshhh ........ " Suara saat daun-daun itu memotong-motong tubuh dan mencabik-cabik beberapa Prajurit-Kekaisaran Dewi Es.


"Akh..... Akh...... "


"Akh..... Akh..... " Teriak kesakitan Prajurit-Prajurit tersebut lalu tewas.


Jendral Catherine pun berang lalu mulai melesatkan serangan bola petir raksasa ke arah Prajurit-Prajurit Beast yang sedang piket tersebut.


"Ugh.... Mereka berani memotong-motong Pasukan ku di hadapan ku, rasakan ini." Teriak Jendral Catherine lalu melesatkan serangan bola petir ke arah makhluk-makhluk tersebut.


"Whussss.............. " Suara hembusan angin saat bola petir raksasa melesat.


"Serang........ " Teriak Prajurit Beast lain nya.


Para Prajurit-Prajurit Beast yang berjaga kembali melesat kan balok-balok kayu runcing ke arah Jendral Catherine, para Prajurit-Prajurit Kekaisaran Dewi Es pun ikut melesatkan beragam serangan ke arah makhluk-makhluk tersebut.


"Duargh................... " Suara ledakan dahsyat pun terjadi akibat benturan serangan yang beragam tersebut.


"Groaghhhhhhh....... " Suara getaran Benteng Mawar Hijau saat ledakan itu terjadi.


Asap hitam dan debu pun mulai menutupi koridor giok hijau tersebut.


"Sekarang saat nya." Gumam Jendral Catherine.


Jendral Catherine pun mengeluarkan Belati Petir nya lalu mulai memotong-motong leher Prajurit-Prajurit Beast yang sedang lengah tersebut.


"Slashh....... Slash...... Slash..... " Suara saat kepala Prajurit-Prajurit Beast tersebut terpotong.


"Akh........ Akh............. " Teriak kesakitan Beast-Beast tersebut lalu kemudian tewas dan kembali ke wujud asal nya menjadi manusia pohon.


"Brukkkkk........ Brukkkkk........ " Suara saat tubuh-tubuh v Beast tersebut tersungkur ke lantai giok.


Setelah beberapa menit, akhirnya Jendral Catherine berhasil menumpas seluruh penjaga yang ada di koridor menuju penjara bawah tanah dan melepaskan seluruh Komandan-komandan Baru dan Calon-Calon Alkemis yang di tahan termasuk Bu Janet dan Pak Thio. 300 Prajurit-Prajurit Manusia Beast tewas dan 100 Prajurit-Prajurit Kekaisaran juga tewas, terlihat di sekitaran lantai koridor mayat-mayat manusia dan Beast bergelimpangan, ceceran darah terlihat hampir di seluruh tempat tersebut.


"Jendral Catherine, Terima kasih kukira aku akan menjadi santapan Manusia-Manusia Pohon ini." Ucap Pak Thio yang saat ini masih terluka parah.


"Uhuk..... Uhuk..... Uhuk...... " Suara batuk darah Pak Thio.


"Sebaiknya kita segera kembali ke dalam Kapal Layar Langit Pak Thio, Bu Janet dan yang lain nya, setelah itu kita harus segera keluar dari Planet Bar-bar ini." Ucap Jendral Catherine.


"Ayo semuanya kita ikuti Jendral Catherine." Seru Bu Janet.


"Siap Bu...... " Jawab Kompak Komandan-Komandan dan Calon-Calon Alkemis tersebut.


Jendral Cantik tersebut dan yang lain nya pun mulai beranjak pergi dari dalam Benteng Mawar Hijau tersebut lalu terbang kembali ke Kapal-Kapal Layar Langit mereka.


"Whusss...... Whusss...... Whuss...... " Suara Hempasan Angin saat mereka melesat terbang dari Benteng Mawar Hijau tersebut berniat kembali ke Samudra Zamrud Hijau.

__ADS_1


TO BE CONTINUED.........


[MOHON VOTE DAN LIKE NYA AGAR NOVEL INI TETAP TERBIT ON TIME CC NOVELIS JALANAN].


__ADS_2