
Kedai Perbatasan
"Byurrrr...................... " Suara hujan deras.
Tak terasa hari sudah menjelang tengah malam di Kota Awan Hitam ini.
"Kring... kring.... kring..... " Suara HP berdering dari dalam cincin ruang milik Dinda, lalu ia pun mengangkatnya.
"Nona Dinda kami akan menjemput mu, kamu di mana sekarang?" Tanya Supir mobil, melalui HP.
"Aku sedang minum nich bersama dengan temanku di kedai dekat gerbang masuk Kota Awan Hitam ya, akan ku share kan alamat nya sekarang." Jawab Dinda, melalui HP.
Dinda kemudian menshare kan lokasi keberadaan nya melalui pesan whatsapp kepada supir taxi tersebut.
"Pelayan berapa semuanya?" Tanya Dinda.
Dinda memanggil pelayan bermaksud mentraktir Arung, beberapa saat kemudian Pelayan pun menghampiri Dinda.
"Semuanya 10 koin emas nona muda." Jawab Pelayan.
Dinda lalu membayarnya, tak terasa pengunjung di kedai ini yang tadinya ramai tinggal hanya mereka berdua saja.
"Wah...... ternyata sudah kita tinggal berdua saja disini Dinda." Ucap Arung.
"Kita keasyikan ngobrol Arung, eh ada apa itu di pipimu Arung?" Tanya Dinda.
"Apa ya." Jawab Arung, lalu meraba-raba pipinya.
"Perasaanku tidak ada bekas kotoran menempel di pipi." Gumam Arung.
"Sini Arung biar ku lihat." Ucap Dinda, lalu bangun menghampiri Arung dan mengecup pipi Arung.
"Eh.... Dinda." Gumam Arung.
"He.... he.... he.... " Tawa kecil Dinda.
"Itu hadiah untuk Buah Pohon Raja Api tadi, ayo kita keluar Arung." Ucap Dinda, lalu beranjak keluar dari Kedai Perbatasan
Saat ini Dinda terbius kemampuan Dragon Love milik Arung.
"Syukurlah ini hanya kecupan hadiah, untuk sementara ini aku tidak ingin berurusan dengan wanita terlebih dahulu." Gumam Arung, lalu beranjak ke luar kedai.
Di luar Kedai Perbatasan
"Arung aku akan menunggu jemputan disini, kamu kalau ingin pulang,"
"Pulang duluan aja Arung, dan Terima kasih ya untuk Buah Pohon Raja Apinya." Ucap Dinda.
"Ya sudah hati-hati ya Dinda." Ucap Arung lalu pergi pergi ke jeep perang baru milik nya dan langsung beranjak pergi dari tempat tersebut seraya membunyikan klakson dua kali.
"Teen...... teen.......... " Suara klakson dua kali.
Dinda pun melambaikan tangannya ke arah Arung.
"Wah anak itu sungguh kaya sekarang, mobilnya itu berharga beberapa ratus ribu koin emas,"
"Nona Yang sepertinya bergerak lebih cepat dengan melakukan hal itu di malam penjelajahan dengan Arung, sepertinya Nona Yang sudah memprediksi keberhasilan Arung di masa depan,"
"Kya............ jika tau aku akan melakukan hal yang serupa saat itu,"
"Dia juga sungguh sangat tampan saat ini." Gumam Dinda.
Dinda masih gagal paham mengenai hubungan terlarang Arung dan Nona Yang sampai dengan hari ini, beberapa saat kemudian Dinda pun di jemput oleh taxi langganan nya dan kembali pulang ke Desa Fire snake.
Penginapan Stadium Awan Hitam.
Sementara itu di Penginapan Stadium, Gisel berulang kali menelpon Arung namun selalu terdengar bunyi.
"Beep...beep....beep.....nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, silahkan menelepon kembali atau meninggalkan pesan...teet...teet......................" Suara HP Arung non aktif, karena Arung lupa mengecas HP tablet nya.
"Ugh........ kemana dia pergi, aku sudah menelponnya beberapa kali.
"Dasar Arung..... bodoh.... bodoh..... bodoh... " Gumam Gisel, lalu menyimpan HP miliknya.
Gisel pun dengan ekspresi kesal berulang kali keluar dari dalam kamarnya lalu menggedor kamar Arung.
"Tok...... tok...... tok..... "
"Tok...... tok...... tok..... " Suara ketukan pintu, Gisel lalu mendekatkan telinganya ke pintu kamar.
Saat ini Gisel tengah mengenakan sehelai handuk saja, lalu berniat melakukan sesuatu yang nakal dengan Arung.
"Kemana perginya Arung malam ini, padahal aku mau menumpang mandi,"
"Mungkinkah dia sedang bersama wanita lainnya?" Gumam Gisel.
Akhirnya ia pun menyerah lalu menggedor kamar ketiga orang tuanya. Kakaknya Gisel, Ayu sejak tadi sudah tidur nyenyak sebab sudah selesai menumpang mandi di dalam kamar ayah dan kedua ibunya.
"Tok...... tok...... tok..... "
"Tok...... tok...... tok..... " Suara ketukan pintu, Gisel.
"Krakk.......................... " Suara pintu terbuka.
"Hoam................ " Suara menguap Nyonya Ya.
Nyonya Ya pun terkejut melihat Gisel yang hanya mengenakan sehelai handuk saja di tengah malam begini.
"Gisel masuklah." Ucap Nyonya Ya.
"Baik Ma, aku hanya mau menumpang mandi lalu segera kembali ke kamar ku Ma." Ucap Gisel, lalu masuk ke dalam.
"Dasar anak aneh, sudah tengah malam begini baru menumpang mandi,"
"Kenapa tidak menumpang mandi sehabis sore tadi, dasar Gisel,"
"Dia pasti berniat mandi di kamar nya Arung,"
"Sepertinya Arung malam ini tidak pulang ke kamar nya, makanya Gisel belum mandi-mandi sampai dangan sekarang." Gumam Nyonya Ya, lalu menutup pintu kembali.
"Brukkk.................. " Suara pintu tertutup.
Jalanan Kota Awan Hitam
Arung pun mulai menjalankan jeep nya kembali ke arah penginapan Stadium Awan Hitam yang terletak di pusat kota. Beberapa jam kemudian, ia pun telah tiba di depan penginapan tersebut. Arung pun keluar lalu memasukkan Mobil Jeep merah nya kembali ke dalam cincin ruang garasi miliknya.
"Huft.................. " Suara hembusan nafas panjang milik Arung.
Arung terlihat lelah sehabis kembali dari Goa Giok Hijau.
"Di Dunia kultivasi ini segalanya serba praktis, bahkan ada cincin garasi segala,"
"Wanita-wanita nya pun banyak yang cantik-cantik namun rata-rata mereka kuat-kuat semua nya." Gumam Arung, lalu masuk ke dalam Penginapan.
"Selamat datang Tuan Muda." Sapa dua Penjaga Cantik di pintu Penginapan.
"Wah......... Tuan Muda berambut merah itu makin ganteng aja." Gumam salah satu Penjaga Cantik tersebut.
Mereka telah terkena kemampuan Dragon Love milik Arung.
Penginapan Stadium Awan Hitam
Kemudian Arung pun beranjak masuk ke dalam lobi hotel, dia lupa terhadap ketiga orang gadis kembar yang menarget kan nya.
"Hah....... lelahnya, meminum segelas susu naga pasti menyegarkan sebelum tidur,"
"Setelah itu baru aku mandi dan bobo." Gumam Arung.
Di meja resepsionis.
Arung tidak sadar kan diri saat berjalan di depan ruangan resepsionis dengan santai nya.
"Akhirnya setelah sekian lama menunggu, Tuan Muda Arung saat ini sudah berjalan di hadapan kita,"
"Meli, Moli cepat jalankan rencana kita." Perintah Meri.
"Tampan nya, sudah lama sejak terakhir kali nya aku melihat Tuan Muda." Gumam Moli.
"Baik Meri." Ucap Meli, lalu mengeluarkan Rantai Naga dari cincin penyimpanan miliknya.
"Moli gunakan Tongkat Pemukul Naga ini, untuk memukul kepala Tuan Muda." Perintah Meri, lalu memberikan senjata suci tersebut kepada nya.
"Wah..... aku gak tega sebenarnya memukul kepala Tuan Muda, namun rencana kami harus berhasil,"
"Agar Tuan Muda mau menjadikan kami bertiga pacarnya, maafkan aku Tuan Muda." Gumam Moli, lalu mengambil senjata suci tersebut.
"Begitu Tuan Muda keluar dari lift segera jalankan rencana kita, Meli, Moli." Perintah Meri.
"Baik Meri." Sahut kompak mereka.
Kedua gadis kembar tersebut punclangsung melesat ke arah tangga menggunakan Jurus Langkah Petir nya. Sementara itu Arung sedang berada di dalam lift, dan tidak menyadari rencana penyergapan dari ketiga gadis kembar tersebut.
Di dalam Lift.
"Ugh................. kenapa bulu kuduk ku berdiri tiba-tiba ya, kenapa aku bisa merinding,"
"Mungkinkah lift ini angker?"
"Aneh sekali, firasat ku gak enak banget malam ini." Gumam Arung.
Beberapa saat kemudian Lift pun telah tiba di lantai 30.
"Tingg...... tong........ " Suara bel menandakan lift telah sampai ke lantai yang di tuju.
Pintu lift pun terbuka secara otomatis, Arung pun mulai berjalan keluar dari meninggal kan lift.
Koridor Lantai 30
Arung tidak menyadari, saat ini kedua gadis kembar telah bersiap untuk menangkapnya. Sesaat setelah ia ke luar dari dalam lift, Moli langsung memukul kepala Arung dengan sebuah Tongkat Pemukul Naga milik nya.
"Brukkk..................... " Suara tubuh Arung yang ambruk terkena pukulan di kepala.
"Huft......................... " Suara hembusan nafas panjang Moli, lalu MMeli mulai mengikat tubuh Arung yang tergeletak dengan Rantai Naga miliknya.
"Aku tidak mengira akan semudah ini Meli, kenapa Tuan Muda bisa ambruk dengan sekali pukul,"
"Seharusnya setelah beberapa kali pukulan baru dia ambruk." Ucap Moli.
"Sudahlah Moli, jangan berpikir terlalu keras, ayo kita bawa tubuh Tuan Muda ke ruangan resepsionis,"
"Mungkin langit malam ini merestui tindakan kita, Moli." Ucap Meli, lalu mereka berdua pun mulai menggotong tubuh Arung dan berniat membawanya kembali ke Lobi Hotel.
Meli dan Moli tidak mengetahui bahwa sanya Arung merupakan seorang Pendekar Setengah Naga, lalu senjata suci yang menyerang Arung tersebut merupakan sebuah senjata khusus yang di gunakan untuk berburu beast naga. Jadi secara kebetulan Tongkat Pemukul Naga itu memiliki efek yang sangat besar bagi nya.
Di dalam Ruang Istirahat Resepsionis di Lobi Hotel.
Beberapa menit kemudian mereka pun telah sampai di Lobi Hotel, lalu langsung saja mereka mulai beranjak ke dalam Ruangan Istirahat Resepsionis.
"Huft.............. " Suara hembusan nafas panjang Meli.
"Wah kalian berhasil, cepat letakkan tubuh Tuan Muda di atas kursi besi ini." Perintah Meri.
Saat ini Meri tengah mengenakan pakaian piyama tidur yang super minim berwarna hijau berenda. Meli dan Moli pun terkejut melihat penampilan Meri saat ini.
"Apa yang mau kau lakukan, Meri?"
"Kenapa kau berpakaian seperti itu." Ucap Moli, sambil meletakkan Tuan Muda di atas kursi bersama Meli.
"Nanti kalian akan segera mengerti, cepat rantai tubuh Tuan Muda sekarang di kursi besi tersebut,"
"Lalu genggam tangannya." Perintah Meri.
"Meri pasti memiliki sebuah siasat." Gumam Meli.
Beberapa saat kemudian mereka berdua pun selesai mengikat tubuh Arung dengan Rantai Naga ke kursi besi tersebut, Meri lalu meminum segelas susu yang ada di atas meja lalu menyemburkan susu tersebut ke wajah Arung.
"Ugh................... Meri kau sungguh mesum, apa yang kau lakukan?" Gumam Moli, sambil memegang erat tangan Arung.
Beberapa saat kemudian Arung perlahan membuka kedua matanya.
"Ugh.................. kepalaku, kenapa tenaga dalam ku menghilang." Gumam Arung, lalu mulai mengamati sekitar nya.
Tenaga dalam Arung tiba-tiba menghilang untuk beberapa saat di karenakan efek dari Tongkat Pemukul Naga. Akhirnya Arung menyadari saat ini dirinya tengah di sekap oleh tiga cewek kembar di dalam sebuah ruangan.
"Tiga cewek kembar Psikopat, kacau deh,"
"Sejak kapan mereka merantai ku.... ugh..... ugh.... ugh.... " Gumam Arung, sambil mencoba melepaskan dirinya.
Meri pun mulai beranjak ke arah Arung lalu duduk di atas pangkuan nya, kemudian mencium bibir Arung.
"Meri kau curang, aku juga mau." Ucap Meli.
"Benar aku juga mau, ayo gantian sekarang Meri." Ucap Moli.
"Apa yang kau lakukan Meri?" Tanya Arung.
Meri pun mengeluarkan Bulu Gagak ketawa lalu mulai menggelitik leher Arung menggunakan bulu tersebut.
"Ah.... ha.... ha..... ha....... geli Meri.... "
"Ah... ha... ha.... ha.... ha..... "
"Ah.... ha.... ha.... ha.... geli Meri." Teriak Arung.
Meri pun menghentikan menggelitik Arung, ia lalu memeluk leher Arung.
"Baiklah Tuan Muda, kami akan menghentikan menggelitik mu,"
"Tapi kau harus menjadikan kami bertiga sebagai pacarmu, jika tidak aku akan mencium mu lagi lalu menggelitik mu lagi." Ucap Meri.
"Wah...... kacau aku tidak mungkin menambah masalah dengan wanita lagi, apalagi kalau wanita nya Psikopat bisa runyam hidupku." Gumam Arung.
"Bagus Meri, aku sangat setuju." Sahut kompak Meli dan Moli.
"Sebaiknya aku mengulur waktu, hingga tenaga dalam ku pulih kembali,"
"Lalu aku akan segera berpindah tempat dari ruangan penyiksaan sekaligus pelecehan ini." Gumam Arung.
"Kenapa kau termenung Tuan Muda?" Ucap Meri.
"Meri cinta itu tidak bisa di paksakan, berikan aku sedikit waktu." Ucap Arung.
"Wah.......... bagus sepertinya Meri mulai berhasil, aku tidak sabar menunggu malam pertama bersama Tuan Muda." Gumam Meli.
Meri pun diam sejenak lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Arung.
"Tuan Muda, setelah pacaran cinta akan tumbuh dengan sendirinya,"
"Sama seperti saat aku merasakan celana mu yang semakin sempit di bawah sana." Ucap Meri.
"Wah Meri memang hebat, tapi tunggu dulu,"
"Sempit dan di bawah sana, wah aku juga mau Meri." Gumam Moli.
"Tapi lebih alami jika kita menumbuhkan rasa cinta terlebih dahulu, baru kita mulai berpacaran Meri." Ucap Arung.
"Sepertinya kau tidak mengerti siapa yang berkuasa saat ini." Ucap Meri, lalu mencium bibir Arung kembali.
Beberapa saat kemudian tenaga dalam milik Arung pun kembali.
"Ugh................. syukurlah, jika tidak aku pasti akan segera di perkosa oleh ketiga cewek kembar Psikopat ini." Gumam Arung lalu melesat kan Jurus Teleportasi miliknya.
"Blitzzzz......................... " suara jurus teleportasi milik Arung.
Dalam sekejap mata Arung pun berpindah ke dalam kamarnya, ketiga cewek kembar Psikopat pun terkejut.
"Lho...........kemana Tuan Muda pergi, kenapa dia bisa menghilang secara tiba-tiba?" Ucap Meri.
"Apa Tuan Muda berasal dari Sekte Kupu-kupu Hantu?" Ucap Moli.
"Ugh....... Tuan Muda Kentangggg........... " Teriak Meli.
__ADS_1
Meli dan Moli lalu saling menatap karena bingung, saat ini di kursi besi tersebut sudah kosong dan hanya tinggal Meri lalu Rantai Naga. Meri pun mulai beranjak meninggalkan kursi besi tersebut, lalu masuk ke dalam toilet berniat berpakaian kembali tanpa berkata sepatah kata pun. Meli dan Moli, mereka pun kembali ke dalam kamar nya masing-masing di lantai satu tersebut.
Di dalam Toilet.
Saat ini Meri tengah mengganti pakaian super minimnya dengan pakaian sehari-hari nya.
"Aku harus membuat rencana yang matang untuk menangkap Tuan Muda, aku tidak akan menyerah karena kegagalan kali ini,"
"Bibir Tuan Muda, aku masih bisa merasakannya." Gumam Meri.
Di dalam kamar.
Dalam sekejap mata, Arung pun tiba di dalam kamar nya.
"Syukurlah aku selamat dari pelecehan kali ini," Gumam Arung, lalu beranjak ke dalam kamar mandi berniat berendam si dalam bak air panas.
Di dalam Kamar Mandi.
Beberapa saat kemudian, Arung pun berendam di dalam bak air panas.
"Mulai saat ini aku harus menghindari Lobi Hotel, jika tidak bisa gawat,"
"Senjata suci milik mereka sepertinya sebuah senjata suci yang lebih hebat dari ranah alam dewa, seluruh tenaga dalam ku bisa hilang untuk beberapa menit,"
"Mereka bertiga pun hendak memperkosa ku tadi, untung saja tenaga dalam ku kembali di saat-saat paling kritis, jika tidak aku pasti menderita cedera yang sangat parah mereka terlihat sangat kasar." Gumam Arung.
Saat ini Arung sedang berendam di dalam bak air panas untuk menenangkan pikiran nya sejenak, sambil meminum segelas susu naga.
Keesokan paginya dikamar Gisel.
"Tok. .. tok... tok... " Suara ketukan pintu.
"Hoam........ " Suara menguap Gisel.
"Ugh...... siapa sih jam segini mengetuk pintu." Gumam Gisel, lalu membuka pintu kamarnya.
Ternyata petugas reparasi pipa kamar mandi hotel yang mengetuk pintu tersebut.
"Oh... ternyata Petugas reparasi yang datang." Gumam Gisel
"Selamat pagi Nona, kami menerima keluhan kerusakan kamar mandi kemarin." Ucap salah satu Petugas tersebut.
"Wah....... tidak kusangka Nona ini begitu cantik." Gumam Petugas Reparasi tersebut.
"Oh... iya benar sekali Tuan, silahkan masuk." Ucap Gisel
"Syukurlah akhirnya ada yang memperbaiki kerusakan pada pipa tersebut." Gumam Gisel.
"Ikut dengan ku Tuan." Ucap Gisel, lalu mempersilahkan petugas tersebut masuk.
"Baik Nona." Ucap Petugas tersebut, lalu mengikuti Gisel.
Gisel pun memperlihatkan kerusakan pada pipa kamar mandi, petugas itu pun mulai memperbaiki pipa yang rusak.
"Tuan kalau begitu saya tinggal dulu ya, saya ada sedikit keperluan lainnya." Ucap Gisel.
"Baik Nona, silahkan,"
"Nanti ketika saya sudah selesai memperbaiki nya, saya akan segera pergi." Ucap Petugas tersebut.
"Baiklah, ini saatnya mandi ketempat my lovely Arung." Gumam Gisel, lalu mengambil handuk dan beranjak ke Kamar Arung berniat menumpang mandi kembali.
Di depan pintu kamar Arung.
"Tok.... tok.... tok...." Suara ketukan pintu.
"Sayang... sayang...." Ucap Gisel.
"Krakk.............." Suara pintu kamar terbuka.
Di dalam kamar
"Masuklah Gisel, sabun sudah ada di bak di dalam kamar mandi." Ucap Arung.
"Wah........ dia sudah memprediksi kedatangan ku untuk menumpang mandi." Gumam Gisel.
"Baik sayang, kau memang mengerti apa yang ku butuh kan." Ucap Gisel.
"Ketimbang aku kentang lagi seperti beberapa hari yang lalu, lebih baik begini." Gumam Arung.
Gisel pun lalu masuk dan beranjak ke dalam kamar mandi, Arung pun menelpon restaurant penginapan untuk memesan dua porsi daging kijang dan beberapa kaleng beer.
"Baiklah aku sudah memesan makanan dan minuman kini aku tinggal bersantai dulu." Gumam Arung, lalu duduk bersantai di sofa.
Beberapa saat kemudian, Gisel pun selesai mandi lalu ia keluar dan hanya mengenakan handuk saja kembali ke kamarnya.
"Wah...... cantik nya, aroma tubuh nya pun wangi." Gumam Arung.
"Sayang, Terima kasih ya,"
"Aku kembali dulu ya." Ucap Gisel.
"Iya....... "
"Gisel kamar tidak ku kunci ya, nanti setelah siap berpakaian,"
"Sarapan paginya disini ya" aku sudah memesankan dua porsi daging kijang dan beberapa kaleng beer." Ucap Arung.
"Ia sayang, aku pasti aku balik lagi kesini." Ucap Gisel.
Beberapa menit kemudian.
"Baiklah sekarang giliran ku mandi." Gumam Arung, lalu beranjak ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi.
"Wah harum sekali, kamar mandinya." Gumam Arung, lalu mulai mengisi bak air dengan air panas.
"Andai kan bisa mandi bareng Gisel pasti akan sangat nikmat." Gumam Arung.
Setelah bak air terisi penuh, Arung pun mulai berendam lalu membersihkan tubuh nya.
Di dalam Kamar.
Beberapa saat kemudian Office boy pun tiba di depan pintu kamar Arung dan berniat mengantarkan pesanan makanan.
"Tok... tok... tok... " Suara ketukan pintu.
"Tuan muda pesanannya telah tiba." Ucap OB lelaki
"Baguslah, makanan sudah tiba." Gumam Arung, yang sedang berendam di air panas.
"Masuklah pintu kamar tidak di kunci, letakkan saja makanan nya di atas meja ruang santai ya." Ucap Arung.
Office Boy itu pun masuk lalu meletakkan pesanan tersebut di atas meja di ruang santai.
"Tuan Muda, aku permisi dulu,"
"Pesanannya sudah ku letakkan di tempat yang Anda sebut kan yach." Ucap Office Boy tersebut, lalu beranjak keluar kamar.
Koridor Penginapan
Kembali saat Gisel keluar dari kamar Arung, ternyata Patriak juga keluar dari kamarnya.
"Papa, dia pasti berpikir yang tidak-tidak, sebaiknya aku beranjak kembali kedalam kamar." Gumam Gisel, lalu kembali masuk ke dalam kamar nya.
"Sepertinya mereka habis bersenang-senang, ya sudahlah,"
"Mereka pun sebentar lagi akan menikah." Gumam Patriak, lalu tersenyum kecil ke arah Gisel.
Patriak lalu turun ke lobi berniat untuk merokok di bawah. Nyonya Ya tidak suka jika Patriak menghisap rokok, jika Patriak merokok di hadapan nya Nyonya Ya pun langsung membakar habis rokok Patriak dengan sebuah bola api kecil yang melesat dari jarinya.
Di dalam Kamar Arung.
Setelah selesai berpakaian Gisel pun kembali ke dalam kamar Arung.
"Wah..... ternyata dia menunggu ku untuk sarapan bareng, ugh.... my lovely Arung." Gumam Gisel, lalu beranjak ke ruang santai
"Gisel aku sudah menunggu mu dari tadi, ayo kita sarapan." Ucap Arung, lalu mulai menyantap makanan.
"Baiklah my lovely Arung." Ucap Gisel, lalu bergabung dengan Arung di ruang santai.
"My lovely Arung...... " Gumam Arung.
Di ruang santai
Mereka berdua pun mulai sarapan pagi bersama di ruang santai tersebut, sambil menyantap makanan mereka pun mulai mengobrol ringan.
"Gisel ketika aku berpetualang, aku tidak sengaja menemukan sebuah bola energi yang mengeluarkan aura berwarna hijau,"
"Kamu tahu benda apa itu?" Ucap Arung.
Gisel pun berpikir sejenak sambil menyantap makanan.
"Bola hijau, apakah mungkin bola kaki khusus yang di pakai Kultivator Sepak Bola berkultivasi?" Gumam Gisel.
"Coba aku lihat bola hijau tersebut, Arung." Ucap Gisel.
Arung lalu mengeluarkan Bola energi berwarna hijau tersebut dari dalam cincin ruang penyimpanan miliknya.
"Ini bola nya Gisel." Ucap Arung, lalu memperlihatkan bola hijau tersebut.
Gisel memperhatikan bola hijau tersebut dengan seksama dan dengan raut wajah nya serius.
"Ini bukan bola kaki khusus, aku tidak pernah melihat yang seperti ini,"
"Sebaiknya Arung mencari tahu benda seperti ini dari buku-buku yang ada di Perpustakaan Awan Hitam." Gumam Gisel.
"Kenapa Gisel termenung, mungkinkah dia juga tidak tahu mengenai bola hijau tersebut?" Gumam Arung.
Beberapa saat kemudian.
"Sepertinya aku belum pernah melihat benda seperti ini di Kota Awan Hitam, Arung,"
"Coba saja kamu ke perpustakaan Kota Awan Hitam, lalu coba cari informasi mengenai boa hijau tersebut di sana sayang." Ucap Gisel.
"Sepertinya Gisel tidak tahu juga, sepertinya aku memang harus mencari informasi mengenai benda ini di Perpustakaan." Gumam Arung.
"Baiklah, Gisel." Ucap Arung.
Arung pun termenung lalu melihat kembali bola tersebut, dan setelah beberapa saat ia pun menyimpan bola tersebut kembali kedalam cincin ruangnya. Arung berasumsi bahwa sanya Bola Energi Berwarna Hijau tersebut adalah sebuah esensi, tapi ia masih ragu-ragu lali butuh suatu kepastian mengenai hal tersebut.
"Sepertinya Arung sangat penasaran dengan benda tersebut." Gumam Gisel.
"Sepertinya aku harus pergi ke Perpustakaan tersebut Gisel,"
"Lagian aku tidak memiliki jadwal bertanding pagi ini." Ucap Arung.
"Oh...............ya sudah kalau begitu,"
"Kalau aku jadwal bertarung kku pagi ini jam sembilan nanti, sayang,"
"Aku akan menunggumu di tempat biasa, kamu pergi saja dulu ke perpustakaan, Sayang." Ucap Gisel.
Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai sarapan. Gisel pun mengshare kan lokasi Perpustakaan melalui pesan whatsapp ke nomer Arung.
"Arung, aku pergi dulu ya, aku sudah mengshare lokasi Perpustakaan ke nomer Sayang." Ucap Gisel.
"Terima kasih ya Gisel." Ucap Arung.
"Ya sayang, kepentingan mu adalah kepentingan ku juga." Ucap Gisel, lalu mencium pipi Arung.
Setelah itu Gisel pun beranjak pergi dari Kamar Arung menuju ke Stadium Awan Hitam.
"Wah............ dia maen cium aja, kenapa gak cium di bibir kan lebih romantis." Gumam Arung.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu.
"Tok... tok.... tok...." Suara ketukan pintu.
"Sepertinya Gisel ketinggalan sesuatu, makanya dia balik lagi." Gumam Arung lalu membuka pintu kamar nya.
Ternyata bukan Gisel yang mengetuk pintu tersebut, melainkan Ayu yang mengetuk nya. Saat ini Ayu sedang mengenakan pakaian tidur yang super minim dan transparan.
"Ayu............ "
"Ayu benar benar cantik dan sexi, aku tidak menduga dia begitu sexi,"
"Ayu tidak kalah cantik nya daripada Gisel." Gumam Arung.
"Arung pipa kamar mandi di kamar ku saat ini sedang di perbaiki,"
"Aku sudah mengetuk kamar orang tua ku, tapi sepertinya mereka sedang tidak ada di kamar,"
"Bisakah aku menumpang mandi di sini, Arung?" Tanya Ayu.
"Ugh....... jangan kan menumpang mandi, mandi bareng pun aku mau Ayu,"
"Oh..... ia, aku harus segera pergi ke Perpustakaan saat ini." Gumam Arung.
"Tentu saja Ayu, kita kan keluarga,"
"Masuklah, Nanti ketika sudah selesai mandi tolong kunci pintunya,"
"Dan kuncinya di titip kan saja di resepsionis bawah ya, Ayu." Ucap Arung.
Arung lupa terhadap Tiga Gadis Kembar Psikopat yang selalu mengejarnya, bahkan semalam hendak memperkosanya.
"Wah...... Gisel benar-benar beruntung, aku menyesal saat di hutan tak bernama tidak mengejarnya,"
"Oh ia........Nona Yang sama Arung kan sudah melakukan hal tersebut saat malam itu." Gumam Ayu.
"Ok deh Arung, nanti ku titip kan di bawah yach." Ucap Ayu.
Arung pun kemudian keluar berniat menuju ke Perpustakaan Awan Hitam.
Koridor Hotel.
Arung pun kembali teringat kejadian semalam, saat ketiga cewek kembar hendak memperkosanya.
"Aku baru ingat, ketiga cewek itu pasti di bawah,"
"Sebaiknya aku berteleport dari sini langsung ke depan pintu masuk penginapan, rasanya lebih aman." Gumam Arung, lalu memasang kuda-kuda.
Di Trotoar Jalan, di depan Pintu masuk Penginapan
"Blitz.................. " Suara jurus teleportasi milik Arung.
Dalam sekejap mata Arung pun berpindah ke depan pintu masuk penginapan.
"Lho, Tuan Muda,"
"Anda benar-benar cepat." Ucap Gadis Penjaga Pintu.
"Terima kasih Nona Cantik." Ucap Arung, lalu mengeluarkan Mobil Jeep dari dalam cincin ruang miliknya.
"Wah........ Tuan Muda ini selalu datang dan pergi seperti hantu." Gumam Gadis penjaga Pintu.
Arung pun pergi menuju Perpustakaan Awan Hitam mengikuti map yang di kirimkan oleh Gisel.
Lobi Hotel, saat ini
Patriak sudah selesai menghisap rokoknya di lobi hotel lalu berniat kembali kamar nya.
"Sebaiknya aku kembali, aku harus segera berangkat kerja,"
"Aku sedang ada project pengembangan Roda Emas." Gumam Patriak, lalu beranjak kembali ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Patriak pun tiba di koridor penginapan di lantai 30.
Saat Patriak sampai di depan pintu kamar nya, pintu kamar Patriak dan Arung saling berhadapan. Ayu keluar dengan hanya mengenakan sehelai handuk.
__ADS_1
"Aaa.... yu, apa yang dia lakukan pagi-pagi begini di dalam kamar Arung, dan hanya mengenakan sehelai handuk saja?" Gumam Patriak.
Kali ini Ayu yang berpapasan dengan Patriak sorot mata mereka saling bertemu.
"Papa.... ugh.... malunya." Gumam Ayu, lalu kembali ke dalam kamar nya.
Patriak tidak langsung masuk kedalam kamarnya, ia pun berhenti sejenak di depan pintu.
"Arung..........apa yang telah kau lakukan pada mereka berdua, sebelumnya Gisel yang keluar dengan sehelai handuk,"
"Nah, sekarang Ayu yang keluar?"
"Apakah Arung pacaran dengan Gisel sekaligus Ayu, Dasar playboy,"
"Tapi kami berhutang budi padanya juga, ya sudahlah" Gumam Patriak.
Sebelumnya Patriak berniat mengetuk pintu kamar Arung, tetapi tidak jadi lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Oh ia....... aku harus segera pergi ke kantor, masalah Ayu dan Gisel akan ku selesaikan nanti saja." Gumam Patriak.
Di dalam Mobil Jeep.
Arung pun mulai mengikuti map yang di kirimkan oleh Gisel kepada nya,
"Jauh juga ya lokasi nya, tidak apa-apa lah,"
"Jadwal bertanding ku sore nanti." Gumam Arung.
Beberapa jam kemudian akhirnya Arung pun tiba di perpustakaan tersebut, lalu menepikan mobil Jeep nya.
Perpustakaan Kota Awan Hitam
Perpustakaan Awan Hitam terletak di antara pusat kota dan perbatasan, bangunannya bergaya romawi kuno dan memiliki lima buah lantai.
"Sampai juga kemari." Gumam Arung, lalu masuk ke dalam Perpustakaan tersebut.
Arung pun mulai mengamati sekitar ruangan tersebut lalu Ia pun menghampiri Pustakawan yang sedang berjaga di lantai satu ini dan berniat bertanya mengenai Bola Energi Berwarna Hijau tersebut.
"Selamat pagi tuan, saya ingin mencari buku mengenai beast,"
"Di lantai berapa, saya bisa menemukan nya, Tuan?" Tanya Arung.
Arung berpikiran pasti ada sebuah buku yang menjelaskan mengenai beast dan berhubungan dengan Bola Energi Berwarna Hijau Tersebut. Untuk beberapa saat Pustakawan tersebut pun diam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kenapa Pustakawan ini termenung, lalu menatap ku seperti itu." Gumam Arung.
"Ah............ternyata kau adalah si rambut merah yang mengeluarkan elemen api hitam yang legenda itu kan." Ucap Pustakawan tersebut.
"Sepertinya dia menonton pertandingan ku, wah... sepertinya aku sudah terkenal nih." Gumam Arung.
"Aku selalu menonton live streaming mu dari sini, teman." Ucap Pustakawan tersebut.
"Teman.... " Gumam Pustakawan tersebut.
"Ia benar itu aku." Ucap Arung.
Pustakawan itu pun langsung menghampiri Arung dan memeluk nya sambil menangis haru.
"Wah.... kenapa Pustakawan ini menangis, mungkinkah ia baru saja kehilangan orang tuanya?" Gumam Arung.
"Hiks.... hiks.... hiks... " Suara tangis hari Pustakawan tersebut.
"Aku sangat bangga padamu sebagai laki-laki, pencapaian mu membuat kami semua bangga,"
"Selama ini laki-laki rata-rata di bully oleh wanita di Kekaisaran Dewi Es ini." Ucap Pustakawan tersebut, lalu menyeka air mata di pipi nya.
"Ternyata Benua Es Api ini sungguh Benua yang kejam bagi kaum laki-laki, kasihan Pustakawan ini." Gumam Arung.
"Oh ia............kenalkan nama ku Robert wong," Ucap Robert, ia pun menjabat tangan Arung.
"Aku Arungbijak Tiger." Ucap Arung.
"Ah............aku sudah tahu namamu bro, ngomong-ngomong sebenarnya apa yang kau cari di Perpustakaan ini teman?" Tanya Robert.
"Sebenarnya begini Robert......... " Ucap Arung, lalu menceritakan tentang Bola Energi Berwarna Hijau tersebut.
Beberapa menit kemudian, Arung pun selesai menceritakan perihal Bola Energi Berwarna Hijau tersebut.
"Mendengar cerita mu itu, Bola Energi Berwarna Hijau itu sepertinya sebuah esensi beast kawan, kau dapat mencari informasi tersebut di lantai lima." Ucap Robert.
"Lantai lima ya." Gumam Robert.
"Bergegaslah aku menantikan pertandingan mu malam ini." Ucap Robert.
"Terima kasih Robert." Ucap Arung.
Robert pun mengantarkan Arung sampai ke depan lift lalu menekankan nomor lima pada tombol pengoperasian lift, ia pun menunggu hingga pintu lift menutup lalu kembali ke meja pustakawan nya.
Di dalam lift
"Robert..... benar-benar teman yang setia, padahal kami baru saja berkenalan." Gumam Arung.
Beberapa saat kemudian Arung pun tiba di lantai lima, terlihat banyak sekali berjejer rak-rak berisi buku-buku yang sangat tebal di lantai tersebut.
Lantai Lima Perpustakaan
Arung pun mulai mencari kesana-kemari, beberapa jam kemudian, ia pun mulai lelah lalu duduk di salah satu kursi di perpustakaan tersebut. Arung kemudian mengeluarkan sekaleng beer dari cincin ruang milik nya, kemudian langsung meneguk nya.
"Tak terasa sudah beberapa jam aku disini mondar-mandir kesana-kemari, namun buku yang kucari belum juga ketemu." Gumam Arung.
Beberapa menit kemudian, seorang gadis cantik menghampiri Arung lalu menyapanya.
"Hei pendekar muda, sejak tadi aku melihatmu sedang mencari sebuah buku?" Tanya Gadis Misterius tersebut.
"Ia..........nona cantik aku sejak tadi sedang mencari sebuah buku mengenai esensi, tapi sampai saat ini belum juga ketemu." Jawab Arung.
"Oh..... buku masalah essensi ya, bukannya Pemuda ini masih berada di ranah alam lautan,"
"Buat apa dia mencari buku mengenai essensi, mungkinkah dia seorang Pendekar Fuckboy?"
"Tidak mungkin, wajah nya terlihat baik,"
"Aku sebaiknya membantunya." Gumam Gadis Misterius tersebut.
Gadis Misterius tersebut lalu beranjak ke sebuah rak buku yang berada di pojokan ruangan, kemudian mengambil tiga buah buku lalu kembali.
Beberapa saat kemudian.
"Apakah bukunya seperti ini pendekar muda?" Tanya Gadis Misterius tersebut.
Arung pun mulia membaca judul buku nya yang pertama.
"Esensi Beast Tanaman, Esensi Beast Es, Manfaat Esensi Untuk Stamina Ketika berhubungan Suami Istri." Gumam Arung, sambil membaca judul tiap buku tersebut.
"Buku seperti ini yang aku cari, Terima kasih Nona." Ucap Arung.
"Syukurlah." Ucap Gadis Misterius tersebut.
"Kring.... kring.... kring....." Suara HP tablet milik Arung berdering.
Arung pun mengeluarkan HP tablet tersebut dari dalam cincin ruang milik nya, lalu mengangkat nya.
"Sayang kamu dimana sekarang, kok belum datang-datang juga,"
"Aku sudah mulai bosan menunggumu lho, cepat kemari ya tiga jam lagi giliran mu bertanding Sayang." Ucap Gisel, melalui HP.
"Maaf Gisel aku sedang mengemudi, jalanan saat ini sedang macet,"
"Saat ini aku sedang menuju ke Stadium, Gisel." Ucap Arung. Ia terpaksa berbohong khawatir Gisel akan kesal.
"Mengemudi?"
"Sejak kapan dia membeli mobil." Gumam Gisel.
Arung pun mematikan HP nya.
Sementara itu Gadis misterius tersebut telah pergi entah kemana, Arung pun lalu mengambil ketiga buku tersebut kemudian segera turun ke lantai dasar. Di lantai dasar Arung bergegas menemui Robert Wong untuk mengurus administrasi peminjaman ke tiga buku tersebut.
Lantai satu
"Lho bro kok masih disini, bukankah kau harus segera bertanding?" Tanya Robert.
"Aku tersesat ketika mencari buku ini, Robert." Ucap Arung.
"Tersesat?" Gumam Robert.
"Ha... ha... ha...." Suara tawa Robert Wong.
"Kau pikir lantai lima itu sebuah labirin, ya sudah demi martabat kaum lelaki di Kekaisaran dewi es ini," Ucap Robert, sambil meneteskan air mata.
"Sini bukunya biar aku yang urus, tulis saja nomer HP mu,"
"Naanti akan aku menghubungimu dan akan ku antarkan ke tempatmu." Ucap Robert.
Robert kemudian memberikan Arung pena dan selembar kertas, Arung pun mulai menuliskan nomer HP nya.
"Sudah pergilah sana, kau harus menang bro." Ucap Robert.
"Terima kasih Robert." Ucap Arung.
Kemudian Arung pun bergegas pergi ke Stadium Kota Awan Hitam.
Jalanan Kota Awan Hitam.
Beberapa menit kemudian.
"Gawat, jalanan benar-benar macet,"
"Bagaimana ini?" Gumam Arung.
Beberapa jam kemudian ia pun baru tiba di depan gerbang Stadium Kota Awan Hitam.
"Syukurlah, akhirnya sampai juga." Gumam Arung, lalu menepikan mobil nya ke pinggiran jalan.
Arena
"Kami memberitahukan untuk yang terakhir kali nya di mohon kan kepada peserta yang bernama Arungbijak Tiger untuk segera naik ke atas arena, jika dalam lima menit ini tidak hadir akan di nyatakan gugur." Ucap Wakil Komandan Luna, menggunakan jurus auman.
Mendengar pengumuman tersebut, Arung pun langsung keluar dari mobil jeep nya. Ia pun memasang kuda-kuda jurus teleportasi bagian kedua teleportasi sejauh 10 km. Sementara itu di stadium Gisel sedang tertidur pulas, karena kelelahan menunggu Arung sejak tadi.
"Blitzzzz......... " Suara jurus teleportasi milik Arung.
Dalam sekejap mata Arung pun tiba di atas arena, suasana arena yang tadinya sedikit riuh dan bergemuruh seketika menjadi hening tak bersuara lalu beberapa detik kemudian barulah para penonton bertepuk tangan.
"Plok....... plok........ plok...... "
"Plok........ plok........ plok........ " Suara tepuk tangan para Penonton.
"Sepertinya aku belum terlambat." Gumam Arung.
"Baiklah peserta nya telah lengkap, pertandingan antara Arungbijak Tiger vs Jupiter Fox di mulai." Ucap Wakil Komandan Luna menggunakan jurus auman.
Arung pun membungkuk lalu memberi hormat kepada lawan nya, demikian juga dengan lawan nya membungkuk dan memberi hormat kepada Arung. Arung pun mulai menatap wajah lawan tandingnya.
"Ternyata kau Nona Cantik yang membantu ku mencari buku mengenai essensi di Perpustakaan tadi." Gumam Arung.
"Nona cantik, ternyata kau yang menjadi lawanku." Ucap Arung.
Gadis Misterius tersebut ternyata adalah Jupiter fox.
"Ternyata Pemuda Tampan berambut merah tadi adalah lawanku." Gumam Jupiter, lalu tersenyum kecil.
Jupiter pun kemudian mengeluarkan senjata sucinya yaitu Pedang Darah lalu bersiap menyerang Arung.
"Sepertinya dia sudah mulai berniat menyerangku." Gumam Arung, lalu mengeluarkan Pedang Taifun.
Jupiter fox pun mengangkat tangan sebelah kiri nya ke atas langit, lalu mengumpulkan aura petir di sekitar tubuh nya. Tangan kanannya memegang Pedang Darah, Jupiter mulai melesatkan petir dari telapak tangannya ke langit. Melihat itu Arung hanya terdiam dan berusaha menganalisa maksud tujuan dari Jupiter.
"Sepertinya aku pernah melihat jurus seperti itu." Gumam Arung.
Tiba-tiba saja awan hitam di langit mengalirkan petir yang meluap-luap, tak lama berselang halilintar ungu pun mulai menghujam ke arah Arung.
"Jedarrr..... jderr........jderrr...... " Suara Hujaman Halilintar.
"Oh ia..... itu kan jurus yang sama yang di gunakan oleh Gisel." Gumam Arung, lalu berteleport menghindar kesana-kemari.
"Blitzzz........ blitzzzz..... blitzzz..... blitzzzz... " Suara jurus teleportasi milik Arung.
Beberapa saat kemudian, hujan halilintar pun mereda.
Tiba tiba saja tubuh Arung tidak bisa digerakkan kan, ternyata ada seberkas rantai energi yang menancap di dada nya yang berasal dari Pedang Darah milik Jupiter fox.
"Ugh.......... kenapa tubuhku tidak mau bergerak, jurus aneh apa ini?" Gumam Arung.
"Pendekar Muda, sebaiknya kau menyerah,"
"Pedang darahku ini telah menangkap mu, kini kau dalam genggaman ku." Ucap Jupiter Fox.
"Aku tidak bisa bergerak dan bahkan tidak bisa berbicara." Gumam Arung.
kemudian kaki Arung pun mulai melangkah sendiri ke belakang hingga berada di pinggiran arena lalu terjatuh. Beberapa detik sebelum tubuh nya menyentuh lantai, energi yang berbentuk rantai menghilang.
"Blitzz......................... " Suara jurus teleportasi Arung.
Ia pun langsung berteleport kebelakang Jupiter fox.
"Hah............................ " Suara nafas panjang Arung.
Rantai energi tersebut hilang disebabkan Jupiter fox telah kehabisan tenaga dalam nya. Saat Arung telah berada di belakang Jupiter, ia sedang membungkuk lalu menopang tubuhnya pada Pedang Darah nya.
"Jurus tadi ternyata telah menghabiskan seluruh tenaganya, jika saja ranah nya satu tingkat lagi di atasku,"
"Aku sudah di pastikan kalah." Gumam Arung, lalu mengarahkan Pedang Taifun nya ke leher Jupiter fox.
"Plok....... plok........ plok...... "
"Plok........ plok........ plok........ " Suara tepuk tangan para Penonton.
Jupiter Fox pun menghela nafasnya, dan tidak mengira Pedang Taifun berada di lehernya.
"Sejak kapan dia ada di belakangmu, seharusnya dia sudah jatuh." Gumam Jupiter.
"Kau sudah kalah Jupiter." Ucap Arung.
"Pemenang pertandingan ini adalah Arungbijak Tiger." Ucap Wakil Komandan Luna, menggunakan Jurus Auman.
"Selamat Pendekar Muda, dan panggil aku Jupiter." Ucap Jupiter.
Jupiter lalu menjabat tangan Arung, setelah itu ia pun turun dari arena dan menghilang saat di perpustakaan. Arung pun turun dari arena lalu kembali ke bangku di Tribun Dalam untuk menyaksikan pertandingan selanjutnya.
Kamar pribadi milik Nona Mitha.
Kembali ke kamar pribadi Nona Mitha, malam ini Nona Mitha kembali menonton live streaming pertandingan antara Arungbijak Tiger vs Jupiter Fox. Nona Mitha pun kali ini sedang makan nasi goreng dengan santuy.
"Enak juga nasi goreng yang di beli oleh Nando ini, besok aku akan menyuruh nya lagi membeli nasi goreng ini." Gumam Nona Mitha, lalu menoleh ke arah TV.
Tampak Jupiter telah berdiri cukup lama di atas arena.
"Kasihan anak itu, Adik kecil kok belum muncul juga yach,"
"Mungkin saja dia tidak akan muncul lagi." Gumam Nona Mitha, dalam sekejap mata Arung pun muncul di arena.
Melihat kemunculan Arung yang tiba-tiba membuat Nona Mitha ke sedak.
"Uhuk....... uhuk..... uhuk...... " Suara batuk Nona Mitha.
Nona Mitha berpikir Arung tidak akan datang karena sudah ketiduran, ia lalu mengambil air dan meminum nya.
"Uhuk....... uhuk..... uhuk...... " Suara batuk Nona Mitha, hingga memuntahkan air yang baru saja di minum nya hingga mengotori bajunya.
"Dasar kalau berurusan dengan Adik Kecil tersebut, kalau tidak rok, bajuku yang basah." Ucap Nona Mitha.
__ADS_1
Akhirnya Nona Mitha kembali mengganti piyama tidurnya lagi.