Pendekar Setengah Naga

Pendekar Setengah Naga
Persiapan menuju Perpustakaan Kuno Kerajaan Jangbaek


__ADS_3

Rumah Makan Daging Panggang Siluman Air


"Byurrrr............... " Suara hujan deras.


"Wah..................bro, Kau memang hebat Gisel sungguh sangat cantik tidak kalah cantik nya dengan gadis berambut merah di kamar mu saat itu." Ucap Robert Wong.


Mendengar pujian dari Robert tersebut, pipi Gisel pun mulai memerah. Ia pun lalu menggandeng tangan Arung, Kayla dan Robert pun menatap ke arah mereka.


"So sweat........ " Gumam Kayla.


"Wah...........kalian memang pasangan yang sangat serasi, aku juga kepengen cepat-cepat dapat pacar." Ucap Kayla, sambil menoleh ke arah Robert Wong.


"Buku yang ku minta ada kamu bawa kan, Robert?" Tanya Arung.


"Ada bro, ini dia," Jawab Robert Wong, sambil menyerahkan sebuah buku kepada Arung.


Arung pun langsung menyimpan buku tersebut ke dalam cincin ruang nya.


"Begini bro, aku kan sudah melakukan penelitian selama bertahun-tahun dan akhirnya mendapatkan informasi tentang keberadaan Perpustakaan Kuno Kerajaan Jangbaek,"


"Aku berencana mengajakmu ke sana, nanti hasilnya akan kita bagi rata, bro." Ucap Robert Wong.


"Wah..... seru sepertinya, aku tidak pernah berpetualang." Gumam Gisel.


"Perpustakaan Kuno," Ucap Kayla.


"Wah...........sepertinya aku tidak bisa Robert,"


"Aku kan masih harus mengikuti kompetisi di stadium, Robert." Ucap Arung.


"Bisa sayang, kamu dan aku kan sudah masuk perempat final,"


"Kompetisi akhirnya akan di langsungkan dua bulan lagi, pihak panitia perlu melakukan persiapan karena perwakilan para jenderal dari Kekaisaran ini akan menonton pertandingan nya." Ucap Gisel.


"Oh..............seperti itu." Sahut Arung dan Kayla Kompak.


"Jadi bagaimana menurutmu Gisel, apakah kita bergabung bersama Robert Wong menuju ke perpustakaan kuno?" Tanya Arung.


"Tentu saja kita harus pergi ke sana, sekalian kita liburan Arung,"


"Dan ajak juga saja Shilla, dia pasti sudah bosan berada di dalam penginapan terus." Jawab Gisel.


"Gisel ini tidak hanya cantik tapi juga wanita yang berhati besar, ia rela di madu oleh Arung." Gumam Kayla.


"Wah.... syukurlah Gisel sudah bisa menerima keberadaan Shilla, boleh juga sekalian mengakrabkan Gisel dan Shilla di sana nanti nya." Gumam Arung.


"Baiklah karena Gisel setuju aku pun akan ikut serta dalam perjalanan kali ini, aku akan membawa serta Shilla bersama dengan ku." Ucap Arung.


"Baiklah bro, besok malam kita akan berangkat,"


"Kita akan berjumpa di pintu gerbang perbatasan kota." Ucap Robert Wong.


"Pelayan bawakan beberapa beer lagi," Ucap Arung.


"Semoga saja aku tidak terdampar ke dunia lainnya lagi." Gumam Arung.


Saat ini Arung sebenarnya sudah sedikit trauma di akibatkan penjelajahan nya yang terakhir kali saat di Reruntuhan Kuno. Saat itu ia terdampar selama satu tahun di Benua Naga dan beberapa kali hampir tewas.


"Huft................... " Suara nafas panjang Arung.


Pelayan lalu membawa kan beberapa kaleng beer lagi ke meja mereka.


"Bolehkah aku ikut bersama kalian, Arung?" Tanya Kayla.


Arung dan Robert pun mulai menoleh ke arah Kayla, Robert sebenarnya sudah tertarik pada murid Wakil Komandan Luna tersebut.


"Tentu saja boleh Nona cantik, besok sore kita akan segera berangkat." Ucap Robert.


Gisel pun baru mengingat mengenai pesan Papa nya untuk Arung.


"Oh ia..........Aku sampai lupa, tadi papa bilang bahwa sanya ia telah berhasil memproduksi sekitar 300 buah senjata suci tipe kecepatan "Cincin emas" yang merupakan senjata suci alam naga puncak Arung." Ucap Gisel.


"Wah..... selain cantik Gisel ternyata anak dari seorang pengusaha, Arung benar-benar hebat bisa menaklukkan hati Gadis Cantik Berambut Ungu ini,"


"Apa dia menggunakan Pelet, aku harus menanyakannya nanti." Gumam Robert.


"Papa berniat menjualnya seharga 500 ribu koin emas per unit nya, dan papa sudah mens transfer kan 500 ribu koin emas ke token gajiku untuk diberi kan kepadamu sebagai DP royalti keuntungan penjualannya Arung." Ucap Gisel.


"500 ribu koin emas, Siapa Pemuda Tampan ini." Gumam Kayla.


"500 ribu koin emas, Memang benar-benar temanku ini heba,"


"Bahkan ia berhasil memelet Papa nya Gisel, aku harus tanyakan dia pergi ke Kultivator Dukun mana,"


"Aku harus mendapatkan pelet tersebut." Gumam Robert Wong.


Sementara itu Robert Wong dan Kayla Amara kembali menyimak perbincangan antara Gisel dan Arung.


"Wah Patriak benar-benar baik kepada calon menantunya." Ucap Arung.


Mendengarkan statemen dari Arung,i itu pipi Gisel pun mulai memerah.


"Tapi seperti biasanya uang ku adalah uang mu, jadi aku memotong setengah nya,"


"Lalu mens transfer kan setengahnya kepadamu Arung." Ucap Gisel sambil berbisik.


"Nasib menjadi calon suami Gisel, ya sudahlah,"


"Itu pun kan uang cuma-cuma yang kudapat kan tanpa bersusah payah." Gumam Arung.


Beberapa saat kemudian HP milik Gisel berdering.


"Kring..... kring..... kring.... " Suara HP Gisel.


Gisel pun mulai mengangkat HP tersebut, ternyata itu adalah panggilan dari Nyonya Ya.


"Oh.... mama?" Gumam Gisel.


"Gisel dimana sayang, mama sudah lima belas menit menunggu kalian di Restauran Awan di dekat perbatasan kota." Ucap Nyonya Ya, melalui HP.


"Ia ma.........mungkin satu jam lagi kami ke sana." Ucap Gisel, melalui HP


"Mama mertua?" Gumam Arung.


"Baiklah jangan tidak datang lagi ya, bilang sama calon suami mu....eh..eh ...maksud mama bilang sama Arung untuk mengajak Shilla juga." Ucap Nyonya Ya, melalui HP.


"Calon suami, Kya........ mama sangat mendukung hubungan kami ternyata." Gumam Gisel.


"Baik ma.... " Ucap Gisel, melalui HP


Nyonya Ya pun mulai mematikan HP nya, Gisel lalu menoleh ke arah Arung.


"Arung, mama sudah menunggu di Restaurant Awan nich,"


"Sebaiknya kita segera pergi ke sana." Ucap Gisel.


"Ugh..... aku masih trauma dengan masakan Nyonya Ya, terakhir kali aku memakannya aku sampai pingsan,"


"Saat terbangun aula tamu sudah porak-poranda, makanan buatan Nyonya Ya itu lebih terlihat seperti makanan penyebab bencana." Gumam Arung.


"Ya pergilah Arung, biar aku yang menemani temanmu makan disini,"


"Mama mertua mu...eh mama Gisel pasti sedih kalau kalian terlambat datang." Ucap Kayla.


"Benar bro, sebaiknya bergegas lah segera." Ucap Robert, sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Dasar Robert, dia ingin berduaan dengan Kayla saja di warung makan ini." Gumam Arung.


Arung lalu membayar tagihan makan di warung tersebut, sambil memesan tiga bungkus lele penyet untuk diberikan kepada Wakil Komandan Luna melalui Kayla. Setelah itu Arung dan Gisel pun bergegas ke restauran Awan.


"Ayo Gisel kita jemput Shilla dulu." Ucap Arung, lalu beranjak keluar, berniat menjemput Shilla.


"Ayo Sayang..... " Ucap Gisel, lalu menggandeng tangan Arung.


"Pemuda setampan ini bisa gawat kalau di lepas tanpa penjagaan, aku khawatir Fuckgirl-fuckgirl akan mengincar Calon suamiku ini." Gumam Gisel.


Pulau Iblis Ular, Kerajaan Iblis Ular


Setelah sampai di Bandar Udara iblis Ular, Meri terkena mabuk udara sehingga perlu beristirahat beberapa saat di hotel terlebih dahulu. Sore ini kondisi Meri telah pulih seperti sedia kala nya, ia pun berniat pergi ke Sekte Kupu-kupu Hantu. Meri lalu memesan taxi online, dan saat ini tengah di antar menuju sekte tersebut.


Saat ini Dalam Taxi Online.


Mereka telah berkendara selama beberapa jam lalu sebentar lagi akan sampai di depan Gerbang Masuk Sekte Kupu-kupu Hantu.


"Nona, sepertinya bukan berasal dari Pulau Iblis Ular ini yach,"


"Nona kenapa sangat nekat sekali untuk pergi ke Sekte Kupu-kupu Hantu tersebut, sendirian pula?" Tanya Supir Taxi Online tersebut.


"Ini semua demi cinta Tuan, aku harus mengetahui cara mengatasi jurus menghilang secara tiba-tiba,"


"Milik calon suamiku." Jawab Meri, dari jok belakang.


"Oh.... Ternyata demi cinta ya, sepertinya Nona ini memiliki niat yang tulus,"


"Jadi ia ingin mempelajari cara mengatasi jurus menghilang calon suami nya." Gumam Supir Taxi Only tersebut, sambil melihat spion atas.


Supir taxi pun mulai menerka-nerka kenapa Nona Cantik tersebut sampai harus bersusah datang ke Sekte yang berbahaya tersebut.


"Hmmmm...........Sepertinya calon suaminya tersebut sering menghilang secara tiba-tiba,"


"Mungkin saja calon suaminya ini tukang selingkuh, makanya Nona ini sangat ingin menangkap basah suaminya saat bersama pelakor tersebut,"


"Namun karena suaminya menguasai Jurus Tabir Hantu, suaminya selalu berhasil lolos dengan cara menghilang tiap kali ketahuan,"


"Kasihan Nona Cantik berdada besar tersebut." Gumam Supir Taxi Online.


Sudah menjadi rahasia umum di Kerajaan Iblis Ular tersebut, untuk mempelajari Jurus Tabir Hantu dan Jurus Mata Bathin mereka harus mengkultivasi kan elemen hasrat manusia di Rumah Bordil dan di kuburan angker.


"Nona nanti kalau mau mencari rumah bordil atau kuburan angker, kau bisa menghubungi ku,"


"Aku siap membantu mu Nona, ini kartu namaku." Ucap Supir Taxi Online tersebut, lalu memberi kan Meri kartu namanya.


Meri lalu menerima kartu nama tersebut, namun sedikit jengkel.


"Rumah bordil apa di kiranya aku mau melacurkan diri karena dada ku yang besar, huh....."


"Dasar laki-laki mesum, awas saja nanti gak ku kasih bintang lima di akun mu." Gumam Meri.


Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di Gerbang Masuk Sekte Kupu-kupu Hantu, Meri pun membayar ongkos taxi online tersebut dengan jengkel.


"Ini Tuan, uang nya." Ucap Meri sambil keluar dari taxi tersebut.


"Terima kasih Nona Cantik, jangan lupa menghubungiku ya,"


"Jika mencari Rumah Bordil atau kuburan angker, banyak penumpang yang telah ku antarkan kesana dan mereka puas lalu berhasil." Ucap Supir Taxi Online.


Maksud Supir tersebut berhasil adalah berhasil menguasai kedua jurus tersebut, Meri salah menanggapinya ia mengira Supir Taxi tadi ingin menjadikan dirinya *******.


"Bruk.......... " Suara bantingan keras pintu belakang Sedan hitam tersebut.


"Ugh.... Pintu mobil ku, kenapa dia malah marah,"


"Bukan nya dia tadi mau belajar Jurus Tabir Hantu dan Jurus Mata Bathin?"


"Positif thingking.... Positif thingking, mungkin saja dia sedang datang bulan." Gumam Supir Taxi Online, lalu kembali berkendara meninggal kan Meri.


"Ugh..... Bulu kuduk ku selalu saja berdiri saat disini." Gumam Supir Taxi tersebut.


"Ugh...... Rumah bordil lagi.... Rumah bordil lagi, dasar laki-laki mesum." Teriak Meri di dalam hati.


Tampak di hadapan Meri sebuah Pintu Gerbang Raksasa dan sebuh perisai hitam yang samar-samar mengelilingi sepanjang hutan tersebut, dengan sebuah jalan setapak yang sudah berumput di hadapan nya.


"Hutan Zombie." Gumam Meri, lalu membaca papan nama yang ada di samping gerbang


"Baiklah demi Tuan Muda, aku akan berjuang,"


"Tapi bagaimana cara melewati perisai hitam ini ya, ah ya sudah aku coba melewati nya saja." Gumam Meri, lalu berjalan masuk ke dalam perisai hitam tersebut.


Hutan Zombie merupakan sebuah hutan di pinggiran Pulau Iblis Ular Bagian Selatan yang di penuhi dengan zombie-zombie, Di pinggiran hutan tersebut di pasangi perisai zombie agar zombie-zombie tidak keluar dari hutan tersebut namun kultivator dapat masuk dan keluar melewati nya.


Meri pun mulai menyusuri jalan setapak tersebut demi cinta yang bertepuk sebelah tangan terhadap Tuan Muda Arung.


Penginapan Stadium Awan Hitam.


Shilla pun telah menyelesaikan membaca keseluruhan buku yang di pinjam oleh Arung yaitu buku mengenai essensi beast es.


"Hah............... " Suara nafas panjang Shilla.


"Sudah malam, Arung kau dimana?" Gumam Shilla.


Hari pun sudah menjelang malam, ia pun mulai menyimpan semua makanan tersebut kedalam cincin ruang milik nya, lalu berganti pakaian nya ke piyama tidur yang ketat dan berenda lalu mulai bermain dengan HP jadul nya di dalam kamar.


"Kemana lagi pergi nya si bodoh itu, apa dia tidak tahu,"


"Disini aku merindukannya?" Gumam Shilla.


Beberapa saat kemudian Arung pun menelpon Shilla.


"Kring...... kring...... kring..... " Suara HP Shilla berdering, Ia pun melihat nya.


"My lovely Arung,"


"Kya.......... akhirnya dia mengingat istrinya yang sedang menunggunya di rumah." Gumam Shilla, lalu mengangkat HP nya.


"Halo Shilla, kamu lagi dimana sekarang?" Ucap Arung, melalui HP.


"Ya di penginapan lah My Lovely Arung." Gumam Shilla.


"Aku di kamar nich Arung, ada apa?" Tanya Shilla, melalui HP.


"Mama Gisel mengundang kita untuk makan malam di Restaurant Awan, gimana mau ikut gabung bersama kami Shilla?" Ucap Arung, melalui HP.


Shilla pun berpikir sejenak.


"Hiks..... hiks..... hiks...... " Tangis hari Shilla.


"Dari kecil aku sangat ingin makan di restoran, ini kali keduanya aku makan di luar,"


"Yang pertama saat bersama Kak Mei Mei, tapi ada om-om yang mengganggu kami." Gumam Shilla.


Keluarga Tiger merupakan keluarga yang memiliki kesulitan ekonomi sejak Matriak terdahulu nya menghilang.


"Baiklah aku ikut." Ucap Shilla, melalui HP.


"OK Shilla mungkin sekitar lima belas menit lagi aku akan segera tiba di sana, tunggu saja di lobi bawah penginapan ya Shilla,"


"Aku akan menghubungi mu nanti." Ucap Arung, kemudian mematikan HP nya.


"Wah... aku deg-degan juga berjumpa dengan mama mertua Arung, sebaiknya aku dandan yang cantik dulu." Gumam Shilla.


Lobi bawah.


Beberapa menit kemudian, Shilla pun telah selesai berdandan dan sedang menunggu jemputan My lovely Arung nya. Tampak di ruang resepsionis Meli dan Moli duduk dan memperhatikan Shilla.


"Moli.... gadis itu cantik sekali, dia mau pergi kemana yach? Tanya Meli.


"Kalau di lihat dari penampilan nya, sepertinya dia wanita panggilan lihat aja lipstik nya merah sekali,"


"Sebentar lagi pasti akan ada yang menelpon nya." Ucap Moli.


Beberapa saat kemudian, suara HP milik Shilla pun kembali berdering.


"Kring....... kring....... kring....... " Suara HP berdering, Shilla pun mengangkat nya.


"Shilla kami sudah di luar ya." Ucap Arung.


"Ia ini aku keluar." Ucap Shilla, lalu beranjak keluar dari lobi hotel.


Arung dan lainnya pun beranjak ke Restauran Awan untuk menghadiri undangan dari Nyonya Ya.


Di Ruangan Resepsionis.


"Wah...... benar Moli, padahal dia sangat cantik,"


"Dia langsung naik ke Jeep merah tersebut, itu pasti Om-Om Paruh Baya yang menjemputnya." Ucap Meli.


"Kehidupan di Benua Es saat ini tengah sulit Meli,"


"Oh... iya aku sangat rindu sekali melihat wajah tampan Tuan Muda Arung, dia kemana yach tidak pernah keliatan?" Ucap Moli.


"Benar Moli, aku pun sudah lama gak mimpi basah dengan nya." Ucap Meli.


Pinggiran Desa Fire Snake


Pesawat yang di tumpangi Cie Err pun jatuh di pinggiran Desa Fire Snake, terlihat puing-puing pesawat berserakan dan kobaran api masih ada di beberapa titik. Pesawat Assasin Airlines terbelah menjadi dua, warga sekitar pun mulai menyelamatkan penumpang yang masih hidup setelah kecelakaan fatal tersebut ke Rumah Sakit Desa Fire Snake.


Rumah Sakit Desa Fire Snake.


Jam 24.00 malam kemarin.


Rumah sakit ini memiliki tiga lantai dengan desain yang sama seperti bangunan rumah sakit kebanyakan, Cie Err saat ini sedang terbaring tak sadar kan diri di dalam kamar yang gelap di lantai tiga.


"Aduh.... Kepala ku sakit sekali, dimana aku,"


"Kenapa gelap sekali di sini?" Gumam Cie Err, lalu menoleh ke sekitar nya.


"Lho tubuh ku, kenapa tidak bisa di gerakkan, kenapa seluruh tubuh ku seperti di perban?" Gumam Cie Er.


Saat ini seluruh tulang di dalam tubuh Cie Err patah, untuk sementara waktu ia pun lumpuh dan sedang dalam tahap penyembuhan. Cie Err pun panik, ia pun mulai berteriak meminta tolong.


"Tolong...... Tolong........ Tolong..... "


"Tolong....... Tolong........ Tolong..... " Teriak Cie Err.


Koridor lantai dua.


Saat ini Desa Fire Snake dalam keadaan siaga menghadapi serangan Singa Es, oleh karena itu Dinda pun bergabung menjadi Prajurit Relawan Desa Fire Snake untuk melindungi desa nya. Saat ini dia bersama Nyonya Rianti dan Tuan Meng mendapatkan tugas ber patroli malam di Rumah Sakit tersebut. Saat ini lampu koridor sudah dimatikan, mereka bertiga pun berpatroli hanya menggunakan lampu senter saja di tangan nya.


"Tolong...... Tolong........ Tolong..... " Sayup-sayup suara dari lantai tiga.


"Kau mendengarkan suara minta tolong tersebut Nyonya Rianti?" Tanya Dinda, sambil berjalan menyusuri koridor.


"Ia.... Seperti nya ada sesuatu yang meminta tolong di lantai tiga." Ucap Nyonya Rianti, sambil berjalan menyusuri koridor.


"Sesuatu...... Itu kan jelas suara seseorang?" Gumam Dinda.


"Bulu kuduk ku merinding, perasaanku tidak enak." Gumam Tuan Kang.


"Bagaimana bisa ada suara di lantai tiga, bukan kah di lantai tersebut sedang di rawat korban kecelakaan pesawat tadi pagi?"


"Mereka semua sedang koma saat ini dan sedang dalam tahap pemulihan, seharusnya mereka baru akan sadar satu atau dua bulan lagi." Ucap Tuan Kang.


"Jadi suara siapa itu Tuan Meng?" Tanya Dinda.

__ADS_1


Keadaan di koridor ini menjadi hening untuk sementara karena pertanyaan dari Dinda, Tuan Meng dan Nyonya Rianti saling menoleh dan memiliki argumen masing-masing mengenai asal suara tersebut.


"Brukk............ " Suara suatu benda jatuh dari atas lemari di koridor.


Suara benda jatuh tersebut ternyata mengejutkan Tuan Meng, Nyonya Rianti dan juga Dinda.


"Ah..................... " Teriak mereka bertiga kompak, lalu berpelukan.


Beberapa saat kemudian terdengar suara Beast Kucing dari arah suara jatuh tadi.


"Meong..... Meong..... Meong.... " Suara Beast Kucing hitam.


Mereka bertiga pun saling melepaskan pelukan nya, lalu mereka pun kembali menyusuri koridor Rumah Sakit di lantai dua ini.


"Angker nya......... " Gumam Nyonya Rianti.


"Ugh..... Untung saja cuman seekor Beast Kucing, aku sampai ketakutan setengah mati tadi." Gumam Dinda, sambil berjalan.


"Hah................ " Suara nafas panjang Tuan Meng, sambil mengurut-urut dada nya.


"Jantungku hampir saja copot, Rumah Sakit ini memang angker,"


"Untung waktu aku memasang alat pacu di jantungku tidak ada suasana mencekam seperti malam ini,"


"Bulu kuduk ku bahkan masih berdiri sampai dengan sekarang,"


"Sebaiknya aku mencari cara untuk kembali ke lantai satu, aku khawatir alat pacu jantung ku ini bisa rusak karena terlalu banyak kejutan di sini." Gumam Tuan Meng.


"Aung........... Aung..... Aung............ " Lolongan Beast Serigala.


"Lolongan yang mengerikan, sebaiknya aku bergegas jika tidak nyawaku bisa melayang." Gumam Tuan Meng.


Tuan Meng pun memegang perutnya lalu berpura-pura sakit perut dan berniat melarikan diri dari sini.


"Aduh...... Perutku tiba-tiba sakit sekali Dinda, Rianti,"


"Ugh..... Aku sudah tidak tahan lagi, aku khawatir akan mengotori koridor rumah sakit ini,"


"Rianti, Dinda aku pergi dulu.....sampai jumpa semoga kalian selamat." Ucap Tuan Meng, lalu berlari meninggalkan Nyonya Rianti dan Dinda.


Dinda dan Nyonya Rianti hanya bisa berdiri dan melihat Tuan Meng lari saja, suasana di koridor lantai dua ini pun semakin mencekam.


"Meng.... Meng... Teganya kau meninggalkan ku berdua saja dengan Gadis Kecil ini, huh......seram nya." Gumam Nyonya Rianti, lalu menggandeng tangan Dinda.


"Lolongan Serigala tersebut semakin membuat koridor ini mencekam, bulu kuduk ku berdiri semuanya sekarang,"


"Ugh..... Mengerikan, lebih baik aku berjumpa Beast Singa Es daripada berjumpa dengan hantu." Gumam Dinda, lalu memegang tangan Nyonya Rianti.


Mereka pun mulai menyusuri lantai dua ini, lalu menuju ke lantai tiga untuk mengecek asal suara tersebut.


"Tolong...... Tolong..... Tolong....... " Sayup-sayup suara minta tolong itu terdengar kembali.


"Menyeramkan, sepertinya rumor mengenai hantu suster ngesot itu beneran ada, bulu kuduk ku masih merinding." Gumam Nyonya Rianti.


Mereka saat ini mulai memasuki lift menuju lantai tiga.


Di dalam Lift.


"Dinda kau pernah dengar rumor menyeramkan mengenai suster ngesot di Rumah Sakit ini?" Tanya Nyonya Rianti.


"Suster Ngesot, ih............serem gimana rumornya Nyonya Rianti." Jawab Dinda.


"Konon katanya setiap malam jum"at kliwon ada hantu suster yang muncul lalu mengganggu pasien-pasien juga petugas-petugas medis disini,"


"Bahkan pernah ada yang menjadi korban nya." Ucap Nyonya Rianti.


"Tapi ini kan malam kamis Nyonya, seharusnya dia munculnya kan malam esok." Ucap Dinda.


"Teng Tong..... " Suara bel tanda lift telah sampai pada lantai yang di tuju, mereka pun mulai keluar dari lift.


Koridor lantai tiga


"Tolong....... Tolong...... Tolong........ " Suara Misterius semakin jelas terdengar.


Mendengar suara teriakan minta tolong tersebut mereka berdua pun semakin ketakutan.


"Ugh..... Menyeramkan, tapi ini sudah tugas mana mungkin aku meninggalkan Dinda sendirian di sini." Gumam Nyonya Rianti.


"Mungkin saja hantu itu tidak memiliki kalender di tempatnya Dinda, sehingga kemunculan nya bukan di malam jumat melainkan di malam ini." Ucap Nyonya Rianti, mencoba mencairkan suasana yang mencekam ini.


"Duagh......... " Suara jendela di salah satu kamar pasien terbuka sendiri.


"Ah........... " Teriakan Nyonya Rianti dan Dinda kemudian saling berpelukan.


"Dup......... Dup........... Dup........ " Suara detak jantung Dinda yang sangat cepat disebabkan kan ketakutan.


Mereka pun kembali berjalan.


"Tolong...... Tolong........ Tolong........ " Suara Misterius.


Suara teriakan minta tolong tersebut semakin terdengar jelas berasal dari kamar bernomer 13 tersebut.


"Nyonya Rianti, sepertinya asal suara tersebut dari kamar bernomer 13 itu." Ucap Dinda.


Nyonya Rianti pun menoleh ke arah kamar tersebut, ia pun semakin ketakutan.


"Dinda itu kamar yang di rumor kan sering ada penampakan nya, ih.........menyeramkan sekali." Ucap Nyonya Rianti.


Beberapa saat kemudian pintu kamar ber nomer 13 tersebut pun mulai terbuka dengan sendirinya, hal itu membuat Nyonya Rianti berteriak lalu pingsan.


"Krakkk............. " Suara pintu terbuka.


"Han..... Han.... Tu...... " Teriak Nyonya Rianti, lalu tak sadar kan diri.


"Ah................. " Teriak Dinda, lalu terduduk lemas di lantai koridor, sambil menutup matanya.


Beberapa menit kemudian.


"Meong....... Meong...... Meong..... " Suara Beast Kucing.


Ternyata pintu itu terbuka di sebabkan oleh Beast Kucing Putih tersebut.


"Hah................... " Suara nafas panjang Dinda.


"Hampir saja aku mati karena ketakutan tadi, Nyonya Rianti pakek acara pingsan segala lagi." Gumam Dinda, lalu mulai memapah Nyonya Rianti menuju asal suara tersebut.


"Tolong........ Tolong......... Tolong...... " Suara Misterius tersebut.


Dinda pun mulai masuk lalu menghidupkan lampu di dalam kamar tersebut sambil memejamkan matanya.


"Ugh....... Semoga tidak ada apa-apa di sini, kumohon.... Kumohon." Gumam Dinda, lalu menekan saklar tersebut.


"Cetek.............. " Suara saklar ketika di tekan.


"Hah............Syukurlah ada yang datang, aku sudah capek berteriak dari tadi kak." Ucap Cie Err.


"Lho.........kok suara seorang gadis?" Gumam Dinda, lalu membuka matanya.


"Kukira suara tadi adalah suara hantu yang di ceritakan oleh Nyonya Rianti ternyata kamu Adik Kecil, jantungku hampir saja copot rasanya." Ucap Dinda, lalu menyandarkan tubuh Nyonya Rianti di dinding kamar.


"Hantu?" Gumam Cie Err.


Dinda pun menghampiri Cie Err, di malam mencekam tersebut Dinda dan Nyonya Rianti pun menginap di dalam kamar tempat Cie Err di rawat. Hantu yang di katakan oleh Nyonya Rianti pun baru muncul setelah mereka mulai memasuki kamar tempat Cie Err di rawat.


"Hi.... Hi..... Hi.............. " Suara jeritan tawa Suster ngesot.


Di Restoran Awan, di Perbatasan Kota


Beberapa jam kemudian mereka pun tiba di tempat tersebut. Mamanya Gisel ternyata telah memesan tempat di teras lantai ke tiga, dari tempat tersebut mereka dapat menyaksikan pemandangan indah kota di malam hari. Nyonya Ya pergi bersama dengan Ayu, Arung dan yang lainnya pun bergabung dengan Mamanya Gisel dan Ayu. Saat ini Gisel pun duduk disebelah kanan dan Shilla duduk di sebelah kiri Arung, sedangkan Ayu dan Nyonya Ya duduk di hadapan mereka bertiga.


"Cantik banget, patut lah Calon Menantu ku mendua kan Gisel." Gumam Nyonya Ya.


"Ayo dimakan Shilla jangan malu-malu,"


"Wah...........ternyata kamu tidak kalah cantiknya dari Gisel." Ucap Nyonya Ya, memuji Shilla.


"Terima kasih Nyonya." Ucap Shilla, sambil meneguk teh gingseng beberapa kali.


"Tidak kusangka selain cantik penampilan mereka pun hampir sama, Sama-sama berambut merah,"


"Kasihan Gisel." Gumam Ayu.


"Kamu hebat sekali Arung, walaupun kondisi kultivasi mu sedang tidak stabil saat ini,"


"Tapi kamu berhasil masuk perempat final Arung." Ucap Ayu.


"Ternyata selama ini Ayu menyaksikan Pertandingan ku." Gumam Arung.


"Hemmm...... mama dan Kak Ayu sibuk dengan Shilla, aku yang anak nya tidak di perduli in." Gumam Gisel.


"Ya Ayu.........., keberuntungan ku saat itu besar, kebetulan saja Lily lengah." Ucap Arung.


"Oh...... begitu ya Calon Menantu." Gumam Nyonya Ya.


Mereka berlima pun mulai mengobrol ringan sambil menyantap makanan. Arung sebenarnya sudah sangat kenyang, namun ia tidak mau membuat sedih Nyonya Ya.


Beberapa saat kemudian,


"Oh ia Arung, ada yang ingin mama berikan padamu." Ucap Nyonya Ya, sambil mengeluarkan sebuah peti dari es berukuran 40 x 40 x 40 cm dan meletakkannya di atas meja makan.


"Wah..... Mama Mertua baik banget, sepertinya ia ingin memberikan ku sebuah hadiah, asal jangan masakan ikan Panggang itu lagi saja." Gumam Arung.


"Ini adalah sebuah essensi milik beast Singa Es Kuno yang berada pada ranah alam dewa, yang kami temukan di sebuah goa di Kota Es Utara saat kami masih muda dulu Arung." Ucap Nyonya Ya.


"Wah..... Essensi, ternyata mama memiliki Essensi,"


"Aku bisa melakukan Metode Mesum itu bersama Arung." Gumam Gisel.


"Sebenarnya ada dua buah essensi yang mama temukan, yaitu essensi api dari Singa Api Kuno yang berada pada ranah alam dewa juga,"


"Yang satunya lagi sudah mama berikan pada papa, karena essensi tersebut sangat bagus buat vitalitas laki-laki Gisel."


"Mama merebus gingseng 1000 tahun lalu mencampur kan essensi kedalam nya, papamu pun langsung menjadi pria yang gagah perkasa." Ucap Nyonya Ya.


"Wah....... ternyata Essensi memiliki khasiat seperti itu, aku akan membuat kan Arung Sup Essensi nantinya." Gumam Shilla.


"Kya.......... kalau Arung jadi perkasa, aku bakalan di kamar terus sepanjang hari sepertinya,"


"Basah...... becek terus." Gumam Gisel.


Mendengar penjelasan Nyonya Ya, Ayu Gisel dan Shilla pipinya pun langsung memerah.


"Kamu harus menjadi seorang pria yang kuat, mama juga menaruh beberapa ginseng 1000 tahun di dalamnya."


"Kamu kan harus menjaga dan merawat dua wanita cantik ini." Ucap Nona Ya, sambil mengedipkan mata ke arah Gisel.


"Camer memang is the best, Terima kasih mama mertua." Gumam Arung.


"Ma... ma... " Ucap Gisel.


"Siap Ma...... " Ucap Arung.


"Akhirnya Arung memanggilku mama, syukurlah,"


"Setelah selesai ujian aku akan membuat kan Ikan Panggang kesukaan nya itu, setelah memakannya ia sampai tertidur pulas malam itu." Gumam Nyonya Ya.


"Kenapa bulu kuduk ku merinding yach, mungkinkah lantai tiga ini angker." Gumam Arung.


Sementara itu Shilla dan Ayu pura-pura tidak mendengar kan perkataan terakhir Nyonya Ya lalu melanjutkan menyantap kembali makanan mereka. Arung pun lalu menyimpan hadiah Nyonya Ya ke dalam cincin ruang penyimpanan milik nya, setelah itu mereka pun mengobrol ringan di meja jamuan tersebut.


Kembali ke Desa Tiger


Ternyata ayah angkat Arung, Bongpal Tiger saat ini sudah menikahi Tabib Syu yan dan sekarang ia sedang berada di kediaman istrinya tersebut di Desa Tiger. Kebetulan hari ini Tabib Syu sedang tidak berdinas di Rumah Sakit Desa Tiger, jadi Bongpal dan Tabib Syu pun menyempatkan diri mereka menonton bersama acara live streaming pertandingan Arung melawan Lily di TV di rumah nya.


"Lihat Syu Yan, Pemuda Tampan Berambut Merah itu adalah anak ku dan murid ku satu-satunya." Ucap Bongpal, sambil menunjuk ke arah TV.


"Dia pasti kagum akan ketampanan anak angkat ku, ketampanannya tidak kalah dari ku." Gumam Bongpal.


"Benarkah Bongpal, Pemuda itu sangat berbakat dan kudengar dari pembicaraan orang-orang di rumah sakit dia juga merupakan seorang Sage Termuda di Benua Es Ap ini." Ucap Tabib Syu.


"Ya benar dong Syu Yan, lihat ini undangan VIP dari kantor prajurit kota buat ku dan Matriak." Ucap Bongpal, sambil mengeluarkan sebuah undangan dari cincin ruang miliknya.


"Wah...........memang mirip rambut kalian sama-sama merah, tapi wajah nya agak sedikit beda." Ucap Tabib Syu.


"Pemuda Berambut Merah itu lebih tampan dari Bongpal, pasti istri suami ku dulu sangat cantik,"


"Sehingga bisa melahirkan anak setampan itu." Gumam Tabib Syu.


"Sepulang bulan madu nanti di Pulau Balighe, bisakah kita singgah di Kota Awan Hitam untuk menonton pertandingan final anak ku Syu Yan?" Tanya Bongpal. sambil membangga-banggakan Arung.


"Tentu saja sayang." Jawab Tabib Syu.


Tabib Syu dan Bongpal pun melanjutkan menonton pertandingan tersebut, beberapa menit kemudian pertandingan pun mencapai klimaksnya saat Arung melesat kan sebuah bongkahan es raksasa dari telapak tangan nya.


"Busyet........ kok bisa-bisa nya dia membangkitkan elemen es, tante-tante mana yang ditiduri nya?"


"Ketika bertemu dengannya nanti dia akan ku interogasi." Gumam Bongpal.


"Wah.........elemen bangsawan yang sangat indah,"


"Bongpal apakah istri mu sebelum nya adalah seorang bangsawan?" Tanya Tabib Syu, keceplosan.


Tabib syu tidak mengetahui, bahwa sanya Arung merupakan anak angkat Bongpal.


"Syu Yan, aku kebelakang sebentar ya sepertinya perutku sakit." Ucap Bongpal, sambil beranjak ke belakang.


"Ugh..... perutku." Ucap Bongpal, berpura-pura sakit perut.


"Dia pasti tidak ingin menceritakan masa lalu bersama istri pertamanya,"


"Dia dan istri pertamanya pasti memiliki kenangan yang pahit, kasihan Bongpal." Gumam Tabib Syu, sambil terus melanjutkan menonton TV lalu meminum segelas teh gingseng.


"Hiks..... hiks.... hiks.... " Tangis kecil Syu Yan di dalam hati.


"Apa perlu ku buat kan teh jahe Bongpal." Tanya Tabib Syu.


"Tidak usah Syu Yan, Terima kasih banyak." Jawab Bongpal.


"Syukurlah dia tidak menanyakan masalah istri itu lagi, aku kan masih saja menjomblo sampai saat aku menikah dengan mu Syu Yan,"


"Dan Arung itu anak angkat ku." Gumam Bongpal, lalu pergi ke belakang.


Kembali ke Penginapan Stadium Awan Hitam.


ke esokan siang nya.


"Wah.............makanan buatan mu semakin lezat saja Shilla." Ucap Arung. Sambil duduk di ruang santai lalu membaca buku mengenai essensi beast tanaman.


"Kya........ dia menyukai masakan ku, baiklah esok akan kubiarkan yang lebih enak lagi." Gumam Shilla.


"Ia Arung aku dari dulu memang hobi memasak." Ucap Shilla, sambil mencuci piring dan gelas yang kotor di dapur.


"Tapi aku kok tidak pernah melihat Shilla memasak sekali pun yach saat di Kediaman Tiger." Gumam Arung.


Beberapa menit kemudian, Shilla masih mencuci piring-piring kotor di dapur.


"Shilla, sore ini aku dan Gisel berencana pergi menjelajah bersama Robert ke sebuah situs kuno."


"Apakah kamu mau ikut dengan kami Shilla?" Tanya Arung.


Seumur hidup nya, Shilla selalu menghabiskan waktu di kediaman Tiger dan tidak pernah berpetualang sekalipun. Mendapatkan tawaran berpetualang dari calon suaminya, ia pun sangat senang dan langsung menyetujui nya.


"Tentu saja aku mau ikut Arung." Jawab Shilla.


"Syukurlah dia ikut, aku khawatir jika dia tinggal,"


"Ketiga cewek kembar itu akan membully nya." Gumam Arung.


"Kalau begitu berkemas lah, dan siapkan perbekalan nya ya Shilla." Ucap Arung, lalu meletakkan satu kantong penuh uang di atas meja untuk membeli perbekalan.


"Wah....... banyak banget, sebenarnya apa pekerjaan calon suamiku sehingga memiliki uang sebanyak ini." Gumam Shilla.


"Oh iya.....aku juga sudah memesan HP baru buat mu, mungkin nanti jam-jam empat akan ada seseorang yang mengantarkan nya kemari." Ucap Arung.


"Oh My lovely Arung kau yang terbaik, tidak ada salah nya aku menyetujui perjodohan ini,"


"Masa depan Keluarga Tiger akan jaya kembali dengan mu Arung." Gumam Shilla.


"Terima kasih ya Arung." Shilla pun mengecup pipi Arung.


"Ehm... giliran HP baru aja aku di kecup." Gumam Arung.


Beberapa saat kemudian.


"Ugh.... aku gak kuat lagi, ini gara-gara kecupan kentang Shilla.


Lalu Arung menghampiri Shilla di dapur, kemudian menatap mata nya.


"Ada apa dia ke dapur dan kenapa dia menatap ku seperti itu?"


"Mungkinkah dia mau tamboh lagi." Gumam Shilla.


Arung pun memberanikan diri nya mencium bibir Shilla.


"Rupanya ini." Gumam Shilla, lalu membalas ciuman Arung.


"Syukurlah dia tidak menembakkan bola api ke arahku." Gumam Arung lalu memeluk leher Shilla dan mencium nya dengan panas membara.


Beberapa saat kemudian mereka pun menyudahi ciuman nya, dapur pun menjadi sunyi untuk sementara waktu.


"Arung cium lagi donk." Gumam Shilla.


Beberapa saat kemudian


"Kring...... kring...... kring...... " Suara HP Arung berbunyi, Arung pun meninggalkan Shilla lalu mengangkatnya.


"Ugh..... siapa yang mengganggu kami disaat-saat penting seperti ini." Gumam Shilla, lalu ia pun beranjak ke dalam kamar berniat bersiap ke pasar untuk mencari perbekalan.


"Brukkk.......... " Suara pintu kamar tertutup.


"Sepertinya Shilla masih mau namboh ciuman nya." Gumam Arung.


"Halo Tuan Muda Arung, selamat ya sudah masuk perempat final,"


"Sungguh elemen es yang menakjubkan, ternyata Tuan Muda Arung keturunan bangsawan Kekaisaran es." Ucap Tuan Muda Quill, melalui HP.


"Oh.... Tuan Muda Quill ternyata, kukira Gisel." Gumam Arung.


"Ya Tuan Muda Quill, Terima kasih banyak atas ucapannya." Ucap Arung, melalui HP


"Seharusnya aku yang berterima kasih kepada Tuan Muda Arung,"


"Terima kasih juga karena sudah menyelamatkan kakak pertamaku, dia sudah menceritakan semua yang terjadi di dalam Goa Giok Hijau tersebut,"

__ADS_1


"Oh iya Tuan Muda Arung, kapan bisa ke paviliun senjata,"


"Aku ingin memberikan upah dari misi tersebut dan memberikan sedikit hadiah kepada Tuan Muda Arung." Ucap Tuan Muda Quill, melalui HP.


"Wah....apakah Nona Dark juga menceritakan saat aku menelanjangi dirinya, lalu mencabuti daun-daun yang menancap di seluruh tubuh nya,"


"Bisa kacau nich, ya sudah lah." Gumam Arung.


"Hari ini aku bisa pergi ke Paviliun Senjata Tuan Muda Quill, mungkin sore nanti aku sampai." Ucap Arung melalui Hp.


"Sepertinya Tuan Muda Arung sedang sibuk saat ini." Gumam Tuan Muda Quill.


"Baiklah akan kutunggu kedatangan mu, Tuan Muda Arung." Ucap Tuan Muda Quill, kemudian mematikan HP nya.


Sementara itu Shilla teringat dengan wejangan dari mama nya dulu saat berada di Keluarga Tiger.


"Uang suami adalah uang istri, dan uang istri adalah uang istri,"


"Uang calon suami adalah uang calon istri, dan uang calon istri adalah uang calon istri,"


"Baiklah aku akan ambil setengah uang dari hasil misi tersebut, aku khawatir Arung akan mencari wanita lain dengan uang tersebut,"


"Mencegah lebih baik dari mengobati,"


"Sudah cukup aku dan Gisel saja yang menjadi calon istri nya." Gumam Shilla.


Beberapa saat kemudian.


"Shilla aku mau ke atap dulu ya aku mau membaca beberapa buku terlebih dahulu." Ucap Arung, lalu beranjak keluar dari dalam kamar penginapan.


"Wah...... sepertinya dia mau belajar, dia tidak hanya melatih tubuhnya,"


"Dia juga melatih pikiran nya, aku yakin masa depan Keluarga Tiger akan Jaya kembali." Gumam Shilla.


"Ia... Arung." Ucap Shilla, dari dalam kamar.


Beberapa jam kemudian HP baru milik Shilla pun tiba, ia pun lalu menyimpan HP tersebut kemudian beranjak ke Pasar Kota Awan Hitam untuk membeli perbekalan saat menjelajahi Reruntuhan Kuno nantinya.


Di Atap Penginapan.


Saat ini Arung tengah membaca sebuah buku mengenai Essensi Jiwa Kultivator Di Ranah Alam Naga. Ia pun membolak-balik halaman untuk mencari tahu mengenai penyebab munculnya essensi es di dalam diri ya. Setelah beberapa menit membolak-balik halaman buku tersebut, akhirnya Arung mendapatkan jawaban nya.


"Seorang kultivator di ranah alam naga puncak akan membagikan essensi jiwa nya yang paling menonjol kepada lawan jenisnya setelah berhubungan badan." Ucap Arung, sambil membaca halaman buku tersebut.


"Untuk kultivator wanita hanya dapat membagi kan sekali saja essensi nya, namun untuk Kultivator laki-laki dapat membagi nya sebanyak lima kali." Ucap Arung, sambil membaca halaman buku tersebut.


"Bagi kultivator yang sudah berbagi essensi wajib menikah jika tidak, kultivator tersebut tidak akan pernah dapat menerobos ranah alam malaikat atau siluman." Ucap Arung, sambil membaca halaman buku tersebut.


"Oh....... kayak gitu, dunia ini benar-benar sangat aneh,"


"Bahkan berhubungan badan saja memiliki efek terhadap kultivasi nya." Gumam Arung.


Arung pun melihat beberapa kalimat di halaman bawah buku tersebut.


"Apa ini tulisan di bawahnya?" Ucap Arung, sambil membuka halaman berikutnya.


"Cara melihat lawan jenis yang berbagi essensi jiwa." Gumam Arung, sambil membaca nya.


"Wah...... ini dia yang kucari-cari, aku sangat penasaran,"


"Mungkinkah saat di Kaki Bukit Siluman aku dan Nona Mitha berbagi Essensi?" Gumam Arung.


Ia pun kemudian mempelajari Teknik Jiwa tersebut, karena sangat penasaran dengan elemen es yang muncul secara tiba-tiba di dalam dirinya. Akhirnya setelah beberapa menit Arung pun sudah berhasil menguasai Teknik Jiwa tersebut.


"Hahay........ ternyata Teknik Jiwa ini tidak begitu rumit, lebih rumit lagi Jurus Teleportasi milik ku,"


"Fiuh...... sebaik nya aku mencoba nya terlebih dahulu." Gumam Arung.


Ia pun lalu duduk bersimpuh kemudian mulai mengalirkan energi es ke dalam fikirannya.


"Ugh..... elemen es ini begitu dingin, tapi hanya ini cara satu-satunya mengaktifkan Teknik Jiwa." Gumam Arung.


Beberapa saat kemudian.


Kamar Nona Mitha


Jiwa Arung seolah-olah tersedot ke dalam suatu ruangan berukuran 8 x 8 m dengan dekorasi yang sangat indah. Di belakang Arung sedang berdiri sesosok wanita cantik berambut biru dan bermata biru mengenakan jubah keemasan, sosok cantik itu ternyata Nona Mitha.


"Beautifull........ " Gumam Arung.


"Adik kecil, akhirnya kamu sudah berhasil menguasai Teknik Jiwa tersebut." Ucap Nona Mitha.


"Ternyata benar, aku dan Nona Mitha sudah berbagi essensi Kultivator bersama,"


"Aku harus bertanggung jawab kepada nya, apakah keluarga nya bersedia menerima ku menjadi calon suaminya?" Gumam Arung.


"Nona Mitha, ia aku baru saja berhasil menguasainya." Ucap Arung.


"Baguslah berarti dia sudah kucanggap dewasa saat ini, walaupun umurku terpaut sangat jauh dari nya." Gumam Nona Mitha.


Umur Nona Mitha saat ini adalah 150 tahun, dan Arung sekitar 18 tahun. Namun tubuh serta perawakan Nona Mitha terlihat seperti seorang wanita yang baru berusia 25 tahun yang bahkan kecantikan nya melebihi Gisel dan Shilla.


Jadi kamu sudah paham konsekuensi nya kan Adik Kecil, kalau begitu kamu harus bersedia bertanggung jawab kepada ku." Ucap Nona Mitha, dengan ekspresi sedingin es.


Arung pun hanya bisa membisu lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kacau sudah, kalau Shilla dan Gisel mengetahui hubungan kami,"


"Bisa-bisa aku di kebiri oleh mereka berdua." Gumam Arung.


"Ya sudah lah Adik Kecil, nanti saja kita membicarakan nya"


"Aku harus mengikuti rapat terlebih dahulu." Ucap Nona Mitha, sambil mengayunkan selendang emasnya ke arah jiwa Arung.


Akibat selendang emas itu jiwa Arung pun kembali ke dalam tubuh nya yang berada di atap penginapan.


Atap Penginapan


"Wowowooo..... apa ini." Gumam Arung.


Saat membuka kedua mata nya hari ternyata sudah menjelang sore hari, Arung pun bergegas kembali ke dalam Penginapan.


Di dalam Kamar Penginapan Arung.


Saat ini Shilla sudah pulang dari Pasar dan tengah duduk di sofa di ruang santai menunggu kedatangan calon suaminya sambil bermain gadget barunya.


"Krakk................ " Suara pintu terbuka.


"My lovely Arung." Gumam Shilla.


"Ternyata Shilla udah ready." Gumam Arung.


"Shilla ayo kita pergi sekarang, aku takut kita kemalaman." Ucap Arung.


"Ayo.... Arung." Ucap Shilla.


Arung dan Shilla pun kemudian beranjak ke dalam kamar Gisel berniat mengajak nya.


Didalam Kamar Gisel, di samping Kamar Arung.


Saat ini Gisel dan Ayu sedang duduk di ruang santai kamarnya menunggu kedatangan Arung. Ternyata Mama nya Gisel tidak mengijinkan ia untuk pergi sendiri ke Perpustakaan Kuno. Gisel harus mengajak Ayu bersamanya, karena Ayu sudah sering mengikuti misi penjelajahan sebelum nya.


"Gisel kapan pacar mu berangkat hari sudah sore nich, aku takut kita kemaleman berangkat nya." Ucap Ayu, sambil melihat jam di HP nya.


"Ya kita berangkat nya pasti juga malam-malam kakak ku sayang, kenapa dia ngebet banget perginya." Gumam Arung.


"Tenang aja Kak Ayu, pacarku pasti segera datang." Ucap Gisel.


"Krakkkkk.................. " Suara pintu terbuka.


"Gisel ayo kita berangkat." Ucap Arung.


"Tuch kan apa ku bilang, dia udah nongol,"


"Ayo kak Ayu." Ucap Gisel, lalu beranjak menghampiri Arung.


"Ia Gisel." Ucap Ayu, lalu menghampiri Arung.


"Sepertinya kamu tidak di izinkan pergi sendiri sama mama mu ya Gisel?" Tanya Arung.


"Ia Sayang, mama menyuruhku membawa serta Kak Ayu." Ucap Gisel.


"Ya sudah tidak apa-apa lebih banyak orang lebih bagus." Ucap Arung.


Arung dan yang lainnya pun mulai beranjak meninggalkan kamar Gisel berniat turun ke lobi bawah.


Koridor Penginapan.


Mereka berempat pun mulai berjalan menuju lift berniat turun ke bawah, Arung pun menyadari bahaya akan tiga cewek kembar Psikopat yang menargetkan nya selama ini.


"Oh iya.... Lobi merupakan daerah terlarang untuk ku lewati, sebaiknya aku pura-pura sakit perut dan berteleport ke bawah setelah nya." Gumam Arung.


"Ugh....... perutku sakit, aku kembali ke kamar dulu, nanti aku akan menyusul."


"Kalian tunggu saja aku di dalam mobil di bawah." Ucap Arung, lalu memberikan cincin garasinya kepada Shilla.


Shilla dan yang lainnya pun mulai masuk kedalam lift dan menunggu Arung didalam mobil Jeep merahnya. Beberapa saat kemudian Arung pun menyusul mereka lalu masuk ke dalam mobil.


Di dalam Mobil Jeep.


"Syukurlah...... hampir saja tadi aku kebablasan, kalau sampai ketiga cewek psikopat itu melihatku,"


"Habislah." Gumam Arung.


Mereka berempat pun mulai berangkat menuju Paviliun Senjata, dengan Shilla yang mengemudikan jeep tersebut. Beberapa menit kemudian mereka berempat pun tiba di Kediaman Tuan Muda Quill, para pelayan dan penjaga pun mengantarkan Arung dan yang lainnya ke aula tamu.


Aula Tamu Paviliun Senjata


Di dalam aula tamu tampak Tuan Muda Quill sudah menunggu kedatangan mereka, Arung dan yang lainnya pun duduk di kursi meja perjamuan.


"Kasihan Kakak Pertama, dia pasti kecewa,"


"Ternyata Tuan Muda Arung tidak hanya memiliki satu pacar tapi beberapa pacar, untung saja dia masih berdandan di dalam kamar nya." Gumam Tuan Muda Quill.


Tanpa di sadari oleh Arung ternyata Nona Dark sudah menaruh hati dengan nya.


"Wah...........Siapa Gadis-Gadis cantik ini Tuan Muda Arung?" Tanya Tuan Muda Quill.


"Sepertinya Tuan Muda Quill penasaran,"


"Siapa juga yang tidak penasaran jika seorang laki-laki membawa tiga orang Gadis Cantik sekaligus." Gumam Arung.


"Ini Gisel, ini Shilla, dan ini Ayu." Ucap Arung, sambil menunjuk ke arah gadis-gadis tersebut satu persatu.


"Salam kenal Tuan Muda Quill." Sahut kompak mereka bertiga.


"Syukurlah mereka akur." Gumam Arung.


"Iya sama-sama." Ucap Tuan Muda Quill.


"Wah...... bagaimana bisa Tuan Muda Arung menjinakkan tiga Gadis Cantik tersebut, saat ada waktu aku akan menanyakan caranya kepada nya,"


"Pelet macam apa yang dipakainya." Gumam Tuan Muda Quill.


Ayu saat ini menoleh ke arah Tuan Muda Quill, ia berharap Tuan tersebut mengingat nya.


"Kasihan nya aku sudah hampir mati di misi tersebut, tapi TuanMuda Quill bahkan tidak mengingat ku." Gumam Ayu.


Tuan muda Quill tidak terlalu ingat dengan Ayu, padahal ia juga ikut serta dalam misi penjelajahan saat di reruntuhan ibu kota kerajaan Jangbaek.


"Sepertinya Tuan Muda Arung akan bersenang-senang dengan ketiga gadis cantik tersebut, sebaiknya aku mempercepat memberikan upah serta hadiah nya." Gumam Tuan Muda Quill.


Tuan Muda Quill telah salah paham terhadap ketiga gadis cantik tersebut dan Arung, ia berpikir Arung akan melakukan party nakal bersama gadis-gadis tersebut.


"Ehmm... berkat kitab kultivasi petir yang tim kita dapat kan di malam itu, paviliun senjata saat ini untung besar Tuan Muda Arung."


"Kami berhasil menjual nya dengan harga 1 juta koin emas untuk tiap salinan kitabnya, jadi aku akan memberikan upah sebesar 1 juta koin emas per orang nya." Ucap Tuan Muda Quil, sambil menyerahkan sebuah kotak kecil transparan yang berisi dua buah cincin ruang kepada Arung.


"Yang satu berisi uang pastinya, dan yang satu lagi nya berisi apa ya?" Gumam Arung.


"Cincin ruang yang satunya berisi uang,"


"Di dalam cincin ruang yang satunya lagi berisi beberapa pasang jubah dan gaun dewa, serta harta-harta lainnya Tuan Muda Arung." Ucap Tuan Muda Quill.


"Wah...... aku kaya lagi, calon suami ku memang pebisnis handal." Gumam Gisel.


"Mama..... sebentar lagi Keluarga Tiger kita akan menjadi keluarga yang kaya raya, Calon suami ku benar-benar mesin pencetak uang ma." Gumam Shilla.


"Ugh....... aku menyesal sekali lagi tidak menjadikannya pacarku sewaktu di Hutan Tak Bernama." Gumam Ayu.


"Itu semua adalah rasa terima kasih dari ku, karena sudah menyelamatkan kakak pertama ku,"


"Dan di dalamnya juga terdapat salinan kitab kultivasi petir bagian satu sampai enam." Ucap Tuan Muda Quill.


"Aku akan mengkopi salinan Kitab itu nantinya." Gumam Gisel.


"Wah ..............1 Juta koin emas, calon suamiku ternyata orang kaya." Gumam Shilla dalam hati.


"Bagus sayang kemarin saldo ku 250 ribu koin emas hari ini bertambah menjadi 750 ribu koin emas, Pulau Dewata tunggu aku." Gumam Gisel.


Gisel sangat menginginkan pergi berlibur ke Pulau Dewata.


"Aku menyesal......... " Teriak Ayu di dalam hati.


"Terima kasih Tuan Muda Quill," Ucap Arung.


"Sama-sama Tuan Muda Arung, senang berbisnis dengan mu." Ucap Tuan Muda Quill, lalu menjabat tangan Arung.


Kemudian Arung dan Tuan Muda Quill pun mengobrol santai untuk beberapa waktu.


Beberapa Menit kemudian.


Arung dan yang lainnyacpun pamit kepada Tuan Muda Quill lalu bergegas pergi ke perbatasan kota untuk bertemu dengan Robert Wong serta memulai misi Penjelajahan ke Perpustakaan Kuno.


Di dalam mobil jeep


Kali ini Ayu yang mengemudikan mobil jeep tersebut sedangkan Arung, Gisel, dan Shilla duduk di belakang. Ia pun terlihat kesal dan jengkel karenan duduk mengemudi sendirian di depan, namun Ayu tetap santuy lalu mulai menghidupkan musik slow rock.


"Jika bukan karna mama, pasti aku tidak akan pergi,"


"Padahal aku lagi ikut kursus Alkemis, untuk mengikuti ujian Alkemis lima bulan ke depan." Gumam Ayu.


Ternyata Ayu dan Shilla berniat mengikuti Ujian Alkemis di Kota Seribu Obat lima bulan kemudian.


"Arung sesuai dengan kesepakatan kita mengenai keuangan keluarga, aku akan mengambil setengah dari upahmu." Ucap Gisel, sambil menadahkan tangannya ke arah Arung.


"Kesepakatan keuangan, Gisel sudah seperti Menteri Keuangan saja." Gumam Arung.


Ayu pun melirik melalui spion atas ke belakang lalu melihat adik nya sedang meminta jatah belanja. Tampak Shilla pun terkejut, kemudian ikut berbicara.


"Gisel, dia langsung meminta bagian nya,"


"Aku juga tidak boleh kalah." Gumam Shilla.


"Aku juga bagian dari keluarga sekarang, berikan juga bagian ku Arung." Ucap Shilla.


Arung lalu membuka kotak kecil transparan tersebut lalu memberikan cincin ruang yang berisi uang kepada Gisel.


"Ini uangnya, itu urusan kalian berdua." Ucap Arung.


"Ugh..... giliran uang saja mereka kompak." Gumam Arung.


Gisel pun kemudian membagi kan 300 ribu koin emas kepada Arung, 300 ribu koin emas pada Shilla dan 300 ribu koin emas untuk dirinya sendiri. Sisa 100 ribu koin emas lagi di berikan kepada Ayu.


"Gimana adil kan Shilla." Ucap Gisel.


"Wah...........Ayu dapat juga, ya sudahlah lagian dia pun akan menjadi calon kakak ipar ku kedepan nya." Gumam Shilla.


"Iya Gisel." Ucap Shilla.


"Terima kasih ya Arung, aku jadi tidak enak nich." Ucap Ayu.


"Iya Ayu, tidak apa-apa." Ucap Arung.


"Anggap saja itu bonus, saat aku melihat mu tak berbusana di Hutan Tak Bernama." Gumam Arung.


"Ya ambil aja Kak Ayu, kakak kan calon kakak iparnya Arung." Ucap Gisel.


"Ugh...... jika mengingat saat itu, darah ku kembali mendidih." Gumam Arung, ia pun lalu tersenyum saat mendengarkan kan kata-kata yang di ucapkan oleh Gisel begitu pun dengan Ayu.


Perbatasan Kota Awan Hitam


Beberapa saat kemudian Arung dan yang lain nya pun tiba di Perbatasan Kota Awan Hitam, di sana ada sebuah mobil sedan merah yang sudah menepi di pinggiran jalan lalu sedang menglakson mereka saat ini.


"Teennnnn....... teennnnn" Suara Klakson mobil Sedan Merah tersebut.


Ternyata mobil Sedan tersebut adalah milik Robert Wong.


"Ayu itu sepertinya Sedan milik Robert Wong, temanku yang memiliki ide untuk menjelajah kali ini." Ucap Arung.


Ayu pun mulai mengarahkan mobil ini kesamping sedan milik Robert Wong tersebut.


"Akhirnya My Bro ku tiba, kenapa tidak lebih lama lagi datang nya,"


"Aku sedang asyik mengobrol dengan Kayla My Bro, PDKT gitu Bro." Gumam Robert Wong, ia pun lalu membuka kaca depan dan kaca belakang mobil nya begitu pula dengan Ayu.


"Bro, kami sudah menunggu mu disini selama setengah jam lebih, syukurlah kau sudah datang," Ucap Robert.


"Wah.........siapa gadis cantik yang menyetir tersebut?" Tanya Kayla.


"Aku Ayu Kakak nya Gisel, salam kenal." Ucap Ayu, sambil melambaikan tangan nya ke arah Kayla


"Aku Shilla." Ucap Shilla.


Mereka pun saling berkenalan dari dalam mobil, ternyata Jupiter Fox pun ikut bersama Robert dan Kayla.


"Ya sudah Robert, sebaiknya kita bergerak sekarang." Ucap Arung.


"Baiklah bro, ikuti mobil ku ya." Ucap Robert Wong.


"Baik Robert." Ucap Ayu.


Robert pun memacu mobil nya, Ayu pun mulai mengekor mobil sedan merah tersebut dari belakang.


"Fiuh....... aku jadi deg-degan nih, ini pengalaman pertama ku menjelajahi situs kuno." Gumam Kompak Gisel dan Shilla, lalu menggandeng tangan Arung.


Ayu pun melihat tingkah kedua Gadis Cantik tersebut dari spion atas.


"Asli deh aku jadi tukang pukul nyamuk kali ini,"


"Mama......... kenapa kau menyuruhku ikut menemani mereka berbulan madu." Teriak Ayu di dalam hatinya yang terdalam.


"Syukurlah kalian berdua akur-akur, semoga saja mereka bisa akur juga bersama Nona Mitha nantinya." Gumam Arung.

__ADS_1


Perjalanan menuju perpustakaan Kuno pun dimulai.


__ADS_2