
Di Mulut Goa, saat Arung tengah duduk bermeditasi dengan kedua Kakak Beradik tersebut di ujung tempat tersebut.
"Byurrrr.......... " Suara hujan deras.
Tampak Jendral Arkan dan adik kembar nya Jendral Arkon belum melakukan tindakan apa pun untuk masuk ke dalam Goa tersebut. 200 bala tentara Ular Merah nya pun masih berjaga di sekitar tempat tersebut, Jendral Arkon pun mulai memasang kuda-kuda hendak melelehkan tembok perak tersebut.
"Minggir kalian semuanya." Ucap Jendral Arkon, tampak aura kemerahan mulai membungkus tubuh nya.
Para Prajurit yang tadi nya berdiri di sekitar Mulut Goa pun perlahan menjauh setelah mendengar perintah dari Jendral mereka.
"Arkon sepertinya sudah mulai tidak sabaran." Gumam Jendral Arkan.
"Whussss................. " Suara hempasan angin saat bola api hitam beracun mulai melesat ke arah tembok tersebut.
"Duarghhhh..............." Suara ledakan yang dahsyat pun terjadi.
Bola api hitam tersebut pun melelehkan tembok perak yang tebal tersebut, asap pun mulai mengepul dari arah mulut Goa tersebut.
"Groaghhhhh............ " Suara getaran Goa akibat ledakan dahsyat tersebut.
Beberapa saat kemudian, asap yang mengepul di sekitar mulut Goa pun perlahan menghilang. Jendral Arkan pun mulai berjalan mendekati Adik Kembarnya tersebut. Tampak di balik tembok perak yang meleleh tersebut langit-langit Goa telah runtuh.
"Adik, seperti nya mereka berdua lebih memilih untuk bunuh diri, daripada di eksekusi di Istana Kerajaan Ular." Ucap Jendral Arkan.
"Ratu Ular itu benar-benar keras kepala Kak, tapi tindakan nya ini makin menyusahkan tugas kita saja,"
"Perdana Menteri Ular memerintahkan kita untuk membawa tubuh Ratu Ular itu hidup atau mati, sepertinya kita harus mulai menggali reruntuhan Goa ini kembali Kak." Ucap Jendral Arkon.
"Hah......... " Suara nafas panjang Jendral Arkan.
"Mau bagaimana lagi Arkon, Perdana Menteri Ular itu sangat takut kepada Ratu Ular." Gumam Jendral Arkan.
Kedua Jendral pun mulai memerintahkan kepada seluruh bala tentara nya untuk mulai menggali reruntuhan tersebut, sementara itu mereka berdua pun mendirikan tenda dan beristirahat di depan mulut Goa tersebut.
Kembali ke ujung Goa.
Saat ini mereka bertiga sedang bermeditasi dengan tenang hingga suara ledakan dahsyat terdengar dari arah mulut Goa tersebut.
"Duarghhhh..............." Suara ledakan yang dahsyat pun terdengar dari arah mulut Goa tersebut.
"Sial.... Para Ular tersebut terlalu bersemangat." Gumam Arung.
"Groaghhhhh............ " Suara getaran Goa akibat ledakan dahsyat tersebut.
Akibat ledakan dahsyat tersebut lantai tempat Arung dan yang lain nya duduk bermeditasi pun mulai longsor ke dalam jurang yang dalam tersebut. Karena lengah Naga Muda dan kedua Gadis Ular tersebut ikut terperosok ke dalam Jurang yang dalam tersebut bersama reruntuhan lantai.
"Akh................. " Teriakan terkejut mereka bertiga saat terperosok ke dalam jurang tersebut.
Beberapa saat kemudian tubuh mereka pun mulai tenggelam ke dalam air hitam yang menggenangi dasar jurang tersebut.
"Blurpppppppppp............" Suara saat tubuh mereka mulai tenggelam ke dalam Danau Hitam.
"Ugh.... Ternyata ada sebuah Danau di ujung lorong ini, kenapa aku merasa kantuk." Gumam Arung, lalu mulai tertidur.
"Zzztttt.......... " Suara tidur Arung.
"Ugh.... Kenapa bisa ada Danau di dalam sini?" Gumam Sarah, lalu mulai tertidur.
"Zzztttt......... " Suara tidur Sarah.
"Sebaik nya aku segera keluar dari dalam Danau hitam ini." Gumam Irish, lalu mulai tertidur.
"Zzztttt........" Suara tidur Irish.
Danau Hitam ini memiliki kandungan zat yang memberikan efek membuat kultivator yang tenggelam di dalam nya tertidur, oleh karena nya hanya ada beberapa jenis Beast Laut yang dapat hidup di dalam Danau Hitam tersebut. Tubuh mereka pun mulai tenggelam dan tersedot kedalam sebuah Pulau mengambang di dalam Danau Hitam tersebut.
Kembali ke Hutan di Dekat Mansion Pertapa Qilin.
"Tap..... Tap..... Tap...... " Suara langkah kaki Gisel saat berlari.
Tampak Gisel tengah berlari dengan aura petir di sekujur tubuh nya.
"Dzzzitttt........ Dzzziiiitttt...... Dzzziiiittt....... " Suara percikan petir dari tubuh nya.
"Hyattttt........... " Teriak Gisel.
Ia pun mulai melompat kemudian menjelma menjadi seberkas energi petir yang berbentuk Qilin setinggi dua meter, Kekasih Sah Arung ini pun mulai berjalan-jalan untuk beberapa waktu di dalam hutan tersebut. Perlahan aura petir pun mulai menghilang, ia pun kembali ke wujud asal nya.
"Hah..... Hah..... Hah...... " Suara nafas terengah-engah Gisel.
"Sudah beberapa hari berlalu, namun aku sangat sulit mempertahankan wujud Qilin Petir ini, aku harus bagaimana ya?" Gumam Gisel, lalu duduk dan memandangi langit.
Gisel jadi teringat dengan Komandan Don Juan nya yang entah berada dimana saat ini, ia sangat rindu akan belaian lembut dan canda tawa Pendekar tersebut.
"Aku memang benar-benar payah, tidak hanya sulit mempertahankan wujud Qilin Petir ini, tapi aku juga sulit untuk mempertahankan kewarasan ku saat berada di sisi Komandan Don Juan tersebut,"
"Mungkinkah Kak Luna dan Arung memiliki sebuah hubungan terlarang?" Gumam Gisel.
Beberapa saat kemudian ia pun kembali mengeluarkan beberapa kaleng beer lalu mulai meminum nya.
"Ah...... Segarnya, sebaik nya hari ini aku bersantai saja terlebih dahulu." Gumam Gisel, lalu berniat mabuk-mabukan.
Kota Metropolitan Naga, di Benua Naga.
Setelah terpisah-pisah oleh Badai Kosmik tersebut, Luna ternyata terdampar di pinggiran Kota Metropolitan Naga di Benua Naga. Ia pun sudah mulai berbaur di dalam Kota tersebut lalu mulai mencari Beast yang akan di kontrak nya, namun Luna memiliki taktik tersendiri untuk mendapatkan persetujuan Kontrak dari Beast tersebut.
Bar Patah Hati.
Sebuah Bar tempat berkumpulnya para manusia Beast Naga yang sedang patah hati, kebanyakan pengunjung di dalam bar ini adalah wanita. Tampak Luna tengah duduk di sebuah sofa lalu mulai mengamati sekelilingnya. Para Gadis Naga yang ada di dalam sini rata-rata sedang patah hati dan sedang mabuk-mabukan.
"Hiks.... Hiks.... Hiks...... " Tangis Lastri.
"Padahal aku sudah memberikan nya semua hanya essensi saja yang tidak aku bagikan, kenapa kau tega meninggalkan ku Gatot." Gumam Lastri, sedang bersedih di salah satu sofa di Bar Patah Hati tersebut.
Lastri adalah seekor Manusia Beast Naga di ranah alam Naga puncak dan saat ini sedang rapuh karena baru saja putus karena alasan sepele, Luna pun memanfaatkan momen tersebut. Ia pun mulai bangun dari sofa nya lalu berjalan menghampiri Lastri yang tengah mabuk-mabukan.
"Nona Naga, bolehkah aku bergabung dengan mu, aku pun sedang patah hati saat ini,"
"Kekasih ku baru saja mencampak kan ku." Ucap Luna, berusaha memanipulasi Lastri.
"Manusia, sedang apa dia disini,"
"Akh.... Apa peduli ku dengan tujuan nya, ada teman minum itu lebih baik,"
"Nasib kami pun sama." Gumam Lastri, telah terperdaya oleh omongan Luna.
"Silahkan Nona, aku Lastri." Ucap Lastri.
"Aku Luna." Ucap Luna, lalu duduk di sebelah Lastri.
Mereka pun mulai minum bergelas-gelas beer di atas sofa tersebut, tampak Lastri sudah hampir mabuk.
"Saat yang kutunggu-tunggu telah tiba, baiklah sekarang saat nya." Gumam Luna, lalu mulai mengeluarkan gulungan kontrak dari dalam cincin ruang penyimpanan milik nya dan sebuah pena.
Ternyata Luna bermaksud membuat Lastri mabuk lalu menipunya untuk meneken kontrak perjanjian sepihak dengan nya, tidak di sangka Luna lebih licik dari pada Dilla.
"Ugh.... Apa ini Luna?" Tanya Lastri.
Saat ini Luna tengah meneken Kontrak tersebut di depan Lastri, saat ini Gadis Naga tersebut sedang mabuk.
"Sudah teken saja Lastri, ini sebuah petisi untuk menolak kepemimpinan Raja Kota di Kota ini." Ucap Luna, berbuat culas demi tanda tangan gadis yang sedang rapuh ini.
Ternyata pacar Lastri adalah Raja Kota ini yaitu Gatot Angkara yang merupakan Beast Kontrak dari Jendral Es. Mendengar itu Lastri Shepard pun kembali bersemangat, ia pun langsung meneken kontrak tersebut dengan semangat yang menyala-nyala.
"Sudah Luna, aku sangat benci dengan Raja Kota ini,"
"Dia sangat kejam Luna, dia mematahkan perasaan ku hingga berkeping-keping." Ucap Lastri, kemudian kembali menangis.
"Hiks.... Hiks.... Hiks...... " Tangis Lastri, lalu mulai meminum beer kembali.
Sebuah rantai putih pun keluar dari dalam gulungan tersebut lalu mulai menusuk dada mereka, saat ini mereka sudah resmi berkontrak. Rantai dengan ujung yang tajam itu pun mulai melilit jantung mereka, jika salah satu dari mereka melanggar kontrak tersebut ujung dari rantai tersebut akan langsung menembus jantung pelanggar kontrak tersebut.
"Ugh.... Selesai sudah, dasar gadis bodoh." Gumam Luna.
"Luna kau menipuku ini kan sebuah kontrak?" Ucap Lastri.
"Mau gimana lagi Lastri, aku pamit dulu yach." Ucap Luna, lalu menghancurkan token teleportasi emergensi nya.
"Blitzzzz................ " Suara teleportasi Luna memakai Token.
Dalam sekejap mata Luna pun menghilang dan kembali ke dek atas Kapal Layar Langit.
"Huh....... "
"Dasar Penipu, kau sama saja dengan Gatot." Teriak Lastri.
Karena teriakan Lastri tersebut para pengunjung Bar Patah Hati pun mulai melihat ke arah nya untuk beberapa saat, lalu kembali bersedih dengan kesedihan nya masing-masing.
"Aku memang gadis yang bodoh, selalu tertipu oleh orang-orang yang baru ku kenal." Gumam Lastri.
"Hiks.... Hiks.... Hiks...... " Tangis Lastri, lalu mulai meminum beer kembali.
Di atas Dek Kapal.
Luna pun kembali terlebih dahulu dari pada Gisel dan Arung, tampak sudah ada beberapa Komandan dan Wakil Komandan lain nya yang telah kembali di atas tempat tersebut.
"Dup........... " Suara Tapak kaki saat Luna mendarat di atas dek kapal.
"Fiuh...... "
"Dasar gadis lugu, pantas saja dia bisa di tipu oleh laki-laki,"
"Jika sudah mabuk dia mirip dengan Gisel, sebaik nya aku memeriksa kamar bulan madu kita bertiga terlebih dahulu,"
"Apa sepasang kekasih sah tersebut telah kembali dan sedang bergumul, kalau iya mereka pasti akan kentang dengan kehadiran ku ini." Gumam Luna, lalu mulai beranjak pergi menuju kamar VIP mereka.
Pulau Makam Kuno.
Malam hari nya, Arung pun mulai terbangun dari tidur nya lalu mulai menoleh ke sekeliling nya. Irish saat ini sedang tergeletak tidur di sebelah nya, begitu pula dengan Sarah, saat ini mereka berada di depan sebuah gerbang masuk ke sebuah mansion. Di atas Gerbang tersebut terpahat tulisan yang berbunyi "MAKAM JENDRAL API KERAJAAN JANGBAEK".
"Tempat ini sepertinya sudah tidak asing lagi bagiku, aku sepertinya pernah berada di tempat ini, tapi di mana ya." Gumam Arung, merasa bernostalgia dengan tempat tersebut.
Samar-samar ingatan dari Jendral Api kembali terngiang di dalam kepala nya.
"INI ADALAH SALAH SATU DARI MAKAM WARISAN KU." Suara di Kepala Arung.
__ADS_1
"Apa..... Jadi ini salah satu dari Makam Warisan Peninggalan Jendral Api, aku sangat beruntung, tidak ku sangka aku bisa menemukan nya kembali." Gumam Arung, lalu mulai membangunkan kedua gadis cantik tersebut.
Setelah beberapa saat kemudian, kedua Kakak Beradik itu pun mulai terbangun.
"Ugh.... Kepala ku pusing banget." Gumam Irish, lalu bangun dan berdiri di sebelah Naga Muda.
"Dimana kita saat ini Arung?" Tanya Sarah, lalu mulai menoleh ke sekeliling tempat tersebut.
"Kita saat ini berada di salah satu Makam Warisan Milik Jendral Api Kerajaan Jangbaek, Sarah." Ucap Arung.
"Jendral Api?" Gumam Irish.
Kedua Kakak Beradik tersebut pun mulai saling bertatapan saat mendengar kata "KERAJAAN JANGBAEK", mereka berdua seperti nya mengetahui sejarah dari Kerajaan tersebut.
"Apa............."
"Bukankah Kerajaan tersebut telah hancur 3000 tahun yang lalu, dan letak Kerajaan tersebut di Planet Bumi,?"
"Kenapa Makam nya bisa sampai ada di Planet Kuno Jupiter ini?" Tanya Sarah, ekspresi nya saat ini sangat terkejut.
"Sepertinya Sarah mengetahui sejarah Kerajaan Jangbaek, aku akan bertanya pada nya nanti." Gumam Arung.
"Aku pun tidak tahu kenapa Makam ini bisa sampai ada di sini Sarah, tapi bisa ku pastikan ini memang lah Makam Milik Jendral Api Sarah." Jawab Arung.
"Hah..... " Suara Nafas Panjang Irish.
"Ya udah ayo kita pastikan saja Naga Muda, Sarah." Ucap Irish, lalu mulai menaiki tangga di hadapan nya tersebut.
"Ayo Irish.... " Ucap Arung, lalu berjalan di sebelah nya.
"Ugh.... Sepertinya aku jadi tukang pukul nyamuk lagi nih." Gumam Sarah, lalu mulai mengekor di belakang Irish dan Arung.
Mereka pun mulai menaiki tangga menuju Mansion Makan Kuno tersebut, setelah beberapa menit akhirnya mereka pun tiba di pintu masuk Mansion tersebut.
"Desain tangga dan jalan masuk nya, semuanya masih tetap sama,"
"Aku tak menyangka akan menemukan Makam kuno lain nya, sepertinya aku berjodoh dengan Jendral Api." Gumam Arung.
Di Depan Pintu Masuk Mansion Makam Kuno.
"Tempat ini benar-benar Makam kuno Naga Muda, lihat lah debu-debu yang menempel di sekitar bangunan ini, sepertinya sudah lama sekali tempat ini telah di tinggal kan." Ucap Irish.
"Jendral Api pasti memiliki banyak peninggalan harta yang berharga, kita sangat beruntung Kakak, Arung." Ucap Sarah.
"Mereka berdua belum mengetahui racun mematikan yang ada di tutup peti mati milik Jendral Api tersebut." Gumam Arung, lalu mulai membuka pintu tersebut.
"Kraakkkk................. " Suara pintu terbuka.
Aula di dalam Mansion Makam Kuno tersebut sungguh luas, di tengah ruangan tersebut terdapat sebuah peti mati kuno.
"Wah..... Ini benar-benar Makam Jendral Api, lihat lah itu kan Patung Komandan Api Delayla, aku merupakan fans nya saat itu." Ucap Sarah, lalu menunjuk ke salah satu patung yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Ugh..... Kenapa Sarah bisa mengenali salah satu patung tersebut, sebenarnya berapa usia ke dua Ular Wanita ini." Gumam Arung.
Di sudut-sudut bangunan terdapat patung-patung dari kesatria kuno yang sedang berjaga. Ketika mereka mulai menginjak kan kaki nya ke dalam ruangan tersebut pada langkah pertama nya, tiba-tiba saja muncul sebuah hologram yang merupakan sisa-sisa ingatan dari masa lampau dan tepat berasal dari atas peti mati tersebut.
"Sarah, lihat itu Jendral Api yang legendaris dari Planet Bumi, aku sudah lama sekali tidak melihat nya." Ucap Irish.
"Benar Kak, wah... Kita sungguh beruntung." Ucap Sarah.
"Huft............. " Suara Nafas Panjang Arung.
"Ternyata Sosok Jendral Api ini sungguh terkenal hingga ke Planet Kuno Jupiter ini." Gumam Arung.
"SELAMAT DATANG PENDEKAR DI MAKAM KU INI, KALIAN HANYA PERLU MENDENGAR KAN KU DAN TIDAK USAH BERKOMUNIKASI DENGAN KU." Ucap Hologram Jendral Api.
Kedua Kakak Beradik tersebut tampak dengan serius menyimak setiap perkataan dari hologram tersebut.
"KARENA AKU YANG SEKARANG HANYALAH SISA-SISA INGATAN DARI MASA LAMPAU." Ucap Hologram Jendral Api tersebut.
"Dia gagah sekali Kak, Saranghae....... " Ucap Sarah.
NOTE : Saranghae adalah Bahasa Korea yang artinya Aku Mencintaimu.
"Bahkan perkataan nya saat ini sama dengan perkataan nya saat di Makam Kuno di Dalam Danau Oasis, rasanya aku bernostalgia kembali ke saat itu." Gumam Arung.
"AKU ADALAH JENDERAL PERANG DARI NEGERI JANGBAEK, AKU MEMIMPIN PULUHAN RIBU PASUKAN DAN TIDAK PERNAH KALAH SEKALIPUN DI ZAMAN KU,"
"AKU BAHKAN ADALAH YANG TERKUAT DI NEGERI JANGBAEK INI, NAMUN SATU PENYESALAN KU, YAITU AKU TIDAK MEMILIKI PENERUS DI AKHIR HAYAT KU,"
"SEHINGGA AKU MENYIMPAN WARISAN KU DI DALAM PETI MATI INI, JIKA KALIAN INGIN MENJADI PENERUS KU DAN DAPAT KELUAR DARI DALAM DANAU INI,"
"MAKA BUKALAH PETI MATI INI, NAMUN AKU AKAN MEMBERI KALIAN SEBUAH UJIAN TERLEBIH DAHULU,"
"UJIANNYA SANGAT MUDAH, KALIAN HANYA TINGGAL MENDORONG TUTUP PETI MATI INI SEHINGGA TERBUKA DAN DAPAT MENGAMBIL WARISAN DI DALAM NYA,"
"NAMUN TUTUP PETI MATI INI SANGAT BERACUN, DAN SIAPA SAJA YANG MENDORONG NYA PASTI AKAN MATI DALAM BEBERAPA JAM." Ucap Hologram Jendral Api.
"Ujian yang menyeramkan." Gumam Sarah.
"HA.....HA...HA....HA..." Suara tawa yang sangat besar dari Hologram Jenderal Api tersebut.
"ITULAH UJIAN NYA PENDEKAR, UJIAN KEBERANIAN JENDRAL API NEGERI JANGBAEK, SEBELUM MELAKUKAN NYA KALIAN DAPAT MEMIKIRKAN NYA TERLEBIH DAHULU,"
"ATAU TIDAK USAH MELAKUKAN NYA DAN TINGGAL SAJA SELAMA NYA DISINI MENEMANI KU." Ucap hologram Jenderal Api.
Sarah dan Irish saling bertatapan lalu melihat ke arah tutup peti mati tersebut dan dapat mengidentifikasi kan racun yang terkandung pada tutup peti tersebut.
"Hah............ " Suara Nafas Panjang Irish.
"Tutup Peti itu memang mengandung racun pohon kematian, kita akan langsung mati bila menyentuh nya, sebaik nya kita tidak usah mengambil resiko untuk membuka peti mati tersebut." Ucap Irish.
"Ia Kak, racun pohon kematian akan membuat kita mati saat menyentuh nya." Ucap Sarah.
Arung yang telah memiliki kekebalan terhadap racun pohon kematian pun mulai berjalan ke arah tutup peti mati tersebut, berniat mendorong nya.
"Naga Muda, apa yang hendak kau lakukan,"
"Jangan Bodoh......... " Ucap Irish.
"Arung, jangan lakukan perbuatan bodoh, tutup peti mati itu benar-benar beracun." Ucap Sarah.
"Tenang Saja Irish Sarah, aku kebal terhadap racun ini." Ucap Arung, lalu mulai mendorong tutup peti mati tersebut.
"Kraakkkk.............. " Suara tutup peti mati saat mulai terbuka.
"Brukkkk................ " Suara tutup peti mati yang jatuh ke lantai mansion.
"Lihat kan, aku baik-baik saja." Ucap Arung.
Sarah pun berlari ke arah Arung lalu mulai memeluknya, Irish hanya diam saja lalu mulai berjalan ke arah peti mati yang terbuka tersebut.
"Arung jangan bodoh, untung saja kau benar-benar kebal,"
"Jika tidak Kakak ku akan menjanda dan aku juga." Gumam Sarah, lalu melepaskan pelukan nya.
"Apa maksud Sarah kenapa dia juga ikutan menjadi janda, ada sesuatu yang tidak beres?" Gumam Arung.
"Syukurlah calon Raja dari Kerajaan Ular ini baik-baik saja, jantungku sampai mau copot di buat nya tadi." Gumam Irish.
Tiba-tiba saja dari dalam peti mati tersebut, hologram Jenderal Api pun kembali muncul.
"HA...HA...HA...HA.........," Tawa hologram Jenderal Api.
"BAGUS PENDEKAR KAMU BERHASIL MENDORONG TUTUP PETI MATI SEHINGGA TERBUKA, KAMU MEMANG MEMILIKI KEBERANIAN YANG TINGGI." Ucap hologram Jenderal Api tersebut
"Kak Hologram itu muncul lagi." Ucap Sarah.
"Ya Sarah, sebaik nya kita dengar apa yang hendak di katakan oleh Jendral Api selanjutnya, itu pasti adalah hal yang penting." Ucap Irish.
"Benar Sarah itu pasti sangat penting, seperti perasaan ku kini terhadap Irish." Ucap Arung.
"Ugh.... Naga Muda, kau membuat ku malu." Gumam Irish, kemudian pipi nya mulai merah merona.
"Huh........ "
"Dasar Naga, kenapa hanya Kakak yang di goda aku kan mau juga, dasar gak peka." Gumam Sarah, kemudian mulai memanyunkan bibir nya.
"RACUN ITU ADALAH RACUN DARI POHON KEMATIAN DAN BISA DI PASTIKAN JIKA TIDAK MENDAPATKAN PENAWAR NYA SEGERA, KAMU PASTI AKAN MATI DALAM HITUNGAN MENIT,"
"TAPI INI ADALAH HARI KEBERUNTUNGAN MU ANAK MUDA, AKU MEMBUAT UJIAN INI UNTUK MENCARI PEWARIS YANG MEMILIKI TEKAD API YANG MENYALA-NYALA." Ucap Hologram Jenderal Api, dengan suara yang begitu bersemangat.
"Dasar Jendral Api, aku hampir saja mati saat itu gara-gara racun pohon kematian itu." Gumam Arung.
"BUKAN API YANG MATI HANYA KARENA TERKENA SEDIKIT HEMPASAN ANGIN,"
"ADAPUN WARISAN KU ADALAH PUSAKA KU YANG MEMBUAT AKU MENJADI TAK TERKALAHKAN DI WILAYAH KERAJAAN JANGBAEK INI."
"WARISAN KU INI ADALAH KITAB JURUS SEMBILAN PEDANG TINGKAT DEWA LEVEL AWAL,"
"SEMBILAN BUAH PEDANG DI RANAH ALAM MAHAYANA, DAN TIGA BUTIR PIL PEMBALIK TAKDIR."
"SARAN KU LEKAS AMBILLAH PIL TERSEBUT TERLEBIH DAHULU SEBELUM KAMU MATI OLEH RACUN, DAN KITA AKAN BERTEMU LAGI SETELAH KAU BERHASIL MENGUASAI TINGKAT PERTAMA JURUS TERSEBUT." Ucap hologram Jenderal Api.
"HA.....HA.....HA.......HA......." Tawa hologram Jenderal Api.
"SELAMAT ANAK MUDA AKHIRNYA SETELAH EMPAT MILENIUM BERAKHIR AKU MENEMUKAN PEWARIS KU." Ucap hologram Jenderal Api, kemudian perlahan menghilang.
Mendengar kata Pil Pembalik Takdir, Irish dan Sarah begitu senang bukan kepalang, kultivasi mereka yang telah hilang selama ini dapat kembali ke puncak kejayaan nya kembali setelah berhasil mengkultivasi kan Pil tersebut.
"Kakak.... Itu Pil Pembalik Takdir, kita akan dapat segera membalaskan dendam teman-teman dan saudara-saudara kita." Ucap Sarah.
Irish pun mulai meneteskan air mata kebahagian nya, saat mendengar kata "PIL PEMBALIK TAKDIR" tersebut.
"Hiks..... Hiks.... Hiks..... " Tangis kecil Irish.
"Tidak kusangka kultivasi kita bisa pulih di tempat antah berantah ini Sarah, ini semua karena mu Naga Muda,"
"Terima kasih Naga Muda." Ucap Irish, lalu memeluk Arung dan mencium bibir Arung.
"Ugh.... Sepertinya aku sudah lulus ujian cinta ini, tinggal mengambil ijazah nya saja nanti nya." Ucap Arung, lalu kembali ******* bibir Irish.
Mereka berdua pun mulai berciuman dengan panas nya di hadapan Sarah.
"Ugh..... Kenapa mereka gak menunggu saat aku tidak ada disini." Gumam Sarah, sambil menggeleng-geleng kepala nya.
__ADS_1
"Uhuk... Uhuk.... Uhuk... " Suara Pura-Pura Batuk Sarah.
Mendengar suara batuk dari Sarah mereka berdua pun sadar masih ada Sarah di sini, lalu mulai menyudahi ciuman panas tersebut, sementara itu Sarah pun mulai beranjak mengambil dua buah Pil Pembalik Takdir dari dalam peti tersebut.
"Kak ini, ayo segera kita kultivasi kan Pil Pembalik Takdir ini, aku sudah tidak sabaran ingin memakan daging kedua Jendral Kembar itu." Ucap Sarah, sambil memberikan sebuah Pil Pembalik Takdir kepada Kakak nya tersebut.
"Sepertinya Pil Pembalik Takdir ini sangat mereka berdua inginkan." Gumam Arung.
"Baik Adik ku." Ucap Irish, lalu mengambil Pil di tangan Sarah tersebut.
"Bagaimana dengan senjata-senjata dan kitab ini Irish, Sarah?" Tanya Arung.
Sarah pun mengeluarkan Pedang Ular Hitam Bertanduk Sembilan yang di pungut nya saat di Hutan dari dalam cincin ruang milik nya, lalu memberikan nya kepada Arung.
"Semua harta di dalam peti mati itu adalah milik mu Arung, dan pedang ini adalah mas kawin dari ku." Ucap Sarah, lalu mulai memberikan pedang tersebut kepada Arung.
"Mas Kawin, apa maksud Ular Hijau ini, kalau Irish yang mengatakan nya aku paham tapi kalau Sarah aku gagal paham?" Gumam Arung, lalu mulai menyimpan pedang tersebut.
"Ia Arung, anggap saja semua harta di dalam peti mati itu adalah mas kawin dariku, saat ini kau sudah lulus ujian cinta dariku,"
"Setelah keluar dari sini kita akan menikah, dan meneken kontrak perjanjian tersebut." Ucap Irish, lalu duduk bersimpuh bersiap mengkultivasi kan Pil Pembalik Takdir.
"Menikah lagi?" Ucap Arung.
"Ya Arung, itu adalah konsekuensi dari ciuman tadi,"
"Syarat untuk berkontrak dengan kami kau harus menikahi kami berdua sekaligus." Ucap Sarah.
"Apa yang dimaksud oleh Sarah menikahi mereka berdua, sebaik nya aku menyimpan harta-harta benda ini terlebih dahulu,"
"Setelah berhasil keluar dari sini aku akan memastikan nya, dan bertanya sejelas-jelasnya kepada kedua Ular tersebut." Gumam Arung, lalu mulai menyimpan harta warisan yang ada di dalam peti mati tersebut ke dalam cincin ruang milik nya.
Kedua Kakak Beradik yang tidak sedarah itu pun mulai mengunyah Pil Pembalik Takdir, tampak aura Hijau dan aura Putih keluar dari tubuh mereka berdua.
"Sepertinya mereka sudah mulai mengkultivasikan Pil tersebut, sebaik nya aku keluar dari sini untuk mencari cara keluar dari dalam Pulau Makam Kuno ini." Gumam Arung, lalu mulai beranjak keluar dari dalam Mansion Makam Kuno tersebut.
Di Luar Mansion Makam Kuno.
Arung pun menengadahkan kepala nya ke atas, tampak sebuah perisai putih berelemen white hole pun mulai menyelimuti Pulau Makam Kuno tersebut.
"UNTUK KELUAR DARI DALAM PULAU INI KAU HARUS MENGHANCURKAN PERISAI KUlTIVASI WHITE HOLE TINGKAT ALAM DEWA PUNCAK TERLEBIH DAHULU DENGAN JURUS SEMBILAN PEDANG,"
"JURUS TELEPORTASI TIDAK BISA DI GUNAKAN DI DALAM SINI SAMPAI PERISAI TERSEBUT HANCUR TERLEBIH DAHULU." Suara di Kepala Arung.
Arung sangat menghargai perkataan dan wejangan Jendral Api, bahkan ia memiliki sebuah nazar untuk menikahi Putri dari Jendral Api yang telah menolong nya selama ini.
"Fiuh......... "
"Aku sebaiknya mulai mempelajari Jurus Sembilan Pedang ini terlebih dahulu." Gumam Arung, lalu mulai pergi ke tepian danau.
89 Hari Kemudian setelah Mereka Sampai di Planet Kuno Jupiter, di pinggir hutan di dekat Mansion Pertapa Qilin.
Pertapa Qilin tengah berdiri di sebelah muridnya Gisel, hari ini ia akan mengamati kemajuan penguasaan Jurus Kultivasi Qilin bagian Satu Gisel.
"Jangan mengecewakan ku Nona Rubah." Ucap Pertapa Qilin.
"Semoga dia berhasil, walau pun murid ku ini suka mabuk-mabukan tapi dia merupakan gadis yang baik." Gumam Pertapa Qilin.
"Baik Guru." Ucap Gisel, lalu mulai membungkuk dan memberi hormat kepada guru nya tersebut.
"Aku harus berhasil hari ini." Gumam Gisel.
Aura petir kembali berkumpul di sekujur tubuh Kekasih Sah Arung tersebut, tatapan Gadis Cantik tersebut begitu serius.
"Dzzzitttt........ Dzzziiiitttt......... " Suara percikan petir di sekitar nya.
"Hyattttt.......... " Teriak Gisel, lalu mulai berlari dan melompat setelah nya.
Gisel pun mulai menjelma menjadi Qilin Petir setinggi 2 meter, makhluk ini pun mulai berjalan mengelilingi guru nya untuk beberapa saat.
"Fiuh....... "
"Untung lah kau sudah berhasil menguasai nya Nona Rubah, jika tidak kau bisa mati terkena racun petir." Gumam Pertapa Qilin.
"Kau berhasil Nona Rubah, ayo kita kembali ke dalam lalu meneken gulungan kontrak tersebut." Ucap Pertapa Qilin, lalu berjalan kembali ke dalam mansion nya.
Qilin Petir pun kembali menjelma menjadi seorang Gadis Pirang yang sangat cantik.
"Baik Guru." Ucap Gisel, lalu kembali berjalan di belakang Pertapa Qilin.
Di Dalam Ruangan Meditasi Pertapa Qilin.
Setelah menekan gulungan kontrak tersebut rantai putih mulai bersarang di jantung mereka, Gisel pun pamit kepada gurunya tersebut, ia pun kembali setelah nya.
"Guru, aku pamit dulu." Ucap Gisel, lalu mulai menghancurkan Token milik nya.
"Baiklah Muridku." Ucap Pertapa Qilin.
"Blitzzzz........... " Suara saat Gisel berteleport kembali ke Dek Kapal Layar Langit.
Dek Kapal Layar Langit.
Tampak Luna sedang melakukan pemanasan di atas Dek tersebut, sambil menunggu kedatangan Kekasih Naga nya. Tampak beberapa Komandan lain nya sedang berdiri di pinggiran dek. Beberapa saat kemudian dalam sekejap mata Wakil Komandan Gisel pun berpindah ke atas Dek, tepat di sebelah Luna.
"Dup............ " Suara Tapak kaki Gisel saat mendarat di sebelah Luna.
"Kya........... " Teriak Luna terkejut.
"Hah...... Hah..... Hah........ " Suara Nafas Terputus-Putus Luna.
"Gisel, kedatangan mu mengejutkan ku." Ucap Luna, sambil mengurut-urut dada nya.
"Kak Luna, mana Arung?" Tanya Gisel.
"Dia belum kembali Gisel." Ucap Luna, lalu kembali melakukan pemanasan di Dek tersebut.
"Ugh..... kemana ya Komandan Don Juan itu." Gumam Gisel.
"Kryukkkkk............... " Suara keroncongan perut Gisel.
Luna yang mendengar suara keroncongan dari perut Gisel pun menghentikan pemanasan nya.
"Gisel ayo kita sarapan dulu di Warung di dekat pelabuhan, lontong nya enak di sana." Ucap Luna.
"Kak Luna Baik Banget." Gumam Gisel.
"Ayo Kak." Ucap Gisel.
Kekasih Sah dan Kekasih Bayangan pun pergi ke warung di dekat Pelabuhan tersebut bersama, berniat sarapan pagi di sana.
Pulau Makam Kuno.
Akhirnya setelah beberapa bulan berkultivasi Pil Pembalik Takdir pun berhasil mereka kultivasi kan, ranah kedua Gadis Ular tersebut kembali ke puncak nya. Dua berkas cahaya pun melesat ke langit menandakan selesai nya proses penyerapan Pil tersebut.
"Kakak..... akhirnya penderitaan kita berakhir." Ucap Sarah, lalu memeluk Irish.
"Hiks.... Hiks.... Hiks.... " Tangis Kebahagiaan Sarah.
"Iya Sarah ini berkat Naga Muda, setelah ini aku akan berkontrak dengan nya begitu pula dengan mu Sarah." Ucap Irish, lalu mulai mengamati sekeliling ruang mansion tersebut.
"Baik Kak." Ucap Sarah.
"Mana Calon Suami ku, kenapa dia tidak ada?" Gumam Irish, lalu bangun dari meditasi nya.
"Sepertinya Arung di luar Kak, dia mungkin tidak mau mengganggu meditasi kita." Ucap Sarah.
"Kalau begitu, ayo kita mencari nya,"
"Aku sudah lapar sekali sudah berbulan-bulan tidak makan, kebetulan ada dua Ular Merah di sana." Ucap Irish.
"Ayo Kak." Ucap Sarah.
Mereka berdua pun mulai keluar dari dalam mansion tersebut, lalu mulai menuruni tangga untuk mencari Calon Suaminya tersebut.
Di Tepian Danau Pulau Makam Kuno.
Tampak Arung baru saja menguasai Jurus Sembilan Pedang Bagian Pertama, saat ini Pedang Tornado Api sedang berputar-putar di langit.
"Ugh...... sudah beberapa bulan dan aku baru berhasil menguasai jurus Sembilan pedang bagian pertama nya, mau berapa tahun kami baru bisa keluar dari sini." Gumam Arung, lalu mulai menggerakkan pedang tersebut dengan pikiran nya.
Pedang yang berputar-putar itu mulai melesat kesana kemari, sambil sesekali tercebur kedalam Danau lalu melesat kembali. Beberapa saat kemudian kedua Kakak Beradik tersebut pun tiba di Tepian Danau tersebut, Arung pun bergegas menyarungkan Pedang Tornado Apinya.
"Busyet..... Irish saat ini berada di Ranah Alam Dewa Puncak, dan Sarah di Ranah Alam Malaikat puncak, tidak kusangka kultivasi mereka berdua begitu tinggi." Gumam Arung, mulai sedikit tertekan dengan kehadiran kedua Gadis Ular tersebut.
"Tap..... Tap...... Tap...... " Suara langkah kaki mereka berdua saat mendekati Arung.
"Naga Muda, ayo kita keluar dari sini." Ucap Irish, lalu memegang tangan Arung.
"Tapi itu kan ada Perisai Kultivasi White Hole, bagaimana caranya kita bisa menembus nya Irish." Ucap Arung.
"Tenang saja Arung, Kakak ku memiliki cara nya tersendiri, Perisai itu masalah kecil baginya." Ucap Sarah.
Seberkas energi putih mulai menyelimuti tubuh mereka kemudian membentuk seekor Ular Putih Bertanduk Sembilan.
"Whusss................... " Suara Hempasan Angin saat Ular Putih tersebut terbang ke atas.
"Duarghhhhh........... " Suara ledakan saat Ular Putih menghantam perisai kultivasi white hole tersebut.
Ular Putih pun melesat keluar dari dalam Pulau Makam Kuno dan Danau Hitam, lalu mulai melayang di atas Danau tersebut. Seberkas energi putih pun perlahan menghilang, mereka bertiga pun mulai melayang di atas Danau Hitam tersebut.
"Ugh..... Kekuatan yang mengerikan, kedua Jendral Kembar itu pasti mati." Gumam Arung.
Irish dan Sarah menoleh ke arah sepatu Bulu Phoenix yang di kenakan oleh Naga Muda.
"Oh... jadi sepatu itu yang membuat nya bisa terbang." Gumam Irish dan Sarah.
Tampak di dalam Goa tersebut, 200 bala tentara telah menyadari kehadiran Ratu Ular.
"Lihat itu mereka, ayo kita serang." Teriak Salah Satu Prajurit yang menyadari kehadiran mereka.
"Kak, biar aku yang menghadapi Cecunguk-cecunguk itu, aku ingin melakukan pemanasan setelah kultivasi ku kembali." Ucap Sarah, lalu mengeluarkan Pedang Ular Hijau Bertanduk Sembilan.
"Baik Sarah, Arung kau tetap di sebelahku, biar adik ku yang membereskan ular-Ular kecil itu." Ucap Irish.
"Baik Irish." Ucap Arung.
__ADS_1
Sarah mulai menerjang ke arah Prajurit-Prajurit Ular Merah tersebut. Para Prajurit-Prajurit itu menembakkan bola api hitam beracun ke arah Sarah.
"Whusss...... Whusss..... Whusss..... " Suara hempasan angin saat bola-bola api hitam itu melesat terbang ke arah Sarah.