
Sebulan Kemudian mereka pun tiba di Planet Bumi, sementara itu Wakil Komandan Luna kembali ke Kota Awan Hitam begitu pula dengan Wakil Komandan Gisel, mereka berdua bertugas di Kantor Prajurit Kota tersebut.
AKPERTI, Kota Seribu Obat.
Saat ini Arung tengah duduk di Kantin yang berada di sekitar Akademi, tampak Komandan tersebut tengah berbicara melalui HP tablet milik nya.
"Arung, syukurlah kau baik-baik saja." Ucap Mitha melalui HP.
"Ia Mitha, aku baik-baik saja." Ucap Arung melalui HP.
"Aku sudah menginterogasi seorang Prajurit Black Rock yang menyerang mu saat di Pelabuhan tersebut, seperti nya kau telah menjadi target buruan para Pembunuh Bayaran di seluruh Benua Es Api ini." Ucap Mitha melalui HP.
"Lho...... kenapa bisa seperti itu, jabatan ku kan hanya Komandan, kenapa pula bisa aku yang menjadi target assasin-assasin berdarah dingin tersebut.
Mitha pun mulai menjelaskan semua nya mengenai misi pembunuhan tersebut dan nilai bounty nya, ini semua berkaitan dengan insiden di arena tempo lalu, saat mereka berdua berciuman dengan penuh gairah yang membuat banyak kultivator laki-laki di Benua Es Api tersebut patah hati.
Beberapa saat kemudian, ia pun mulai menyadari situasi yang tengah di hadapinya saat ini.
"Apa...... "
"Jadi ada yang menginginkan kematian ku, gara-gara ciuman panas kita di arena tempo lalu." Ucap Arung.
"Benar Arung, aku telah menelpon Rektor dan meminta tolong pada nya untuk menjaga mu selama di Akademi, kau tidak tinggal bersama Kadet lain nya di lantai 50 ke bawah,"
"Tapi kau tinggal di lantai 100, kau harus menjumpai Bu Diamond dan melapor kepadanya Sayang, aku belum bisa mengunjungi mu karena aku memiliki misi Penaklukan Pulau Terlarang Awan Hitam." Ucap Mitha melalui HP.
"Ya sayang, nanti kalau kamu kesulitan di sana hubungi saja aku yach." Ucap Arung melalui HP.
"Oh iya aku akan segera mengeksekusi mati Komandan Black Rock yang menyerangmu saat itu sekarang." Ucap Mitha.
"Apa Nona berambut putih itu masih hidup, dia tidak boleh mati, aku masih punya beberapa pertanyaan untuk nya." Gumam Arung.
"Mitha, tolong wanita berambut putih tersebut jangan di bunuh dulu, aku masih punya beberapa pertanyaan untuk nya." Ucap Arung.
"Ya baiklah, lagian Nona Berdarah Dingin tersebut telah kehilangan semua kultivasi nya, aku akan memenjarakan nya di ibu kota." Ucap Mitha melalui HP.
"Terima Kasih Sayang." Ucap Arung Melalui HP.
Beberapa saat kemudian Mitha pun mulai mematikan panggilan nya. Sebelumnya Arung telah menghubungi Shilla dan Xiao Mei Mei, saat ini ia sedang menunggu Istri dan Kekasih nya tersebut tiba di dalam Kantin.
"Whussss.......... " Suara hembusan asap tembakau ular milik Arung.
Tampak di dalam kantin tersebut beberapa Komandan-komandan Wanita menoleh ke arah Komandan Don Juan tersebut lalu saling berbisik.
"Lihat Pemuda berambut biru itu, ganteng nya kebangetan." Bisik salah satu Komandan.
__ADS_1
"Wah... dia mirip artis, Saranghae...... " Bisik Komandan lain nya.
Beberapa saat kemudian Xiao Mei Mei dan Shilla pun masuk ke dalam kantin lalu duduk di sebelah Pujaan Hati mereka. Para Komandan Wanita yang sebelumnya menoleh ke arah Komandan Don Juan tersebut mulai patah hati dan kembali pada aktifitas nya masing-masing.
"Mei Mei... Shilla, syukurlah kalian baik-baik saja selama aku pergi." Ucap Arung.
"Arung... aku sangat rindu padamu." Ucap Shilla, lalu mulai memeluk Arung.
Shilla sengaja melakukan tindakan tersebut agar Komandan-komandan Cantik di sekitar Arung tidak menargetkan Calon Suami nya tersebut.
"Bagus Shilla, tindakan mu sudah benar, Komandan Don Juan ini harus kita bendung gerakan nya, jika tidak dia pasti akan mencari istri-istri lain nya." Gumam Xiao Mei Mei.
"Tenanglah Shilla, aku baik-baik saja kok, gimana ujian nya?" Tanya Arung, lalu mulai melepaskan pelukan Shilla tersebut.
"Aku lulus Arung." Ucap Shilla.
"Kemana saja kau pergi selama ini Arung?" Tanya Xiao Mei Mei.
Beberapa saat kemudian pelayan di kantin tersebut pun mendatangi meja mereka, Xiao Mei Mei dan Shilla mulai memesan makanan dan minuman. Arung mulai menceritakan kisah nya saat berpetualang ke Planet Kuno Jupiter, dan insiden serangan Kelompok Pembunuh Bayaran, serta dirinya yang saat ini menjadi target seluruh Assasin di Benua Es Api tersebut.
Di Ruangan Rektor di lantai 100.
Beberapa Menit Kemudian.
Saat ini Bu Janet tengah duduk di hadapan Bu Diamond, Dosen Elemen Air tersebut sedang menceritakan kejadian penyerangan di Kota Pelabuhan Planet Kuno Jupiter.
"Wah..... ternyata Arung itu kuat juga ya, padahal ranah nya masih di ranah alam langit puncak, wajar saja dia menjadi Tunangan nya Jendral Es." Ucap Bu Diamond.
Sebenarnya Arung dapat dengan mudah mengalahkan Komandan Black Rock dan Beast nya di sebabkan karena Komandan Pembunuh itu sudah kelelahan akibat pertarungan sebelum nya.
"Tok..... Tok...... Tok...... "'Suara ketukan pintu.
"Masuklah." Ucap Bu Diamond.
Seorang Pemuda Tampan dengan tiga buah pedang di pinggangg nya bersama dua orag Gadis Cantik mulai memasuki ruangan tersebut.
"Siapa kedua Gadis Cantik ini, mungkinkah mereka berdua adalah pengawal yang di utus oleh Jendral Es?" Gumam Bu Diamond.
"Kemana dia pergi dia selalu bersama wanita cantik, seperti nya Pemuda ini seorang Komandan Don Juan?" Gumam Bu Janet.
"Duduk lah Arung." Ucap Bu Diamond.
"Iya Bu Rektor." Ucap Arung, lalu duduk di sebelah Bu Janet.
Xiao Mei Mei dan Shilla duduk di sofa di depan nya, tampak suasana sedikit sepi di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Mereka berdua pasti pengawal yang di utus oleh Jendral Es kan, Arung." Ucap Bu Diamond keceplosan.
Mendengar perkataan Ibu Rektor tersebut, Xiao Mei Mei pun merasa sedikit kecewa.
"Oh iya Bu Rektor, kami belum memperkenalkan diri kami,"
"Namaku Xiao Mei Mei, aku istri sah nya Arung dan ini Shilla pacar nya Arung." Ucap Xiao Mei Mei dengan tegas dan tepat sasaran.
"Wah... Kak Mei Mei benar-benar berani." Gumam Shilla.
"Apa..... benarkah itu Arung, kau telah menikahi Gadis Berambut Merah itu?" Tanya Bu Diamond dengan ekspresi terkejut.
"Wow... jika kultivator wartawan infotainment mengetahui hal ini, bakalan terjadi kehebohan lagi di Benua Es Api, setelah kejadian ciuman membara di atas arena tempo lalu." Gumam Bu Janet.
"Benar Bu..... " Ucap Arung dengan santai.
"Kenapa Don Juan ini bisa sesantai itu menjawab nya, ya sudahlah Komandan Berbakat seperti nya pasti memiliki istri lebih dari satu makanya aku menikah dengan Kultivator yang biasa-biasa saja." Gumam Bu Diamond.
"Baiklah Arung, Jendral Es sudah menceritakan semua nya kepadaku, ini ambillah kunci kamar mu." Ucap Bu Diamond lalu memberikan kunci kamar bernomer 101 tersebut.
"Sebaiknya aku segera pergi saja." Gumam Arung.
"Bu Rektor, Bu Janet, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Arung.
"Iya Arung, sebaiknya kau berada di sekitaran AKPERTI saja itu lebih aman, jika tidak ada keperluan tidak usah pergi keluyuran." Ucap Bu Diamond.
"Ia Bu...... " Ucap Arung lalu membungkuk dan memberi hormat.
Mereka bertiga pun keluar dari dalam ruangan Rektor tersebut.
Di Dalam Kamar Nomer 101.
Ruangan di dalam kamar ini seperti apartemen pada umum nya dengan sebuah dapur, sebuah kamar mandi, ruang santai, dan dua buah kamar.
"Wah.... tempat ini benar-benar luas Shilla." Ucap Xiao Mei Mei.
"Ia Kak, kalau begitu aku akan mulai menyiapkan makan siang dulu." Ucap Shilla, lalu mulai beranjak ke dapur.
"Kali ini aku akan kembali membuat kan Sup Ular Bertanduk Sembilan, akan kubuat Kak Mei Mei tak sadar kan diri kembali." Gumam Shilla.
"Hi.... Hi..... Hi..... " Tawa Kecil Shilla.
"Ugh.... Firasat ku kok gak enak banget ya." Gumam Xiao Mei Mei, sambil meneguk air mineral dari dalam kulkas.
Sementara itu Komandan Don Juan tengah bersantai di sofa sambil menghisap tembakau ular milik nya.
__ADS_1
"Whussss............... " Suara hembusan asap rokok nya.
Xiao Mei Mei pun duduk di sebelah nya, lalu mulai menyalakan TV nya.